Peh Cun di Kampung Kecil

Beberapa waktu lalu, saya pulang kampung untuk beberapa hari dengan niat mengumpulkan sebisanya cerita-cerita kampung kecil saya – Kampung Lumut, Belinyu, Pulau Bangka. Cerita-cerita ini mungkin sudah asing bagi sebagian masyarakat kampung sendiri terutama mereka yang muda-muda. Selain sebagai catatan pribadi dan cara saya mengenang kampung tempat saya menjalani masa kanak-kanak dan remaja, catatan-catatan ini juga sebagai pertinggal bagi masyarakat kampung. Syukur-syukur ini menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dan menginspirasi.

Dengan bantuan sahabat-sahabat kecil saya dan teman kru videographer dari Mentok, kami melakukan serangkaian kunjungan ke tempat yang dulu menjadi ikon kampung, berkumpul dan ngobrol dengan anak muda di Kelenteng, menginjungi SD saya, berbincang dengan guru-guru dan murid-murid, dan ngobrol santai dengan tetua kampung yang sekarang sudah berumur di atas 80 tahun bahkan 98 tahun – mendengarkan cerita beliau-beliau tentang kehidupan kampung dari masa ke masa dan harapan-harapan mereka.

Hampir semua obrolan kami dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu, Bahasa Khek Bangka – sehingga semua cerita bisa mengalir dengan santai. Akibatnya, saya perlu menerjemahkan percakapan ini ke Bahasa Indonesia untuk subtitle. Semoga saya bisa merampungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hari ini adalah hari perayaan Peh Cun – di kampung saya kami menyebutnya Ng Nyiet Chiet, bulan 5 tanggal 5 penanggalan Imlek dengan tradisi kuliner bakcang (penganan ketan yang diisi dengan daging atau udang, dan dibungkus dengan daun pandan). Di banyak negara, perayaan ini dikenal dengan boat festival.

Perayaan ini secara tradisi merayakan nilai-nilai kejujuran dan kesetiaan kepada negara – yang dalam kontek sejarah mengenang jasa dan pengorbanan seorang Qu Yuan yang mengorbankan diri demi nilai-nilai tersebut.

Di masa kami kecil, Peh Cun dirayakan dengan piknik ke Jembatan Peringping (Chong Khiau – jembatan panjang) tak jauh dari kampung. Waktu itu masih jembatan lama yang sempit. Kami menikmati pemandangan jembatan, sungai dan gunung sambil bersantap bakcang. Sebagian orang memancing dari atas jembatan.

Bersama dua sahabat kecil saya, Tham Kian Kwet dan Jong Kiu Su, kami bercerita mengenang masa-masa 40 – 45 tahun lalu tentang bagaimana suasana dan kegembiraan kami piknik di atas jembatan lama ini.


Perth, 31 May 2025

Suasana Perayaan Chin Min (Ceng Beng) di Kampung di Pulau Bangka

Saya diminta oleh Koh Udaya Halim untuk ikut mengisi webinar bertema perayaan tradisi Ceng Beng pada 4 April 2021, bersama beliau dań dua kontributor lain, Koh Rusdy Tjahyadi dan Koh Henky Honggo, lewat Zoom and Youtube. Adalah kehormatan bagi saya untuk terlibat dalam forum yang digagas oleh Koh Udaya, seorang pendidik (pendiri King’s Group Education – pendidikan berbasis kreatifitas), aktifis budaya, pendiri Museum Benteng Heritage, juga ketua Persaudaraan PERTIWI (Peranakan Tionghoa dan Warga Indonesia). Kami juga sama-sama tinggal di Perth saat ini. Bersama teman-teman dan Jaringan Diaspora Indonesia (IDN), kami pernah bersama menyelenggarakan perayaan Imlek Cap Go Meh pertama di Perth di tahun 2017, dengan menampilkan budaya peranakan Tionghoa Indonesia dalam acara makan malam dan bazar. (https://www.facebook.com/imlek15meh).

Perayaan Ceng Beng kali ini juga bertepatan dengan Perayaan Paskah. Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Paskah kepada semua keluarga, teman-teman, dan semua yang merayakannya, semoga Paskah membawa berkah kedamaian and kebahagiaan.

