Peh Cun di Kampung Kecil

Beberapa waktu lalu, saya pulang kampung untuk beberapa hari dengan niat mengumpulkan sebisanya cerita-cerita kampung kecil saya – Kampung Lumut, Belinyu, Pulau Bangka. Cerita-cerita ini mungkin sudah asing bagi sebagian masyarakat kampung sendiri terutama mereka yang muda-muda. Selain sebagai catatan pribadi dan cara saya mengenang kampung tempat saya menjalani masa kanak-kanak dan remaja, catatan-catatan ini juga sebagai pertinggal bagi masyarakat kampung. Syukur-syukur ini menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dan menginspirasi.

Dengan bantuan sahabat-sahabat kecil saya dan teman kru videographer dari Mentok, kami melakukan serangkaian kunjungan ke tempat yang dulu menjadi ikon kampung, berkumpul dan ngobrol dengan anak muda di Kelenteng, menginjungi SD saya, berbincang dengan guru-guru dan murid-murid, dan ngobrol santai dengan tetua kampung yang sekarang sudah berumur di atas 80 tahun bahkan 98 tahun – mendengarkan cerita beliau-beliau tentang kehidupan kampung dari masa ke masa dan harapan-harapan mereka.

Hampir semua obrolan kami dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu, Bahasa Khek Bangka – sehingga semua cerita bisa mengalir dengan santai. Akibatnya, saya perlu menerjemahkan percakapan ini ke Bahasa Indonesia untuk subtitle. Semoga saya bisa merampungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hari ini adalah hari perayaan Peh Cun – di kampung saya kami menyebutnya Ng Nyiet Chiet, bulan 5 tanggal 5 penanggalan Imlek dengan tradisi kuliner bakcang (penganan ketan yang diisi dengan daging atau udang, dan dibungkus dengan daun pandan). Di banyak negara, perayaan ini dikenal dengan boat festival.

Perayaan ini secara tradisi merayakan nilai-nilai kejujuran dan kesetiaan kepada negara – yang dalam kontek sejarah mengenang jasa dan pengorbanan seorang Qu Yuan yang mengorbankan diri demi nilai-nilai tersebut.

Di masa kami kecil, Peh Cun dirayakan dengan piknik ke Jembatan Peringping (Chong Khiau – jembatan panjang) tak jauh dari kampung. Waktu itu masih jembatan lama yang sempit. Kami menikmati pemandangan jembatan, sungai dan gunung sambil bersantap bakcang. Sebagian orang memancing dari atas jembatan.

Bersama dua sahabat kecil saya, Tham Kian Kwet dan Jong Kiu Su, kami bercerita mengenang masa-masa 40 – 45 tahun lalu tentang bagaimana suasana dan kegembiraan kami piknik di atas jembatan lama ini.


Perth, 31 May 2025

Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

Mesjid Raya Hassan II مسجد الحسن الثاني Casablanca, Morocco

Saat liburan akhir tahun ke Morocco bersama keluarga, kami mengunjungi mesjid terbesar di Afrika yang juga merupakan mesjid ke-3 terbesar di dunia, Mesjid Raya Hassan II di Kota Casablanca. Mesjid ini bisa menampung 105,000 orang (25,000 didalam mesjid and 80,000 orang di lapangan mesjid), memiliki menara setinggi 210 meter dengan 60 lantai yang merupakan menara mesjid tertinggi ke-2 di dunia. Di atas menara terdapat satu titik laser yang cahayanya diarahkan ke kota Mekkah.

IMG_0061

Mesjid Raya Hassan II terletak di pinggir pantai di atas daratan yang menjorok ke Samudra Atlantik dan menempati kawasan seluas 9 hektar. Mesjid dibangun separuh di daratan and separuh lagi di atas laut Samudara Atlantik yang membutuhkan rancangan dan konstruksi khusus. Pembangunannya dilakukan pada masa Raja Hassan II, memakan waktu 7 tahun dari 1986 hingga 1993 menelan biaya pembangunan sekitar 585 juta Euro (sekitar Rp.9,4 Triliun) yang sebagian besar dananya dari donasi 12 juta orang. Mesjid dirancang oleh  seorang arsitek Prancis, Michel Pinseau yang tinggal di Morocco.

