Suasana Perayaan Chin Min (Ceng Beng) di Kampung di Pulau Bangka

Saya diminta oleh Koh Udaya Halim untuk ikut mengisi webinar bertema perayaan tradisi Ceng Beng pada 4 April 2021, bersama beliau dań dua kontributor lain, Koh Rusdy Tjahyadi dan Koh Henky Honggo, lewat Zoom and Youtube. Adalah kehormatan bagi saya untuk terlibat dalam forum yang digagas oleh Koh Udaya, seorang pendidik (pendiri King’s Group Education – pendidikan berbasis kreatifitas), aktifis budaya, pendiri Museum Benteng Heritage, juga ketua Persaudaraan PERTIWI (Peranakan Tionghoa dan Warga Indonesia). Kami juga sama-sama tinggal di Perth saat ini. Bersama teman-teman dan Jaringan Diaspora Indonesia (IDN), kami pernah bersama menyelenggarakan perayaan Imlek Cap Go Meh pertama di Perth di tahun 2017, dengan menampilkan budaya peranakan Tionghoa Indonesia dalam acara makan malam dan bazar. (https://www.facebook.com/imlek15meh).

Perayaan Ceng Beng kali ini juga bertepatan dengan Perayaan Paskah. Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Paskah kepada semua keluarga, teman-teman, dan semua yang merayakannya, semoga Paskah membawa berkah kedamaian and kebahagiaan.

Koh Udaya memaparkan begitu banyak informasi tentang asal usul Ceng Beng dan nihai-nilai yang mendasarinya, juga ditambahkan dengan sejarah layang-layang yang musimnya bertepatan dengan masa perayaan Ceng Beng. Koh Rusdy berbagi cerita tentang tradisi keluarga dalam persembahyangan Ceng Beng yang melibatkan keluarga besar dengan tata cara yang unik beserta kekayaan kuliner yang disajikan. Sementara Koh Henky menceritakan pernik-pernik proses perayaan Ceng Beng oleh masyarakat Tionghoa Palembang.

Semula, saya agak bingung juga mau menyampaikan apa dalam acara ini karena saya tidak punya pengetahuan tentang budaya. Lagian saya tidak begitu bisa berbicara (public speaking). Akhirnya saya pikir untuk sekedar menceritakan suasana perayaan Chin Min (Bahasa Hakka Bangka untuk Ceng Beng) di kampung di Bangka, tempat saya menjalani masa kecil dan remaja saya. Saya menampilkan banyak foto agar tidak perlu terlalu banyak ngomong – a picture paints a thousand words, kata orang.

Ibu Ineke Manaseh, moderator acara, memperkenalkan saya dan juga latar belakang saya sebagai pekerja tambang. Saya punya kesempatan bekerja di berbagai tambang (batubara, emas, tembaga) di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa), Laos, Australia, dan Ghana (Africa). Pulau Bangka sendiri terkenal dengan tambang timahnya.

Berikut di bawah ini tautan rekaman acaranya di Youtube. Terima kasih saya untuk Koh Han Hendra yang menghosting webinar ini dan menyediakan rekaman kegiatan ini.

Flyer webinar – 04 April 2021

Rekaman lengkap di Youtube – Acara Webinar

— 0 —

Bakti kepada orang tua dan leluhur mengakar dalam di budaya Tionghoa. Ajaran Konfusius banyak mengajarkan keutamaan bakti kepada orang tua. Seseorang yang punya rasa bakti yang tinggi dilihat sebagai orang yang bertanggung jawab, matang, dan bisa dipercaya. Ada ungkapan:

Dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang pertama

百善孝為先 – bǎi shàn xiào wèi xiān

Of all virtues, filial piety is the first 

Chinese wisdom

Saya yakin itu juga mengakar pada semua ajaran kebenaran/agama. Dalam  Ajaran Buddha terkenal Sutra Bakti Seorang Anak (Filial Piety Sutra), membabarkan tentang besarnya jasa dan pengorbanan orang tua untuk anaknya dan sulitnya membalas jasa-jasa orang tua. Tapi sebenarnya kita tidak perlu agama untuk mengajarkan kita bakti kepada orang tua, kita hanya perlu menjadi manusia untuk memiliki rasa itu.

bakti dalam kesederhanaan…

— 0 —

Kampung Tionghoa di Pulau Bangka

Bagi yang belum tahu, Pulau Bangka terletak di setelah selatan Sumatera atau sebelah barat laut dari Belitung. Mungkin Belitung lebih dikenal daripada Bangka. Kampung saya sendiri, Kampung Lumut, terletak di Bangka Utara yang ibukotanya adalah Belinyu. Kalau ke Bangka, setelah turun dari pesawat di kota Pangkalpinang, perjalanan ke arah Belinyu, akan melewati Sungailiat, dan tiba di Riau/Silip, lalu belok ke kiri di simpang Lumut, dan sekitar 3 km lagi untuk sampai di kampung Lumut. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Pangkalpinang.

Kampung Lumut terletak tidak jauh dari Gunung Maras (699 meter dari permukaan laut), bukit tertinggi di Bangka, dan ada satu jembatan panjang menyebrangi Sungai Perimping yang menjadi tempat ‘rekreasi’ masa kecil pada saat festival Pek Cun di sekitar bulan Juni.

Ada beberapa kelentang di sana. Salah satunya adalah Fuk Tek Tze dengan altar Toa Pek Kong (Thai Pak Kung & Thai Pak Pho), Kwan Kung, dan Kwan Im. Catatan terawal yang ada adalah pada tulisan di papan salah satu tiang yang menandakan tahun 1890. Diperkirakan pendirian kelentengnyanya jauh sebelum tahun tersebut.

Foto di kanan bawah adalah jalan utama Lumut. Waktu saya kecil, saya bersekolah di SD Siliwangi Lumut, rasanya maktu itu masih pakai Bahasa Khek (Hakka) di sekolah.

Masyarakat Bangka dikenal dengan suasana penuh toleransi dan rukun hidup bermasyarakat.

Tradisi dan Kearifan Lokal

Terakhir saya dan istri mudik ke Bangka di akhir tahun 2018, ditemani oleh Koh Udaya dan Cik Harum, sebelum saya berangkat tugas kerja ke Ghana, Afrika. Perjalanan yang sangat menarik sepanjang jalan, saya belajar banyak tentang kebudayaan peranakan Tionghoa, bahkan tentang kearifan lokal tempat saya dibesarkan. Foto-foto dalam slide ini adalah foto Koh Udaya.  

Kami meluangkan waktu ke Belinyu, kota terdekat dari kampung saya, sekitar 25km. Kami juga berkunjung ke Mentok dan Jebus (Parit 3) ditemani oleh Suwito Wu dan Sugia Kam, dan ke The House of Lay di Pangkalpinang bersama Koh Hongky Lie dan Koh Mingky Lie.

Di Belinyu, kami mengunjungi pemakaman umum Tionghoa (Kung Bu Jan) di Belinyu, tempat kakek dan nenek dari pihak ibu dimakamkan. Karena kami kesana bukan pada masa Cheng Beng, kelihatannya agak semak, tapi sebenarnya sangat terawat dan sangat ramai pada saat Cheng Beng, tentu pada masa sebelum pandemi Covid.

Ada satu peninggalan Benteng Kuto Panji (Benteng Bong Kap / Bong Kap Sang) yang kami kunjungi. Dikisahkan Bong Kap datang pada masa Dinasti Ching pada awal abad 18, sebelumnya mampir ke Kesultanan Palembang dan menjadi pejabat penting dipercayaan mengatur perdagangan di Bangka.

Baru kali ini saya mengunjungi Benteng Bong Kap ini meskipun saya dulu bersekolah menengah di Belinyu. Benteng menghadap ke satu kolam (yang dulu katanya sungai menuju ke laut) dan di samping kelenteng yang berdiri megah. Kami sampai di senja hari menjelang malam, dan menghabiskan beberapa waktu meresapi keheningan suasana benteng yang tinggal puing-piung. Ada satu makam yang sudah direnovasi di ujung bangunan, terlulis tahun ‘sekitar 1700’.

Di Lumut, mampir ke rumah orang tua saya yang sudah tidak dihuni lagi. Setelah sembahyang di altar keluarga kami mengunjungi satu rumah bangunan tua yang bergarak 4 rumah. Koh Udaya sangat tertarik dengan altar Kwan Kung (Guan Yu) dan arsitektur rumahnya. Kwan Kung adalah salah satu dewa/boddhisatva yang dipuja luas oleh masyarakat Tionghoa penganut Konfusius, Taois, dan Buddhis Mahayana, yang diyakini memanifestasikan nihai-nilai keadilan, keberanian, dan kesetiaan.

Altar Kwan Kung dengan kertas altar original yang masih cukup utuh meski sudah menghitam oleh asap dupa. Katanya kertas altar ini didatangkan dari Singapura pada masa itu. Saya ingat masa kecil saya bangunan rumahnya sangat besar, dan salah satu yang terbaik kampung. Kini sudah rapuh, bagian dapur sudah dirobohkan, yang dalam gambaran waktu kecil saya, sangat luas dengan pekarangan di tengah. Saya masih kenal baik dengan pewaris rumah itu, Bong Chiung, yang berumur beberapa tahun lebih muda dari saya.

Satu hal yang saya tidak habis pikir, rumah yang dipilih oleh Koh Udaya untuk dikunjungi selalu ada altar Kwan Kung, termasuk satu rumah kecil sederhana yang tiba-tiba ditunjuk oleh Koh Udaya untuk dimampiri di daerah Sin Chong (5 km dari Belinyu jalan ke Pangkalpinang). Katanya rumah tua yang memiliki altar Kwan Kung biasanya adalah rumah/bangunan komunal, tempat dimana orang-orang berkumpul pada masa itu. Sayang kami tidak berkesempatan bertemu dengan pemiliknya.

Peninggalan Kejayaan Masa Lalu – Kampung Gedong

Satu bagian dari kampung ada namanya Kampung Gedong (Liuk Fun Thew). Sisa sisa kejayaan masih bisa dilihat dari beberapa rumah yang boleh dibilang mewah pada jamannya. Seorang peneliti dari Kementrian Kebudayaan dan Parawisata, Dewi Setiati, dalam tulisannya menyebutkan1 Liuk Fun Thew (Perkumpulan 6 Pemimpin) merupakan salah satu distrik penambangan dari 36 distrik penambangan di zaman kolonial Belanda.

Perlahan, rumah dengan arsitektur khas ini akan hancur dimakan usia kalau tidak ada upaya melestarikannya. Waktu saya kecil, masyarakat Kampung Gedong banyak bermatapencaharian sebagai nelayan. Letaknyapun di dekat sungai air payau. Sekarang melaut bukan lagi pencaharian utama karena generasi nelayan sudah tua, sementara yang muda-muda banyak merantau keluar pulau. Kampung Gedong dikenal sebagai kampung wisata budaya. Beberapa stasiun TV swasta nasional pernah melakukan liputan di Kampung Gedong ini tentang kehidupan keseharian masyarakat di sana.

Tiga bagian bangunan yang ditampilkan dalam slide ini adalah satu bangunan/rumah besar yang terhubung satu sama lain. Sepertinya ini adalah gedung komunal yang menurut saya merupakan bangunan termegah di kampung pada jamannya. Ada satu foto ukuran besar digantungkan di depan rumah menunjukkan status sosial sebagai pejabat atau penguasa pada jamannya.

Salah satu makanan khas Bangka terkenal dengan kerupuk/kemplang (kum pang – Bahasa Khek lokal) yang menggunakan bahan tapioka dan ikan atau udang. Kita mengungungi salah satu industri kemplang milik Cu Khiong yang saya kenal, dan melihat proses pembuatannya. Kami juga disuguhi minum dan berbagai jenis kerupuk termasuk mencicipi bahan kemplang udang yang baru selesai dikukus (kum pang thung) másih hangat, kenyal dan enak.

Ada banyak varian dari kerupuk ini, ada yang dipanggang atau digoreng. Bentuknya pun berbagai jenis seperti kerupuk, kemplang, getas. Kwalitas kerupuk Bangka premium karena komposisi bahan, kwalitas ikan/udang yang segar, dan juga proses pembuatan dan pengolahannya. Menurut saya, kwalitas kerupuk/kemplang yang terbaik adalah kerupuk Bangka khususnya yang dari Lumut. Kalau tidak percaya silakan dicoba. Tentu saja, saya bias dengan penilaian saya.