Koh Udaya memaparkan begitu banyak informasi tentang asal usul Ceng Beng dan nihai-nilai yang mendasarinya, juga ditambahkan dengan sejarah layang-layang yang musimnya bertepatan dengan masa perayaan Ceng Beng. Koh Rusdy berbagi cerita tentang tradisi keluarga dalam persembahyangan Ceng Beng yang melibatkan keluarga besar dengan tata cara yang unik beserta kekayaan kuliner yang disajikan. Sementara Koh Henky menceritakan pernik-pernik proses perayaan Ceng Beng oleh masyarakat Tionghoa Palembang.

Semula, saya agak bingung juga mau menyampaikan apa dalam acara ini karena saya tidak punya pengetahuan tentang budaya. Lagian saya tidak begitu bisa berbicara (public speaking). Akhirnya saya pikir untuk sekedar menceritakan suasana perayaan Chin Min (Bahasa Hakka Bangka untuk Ceng Beng) di kampung di Bangka, tempat saya menjalani masa kecil dan remaja saya. Saya menampilkan banyak foto agar tidak perlu terlalu banyak ngomong – a picture paints a thousand words, kata orang.

Ibu Ineke Manaseh, moderator acara, memperkenalkan saya dan juga latar belakang saya sebagai pekerja tambang. Saya punya kesempatan bekerja di berbagai tambang (batubara, emas, tembaga) di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa), Laos, Australia, dan Ghana (Africa). Pulau Bangka sendiri terkenal dengan tambang timahnya.

Berikut di bawah ini tautan rekaman acaranya di Youtube. Terima kasih saya untuk Koh Han Hendra yang menghosting webinar ini dan menyediakan rekaman kegiatan ini.

Flyer webinar – 04 April 2021

Rekaman lengkap di Youtube – Acara Webinar

— 0 —

Bakti kepada orang tua dan leluhur mengakar dalam di budaya Tionghoa. Ajaran Konfusius banyak mengajarkan keutamaan bakti kepada orang tua. Seseorang yang punya rasa bakti yang tinggi dilihat sebagai orang yang bertanggung jawab, matang, dan bisa dipercaya. Ada ungkapan:

Dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang pertama

百善孝為先 – bǎi shàn xiào wèi xiān

Of all virtues, filial piety is the first 

Chinese wisdom

Saya yakin itu juga mengakar pada semua ajaran kebenaran/agama. Dalam  Ajaran Buddha terkenal Sutra Bakti Seorang Anak (Filial Piety Sutra), membabarkan tentang besarnya jasa dan pengorbanan orang tua untuk anaknya dan sulitnya membalas jasa-jasa orang tua. Tapi sebenarnya kita tidak perlu agama untuk mengajarkan kita bakti kepada orang tua, kita hanya perlu menjadi manusia untuk memiliki rasa itu.

bakti dalam kesederhanaan…

— 0 —

Kampung Tionghoa di Pulau Bangka

Bagi yang belum tahu, Pulau Bangka terletak di setelah selatan Sumatera atau sebelah barat laut dari Belitung. Mungkin Belitung lebih dikenal daripada Bangka. Kampung saya sendiri, Kampung Lumut, terletak di Bangka Utara yang ibukotanya adalah Belinyu. Kalau ke Bangka, setelah turun dari pesawat di kota Pangkalpinang, perjalanan ke arah Belinyu, akan melewati Sungailiat, dan tiba di Riau/Silip, lalu belok ke kiri di simpang Lumut, dan sekitar 3 km lagi untuk sampai di kampung Lumut. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Pangkalpinang.

Kampung Lumut terletak tidak jauh dari Gunung Maras (699 meter dari permukaan laut), bukit tertinggi di Bangka, dan ada satu jembatan panjang menyebrangi Sungai Perimping yang menjadi tempat ‘rekreasi’ masa kecil pada saat festival Pek Cun di sekitar bulan Juni.

Ada beberapa kelentang di sana. Salah satunya adalah Fuk Tek Tze dengan altar Toa Pek Kong (Thai Pak Kung & Thai Pak Pho), Kwan Kung, dan Kwan Im. Catatan terawal yang ada adalah pada tulisan di papan salah satu tiang yang menandakan tahun 1890. Diperkirakan pendirian kelentengnyanya jauh sebelum tahun tersebut.

Foto di kanan bawah adalah jalan utama Lumut. Waktu saya kecil, saya bersekolah di SD Siliwangi Lumut, rasanya maktu itu masih pakai Bahasa Khek (Hakka) di sekolah.