Lapangan yang luas berlantaikan batuan marmer dan granit memberi kesan lapang dan terbuka. Dikelilingi oleh bangunan fungsional dan arsitektur lainnya, bangunan mesjid yang megah berukuran 200 meter kali 100 meter, dengan keindahan seni arsitektur, mosaik dan pernik-pernik bangunan yang mereflesikan kekayaan seni budaya Islam di Morocco.

IMG_8321

Mesjid Raya Hassan II menjadi tempat menarik bagi turis, dan juga bagi masyarakat setempat. Banyak terlihat keluarga keluarga yang duduk santai di lapangan di depan mesjud yang berunduk (berteras), duduk di lantai batu marmer dan granit, memandang pilar-pilar artistik dan bangunan mesjid yang megah berdinding mosaik indah, terlebih diterpa matahari senja yang kuning keemasan. Udara musim dingin mengharuskan semua orang memakai baju penghangat. 

Meski banyak orang berkunjung, suasana tetap cukup hening, karena orang lebih banyak diam menikmati suasana. Dan lagi pula, di halaman yang luas terbuka suara tidak mengema memberi kesan hening. Kebanyakan orang duduk di lantai, terlihat anak-anak berlarian kesana kemari.

IMG_6068

Saya suka suasana hening seperti ini, senang melihat orang menikmati senja dengan berbagai cara tanpa mengganggu orang lain. Suasana hening membawa rasa damai. Matahari mulai tenggelam diufuk barat. Cahaya yang senja menerpa permukaan bangunan mesjid memberi pantulan yang semula kuning keemasan menjadi merah muda…

IMG_0115
diterpa mentari senja, Mesjid Raya Hassan II memantulkan warna merah muda

Ketika kami hendak berjalan pulang, sekelompok anak remaja melintasi lapangan mesjid yang lapang, salah satu dari mereka menyapa ramah ‘ni hao‘, yang artinya apa kabar. Dikiranya kami adalah turis dari China. Di beberapa kesempatan sewaktu naik taksi, kami bilang kami dari Indonesia, mereka langsung bilang ‘Jakarta’, mereka tahu karena negara yang mayoritas muslim. Di kesempatan lain, seorang satpam penjaga mesjid menghampiri dan dengan ramah mengingatkan khawatir kami jatuh ketika duduk di teras yang dibelakangnya kosong dan di ketinggian.

Senja mulai tenggelam, malam menjelang, udara semakin dingin, kami berjalan pulang ke tempat penginapan yang berjarak sekitar 3.5 km, sambil menelusuri jalan-jalan kota Casablanca yang ramai dan sedikit tua. Meski suasanaya tidak begitu rapih, disini kami merasa aman berjalan kaki menelusuri pasar, ruko,  dan kadang melewati ruas jalan yang relatif sepi untuk pertama kalinya.

IMG_0106

Dari banyak kekhasan masyarakat di sini, salah satunya adalah banyaknya orang duduk santai di toko kopi sambil ngobrol dengan teman mereka atau sendirian dengan secangkir kecil kopi hitam kental (espresso). Saya beberapa kali mencoba kopinya, dan saya suka sekali.

Kami sempat mampir menikmati jajanan pasar di pinggir jalan, sambil mengobrol dengan satu ibu yang membantu menjelaskan jenis dan harga jajanan. Kami juga membeli makan malam di salah satu warung makanan lokal. Dengan uang sekitar Rp150 ribu, kami membawa pulang dua kantong plastik besar roti, nasi kuning, kebab, ayam panggang berbumbu lokal. Makan malam yang lebih dari cukup untuk kami bertiga.

25 Desember 2019, Casablanca, Morocco

Berikut adalah gambar-gambar lain yang diambil menggunakan kamera handphone biasa akan suasana pada saat itu.

 

Kastil Elmina – Saksi Sejarah Kelam Perbudakan

Di sela kerja yang sangat sibuk, ada sedikit kesempatan di akhir minggu bersama istri mengunjungi kota kecil Elmina, di sebelah barat daya kota Accra, Ghana – untuk sekedar berlibur. Perjalanan darat 3.5 jam dari kota Accra.

Screen Shot 2019-09-14 at 7.41.31 pm

Pertama, kami mengunjungi Kastil (istana) Elmina hari ini (14 September 2019).  Kastil ini didirikan oleh Portugis pada tahun 1482 sebagai pos perdagangan pertama didirikan di Teluk Guinea yang kemudian menjadi salah satu persinggahan utama jalur perdagangan perbudakan Atlantik (Atlantic Slave Trading). Belanda merebut kastil ini dari Portugis di tahun 1637. Perdagangan perbudakan terus berlangsung oleh Belanda hingga tahun 1814. Di tahun 1872, kastil di ambil alih oleh Inggris. Gold Coast, yang sekarang menjadi Ghana memperoleh kemerdekaan dari Inggris di tahun 1957. Kastil Elmina ditetapkan sebagai situs sejarah dunia oleh UNESCO. – disadur dari Wikipedia.

