Menyerap Dhamma

Ketika Anda mendengarkan Dhamma, anda harus membuka hati dan menempatkan diri di tengah. Jangan mencoba menghimpun apa yang anda dengar atau berusaha keras untuk menyimpan apa yang anda dengar melalui ingatan. Biarkan saja Dhamma mengalir ke dalam hati anda saat ianya muncul, dan biarkan diri anda terus terbuka terhadap arus dalam momen saat ini. Apa yang siap disimpan akan terjadi, dan itu akan terjadi dengan sendirinya, bukan melalui usaha keras dari sisi anda.

Demikian pula ketika anda membabarkan Dhamma, anda tidak boleh memaksakan diri. Itu harus terjadi dengan sendirinya dan harus mengalir secara spontan dari saat dan keadaan sekarang. Setiap orang memiliki tingkat kemampuan menerima yang berbeda, dan ketika anda berada di sana pada tingkat yang sama, itu terjadi begitu saja, Dhamma itu mengalir. Sang Buddha memiliki kemampuan untuk mengetahui perangai dan kemampuan menerima seseorang. Beliau menggunakan metode pengajaran spontan yang sama. Bukan karena dia memiliki kekuatan diluar manusia biasa untuk mengajar, melainkan karena dia peka terhadap kebutuhan spiritual orang-orang yang datang kepadanya, jadi dia mengajar mereka sesuai dengan itu.

(Ajahn Chah)

— 0 —

ENGLISH

When you listen to the Dhamma you must open up your heart and compose yourself in the center. Don’t try to accumulate what you hear or make a painstaking effort to retain what you hear through memory. Just let the Dhamma flow into your heart as it reveals itself, and keep yourself continuously open to its flow in the present moment. What is ready to be retained will be so, and it will happen of its own accord, not through any determined effort on your part.

Similarly when you expound the Dhamma, you must not force yourself. It should happen on its own and should flow spontaneously from the present moment and circumstances. People have different levels of receptive ability, and when you’re there at that same level, it just happens, the Dhamma flows. The Buddha had the ability to know people’s temperaments and receptive abilities.He used this very same method of spontaneous teaching. It’s not that he possessed any special superhuman power to teach, but rather that he was sensitive to the spiritual needs of the people who came to him, and so he taught them accordingly.

(Ajahn Chah)

Penyadaran pada Obyek

Saat berlatih meditasi, kita mengambil obyek, seperti pernapasan masuk dan keluar, sebagai landasan kita. Ini menjadi fokus perhatian dan perenungan kita.

Kita memperhatikan pernapasan. Memperhatikan pernapasan berarti mengikuti pernapasan dengan kesadaran, mencatat alunannya, masuk dan keluarnya. Kita meletakkan kesadaran pada pernapasan, mengikuti napas masuk dan keluar secara alami dan melepaskan semua yang lainnya.

Sebagai hasil dari menetap pada satu objek kesadaran, pikiran kita menjadi jernih. Jika kita membiarkan pikiran memikirkan ini, itu dan lainnya, ada banyak obyek kesadaran; pikiran tidak bersatu, tidak beristirahat.

Kumpulan Ajaran Ajahn Chah, 
Aruna Publications, 2011.

Kerap Kali Direnungkan

Dalam ajaran yang saya yakini, ada anjuran perenungan terhadap ketidak-kekalan. Entah kenapa saya cukup menyukainya dan sering merenungkannya dulu sebagai pengantar meditasi. Saya hanya merasa perenungan ini membawa kita kembali pada kenyataan yang lebih membumi dan hakiki – dan membawa ketenangan yang mengheningkan. Mungkin karena itu, dianjurkan untuk kerap kali direnungkan – bhinhapaccavekkhana.

Aku akan menderita usia tua, aku belum mengatasi usia tua.
Aku akan menderita sakit, aku belum mengatasi penyakit.
Aku akan menderita kematian, aku belum mengatasi kematian.
Segala milikku yang kucintai dan kusenangi akan berubah, akan terpisah dariku.

Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri
Pewaris perbuatanku sendiri
Lahir dari perbuatanku sendiri
Berhubungan dengan perbuatanku sendiri
Terlindung oleh perbuatanku sendiri
Apapun perbuatan yang kuperbuat
Baik atau buruk
Itulah yang akan kuwarisi.
Hendaklah ini kerap kali direnungkan.

Saya menemukan satu tulisan kecil tentang makna perenungan ini oleh Ajahn Sundara, seorang biarawati buddhis berkebangsaan Prancis, yang saya rasa cukup mendalam. Berikut adalah terjemahannya.

—0—

Aku akan menderita usia tua, aku belum mengatasi usia tua.
Aku akan menderita sakit, aku belum mengatasi penyakit.
Aku akan menderita kematian, aku belum mengatasi kematian.

Perenungan ini membantu kita mendinginkan pikiran dan membawanya ke tingkat di mana kita berhadap-hadapan kenyataan alih-alih dunia khayalan. Inilah yang membawa saya pada dharma (ajaran kebenaran): keinginan untuk menghadapi tiga kenyataan dari keberadaan, khususnya kematian, kesadaran bahwa kematian dapat terjadi kapan saja.

Inilah keseluruhan aspek dari suatu latihan yang berkaitan dengan perenungan sederhana seperti itu – merenungkan ketidak kekalan hidup, ketidakpastian keberadaan kita. Perenungan bahwa kita sehat sekarang tetapi suatu hari kita mungkin sakit; suatu hari kita mungkin tidak lagi memiliki semua keistimewa yang kita miliki saat ini, keistimewa memperoleh kesehatan yang baik, tubuh yang kuat, dan kekuatan dan kejernihan pikiran.

Saat kita tidak merenungkan dengan cara ini, kita kemungkinan besar akan terperangkap dalam khayalan masa depan dan dalam merencanakan masa depan, dalam mengatur hidup kita, dalam khawatir atau bersemangat tentang apa yang bisa terjadi, atau menjadi depresi. Pikiran menciptakan berbagai macam perasaan dan suasana hati ketika lupa bahwa hidup kita bisa berakhir kapan saja. Sebaliknya, perenungan ini, ingatan kita tentang penuaan, penyakit dan kematian ini dapat membantu kita untuk menghargai hidup kita dengan lebih positif.

— Ajahn Sundara, The Body

— 0 —

I am of the nature to age; I have not gone beyond ageing.
I am of the nature to sicken; I have not gone beyond sickness.
I am of the nature to die; I have not gone beyond dying.

This reflection helps us cool down the mind and bring it to a level where we face facts rather than a world of fantasy. This is what brought me to the dhamma: wanting to face those three facts of existence, and death in particular, the awareness that death can happen at any time.

There is a whole aspect of the practice which has to do with simple reflections like that – reflecting on the transience of life, on the uncertainty of our existence. Reflecting that we are fit now but one day we may be sick; one day we might no longer have all the privileges we have at present, the privileges of good health, strength in the body and strength and clarity of mind.

When we do not reflect in this way we are likely to be caught up in the illusion of the future and in planning for that future, organizing our life, worrying or getting excited about what could happen, or becoming depressed. The mind creates a whole range of feelings and moods when it forgets that our life could terminate at any time. So paradoxically, this reflection, this recollection of ageing, sickness and death can help us to appreciate our life more positively.

— Ajahn Sundara, The Body

May be an image of 1 person

Letting Go 101

Tulisan ini disari dari obrolan di WA Group. Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah rampung lebih awal. Kejadiannya sendiri sekitar bulan October tahun 2020, tapi tertunda karena kesibukan kerja, juga karena banyaknya bahan, dan mendalamnya bahasan. Istilah 101 seharusnya hanyalah ‘pengantar’ dari ‘letting go‘ atau ‘melepas’, namun tak terhindari menjadi topik yang ‘serius’. Letting Go menjadi ‘mantra’ yang mengandung makna dalam. Upaya ‘melepas‘ adalah suatu perjalanan batin – sesuatu yang mengalir. Dengan demikian pengertian ‘melepas‘ pun mungkin tergantung pada keberadaan seseorang di ruas perjalanan tersebut. Letting Go pula lah yang dipilih sebagai nama domain blog pribadi ini saat dimulai di pertengahan tahun 2018.

