Today is going to be my peaceful day

Kemarin (10 Pebruari 2026) rombongan biarawan Buddhis (bhikkhu) Walk for Peace dipimpin oleh Bhante Pannakara memasuki Washington DC, setelah berjalan kaki 108 hari sejak 26 Oktober 2025, dari Forth Worth, Texas, sepanjang 3700km. Perjalanan panjang ini menembus segala cuaca termasuk hujan salju. Beberapa dari mereka juga sudah cukup berusia. Salah satu bhikkhu (Bhante Dam Phommasan), mengalami luka berat di awal perjalanan karena kecelakaan lalulintas sehingga menyebabkan salah satu kakinya harus diamputasi.

Di Indonesia, kita sudah mengenalnya beberapa tahun terakhir ini, yang dikenal dengan Bhikkhu Thudong (Kearifan dari Masa Silam – letting go). Mereka adalah bhikkhu hutan (forest monk) dari  tradisi Theravada. Disamping aturan kebhikkhuan yang jumlahnya 227, sebagian mereka dari waktu ke waktu mengambil latihan lebih keras yang dikenal dengan Dhutanga (bahasa Pali) atau Thudong (bahasa Thai) – laku spiritual yang sudah dipraktekkan semenjak ribuan tahun lalu, lewat mengembara di hutan dan meditatisi intensif berlatih membersihkan kekotoran batin mereka dan mengatasi rasa takut akan binatang buas, sakit, cidera fisik, dan mahluk tak-tampak di hutan. Mereka hanya makan (makanan padat) 1 kali sehari sebelum jam 12, dari pemberian orang sepanjang perjalanan. Mereka berjalan, sering kali tanpa alas kaki, dengan penuh kesadaran akan gerakan kaki atau masuk keluarnya napas. Mereka tidur tidak merebah tapi duduk/bersila, sadar setiap saat hingga terlelap.

Pesan yang ingin mereka sampaikan adalah kedamaian ada di dalam batin setiap insan dan bisa disingkap dengan menjalani hidup berkesadaran (mindfulness) untuk menjadi lebih damai dan bahagia. Pesan yang ‘sederhana’ ini ternyata menyentuh hati begitu banyak orang di sepanjang perjalanan mereka, memberi harapan kepada banyak orang untuk membangkitkan spiritualitas yang terlelap karena kesibukan sehari-hari, untuk hidup lebih damai dan bahagia. Sebagian menyatakan bahwa misi perjalanan ini telah merubah hidup mereka.

Mereka senantiasa melafalkan (doa) pelimpahan jasa atas semua kebaikan yang mereka terima dan kepada orang-orang yang membutuhkan yang mereka temui di perjalanan – yang artinya mereka menyalurkan energi kebajikan hasil laku spritual mereka untuk kebahagiaan semua mahluk. Di media sosial, banyak sekali cerita-cerita dari mereka yang merasa terinspirasi oleh perjalanan ini.

Aloka, seekor anjing jalanan yang mengikuti Bhante Pannakara sewaktu melakukan jalan ribuan kilometer di India di bawa ke Amerika, dan menjadi maskot dari Walk for Peace ini. Secara kebetulan warna bulu di kepala Aloka berbentuk tanda hati (love).

Hari ini akan menjadi hariku yang penuh kedamaian

Today is going to be my peaceful day

– Bhante Pannakara –

Rombongan disambut oleh para rohaniawan/wati Kristiani dan para pemuka agama lain, dan bayak lapisan masyarakat umum di Washington National Cathedral. Satu pemandangan indah tentang tolerasi dan harmoni religius antar keyakinan yang memberi rasa damai dan sebersit harapan bahwa rasa kemanusiaan masih tumbuh menembus sekat-sekat religi, ras, dan politik. Dan ada nilai universal yang bisa menyatukan semua: cinta kasih, welas-asih, dan perdamaian.