Masyarakat Bangka dikenal dengan suasana penuh toleransi dan rukun hidup bermasyarakat.

Tradisi dan Kearifan Lokal

Terakhir saya dan istri mudik ke Bangka di akhir tahun 2018, ditemani oleh Koh Udaya dan Cik Harum, sebelum saya berangkat tugas kerja ke Ghana, Afrika. Perjalanan yang sangat menarik sepanjang jalan, saya belajar banyak tentang kebudayaan peranakan Tionghoa, bahkan tentang kearifan lokal tempat saya dibesarkan. Foto-foto dalam slide ini adalah foto Koh Udaya.  

Kami meluangkan waktu ke Belinyu, kota terdekat dari kampung saya, sekitar 25km. Kami juga berkunjung ke Mentok dan Jebus (Parit 3) ditemani oleh Suwito Wu dan Sugia Kam, dan ke The House of Lay di Pangkalpinang bersama Koh Hongky Lie dan Koh Mingky Lie.

Di Belinyu, kami mengunjungi pemakaman umum Tionghoa (Kung Bu Jan) di Belinyu, tempat kakek dan nenek dari pihak ibu dimakamkan. Karena kami kesana bukan pada masa Cheng Beng, kelihatannya agak semak, tapi sebenarnya sangat terawat dan sangat ramai pada saat Cheng Beng, tentu pada masa sebelum pandemi Covid.

Ada satu peninggalan Benteng Kuto Panji (Benteng Bong Kap / Bong Kap Sang) yang kami kunjungi. Dikisahkan Bong Kap datang pada masa Dinasti Ching pada awal abad 18, sebelumnya mampir ke Kesultanan Palembang dan menjadi pejabat penting dipercayaan mengatur perdagangan di Bangka.

Baru kali ini saya mengunjungi Benteng Bong Kap ini meskipun saya dulu bersekolah menengah di Belinyu. Benteng menghadap ke satu kolam (yang dulu katanya sungai menuju ke laut) dan di samping kelenteng yang berdiri megah. Kami sampai di senja hari menjelang malam, dan menghabiskan beberapa waktu meresapi keheningan suasana benteng yang tinggal puing-piung. Ada satu makam yang sudah direnovasi di ujung bangunan, terlulis tahun ‘sekitar 1700’.

Di Lumut, mampir ke rumah orang tua saya yang sudah tidak dihuni lagi. Setelah sembahyang di altar keluarga kami mengunjungi satu rumah bangunan tua yang bergarak 4 rumah. Koh Udaya sangat tertarik dengan altar Kwan Kung (Guan Yu) dan arsitektur rumahnya. Kwan Kung adalah salah satu dewa/boddhisatva yang dipuja luas oleh masyarakat Tionghoa penganut Konfusius, Taois, dan Buddhis Mahayana, yang diyakini memanifestasikan nihai-nilai keadilan, keberanian, dan kesetiaan.

Altar Kwan Kung dengan kertas altar original yang masih cukup utuh meski sudah menghitam oleh asap dupa. Katanya kertas altar ini didatangkan dari Singapura pada masa itu. Saya ingat masa kecil saya bangunan rumahnya sangat besar, dan salah satu yang terbaik kampung. Kini sudah rapuh, bagian dapur sudah dirobohkan, yang dalam gambaran waktu kecil saya, sangat luas dengan pekarangan di tengah. Saya masih kenal baik dengan pewaris rumah itu, Bong Chiung, yang berumur beberapa tahun lebih muda dari saya.

Satu hal yang saya tidak habis pikir, rumah yang dipilih oleh Koh Udaya untuk dikunjungi selalu ada altar Kwan Kung, termasuk satu rumah kecil sederhana yang tiba-tiba ditunjuk oleh Koh Udaya untuk dimampiri di daerah Sin Chong (5 km dari Belinyu jalan ke Pangkalpinang). Katanya rumah tua yang memiliki altar Kwan Kung biasanya adalah rumah/bangunan komunal, tempat dimana orang-orang berkumpul pada masa itu. Sayang kami tidak berkesempatan bertemu dengan pemiliknya.

