Happy Birthday Ajahn Brahm

Ajahn Brahm begitu dicintai oleh murid-muridnya. Di ulang tahunnya yang ke-70 tahun ini, murid-muridnya di seluruh dunia lintas bangsa dari berbagai kalangan baik monastik (bhikkhu/bhikkhuni) maupun orang awam, baik buddhis dan non-buddhis, bersama-sama merayakannya. Berbagai program diselenggarakan, diantaranya adalah lelang barang bekas pakai Ajahn Brahm untuk penggalangan dana pembangunan pusat meditasi di Melbourne, penerbitan buku, dan retret meditasi cinta kasih (metta) online yang dipandu langsung oleh bhikkhu/bhikkhuni murid Ajahn Brahm dari berbagai belahan dunia selama 6 Hari, dari tanggal 1 hingga 6 Augustus 2021.

Puncak perayaannya diselenggarakan hari ini, Sabtu, tanggal 7 Augustus 2021 di Jhana Grove Meditation Centre di Serpentine, Western Australia. Berikut adalah tautan acara perayaan yang disiarkan langsung.

Saya tidak sempat hadir di tempat tapi saya coba mengikuti sebisa mungkin lewat streaming dibawah ini. Satu video klip yang dipersiapkan secara ‘rahasia’ memaparkan kisah perjalanan dan sumbangsih Ajahn Brahm dari orang-orang yang telah terinspirasi oleh beliau terrasuk yang dari Indonesia, dapat ditonton di bawah ini. Begitu banyak kasih tak-berbatas dibabarkan dan telah menginspirasi dan mencerahkan banyak insan dalam mengarungi kehidupan ini. Salut dan kagum kepada panitia yang merupakan kolaborasi murid-muridnya dari berbagai belahan dunia.

Happy Birthday Ajahn Brahm! Semoga sehat dan panjang umur dan terus menginspirasi dengan kewelas-asihannya.

Ajahn Brahmavamso (yang dipanggil Ajahn Brahm) hari ini genap berusia 70 tahun. Beliau adalah seorang bhikkhu (biarawan) Buddhis asal Inggris yang telah menjalani kehidupan kebiarawanan hampir 47 tahun dalam tradisi Theravada. Lahir pada tanggal 7 Agustus 1951 dengan nama Peter Betts dari keluarga kelas pekerja di London. Peter muda sudah tertarik pada meditasi sejak usia dini. Tumbuh menjadi seorang pemuda cerdas, Peter belajar bidang fisika teoritis di Universitas Cambridge dan kemudian menjadi pengajar.

Peter mengenal Buddhisme diusia 16 tahun lewat buku yang dibelinya dari hadiah prestasi akademiknya. Dia pergi ke Thailand untuk belajar lebih dalam tentang Buddhisme dan memutuskan menjadi bhikkhu pada usia 23 tahun. Riwayat perjalanan hidup Ajahn Brahm dapat dibaca pada tautan ini: https://bswa.org/bswp/wp-content/uploads/2017/10/A-Tribute-to-Ajahn-Brahm-Emptiness_and_Stillness.pdf.

Ajahn Brahm adalah murid dari seorang bhikkhu yang sangat dihormati di Thailand, Ajahn Chah yang bermukim di luar kota Ubon Ratchathani, bagian timur-laut Bangkok. Saya berkesempatan dua kali mengunjungi kompleks biara hutan Ajahn Chah, Wat Nong Pah Pong dan Wat Pa Nanachat sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos sekitar tahun 2002-2003.

Satu buku karangan Ajahn Brahm (dalam bahasa Inggris) dibagikan secara cuma-cuma. Saya juga barusan mengunggahnya untuk dibaca. Buku kecil ini berisi pemahaman dasar tentang Buddhisme yang disampaikan dalam cerita-cerita pengalaman Ajahn Brahm – yang menjadi ciri khasnya. Buku ini dapat diunggah di: Opening-Up-To-Kindfulness-19-July-2021DOWNLOAD

— 0 —

Saya tentu bukan siapa-siapa bagi seorang Ajahn Brahm yang memiliki begitu banyak murid dari semua kalangan yang tersebar di seluruh dunia. Dan saya juga tidak berharap bahwa Ajahn Brahm mengenal saya karena begitu banyak orang yang datang menemui beliau setiap waktu. Kalaupun saya berkunjung ke Bodhinyana Monastery di Serpentine – biara hutan tempat beliau bermukim atau Dhammaloka Monastery di kota Perth, saya biasanya hanya duduk tidak di barisan depan ágak jauh dari perhatian. Saya lebih suka berdiam sembari menikmati keheningan suasana.

Meskipun demikian, kelihatannya Ajahn tahu kalau saya orang Indonesia. Setiap kali saya menyampaikan dana makanan dalam tradisi pindapata, Ajahn Brahm selalu menyapa dengan sapaan ‘Selamat Pagi…’. 

Ajahn Brahm memang dekat dengan Indonesia. Beliau melakukan kunjungan tahunan ke Indonesia (diorganisir oleh Yayasan Ehipassiko yang didirikan oleh Handaka Vijjananda) mungkin lebih dari sepuluh tahun terakhir, yang terhenti karena pembatasan pandemi Covid 19. Buku beliau yang berjudul Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Opening the Door of Your Heart) sempat menjadi salah satu buku terlaris di Indonesia.

Menurut saya, yang sangat mengesankan dari seorang Ajahn Brahm adalah kewelas-asihan dan kerendahan hatinya. Meski telah menjadi bhikku yang paling senior dan sangat sibuk, beliau selalu ramah dan memperlakukan setiap orang dengan sangat baik tanpa membeda-bedakan.