Tradisi Mempererat Persaudaraan dan Kekeluargaan

Ini adalah kumpulan foto-foto beberapa tahun lalu menggambarkan suasana bersama saudara dan keluarga dari pihak ayah saya. Ini adalah kompleks pemakaman kedua orang tua saya, kakek dan nenek, termasuk makam adik saya yang meninggal lebih dari 25 tahun lalu. Juga bersama mama saya waktu beliau masih hidup. Di rumah saya juga ada altar untuk orang tua, kakek/nenek, buyut. Sembahyang Ceng Beng biasanya dimulai subuh sebelum matahari terbit.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi Ceng Beng ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Bersama saudara yang menjalani kehidupan masing-masing bisa berkumpul kembali di satu tempat dan bagi kita untuk bercerita mengenang masa bersama dulu saat orang tua kita masih bersama kita, mengenang jasa-jasa dan kasih sayang orang tua kita.

Pemakaman di Kampung tidak ada batas seperti komplek seperate di kota. Jarak antar komplek kuburan lebih adalah bekas kebun keluarga, tapi semua cukup berdekatan (kadang berjarak 50 meter). Wangi dupa yang sangat kentara dan suasana hening di pagi hari selalu mengesankan saya.

Hal yang menyenangkan lagi, setelah persembahyangan, kami boleh langsung ngemil di tempat, tanpa harus menunggu sampai di rumah: bisa buah, kue, daging, biasanya yang dipilih adalah jeroannya. Sampai dirumah, acara masak keluarga dan kami semua makan siang bersama. Di masa kecil dulu, makan daging ayam atau buah mahal hanya menjadi menu pada hari-hari tertentu seperti Cheng Beng ini. Untuk alasan itu, Ceng Beng menjadi hari istimewa bagi sebagian besar kami yang besar di kampung, dan sekarang menjadi sesuatu indah untuk dikenang.

Mewariskan Tradisi kepada Generasi Berikutnya

Ini foto-foto kiriman Suwito Wu dari Ceng Beng tahun ini di Muntok. Tata cara persembahyangan Ceng Beng yang umum di Bangka menggunakan peralatan sembahyang yang berupa lilin, dupa, kertas sembahyang (nyiun ci – kertas perak, dan kim ci – kertas emas) .

Kelihatannya yang khas untuk persembahyangan di Bangka adalah thong chien (kertas cho ci yang dipotong berjuntai) yang digantungkan di sisi kiri dan kanan kuburan, dan kai hiet ci (kertas cho ci yang ditetesi darah ayam) yang ditetakkan di atas nisan.

Tradisi Mempererat Hubungan Sosial Sekampung

Berikut adalah foto beberapa tahun lalu suasana Ceng Beng di pemakaman keluarga sekampung. Pemakaman keluarga yang sangat sederhana. Meskipun berdekatan atau seperti kompleks, tapi sebenarnya tidak ada tempat yang dikelolah khusus seperti layaknya pemakaman di kota. Boleh di bilang ini seperti di kebon masing-masing, sepertinya hanya kesepakatan bersama.

Kesederhanaan perayaan disini bisa terlihat, tapi kebersamaan dan suasana kekeluargaan sangat terasa. Tempat semua berkumpul di pemakaman orang tua dan leluhur masing-masing untuk untuk melakukan penghormatan.

Disini kita bisa dengan mudah bertemu dengan teman-teman lama yang sudah merantau kemana-mana, dan sama-sama pulang dan berkumpul kembali di kampung. Sebagai perantau lebih dari 35 tahun seperti saya, kadang hal yang ‘memalukan’ sering terjadi, karena tidak lagi ingat nama-nama semua orang di kampung. Karena kampung kecil, sebagian besar masih ingat nama saya. Kalau jalan-jalan di kampung saya ajak teman karib saya atau adik saya. Saya masih punya beberapa teman karib masa kecil di sana, yang masih berhubungan hingga sekarang.

Bakti Kepada Orangtua dan Leluhur itu Sederhana

nilai kebajikan bakti kepada orang tua dan leluhur – sesuatu yang sederhana namun luhur

Kalau kita lihat lebih dalam, tradisi bakti kepada orang tua/leluhur mengakar di dalam budaya Tionghoa sangat utama, seperti dikemukaan di bagian awal tadi. Bagi saya pribadi, saya hanya ingin memaknainya dengan lebih sederhana, bahwa perayaan Ceng Beng (Chin Min) adalah salah satu ungkapan bakti kepada orang tua dan leluhur dalam masyarakat Tionghoa yang diyakini merupakan suatu kebajikan, yang dalam perjalanan sejarah panjang mereka kemudian menjadi suatu tradisi yang membawa nilai kearifan.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, memberi kesempatan berkumpul kembali di satu tempat dan berbagi bercerita, dan kalau mau lebih spiritual – tradisi ini mengajarkan bahwa kita dekat dengan kematian itu sendiri, tidak ada yang kekal, dan suatu saatpun kitapun akan berakhir disini.

Saya berharap 2 foto diatas bisa sedikit melukiskan nilai-nilai kebajikan perayaan Ceng Beng ini, akan ungkapan bakti kepada orang tua/leluhur dalam kesederhanaan di kampung. Juga, ada yang datang ke makam orang tua atau leluhur hanya untuk menancapkan hio, menyalakan lilin, dan membakar kertas sembahyang, dan tentu dengan iringan doa – karena hanya itu yang mampu dilakukan (foto di sebelah kanan).

Tradisi ini sebisanya kita kenal, nikmati, dan rawat untuk anak cucu kita. Karena tradisi ini sudah berlangsung lama menembusi waktu dan tempat, tidak bisa dihindari timbul berbagai ragam dalam tata cara hasıl akulturasi dengan budaya setempat, yang justru memperkaya tradisi tersebut. Ragam perayaan ini dapat disaksikan dari cerita Koh Udaya, Koh Hengky, and Koh Rusdy dalam forum webinar ini.

Menurut saya boleh saja kita menyesuai dengan tradisi dengan perubahan yang terus berlangsung, misalnya tidak ingin memberi persembahan bernyawa dengan pertimbangan keyakinan, atau apapun. Saya sendiri hanya mempersembahkan satu piring buah-buahan untuk setiap makam. Tahun ini, saya hanya menitipkannya kepada adik saya yang tinggal di Belinyu.

Namun kita tidak perlu merasa malu dengan tradisi seperti ini karena dianggap kuno atau bertentangan dengan keyakinan baru kita. Kita bisa saja punya pengetahuan atau keyakinan baru yang kita anggap lebih masuk akal dengan segala dalilnya, tapi kalau kita mengagungkan ‘pengetahuan’ semata, kita bisa kehilangan kearifan yang menjadi dasar prilaku berbudaya dari suatu peradaban.

Tata cara suatu tradisi akhirnya akan berubah dan berangsur memudar dalam perjalanan waktunya. Untuk itu, kita perlu merawatnya sebisa mungkin dań sekaligus menikmatinya. Namun nilai-nilai kebajikan bakti kepada orang tua seharusnya bertahan dan akan selalu ada di dalam hati setiap manusia.

Suasana Kampung yang Ngangenin

Sebagai penutup dari cerita saya, saya ingin berbagi cara saya menikmati suasanya kampung kala saya mudik. Saya merasa sangat beruntung, punya kampung halaman, dan punya kesempatan untuk kembali dari waktu ke waktu.

Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati, utamanya hal-hal yang sederhana. Yang pertama, tentu bisa bertemu dengan orang tua saat mereka masih ada. Kini, kedua orang tua sudah meninggal. Dan rumah di kampung pun sudah tidak ditinggali. Namun, saya masih ingin meluangkan waktu untuk mudik saat kondisi memungkinkan.

Ada banyak hal yang ngangenin, ngobrol dengan teman waktu kecil, menelusuri jalan setapak di belakang rumah, melihat kolong tempat mandi dulu, merasakan udara segar lepas dari hiruk pikuk kesibukan masyarakat kota, ngobrol dengan orang-orang tua di kampung dan mendengar cerita keseharian mereka.

Perth, 05 April 2021

Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

ABG Xmas Belly Challenge 2021

Tidak terasa, saya bisa aktif berolahraga jalan selama 24 jam menempuh jarak sekitar 120 km dalam 3 minggu terakhir ini, lebih dari 1 jam rata-rata per-hari. Ini gara-gara ikut tantangan berolahraga bersama teman-teman Gang ABG (Anak Baru Gocap – baca: orang tua usia diatas 50 tahun). Ini tidak lazim karena saya belum pernah berjalan selama dan sejauh itu sebelumnya, dengan rutin hampir setiap hari.

Saya tidak meminati olahraga apapun. Saat kecil dan remaja, diwaktu teman-teman sebaya bermain basket, olahraga paling populer di kampung, saya lebih banyak berdiam diri dan bersekolah. Mungkin ‘tulang’ saya tidak bagus… Di sekolah menengah dulu, pelajaran olahraga menjadi momok terutama saat pengambilan nilai praktek, seperti lompat tinggi, lompat jauh, tolak peluru, lari jarak pendek, dll. Saya sebenarnya suka berenang karena sering mandi di kali atau kolong bekas tambang timah tidak jauh dari rumah. Tapi tidak ada pengambilan nilai untuk berenang karena di sekolah tidak ada kolam renangnya. Lagian kalau ada belum tentu nilai saya bisa bagus kerena saya hanya lancar berenang di kali/kolong bukan di kolam renang, dengan gaya bebas yang sebebas-bebasnya.

Teman-teman ABG sebenarnya adalah komunitas teman-teman Katolik. Dimana anggota kehormatannya adalah Romo Hari Suparwito SJ, seorang pastur dari ordo Societas Jesu, yang mengambil studi doktoral (S3) di Perth, yang sekarang berada ke Indonesia, dan juga ikut tantangan olahraga ini dengan kayuhan sepedanya yang bisa sampai 4 – 5 jam sehari. Hanya saya satu-satunya non-katolik di dalam group. Sepertinya saya adalah domba yang tersesat di jalan yang benar.

Tantangan berolahraga ini diprakarsai oleh Hasan dan Feby yang memang pelari dan pemain bulu tangkis. Tantangan diberi nama ABG Xmas Belly Challenge 2021, tanggal 4 – 24 Januari. Cita-citanya: togetherness and teamwork to encourage others to be more active and healthy – kebersamaan dan kerja team untuk menyemangati yang lain agar lebih aktif dan sehat. Cita-cita yang mulia…

Tantangan diukur dengan jumlah waktu berolahraga yang direkam dengan Stava. Jenis olahraga bisa dari jalan/hiking, lari, sepeda, treadmill, yang akan dihitung waktunya. Uniknya, sistim penilaian diantara anggota satu team dibuat tidak berimbang. Anggota team yang paling sedikit waktunya akan mendapat bobot 75% dalam penghitungan nilai, sementara dua anggota lainnya hanya berbobot 25%. Tujuannya agar anggota yang aktif bisa mendorong (dalam arti yang sebenarnya…) anggota yang kurang aktif.

Sistim ini berhasil membuat orang-orang yang kurang aktif seperti saya untuk turun gunung (nggak ingat kalau dulu pernah naik gunung…), kalau tidak mau di-encourage (baca: ‘diomelin’) oleh anggota team yang kebetulan emak-emak, salah-salah bisa klar hidup loe…. Dari teman-teman di ABG yang berminat, terbentuklah 6 team dengan masing-masing beranggotakan 3 orang. Team saya adalah Linda and Inda. Linda adalah pelari dengan motto ‘listen to my feet’ dan ‘tiada hari tanpa lari‘, sementara Inda yang dikenal ‘endurance‘-nya kalau jalan bisa lama, panjang, dan sering. Saya hanya mengimbanginya saja, agar tidak ada perbedaan waktu yang lebar, sehingga nilai bisa optimal. Maka lengkaplah kedigdayaan team kami…

Lucas yang tinggal di Kota Kinabalu, Malaysia ikut dalam tantangan ini, dan dengan rajin sekali menyiarkan hasil perhitungan nilai sementara, sehari bisa 2 kali diperbaharui, Ini nambah seru persaingan, terutama pada minggu terakhir, minggu ke 3. Saling mengejar, menyemangati, dan mengolok menjadikan group whatsapp meriah.