Peninggalan Kejayaan Masa Lalu – Kampung Gedong

Satu bagian dari kampung ada namanya Kampung Gedong (Liuk Fun Thew). Sisa sisa kejayaan masih bisa dilihat dari beberapa rumah yang boleh dibilang mewah pada jamannya. Seorang peneliti dari Kementrian Kebudayaan dan Parawisata, Dewi Setiati, dalam tulisannya menyebutkan1 Liuk Fun Thew (Perkumpulan 6 Pemimpin) merupakan salah satu distrik penambangan dari 36 distrik penambangan di zaman kolonial Belanda.

Perlahan, rumah dengan arsitektur khas ini akan hancur dimakan usia kalau tidak ada upaya melestarikannya. Waktu saya kecil, masyarakat Kampung Gedong banyak bermatapencaharian sebagai nelayan. Letaknyapun di dekat sungai air payau. Sekarang melaut bukan lagi pencaharian utama karena generasi nelayan sudah tua, sementara yang muda-muda banyak merantau keluar pulau. Kampung Gedong dikenal sebagai kampung wisata budaya. Beberapa stasiun TV swasta nasional pernah melakukan liputan di Kampung Gedong ini tentang kehidupan keseharian masyarakat di sana.

Tiga bagian bangunan yang ditampilkan dalam slide ini adalah satu bangunan/rumah besar yang terhubung satu sama lain. Sepertinya ini adalah gedung komunal yang menurut saya merupakan bangunan termegah di kampung pada jamannya. Ada satu foto ukuran besar digantungkan di depan rumah menunjukkan status sosial sebagai pejabat atau penguasa pada jamannya.

Salah satu makanan khas Bangka terkenal dengan kerupuk/kemplang (kum pang – Bahasa Khek lokal) yang menggunakan bahan tapioka dan ikan atau udang. Kita mengungungi salah satu industri kemplang milik Cu Khiong yang saya kenal, dan melihat proses pembuatannya. Kami juga disuguhi minum dan berbagai jenis kerupuk termasuk mencicipi bahan kemplang udang yang baru selesai dikukus (kum pang thung) másih hangat, kenyal dan enak.

Ada banyak varian dari kerupuk ini, ada yang dipanggang atau digoreng. Bentuknya pun berbagai jenis seperti kerupuk, kemplang, getas. Kwalitas kerupuk Bangka premium karena komposisi bahan, kwalitas ikan/udang yang segar, dan juga proses pembuatan dan pengolahannya. Menurut saya, kwalitas kerupuk/kemplang yang terbaik adalah kerupuk Bangka khususnya yang dari Lumut. Kalau tidak percaya silakan dicoba. Tentu saja, saya bias dengan penilaian saya.

Tradisi Mempererat Persaudaraan dan Kekeluargaan

Ini adalah kumpulan foto-foto beberapa tahun lalu menggambarkan suasana bersama saudara dan keluarga dari pihak ayah saya. Ini adalah kompleks pemakaman kedua orang tua saya, kakek dan nenek, termasuk makam adik saya yang meninggal lebih dari 25 tahun lalu. Juga bersama mama saya waktu beliau masih hidup. Di rumah saya juga ada altar untuk orang tua, kakek/nenek, buyut. Sembahyang Ceng Beng biasanya dimulai subuh sebelum matahari terbit.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi Ceng Beng ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Bersama saudara yang menjalani kehidupan masing-masing bisa berkumpul kembali di satu tempat dan bagi kita untuk bercerita mengenang masa bersama dulu saat orang tua kita masih bersama kita, mengenang jasa-jasa dan kasih sayang orang tua kita.

Pemakaman di Kampung tidak ada batas seperti komplek seperate di kota. Jarak antar komplek kuburan lebih adalah bekas kebun keluarga, tapi semua cukup berdekatan (kadang berjarak 50 meter). Wangi dupa yang sangat kentara dan suasana hening di pagi hari selalu mengesankan saya.

Hal yang menyenangkan lagi, setelah persembahyangan, kami boleh langsung ngemil di tempat, tanpa harus menunggu sampai di rumah: bisa buah, kue, daging, biasanya yang dipilih adalah jeroannya. Sampai dirumah, acara masak keluarga dan kami semua makan siang bersama. Di masa kecil dulu, makan daging ayam atau buah mahal hanya menjadi menu pada hari-hari tertentu seperti Cheng Beng ini. Untuk alasan itu, Ceng Beng menjadi hari istimewa bagi sebagian besar kami yang besar di kampung, dan sekarang menjadi sesuatu indah untuk dikenang.