Pada saat satu tahun peringatan wafatnya ibu saya pada April 2016, saya memohon kepada Ajahn Brahm untuk bersedia melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang ibu saya. Beliau dengan spontan malah menawarkan untuk melakukannya di Pangkalpinang saat kunjungan beliau ke sana bertepatan dengan hari peringatan 1 tahun dan menganjurkan saya menghubungi Handaka Vijjananda, teman yang telah 10 tahun lebih tidak pernah bertemu. Atas bantuan Handaka, Ajahn Brahm meluangkan waktunya di tengah talkshow untuk melakukan kegiatan doa ini. (https://letting-go.blog/2021/08/07/a-year-of-passing/)

Tidak berapa lama yang lalu saya pernah menanyakan kesediaan Ajahn untuk bisa bertemu dengan Konjen RI di Perth. Waktu itu, Ibu Konjen ingin bertemu dengan masyarakat Buddhis Indonesia yang tingal di Perth. Saya terpikir untuk melakukan pertemuan di Biara Bodhinyana. Atas bantuan Bhikkhu Ananda, Ajahn dengan senang hati bersedia menyediakan waktunya yang sangat padat itu. Sayangnya, pertemuan itu tidak terjadi karena kesulitan mengatur waktu pertemuan karena kesibukan masing-masing dan juga masa lockdown Covid.

Beberapa kali saya harus minta izin kepada Ajahn Brahm waktu hendak mengundang Bhante Ananda keluar dari biara. Pernah diizinkan dua kali ‘membawa’ Bhante Ananda menghadiri undangan perayaan Natal masyarakat Indonesia di Perth. Bhante Ananda sendiri sering memuji kesabaran, kewelas-asihan, dan keteladanan gurunya ini.

Saya sangat beruntung sempat mengikuti pelatihan meditasi dibawah bimbingan beliau di pertengahan 2018. Pelatihan berjalan sangat santai dan menyenangkan. Wejangan yang disampaikan sangat menyegarkan dan mencerahkan dengan gaya penyampaian yang lepas, dilengkapi dengan perumpamaan dan lelucon-leluconnya. Ajahn Brahm piawai memilih gaya penyampaian dan kedalaman isi menyesuaikan dengan tingkat pemahaman pendengarnya. 

Ajahn Brahm
Bear Meditation dengan Ajahn Brahm (foto: Shally Mavieto)

Di usia yang tidak muda lagi, Ajahn Brahm memiliki ingatan yang sangat kuat dan pikiran yang jernih dalam menyampaikan dan merunut serangkaian bahasan yang beranak-pinak dan kembali ke pokok pembahasan dan ditutup dengan rangkuman yang mudah dipahami.

Saya tidak melihat raut muka lelah Ajahn Brahm yang berbicara sebanyak 3 sesi perhari masing-masing 1-1.5 jam per-sesi selama 9 harı, ditambah dengan sesi konsultasi personal peserta hampir setiap hari; bahkan pada hari-hari Ajahn Brahm terserang flu sekalipun. Selalu tetap terlihat senyuman khas menghias wajahnya dengan semangat dan keceriaan yang hampir konstan di setiap saat. 

Pikiran yang tidak bergejolak dan batin gang mawas memberikan kejernihan batin dan menyisakan energi kebahagiaan yang luar biasa dan bisa sangat membantu dalam menyelesaikan banyak masalah.

Ajahn Brahm

Saya pernah mencoba menuliskan pernik-pernik latihan meditasi yang saya ikut meskipun tidak tuntas. Berikut adalah tautannya:

  1. https://letting-go.blog/2018/08/12/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-pertengahan-juli-2018/
  2. https://letting-go.blog/2018/08/16/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-2/
  3. https://letting-go.blog/2018/08/25/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-3/
  4. https://letting-go.blog/2018/09/18/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-4/
  5. https://letting-go.blog/2018/10/08/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-5/
  6. https://letting-go.blog/2018/10/10/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-6/
  7. https://letting-go.blog/2018/10/24/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-7/
  8. https://letting-go.blog/2018/12/18/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-8/
  9. https://letting-go.blog/2019/12/11/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-9/
  10. https://letting-go.blog/2019/12/14/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-10/
  11. https://letting-go.blog/2019/12/21/meditasi-bersama-ajahn-brahm-11-apalah-arti-sebuah-nama/
  12. https://letting-go.blog/2020/05/31/mengganggu-kebisingan/

Perth, 7 Agustus 2021

 

A Year of Passing

Facebook tidak lagi meneruskan fasilitas blogging di Note. Untuk itu, saya pindahkan tulisan yang ditulis April 2016. Tulisan aslinya masih dalam Bahasa Inggris.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/a-year-of-passing/10154091132429035/

— 0 —

Saat itu satu tahun peringatan wafatnya ibu saya (2016). Sewaktu di Perth, saya memohon kepada Ajahn Brahm untuk bersedia melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang ibu saya. Beliau malah menawarkan untuk melakukannya di Pangkalpinang saat kunjungan beliau ke sana bertepatan dengan hari peringatan 1 tahun dan menganjurkan saya menghubungi Handaka. Ketika saya hubungi hanya lewat text, tanpa keraguan Handaka langsung mengiyakan permintaan bantuan saya dan terus berkoordinasi dengan tim panitianya di Pangkalpinang dalam waktu yang sangat dekat untuk meluangkan waktu Ajahn Brahm di tengah talkshow untuk melakukan kegiatan doa ini.

Saya sangat beruntung mendapat kesempatan yang langka ini.

— 0 —

This time a year ago my mum passed away at 79. I had a chance to be with her for the last time together with all my sisters and at her bedside witnessing the passing. Although I understand the nature of the event, it’s still a very sad natural event.

Now, we commemorate a year of the passing with family and relatives. We pay our utmost respect to our mum for her unconditioned caring and loving kindness we never paid off, and being grateful living our lives.

duduk-duduk di belakang rumah

I was extremely fortunate to find Ajahn Brahmavamso of Bodhinyana Monastery of Western Australia visiting my hometown in Bangka Island, Indonesia. After his talk, Ajahn Brahm kindly led us offering a dedication of merits to my late mum and to all sentient beings. My deep bows to Ajahn.

This great opportunity was made possible by Handaka Vijjananda, my friend I haven’t met for more than 10 years, and his team of Ehipassiko Foundation. Thanks all of you very much indeed for your kindness.