Tautan ke Facebook resmi:
https://www.facebook.com/share/g/1ACFrSc6uY

Para bhante yang bergabung dalam perjalanan ini:

Walk For Peace – The Venerables – Dhammacetiya – The Ancient Sacred Buddhist Scripture Stupas

Walk With Us Via Photos – Our Final Day in Washington DC – Day 109 (2/11/2026): https://www.facebook.com/share/p/1DSm4MXUiP

#WalkForPeace #PeaceWalk #Buddhistmonks

Video yang bagus menjelaskan arti Walk for Peace, sambutan hangat, interaksi dan dialog antar keyakinan – dibuat oleh pihak Washington National Cathedral.

Perth, 11 Feb 2026

Mendung Itu Disimpan Untuk Diri Sendiri

Satu kisah tentang perjuangan hidup seorang ibu muda di satu sisi dan kedermawanan seseorang yang tidak dikenal di sisi lain.

Ibu muda 28 tahun, Xiao Lin dari Chongqing ini membawa dua anaknya berdagang makanan dengan gerobak di tengah musim dingin untuk bertahan hidup dan mengumpulkan biaya untuk putranya yang menderita penyakit jantung bawaan. Sementara ayah dari puteranya mengahiri hidupnya karena tidak tahan menanggung beban hidup.

Ketangguhan wanita muda ini mengagumkan. Ungkapan yang dia pakai: “陰霾是留給自己的” (yīn mái shì liú gěi zìjǐ de) ‘Mendung itu disimpan untuk diri sendiri’ dibalut senyum dan tawa, sedikit banyak mencerminkan kedewasaannya menghadapi badai kehidupan. Dia cenderung akan mudah untuk bahagia dalam kondisi apapun…

Dari luar, kita memang tidak pernah tahu apa yang sedang dihadapi oleh seseorang.

Anak-anaknya yang masih kecil seakan mengerti keadaan ibunya. Putrinya digendongan tidak tampak rewel di tengah udara yang dingin. Putranya sempat menyeka airmata ibunya dan sangat sopan.

Penderitaan yang dalam membuat kita lebih mudah melihat realitas hidup dengan lebih nyata, dan dapat mentransformasi batin menjadi lebih eling, melepas, dan arif. Kelihatan Xiao Lin ini melewati itu semua dengan baik. Sayangnya tidak semua orang bisa melewatinya, salah satunya mungkin suaminya itu. Depresi yang dalam pada satu titik akan mengkalutkan semua pikiran kita yang akan terus menggulung dan menyebabkan kita tidak bisa melihat jalan keluar, tapi jalan pintas. Bukan karena dia tidak bisa berpikir, tapi justru tidak berhenti berpikir, didera oleh rasa bersalah, kecemasan masa depan, dan tidak cukup kesadaran untuk menghentikannya atau menerima dan melepaskannya. Very unfortunate…

Meskipun ini satu konten dimana pembuatnya bisa mendapatkan keuntungan finansial, namun menyisihkan 50,000 Yuan (setara Rp.110jt) untuk membantu ibu muda ini dan anaknya adalah kedermawanan sekaligus kewelas-asihan. Keharuan dari pemberi yang tidak mau memperlihatkan diri ini tidak dapat disembunyikan saat ibu muda dan anaknya memberi penghormatan. I hate to admit that I was crying…

Info terakhir, para dermawan didunia maya mengumpulkan lebih dari 300,000 Yuan (sekitar Rp660jt) untuk kelanjutan operasi jantung putranya.

Versi asli dari pembuat videonya:



Perth, 23 January 2025

Kastil Elmina – Saksi Sejarah Kelam Perbudakan

Di sela kerja yang sangat sibuk, ada sedikit kesempatan di akhir minggu bersama istri mengunjungi kota kecil Elmina, di sebelah barat daya kota Accra, Ghana – untuk sekedar berlibur. Perjalanan darat 3.5 jam dari kota Accra.

