Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

One thought on “Kenangan Imlek Seorang Perantau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s