Kemarin (10 Pebruari 2026) rombongan biarawan Buddhis (bhikkhu) Walk for Peace dipimpin oleh Bhante Pannakara memasuki Washington DC, setelah berjalan kaki 108 hari sejak 26 Oktober 2025, dari Forth Worth, Texas, sepanjang 3700km. Perjalanan panjang ini menembus segala cuaca termasuk hujan salju. Beberapa dari mereka juga sudah cukup berusia. Salah satu bhikkhu (Bhante Dam Phommasan), mengalami luka berat di awal perjalanan karena kecelakaan lalulintas sehingga menyebabkan salah satu kakinya harus diamputasi.
Di Indonesia, kita sudah mengenalnya beberapa tahun terakhir ini, yang dikenal dengan Bhikkhu Thudong (Kearifan dari Masa Silam – letting go). Mereka adalah bhikkhu hutan (forest monk) dari tradisi Theravada. Disamping aturan kebhikkhuan yang jumlahnya 227, sebagian mereka dari waktu ke waktu mengambil latihan lebih keras yang dikenal dengan Dhutanga (bahasa Pali) atau Thudong (bahasa Thai) – laku spiritual yang sudah dipraktekkan semenjak ribuan tahun lalu, lewat mengembara di hutan dan meditatisi intensif berlatih membersihkan kekotoran batin mereka dan mengatasi rasa takut akan binatang buas, sakit, cidera fisik, dan mahluk tak-tampak di hutan. Mereka hanya makan (makanan padat) 1 kali sehari sebelum jam 12, dari pemberian orang sepanjang perjalanan. Mereka berjalan, sering kali tanpa alas kaki, dengan penuh kesadaran akan gerakan kaki atau masuk keluarnya napas. Mereka tidur tidak merebah tapi duduk/bersila, sadar setiap saat hingga terlelap.

Pesan yang ingin mereka sampaikan adalah kedamaian ada di dalam batin setiap insan dan bisa disingkap dengan menjalani hidup berkesadaran (mindfulness) untuk menjadi lebih damai dan bahagia. Pesan yang ‘sederhana’ ini ternyata menyentuh hati begitu banyak orang di sepanjang perjalanan mereka, memberi harapan kepada banyak orang untuk membangkitkan spiritualitas yang terlelap karena kesibukan sehari-hari, untuk hidup lebih damai dan bahagia. Sebagian menyatakan bahwa misi perjalanan ini telah merubah hidup mereka.
Mereka senantiasa melafalkan (doa) pelimpahan jasa atas semua kebaikan yang mereka terima dan kepada orang-orang yang membutuhkan yang mereka temui di perjalanan – yang artinya mereka menyalurkan energi kebajikan hasil laku spritual mereka untuk kebahagiaan semua mahluk. Di media sosial, banyak sekali cerita-cerita dari mereka yang merasa terinspirasi oleh perjalanan ini.
Aloka, seekor anjing jalanan yang mengikuti Bhante Pannakara sewaktu melakukan jalan ribuan kilometer di India di bawa ke Amerika, dan menjadi maskot dari Walk for Peace ini. Secara kebetulan warna bulu di kepala Aloka berbentuk tanda hati (love).
Hari ini akan menjadi hariku yang penuh kedamaian
Today is going to be my peaceful day
– Bhante Pannakara –
Rombongan disambut oleh para rohaniawan/wati Kristiani dan para pemuka agama lain, dan bayak lapisan masyarakat umum di Washington National Cathedral. Satu pemandangan indah tentang tolerasi dan harmoni religius antar keyakinan yang memberi rasa damai dan sebersit harapan bahwa rasa kemanusiaan masih tumbuh menembus sekat-sekat religi, ras, dan politik. Dan ada nilai universal yang bisa menyatukan semua: cinta kasih, welas-asih, dan perdamaian.
Tautan ke Facebook resmi:
– https://www.facebook.com/share/g/1ACFrSc6uY
Para bhante yang bergabung dalam perjalanan ini:
Walk For Peace – The Venerables – Dhammacetiya – The Ancient Sacred Buddhist Scripture Stupas
Walk With Us Via Photos – Our Final Day in Washington DC – Day 109 (2/11/2026): https://www.facebook.com/share/p/1DSm4MXUiP
#WalkForPeace #PeaceWalk #Buddhistmonks
Video yang bagus menjelaskan arti Walk for Peace, sambutan hangat, interaksi dan dialog antar keyakinan – dibuat oleh pihak Washington National Cathedral.
Perth, 11 Feb 2026