Kami berkenalan dengan pemandu kami, Kojo. Dia pasti lahir hari Senin. Kamipun memperkenalkan diri dengan nama lokal kami sesuai dengan hari lahir. Di Ghana, nama orang sering disesuaikan dengan nama hari kelahiran. Saya bisa dipanggil Kwame karena lahir pada hari Sabtu.

IMG_6233
Kwame dan Kojo

Ditemani Kojo, kami mulai berjalan memasuki satu lapangan luas di dalam kastil yang di kelilingi oleh bagunan dua lantai. Lantai bawah adalah tempat dimana para budak pria dan wanita disekap. Budak-budak ini tidak hanya dari Ghana, tetapi dari berbagai tempat di Afrika. Elmina adalah kastil persinggahan menunggu pengapalan ke Amerika yang dilakukan 3 bulan sekali saat kapal pengangkut kembali dari pelayaran. Jadi rata-rata para budak tinggal 3 bulan di kastil ini.

Sedangkan lantai 2  adalah tempat tinggal penguasa kastil yang setingkat gubernur dari bangsa Eropah, pengurus kastil, pedagang budak, misionari (ada tempat ibadah di dalam kastil), dan tentara (kastil ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dijaga oleh tentara),

IMG_6300
Kediaman Penguasa di Lantai 2 dan 3

Kami mengunjungi bangsal perempuan dulu. Ada sekitar 400 perempuan disekap di sini di 3 ruangan kosong yang pengap dengan lantai batu yang dingin. Ada perasaan keheningan yang aneh saat menelusuri ruangan kosong pengap ini, bahkan sebelum mendengar cerita dari Kojo.

Cerita Kojo mulai mengalir. Ruangan terbesar yang kami masuki memuat 150 orang yang sudah pasti harus tidur berdempetan di lantai. Tidak ada jamban, mereka harus menggunakan wadah kaleng untuk buang air di ruangan itu juga.

 

IMG_6239
Lorong masuk ruang sekap perempuan

 

Dia juga menunjukkan tempat tangga naik ke lantai 2, dimana para perempuan yang dipilih harus merayap naik dari lorong sempit dan memanjat tangga sempit (mungkin untuk alasan keamanan) sampai kediaman diatas untuk memuaskan nafsu para penguasa dan diturunkan lagi setelah selesai. Kojo menggunakan kata ‘rape’, diperkosa.

Juga mengenai bagaimana budak perempuan ini dihukum di lapangan terbuka dengan diikatkan dengan besi pemberat ditengah lapangan harus berjemur matahari dan kehujanan tanpa makan.

IMG_6232
Salah satu ruang sekap perempuan dengan lantai batu tanpa alas apapun

Ada satu ruang sekap yang dijadikan tempat ‘retret’ bagi pengunjung yang ingin merasakan derita leluhur mereka pada masa itu, dimana mereka menghabiskan satu malam tidur dalam ruang sekap ini dalam kondisi yang mirip pada masa perbudakan. Mereka memakai sarung dari karung (tepung?) dan rantai besi yang mengikat tangan dan kaki mereka.

Saya tanya kenapa ada seperti karangan bunga. Kojo menjelaskan, itu adalah karangan bunga yang ditaruh oleh pengunjung untuk memberi penghormatan pada leluhur mereka.

IMG_0137
Ruang sekap perempuan – ruang retret bagi mereka yang ingin mengenang derita leluhur mereka

Pada waktu pengapalan tiba, mereka digiring menuju lorong kecil yang pengap menuju kapal yang akan membawa mereka sebagai barang dagangan ke negara tujuan, yang sebagian besar dari mereka tidak pernah pulang kembali ke tanah kelahiran mereka sampai akhir hayat mereka.

IMG_6243

Ada satu ruangan kecil sebelum mereka harus berjalan menuju ke kapal. Ada banyak karangan bunga yang diletakkan di sini, yang dilakukan oleh para keturunan mereka yang datang kembali dari jauh seperti Amerika, untuk mengenang derita leluhur mereka ratusan tahun silam. Sebagian mereka melakukan ritual kecil bahkan menurut keyakinan lokal mereka sebelum agama misionaris mereka kenal.