Penutupan acara dilakukan alam acara jalan bersama di tanggal 26 January, bertepatan dengan Australian Day, berjalan/berlari didaerah Deep Water Point Reserve, Mt Pleasant, sepanjang loop 7 km. Wajah-wajah ceria dan tanpa beban tampak sekali menghiasi wajah setiap orang, mungkin karena setelah 3 minggu cukup tegang…

Setelah ngopi dan sarapan di Dome, semua berkumpul. Sayang, Vivien harus pulang duluan. Vivien masuk ke dalam team di minggu ke tiga mewakili/menggantikan Hengki yang tidak bisa meneruskan tantangan ini karena kesibukan dan kondisi kaki.

Berikut ini pengumuman hasil akhir ABG Xmas Belly Challenge yang tidak boleh diganggu-gugat, oleh Hasan:

Team 2 (Linda/Lim/Inda) dengan konsistensinya keluar sebagai juara, memimpin dari awal. Surpisingly, waktu kumulatif hampir dikejar oleh Team 5 (Gatot/Ming/Nany) di minggu ke-3. Team 6 (Agnes/Beth/Imel) juga membuat kejutan dengan merangsek ke posisi 3, the power of ibuk2. Sementara Team 3 (Lucas/Christine/Andri) harus merelakan podium. Team 4 (now Feby/Tina/Vien) berhasil mendongkrak posisi buncit di minggu 1 & 2 sehingga Team 1 (Romo/Ir/Elsa) harus puas di posisi juru kunci.

Hasil resmi hitungan akhir ABG Xmas Belly Challenge, sumber: WAG ABG 25 Jan 2021

Hore.. team kami juara beregu! Disamping juara team, ada 2 juara perorangan yang yang dianugrahkan, yaitu untuk kemajuan yang konsisten dari minggu ke minggu, juaranya adalah Nany yang meningkatan jam nya dari 4 jam ke 7 jam dan 13 di minggu terakhir. Beberapa yang lainnya seperti Christine dan Feby sangat meningkat jamnya namun tidak konsisten dari minggu ke minggu. Penghargaan perorangan lainnya adalah untuk Elisabeth yang baru datang dari luar negeri (Indonesia) yang tetap bersemangat mengikuti tantangan ini dari kamar karantinanya di hotel selama 2 minggu.

Beberapa teman tidak ikut tantangan ini karena berbagai kesibukan, diantaranya Hendarmin dan Ling-Ling. Mereka ikut menyemangati kegiatan ini lewat penyediaan voucher Tim’s Thai, restaurant masakan Thailand milik mereka.

kumpul bersama berakhirnya ABG Xmas Belly Challenge – Australian Day 26 January 2021

Kami berbagi cerita dan pengalaman selama mengeluti tantangan selama 3 minggu ini. Beragam cerita mengalir, dari yang kocak hingga yang serius, dari menceritakan pengalaman hingga curhatan. Hasan, Feby, dan Gatot yang sudah mahir berlari berbagi pangalaman dan ilmu tentang hal-hal yang perlu dilakukan jika ingin meningkatkan intensitas latihan cardio-nya. Tak kurang cerita tentang perjuangan ‘mengatasi’ kemalasan sendiri. Ternyata setelah dijalani, bisa juga. Ada pepatah bijak, thinking about it is hard, doing it is easy – memikirkannya berat, mengerjakannya mudah.

Semua tampak ceria dan bahagia… Katanya, kebahagiaan selalu ada tepat di sini, di saat kini, jangan lagi dicari kemana-mana, hanya perlu disadari…

I have arrived

I am home

My destination is in each step

Thich Nhat Hanh

— 0 —

Disamping olahraga sendiri-sendiri, juga acara jalan barengan setiap minggu, biasanya Sabtu, kadang Minggu, mulai jam 6 pagi. Irianto adalah kepala regunya yang menentukan jam berkumpul dan merencanakan rute, termasuk melihat kalau ada tidak tersedianya WC umum, dll. Tina membantu mencarikan tempat ngumpul untuk ngopi yang nyaman setelah jalan. Satu kali kami pernah mengambil rute di sekeliling di biara Bodhinyana monastery dan Jhana Grove Meditation Centre-nya Ajahn Brahm di Serpentine.

Kami hanya ingin menikmati hal-hal yang sederhana seperti keindahan alam dan udara bersih yang tersedia oleh alam di Australia Barat ini lewat taman-taman dan jalur-jalur hiking yang begitu banyak dan beragam. Pasangan yang rutin berjalan pagi ini adalah Irianto & Inda, Agung & Tina, Gatot & Agnes, dan Christine & saya. Saya dan Christine sebenarnya baru bergabung sejak 2 bulan terakhir. Motto team ini adalah ‘low expectation‘ atau tidak berharap banyak. Berjalan hanya sekedar menikmati jalan-jalan, tidak ada target tertentu yang harus dicapai atau dikejar, kadang jalan jauh kadang dekat. Kalau rutenya nyasar yah balik lagi, sering terjadi karena jalan di hutan – meski sudah dipandu oleh applikasi AllTrail ber GPS.

Selain alam dan udara segar, saya juga sangat menikmati obrolan kami sepanjang perjalanan dan saat ngopi/sarapan. Topik yang beragam dan kadang tidak lazim, mulai dari pengetahuan fisika, home assistant, bisnis, artificial intelegence, hingga spiritualitas. Obrolan tentang fisika kwantum, sistim smart home dengan monitor dan kontrol jarak jauh, ide dan pembangunan platform pemasaran online untuk jaringan bisnis atau restoran, hingga akademi kebahagiaan – tentang faktor-faktor untuk menjadi atau merasakan kebahagiaan.

Latar belakang kami memang berbeda-beda, untuk itu topik obrolan juga bercampur-aduk. Gatot dan saya adalah kelas pekerja di perminyakan dan pertambangan. Irianto adalah pengajar di Murdoch University, Perth, yang juga mantan kepala sekolah sekolah menengah Santo Aloysius di Bandung, sekaligus guru mata pelajaran fisika. Sedangkan Agung adalah salah satu founder jaringan restoran seafood D’Cost di Indonesia, yang terkenal dengan inovasi bisnisnya.

Agung dengan minatnya di IT (information technology) dan AI (artificial intelegence) membantu teman-teman yang berminat di home assistant (HAss.IO) untuk membuat sendiri jaringan smart home yang relatif murah. Saya juga ikut tapi belum bergerak kemana-mana alias masih berjalan di tempat. Saya punya Rasberry Pi dan beberapa perangkat dasar untuk memulai. Saya tertarik dengan home assistant karena dulu suka dengan prakarya elektronik sewaktu di SMA, dan merasa bisa dijadikan mainan yang bisa dinikmati di hari tua agar tidak cepat pikun karena melibatkan banyak perencanaan, kreatifitas, termasuk scripting/programming. Lagian biayanya terbilang murah.

Nama-nama Albert Einstein, Stephen Hawkins, Thomas Alfa Edison, Nicolas Tesla, Elon Musk berseliweran saat ngobrol tentang fisika dan teknologi. Nama dan bukunya Anthony de Mello (Way to Love), Ajahn Brahm (Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Opening the Door of Your Heart), dan Eckhart Tolle (The Power of Now) menjadi obrolan yang mencerahkan.

Akhir-akhir ini, jalan pagi mingguan ini cukup diminati, menarik lebih banyak peserta baru, Nany & Chandra, Ratinda, dan Elisabeth. Kelihatannya Nani berhasil meng-encourage (mengenai artinya, silakan mengacu ke Paragraf 6 di atas) Chandra untuk bangun sekitar jam 5 pagi di akhir pekan untuk berjalan lebih dari 7km. The power of emak-emak.

Agnes menjadi fotografer kami dalam perjalanan. Tanpa Agnes, bisa dipastikan tidak banyak dokumentasi dan tidak ada foto-foto kami yang beredar di media sosial. Pernah muncul dalam obrolan kami tentang bagaimana tanggapan dari anak-anak kami melihat tingkah polah atau foto-foto narcis orang tua mereka. Sangat mungkin mereka risih…

Saya sendiri suka mengambil foto-foto dengan ponsel sepanjang perjalanan karena keindahan dan keunikan alam. Meskipun saya tahu itu bukan cara terbaik untuk menikmati keindahan alam. But, I can’t resist. Tapi setidaknya saya berusaha tidak menjadi obsesif, hanya sekedarnya saja. Tidak sampai dibela-belain menghabiskan waktu untuk bisa mengambil suatu foto dari sudut, frame, dan komposisi yang ‘sempurna’, atau ditambah waktu untuk mengolahnya menjadi foto yang kelihatan lebih indah (dari aslinya), terus baru dipandangi. Bukankah akan lebih baik kita menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan pada saat ada tepat di depan mata.

Ada satu cerita Zen tentang seorang Guru Zen yang mengajak salah satu muridnya setiap kali dia pergi ke kaki gunung untuk menikmati pemandangan di senja hari. Mereka hanya boleh menikmati pemandangan dalam keheningan, tanpa kata-kata. Satu hari, murid yang diajak oleh Guru Zen ini tidak bisa menahan meluapkan emosinya melihat keindahan alam luar biasa yang ada di depan matanya sehingga dia bergumam: “alangkah indahnya…” Sejak itu dia tidak pernah lagi diajak oleh gurunya. Saat kita melukiskan suatu keindahan dengan kata-kata atau membatinkannya dalam pikiran, kita tidak lagi sedang menikmati keindahan itu tetapi memperhatikan kata-kata dan pikiran kita. Katanya, kata-kata atau pikiran yang menggambarkan keindahan itu bukanlah keindahan itu sendiri …

Peringatan: perlu dicatat bahwa gambar-gambar di atas ini tidak lebih dari kumpulan jutaan titik-titik noda (pixel) beraneka-warna, yang muncul pada gadget anda, tertangkap oleh mata, diproyeksikan oleh retina ke pusat syaraf penglihatan, diteruskan ke syaraf di otak, kemudian pikiran mempersepsikannya sesuai dengan pengkondisian pikiran itu sendiri, yang kemudian mungkin dipersepsikan sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan…

Terima kasih atas persahabatan dari teman-teman ABG. Semoga kita semua saling mendukung untuk hidup yang lebih sehat agar dapat menikmati dan mempertahankan kesehatan ini selama mungkin.

This too will pass… inipun akan berlalu…

Happy Australian Day – Aussie Aussie Aussie, Oi Oi Oi

Perth, 26 Januari 2021

Catatan Strava: https://www.strava.com/athletes/61343169

Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina yang Saya Kenal

Saya mengenal Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina belum lama, sekitar tahun 2017, di satu acara kegiatan masyarakat  Indonesia di Perth, Australia Barat. Perkenalan ini berlanjut dengan kegiatan bersama dimana Pak Tjipta (panggilan saya untuk beliau) dan Bu Roselina menyelenggarakan sejenis kegiatan sosial memperkenalkan Reiki (bio-energy) kepada masyarakat Indonesia di Perth. Beliau berdua adalah grand master Reiki yang mendirikan Waskita Reiki Foundation di Indonesia. Seingat saya, kami masih bertemu beberapa kali dan makan malam di satu rumah makan, sebelum saya pindah kerja ke Ghana, Afrika Barat, di awal tahun 2019. Sesekali kami masih berhubungan lewat Whatsapp. Saya dan isteri kembali ke Perth dari Ghana pada pertengahan 2020. Sejak itu, saya bekerja dari rumah karena selama pandemi Covid-19 ini.

Beberapa hari lalu, salah satu teman saya tertarik dengan suatu teknik jalan sehat yang katanya diajarkan oleh seseorang di Perth. Ternyata itu adalah anak sulung dari Pak Tjipta yang saya kenal. Ketika saya hubungi, Pak Tjipta dan Bu Roselina bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami. Kamipun mengatur acara jalan pagi kami untuk diadakan tidak jauh dari tempat kediaman Pak Tjipta. Bersama teman-teman, kami punya acara rutin jalan pagi bersama di akhir pekan.