Ide membuat WA Group ini bergulir sejak kunjungan teman-teman Indonesia ke acara Kathina. Kathina adalah perayaan berakhirnya masa retret 3 bulanan (vassa) para bhikkhu sejak jaman Sang Buddha. Masa ini bertepatan pada musim hujan (di India) dimana banyak binatang kecil berkeliaran di hutan. Untuk menghindari terinjak-injaknya binatang ini, para bhikkhu mengurangi kegiatan keluar dan menggunakan kesempatan secara khusus melatih diri. Kami berkesempatan mengunjungi kuti bhikkhu Ananda (kuti adalah sebutan untuk pondok para bhikku) di Bodhinyana Monastery, dan diskusi/konsultasi kecil tentang meditasi dengan bhikkhu Ananda. https://letting-go.blog/2021/01/02/hut-warming-di-biara-hutan-bodhinyana/

Yang ikut dalam group WA ini pun terdiri dari berbagai latar Belakang, termasuk lintas agama, dan kita sebagian besar tidak saling kenal. Setelah beberapa waktu, group WA ini dinonaktifkan setelah diyakini materi yang diberikan untuk dasar-dasar meditasi dirasa cukup. Sebagian materi cukup sederhana sebagiannya lagi sangat dalam yang akan membantu pemahaman tentang meditasi dan menginspirasi seseorang terus berlatih.

Beberapa hari terakhir ini, bhante Ananda mengindikasikan akan mengaktifkannya kembali.

Tidak semua bahan bisa saya rangkum karena cukup banyak, dan terakhir data di Whatsapp Group terhapus saat mengganti gadget. Saya memutuskan untuk menayangkannya apa yang sudah terangkum aja.

— 0 —

“Intinya if there is joy then meditation happens by itself” —– intinya jika ada kegembiraan hati maka meditasi akan terjadi dengan sendirinya.

“The joy is what allow the mind to the truth it has been avoiding for aeons. kalau rumit, just put it aside! Hihi” —– kegembiraan hati adalah apa yang membuat pikiran (melihat) kebenaran yang selalu dihindari selama ini. Kalau ini rumit jangan dihiraukan! Haha…

Demikian beberapa potong obrolan berbahasa campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Whatapps group. Kami beruntung Bhikkhu Ananda bersedia meluangkan waktu memberi pengarahan untuk latihan meditasi lewat chatting di WA group, yang dia namakan ‘Letting Go 101’, semacam dasar-dasar latihan melepas (letting go). Pelepasan ini diyakini kunci utama meditasi.

Bhikkhu Ananda adalah seorang biarawan buddhis muda berusia sekitar 37 tahun yang melatih diri di Bodhinyana Monastery, Serpentine. Meski cukup lancar berbahasa Indonesia, bhante Ananda lebih nyaman menyampaikan obrolan dalam bahasa Inggris karena memang sudah tinggal di California, Amerika Serikat sejak usia awal remaja. Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan) di bulan April 2018 dan kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu oleh Ajahn Brahm di bulan Juni 2019. Saya berkesempatan menghadiri kedua penahbisan tersebut.

“Oh no there are 44 people now in the group! Well i better stop being males now😝 Its awfully nice being at bodhinyana monastery, mirip alam dewa de…” —– Wah sudah 44 orang yang bergabung di group! Sebaiknya saya tidak bermalas-malas sekarang. Terlalu menyenangkan tinggal di biara Bodhinyana sih, mirip alam dewa..”, candanya (untuk yang terakhir… boleh jadi bukan candaan)

Okay welcome to letting go 101 semuanya. I know most of you guys are very busy so will keep my sharings very short with plenty of bad jokes and videos of ajahn brahm’s ceramah in between. So just chillax and let me do the work of brainwashing okay?“—– Baiklah selamat datang semua di Letting Go 101. Saya tahu kalian semua sangat sibuk, jadi (saya) akan membagikan banyak lelucon konyol dan video ceramah dari Ajahn Brahm. Jadi santai saja dan biarkan saya mencuci otak kalian ya?”

“I will cover three themes in a month so about one lesson per week so plenty of time for questions and answers. By the end hopefully each one of you will know how to let go, what to let go of and most importantly, the answer to WHY you should let go”. —– Saya akan memaparkan tiga tema dalam satu bulan, jadi sekitar satu bahasan per minggu. Jadi banyak waktu untuk tanya jawab. Saya berharap setiap dari kalian akan tahu bagaimana melepas, apa yang dilepas dan yang paling utama MENGAPA harus melepas.

Okay let’s start a bad joke by my teacher ajahn brahm. Ready folks? I am!! —– Baiklah mari kita mulai dengan lelucon konyol dari guru saya Ajahn Brahm.

— 0 —

A Buddhist phones the monastery and asks the monk, “Can you come to do a blessing for my new house?” —– seorang Buddhis menelpon biara dan tertanya kepada biarawan, “Bisakah anda datang untuk memberkati rumah baru saya?”

The monk replies “Sorry, I’m busy.” —– biarawan itu menjawab “Maaf, saya sibuk”

“What are you doing? Can I help?”—– “Apa yang anda kerjakan? Bisa saya bantu?”

“I’m doing nothing.” replied the monk. “Doing nothing is a monk’s core business and you can’t help me with that.” —– “Saya mengerjakan tak satu apapun, jawab biarawan itu. “Mengerjakan tak satu apapun adalah kerjaan utama seorang biarawan dan anda tidak bisa membantu saya untuk itu.”

So the next day the Buddhist phones again, “Can you please come to my house for a blessing?” —– Keesokan harinya umat Buddha tersebut menelpon lagi, “Bisakah anda datang ke rumah saya untuk pemberkatan?”

“Sorry,” said the monk, “I’m busy.” —– “Maaf,” kata biarawan tersebut. “Saya sibuk”

“What are you doing?” —– “Apa yang anda kerjakan?”

“I’m doing nothing,” replied the monk. —– “Saya mengerjakan tak satu apapun'”, jawab bhikku itu.

“But that was what you were doing yesterday!” said the Buddhist. –—- Tapi bukankan kemarin anda juga mengerjakan itu!”

“Correct”, replied the monk, “I’m not finished yet!” – “Benar”, jawab biarawan itu, “Saya belum selesai mengerjakannya!”

Catatan: “doing nothing” secara harfiah berarti tidak mengerjakan apa-apa, namun diterjemahkan sebagai ‘mengerjakan tak satu apapun’ dalam cerita di atas karena lebih cocok untuk konteks cerita.

— 0 —

Saya berkesempatan ngobrol khusus dengan bhante Ananda suatu hari di Bodhinyana Monastery di Serpentine. Bhante Ananda menyampaikan bahwa kunci dari kedalaman meditasi adalah joy (kegembiraan), contentment (rasa kecukupan) dan letting go / renounce (pelepasan). Kegembiraan bisa dari perbuatan sederhana yang kita lakukan hari itu yang kita yakini baik, misalnya berdana/memberi kepada sesama atau orang-orang yang kita hormati atas dasar kewelas-asihan. Suasana ‘gembira’ saat telah melakukan perbuatan baik dapat membantu meditasi yang lebih dalam.

Juga, kegembiraan pada saat kita merasa bahagia telah berprilaku baik atau berbudi (melaksanakan Sila). Bagi yang belum tahu, dalam tradisi Buddhis ada 5 (Panca Sila) prilaku berbudi paling dasar yang umum diikrarkan seseorang, yaitu melatih diri untuk tidak melakukan pembunuhan mahluk hidup, tidak mengambil barang yang tidak diberikan (tidak mencuri), tidak berkata dusta atau menghasut, tidak melakukan perbuatan asusila (sexual misconduct), tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang memabukkan (mengurangi kesadaran). Sebagian ada yang mengambil sila tambahan (8 sila atau 10 sila) pada hari-hari tertentu.