Screen Shot 2019-09-14 at 7.41.31 pm

Pertama, kami mengunjungi Kastil (istana) Elmina hari ini (14 September 2019).  Kastil ini didirikan oleh Portugis pada tahun 1482 sebagai pos perdagangan pertama didirikan di Teluk Guinea yang kemudian menjadi salah satu persinggahan utama jalur perdagangan perbudakan Atlantik (Atlantic Slave Trading). Belanda merebut kastil ini dari Portugis di tahun 1637. Perdagangan perbudakan terus berlangsung oleh Belanda hingga tahun 1814. Di tahun 1872, kastil di ambil alih oleh Inggris. Gold Coast, yang sekarang menjadi Ghana memperoleh kemerdekaan dari Inggris di tahun 1957. Kastil Elmina ditetapkan sebagai situs sejarah dunia oleh UNESCO. – disadur dari Wikipedia.

Kami berkenalan dengan pemandu kami, Kojo. Dia pasti lahir hari Senin. Kamipun memperkenalkan diri dengan nama lokal kami sesuai dengan hari lahir. Di Ghana, nama orang sering disesuaikan dengan nama hari kelahiran. Saya bisa dipanggil Kwame karena lahir pada hari Sabtu.

IMG_6233
Kwame dan Kojo

Ditemani Kojo, kami mulai berjalan memasuki satu lapangan luas di dalam kastil yang di kelilingi oleh bagunan dua lantai. Lantai bawah adalah tempat dimana para budak pria dan wanita disekap. Budak-budak ini tidak hanya dari Ghana, tetapi dari berbagai tempat di Afrika. Elmina adalah kastil persinggahan menunggu pengapalan ke Amerika yang dilakukan 3 bulan sekali saat kapal pengangkut kembali dari pelayaran. Jadi rata-rata para budak tinggal 3 bulan di kastil ini.

Sedangkan lantai 2  adalah tempat tinggal penguasa kastil yang setingkat gubernur dari bangsa Eropah, pengurus kastil, pedagang budak, misionari (ada tempat ibadah di dalam kastil), dan tentara (kastil ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dijaga oleh tentara),

IMG_6300
Kediaman Penguasa di Lantai 2 dan 3

Kami mengunjungi bangsal perempuan dulu. Ada sekitar 400 perempuan disekap di sini di 3 ruangan kosong yang pengap dengan lantai batu yang dingin. Ada perasaan keheningan yang aneh saat menelusuri ruangan kosong pengap ini, bahkan sebelum mendengar cerita dari Kojo.

Cerita Kojo mulai mengalir. Ruangan terbesar yang kami masuki memuat 150 orang yang sudah pasti harus tidur berdempetan di lantai. Tidak ada jamban, mereka harus menggunakan wadah kaleng untuk buang air di ruangan itu juga.

 

IMG_6239
Lorong masuk ruang sekap perempuan

 

Dia juga menunjukkan tempat tangga naik ke lantai 2, dimana para perempuan yang dipilih harus merayap naik dari lorong sempit dan memanjat tangga sempit (mungkin untuk alasan keamanan) sampai kediaman diatas untuk memuaskan nafsu para penguasa dan diturunkan lagi setelah selesai. Kojo menggunakan kata ‘rape’, diperkosa.

Juga mengenai bagaimana budak perempuan ini dihukum di lapangan terbuka dengan diikatkan dengan besi pemberat ditengah lapangan harus berjemur matahari dan kehujanan tanpa makan.

IMG_6232
Salah satu ruang sekap perempuan dengan lantai batu tanpa alas apapun

Ada satu ruang sekap yang dijadikan tempat ‘retret’ bagi pengunjung yang ingin merasakan derita leluhur mereka pada masa itu, dimana mereka menghabiskan satu malam tidur dalam ruang sekap ini dalam kondisi yang mirip pada masa perbudakan. Mereka memakai sarung dari karung (tepung?) dan rantai besi yang mengikat tangan dan kaki mereka.

Saya tanya kenapa ada seperti karangan bunga. Kojo menjelaskan, itu adalah karangan bunga yang ditaruh oleh pengunjung untuk memberi penghormatan pada leluhur mereka.