Formasi pejalan dan pelari ABG (Anak Baru Gocap) dan Pak Tjiptadinanta dan Bu Roselina – 17 Januari 2021

Pagi ini, hari Minggu, 17 Januari 2021, kami bertemu dan ngopi bareng dengan Pak Tjipta dan Bu Roselina yang usai dari gereja, di salah satu kedai kopi di utara Perth. Semua teman-teman baru pertama kali bertemu dengan Pak Tjipta dan Bu Roselina. Namun ternyata kami bisa bercerita, bercanda tawa, bertukar pikiran dengan bebas sambil menikmati sarapan. Perbedaan usia diantara kami tidak menjadi penghalang atau pembatas untuk bercerita bebas. Saya dan teman-teman lebih kurang adalah seangkatan dengan anak Pak Tjipta dan Bu Roselina. Teman-teman banyak menanyakan prinsip bio-energy dan pola jalan sehat yang diajarkan. Disamping itu, kami juga bercerita tentang permasalahan kehidupan secara umum, bagaimana menjalani pola hidup sehat agar lebih bisa menikmati hidup dan berbahagia, dan juga kesempatan untuk melihat kehidupan ini dari sisi kelucuannya.

Ada tiga jenis orang yang tidak mempunyai masalah dalam kehidupan ini, orang yang sudah mati, orang yang pikun, dan orang yang gila.

Effendi Tjiptadinata

Pak Tjipta yang sudah paripurna dalam mengarungi badai kehidupan memberi ‘wejangan’ kepada kami yang muda-muda ini (mau nya…) bahwa ada tiga jenis orang yang tidak mempunyai masalah dalam kehidupan ini, orang yang sudah mati, orang yang pikun, dan orang yang gila. Kelihatannya kami semua sepakat untuk memilih tetap punya masalah dalam hidup ini… Bagaimanapun juga, mentertawakan diri sendiri adalah salah satu cara sehat dalam menjalani kehidupan ini.

Sarapan dan ngobrol seru bersama di Cafe Elixir, Wanneroo – 21 Januari 2021

Yang saya kagumi dari Pak Tjipta dan Bu Roselina adalah ketulusan untuk berbagi dan perhatian pada sesama (caring). Beliau bisa bergaul dengan banyak kalangan dan lapisan masyarakat, dan dikenal luas khususnya di dunia praktisi Reiki. Satu yang tidak bisa saya lupakan adalah perhatian dari Pak Tjipta dan Bu Roselina kepada adik saya penyandang kanker di tahun 2018. Pada saat itu masih awal perkenalan kami, tapi tanpa keraguan beliau berdua menawarkan untuk membantu melakukan penyaluran energi jarak jauh untuk adik saya. Demikian juga, saat beliau berdua kebetulan berkunjung ke Jakarta, beliau berdua menyempatkan diri mampir dan bertemu adik saya untuk membantu yang mereka bisa. Meski saya tidaklah begitu mengerti tentang bio-energy ini, tapi saya menyakini bahwa ketulusan dan kepedulian (caring) adalah daya penyembuh.

Pak Tjipta and Bu Roselina sekarang sama-sama berumur 77 tahun. Bulan Januari 2021 ini adalah ulang tahun perkawinan yang ke 56 tahun. Suatu berkah yang disyukuri bisa menikmati kesehatan prima pada usia ini. Pemeriksaan kesehatan mereka terakhir masih sangat baik, sehingga Pak Tjipta masih diberi izin mengemudi. Batas umum usia untuk mengemudi di Australia adalah 75 tahun. Sekarang, kegiatan beliau berdua adalah berkumpul keluarga dan bertemu dengan orang-orang seperti pagi ini, jalan-jalan berdua dengan mobil Nissan SUVnya menikmati hidup. Beliau berdua sedang menunggu kelahiran cicit pertama.

Pak Tjiptadinata dan Bu Roselina, Selamat Ulang Tahun Perkawinan ke 56. Semoga senantiasa sehat dan bahagia…

Lim Eka Setiawan

Perth, Australia Barat

17 Januari 2021

‘Hut Warming’ di Biara Hutan Bodhinyana

Kami mendapat berkesempatan mengunjungi kuti bhikkhu Ananda (kuti – sebutan untuk pondok tempat tinggal para bhikkhu) dan juga menikmati suasana hutan di Bodhinyana Monastery, Serpentine, lebih kurang 50km sebelah selatan Perth, Australia Barat.

Bhikkhu Ananda baru saja pindah pondok, jadi ini sejenis undangan menempati pondok baru – ‘hut warming‘. Pondok tempat kediaman bhikkhu ini disebut ‘kuti‘ dalam bahasa Pali. Kami mengunjungi pondok yang baru dan juga pondok yang lama.

Bhikkhu Ananda menuju pondok barunya

Bhikkhu Ananda adalah seorang biarawan buddhis muda yang melatih diri di Bodhinyana Monastery, Serpentine. Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan) di bulan April 2018 dan kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu oleh Ajahn Brahm di bulan Juni 2019. Saya berkesempatan menghadiri kedua penahbisan tersebut.

Bersama teman-teman Indonesia setelah acara Kathina pada tanggal 4 Oktober 2020, bhikkhu Ananda bermurah hati mengajak kami jalan-jalan di kawasan hutan Bodhinyana Monastery yang sangat luas. Kathina adalah perayaan berakhirnya masa retret 3 bulanan (vassa) para bhikkhu sejak jaman Sang Buddha. Masa ini bertepatan pada musim hujan (di India) dimana banyak binatang kecil keluar di hutan. Untuk menghindari terinjak-injaknya binatang ini, para bhikkhu mengurangi kegiatan keluarnya dan menggunakan kesempatan secara khusus melatih diri selama musim hujan tersebut.

Bhikkhu Ananda memimpin tour jalan-jalan di sekitar Bodhinyana Monastery

Sebagian besar teman-teman Indonesia yang ikut adalah teman baru, baru kali pertama bertemu. Sebagian kami memang sudah tinggal dan bekerja di Perth, sebagian lagi adalah mahasiswa program master atau doktoral.

Para bhikkhu hidup dengan sangat sederhana. Mereka juga harus bekerja merawat biara hutan yang luas ini. Kami sempat mengunjungi workshop pertukangan yang dikerjakan oleh para bhikku. Pondok bhikkhu Ananda adalah bangunan bata yang sangat sederhana. Pelataran panjang di bagian depan adalah tempat berlatih meditasi jalan. Hanya ada satu kamar dalam satu pondok. Kamar yang sederhana tapi terawat dan bersih dengan sangat minim barang milik yang ada.

Tidak ketinggalan, kami berkesempatan melihat toilet atau WC terbuka dan terletak di luar. Ini mengingatkan saya pada masa kecil di kampung. Jarak antar pondok cukup jauh sehingga tidak tampak dari satu pondok ke pondok yang lain.

Kami semua sangat menikmati jalan-jalan ini. Banyak pertanyaan dan candaan, juga yang jelas suasana hutan dan cuaca di akhir musim semi yang menyenangkan.

Berikut dua set foto untuk bisa dinikmati suasana pondok bhikkhu Ananda dan jalan-jalan di kawasan biara Bodhinyana termasuk mengunjungi pondok Ananda yang lama.

Kawasan biara hutan Bodhinyana luasnya sekitar 98 hektar dihuni oleh sekitar 20 biarawan dari berbagai bangsa. Terdapat satu ruang meditasi, dimana semua orang dipersilakan untuk meluangkan waktu menikmati suasana hening dan tenteram. Ada satu dapur dengan ruang makan, dan akomodasi untuk anagarika (penghuni jangka panjang – berpakaian putih) dan tamu yang menginap. Biara Bodhinyana menyediakan tempat yang ideal bagi yang ingin melatih diri dalam keheningan, dimana para biarawan dan tamu awam dapat meluangkan waktu mereka melatih diri menumbuhkan kebajikan, meditasi, dan kebijaksanaan.

Berikut beberapa informasi tambahan tentang Ajahn Brahm, pemikirannya, kegiatan, dan suasana tradisi biara hutan termasuk Bodhinyana dan Jhana Grove, biara bhikkhuni Dhammasara, dan vihara Dhammaloka di kota Perth:

Perth, 02 Januari 2021

Riak Rintik Hujan

Beberapa anak kecil kelihatan sangat menikmati riak rintik hujan yang terlihat lewat ruang kaca di dasar sebuah kolam air di atas kepala mereka. Kolam air ini terletak di lantai atas yang dibuat tembus pandang di satu pusat perbelanjaan. Dari banyak orang yang lalu lalang, sangat jelas bahwa kebanyakan anak kecil lah yang tertarik pada riak titik air hujan ini dibandingkan dengan orang-orang dewasa.

Seorang anak kecil berumur tidak lebih dari 5 tahun tertekun cukup lama mendongak kepalanya ke atas mengamati lubang kaca sambil tersenyum menikmati riak rintik hujan. Hingga ibunya perlu menariknya pergi, dan beberapa kali dia kembali ketempat yang sama untuk memandang riak rintik hujan yang kebetulan hujan gerimis diluar. Mengesankan! seorang anak sekecil itu bisa memusatkan perhatiannya dan menikmati pemandangan yang sederhana ini.

seorang anak kecil terpana menikmati riak rintik air hujan gerimis

Mungkin kita dulu waktu kecil seperti ini, tertarik dan menikmati hal-hal yang sangat sederhana. Sekarang, kita butuh banyak syarat yang harus dipenuhi untuk bisa membuat kita bahagia. Kita terus ‘mengejar’ kebahagiaan kita dengan keinginan-keinginan yang lebih besar. Hal-hal yang sederhana seperti rintik hujan ini, bunga rumput liar di pinggir jalan, dan embun dipermukaan daun yang berkilau diterpa mentari pagi, atau hal sederhana lainnya – tidak lagi bisa menarik perhatian kita.

Mungkin ini pengingat yang baik bahwa kita punya kemampuan yang laten untuk menjadi bahagia dengan sangat sederhana, dengan menumbuhkan kembali rasa kecukupan (contentment) dan menikmati keapa-adaan…

mungkin riak rintik hujan mampu mengundang rasa ingin tahu seorang anak kecil

seorang ayah sedang menikmati riak rintik hujan bersama anaknya

apakah hanya kebetulan fenomena sederhana seperti riak rintik hujan hanya menarik kebanyakan anak kecil, tapi tidak menarik bagi orang dewasa…

Carousel Shopping Centre – Cannington, Western Australia.

November 2020

Sekilas Siklus Tambang Emas

Sudah lebih dari 28 tahun saya jadi pekerja tambang, sebagian besar bekerja di penambangan emas dan tembaga, hanya 4 tahun saya bekerja di tambang batubara, pada saat awal setelah selesai sekolah.

Indonesia kaya akan sumber daya alam diantaranya cadangan sumber daya tambang termasuk emas dan tembaga. Pertambangan berperan penting bagi perekonomian negara lewat ekpor, pajak, royalti, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan daerah terpencil/terisolasi.

Pertambangan menjadi sektor yang sering dipergunjingkan. Bagi banyak orang pada umumnya, ada anggapan bahwa pengusaha tambang selalu kaya raya, apalagi tambang emas. Pengusaha pertambangan emas, terutama perusahaan dengan kepemilikan asing, digambarkan sebagai monster yang menjarah kekayaan bangsa, tidak mempedulikan keadaan sosial masyarakat sekitar, dan menyengsarakan rakyat. Ini mungkin karena kurangnya informasi atau karena pertambangan sering dibawa ke ranah politik.

Dunia tambang memang akan penuh dinamika bahkan romantika. Filem-filem koboi Amerika banyak mengisahkan masa-masa berburu emas yang dikenal dengan California Gold Rush (1848–1855). Di Australia juga pernah dikenal masa berburu emas ini diawali pada tahun 1851.