Mewariskan Tradisi kepada Generasi Berikutnya

Ini foto-foto kiriman Suwito Wu dari Ceng Beng tahun ini di Muntok. Tata cara persembahyangan Ceng Beng yang umum di Bangka menggunakan peralatan sembahyang yang berupa lilin, dupa, kertas sembahyang (nyiun ci – kertas perak, dan kim ci – kertas emas) .

Kelihatannya yang khas untuk persembahyangan di Bangka adalah thong chien (kertas cho ci yang dipotong berjuntai) yang digantungkan di sisi kiri dan kanan kuburan, dan kai hiet ci (kertas cho ci yang ditetesi darah ayam) yang ditetakkan di atas nisan.

Tradisi Mempererat Hubungan Sosial Sekampung

Berikut adalah foto beberapa tahun lalu suasana Ceng Beng di pemakaman keluarga sekampung. Pemakaman keluarga yang sangat sederhana. Meskipun berdekatan atau seperti kompleks, tapi sebenarnya tidak ada tempat yang dikelolah khusus seperti layaknya pemakaman di kota. Boleh di bilang ini seperti di kebon masing-masing, sepertinya hanya kesepakatan bersama.

Kesederhanaan perayaan disini bisa terlihat, tapi kebersamaan dan suasana kekeluargaan sangat terasa. Tempat semua berkumpul di pemakaman orang tua dan leluhur masing-masing untuk untuk melakukan penghormatan.

Disini kita bisa dengan mudah bertemu dengan teman-teman lama yang sudah merantau kemana-mana, dan sama-sama pulang dan berkumpul kembali di kampung. Sebagai perantau lebih dari 35 tahun seperti saya, kadang hal yang ‘memalukan’ sering terjadi, karena tidak lagi ingat nama-nama semua orang di kampung. Karena kampung kecil, sebagian besar masih ingat nama saya. Kalau jalan-jalan di kampung saya ajak teman karib saya atau adik saya. Saya masih punya beberapa teman karib masa kecil di sana, yang masih berhubungan hingga sekarang.

Bakti Kepada Orangtua dan Leluhur itu Sederhana

nilai kebajikan bakti kepada orang tua dan leluhur – sesuatu yang sederhana namun luhur

Kalau kita lihat lebih dalam, tradisi bakti kepada orang tua/leluhur mengakar di dalam budaya Tionghoa sangat utama, seperti dikemukaan di bagian awal tadi. Bagi saya pribadi, saya hanya ingin memaknainya dengan lebih sederhana, bahwa perayaan Ceng Beng (Chin Min) adalah salah satu ungkapan bakti kepada orang tua dan leluhur dalam masyarakat Tionghoa yang diyakini merupakan suatu kebajikan, yang dalam perjalanan sejarah panjang mereka kemudian menjadi suatu tradisi yang membawa nilai kearifan.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, memberi kesempatan berkumpul kembali di satu tempat dan berbagi bercerita, dan kalau mau lebih spiritual – tradisi ini mengajarkan bahwa kita dekat dengan kematian itu sendiri, tidak ada yang kekal, dan suatu saatpun kitapun akan berakhir disini.

Saya berharap 2 foto diatas bisa sedikit melukiskan nilai-nilai kebajikan perayaan Ceng Beng ini, akan ungkapan bakti kepada orang tua/leluhur dalam kesederhanaan di kampung. Juga, ada yang datang ke makam orang tua atau leluhur hanya untuk menancapkan hio, menyalakan lilin, dan membakar kertas sembahyang, dan tentu dengan iringan doa – karena hanya itu yang mampu dilakukan (foto di sebelah kanan).

Tradisi ini sebisanya kita kenal, nikmati, dan rawat untuk anak cucu kita. Karena tradisi ini sudah berlangsung lama menembusi waktu dan tempat, tidak bisa dihindari timbul berbagai ragam dalam tata cara hasıl akulturasi dengan budaya setempat, yang justru memperkaya tradisi tersebut. Ragam perayaan ini dapat disaksikan dari cerita Koh Udaya, Koh Hengky, and Koh Rusdy dalam forum webinar ini.

Menurut saya boleh saja kita menyesuai dengan tradisi dengan perubahan yang terus berlangsung, misalnya tidak ingin memberi persembahan bernyawa dengan pertimbangan keyakinan, atau apapun. Saya sendiri hanya mempersembahkan satu piring buah-buahan untuk setiap makam. Tahun ini, saya hanya menitipkannya kepada adik saya yang tinggal di Belinyu.