May all beings be happy…

Perth, April 2016

Selamat Jalan Meme/Phopho

Facebook tidak lagi meneruskan fasilitas blogging di Note. Untuk itu, saya pindahkan tulisan di Facebook Notes yang ditulis pada Mei 2015 di sini.

https://www.facebook.com/notes/10158816056443197/

— 0 —

Meski kita tahu ini tidak terhindarkan, berpisah dengan orangtua akan selalu membawa kesedihan. Ibu saya, yang kami panggil Meme oleh anak-anaknya and Phopho oleh cucu-cucunya, telah meninggal dunia dengan tenang hari Jumat, 24 April 2015, di usia yang cukup lanjut, 79 tahun. Kesedihan bahwa beliau tidak lagi berada diantara kami, dan kesedihan hilangnya satu ladang kebajikan bagi kami untuk berbakti. 

Yang membahagiakan adalah Meme dapat menikmati masa usia lanjutnya bersama anak-anak dan cucu-cucunya yang tumbuh saling menyayangi, disela kehawatiran-kehawatiran seperti layaknya kebanyakan orangtua. Saya tahu Meme merindukan Papa yang telah berpulang lebih dari dua puluh tahun lalu.

Saya beruntung punya kesempatan ikut merawat dan menjaga Meme di hari-hari terakhirnya, bersama adik-adik dan keluarga.  Kami berbagi tawa, canda juga kesedihan, mengenang perjuangan hidup yang telah dilalui dan merenungkan besarnya jasa dan kasih sayang kedua orang tua membesarkan kami bersaudara. Juga melihat dari dekat proses usia tua mengakhiri satu kehidupan di dunia, untuk direnungkan dalam sisa hidup saya. 

Selamat jalan Meme/Phopho, semoga terlahir di alam bahagia. Semoga tenteram dan berbahagia. 

Banyak doa, perhatian dan bantuan kami terima dari sanak keluarga, kerabat, teman-teman dan tim medis, bahkan orang-orang yang tidak kami kenal mendonorkan darah mereka. Terima kasih kami yang sebesar-besarnya. Semoga budi baik dan kebajikan ini membawa banyak berkah kebahagian. Semoga kita semua berbahagia.

Perth, 2 Mei 2015

Perenungan di Usia 55 Tahun

Semalam saya ‘dikerjain’ dengan satu acara kejutan ulang tahunku. Semula aku kira hanya makan malam keluarga bertiga dengan isteri dan putri kami di sebuah restoran Asia. Ternyata ada ‘persekongkolan’ antara istriku dengan berapa teman dekat tanpa sepengetahuanku. Saat kami sampai di restauran, ketika menuju ke meja, aku sekilas aku melihat salah satu teman di situ, dan saya pikir wah.. kebetulan sekali. Tapi saat aku menyapu pandangan ke sekelilingnya, aku dapati kok banyak yang dikenal. Untuk sesaat, aku masih agak bingung, hingga mereka mulai menyanyikan lagu ‘Happy Birthday‘.

Aku sempat terharu. Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang menyayangi dan banyak teman baik di sekelilingku. Saat ini, kami sangat beruntung bermukim di Australia yang relatif sangat aman terhadap pandemi Covid 19, khususnya di Perth, Australia Barat. Meski barusan ada lockdown, sekarang sudah dilonggarkan. Kami menikmati makan malam dan bercerita banyak.

Sementara di akhir-akhir ini di Indonesia, mungkin hampir semua kita menerima kabar dukacita dari orang-orang yang kita tahu atau yang dekat dengan kita, secara beruntun… Dulu kita dengar hanya sekedar dari berita – itu tidak banyak mempengaruhi emosi kita. Tapi sekarang, kemalangan ini lebih dekat dan terasa sangat nyata. Semoga semua ketidakberuntungan ini cepat berlalu. Pada akhirnya, inipun akan berlalu.

Di masa kecilku di Kampung Lumut yang bersahaja, ulang tahun bukanlah suatu yang lazim dirayakan dengan satu pesta. Yang ada hanyalah ibuku merebus beberapa telur di pagi hari untuk dibagikan bersama adik-adikku dan ditambah masakan yang lebih ‘mewah’ dari biasanya untuk makan malam keluarga. Masakan yang lebih ‘mewah’ itu biasanya dengan lauk ayam dari ternak sendiri. Tidak ada kue tar ataupun acara tiup lilin, apalagi mendapat kado ulang tahun. Kesederhanaan masa kecilku di kampung sedikit banyak terlukis dalam tulisan ini: https://letting-go.blog/2020/05/17/beberapa-sahabat-masa-kecilku/ dan https://letting-go.blog/2019/11/25/sekilas-masa-kecilku-di-kampung-pangkal-niur/)

Mungkin oleh karena itu, aku tidak pernah merasa merayakan ulang tahun itu suatu keharusan untuk dirayakan. Namun kehadiran teman-teman baik sangat berarti. Dan secara pribadi, hari ulang tahun mungkin adalah momen yang baik untuk sedikit merenung.

— 0 —

Sekarang aku sudah berusia 55 tahun. Dalam tradisi Tionghoa sudah dihitung berusia 56 tahun karena dihitung sejak dalam kandungan. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Usia ini mengingatkanku pada ayahku yang wafat di tahun 1994 pada usia yang sama dengan usiaku sekarang. Usia yang terasa masih ‘sangat’ muda. Aku mungkin bias karena aku berada diusia ini sekarang. Satu tahun sebelumnya di tahun 1993, adik laki-lakiku pada usianya yang 20 tahun pergi meninggalkan kami, saat aku baru menyelesaikan studi dan mulai bekerja di tahun kedua sebagai pekerja tambang di Kalimantan Timur. Sebagai upaya mendoakan mendiang ayah dan mendiang adikku, aku sempat menerjemahkan satu buku kecil ‘Why Religious Tolerance’ karya mendiang Dr. Sri K Dhammananda – seorang biarawan sekaligus cendekiawan Buddhis (https://letting-go.blog/2018/06/19/mengapa-umat-beragama-bertoleransi-why-religious-tolerance/).