IMG_0137
Ruang sekap perempuan – ruang retret bagi mereka yang ingin mengenang derita leluhur mereka

Pada waktu pengapalan tiba, mereka digiring menuju lorong kecil yang pengap menuju kapal yang akan membawa mereka sebagai barang dagangan ke negara tujuan, yang sebagian besar dari mereka tidak pernah pulang kembali ke tanah kelahiran mereka sampai akhir hayat mereka.

IMG_6243

Ada satu ruangan kecil sebelum mereka harus berjalan menuju ke kapal. Ada banyak karangan bunga yang diletakkan di sini, yang dilakukan oleh para keturunan mereka yang datang kembali dari jauh seperti Amerika, untuk mengenang derita leluhur mereka ratusan tahun silam. Sebagian mereka melakukan ritual kecil bahkan menurut keyakinan lokal mereka sebelum agama misionaris mereka kenal.

IMG_0144

Ini pintu sempit terakhir sebelum mereka masuk ke kapal. Mereka namakan ini “Never Return Gate”, gerbang tak-akan-pernah kembali…

 

IMG_0146 (1)
Gerbang Tak-akan-pernah Kembali (Never Return Gate)

 

Banyak lagi kisah pilu yang kami dengar, tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan perlakuan tak berprikemanusiaan lainnya.

Sementara, di lantai 2, kehidupan mewah para penguasa. Ruangan besar, pemandangan ke laut dengan hembusan udara sejuk semilir.

Mengunjungi musium seperti ini bukanlah ‘liburan’ seperti yang dibayangkan dan bukanlah pengalaman yang nyaman. Nanum, ada dorongan untuk melihat langsung saksi sejarah bagaimana di satu masa dalam perjalanan manusia, ada sekelompok manusia memperlakukan kelompok manusia yang lain dengan sedemikian tidak beradabnya.  Dan sedihnya, sejarah terus berulang hingga kini, dan kita tidak pernah belajar.

Saya tanyakan kepada Kojo bagaimana perasaan dia. Dia cenderung mengganggap semuanya sudah berlalu. Bagi saya, dengan derita yang leluhur mereka alami, mereka sangat berbesar hati menerima semua ini. Saya juga menambahkan bahwa hikmah dari semua ini adalah sekarang orang Afrika sudah menyebar keseluruh dunia. Tapi saya tidak yakin kalau ini sepadan dengan derita yang mereka alami.

Namun saya dapat merasakan ada sikap skeptis saat dia menghubungkan misi misonaris pada masa perbudakan dengan derita yang mereka alami akibat perbudakan.

Dilantai 2, satu ayat tentang indahnya kediaman surgawi terpajang diatas pintu ruang ibadah. Ato Ashun, penulis buku Elmina, Kastil dan Perdagangan Perbudakan menulis dalam bukunya (hal. 56): “Ironisnya, tepat dibawah ruang ibadah adalah ruang sekap budak perempuan”.

Saya yang tidak punya hubungan emosi dengan mereka hanya bisa membayangkan kulit luar dari penderitaan mereka. Sulit dibayangkan derita dan ketidak-berdayaan yang mereka alami pada saat itu.

Batin manusia punya kemampuan untuk bertransformasi dan merasionalkan derita dan melepas (letting go) pada saat menghadapi derita yang dalam, baik lewat pembenaran religius maupun pencerahan batin. Mereka biasanya menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa itu, penderitaan itu akan menjadi tak terperi…

IMG_9641

Saya melihat masyarakat Ghana sangat religius, sekitar 70% kristen dan 30% muslim, tempat ibadah dimana-mana, sangat banyak para pengkotbah populer. Saya dibagikan buku kegiatan ibadah mereka oleh teman kantor. Namun saya juga dengan mudah menemukan beberapa teman Afrika yang ‘free thinker’.

Kebebasan beragama dijamin dengan baik. Salah satu teman kantor orang Afrika malah penganut Nichiren Shoshu yang katanya Buddhisme Jepang. Saya pernah berkunjung ke tempat ibadahnya. Saya cukup heran karena pengikutnya cukup banyak dan sudah berdiri 40 tahun yang lalu. Pendetanya dari Jepang. Baru-baru ini teman saya tadi memberitahu sekarang ada pendetanya yang dari Indonesia ditugaskan di Ghana ini.