Ajahn Brahm sering sekali menekankan bahwa prilaku berbudi ini menjadi salah satu landasan utama bagi kedalaman meditasi. Bahkan kalau saya pahami dengan benar, tidak ada kemajuan yang berarti dalam meditasi tanpa didasari oleh prilaku berbudi ini. Meditasi adalah melihat ke dalam. Kita tidak akan bisa membohongi diri sendiri

Bagi saya sendiri, mendengar dhamma talk dari Ajahn Brahm dan dari guru-guru lain sangat membantu menumbuhkan rasa gembira yang menginspirasi dan biasanya memudahkan pengheningan batin.

Inipun sudah cukup baiklah, saya ingin berada disini saat ini, sekarang juga.

It’s good enough, I want to be here in this moment, right now.

Ajahn Brahm

Tentu saja, masih banyak sekali paparan yang belum saya pahami, apalagi diselami atau dijalani. Meski banyak paparan tampak begitu sederhana, tapi semua itu sungguh tidak mudah dijalani. Semua pemahaman selalu bermuara ataupun menuju ke dalam diri sendiri. Untuk itu, saya ingin merangkum materi dari ‘Letting Go 101’ ini untuk bahan referensi yang bisa saya aksess sewaktu-waktu, dan mudah-mudahan juga berguna bagi orang lain yang berminat.

— 0 —

Isi dari forum diskusi sebagian berisi arahan bhikkhu Ananda, juga tautan-tautan bacaan, audio, dan video dengan topik yang relevan tengan meditasi, termasuk kartun-kartun “Happy Everyday” kumpulan wejangan Ajahn Brahm, terbitan Ehipassiko. Saya sudah mendapat izin dari sahabat saya Handaka Vijjananda, pendiri Ehipassiko Foundation untuk membagikannya secara cuma-cuma di sini.

Kekhawatiran akan masa depan. https://letting-go.blog/2018/10/08/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-5/

Panorama Sekitar Jhana Grove. https://letting-go.blog/2019/12/11/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-9/

Buddhist Society of Western Australia – Bahasa Indonesia

Dhamma Talks (Bahasa Indonesian Subtitles) Ajahn Brahm (1 – 10 videos)

Podcasts

https://deeperdhamma.podbean.com/e/2019-october-9-day-retreat-for-bodhinyana-singapore-group-0122-ajahn-brahmavamso/

https://suttacentral.net/an10.2/id/anggara

Youtube:

Serial Kartun “Happy Everyday” Terbitan Ehipassiko. Bisa diklik untuk diperbesar. Selamat menikmati.

Perth, Australia Barat – May 2021

Selamat Jalan Romo Han Cing

Meski tidaklah dekat, saya telah mengenal Romo Han Cing (Harpan Aguswan) dan istrinya Ce Suk Cen (Rusmiati Zen) sewaktu merantau dan studi di Palembang di penghujung tahun 1980-an hinga awal 1990-an saat sering beraktivitas di Vihara Dharmakirti.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah kepribadian Romo Han Cing yang sangat sederhana. Meski telah tiga puluhan tahun berlalu, dalam ingatan saya, ada sosok senyum ramah seorang pria paruh baya berkaos oblong putih dengan celana pendek yang menjadi ciri khas kesehariannya.

Bersama teman-teman, kami sering ke rumah Romo Han Cing setiap kali ada bhante (sebutan untuk seorang bhikkhu – biarawan Buddhis) yang menginap di sana. Seingat saya, kami sering bertemu Bhante Viryanadi dari Trowulan di sana. Kami diizinkan untuk berlama-lama hingga larut malam, sambil menikmati penganan yang dihidangkan oleh Ce Suk Cen.

Kesempatan bertemu dan bisa mengobrol dengan seorang bhante sangat langka pada masa itu. Kami mendapat kesempatan yang sangat berharga ini didampingi oleh Romo Han Cing di rumahnya – tempat kami bertanya segala macam pertanyaan untuk melepas dahaga kami akan Dhamma dalam masa-masa awal ‘pencarian’ kami. Ini menjadi jalinan karma saya mengenal kembali Buddha Dhamma dalam kehidupan ini.

Saya turut berbahagia mendengar Romo Han Cing menyentuh banyak hati orang-orang yang mengenal beliau lewat kesederhanaan, kedermawanan dan kebaikan hatinya; dan dicintai oleh begitu banyak orang.

Romo Han Cing meningal dunia pada tanggal 26 Mei 2021 di Palembang. Selamat Jalan Romo, semoga terlahir di alam bahagia🙏🙏🙏

Terimakasih banyak Ce Suk Cen. Semoga senantiasa sehat dan bahagia🙏🙏🙏

Lim Eka Setiawan

Perth, 28 Mei 2021.

Penerbangan JG-000

Bukan Ajahn Brahm kalau tidak membawa sesuatu atau memfasilitasi ide-ide kreatif yang out-of-the-box. Atas ide Bhante Bodhidhaja, video tentang meditasi yang analogikan dengan pesan keselamatan dalam penerbangan yang selalu kita dengar dari kru kabin sebelum tinggal landas. Bhante ada sebutan untuk biarawan Buddhis. Video ini menjadi kocak dan menghibur, dan pada saat yang sama dengan akurat menerangkan prinsip-perinsip meditasi.

Code penerbangan ‘JG-000’ jelas mengacu pada Jhana Grove, kompleks pusat meditasi di Serpentine, Australia Barat yang di kelola oleh Ajahn Brahm. Saya beruntung sempat mengikuti retret meditasi 9 hari yang diajarkan oleh beliau pada pertengahan tahun 2018. Nomor penerbangan ‘000’ kemungkinan mengacu pada pelepasan, kesunyataan, atau sejenisnya.

Video dimulai dengan pesan dari kapten Awakening Air dari ruang kemudi.

‘Ini kapten anda Ajahn Brahm berbicara, Awakening Air mengucapkan selamat datang dalam penerbangan JG000 yang tidak kemana-mana. Kita akan mengarungi kebebasan, keheningan, dan kedamaian.’

Pesan-pesan berikutnya yang diselaraskan dengan panduan meditasi dibuat sangat kreatif dan menghibur, beberapa diantaranya:

‘Pada saat masuk kedalam pesawat, mohon jangan membawa koper masa lalu anda, tinggallah di masa lalu sebagaimana seharusnya’.

‘Juga jangan membawa tas penuh dengan ‘ketakutan dan harapan’ bersama anda kedalam kabin pesawat, karena akan mengacaukan pikiranmu dan memperlambat proses masuk kedalam pesawat’.

Pada saat tanda ‘kelembutan’ dinyalakan, kembalilah pada ‘saat kini – present moment’, cobalah santai, lingkupi anda dengan kelembutan dan kebaikan’.

Sangat menarik, kreatifitas mereka menampilan Inter-Tainment – program hiburan dalam pesawat, peragaan-peragaan ala kadarnya yang diperankan oleh pengunjung yang sering saya lihat saat berkunjung kesana, dan juga saat keadaan ’emergency’ pendaratan di air.

Dan pernyataan di akhir menunjukkan betapa moderatnya pesan keselamatan perjalanan ‘penerbangan’ ini:

On behalf of the whole crew we thank you for not choosing Awakening Air but rather slowly conditioned by Kamma, your teachers and spiritual friends to come along for the ride. We wish you a pleasant journey.

Atas nama seluruh kru, kami mengucapkan terimakasih karena tidak memilih terbang bersama ‘Awakening Air’ tetapi lebih memilih secara perlahan dikondisikan oleh karma, guru dan kawan spiritual anda dalam mengarungi perjalanan ini. Semoga perjalanan anda menyenangkan.

Awakening Air

Dibawah ini adalah tautan videonya. Selamat menikmati.