Setelah aku menamatkan SMA di tahun 1985, sempat ada jeda 1 tahun sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi untuk jurusan pendidikan Keguruan di bidang studi Matematika di Universitas Sriwijaya di Palembang, dan baru tahun berikutnya (1987) aku mengambil studi teknik pertambangan di universitas yang sama.

Profesi sebagai pekerja tambang membawa aku berkesempatan bekerja dan berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, Laos, Australia, Amerika, dan Ghana, Afrika. Seperti lazimnya dunia pertambangan, lapangan pekerjaanku sebagian besar ada di daerah terpencil di tengah hutan jauh dari keramaian. Hampir seluruh pengalaman kerjaku di pertambangan emas dan tembaga, dan hanya ditahun-tahun awal bekerja di pertambangan batubara (https://letting-go.blog/2020/10/18/sekilas-siklus-tambang-emas/).

Di Indonesia sendiri penugasan pertamaku di Kalimantan Timur, kemudian di Sulawesi Utara, dan terakhir di Sumbawa sebelum mengambil kesempatan bekerja sebagai tenaga kerja asing selama 3 tahun di satu tambang emas dan tembaga di belantara Laos di dekat perbatasan dengan Vietnam yang terkenal dengan Jalur Ho Chi Minh (Ho Chi Minh Tail). Jalur Ho Chi Minh adalah rute pasokan militer yang membentang dari Vietnam Utara melalui Laos dan Kamboja ke Vietnam Selatan selama Perang Vietnam. Jalur ini dibombardir oleh Angkatan Udara Amerika dalam operasi militer rahasia pada kurun maktu tahun 1965 hingga 1972, yang meninggalkan banyak bom-bom yang tidak sempat meledak (UXO – unexploded ordinance) – yang harus dijinakkan dan dibersihkan dalam kegiatan penambangan.

Aku banyak melihat kehidupan masyarakat lingkar tambang yang sangat sederhana kalau tidak mau dikatakan miskin, dan bagaimana suatu industri pertambangan berkontribusi membuka keterpencilan dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat.

Setelah itu, aku berkesempatan bekerja di salah satu tambang emas terbesar di dunia di Australia Barat lebih dari 10 tahun sebelum menerima penugasan ke Ghana, Afrika selama 2 tahun. Di tengah kesibukan pekerjaan yang sangat padat, aku dan istri sempat mengunjungi beberapa tempat diantaranya adalah Museum Istana Manhyia (Manhyia Palace Museum) dan peninggalan kastil perbudakan di Elmina (https://letting-go.blog/2019/09/15/kastil-elmina-saksi-sejarah-kelam-perbudakan/).

Sayang, masa tinggal kami di Accra, ibukota Ghana hanya Sekitar setahun dan harus kembali ke Perth di akhir Mei 2020 dan bekerja dari rumah karena pandemi Covid 19.

Di akhir penugasan Afrika, aku mendapat kesempatan untuk memilih lanjutan penugasan di Perth atau mengambil pesangon – pilihan yang ditawarkan sebagai bagian dari penugasan expatriat. Dengan segala pertimbangan, aku memilih yang kedua di akhir Maret 2021. Aku merasa beruntung mendapatkan kesempatan ini diwaktu yang tepat.

Ini kali pertama mendapat kesempatan untuk berhenti bekerja saat ada di puncak karir setelah 29 tahun bekerja terus menerus dengan intensitas tinggi berkelana dari satu tambang ke tambang lain. Meski banyak pertimbangan dan perenungan dalam mengambil keputusan ini, aku tidak merasa terlalu sulit mengambil keputusan ini.

Keinginan mengambil jeda ini adalah untuk menurunkan intensitas kegiatan untuk beristirahat, meluangkan waktu melihat prioritas akan apa yang ingin dilakukan ke depannya, dan mengerjakan hal-hal yang ingin aku kerjakan tetapi tidak punya waktu untuk mengerjakannya. Baru-baru ini, bersama teman-teman, kami melakukan perayaan Peh Cun / Bachang festival yang meliputi pameran dan bazaar makanan di pagi dan siang hari, dan makan malam dengan pertunjukan budaya peranakan yang dihadiri oleh 200 tamu (https://www.facebook.com/media/set/?vanity=fiophotography&set=a.1670929403116501), kegiatan serupa kami selenggarakan untuk Imlek 2017 (https://www.facebook.com/media/set/?vanity=imlek15meh&set=a.1733798326931873 and https://www.facebook.com/media/set/?vanity=imlek15meh&set=a.1734000586911647).

Teman-teman sempat mengingatkan bahwa aku mungkin akan segera bosan atau mengalami ‘post-power syndrome‘ sejenis kehilangan semangat hidup atau jati-diri karena berperasaan bukan siapa-siapa lagi. Saya coba untuk menyadarinya, tapi terus-terang aku tidak merasa mengalami kedua hal ini. Aku malah khawatir akan terlalu menikmati ‘Do Nothing – tidak melakukan apa-apa’ ini.

Aku harus bilang bahwa aku gembira atas kenyataan bahwa aku tidak merasakan sindrom-sindrom yang lazim dialami oleh banyak orang saat tidak lagi bekerja atau kehilangan pekerjaannya. Aku beruntung punya kesempatan untuk memilih di waktu yang tepat pada kondisi yang cukup menguntungkan.

Aku rasa hal yang juga sangat membantu adalah mulai tumbuhnya kesadaran untuk melepas, merasa inipun sudah cukuplah, dan bahwa tidak merasa perlu untuk menjadi siapa-siapa lagi – I am nobody.

Masih terlalu dini untuk memastikannya, aku kemungkinan akan kembali ke dunia kerja, tetapi dengan dorongan dan harapan yang mungkin sangat berbeda.