Saat berjalam keluar gerbang, ada satu plakat di dinding berisi doa dan renungan:

Terpatri dalam ingatan selamanya

akan nestapa leluhur kami

semoga mereka yang meninggal, beristirahat dalam damai

semoga mereka yang kembali, menemukan akar mereka

semoga manusia tidak pernah lagi melakukan ketidak-adilan yang sedemikian terhadap kemanusiaan

kami, adalah janji yang akan tetap hidup untuk memperjuangkan ini

Elmina Castle, Ghana

IMG_6261

 

 

IMG_6249
menatap ‘never return gate – gerbang tak-pernah kembali’

 

IMG_6241
Ruang sekap lelaki

 

IMG_6245

 

IMG_6262
Dinding ruang kumuh dengan banyak kelelawar diatasnya

 

 

IMG_0183
Kastil Elmina di waktu senja

 

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi? – Why Religious Tolerance?

nalandians-commemorate-ven-k-sri-dhammananda.jpg

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?

Telah 25 tahun berlalu sejak saya menterjemahkan buku kecil “Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?” ditulis oleh Bhante Dr. Sri K Dhammananda. Waktu itu sekitar bulan Juni tahun 1993, di tahun kedua saya bekerja sebagai pekerja tambang di masa awal tambang Kaltim Prima Coal (KPC) di Sangatta, Kalimantan Timur.

Saya menerjemahkan buku ini untuk pelimpahan jasa kepada adik saya yang meninggal dunia pada tahun 1993 dan ayah saya yang meninggal di tahun 1994. Ini merupakan salah satu cara seorang Buddhis ‘berdoa’, dengan melakukan perbuatan yang dianggap baik dan menyalurkan jasa perbuatannya untuk orang yang dicintai dan untuk semua mahluk.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda adalah seorang bhikkhu yang sangat dihormati sekaligus seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari Sri Lanka yang kemudian menetap di Malaysia hingga akhir hayatnya. Saya sangat beruntung mendapat restu dari beliau untuk bisa menerjemahkan dan menerbitkan tulisannya ini di Indonesia secara cuma-cuma. Terjemahan ini kemudian diterbitkan oleh satu yayasan Buddhis di Yogyakarta pada tahun 1994 (?).

Waktu itu, saya mencoba menerjemahkan buku kecil ini dengan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat terbatas. Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman saya yang Buddhis, Kristiani dan Muslim yang banyak membantu memeriksa dan mengedit terjemahan buku ini. Mereka adalah Marie Tungka, Johnny Yala, Jhonny Kaslan Lingga dan Irwan Priatna, yang nama-namanya saya cantumkan didalam  pengantar penerjemah. Inilah barangkali cerminan semangat toleransi kami pada masa itu.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda menulis buku kecil ini hampir 45 tahun lalu, memaparkan pandangan Buddhis tentang toleransi beragama dengan sangat lugas dan dalam, namun mudah dipahami. Permasalahan yang dibahas terasa semakin relevan dengan dunia saat ini, khususnya bagi masyarakat dengan keragaman ras dan agama di banyak negara.

Membaca kembali buku kecil ini, setelah sekian tahun berlalu tetap memberi rasa kagum dan hormat yang dalam akan kearifan dan kewelas-asihan penulisnya; dan akan keluhuran Ajaran Buddha yang telah menginspirasi dan mencerahkan banyak insan dalam perjalanan waktunya yang lebih dari 2500 tahun.

Seorang Buddhis harus toleran terhadap ajaran agama lain, dan pada saat yang sama bisa bebas mengungkapkan pandangannya tentang ajaran tersebut tanpa menyimpan kebencian atau prasangka buruk. Toleransi yang benar tidak hanya semata toleran terhadap ajaran lain tapi juga dapat menahan diri ketika yang lain mencoba menyakiti dengan mengecam keyakinan kita. Sang Buddha menasehati pengikutnya: “Jika kamu marah ketika orang lain mengecam keyakinanmu, kamu bukanlah pengikutKu.”