Namun kita tidak perlu merasa malu dengan tradisi seperti ini karena dianggap kuno atau bertentangan dengan keyakinan baru kita. Kita bisa saja punya pengetahuan atau keyakinan baru yang kita anggap lebih masuk akal dengan segala dalilnya, tapi kalau kita mengagungkan ‘pengetahuan’ semata, kita bisa kehilangan kearifan yang menjadi dasar prilaku berbudaya dari suatu peradaban.

Tata cara suatu tradisi akhirnya akan berubah dan berangsur memudar dalam perjalanan waktunya. Untuk itu, kita perlu merawatnya sebisa mungkin dań sekaligus menikmatinya. Namun nilai-nilai kebajikan bakti kepada orang tua seharusnya bertahan dan akan selalu ada di dalam hati setiap manusia.

Suasana Kampung yang Ngangenin

Sebagai penutup dari cerita saya, saya ingin berbagi cara saya menikmati suasanya kampung kala saya mudik. Saya merasa sangat beruntung, punya kampung halaman, dan punya kesempatan untuk kembali dari waktu ke waktu.

Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati, utamanya hal-hal yang sederhana. Yang pertama, tentu bisa bertemu dengan orang tua saat mereka masih ada. Kini, kedua orang tua sudah meninggal. Dan rumah di kampung pun sudah tidak ditinggali. Namun, saya masih ingin meluangkan waktu untuk mudik saat kondisi memungkinkan.

Ada banyak hal yang ngangenin, ngobrol dengan teman waktu kecil, menelusuri jalan setapak di belakang rumah, melihat kolong tempat mandi dulu, merasakan udara segar lepas dari hiruk pikuk kesibukan masyarakat kota, ngobrol dengan orang-orang tua di kampung dan mendengar cerita keseharian mereka.

Perth, 05 April 2021

Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

Mesjid Raya Hassan II مسجد الحسن الثاني Casablanca, Morocco

Saat liburan akhir tahun ke Morocco bersama keluarga, kami mengunjungi mesjid terbesar di Afrika yang juga merupakan mesjid ke-3 terbesar di dunia, Mesjid Raya Hassan II di Kota Casablanca. Mesjid ini bisa menampung 105,000 orang (25,000 didalam mesjid and 80,000 orang di lapangan mesjid), memiliki menara setinggi 210 meter dengan 60 lantai yang merupakan menara mesjid tertinggi ke-2 di dunia. Di atas menara terdapat satu titik laser yang cahayanya diarahkan ke kota Mekkah.

IMG_0061

Mesjid Raya Hassan II terletak di pinggir pantai di atas daratan yang menjorok ke Samudra Atlantik dan menempati kawasan seluas 9 hektar. Mesjid dibangun separuh di daratan and separuh lagi di atas laut Samudara Atlantik yang membutuhkan rancangan dan konstruksi khusus. Pembangunannya dilakukan pada masa Raja Hassan II, memakan waktu 7 tahun dari 1986 hingga 1993 menelan biaya pembangunan sekitar 585 juta Euro (sekitar Rp.9,4 Triliun) yang sebagian besar dananya dari donasi 12 juta orang. Mesjid dirancang oleh  seorang arsitek Prancis, Michel Pinseau yang tinggal di Morocco.

Lapangan yang luas berlantaikan batuan marmer dan granit memberi kesan lapang dan terbuka. Dikelilingi oleh bangunan fungsional dan arsitektur lainnya, bangunan mesjid yang megah berukuran 200 meter kali 100 meter, dengan keindahan seni arsitektur, mosaik dan pernik-pernik bangunan yang mereflesikan kekayaan seni budaya Islam di Morocco.

IMG_8321

Mesjid Raya Hassan II menjadi tempat menarik bagi turis, dan juga bagi masyarakat setempat. Banyak terlihat keluarga keluarga yang duduk santai di lapangan di depan mesjud yang berunduk (berteras), duduk di lantai batu marmer dan granit, memandang pilar-pilar artistik dan bangunan mesjid yang megah berdinding mosaik indah, terlebih diterpa matahari senja yang kuning keemasan. Udara musim dingin mengharuskan semua orang memakai baju penghangat. 