Perth, 10 Juli 2021

Menyerap Dhamma

Ketika Anda mendengarkan Dhamma, anda harus membuka hati dan menempatkan diri di tengah. Jangan mencoba menghimpun apa yang anda dengar atau berusaha keras untuk menyimpan apa yang anda dengar melalui ingatan. Biarkan saja Dhamma mengalir ke dalam hati anda saat ianya muncul, dan biarkan diri anda terus terbuka terhadap arus dalam momen saat ini. Apa yang siap disimpan akan terjadi, dan itu akan terjadi dengan sendirinya, bukan melalui usaha keras dari sisi anda.

Demikian pula ketika anda membabarkan Dhamma, anda tidak boleh memaksakan diri. Itu harus terjadi dengan sendirinya dan harus mengalir secara spontan dari saat dan keadaan sekarang. Setiap orang memiliki tingkat kemampuan menerima yang berbeda, dan ketika anda berada di sana pada tingkat yang sama, itu terjadi begitu saja, Dhamma itu mengalir. Sang Buddha memiliki kemampuan untuk mengetahui perangai dan kemampuan menerima seseorang. Beliau menggunakan metode pengajaran spontan yang sama. Bukan karena dia memiliki kekuatan diluar manusia biasa untuk mengajar, melainkan karena dia peka terhadap kebutuhan spiritual orang-orang yang datang kepadanya, jadi dia mengajar mereka sesuai dengan itu.

(Ajahn Chah)

— 0 —

ENGLISH

When you listen to the Dhamma you must open up your heart and compose yourself in the center. Don’t try to accumulate what you hear or make a painstaking effort to retain what you hear through memory. Just let the Dhamma flow into your heart as it reveals itself, and keep yourself continuously open to its flow in the present moment. What is ready to be retained will be so, and it will happen of its own accord, not through any determined effort on your part.

Similarly when you expound the Dhamma, you must not force yourself. It should happen on its own and should flow spontaneously from the present moment and circumstances. People have different levels of receptive ability, and when you’re there at that same level, it just happens, the Dhamma flows. The Buddha had the ability to know people’s temperaments and receptive abilities.He used this very same method of spontaneous teaching. It’s not that he possessed any special superhuman power to teach, but rather that he was sensitive to the spiritual needs of the people who came to him, and so he taught them accordingly.

(Ajahn Chah)

Penyadaran pada Obyek

Saat berlatih meditasi, kita mengambil obyek, seperti pernapasan masuk dan keluar, sebagai landasan kita. Ini menjadi fokus perhatian dan perenungan kita.

Kita memperhatikan pernapasan. Memperhatikan pernapasan berarti mengikuti pernapasan dengan kesadaran, mencatat alunannya, masuk dan keluarnya. Kita meletakkan kesadaran pada pernapasan, mengikuti napas masuk dan keluar secara alami dan melepaskan semua yang lainnya.

Sebagai hasil dari menetap pada satu objek kesadaran, pikiran kita menjadi jernih. Jika kita membiarkan pikiran memikirkan ini, itu dan lainnya, ada banyak obyek kesadaran; pikiran tidak bersatu, tidak beristirahat.

Kumpulan Ajaran Ajahn Chah, 
Aruna Publications, 2011.

Kerap Kali Direnungkan

Dalam ajaran yang saya yakini, ada anjuran perenungan terhadap ketidak-kekalan. Entah kenapa saya cukup menyukainya dan sering merenungkannya dulu sebagai pengantar meditasi. Saya hanya merasa perenungan ini membawa kita kembali pada kenyataan yang lebih membumi dan hakiki – dan membawa ketenangan yang mengheningkan. Mungkin karena itu, dianjurkan untuk kerap kali direnungkan – bhinhapaccavekkhana.

Aku akan menderita usia tua, aku belum mengatasi usia tua.
Aku akan menderita sakit, aku belum mengatasi penyakit.
Aku akan menderita kematian, aku belum mengatasi kematian.
Segala milikku yang kucintai dan kusenangi akan berubah, akan terpisah dariku.

Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri
Pewaris perbuatanku sendiri
Lahir dari perbuatanku sendiri
Berhubungan dengan perbuatanku sendiri
Terlindung oleh perbuatanku sendiri
Apapun perbuatan yang kuperbuat
Baik atau buruk
Itulah yang akan kuwarisi.
Hendaklah ini kerap kali direnungkan.

Saya menemukan satu tulisan kecil tentang makna perenungan ini oleh Ajahn Sundara, seorang biarawati buddhis berkebangsaan Prancis, yang saya rasa cukup mendalam. Berikut adalah terjemahannya.

—0—

Aku akan menderita usia tua, aku belum mengatasi usia tua.
Aku akan menderita sakit, aku belum mengatasi penyakit.
Aku akan menderita kematian, aku belum mengatasi kematian.

Perenungan ini membantu kita mendinginkan pikiran dan membawanya ke tingkat di mana kita berhadap-hadapan kenyataan alih-alih dunia khayalan. Inilah yang membawa saya pada dharma (ajaran kebenaran): keinginan untuk menghadapi tiga kenyataan dari keberadaan, khususnya kematian, kesadaran bahwa kematian dapat terjadi kapan saja.

Inilah keseluruhan aspek dari suatu latihan yang berkaitan dengan perenungan sederhana seperti itu – merenungkan ketidak kekalan hidup, ketidakpastian keberadaan kita. Perenungan bahwa kita sehat sekarang tetapi suatu hari kita mungkin sakit; suatu hari kita mungkin tidak lagi memiliki semua keistimewa yang kita miliki saat ini, keistimewa memperoleh kesehatan yang baik, tubuh yang kuat, dan kekuatan dan kejernihan pikiran.

Saat kita tidak merenungkan dengan cara ini, kita kemungkinan besar akan terperangkap dalam khayalan masa depan dan dalam merencanakan masa depan, dalam mengatur hidup kita, dalam khawatir atau bersemangat tentang apa yang bisa terjadi, atau menjadi depresi. Pikiran menciptakan berbagai macam perasaan dan suasana hati ketika lupa bahwa hidup kita bisa berakhir kapan saja. Sebaliknya, perenungan ini, ingatan kita tentang penuaan, penyakit dan kematian ini dapat membantu kita untuk menghargai hidup kita dengan lebih positif.