Di dalam naskah Buddhis ada banyak kasih tak-berbatas, kebaikan dan toleransi dibabarkan. Sang Buddha menyarankan pengikutnya untuk menerima dan menghormati kebenaran dimana saja mereka temui, artinya mereka tidak perlu menolak ajaran kebaikan dari agama lain. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk memonopoli kebenaran religius.

Pada saat yang sama, Sang Buddha tidak meminta pengikutnya meyakini sesuatu tanpa pemahaman yang benar. Sang Buddha menganjurkan, “ Jangan percaya suatu tradisi hanya karena telah diwariskan oleh banyak generasi dan di banyak tempat; jangan percaya sesuatu karena banyak didengungkan dan dibicarakan oleh banyak orang; jangan percaya kerena pernyatan tertulis dari orang-orang bijak diperlihatkan; jangan percaya pada apa yang telah kamu bayangkan dan berpikir sebagai sesuatu yang luar biasa maka ini pasti diciptakan oleh sesuatu kekuatan supernatural. Setelah mengamati dan meneliti dengan seksama, jika sesuatu itu masuk akal dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua orang, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengannya.”

“Orang yang berperang dan menumpahkan darah atas nama agama, mereka tidak mengabdi pada agamanya. Mereka berjuang untuk keuntungan atau kekuasaan pribadi mereka sendiri. Mereka yang benar-benar mengamalkan suatu agama tidak memiliki alasan untuk berperang. Agama sejati tidak pernah mendorong segala bentuk kekerasan.”

“Apakah itu debu biasa atau debu emas, keduanya menyebabkan masalah pada mata. Dengan cara yang sama, apakah orang mengumandangkan perang atas nama agama atau karena alasan lain, keduanya membawa kesengsaraan bagi umat manusia.”

“Jika umat Buddha mempraktikkan “cinta kasih” yang sejati seperti yang diajarkan oleh Buddha, jika umat Islam mengikuti “persaudaraan” yang nyata seperti yang diajarkan dalam agama mereka, jika orang Kristen mempraktikkan ajaran “cintai sesamamu” dan jika umat Hindu mempraktekkan “kesatuan” umat manusia, di sana tidak ada alasan untuk mengalami segala macam bentrokan, bencana, gangguan, dan perang di dunia ini.”

“Menurut agama kita masing-masing, kita memiliki keyakinan yang berbeda tentang kehidupan kita dan akhirat. Tetapi kita tidak menyadari bahwa kita semua sama dalam setiap aspek kehidupan kita. Kita sama dalam kelahiran kita, dalam penyakit kita, dalam kekhawatiran dan kesengsaraan kita, dalam bencana dan kesalahpahaman kita, dalam kecemburuan, kebencian dan keserakahan kita; kita sama dalam usia tua kita, dalam ketidakpuasan hidup kita dan akhirnya, kita sama dalam kematian.”

“Semoga kegelapan  dari ketidak-tahuan yang  menguasai  pikiran manusia  terusir dan semoga menusia dapat menemukan kebenaran sejati melalui ajaran yang rasional  agar memperoleh keharmonisan beragama, kedamaian, kebahagiaan untuk seluruh umat  manusia. Semoga mereka memupuk toleransi beragama  yang sejati untuk membasmi  rasa takut, rasa curiga dan  rasa tidak aman dalam  pikiran manusia, dengan secara tulus menganut agama mereka masing-masing.”    

Bhikkhu Dr. K. Sri Dhammananda 

Bagi yang tertarik untuk membaca buku kecil ini secara lengkap, silakan unduh di tautan dibawah ini, yang saya scan dari draft pertama yang saya punya (1993). Ada kemungkinan final draft yang diterbitkan (1994) telah mengalami editing lanjutan untuk penyempurnaan.   Tulisan asli berbahasa Inggris juga dapat diunduh dibagian bawah.

Semoga buku kecil ini bermanfaat bagi banyak orang. Semoga semua berbahagia…

Versi terjemahan Bahasa Indonesia: Mengapa Umat Beragama Bertoleransi

Perth, 23 Juni 2018

Why Religious Tolerance?