Di Indonesia, dikenal skandal cadangan emas Busang (Kalimantan) di tahun 1990-an yang melibatkan perusahaan Bre-X, adalah sekandal tambang terbesar sepanjang sejarah. Bre-X yang menawarkan sahamnya di bursa saham Toronto di Kanada mengaku menemukan cadangan emas yang sangat fantastik (71 juta ounces atau 2.200 ton emas) dari Busang. Ini mendokrak harga sahamnya naik luar biasa. Tapi akhirnya terkonfirmasi cadangan tersebut tidak pernah ada sehingga menyebabkan harga sahamnya jatuh bebas dan pemegang saham yang sebagian merupakan warga biasa kehilangan harta mereka. Skandal ini diangkat oleh Hollywood dalam filim berjudul “Gold” di tahun 2016 yang dibintangi pemeran kawakan Matthew McConaughey.

Tentu, banyak pertambangan yang dikerjakan oleh perusahaan terhormat yang didalamnya berisi orang-orang yang punya integritas dan kepedulian tinggi pada lingkungan dan kemanusiaan. Pertambangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang yang umumnya tidak tersentuh oleh pembangunan sektor lain karena keterpencilan.

Disamping itu, pertambangan diatur oleh banyak regulasi termasuk regulasi internasional tentang perlindungan lingkungan hingga ketentuan ketat tentang pelaporan jumlah cadangan dan kelayakan nilai cadangan untuk melindungi para pemegang saham di pasar modal.

Usaha pertambangan sendiri meliputi serangkaian panjang pencarian (eksplorasi), studi kelayakan, konstruksi tambang, masa produksi, hingga penutupan tambang yang melibatkan usaha padat karya dan padat modal dengan resiko tinggi. Perbandingan penemuan awal hingga mendapatkan cadangan yang dapat diusahakan secara ekonomis sangat rendah.

Baru-baru ini (22 Agustus 2020) saya mendapat kesempatan memaparkan dan berdiskusi tentang siklus suatu tambang emas dengan adik-adik mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya. Saya memilih topik yang kelihatan sederhana ini agar ada pemahaman dasar yang baik bagi seorang calon sarjana pertambangan tentang rangkaian panjang dunia yang akan digelutinya, mungkin sepanjang hidupnya.

Rasanya bahan ini juga akan mudah dipahami oleh semua orang bagi yang tertarik. Untuk itu saya unggah di tautan dibawah ini.

di atas tambang Khanong, Sepon, Laos – sekitar tahun 2006.

18 Oktober 2020 – Perth, Australia

Mengatasi Lima Rintangan

Master Shi Heng Yi menjelaskan dengan lugas lima rintangan untuk meraih suatu pencapaian dalam kehidupan. Rintangan-rintangan ini dikenal dalam latihan meditasi atau latihan spiritual secara umum, yang kelihatannya cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lima rintangan tersebut adalah kesenangan indrawi (kama-chanda), niat buruk (byapada), kemalasan (thina-middha), kegelisahan dan penyesalan (uddhacca-kukucca) dan keragu-raguan (vicikiccha). Yang disebutkan dalam kurung adalah bahasa Pali.

Master atau Suhu adalah sebutan untuk biarawan buddhis dari tradisi Mahayana di China. Master Shi Heng Yi dari biara Shaolin yang masih muda ini berbicara di forum TED, satu forum yang memfasilitasi penyampaian ‘ide-ide yang bermanfaat dan layak disebarkan’ dari komunitas setempat di seluruh dunia.

Master Shi Heng Yi yang lahir di Jerman menamatkan perguruan tinggi dengan dua gelar kesarjanaan, dan menjalani kehidupan layaknya pemuda lain. Dari apa yang dia pelajari, dia memahami banyak hal, bagaimana planet bekerja, apa unsur-unsur suatu atom, dan bagaimana sistim politik berfungsi, tapi dia merasa ada satu mata pelajaran yang kurang, yaitu belajar tentang dirinya sendiri.

Dia sudah dikenalkan dengan kehidupan monastik (biara) sejak usia yang sangat diri, 4 tahun. Di kemudian hari dia mendapati bahwa bagian utama dari latihan dalam kehidupan monastik adalah untuk belajar dan menemukan diri sendiri. Dia akhirnya memilih menjalani kehidupan monastik di biara Shaolin dan berlatih ilmu beladiri kungfu. Biara Shaolin dikenal dengan pelatihan spiritual yang ketat dan pengajaran ketangkasan ilmu beladiri yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Dibawah ini adalah tautan dari sesi paparannya untuk komunitas TED.

Rasanya cukup logis bahwa lima rintangan juga cukup relevan dengan kehidupan awam, merintangi pencapaian di banyak aspek kehidupan. Master Shi Heng Yi menggambarkannya dengan apik lewat perumpamaan keinginan seseorang untuk mendaki gunung dan bagaimana semua pengetahuan yang didapat dari orang lain hanyalah sebagai petunjuk jalan tapi tidak bisa membawa kita sampai ke puncak. Dan penunjuk tersebut tidak akan bisa memberikan penjelasan bagaimana rasanya berada sendiri dipuncak. Juga penjelasan tentang bagaimana lima rintangan tersebut bermanifetasi dalam konteks perumpamaan mendaki gunung tersebut. Semua rintangan ini berakar dari keadaan pikiran (state of mind).

Kesenangan indriawi muncul saat perhatian tertumpu pada kesan yang menyenangkan yang masuk lewat 5 pintu indera sehingga menimbulkan keterikatan. Sementara niat buruk muncul saat pikiran tertumpu pada perasaan negatif yang menumbulkan penolakan. Kemalasan diartikan sebagai tubuh yang enggan bergerak dan pikiran yang tumpul yang ditandai dengan kelesuan jasmani, hilangnya motivasi hingga depresi. Kegelisahan artinya pikiran tidak bisa diajak untuk berada di saat kini, selalu berkeliaran menyesali masa lalu dan menghawatirkan masa depan, dibaratkan dengan monyet yang tidak bisa diam yang melompat dari satu dahan ke dahan yang lain terus menerus sehingga tidak ada kesempatan untuk melihat segala sesuatu dengan jelas sebagaimana apa adanya. Keragu-raguan diartikan sebagai ketidak-yakinan pada jalan yang ditempuh yang diindikasikan dengan ketidak-mampuan mengambil keputusan jalan yang harus ditempuh. Semua rintangan ini berpotensi menghentikan usaha untuk mencapai tujuan.

Yang mungkin lebih menarik adalah paparan tentang cara mengatasinya rintangan-rintangan tersebut, yang tidak begitu lazim dipahami karena berlatarbelakang latihan spiritual. Cara mengatasi rintangan-rintangan tersebut disebutkan ada 4 yaitu: kenali (recognize), terima (accept), cari tahu (investigate), dan tidak mengasosiasikan diri (non-identify). Karena semua rintangan ini berakar dari kedaaan pikiran, maka cara mengatasinya pun berhubungan dengan pematangan batin.

Pertama, kenali atau sadari keadaan batin kita saat menghadapi rintangan tersebut. Kedua, belajar menerima dan mengenali keadaan atau seseorang sebagaimana dia apa adanya. Kemudian cari tahu dan pahami bagaimana keadaan pikiran dan perasaan, dan bertanya pada diri sendiri mengapa keadaan pikiran dan perasaan ini muncul dan apa akibatnya kalau tetap berada dalam keadaan pikiran atau perasaan tersebut. Yang terakhir adalah tidak mengasosiasikan diri sebagai sesuatu yang bukan bagian dari diri. Aku bukanlah tubuh ini, aku bukanlah pikiran ini, dan aku bukanlah perasaan ini. Hanya dengan cara ini kita bisa melihat ‘aku’ yang sebenarnya. Yang terakhir ini adalah salah satu aspek dari latihan meditasi untuk melihat ‘aku’ yang sebenarnya, yang katanya ‘kosong’ itu…

Sebagai penutup, Master Shi Heng Yi menyampaikan:

Seluruh kehidupan kita terlalu unik untuk hanya meniru masa lalu orang lain agar memberi arti dalam hidupmu, untuk membawa nilai dalam hidupmu. Kamu perlu belajar dan memahami dirimu sendiri dan tidak membiarkan rintangan-rintangan ini menghentikanmu. Jika ada diantara kalian yang memilih menapaki jalan untuk melihat kecerahan (di puncak), saya akan dengan sangat senang hati menemui anda di puncak itu.

Master Shi Heng Yi
ada dua kesalahan dalam menapaki jalan pencapaian: tidak memulainya dan tidak menyelesaikannya

Di bawah ini satu tautan filem dokumenter tentang biara Shaolin Eropah, di Jerman, tempat dimana Master Shi Heng Yi bermukim, berlatih, dan mengajar murid-muridnya. Suasana sekitar yang damai, tenang, dan asri di sekeliling biara sangat menyejukkan hati…

Perth, 25 July 2020.

Stay Strong – Tetap Kuat

Saya tahu salah satu kegiatan peduli penderita kanker oleh Yayasan Ehipassiko dengan program Stay Strong, tetapi saya tidak tahu kalau pencetus dan penggeraknya, Yin Natadhita adalah seorang yang sembuh dari kanker (cancer survivor). Yin adalah istri dari teman yang saya kenal baik Handaka Vijjananda, pendiri Yayasan Ehipassiko (https://ehipassiko.or.id). Saya baru tahu dari membaca e-book yang diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko, Stay Strong – Aku Hidup dengan Kanker.

Yin dengan bukunya

Membaca buku Yin, saya menyadari begitu teguh dan melepasnya seorang Yin dan Handaka saat Yin menjalani masa-masa sulit tersebut hidup dengan kanker lidah. Saya tahu persis bagaimana sulitnya masa-masa seperti itu. Salah satu adik kandung saya sendiri adalah seorang mantan penderita kanker dan melewati masa sulit yang panjang berobat yang sangat menguras fisik, mental dan finansial. Sangat bersyukur semuanya dapat dilewati dengan baik.

Judul ‘Saya Hidup dengan Kanker’ pun menyiratkan keteguhan penyandangnya bahwa dia tidak mengingkari kenyataan tapi ‘hidup dengan’ kenyataan itu.

Buku dengan design grafis yang ringan dan segar yang ditulis dengan bahasa yang jernih dan santai, lengkap dengan informasi gejala, proses diagnosa, fase-fase perkembangan kanker yang dialami dan proses pengobatannya. Kekuatan utama tulisan dalam buku ini adalah pola pandang dan sikap mental seorang Yin melihat kenyataan yang dihadapi, dan semangat dalam menjalani pengobatan – yang sangat menginspirasi. Pola pandang dan sikap mental ini rasanya akan banyak membantu untuk lebih realistis dan dapat mengambil tindakan yang lebih logis. Saya cukup yakin ini sangat tidak mudah, dan butuh banyak perenungan, ketegaran dan pelepasan selama menjalani masa-masa sulit itu.

Biasanya cerita tentang kanker memberi kesan mengerikan dan meyedihkan. Namun Yin bisa begitu ringan dan mengalir menceritakan pengalamannya, cerita termasuk makan durian musang king sehari setelah dioperasi bersama sahabatnya. Ilustrasi apik dan lucu juga berperan menghilangkan kesan seram.

Banyak ungkapan atau kutipan dalam buku ini yang melukiskan betapa kematangan batin seseorang membantu melewati masa-masa sulit ini.

Why me? (kenapa harus saya?) Why not? (kenapa tidak?)

This too will pass… (Inipun akan berlalu…)

Sering dikatakan bahwa pengalaman akan penderitaan yang dalam adalah bagian dari perjalanan spiritual yang dapat mentransformasi batin seseorang ‘tercerahkan’ lewat perenungan di keheningan batin yang dalam atau lewat jalan kebenaran religius yang diyakini, dan biasanya orang tersebut menjadi lebih melepas, lapang, bahagia, dan bijak. Rasanya, Yin dan Handaka telah menyelami itu semua.

Kanker telah membuatku menjadi lebih berani, lebih tabah, lebih bijak. Lebih berani menikmati hidup dan lebih berani memberi. Aku tidak biarkan ketakutan menguasaiku. Kalau tidak kambuh, aku syukuri. Kalau kambuh, aku hadapi dengan tabah. Aku menjadi lebih tidak memusingkan kerisauan remeh. Kanker membuatku lebih bisa melihat, mana yang betul-betul penting dan mana yang sebaiknya diabaikan.