Perth, 9 May 2021

Suasana Perayaan Chin Min (Ceng Beng) di Kampung di Pulau Bangka

Saya diminta oleh Koh Udaya Halim untuk ikut mengisi webinar bertema perayaan tradisi Ceng Beng pada 4 April 2021, bersama beliau dań dua kontributor lain, Koh Rusdy Tjahyadi dan Koh Henky Honggo, lewat Zoom and Youtube. Adalah kehormatan bagi saya untuk terlibat dalam forum yang digagas oleh Koh Udaya, seorang pendidik (pendiri King’s Group Education – pendidikan berbasis kreatifitas), aktifis budaya, pendiri Museum Benteng Heritage, juga ketua Persaudaraan PERTIWI (Peranakan Tionghoa dan Warga Indonesia). Kami juga sama-sama tinggal di Perth saat ini. Bersama teman-teman dan Jaringan Diaspora Indonesia (IDN), kami pernah bersama menyelenggarakan perayaan Imlek Cap Go Meh pertama di Perth di tahun 2017, dengan menampilkan budaya peranakan Tionghoa Indonesia dalam acara makan malam dan bazar. (https://www.facebook.com/imlek15meh).

Perayaan Ceng Beng kali ini juga bertepatan dengan Perayaan Paskah. Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Paskah kepada semua keluarga, teman-teman, dan semua yang merayakannya, semoga Paskah membawa berkah kedamaian and kebahagiaan.

Koh Udaya memaparkan begitu banyak informasi tentang asal usul Ceng Beng dan nihai-nilai yang mendasarinya, juga ditambahkan dengan sejarah layang-layang yang musimnya bertepatan dengan masa perayaan Ceng Beng. Koh Rusdy berbagi cerita tentang tradisi keluarga dalam persembahyangan Ceng Beng yang melibatkan keluarga besar dengan tata cara yang unik beserta kekayaan kuliner yang disajikan. Sementara Koh Henky menceritakan pernik-pernik proses perayaan Ceng Beng oleh masyarakat Tionghoa Palembang.

Semula, saya agak bingung juga mau menyampaikan apa dalam acara ini karena saya tidak punya pengetahuan tentang budaya. Lagian saya tidak begitu bisa berbicara (public speaking). Akhirnya saya pikir untuk sekedar menceritakan suasana perayaan Chin Min (Bahasa Hakka Bangka untuk Ceng Beng) di kampung di Bangka, tempat saya menjalani masa kecil dan remaja saya. Saya menampilkan banyak foto agar tidak perlu terlalu banyak ngomong – a picture paints a thousand words, kata orang.

Ibu Ineke Manaseh, moderator acara, memperkenalkan saya dan juga latar belakang saya sebagai pekerja tambang. Saya punya kesempatan bekerja di berbagai tambang (batubara, emas, tembaga) di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa), Laos, Australia, dan Ghana (Africa). Pulau Bangka sendiri terkenal dengan tambang timahnya.

Berikut di bawah ini tautan rekaman acaranya di Youtube. Terima kasih saya untuk Koh Han Hendra yang menghosting webinar ini dan menyediakan rekaman kegiatan ini.

Flyer webinar – 04 April 2021

Rekaman lengkap di Youtube – Acara Webinar

— 0 —

Bakti kepada orang tua dan leluhur mengakar dalam di budaya Tionghoa. Ajaran Konfusius banyak mengajarkan keutamaan bakti kepada orang tua. Seseorang yang punya rasa bakti yang tinggi dilihat sebagai orang yang bertanggung jawab, matang, dan bisa dipercaya. Ada ungkapan:

Dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang pertama

百善孝為先 – bǎi shàn xiào wèi xiān

Of all virtues, filial piety is the first 

Chinese wisdom

Saya yakin itu juga mengakar pada semua ajaran kebenaran/agama. Dalam  Ajaran Buddha terkenal Sutra Bakti Seorang Anak (Filial Piety Sutra), membabarkan tentang besarnya jasa dan pengorbanan orang tua untuk anaknya dan sulitnya membalas jasa-jasa orang tua. Tapi sebenarnya kita tidak perlu agama untuk mengajarkan kita bakti kepada orang tua, kita hanya perlu menjadi manusia untuk memiliki rasa itu.

bakti dalam kesederhanaan…

— 0 —

Kampung Tionghoa di Pulau Bangka

Bagi yang belum tahu, Pulau Bangka terletak di setelah selatan Sumatera atau sebelah barat laut dari Belitung. Mungkin Belitung lebih dikenal daripada Bangka. Kampung saya sendiri, Kampung Lumut, terletak di Bangka Utara yang ibukotanya adalah Belinyu. Kalau ke Bangka, setelah turun dari pesawat di kota Pangkalpinang, perjalanan ke arah Belinyu, akan melewati Sungailiat, dan tiba di Riau/Silip, lalu belok ke kiri di simpang Lumut, dan sekitar 3 km lagi untuk sampai di kampung Lumut. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Pangkalpinang.

Kampung Lumut terletak tidak jauh dari Gunung Maras (699 meter dari permukaan laut), bukit tertinggi di Bangka, dan ada satu jembatan panjang menyebrangi Sungai Perimping yang menjadi tempat ‘rekreasi’ masa kecil pada saat festival Pek Cun di sekitar bulan Juni.

Ada beberapa kelentang di sana. Salah satunya adalah Fuk Tek Tze dengan altar Toa Pek Kong (Thai Pak Kung & Thai Pak Pho), Kwan Kung, dan Kwan Im. Catatan terawal yang ada adalah pada tulisan di papan salah satu tiang yang menandakan tahun 1890. Diperkirakan pendirian kelentengnyanya jauh sebelum tahun tersebut.

Foto di kanan bawah adalah jalan utama Lumut. Waktu saya kecil, saya bersekolah di SD Siliwangi Lumut, rasanya maktu itu masih pakai Bahasa Khek (Hakka) di sekolah.

Masyarakat Bangka dikenal dengan suasana penuh toleransi dan rukun hidup bermasyarakat.

Tradisi dan Kearifan Lokal

Terakhir saya dan istri mudik ke Bangka di akhir tahun 2018, ditemani oleh Koh Udaya dan Cik Harum, sebelum saya berangkat tugas kerja ke Ghana, Afrika. Perjalanan yang sangat menarik sepanjang jalan, saya belajar banyak tentang kebudayaan peranakan Tionghoa, bahkan tentang kearifan lokal tempat saya dibesarkan. Foto-foto dalam slide ini adalah foto Koh Udaya.  

Kami meluangkan waktu ke Belinyu, kota terdekat dari kampung saya, sekitar 25km. Kami juga berkunjung ke Mentok dan Jebus (Parit 3) ditemani oleh Suwito Wu dan Sugia Kam, dan ke The House of Lay di Pangkalpinang bersama Koh Hongky Lie dan Koh Mingky Lie.

Di Belinyu, kami mengunjungi pemakaman umum Tionghoa (Kung Bu Jan) di Belinyu, tempat kakek dan nenek dari pihak ibu dimakamkan. Karena kami kesana bukan pada masa Cheng Beng, kelihatannya agak semak, tapi sebenarnya sangat terawat dan sangat ramai pada saat Cheng Beng, tentu pada masa sebelum pandemi Covid.

Ada satu peninggalan Benteng Kuto Panji (Benteng Bong Kap / Bong Kap Sang) yang kami kunjungi. Dikisahkan Bong Kap datang pada masa Dinasti Ching pada awal abad 18, sebelumnya mampir ke Kesultanan Palembang dan menjadi pejabat penting dipercayaan mengatur perdagangan di Bangka.

Baru kali ini saya mengunjungi Benteng Bong Kap ini meskipun saya dulu bersekolah menengah di Belinyu. Benteng menghadap ke satu kolam (yang dulu katanya sungai menuju ke laut) dan di samping kelenteng yang berdiri megah. Kami sampai di senja hari menjelang malam, dan menghabiskan beberapa waktu meresapi keheningan suasana benteng yang tinggal puing-piung. Ada satu makam yang sudah direnovasi di ujung bangunan, terlulis tahun ‘sekitar 1700’.

Di Lumut, mampir ke rumah orang tua saya yang sudah tidak dihuni lagi. Setelah sembahyang di altar keluarga kami mengunjungi satu rumah bangunan tua yang bergarak 4 rumah. Koh Udaya sangat tertarik dengan altar Kwan Kung (Guan Yu) dan arsitektur rumahnya. Kwan Kung adalah salah satu dewa/boddhisatva yang dipuja luas oleh masyarakat Tionghoa penganut Konfusius, Taois, dan Buddhis Mahayana, yang diyakini memanifestasikan nihai-nilai keadilan, keberanian, dan kesetiaan.