— Ajahn Sundara, The Body

— 0 —

I am of the nature to age; I have not gone beyond ageing.
I am of the nature to sicken; I have not gone beyond sickness.
I am of the nature to die; I have not gone beyond dying.

This reflection helps us cool down the mind and bring it to a level where we face facts rather than a world of fantasy. This is what brought me to the dhamma: wanting to face those three facts of existence, and death in particular, the awareness that death can happen at any time.

There is a whole aspect of the practice which has to do with simple reflections like that – reflecting on the transience of life, on the uncertainty of our existence. Reflecting that we are fit now but one day we may be sick; one day we might no longer have all the privileges we have at present, the privileges of good health, strength in the body and strength and clarity of mind.

When we do not reflect in this way we are likely to be caught up in the illusion of the future and in planning for that future, organizing our life, worrying or getting excited about what could happen, or becoming depressed. The mind creates a whole range of feelings and moods when it forgets that our life could terminate at any time. So paradoxically, this reflection, this recollection of ageing, sickness and death can help us to appreciate our life more positively.

— Ajahn Sundara, The Body

May be an image of 1 person

Letting Go 101

Tulisan ini disari dari obrolan di WA Group. Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah rampung lebih awal. Kejadiannya sendiri sekitar bulan October tahun 2020, tapi tertunda karena kesibukan kerja, juga karena banyaknya bahan, dan mendalamnya bahasan. Istilah 101 seharusnya hanyalah ‘pengantar’ dari ‘letting go‘ atau ‘melepas’, namun tak terhindari menjadi topik yang ‘serius’. Letting Go menjadi ‘mantra’ yang mengandung makna dalam. Upaya ‘melepas‘ adalah suatu perjalanan batin – sesuatu yang mengalir. Dengan demikian pengertian ‘melepas‘ pun mungkin tergantung pada keberadaan seseorang di ruas perjalanan tersebut. Letting Go pula lah yang dipilih sebagai nama domain blog pribadi ini saat dimulai di pertengahan tahun 2018.

Ide membuat WA Group ini bergulir sejak kunjungan teman-teman Indonesia ke acara Kathina. Kathina adalah perayaan berakhirnya masa retret 3 bulanan (vassa) para bhikkhu sejak jaman Sang Buddha. Masa ini bertepatan pada musim hujan (di India) dimana banyak binatang kecil berkeliaran di hutan. Untuk menghindari terinjak-injaknya binatang ini, para bhikkhu mengurangi kegiatan keluar dan menggunakan kesempatan secara khusus melatih diri. Kami berkesempatan mengunjungi kuti bhikkhu Ananda (kuti adalah sebutan untuk pondok para bhikku) di Bodhinyana Monastery, dan diskusi/konsultasi kecil tentang meditasi dengan bhikkhu Ananda. https://letting-go.blog/2021/01/02/hut-warming-di-biara-hutan-bodhinyana/

Yang ikut dalam group WA ini pun terdiri dari berbagai latar Belakang, termasuk lintas agama, dan kita sebagian besar tidak saling kenal. Setelah beberapa waktu, group WA ini dinonaktifkan setelah diyakini materi yang diberikan untuk dasar-dasar meditasi dirasa cukup. Sebagian materi cukup sederhana sebagiannya lagi sangat dalam yang akan membantu pemahaman tentang meditasi dan menginspirasi seseorang terus berlatih.

Beberapa hari terakhir ini, bhante Ananda mengindikasikan akan mengaktifkannya kembali.

Tidak semua bahan bisa saya rangkum karena cukup banyak, dan terakhir data di Whatsapp Group terhapus saat mengganti gadget. Saya memutuskan untuk menayangkannya apa yang sudah terangkum aja.

— 0 —

“Intinya if there is joy then meditation happens by itself” —– intinya jika ada kegembiraan hati maka meditasi akan terjadi dengan sendirinya.

“The joy is what allow the mind to the truth it has been avoiding for aeons. kalau rumit, just put it aside! Hihi” —– kegembiraan hati adalah apa yang membuat pikiran (melihat) kebenaran yang selalu dihindari selama ini. Kalau ini rumit jangan dihiraukan! Haha…

Demikian beberapa potong obrolan berbahasa campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Whatapps group. Kami beruntung Bhikkhu Ananda bersedia meluangkan waktu memberi pengarahan untuk latihan meditasi lewat chatting di WA group, yang dia namakan ‘Letting Go 101’, semacam dasar-dasar latihan melepas (letting go). Pelepasan ini diyakini kunci utama meditasi.

Bhikkhu Ananda adalah seorang biarawan buddhis muda berusia sekitar 37 tahun yang melatih diri di Bodhinyana Monastery, Serpentine. Meski cukup lancar berbahasa Indonesia, bhante Ananda lebih nyaman menyampaikan obrolan dalam bahasa Inggris karena memang sudah tinggal di California, Amerika Serikat sejak usia awal remaja. Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan) di bulan April 2018 dan kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu oleh Ajahn Brahm di bulan Juni 2019. Saya berkesempatan menghadiri kedua penahbisan tersebut.

“Oh no there are 44 people now in the group! Well i better stop being males now😝 Its awfully nice being at bodhinyana monastery, mirip alam dewa de…” —– Wah sudah 44 orang yang bergabung di group! Sebaiknya saya tidak bermalas-malas sekarang. Terlalu menyenangkan tinggal di biara Bodhinyana sih, mirip alam dewa..”, candanya (untuk yang terakhir… boleh jadi bukan candaan)

Okay welcome to letting go 101 semuanya. I know most of you guys are very busy so will keep my sharings very short with plenty of bad jokes and videos of ajahn brahm’s ceramah in between. So just chillax and let me do the work of brainwashing okay?“—– Baiklah selamat datang semua di Letting Go 101. Saya tahu kalian semua sangat sibuk, jadi (saya) akan membagikan banyak lelucon konyol dan video ceramah dari Ajahn Brahm. Jadi santai saja dan biarkan saya mencuci otak kalian ya?”