Yin Natadhita

Buku ini akan dapat membantu yang sedang hidup dengan kanker, yang telah sembuh, dan keluarganya akan apa yang sebaiknya dilakukan pada masa sulit tersebut, serta menginspirasi untuk tetap semangat, menerima, tabah sekaligus kuat menjalani apa yang dialami – terlepas dari apapun hasil akhirnya. Dan menginspirasi mereka yang beruntung tidak harus hidup dengan kanker untuk bersyukur dalam menjalani hidup mereka, dan kalau ada kebercukupan bisa ikut membantu sesama yang kurang beruntung.

Buku yang ditulis dibagikan secara cuma-cuma agar dapat bermanfaat bagi orang banyak. Untuk bisa menyelami, ada baiknya baca langsung bukunya.

Bukunya dapat diunduh dan dibagikan secara cuma-cuma di tautan berikut ini:

https://drive.google.com/file/d/1DAcfpSzVGOhdT9l7HztQBKykXuiVow2h/view

Tidak hanya membagi pengalaman dan inspirasi, Yin bersama tim relawan dan dermawan menggerakkan satu program Cancer Care lewat Ehipassiko Foundation untuk memberikan bantuan rutin berupa dana, suplemen, pendampingan, dan panduan meditasi kepada penderita kanker yang tak mampu, serta beasiswa bagi anaknya. Sejak 2013, para relawan Cancer Care telah melayani banyak penderita kanker dari anak sampai manula di berbagai desa dan kota di Indonesia. (https://ehipassiko.or.id/cancer-care/)

Saya turut berbahagia dengan kesembuhan dan kedewasaan batin yang diraih oleh Yin dan juga Handaka, serta kagum dan hormat dengan usaha mereka untuk memberi dan pengabdian untuk membantu sesama. Sungguh bermanfaat dan menginspirasi…

— o —

Catatan Tambahan 13 Juli 2020:

Pada tanggal 13 Juli 2020, saya menghubungi Handaka setelah saya mengetahui bahwa Yin harus kembali meneruskan perawatan karena ditemukan ada penyebaran dan telah menjalankan operasi ke tiga. Seperti biasa kami chat dengan hangat di WA. Yin pun terlihat semangat menjalani perawataan dan tetap ceria berbagi cerita lewat Facebooknya. Semangat, ketabahan, dan ketenangan yang mencerminkan kwalitas dan kedewasaan batin yang dalam…

Sejak itu Yin dan Handaka sering mengisi diskusi online berbagi pengalaman dan menginspirasi di dalam komunitas Ehipassiko Foundation maupun lintas komunitas dengan teman-teman Zen misalnya, dan berdiskusi dhamma yang dalam termasuk studi Tripitaka dimana Handaka sedang mengerjakan penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Saya sempat mengikuti beberapa diantaranya.

Berikut adalah salah satu yang saya ikuti, dipandu tengan Saudara Agus Santoso – ketua Chan Indonesia, Fu Yin berbagi cerita dan pengalamannya. Keteguhan dan kematangan batin seorang Fu Yin sangat menginspirasi…

— 0 —

Tanggal 28 December 2020, saya mendapat kabar dari adik saya bahwa Yin telah pergi meninggal dunia ini pada hari itu. Saya menghubungi Handaka lewat pesan tertulis tanpa ingin mengganggu kekhusukan dia untuk dirinya dan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang tentu akan cukup melelahkan.

Pada tanggal 04 Januari 2021, dari Ehipassiko saya menerima buku Stay Strong – Grand Finale, dengan tambahan catatan penutup dari Handaka. Buku ini dipersembahkan sebagai Legacy of Love (Warisan Kasih) dari Fu Yin Natadhita.

Semoga kekuatan persahabatan dalam kebajikan dan kasih ini turut mengantar sis Fu Yin Natadhita menapaki jalan menuju kebahagiaan tertinggi…

“Apa pun yang datang dalam hidup, aku sambut”

Yin Natadhita 1984 – 2020

— 0 —

Catatan tambahan 21 Maret 2021

Handaka yang mengasuh program Studi Sutta (Kitab Ajaran Buddha) berbagi pengetahuan dan pembelajarannya tentang detik-detik menjelang ajal dan bagaimana baiknya mengantar yang berangkat. Handaka berbagi dan bercerita dengan keceriaan, ketenangan, keteguhan dan keseimbangan batin yang sangat mengagumkan – mengingat ini adalah kisah pribadi; ditambah kedalaman pengetahuannya dalam memaparkan sutta-sutta yang berkaitan topik ini – sungguh luar biasa dan sangat mencerahkan. Berikut ini adalah tautannya di Youtube.

Kurang dari 3 bulan kemudian, 21 Maret 2021, Yayasan Ehipassiko memfasilitasi dua dharma talk sekaligus sebagai pelimpahan jasa bagi Fu Yin, sesuatu yang begitu indah dilakukan oleh orang-orang yang mencintainya.

Di bawah ini adalah tautannya di Youtube, dua dhamma talk yang sangat mencerahkan dari Ajahn Brahm dan salah satu murid utamanya, Ajahn Brahmali yang diikuti oleh lebih dari 2000 orang secara online lewat Zoom dan Youtube – tentang bagaimana melihat kehidupan ini sebagaimana adanya dan bagaimana sikap batin yang benar menyikapi fenomena kehidupan ini. Acara dibuka dengan apik oleh Handaka, dimoderatori dengan sangat baik oleh Kartika, dan diterjemahkan oleh Tasfan dengan ketepatan yang luar biasa.

Ehipassiko juga menerbitkan serial kartun ‘Uncle Singlet – Kopitiam Zen’ yang menampilkan tokoh Uncle Singlet yang merupakan personifikasi dari Handaka dalam menyampaikan wejangan-wejangan bijak – salah satu yang dicita-citakan oleh Yin…

— 0 —

Sahabat dalam Kebajikan ~ Kalyāṇamitta

Saya mengenal Handaka sekitar tahun 2006. Dia mungkin 4 atau 5 tahun lebih muda dari saya. Waktu itu dia bekerja sebagai country manager untuk Myanmar dari satu perusahaan farmasi Indonesia. Saya masih bekerja di satu tambang emas di Sepon, pedalaman Laos. Saya sudah lupa bagaimana kami berkenalan. Kalau tidak salah dari korespondensi ketertarikan menerjemahkan beberapa buku buddhis ke dalam bahasa Indonesia. Kami janjian bertemu di Bangkok saat saya rotasi kerja dalam roster flying-in/flying-out dari Indonesia dan bermalam di Bangkok sebelum menuju ke Laos lewat Ubon Ratchathani dan Mukdahan, menyeberang ke Savannakhet di Laos dan menuju ke lokasi tambang di Sepon. Sementara Handaka dalam perjalanan pulang dari Myanmar ke Indonesia dan mampir di Bangkok. Kami bertemu di hotel tempat saya menginap. Pertama kali kami bertemu dan mengobrol sampai menjelang subuh. Setelah itu kami berpisah.

Saya hanya sempat membantu menerjemahkan satu buku, kalau tidak salah buku Vipassana Meditation karangan seorang mpu meditasi dari Myanmar – Mahasi Sayadaw, yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko.

Sekitar tahun-tahun segitu Yayasan Ehipassiko mulai dirintis oleh Handaka, yang sekarang menjadi penerbit buku-buku buddhis terbesar di Indonesia beserta banyak program sosial lain yang digerakkan oleh banyak relawan dan dermawan, diantaranya untuk abdi desa, beasiswa, kasihan binatang, dan peduli penderita kanker, bakti sosial lintas agama, juga termasuk menyelenggarakan kunjungan tahunan Ajahn Brahm ke Indonesia.

Pertama kali saya menghubungi Handaka kembali di tahun 2016 setelah kurang lebih 10 tahun tidak saling berhubungan. Saat itu satu tahun peringatan wafatnya ibu saya. Sewaktu di Perth, saya memohon kepada Ajahn Brahm untuk bersedia melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang ibu saya. Beliau malah menawarkan untuk melakukannya di Pangkalpinang saat kunjungan beliau ke sana bertepatan dengan hari peringatan 1 tahun dan menganjurkan saya menghubungi Handaka. Ketika saya hubungi hanya lewat text, tanpa keraguan Handaka langsung mengiyakan permintaan bantuan saya dan terus berkoordinasi dengan tim panitianya di Pangkalpinang dalam waktu yang sangat dekat untuk meluangkan waktu Ajahn Brahm di tengah talkshow untuk melakukan kegiatan doa ini.

Saya sangat beruntung mendapat kesempatan yang langka ini.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/a-year-of-passing/10154091132429035/

Itu pertama kali saya bertemu dengan Yin, di Pangkalpinang di tahun 2016. Yin kebetulan punya orang tua berasal dari Bangka, tepatnya dari Jebus (Nampong). Pertemuan berikutnya dengan Handaka dan Yin di retret meditasi dan acara ulang tahun Ajahn Brahm dimana Handaka membawa rombongan dari Indonesia pada tahun 2017 dan juga tahun 2018 di Perth, Australia Barat. Saya tidak ikut lagi kegiatan tahun berikutnya karena tugas kerja di Ghana, Afrika.

Kami memang jarang bertemu, tapi hangat dan mengobrol akrab kalau sudah bertemu. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa tidak saling menghubungi diwaktu biasa. Saya percaya persahabatan yang tulus memang seharusnya membebaskan dan tidak mengikat.

Saat pertama bertemu Yin, dan 10 tahun bertemu kembali dengan Handaka di Pangkalpinang 12 April 2016. (Handaka dan Yin, Christine dan saya)

Perth, 11 July 2020.

#cancercare #gunduliscool #staystrong

Mengapa Mereka Memilih Menapaki Jalan Hening Ini

Why They Choose to Walk This Silent Path – English version is at the very bottom section.

Sebagian kita berpikir bahwa mereka yang memilih jalan hening dalam kehidupan monastik atau membiara adalah orang-orang yang putus asa, patah hati, atau bahkan melarikan diri dari kenyataan.

Setahun yang lalu saya pernah ditanyai oleh kerabat dari salah satu bhikhuni (biarawati buddhis) muda orang Indonesia yang melatih diri di Dhamasara Nun Monastery (yang diasuh oleh Ajahn Brahm) di Perth, Western Australia. Kerabat ini tinggal di Perth dan masih mempunyai hubungan keluarga dengan orang tua biarawati tersebut. Saya rasanya tahu dengan bhikhuni muda yang mereka maksudkan, karena saya pernah satu kali mengunjungi biara tersebut yang memang terletak jauh diluar kota dan dikelilingi hutan.

Kerabat dari bhikhuni ini mengutarakan keprihatinan mereka akan keputusan wanita muda itu untuk menjadi bhikhuni, meninggalkan kehidupan yang begitu nyaman, profesi dokter (kalau tidak salah), dan dari keluarga yang tergolong berada di Jakarta. Apalah yang kurang dari kehidupan yang berkecukupan yang dia jalani sebelumnya, katanya. Juga tentang keprihatinan bahwa biarawati ini terisolasi tinggal di biara yang jauh dan tidak bebas bisa dikunjungi sewaktu-waktu. Ada kesan bahwa biarawati tersebut sedang mengalami kehidupan yang penuh penderitaan.

Saya hanya bilang bahwa sangat mungkin bhikhuni tersebut tengah memulai kehidupan yang penuh kedamaian sesuai apa yang dia inginkan.

Mereka juga menyampaikan bahwa orang tua mereka, yang kebetulan mengelola satu vihara di Jakarta, akan ngelangsa karena ‘kehilangan’ anak gadis mereka. Saya hanya bilang, kalau orang tua mereka adalah orang yang juga dekat dengan ajaran yang sama, kemungkinan sekali mereka bisa mengerti dan melepas, dan tidak menderita seperti apa yang dibayangkan.

Terakhir saya dengar bahwa bhikhuni tersebut sudah kembali ke Indonesia.