Meski banyak orang berkunjung, suasana tetap cukup hening, karena orang lebih banyak diam menikmati suasana. Dan lagi pula, di halaman yang luas terbuka suara tidak mengema memberi kesan hening. Kebanyakan orang duduk di lantai, terlihat anak-anak berlarian kesana kemari.

IMG_6068

Saya suka suasana hening seperti ini, senang melihat orang menikmati senja dengan berbagai cara tanpa mengganggu orang lain. Suasana hening membawa rasa damai. Matahari mulai tenggelam diufuk barat. Cahaya yang senja menerpa permukaan bangunan mesjid memberi pantulan yang semula kuning keemasan menjadi merah muda…

IMG_0115
diterpa mentari senja, Mesjid Raya Hassan II memantulkan warna merah muda

Ketika kami hendak berjalan pulang, sekelompok anak remaja melintasi lapangan mesjid yang lapang, salah satu dari mereka menyapa ramah ‘ni hao‘, yang artinya apa kabar. Dikiranya kami adalah turis dari China. Di beberapa kesempatan sewaktu naik taksi, kami bilang kami dari Indonesia, mereka langsung bilang ‘Jakarta’, mereka tahu karena negara yang mayoritas muslim. Di kesempatan lain, seorang satpam penjaga mesjid menghampiri dan dengan ramah mengingatkan khawatir kami jatuh ketika duduk di teras yang dibelakangnya kosong dan di ketinggian.

Senja mulai tenggelam, malam menjelang, udara semakin dingin, kami berjalan pulang ke tempat penginapan yang berjarak sekitar 3.5 km, sambil menelusuri jalan-jalan kota Casablanca yang ramai dan sedikit tua. Meski suasanaya tidak begitu rapih, disini kami merasa aman berjalan kaki menelusuri pasar, ruko,  dan kadang melewati ruas jalan yang relatif sepi untuk pertama kalinya.

IMG_0106

Dari banyak kekhasan masyarakat di sini, salah satunya adalah banyaknya orang duduk santai di toko kopi sambil ngobrol dengan teman mereka atau sendirian dengan secangkir kecil kopi hitam kental (espresso). Saya beberapa kali mencoba kopinya, dan saya suka sekali.

Kami sempat mampir menikmati jajanan pasar di pinggir jalan, sambil mengobrol dengan satu ibu yang membantu menjelaskan jenis dan harga jajanan. Kami juga membeli makan malam di salah satu warung makanan lokal. Dengan uang sekitar Rp150 ribu, kami membawa pulang dua kantong plastik besar roti, nasi kuning, kebab, ayam panggang berbumbu lokal. Makan malam yang lebih dari cukup untuk kami bertiga.

25 Desember 2019, Casablanca, Morocco

Berikut adalah gambar-gambar lain yang diambil menggunakan kamera handphone biasa akan suasana pada saat itu.

 

King of the People Hearts

Consolidating my writing from other media. This one was written in October 2016 and published in Facebook Note.

I do not know much about him but I am touched by the great love and respect of his people toward him.  Thai people show their utmost respect to the royal family, especially to their King Bhumibol Adulyadej. 

Many years ago, I was used to traveling through Thailand during my flying-in flying-out working at a mine site in Laos, traveling from the metropolitan Bangkok to smaller city Ubon Ratchathani, and to a small town Mukdahan next to the Mekong River before crossing to Savannakhet, Laos. My Thai friends talked about how much their King had done for the people and the country. It’s very common seeing Thai people make an anjali gesture by joining both of their palms and bow toward their king’s or queen’s pictures wherever they found for showing their deep respect. 

King of the People Hearts
Paying Respect

With my family, we had a chance to visit Chiang Mai once.  We passed some of King’s supported agriculture projects on the way of visiting an indigenous tribe in the north of Thailand. I can still  remember when I was flying with Thai Airways on the day of the 60th Anniversary of King Bhumibol Adulyadej’s accession to the throne in 2006, the pilot proudly made a special announcement from the cockpit that the inflight food served that day was cooked with the ingredients specially brought from the King’s supported farms.

Here in Down Under, thousands of kilometers away, the Thai community gets together to commemorate the passing away of King Bhumibol Adulyadej, they share their love to the King of the People Hearts.

My deepest condolences to my Thai friends for your beloved King departure.

Perth, October 2016

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/king-of-the-people-hearts/10154600263029035/