It has been 25 years ago since I translated the booklet “Why Religious Tolerance” of Venerable Dr. Sri K Dhammananda. It was this time in 1993 during my second year as a fresh graduate mining engineer working at the early time of Sangatta Kaltim Prima Coal (KPC) Mine in East Kalimantan.

I did the translation for a merit dedication to my late young brother, passed away in 1993 and my father in 1994. It’s the Buddhist way to ‘pray’ by doing an action considered a  wholesome deed and dedicate the merit to the loved one.

Ven. Dr. Sri K Dhammananda was a highly regarded and respected Buddhist monk and scholar. He was from Sri Lanka but later lived in Malaysia. I was very fortunate receiving his permission to translate his book into Indonesia and to publish it for free distribution.

On those days, I had a very limited English. I received great help from some of my Buddhist, Christian, and Muslim friends in editing and proofreading the translation. I acknowledged them in the translation booklet. This was probably a reflection of our true religious tolerance at that time.

The booklet was written more than 45 years ago. Yet, the religious tolerance issue is even becoming more and more relevant to this day society especially to the multi-racial and multi-religious community in many countries.

Rereading it after these many years, I admire the wisdom and compassion of the author and feel enormous gratitude toward the Buddha Teaching which is inspiring and enlightening millions of hearts through the time more than 2500 years.

Buddhists do tolerate other religious practices, and yet at the same time, they can express their views freely regarding those practices and beliefs without harbouring hatred or prejudices. According to the Buddha, real religious tolerance is not a mere tolerance of other religious beliefs but the tolerance that we have to bear when others try to irritate us by condemning our religion. The Buddha advised his followers: “If you become angry when others condemn your religion you are no followers of Mine.”

In the Buddhist scriptures so much boundless love and kindness is mentioned and so much tolerance is preached. The Buddha has advised his followers to accept and to respect the truth wherever they find it. This means that we need not ignore the reasonable teachings of other religions. This clearly shows that the Buddha never had any jealous attitude toward other religions, nor did he try to monopolise religious truth.

At the same time, the Buddha did not encourage his followers to have mere faith in anything without proper understanding. The Buddha advised, “Do not believe in traditions merely because they have been handed down for many generations and in many places; do not believe in anything because it is rumoured and spoken of by many; do not believe because the written statement of some old sage is produced; do not believe in what you have fancied, thinking that because it is extraordinary it must have been implanted by a supernatural being. After observation and analysis, when it agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”

“People who fight and shed blood in the name of religion, do not serve their religion. They fight for their own personal gain or power. Those who truly practise a religion have no grounds to fight. A real religion never encourages any form of violence.”

Either ordinary dust or gold dust, or both can cause trouble in the eyes. In the same way whether people declare war in the name of religion or for any other reason both bring about miseries amongst the people. 

“If Buddhists practise real “loving-kindness” as taught by the Buddha, if Muslims follow real “brotherhood” as taught in their religion, if Christians practise the teaching of “love thy neighbour” and if Hindus practise “oneness” of mankind, there would be no reason to have all sorts of clashes, calamities, disburbances, and wars in this world.”

“According to our respective religions, we have different beliefs regarding our life and the here-after. But we have not realized that we are all common in every aspect of our life. We are common in our birth, in our sickness, in our worries and miseries, in our calamities and misunderstandings, in our jealousy, hatred and greed; we are common in our old age, in our unsatisfactoriness of life and finally, we are common in death.”

“May the darkness of ignorance which prevails in the man’s mind be dispelled from his mind and may he find real truth through a rational religion to gain religious harmony, peace, happiness for the well being of mankind. May they cultivate real religious tolerance to eradicate fear, suspicion and insecurity from the man’s mind, by sincerely following their respective religions.”

Ven. Dr. K. Sri Dhammananda 

If you are interested reading the booklet, here is the original English version:

https://www.dhammatalks.net/Books6/Bhante_Dhammananda_Why_Religious_Tolerance.pdf

May you be happy…
Perth, 23 June 2018