Altar Kwan Kung dengan kertas altar original yang masih cukup utuh meski sudah menghitam oleh asap dupa. Katanya kertas altar ini didatangkan dari Singapura pada masa itu. Saya ingat masa kecil saya bangunan rumahnya sangat besar, dan salah satu yang terbaik kampung. Kini sudah rapuh, bagian dapur sudah dirobohkan, yang dalam gambaran waktu kecil saya, sangat luas dengan pekarangan di tengah. Saya masih kenal baik dengan pewaris rumah itu, Bong Chiung, yang berumur beberapa tahun lebih muda dari saya.

Satu hal yang saya tidak habis pikir, rumah yang dipilih oleh Koh Udaya untuk dikunjungi selalu ada altar Kwan Kung, termasuk satu rumah kecil sederhana yang tiba-tiba ditunjuk oleh Koh Udaya untuk dimampiri di daerah Sin Chong (5 km dari Belinyu jalan ke Pangkalpinang). Katanya rumah tua yang memiliki altar Kwan Kung biasanya adalah rumah/bangunan komunal, tempat dimana orang-orang berkumpul pada masa itu. Sayang kami tidak berkesempatan bertemu dengan pemiliknya.

Peninggalan Kejayaan Masa Lalu – Kampung Gedong

Satu bagian dari kampung ada namanya Kampung Gedong (Liuk Fun Thew). Sisa sisa kejayaan masih bisa dilihat dari beberapa rumah yang boleh dibilang mewah pada jamannya. Seorang peneliti dari Kementrian Kebudayaan dan Parawisata, Dewi Setiati, dalam tulisannya menyebutkan1 Liuk Fun Thew (Perkumpulan 6 Pemimpin) merupakan salah satu distrik penambangan dari 36 distrik penambangan di zaman kolonial Belanda.

Perlahan, rumah dengan arsitektur khas ini akan hancur dimakan usia kalau tidak ada upaya melestarikannya. Waktu saya kecil, masyarakat Kampung Gedong banyak bermatapencaharian sebagai nelayan. Letaknyapun di dekat sungai air payau. Sekarang melaut bukan lagi pencaharian utama karena generasi nelayan sudah tua, sementara yang muda-muda banyak merantau keluar pulau. Kampung Gedong dikenal sebagai kampung wisata budaya. Beberapa stasiun TV swasta nasional pernah melakukan liputan di Kampung Gedong ini tentang kehidupan keseharian masyarakat di sana.

Tiga bagian bangunan yang ditampilkan dalam slide ini adalah satu bangunan/rumah besar yang terhubung satu sama lain. Sepertinya ini adalah gedung komunal yang menurut saya merupakan bangunan termegah di kampung pada jamannya. Ada satu foto ukuran besar digantungkan di depan rumah menunjukkan status sosial sebagai pejabat atau penguasa pada jamannya.

Salah satu makanan khas Bangka terkenal dengan kerupuk/kemplang (kum pang – Bahasa Khek lokal) yang menggunakan bahan tapioka dan ikan atau udang. Kita mengungungi salah satu industri kemplang milik Cu Khiong yang saya kenal, dan melihat proses pembuatannya. Kami juga disuguhi minum dan berbagai jenis kerupuk termasuk mencicipi bahan kemplang udang yang baru selesai dikukus (kum pang thung) másih hangat, kenyal dan enak.

Ada banyak varian dari kerupuk ini, ada yang dipanggang atau digoreng. Bentuknya pun berbagai jenis seperti kerupuk, kemplang, getas. Kwalitas kerupuk Bangka premium karena komposisi bahan, kwalitas ikan/udang yang segar, dan juga proses pembuatan dan pengolahannya. Menurut saya, kwalitas kerupuk/kemplang yang terbaik adalah kerupuk Bangka khususnya yang dari Lumut. Kalau tidak percaya silakan dicoba. Tentu saja, saya bias dengan penilaian saya.

Tradisi Mempererat Persaudaraan dan Kekeluargaan

Ini adalah kumpulan foto-foto beberapa tahun lalu menggambarkan suasana bersama saudara dan keluarga dari pihak ayah saya. Ini adalah kompleks pemakaman kedua orang tua saya, kakek dan nenek, termasuk makam adik saya yang meninggal lebih dari 25 tahun lalu. Juga bersama mama saya waktu beliau masih hidup. Di rumah saya juga ada altar untuk orang tua, kakek/nenek, buyut. Sembahyang Ceng Beng biasanya dimulai subuh sebelum matahari terbit.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi Ceng Beng ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Bersama saudara yang menjalani kehidupan masing-masing bisa berkumpul kembali di satu tempat dan bagi kita untuk bercerita mengenang masa bersama dulu saat orang tua kita masih bersama kita, mengenang jasa-jasa dan kasih sayang orang tua kita.

Pemakaman di Kampung tidak ada batas seperti komplek seperate di kota. Jarak antar komplek kuburan lebih adalah bekas kebun keluarga, tapi semua cukup berdekatan (kadang berjarak 50 meter). Wangi dupa yang sangat kentara dan suasana hening di pagi hari selalu mengesankan saya.

Hal yang menyenangkan lagi, setelah persembahyangan, kami boleh langsung ngemil di tempat, tanpa harus menunggu sampai di rumah: bisa buah, kue, daging, biasanya yang dipilih adalah jeroannya. Sampai dirumah, acara masak keluarga dan kami semua makan siang bersama. Di masa kecil dulu, makan daging ayam atau buah mahal hanya menjadi menu pada hari-hari tertentu seperti Cheng Beng ini. Untuk alasan itu, Ceng Beng menjadi hari istimewa bagi sebagian besar kami yang besar di kampung, dan sekarang menjadi sesuatu indah untuk dikenang.

Mewariskan Tradisi kepada Generasi Berikutnya

Ini foto-foto kiriman Suwito Wu dari Ceng Beng tahun ini di Muntok. Tata cara persembahyangan Ceng Beng yang umum di Bangka menggunakan peralatan sembahyang yang berupa lilin, dupa, kertas sembahyang (nyiun ci – kertas perak, dan kim ci – kertas emas) .

Kelihatannya yang khas untuk persembahyangan di Bangka adalah thong chien (kertas cho ci yang dipotong berjuntai) yang digantungkan di sisi kiri dan kanan kuburan, dan kai hiet ci (kertas cho ci yang ditetesi darah ayam) yang ditetakkan di atas nisan.

Tradisi Mempererat Hubungan Sosial Sekampung

Berikut adalah foto beberapa tahun lalu suasana Ceng Beng di pemakaman keluarga sekampung. Pemakaman keluarga yang sangat sederhana. Meskipun berdekatan atau seperti kompleks, tapi sebenarnya tidak ada tempat yang dikelolah khusus seperti layaknya pemakaman di kota. Boleh di bilang ini seperti di kebon masing-masing, sepertinya hanya kesepakatan bersama.

Kesederhanaan perayaan disini bisa terlihat, tapi kebersamaan dan suasana kekeluargaan sangat terasa. Tempat semua berkumpul di pemakaman orang tua dan leluhur masing-masing untuk untuk melakukan penghormatan.

Disini kita bisa dengan mudah bertemu dengan teman-teman lama yang sudah merantau kemana-mana, dan sama-sama pulang dan berkumpul kembali di kampung. Sebagai perantau lebih dari 35 tahun seperti saya, kadang hal yang ‘memalukan’ sering terjadi, karena tidak lagi ingat nama-nama semua orang di kampung. Karena kampung kecil, sebagian besar masih ingat nama saya. Kalau jalan-jalan di kampung saya ajak teman karib saya atau adik saya. Saya masih punya beberapa teman karib masa kecil di sana, yang masih berhubungan hingga sekarang.