“I will cover three themes in a month so about one lesson per week so plenty of time for questions and answers. By the end hopefully each one of you will know how to let go, what to let go of and most importantly, the answer to WHY you should let go”. —– Saya akan memaparkan tiga tema dalam satu bulan, jadi sekitar satu bahasan per minggu. Jadi banyak waktu untuk tanya jawab. Saya berharap setiap dari kalian akan tahu bagaimana melepas, apa yang dilepas dan yang paling utama MENGAPA harus melepas.

Okay let’s start a bad joke by my teacher ajahn brahm. Ready folks? I am!! —– Baiklah mari kita mulai dengan lelucon konyol dari guru saya Ajahn Brahm.

— 0 —

A Buddhist phones the monastery and asks the monk, “Can you come to do a blessing for my new house?” —– seorang Buddhis menelpon biara dan tertanya kepada biarawan, “Bisakah anda datang untuk memberkati rumah baru saya?”

The monk replies “Sorry, I’m busy.” —– biarawan itu menjawab “Maaf, saya sibuk”

“What are you doing? Can I help?”—– “Apa yang anda kerjakan? Bisa saya bantu?”

“I’m doing nothing.” replied the monk. “Doing nothing is a monk’s core business and you can’t help me with that.” —– “Saya mengerjakan tak satu apapun, jawab biarawan itu. “Mengerjakan tak satu apapun adalah kerjaan utama seorang biarawan dan anda tidak bisa membantu saya untuk itu.”

So the next day the Buddhist phones again, “Can you please come to my house for a blessing?” —– Keesokan harinya umat Buddha tersebut menelpon lagi, “Bisakah anda datang ke rumah saya untuk pemberkatan?”

“Sorry,” said the monk, “I’m busy.” —– “Maaf,” kata biarawan tersebut. “Saya sibuk”

“What are you doing?” —– “Apa yang anda kerjakan?”

“I’m doing nothing,” replied the monk. —– “Saya mengerjakan tak satu apapun'”, jawab bhikku itu.

“But that was what you were doing yesterday!” said the Buddhist. –—- Tapi bukankan kemarin anda juga mengerjakan itu!”

“Correct”, replied the monk, “I’m not finished yet!” – “Benar”, jawab biarawan itu, “Saya belum selesai mengerjakannya!”

Catatan: “doing nothing” secara harfiah berarti tidak mengerjakan apa-apa, namun diterjemahkan sebagai ‘mengerjakan tak satu apapun’ dalam cerita di atas karena lebih cocok untuk konteks cerita.

— 0 —

Saya berkesempatan ngobrol khusus dengan bhante Ananda suatu hari di Bodhinyana Monastery di Serpentine. Bhante Ananda menyampaikan bahwa kunci dari kedalaman meditasi adalah joy (kegembiraan), contentment (rasa kecukupan) dan letting go / renounce (pelepasan). Kegembiraan bisa dari perbuatan sederhana yang kita lakukan hari itu yang kita yakini baik, misalnya berdana/memberi kepada sesama atau orang-orang yang kita hormati atas dasar kewelas-asihan. Suasana ‘gembira’ saat telah melakukan perbuatan baik dapat membantu meditasi yang lebih dalam.

Juga, kegembiraan pada saat kita merasa bahagia telah berprilaku baik atau berbudi (melaksanakan Sila). Bagi yang belum tahu, dalam tradisi Buddhis ada 5 (Panca Sila) prilaku berbudi paling dasar yang umum diikrarkan seseorang, yaitu melatih diri untuk tidak melakukan pembunuhan mahluk hidup, tidak mengambil barang yang tidak diberikan (tidak mencuri), tidak berkata dusta atau menghasut, tidak melakukan perbuatan asusila (sexual misconduct), tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang memabukkan (mengurangi kesadaran). Sebagian ada yang mengambil sila tambahan (8 sila atau 10 sila) pada hari-hari tertentu.

Ajahn Brahm sering sekali menekankan bahwa prilaku berbudi ini menjadi salah satu landasan utama bagi kedalaman meditasi. Bahkan kalau saya pahami dengan benar, tidak ada kemajuan yang berarti dalam meditasi tanpa didasari oleh prilaku berbudi ini. Meditasi adalah melihat ke dalam. Kita tidak akan bisa membohongi diri sendiri

Bagi saya sendiri, mendengar dhamma talk dari Ajahn Brahm dan dari guru-guru lain sangat membantu menumbuhkan rasa gembira yang menginspirasi dan biasanya memudahkan pengheningan batin.

Inipun sudah cukup baiklah, saya ingin berada disini saat ini, sekarang juga.

It’s good enough, I want to be here in this moment, right now.

Ajahn Brahm

Tentu saja, masih banyak sekali paparan yang belum saya pahami, apalagi diselami atau dijalani. Meski banyak paparan tampak begitu sederhana, tapi semua itu sungguh tidak mudah dijalani. Semua pemahaman selalu bermuara ataupun menuju ke dalam diri sendiri. Untuk itu, saya ingin merangkum materi dari ‘Letting Go 101’ ini untuk bahan referensi yang bisa saya aksess sewaktu-waktu, dan mudah-mudahan juga berguna bagi orang lain yang berminat.

— 0 —

Isi dari forum diskusi sebagian berisi arahan bhikkhu Ananda, juga tautan-tautan bacaan, audio, dan video dengan topik yang relevan tengan meditasi, termasuk kartun-kartun “Happy Everyday” kumpulan wejangan Ajahn Brahm, terbitan Ehipassiko. Saya sudah mendapat izin dari sahabat saya Handaka Vijjananda, pendiri Ehipassiko Foundation untuk membagikannya secara cuma-cuma di sini.