Kenapa harus menempuh kehidupan membiara? Menurut saya itu adalah satu pilihan pribadi, tentu dengan semua konsekwensinya; sama halnya saat kita memilih kehidupan ‘normal’ yang kita jalani sekarang. Terus apa peran mereka untuk masyarakat dengan jalan hidup seperti itu? Pendapat saya, setiap orang bertanggung-jawab pada kebahagian masing-masing, dan mereka mencari dan menjalaninya tanpa mengganggu atau merugikan orang lain. Lebih dari itu, mereka menyediakan diri untuk berbagi kebahagian yang mereka rasakan dan menuntun dan menginspirasi orang-orang agar mendapatkan kebahagiaan untuk mereka masing-masing. Tidak sedikit yang mengabdikan diri pada kemanusiaan dan berbagi kasih yang tak berbatas.

menapaki sang Jalan – walking on the Path

— 0 —

Tidaklah aneh pendapat sebagian orang awam terhadap pilihan menjalani kehidupan membiara ini, khususnya dari kalangan yang berbeda keyakinan. Apalagi itu dilakukan oleh seseorang yang relatif muda adalah sesuatu yang lebih tidak lazim lagi. Dulu sekali, saat pertama kali melihat seorang biarawan buddhis, saya juga bertanya dalam diri, mengapa mereka mengambil jalan sunyi seperti ini, apa yang mereka cari.

Sebagian kita mungkin menganggap mereka melarikan diri dari ‘kenyataan’ hidup. ‘Kenyataan’ hidup bagi umumnya kita adalah dari kecil bersekolah, terus mencari nafkah, berjuang dalam kehidupan, hidup sukses, berkeluarga, beranak-pinak, menjadi tua, dan mati, dan tentu dengan harapan masuk dalam kehidupan surga abadi setelah kematian (sesuai dengan keyakinan masing-masing). Pilihan menapaki kehidupan sunyi lewat jalan spiritual bukanlah kehidupan lumrah.

Benarkah mereka itu melarikan diri dari kenyataan? Kenyataan yang mana? Atau bukan justru kita yang melarikan diri dari kenyataan? Saat kita bosan, kita mencari kesibukan untuk menghilangkan kebosanan kita; saat sedih kita melarikan diri dengan mengalihkan perhatian dari kesedihan itu lewat hiburan, makanan, bahkan tidak jarang lewat minuman keras atau obat-obatan. Saat berhadapan dengan penderitaan yang dalam, kita bingung dan ngelangsa. Kita tidak suka dan marah dengan situasi ketidaknyamanan – yang sebenarnya adalah bagian kenyataan dari kehidupan ini. Saat menyenangi sesuatu, kita ingin terus memiliki kesenangan tersebut, dan mengejar kesenangan yang lebih tinggi – dari kesenangan indriawi dasar hingga kebahagiaan yang lebih tinggi. Tidak banyak kesempatan bagi kita untuk benar-benar memahami rasa bosan kita, rasa sakit kita, penderitaan kita, bahkan rasa bahagia kita. Kita terus menghindar dari ketidaknyamanan dan melekat pada kenyamanan.

seorang bhikkhu tradisi hutan di zaman moderen, dengan bawaan semua yang dia ‘miliki’

Sementara, mereka berhenti, melihat ke dalam diri mereka di keheningan, berhadapan langsung dengan semua perasaan mereka, rasa bahagia mereka, penderitaan mereka termasuk rasa takut mereka. Pada tingkat awal, mereka melatih diri untuk menyadari sensasi tubuh dan gerak pikiran, belajar melihat bagaimana saat berbagai fenomena indria bersentuhan dengan pikiran yang kemudian menimbulkan berbagai perasaaan tergantung pengkondisian batin mereka. Mereka mengamatinya, berusaha tidak terikat, dan membiarkannya berlalu. Suara dari luar misalnya, itu hanyalah suara, bukanlah masalah. Saat bersentuhan dengan pikiran, mereka melihat perpaduan obyek dan pikiran menimbulkan rasa menyenangkan, netral, atau tidak menyenangkan. Mereka mengamati perasaan ini timbul dan tenggelam, berusaha untuk tidak melekat atau menggenggamnya, dan membiarkannya berlalu. Begitu juga dengan fenomena indera lainnya dari pengelihatan, sentuhan, pengecapan, penciuman dan ingatan dari pikiran itu sendiri.

Mereka menyelami duka sebagai duka, netral sebagai netral, bahagia sebagai bahagia; tidak lebih dan tidak kurang; dan semua itu datang dan pergi, timbul dan tenggelam; sebagai suatu rangkaian kenyataan hidup yang hakiki. Tidak ada duka yang tak berujung, pun tidak ada kebahagiaan yang terus menerus. Penderitaan timbul saat kita mulai menginginkan lebih dari itu. Kita ingin hal yang menyenangkan terus bertahan atau menginginkan hal yang tidak menyenangkan terus terhindar dari kita. Pengingkaran akan hal yang tidak menyenangkan dan keterikatan pada hal yang menyenangkan diyakini sebagai penyebab bagi kerumitan kehidupan manusia.

Dengan latihan dan kemudian pengetahuan dari melihat/mengalami langsung, maka timbul pemahaman dan kebijaksaan. Pemahaman dari pengalaman ini memberi peluang untuk bebas dari budak gejolak perasaan, melihat kenyataan apa adanya dari ilusi pikiran dan perasaan, membiarkan semua berlalu, dan mengalami kedamaian, ketenangan dan sukacita yang lebih dalam dan halus melalui pelepasan. Tentu saja, ini hanya awal dari jalan hening yang mereka tapaki.

Penderitaan yang dialami seseorang bisa memberi peluang untuk lebih bisa memandang hidup ini lebih dekat dengan kenyataan yang sebenarnya, dan kadang dapat mentransformasi batin seseorang ‘tercerahkan’. Eckhart Tolle seorang spiritualis asal Jerman, yang terkenal dengan “The Power of Now” mengalami ‘pencerahan batin’ setelah mengalami penderitaan dan pergolakan batin hebat di masa mudanya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Eckhart_Tolle)

— 0 —

Di Boddhinyana Monastery di Serpentine, Perth, banyak biarawan muda. Salah satunya adalah orang Indonesia, Bhikkhu Ananda yang saya kenal baik. Beliau dari Jakarta dan lama menetap di California, Amerika Serikat sebelum datang ke Australia untuk mendalami kehidupan spiritual dan terakhir mengambil keputusan untuk menjadi seorang biarawan.

Sekilas yang saya tahu, Bhikkhu Ananda sudah tertarik dengan meditasi sejak dini, mengikuti berulang kali pelatihan meditasi yang diajarkan oleh G.N. Goenka (https://en.wikipedia.org/wiki/S._N._Goenka) di California. Terakhir merasa lebih berkembang dengan pola meditasi yang diajarkan oleh Ajahn Brahm lewat pola yang lebih melepas dan santai.

Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan). Saya menghadiri penahbisannya untuk menjalani kehidupan awal kebiarawan (samanera) di April 2018, dan penahbisan sebagai bhikkhu di Juni 2019.

Saya ingin punya kesempatan mengenal dan belajar lebih banyak dari beliau, dan berkesempatan untuk menceritakannya kembali dalam tulisan suatu saat.

Permohonan penahbisan menjadi samanera (biarawan pemula) seorang Handri menjadi Samanera Ananda, 26 April 2018.
Upacara penahbisan bhikku Ananda di Bodhinyana 12 Juni 2019

— 0 —

Bhikkhu Sumangalo, seorang bhikkhu muda yang lain dari Bodhinyana, menceritakan latar belakang mengapa dia memilih kehidupan sebagai seorang biarawan buddhis dalam satu sesi dhamma talk dalam program rutin Buddhist Society Western Australia (BSWA) yang disiarkan langsung lewat Youtube, pada tanggal 7 Juni 2020. Sebelum menjadi bhikkhu, beliau adalah anagarika (orang yang mendedikasikan diri melayani bhikkhu) di biara Bodhinyana di Serpentine, Western Australia. Saya sering melihat dia di dapur umum biara dan bersih-bersih, saat saya berkunjung ke sana. (https://youtu.be/pw2N0_p5jBk)

Kehidupan awam Bhikku Sumangalo, berimigrasi mengikuti orang tuanya dari Vietnam Selatan di tahun 1987, melewati masa kecil dan remaja juga di California, di kawasan teknologi Silicon Valley yang terkenal itu. Lulus dari perguruan tinggi jurusan teknologi informasi dan keuangan, dia menjalani kehidupan layaknya semua pemuda di usia dan masanya.

Sejak awal dia sudah ada banyak pertanyaan dibenaknya bahwa kehidupan ini lebih dari sekedar apa yang tampak dan dijalani oleh hampir semua orang, tamat sekolah, mencari pekerjaan, meniti karir, hidup berkeluarga, sukses. Dia juga menjalani kesenangan-kesenangan layaknya kehidupan pemuda di kota yang menyediakan banyak hiburan. Dia mulai melihat semua itu adalah kesenangan materialistis yang tidak langgeng.

Hati kecilnya menyatakan hidup lebih dari itu. Dia mulai mencari dan mendengarkan kata hatinya yang lebih dalam. Dalam pencariannya, dia menyukai meditasi karena memberi peluang untuk benar-benar melihat ke dalam batinnya. Dia melihat lebih jelas dalam keheningan batinnya akan arti kehidupan ini, bukan sesuatu yang didapatkan dari membaca buku, proses kepintaran berpikir, kata orang pintar atau orang bijak. Jawabannya selalu ada didalam keheningan batin.

Perjalananan membawa banyak kedamaian dan sukacita yang membuat dia memutuskan untuk terus menapaki pencarian ini. Dia mengunjungi biara hutan Bodhinyana di Australia Barat beberapa kali untuk berlatih. Akhirnya, dia memilih untuk mencoba kehidupan monastik agar lebih fokus. Dia ditahbiskan menjadi samanera di tahun 2017 dan menjadi bhikkhu di tahun 2018. Kalau tidak salah saya hadir diupacara penahbisan tanggal 12 April 2018 malam hari di Bodhinyana Monastery atas undangan teman Indonesia, Handri, yang kemudian menjadi Bhikkhu Ananda yang saya ceritakan diatas.

— 0 —

Bhikkuni Canda, seorang biarawati buddhis yang sekarang tinggal di Inggris, juga berbagi perjalanannya dalam “My Life As A Buddhist Nun”.(https://www.facebook.com/100026024162850/videos/553422712201863/)

Semua dimulai dari pencarian spiritual di usia muda. Bhikkuni Canda, lahir di Chesterfield, di utara London, Inggris. Lahir dari keluarga yang mapan dan bahagia. Meskipun lahir dan tinggal di negara dengan jaminan sosial yang baik, tetapi masih menyimpan banyak pertanyaan sejak masa kecilnya. Ketika menyelesaikan sekolah menengah sebelum membuat keputusan untuk pergi ke perguruan tinggi, dia telah memikirkan banyak pertanyaan, apakah ini jalan terbaik untuk hidupnya. Sementara dia melihat orang-orang yang melanjutkan pendidikan dan kemudian mengejar karir, hidup dengan cukup bahagia. Namun, ketika dia mendengar berita sehari-hari tentang perang, kekuasaan, dan keserakahan yang tampak tidak pernah berakhir. Dia tidak bisa mengerti mengapa manusia bisa saling menyakiti dan memciptakan begitu banyak penderitaan bagi sesama. Apa sebenarnya tujuan hidup, dan bagaimana dia harus bereaksi dengan belas kasih terhadap penderitaan ini, dan pencarian untuk mengakhiri penderitaan ini? Pikiran seperti ini muncul didalam dirinya pada usianya sekitar 15 tahun.

Untungnya dia punya satu teman sangat dekat, yang bersama merencanakan perjalanan ke India. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia harus pergi ke India. Ketika mereka sampai di sana, dia langsung merasa bahwa ada keterkaitan batin yang mendalam di sana. Memang benar bahwa di India dia melihat lebih banyak penderitaan, tetapi nuansa sekeliling untuk menerima semuanya sebagaimana adanya lebih nyata, ketidakpastian dan ketidakkekalan kehidupan tampak lebih nyata. Penderitaan dan kematian tampak jelas di keseharian dan di jalan-jalan – sesuatu yang kamu tidak pernah lihat dan tabu untuk dibicarakan di Inggris. Harapan untuk memahami semua ini akan lebih besar . Tidak lama kemudian, mereka mendengar tentang meditasi. Dia merasa, ini adalah kesempatan baginya untuk mencari ke dalam. Dia merasa dia harus duduk dengan pikirannya sendiri dan menyaksikan apa yang terjadi di sana ketika dia sendirian dan belajar tentang dirinya sendiri.