Bakti Kepada Orangtua dan Leluhur itu Sederhana

nilai kebajikan bakti kepada orang tua dan leluhur – sesuatu yang sederhana namun luhur

Kalau kita lihat lebih dalam, tradisi bakti kepada orang tua/leluhur mengakar di dalam budaya Tionghoa sangat utama, seperti dikemukaan di bagian awal tadi. Bagi saya pribadi, saya hanya ingin memaknainya dengan lebih sederhana, bahwa perayaan Ceng Beng (Chin Min) adalah salah satu ungkapan bakti kepada orang tua dan leluhur dalam masyarakat Tionghoa yang diyakini merupakan suatu kebajikan, yang dalam perjalanan sejarah panjang mereka kemudian menjadi suatu tradisi yang membawa nilai kearifan.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, memberi kesempatan berkumpul kembali di satu tempat dan berbagi bercerita, dan kalau mau lebih spiritual – tradisi ini mengajarkan bahwa kita dekat dengan kematian itu sendiri, tidak ada yang kekal, dan suatu saatpun kitapun akan berakhir disini.

Saya berharap 2 foto diatas bisa sedikit melukiskan nilai-nilai kebajikan perayaan Ceng Beng ini, akan ungkapan bakti kepada orang tua/leluhur dalam kesederhanaan di kampung. Juga, ada yang datang ke makam orang tua atau leluhur hanya untuk menancapkan hio, menyalakan lilin, dan membakar kertas sembahyang, dan tentu dengan iringan doa – karena hanya itu yang mampu dilakukan (foto di sebelah kanan).

Tradisi ini sebisanya kita kenal, nikmati, dan rawat untuk anak cucu kita. Karena tradisi ini sudah berlangsung lama menembusi waktu dan tempat, tidak bisa dihindari timbul berbagai ragam dalam tata cara hasıl akulturasi dengan budaya setempat, yang justru memperkaya tradisi tersebut. Ragam perayaan ini dapat disaksikan dari cerita Koh Udaya, Koh Hengky, and Koh Rusdy dalam forum webinar ini.

Menurut saya boleh saja kita menyesuai dengan tradisi dengan perubahan yang terus berlangsung, misalnya tidak ingin memberi persembahan bernyawa dengan pertimbangan keyakinan, atau apapun. Saya sendiri hanya mempersembahkan satu piring buah-buahan untuk setiap makam. Tahun ini, saya hanya menitipkannya kepada adik saya yang tinggal di Belinyu.

Namun kita tidak perlu merasa malu dengan tradisi seperti ini karena dianggap kuno atau bertentangan dengan keyakinan baru kita. Kita bisa saja punya pengetahuan atau keyakinan baru yang kita anggap lebih masuk akal dengan segala dalilnya, tapi kalau kita mengagungkan ‘pengetahuan’ semata, kita bisa kehilangan kearifan yang menjadi dasar prilaku berbudaya dari suatu peradaban.

Tata cara suatu tradisi akhirnya akan berubah dan berangsur memudar dalam perjalanan waktunya. Untuk itu, kita perlu merawatnya sebisa mungkin dań sekaligus menikmatinya. Namun nilai-nilai kebajikan bakti kepada orang tua seharusnya bertahan dan akan selalu ada di dalam hati setiap manusia.

Suasana Kampung yang Ngangenin

Sebagai penutup dari cerita saya, saya ingin berbagi cara saya menikmati suasanya kampung kala saya mudik. Saya merasa sangat beruntung, punya kampung halaman, dan punya kesempatan untuk kembali dari waktu ke waktu.

Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati, utamanya hal-hal yang sederhana. Yang pertama, tentu bisa bertemu dengan orang tua saat mereka masih ada. Kini, kedua orang tua sudah meninggal. Dan rumah di kampung pun sudah tidak ditinggali. Namun, saya masih ingin meluangkan waktu untuk mudik saat kondisi memungkinkan.

Ada banyak hal yang ngangenin, ngobrol dengan teman waktu kecil, menelusuri jalan setapak di belakang rumah, melihat kolong tempat mandi dulu, merasakan udara segar lepas dari hiruk pikuk kesibukan masyarakat kota, ngobrol dengan orang-orang tua di kampung dan mendengar cerita keseharian mereka.

Perth, 05 April 2021

Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

ABG Xmas Belly Challenge 2021

Tidak terasa, saya bisa aktif berolahraga jalan selama 24 jam menempuh jarak sekitar 120 km dalam 3 minggu terakhir ini, lebih dari 1 jam rata-rata per-hari. Ini gara-gara ikut tantangan berolahraga bersama teman-teman Gang ABG (Anak Baru Gocap – baca: orang tua usia diatas 50 tahun). Ini tidak lazim karena saya belum pernah berjalan selama dan sejauh itu sebelumnya, dengan rutin hampir setiap hari.

Saya tidak meminati olahraga apapun. Saat kecil dan remaja, diwaktu teman-teman sebaya bermain basket, olahraga paling populer di kampung, saya lebih banyak berdiam diri dan bersekolah. Mungkin ‘tulang’ saya tidak bagus… Di sekolah menengah dulu, pelajaran olahraga menjadi momok terutama saat pengambilan nilai praktek, seperti lompat tinggi, lompat jauh, tolak peluru, lari jarak pendek, dll. Saya sebenarnya suka berenang karena sering mandi di kali atau kolong bekas tambang timah tidak jauh dari rumah. Tapi tidak ada pengambilan nilai untuk berenang karena di sekolah tidak ada kolam renangnya. Lagian kalau ada belum tentu nilai saya bisa bagus kerena saya hanya lancar berenang di kali/kolong bukan di kolam renang, dengan gaya bebas yang sebebas-bebasnya.

Teman-teman ABG sebenarnya adalah komunitas teman-teman Katolik. Dimana anggota kehormatannya adalah Romo Hari Suparwito SJ, seorang pastur dari ordo Societas Jesu, yang mengambil studi doktoral (S3) di Perth, yang sekarang berada ke Indonesia, dan juga ikut tantangan olahraga ini dengan kayuhan sepedanya yang bisa sampai 4 – 5 jam sehari. Hanya saya satu-satunya non-katolik di dalam group. Sepertinya saya adalah domba yang tersesat di jalan yang benar.

Tantangan berolahraga ini diprakarsai oleh Hasan dan Feby yang memang pelari dan pemain bulu tangkis. Tantangan diberi nama ABG Xmas Belly Challenge 2021, tanggal 4 – 24 Januari. Cita-citanya: togetherness and teamwork to encourage others to be more active and healthy – kebersamaan dan kerja team untuk menyemangati yang lain agar lebih aktif dan sehat. Cita-cita yang mulia…

Tantangan diukur dengan jumlah waktu berolahraga yang direkam dengan Stava. Jenis olahraga bisa dari jalan/hiking, lari, sepeda, treadmill, yang akan dihitung waktunya. Uniknya, sistim penilaian diantara anggota satu team dibuat tidak berimbang. Anggota team yang paling sedikit waktunya akan mendapat bobot 75% dalam penghitungan nilai, sementara dua anggota lainnya hanya berbobot 25%. Tujuannya agar anggota yang aktif bisa mendorong (dalam arti yang sebenarnya…) anggota yang kurang aktif.

Sistim ini berhasil membuat orang-orang yang kurang aktif seperti saya untuk turun gunung (nggak ingat kalau dulu pernah naik gunung…), kalau tidak mau di-encourage (baca: ‘diomelin’) oleh anggota team yang kebetulan emak-emak, salah-salah bisa klar hidup loe…. Dari teman-teman di ABG yang berminat, terbentuklah 6 team dengan masing-masing beranggotakan 3 orang. Team saya adalah Linda and Inda. Linda adalah pelari dengan motto ‘listen to my feet’ dan ‘tiada hari tanpa lari‘, sementara Inda yang dikenal ‘endurance‘-nya kalau jalan bisa lama, panjang, dan sering. Saya hanya mengimbanginya saja, agar tidak ada perbedaan waktu yang lebar, sehingga nilai bisa optimal. Maka lengkaplah kedigdayaan team kami…

Lucas yang tinggal di Kota Kinabalu, Malaysia ikut dalam tantangan ini, dan dengan rajin sekali menyiarkan hasil perhitungan nilai sementara, sehari bisa 2 kali diperbaharui, Ini nambah seru persaingan, terutama pada minggu terakhir, minggu ke 3. Saling mengejar, menyemangati, dan mengolok menjadikan group whatsapp meriah.