Kekhawatiran akan masa depan. https://letting-go.blog/2018/10/08/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-5/

Panorama Sekitar Jhana Grove. https://letting-go.blog/2019/12/11/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-9/

Buddhist Society of Western Australia – Bahasa Indonesia

Dhamma Talks (Bahasa Indonesian Subtitles) Ajahn Brahm (1 – 10 videos)

Podcasts

https://deeperdhamma.podbean.com/e/2019-october-9-day-retreat-for-bodhinyana-singapore-group-0122-ajahn-brahmavamso/

https://suttacentral.net/an10.2/id/anggara

Youtube:

Serial Kartun “Happy Everyday” Terbitan Ehipassiko. Bisa diklik untuk diperbesar. Selamat menikmati.

Perth, Australia Barat – May 2021

Selamat Jalan Romo Han Cing

Meski tidaklah dekat, saya telah mengenal Romo Han Cing (Harpan Aguswan) dan istrinya Ce Suk Cen (Rusmiati Zen) sewaktu merantau dan studi di Palembang di penghujung tahun 1980-an hinga awal 1990-an saat sering beraktivitas di Vihara Dharmakirti.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah kepribadian Romo Han Cing yang sangat sederhana. Meski telah tiga puluhan tahun berlalu, dalam ingatan saya, ada sosok senyum ramah seorang pria paruh baya berkaos oblong putih dengan celana pendek yang menjadi ciri khas kesehariannya.

Bersama teman-teman, kami sering ke rumah Romo Han Cing setiap kali ada bhante (sebutan untuk seorang bhikkhu – biarawan Buddhis) yang menginap di sana. Seingat saya, kami sering bertemu Bhante Viryanadi dari Trowulan di sana. Kami diizinkan untuk berlama-lama hingga larut malam, sambil menikmati penganan yang dihidangkan oleh Ce Suk Cen.

Kesempatan bertemu dan bisa mengobrol dengan seorang bhante sangat langka pada masa itu. Kami mendapat kesempatan yang sangat berharga ini didampingi oleh Romo Han Cing di rumahnya – tempat kami bertanya segala macam pertanyaan untuk melepas dahaga kami akan Dhamma dalam masa-masa awal ‘pencarian’ kami. Ini menjadi jalinan karma saya mengenal kembali Buddha Dhamma dalam kehidupan ini.

Saya turut berbahagia mendengar Romo Han Cing menyentuh banyak hati orang-orang yang mengenal beliau lewat kesederhanaan, kedermawanan dan kebaikan hatinya; dan dicintai oleh begitu banyak orang.

Romo Han Cing meningal dunia pada tanggal 26 Mei 2021 di Palembang. Selamat Jalan Romo, semoga terlahir di alam bahagia🙏🙏🙏

Terimakasih banyak Ce Suk Cen. Semoga senantiasa sehat dan bahagia🙏🙏🙏

Lim Eka Setiawan

Perth, 28 Mei 2021.

Penerbangan JG-000

Bukan Ajahn Brahm kalau tidak membawa sesuatu atau memfasilitasi ide-ide kreatif yang out-of-the-box. Atas ide Bhante Bodhidhaja, video tentang meditasi yang analogikan dengan pesan keselamatan dalam penerbangan yang selalu kita dengar dari kru kabin sebelum tinggal landas. Bhante ada sebutan untuk biarawan Buddhis. Video ini menjadi kocak dan menghibur, dan pada saat yang sama dengan akurat menerangkan prinsip-perinsip meditasi.

Code penerbangan ‘JG-000’ jelas mengacu pada Jhana Grove, kompleks pusat meditasi di Serpentine, Australia Barat yang di kelola oleh Ajahn Brahm. Saya beruntung sempat mengikuti retret meditasi 9 hari yang diajarkan oleh beliau pada pertengahan tahun 2018. Nomor penerbangan ‘000’ kemungkinan mengacu pada pelepasan, kesunyataan, atau sejenisnya.

Video dimulai dengan pesan dari kapten Awakening Air dari ruang kemudi.

‘Ini kapten anda Ajahn Brahm berbicara, Awakening Air mengucapkan selamat datang dalam penerbangan JG000 yang tidak kemana-mana. Kita akan mengarungi kebebasan, keheningan, dan kedamaian.’

Pesan-pesan berikutnya yang diselaraskan dengan panduan meditasi dibuat sangat kreatif dan menghibur, beberapa diantaranya:

‘Pada saat masuk kedalam pesawat, mohon jangan membawa koper masa lalu anda, tinggallah di masa lalu sebagaimana seharusnya’.

‘Juga jangan membawa tas penuh dengan ‘ketakutan dan harapan’ bersama anda kedalam kabin pesawat, karena akan mengacaukan pikiranmu dan memperlambat proses masuk kedalam pesawat’.

Pada saat tanda ‘kelembutan’ dinyalakan, kembalilah pada ‘saat kini – present moment’, cobalah santai, lingkupi anda dengan kelembutan dan kebaikan’.

Sangat menarik, kreatifitas mereka menampilan Inter-Tainment – program hiburan dalam pesawat, peragaan-peragaan ala kadarnya yang diperankan oleh pengunjung yang sering saya lihat saat berkunjung kesana, dan juga saat keadaan ’emergency’ pendaratan di air.

Dan pernyataan di akhir menunjukkan betapa moderatnya pesan keselamatan perjalanan ‘penerbangan’ ini:

On behalf of the whole crew we thank you for not choosing Awakening Air but rather slowly conditioned by Kamma, your teachers and spiritual friends to come along for the ride. We wish you a pleasant journey.

Atas nama seluruh kru, kami mengucapkan terimakasih karena tidak memilih terbang bersama ‘Awakening Air’ tetapi lebih memilih secara perlahan dikondisikan oleh karma, guru dan kawan spiritual anda dalam mengarungi perjalanan ini. Semoga perjalanan anda menyenangkan.

Awakening Air

Dibawah ini adalah tautan videonya. Selamat menikmati.

Perth, 9 May 2021