IMG_0144

Ini pintu sempit terakhir sebelum mereka masuk ke kapal. Mereka namakan ini “Never Return Gate”, gerbang tak-akan-pernah kembali…

 

IMG_0146 (1)
Gerbang Tak-akan-pernah Kembali (Never Return Gate)

 

Banyak lagi kisah pilu yang kami dengar, tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan perlakuan tak berprikemanusiaan lainnya.

Sementara, di lantai 2, kehidupan mewah para penguasa. Ruangan besar, pemandangan ke laut dengan hembusan udara sejuk semilir.

Mengunjungi musium seperti ini bukanlah ‘liburan’ seperti yang dibayangkan dan bukanlah pengalaman yang nyaman. Nanum, ada dorongan untuk melihat langsung saksi sejarah bagaimana di satu masa dalam perjalanan manusia, ada sekelompok manusia memperlakukan kelompok manusia yang lain dengan sedemikian tidak beradabnya.  Dan sedihnya, sejarah terus berulang hingga kini, dan kita tidak pernah belajar.

Saya tanyakan kepada Kojo bagaimana perasaan dia. Dia cenderung mengganggap semuanya sudah berlalu. Bagi saya, dengan derita yang leluhur mereka alami, mereka sangat berbesar hati menerima semua ini. Saya juga menambahkan bahwa hikmah dari semua ini adalah sekarang orang Afrika sudah menyebar keseluruh dunia. Tapi saya tidak yakin kalau ini sepadan dengan derita yang mereka alami.

Namun saya dapat merasakan ada sikap skeptis saat dia menghubungkan misi misonaris pada masa perbudakan dengan derita yang mereka alami akibat perbudakan.

Dilantai 2, satu ayat tentang indahnya kediaman surgawi terpajang diatas pintu ruang ibadah. Ato Ashun, penulis buku Elmina, Kastil dan Perdagangan Perbudakan menulis dalam bukunya (hal. 56): “Ironisnya, tepat dibawah ruang ibadah adalah ruang sekap budak perempuan”.

Saya yang tidak punya hubungan emosi dengan mereka hanya bisa membayangkan kulit luar dari penderitaan mereka. Sulit dibayangkan derita dan ketidak-berdayaan yang mereka alami pada saat itu.

Batin manusia punya kemampuan untuk bertransformasi dan merasionalkan derita dan melepas (letting go) pada saat menghadapi derita yang dalam, baik lewat pembenaran religius maupun pencerahan batin. Mereka biasanya menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa itu, penderitaan itu akan menjadi tak terperi…

IMG_9641

Saya melihat masyarakat Ghana sangat religius, sekitar 70% kristen dan 30% muslim, tempat ibadah dimana-mana, sangat banyak para pengkotbah populer. Saya dibagikan buku kegiatan ibadah mereka oleh teman kantor. Namun saya juga dengan mudah menemukan beberapa teman Afrika yang ‘free thinker’.

Kebebasan beragama dijamin dengan baik. Salah satu teman kantor orang Afrika malah penganut Nichiren Shoshu yang katanya Buddhisme Jepang. Saya pernah berkunjung ke tempat ibadahnya. Saya cukup heran karena pengikutnya cukup banyak dan sudah berdiri 40 tahun yang lalu. Pendetanya dari Jepang. Baru-baru ini teman saya tadi memberitahu sekarang ada pendetanya yang dari Indonesia ditugaskan di Ghana ini.

Saat berjalam keluar gerbang, ada satu plakat di dinding berisi doa dan renungan:

Terpatri dalam ingatan selamanya

akan nestapa leluhur kami

semoga mereka yang meninggal, beristirahat dalam damai

semoga mereka yang kembali, menemukan akar mereka

semoga manusia tidak pernah lagi melakukan ketidak-adilan yang sedemikian terhadap kemanusiaan

kami, adalah janji yang akan tetap hidup untuk memperjuangkan ini

Elmina Castle, Ghana

IMG_6261

 

 

IMG_6249
menatap ‘never return gate – gerbang tak-pernah kembali’

 

IMG_6241
Ruang sekap lelaki

 

IMG_6245

 

IMG_6262
Dinding ruang kumuh dengan banyak kelelawar diatasnya

 

 

IMG_0183
Kastil Elmina di waktu senja