Penutupan acara dilakukan alam acara jalan bersama di tanggal 26 January, bertepatan dengan Australian Day, berjalan/berlari didaerah Deep Water Point Reserve, Mt Pleasant, sepanjang loop 7 km. Wajah-wajah ceria dan tanpa beban tampak sekali menghiasi wajah setiap orang, mungkin karena setelah 3 minggu cukup tegang…

Setelah ngopi dan sarapan di Dome, semua berkumpul. Sayang, Vivien harus pulang duluan. Vivien masuk ke dalam team di minggu ke tiga mewakili/menggantikan Hengki yang tidak bisa meneruskan tantangan ini karena kesibukan dan kondisi kaki.

Berikut ini pengumuman hasil akhir ABG Xmas Belly Challenge yang tidak boleh diganggu-gugat, oleh Hasan:

Team 2 (Linda/Lim/Inda) dengan konsistensinya keluar sebagai juara, memimpin dari awal. Surpisingly, waktu kumulatif hampir dikejar oleh Team 5 (Gatot/Ming/Nany) di minggu ke-3. Team 6 (Agnes/Beth/Imel) juga membuat kejutan dengan merangsek ke posisi 3, the power of ibuk2. Sementara Team 3 (Lucas/Christine/Andri) harus merelakan podium. Team 4 (now Feby/Tina/Vien) berhasil mendongkrak posisi buncit di minggu 1 & 2 sehingga Team 1 (Romo/Ir/Elsa) harus puas di posisi juru kunci.

Hasil resmi hitungan akhir ABG Xmas Belly Challenge, sumber: WAG ABG 25 Jan 2021

Hore.. team kami juara beregu! Disamping juara team, ada 2 juara perorangan yang yang dianugrahkan, yaitu untuk kemajuan yang konsisten dari minggu ke minggu, juaranya adalah Nany yang meningkatan jam nya dari 4 jam ke 7 jam dan 13 di minggu terakhir. Beberapa yang lainnya seperti Christine dan Feby sangat meningkat jamnya namun tidak konsisten dari minggu ke minggu. Penghargaan perorangan lainnya adalah untuk Elisabeth yang baru datang dari luar negeri (Indonesia) yang tetap bersemangat mengikuti tantangan ini dari kamar karantinanya di hotel selama 2 minggu.

Beberapa teman tidak ikut tantangan ini karena berbagai kesibukan, diantaranya Hendarmin dan Ling-Ling. Mereka ikut menyemangati kegiatan ini lewat penyediaan voucher Tim’s Thai, restaurant masakan Thailand milik mereka.

kumpul bersama berakhirnya ABG Xmas Belly Challenge – Australian Day 26 January 2021

Kami berbagi cerita dan pengalaman selama mengeluti tantangan selama 3 minggu ini. Beragam cerita mengalir, dari yang kocak hingga yang serius, dari menceritakan pengalaman hingga curhatan. Hasan, Feby, dan Gatot yang sudah mahir berlari berbagi pangalaman dan ilmu tentang hal-hal yang perlu dilakukan jika ingin meningkatkan intensitas latihan cardio-nya. Tak kurang cerita tentang perjuangan ‘mengatasi’ kemalasan sendiri. Ternyata setelah dijalani, bisa juga. Ada pepatah bijak, thinking about it is hard, doing it is easy – memikirkannya berat, mengerjakannya mudah.

Semua tampak ceria dan bahagia… Katanya, kebahagiaan selalu ada tepat di sini, di saat kini, jangan lagi dicari kemana-mana, hanya perlu disadari…

I have arrived

I am home

My destination is in each step

Thich Nhat Hanh

— 0 —

Disamping olahraga sendiri-sendiri, juga acara jalan barengan setiap minggu, biasanya Sabtu, kadang Minggu, mulai jam 6 pagi. Irianto adalah kepala regunya yang menentukan jam berkumpul dan merencanakan rute, termasuk melihat kalau ada tidak tersedianya WC umum, dll. Tina membantu mencarikan tempat ngumpul untuk ngopi yang nyaman setelah jalan. Satu kali kami pernah mengambil rute di sekeliling di biara Bodhinyana monastery dan Jhana Grove Meditation Centre-nya Ajahn Brahm di Serpentine.

Kami hanya ingin menikmati hal-hal yang sederhana seperti keindahan alam dan udara bersih yang tersedia oleh alam di Australia Barat ini lewat taman-taman dan jalur-jalur hiking yang begitu banyak dan beragam. Pasangan yang rutin berjalan pagi ini adalah Irianto & Inda, Agung & Tina, Gatot & Agnes, dan Christine & saya. Saya dan Christine sebenarnya baru bergabung sejak 2 bulan terakhir. Motto team ini adalah ‘low expectation‘ atau tidak berharap banyak. Berjalan hanya sekedar menikmati jalan-jalan, tidak ada target tertentu yang harus dicapai atau dikejar, kadang jalan jauh kadang dekat. Kalau rutenya nyasar yah balik lagi, sering terjadi karena jalan di hutan – meski sudah dipandu oleh applikasi AllTrail ber GPS.

Selain alam dan udara segar, saya juga sangat menikmati obrolan kami sepanjang perjalanan dan saat ngopi/sarapan. Topik yang beragam dan kadang tidak lazim, mulai dari pengetahuan fisika, home assistant, bisnis, artificial intelegence, hingga spiritualitas. Obrolan tentang fisika kwantum, sistim smart home dengan monitor dan kontrol jarak jauh, ide dan pembangunan platform pemasaran online untuk jaringan bisnis atau restoran, hingga akademi kebahagiaan – tentang faktor-faktor untuk menjadi atau merasakan kebahagiaan.

Latar belakang kami memang berbeda-beda, untuk itu topik obrolan juga bercampur-aduk. Gatot dan saya adalah kelas pekerja di perminyakan dan pertambangan. Irianto adalah pengajar di Murdoch University, Perth, yang juga mantan kepala sekolah sekolah menengah Santo Aloysius di Bandung, sekaligus guru mata pelajaran fisika. Sedangkan Agung adalah salah satu founder jaringan restoran seafood D’Cost di Indonesia, yang terkenal dengan inovasi bisnisnya.

Agung dengan minatnya di IT (information technology) dan AI (artificial intelegence) membantu teman-teman yang berminat di home assistant (HAss.IO) untuk membuat sendiri jaringan smart home yang relatif murah. Saya juga ikut tapi belum bergerak kemana-mana alias masih berjalan di tempat. Saya punya Rasberry Pi dan beberapa perangkat dasar untuk memulai. Saya tertarik dengan home assistant karena dulu suka dengan prakarya elektronik sewaktu di SMA, dan merasa bisa dijadikan mainan yang bisa dinikmati di hari tua agar tidak cepat pikun karena melibatkan banyak perencanaan, kreatifitas, termasuk scripting/programming. Lagian biayanya terbilang murah.

Nama-nama Albert Einstein, Stephen Hawkins, Thomas Alfa Edison, Nicolas Tesla, Elon Musk berseliweran saat ngobrol tentang fisika dan teknologi. Nama dan bukunya Anthony de Mello (Way to Love), Ajahn Brahm (Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Opening the Door of Your Heart), dan Eckhart Tolle (The Power of Now) menjadi obrolan yang mencerahkan.

Akhir-akhir ini, jalan pagi mingguan ini cukup diminati, menarik lebih banyak peserta baru, Nany & Chandra, Ratinda, dan Elisabeth. Kelihatannya Nani berhasil meng-encourage (mengenai artinya, silakan mengacu ke Paragraf 6 di atas) Chandra untuk bangun sekitar jam 5 pagi di akhir pekan untuk berjalan lebih dari 7km. The power of emak-emak.

Agnes menjadi fotografer kami dalam perjalanan. Tanpa Agnes, bisa dipastikan tidak banyak dokumentasi dan tidak ada foto-foto kami yang beredar di media sosial. Pernah muncul dalam obrolan kami tentang bagaimana tanggapan dari anak-anak kami melihat tingkah polah atau foto-foto narcis orang tua mereka. Sangat mungkin mereka risih…

Saya sendiri suka mengambil foto-foto dengan ponsel sepanjang perjalanan karena keindahan dan keunikan alam. Meskipun saya tahu itu bukan cara terbaik untuk menikmati keindahan alam. But, I can’t resist. Tapi setidaknya saya berusaha tidak menjadi obsesif, hanya sekedarnya saja. Tidak sampai dibela-belain menghabiskan waktu untuk bisa mengambil suatu foto dari sudut, frame, dan komposisi yang ‘sempurna’, atau ditambah waktu untuk mengolahnya menjadi foto yang kelihatan lebih indah (dari aslinya), terus baru dipandangi. Bukankah akan lebih baik kita menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan pada saat ada tepat di depan mata.

Ada satu cerita Zen tentang seorang Guru Zen yang mengajak salah satu muridnya setiap kali dia pergi ke kaki gunung untuk menikmati pemandangan di senja hari. Mereka hanya boleh menikmati pemandangan dalam keheningan, tanpa kata-kata. Satu hari, murid yang diajak oleh Guru Zen ini tidak bisa menahan meluapkan emosinya melihat keindahan alam luar biasa yang ada di depan matanya sehingga dia bergumam: “alangkah indahnya…” Sejak itu dia tidak pernah lagi diajak oleh gurunya. Saat kita melukiskan suatu keindahan dengan kata-kata atau membatinkannya dalam pikiran, kita tidak lagi sedang menikmati keindahan itu tetapi memperhatikan kata-kata dan pikiran kita. Katanya, kata-kata atau pikiran yang menggambarkan keindahan itu bukanlah keindahan itu sendiri …

Peringatan: perlu dicatat bahwa gambar-gambar di atas ini tidak lebih dari kumpulan jutaan titik-titik noda (pixel) beraneka-warna, yang muncul pada gadget anda, tertangkap oleh mata, diproyeksikan oleh retina ke pusat syaraf penglihatan, diteruskan ke syaraf di otak, kemudian pikiran mempersepsikannya sesuai dengan pengkondisian pikiran itu sendiri, yang kemudian mungkin dipersepsikan sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan…

Terima kasih atas persahabatan dari teman-teman ABG. Semoga kita semua saling mendukung untuk hidup yang lebih sehat agar dapat menikmati dan mempertahankan kesehatan ini selama mungkin.

This too will pass… inipun akan berlalu…

Happy Australian Day – Aussie Aussie Aussie, Oi Oi Oi

Perth, 26 Januari 2021

Catatan Strava: https://www.strava.com/athletes/61343169

Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina yang Saya Kenal

Saya mengenal Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina belum lama, sekitar tahun 2017, di satu acara kegiatan masyarakat  Indonesia di Perth, Australia Barat. Perkenalan ini berlanjut dengan kegiatan bersama dimana Pak Tjipta (panggilan saya untuk beliau) dan Bu Roselina menyelenggarakan sejenis kegiatan sosial memperkenalkan Reiki (bio-energy) kepada masyarakat Indonesia di Perth. Beliau berdua adalah grand master Reiki yang mendirikan Waskita Reiki Foundation di Indonesia. Seingat saya, kami masih bertemu beberapa kali dan makan malam di satu rumah makan, sebelum saya pindah kerja ke Ghana, Afrika Barat, di awal tahun 2019. Sesekali kami masih berhubungan lewat Whatsapp. Saya dan isteri kembali ke Perth dari Ghana pada pertengahan 2020. Sejak itu, saya bekerja dari rumah karena selama pandemi Covid-19 ini.

Beberapa hari lalu, salah satu teman saya tertarik dengan suatu teknik jalan sehat yang katanya diajarkan oleh seseorang di Perth. Ternyata itu adalah anak sulung dari Pak Tjipta yang saya kenal. Ketika saya hubungi, Pak Tjipta dan Bu Roselina bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami. Kamipun mengatur acara jalan pagi kami untuk diadakan tidak jauh dari tempat kediaman Pak Tjipta. Bersama teman-teman, kami punya acara rutin jalan pagi bersama di akhir pekan.

Formasi pejalan dan pelari ABG (Anak Baru Gocap) dan Pak Tjiptadinanta dan Bu Roselina – 17 Januari 2021

Pagi ini, hari Minggu, 17 Januari 2021, kami bertemu dan ngopi bareng dengan Pak Tjipta dan Bu Roselina yang usai dari gereja, di salah satu kedai kopi di utara Perth. Semua teman-teman baru pertama kali bertemu dengan Pak Tjipta dan Bu Roselina. Namun ternyata kami bisa bercerita, bercanda tawa, bertukar pikiran dengan bebas sambil menikmati sarapan. Perbedaan usia diantara kami tidak menjadi penghalang atau pembatas untuk bercerita bebas. Saya dan teman-teman lebih kurang adalah seangkatan dengan anak Pak Tjipta dan Bu Roselina. Teman-teman banyak menanyakan prinsip bio-energy dan pola jalan sehat yang diajarkan. Disamping itu, kami juga bercerita tentang permasalahan kehidupan secara umum, bagaimana menjalani pola hidup sehat agar lebih bisa menikmati hidup dan berbahagia, dan juga kesempatan untuk melihat kehidupan ini dari sisi kelucuannya.

Ada tiga jenis orang yang tidak mempunyai masalah dalam kehidupan ini, orang yang sudah mati, orang yang pikun, dan orang yang gila.

Effendi Tjiptadinata

Pak Tjipta yang sudah paripurna dalam mengarungi badai kehidupan memberi ‘wejangan’ kepada kami yang muda-muda ini (mau nya…) bahwa ada tiga jenis orang yang tidak mempunyai masalah dalam kehidupan ini, orang yang sudah mati, orang yang pikun, dan orang yang gila. Kelihatannya kami semua sepakat untuk memilih tetap punya masalah dalam hidup ini… Bagaimanapun juga, mentertawakan diri sendiri adalah salah satu cara sehat dalam menjalani kehidupan ini.

Sarapan dan ngobrol seru bersama di Cafe Elixir, Wanneroo – 21 Januari 2021

Yang saya kagumi dari Pak Tjipta dan Bu Roselina adalah ketulusan untuk berbagi dan perhatian pada sesama (caring). Beliau bisa bergaul dengan banyak kalangan dan lapisan masyarakat, dan dikenal luas khususnya di dunia praktisi Reiki. Satu yang tidak bisa saya lupakan adalah perhatian dari Pak Tjipta dan Bu Roselina kepada adik saya penyandang kanker di tahun 2018. Pada saat itu masih awal perkenalan kami, tapi tanpa keraguan beliau berdua menawarkan untuk membantu melakukan penyaluran energi jarak jauh untuk adik saya. Demikian juga, saat beliau berdua kebetulan berkunjung ke Jakarta, beliau berdua menyempatkan diri mampir dan bertemu adik saya untuk membantu yang mereka bisa. Meski saya tidaklah begitu mengerti tentang bio-energy ini, tapi saya menyakini bahwa ketulusan dan kepedulian (caring) adalah daya penyembuh.

Pak Tjipta and Bu Roselina sekarang sama-sama berumur 77 tahun. Bulan Januari 2021 ini adalah ulang tahun perkawinan yang ke 56 tahun. Suatu berkah yang disyukuri bisa menikmati kesehatan prima pada usia ini. Pemeriksaan kesehatan mereka terakhir masih sangat baik, sehingga Pak Tjipta masih diberi izin mengemudi. Batas umum usia untuk mengemudi di Australia adalah 75 tahun. Sekarang, kegiatan beliau berdua adalah berkumpul keluarga dan bertemu dengan orang-orang seperti pagi ini, jalan-jalan berdua dengan mobil Nissan SUVnya menikmati hidup. Beliau berdua sedang menunggu kelahiran cicit pertama.

Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina, Selamat Ulang Tahun Perkawinan ke 56. Semoga senantiasa sehat dan bahagia…

Lim Eka Setiawan

Perth, Australia Barat

17 Januari 2021