Sejak sangat awal, Canda muda menyadari bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada kondisi di luar semata. Meskipun kondisi di luar menyenangkan, keluarga yang baik, berhasil di sekolah, dan memiliki teman baik, masih akan ada penderitaan. Canda Muda heran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam pikirannya. Perasaannya sangat tertekan di waktu remajanya, sebagian karena kekalutan karena tidak tahu mengapa dia ada di dunia ini.

Bhikhuni Canda bersama Ajahn Brahm di tahun 2014 di Jhana Grove (dimuat atas izin Bhikkhuni Canda)

Latihan meditasi pertama yang ia ikuti pada usia 20 tahun adalah meditasi vipassana. Fokusnya pada menyadaran sensasi tubuh dan mengamati bagaimana pikiran merupakan pemahaman mendalam (insight) dia yang pertama. Dia semula berpikir dia bereaksi terhadap hal-hal di luarnya, akhirnya dia menyadari bahwa bereaksi terhadap sensasi di dalam dirinya sendiri. Sensasi luar bersentuhan dengan indranya, suatu sensasi bersamaan dengan kesadaran akan sensasi tersebut akan timbul, di dalam tubuh dan pikirannya, dan itu menciptakan sensasi di dalam. Dia menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar bereaksi dengan obyek di luar sama sekali, tetapi terhadap sensasi di dalam.

Dan dia menyadari bahwa ini adalah kunci bagi kita untuk melembutkan keinginan berlebihan atau reaktivitas. Kita mendapatkan sensasi yang menyenangkan ketika kita bertemu seseorang yang kita sukai, kita menginginkan lebih banyak karena itu membuat kita merasa senang. Kita menginginkan sensasi itu lagi dan lagi. Hal yang sama ketika kita berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan. Kita mendapat perasaan tidak menyenangkan, reaksi emosional atau mental yang tidak menyenangkan. Reaksinya kita adalah menyingkirkannya. Kita ingin membuangnya. Ini juga semacam keinginan berlebihan. Jadi kita terus-menerus bereaksi – menghindari atau terlarut oleh obyek di dunia ini.

Melalui meditasi, kita memahaminya bahwa penderitaan timbul di dalam diri kita. Kita belajar untuk mengembangkan keseimbangan batin, kedamaian batin, dan ruang bagi diri kita sendiri, dan memahami bahwa semua hal berubah. Mereka tidak tetap – mereka sebenarnya muncul dan berlalu terus-menerus.

Bhikkhuni Canda

Jadi, ini adalah hal pertama bagi dia memahami penekanan Buddhis tentang penderitaan, dan kenyataan bahwa penderitaan muncul disebabkan dari keinginan berlebihan. Mengetahui hal ini sangatlah berarti karena dia menyadari bahwa kita bisa mulai mencari ke dalam, dan kita dapat mulai mengatasi penyebabnya alih-alih mencoba mengubah semua hal di luar yang merupakan manifestasi dari penderitaan. Kita benar-benar bisa masuk ke dalam untuk melihat penyebab dari mana asalnya – dimana penderitaan itu berasal, dan secara perlahan mencabut akar penyebabnya.

Dia merasa beruntung memulai latihan semacam ini tanpa benar-benar mengetahui apa pun tentang ajaran Buddha sebagai suatu agama, karena ajaran ini memiliki hasil langsung. Hal pertama yang dia rasakan adalah timbulnya harapan yang luar biasa, mengetahui bahwa ini adalah benar-benar tujuan hidupnya. Dia tahu bahwa dia ingin mendalami ajaran ini sedalam yang dia bisa selama sisa hidupnya. Dia tidak tahu dari mana keyakinan itu berasal. Sebagian karena mencoba menjalaninya karena ajarannya begitu masuk akal – dan dia sudah merasa lebih seimbang dan lebih ringan dan lega. Atau mungkin ada hubungannya dengan kehidupannya pada kehidupan sebelumnya. Dia kemudian menghabiskan 7 tahun berikutnya tinggal di Asia untuk mengembang latihannya.

Bhikkhuni Canda terus berbicara tentang ajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya dan penahbisannya sebagai seorang bhikkhuni. Dia beruntung belajar dari guru meditasi terkemuka Goenka (seorang pengusaha India yang tinggal di Burma), dan kemudian dengan Ajahn Brahm di Australia.

Dia sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Ajahm Brahm untuk mendirikan Anukampa Bhikkuni Project di Inggris. Dia sekarang bermukim di Inggris dan bekerja bersama Ajahn Brahm mendirikan biara pertama untuk pelatihan para bhikkhuni di Inggris. (https://anukampaproject.org)

Saya beruntung sempat bertemu Bhikkhuni Canda beberapa kali di acara ulang tahun Ajahn Brahm ke-67 pada tahun 2018 di Perth, dan di acara kunjungan Ajahn Brahm ke Inggris pada tahun 2019 di London. Dan sekali waktu mendengarkan babaran dhammanya.

Terimakasih banyak kepada Bhikkhuni Canda yang telah mengizinkan saya menceritakan kembali sebagian “My Life As A Buddhist Nun”, dan meluangkan waktu membantu mengedit tulisan bagian ini.

Juni 2020

Dalam masa karantina wajib 14 hari – sekembali dari Ghana, Afrika – di satu hotel di Perth, Australia.

=========================================================

English version:

Why They Choose to Walk This Silent Path

Some of us think that those who choose the monastic life are people who are discouraged, broken-hearted, or even run away from reality.

A year ago I was questioned by a relative of one of the young Indonesian nun who practiced at Dhamasara Nun Monastery (who was cared for by Ajahn Brahm) in Perth, Western Australia. This relative lives in Perth and still has family ties with the nun’s parents. I feel like I know the young nun they meant, because I once visited the monastery which is located far outside the city and surrounded by forest.

The relatives of the nun expressed their concern about the young woman’s decision to become a nun, leaving behind a comfortable life, the profession of doctor (if I’m not mistaken), and from a a wealthy family background living in Jakarta. What was lacking from the decent life she had lived, he said. Also about the concern that this nun was isolated living in a distant monastery and was not free to be visited at any time. There is an impression that the nun is experiencing a life full of suffering.

I just said that it was very possible that the nun was starting a peaceful life as she wanted.

They also said that their parents, who happened to run a monastery in Jakarta, would suffer because they ‘lost’ their daughter. I was just saying, if their parents are people who are also close to the same teachings, chances are they can understand and let go, and not suffer as what is imagined.

Recently I heard that the nun had returned to Indonesia.

But why choosing the monastic life? In my opinion, it is a personal choice, of course with all the consequences; it’s the same as when we choose the ‘normal’ life that we lead now. Then what is their role for society with such a way of life? My opinion, everyone is responsible for their happiness, and they seek and live it without disturbing or harming others. More than that, they provide themselves to share the happiness they feel, guide, and inspire people to get happiness for themselves. Many of them devote themselves to humanity and share unconditional love.

– 0 –

It is not strange for the opinion of some lay people on the choice to live this kind of religious life, especially from people of different faiths. If it is done by someone who is relatively young is something even more unusual. A long time ago, when I first saw a Buddhist monk, I also asked myself, why they took this quiet path, what they were looking for.

Some of us might consider them running away from the ‘reality’ of life. The ‘reality’ of life for most of us is that we go to schools, continue to make a living, struggle in life, live successfully, have a family, reproduce, grow old, and die, and certainly with the hope of entering eternal heavenly life after death (in accordance with one beliefs). The choice of treading a silent life through the spiritual path is not a normal life.

Is it true that they escaped from reality? Which reality? Or aren’t we the ones who are running away from reality? When we are bored, we look for busyness to get rid of our boredom; when we are sad we escape by diverting our attention from sadness through entertainment, food, even alcohol or drugs. When faced with deep suffering, we are confused and miserable. We do not like and are angry with discomfort situations – which are actually part of the reality of this life. When we enjoy something, we want to continue to have that pleasure and pursue higher pleasures – from basic sensual pleasures to higher happiness. There aren’t many opportunities for us to truly understand our boredom, our pain, our suffering, even our happiness. We continue to avoid inconvenience and attach to comfort.

Contrarily, they stop to look inside themselves in silence, face to face with all their feelings, their happiness, their suffering including their fear. At the initial level, they train themselves to be aware of bodily sensations and mind movements, learn to see how the various senses phenomena come into contact with the mind which then give rise to various feelings according to their inner conditioning. They watched them, tried not to be attached, and let them go. Sound from outside, for example, is just sound, not a problem. When in contact with the mind, they see the combination of objects and thoughts creates a sense of pleasant, neutral, or unpleasant. They observe this feeling arising and ceasing, trying not to cling or grasping it, and letting it pass. Likewise with the other sense phenomena of sight, touch, taste, smell, and memory of the mind itself.

They see and experience the suffering as suffering, neutral as neutral, happy as happy; neither more nor less; and they come and go, arise and cease; as an essential fact of life. There is no continuous suffering, not even continuous happiness. Suffering arises when we begin to want more than that. We want pleasant things to continue or avoid unpleasant things. Denial of the unpleasant and attachment to the pleasant is believed to be the cause of all the complexities of human life.

With practice and knowledge from seeing / experiencing firsthand, then the understanding and wisdom arise. Understanding of this experience provides an opportunity to be free from the slaves of emotional turmoil, to see the reality for what it is from the illusion of thoughts and feelings, to let things go, and to experience deeper and more subtle peace and calm through relinquishment. Of course, this was only the beginning of the silent path they walk on.

Suffering experienced by someone can provide an opportunity to be more able to see life closely with real reality, and sometimes can transform a person to be ‘enlightened’. Eckhart Tolle, a spiritualist from Germany, who is famous for “The Power of Now” experienced inner enlightenment after experiencing great inner suffering and upheaval in his youth. (https://en.wikipedia.org/wiki/Eckhart_Tolle)

– 0 –

At Boddhinyana Monastery in Serpentine, Perth, many young monks. One of them is an Indonesian, Bhikkhu Ananda, whom I know well. He was from Jakarta and had long lived in California, United States before coming to Australia to explore the spiritual life and finally made the decision to become a monk.

As far as I know, Bhikkhu Ananda was interested in meditation from his early age, repeatedly attended the meditation training taught by G.N. Goenka (https://en.wikipedia.org/wiki/S._N._Goenka) in California. Later, he felt more suitable with the meditation approach taught by Ajahn Brahm through a more letting go and relaxed approach.

He came to Bodhinyana in 2017 for meditation training and continue to be anagarika (bhikkhu servant) for 1 year before being ordained as a novice monk. I attended his dedication to lead an early monastic life (novice) in April 2018, and ordination as a monk in June 2019.

I want to have the opportunity to know and learn more from him, and have the opportunity to recount in writing one day.

The monk Sumangalo, another young monk from Bodhinyana, told the background why he chose life as a Buddhist monk during a dhamma talk session in the routine program of the Buddhist Society of Western Australia (BSWA) which was broadcast live on Youtube, on 7 June 2020. Before being a monk, he is an anagarika (one who dedicates himself serving monks) at the Bodhinyana monastery in Serpentine, Western Australia. I often saw him in the monastery’s public kitchen and cleaning, when I visited there. (https://youtu.be/pw2N0_p5jBk)

The lay life of Bhikku Sumangalo, immigrated to follow their parents from South Vietnam in 1987, through childhood and adolescence also in California, in the famous Silicon Valley technology area. Graduating from a college majoring in information technology and finance, he lives the life of all young people in his age and time.

Since the beginning he has had many questions in his mind that life is more than just what is seen and lived by almost everyone, graduating from school, looking for work, pursuing a career, family life, success. He also experiences the pleasures of a young life in a city that provides a lot of entertainment. He began to see that all that was materialistic pleasure was not lasting. He felt that life is more than that. He began to search and listen to his deeper conscience. In his search, he liked meditation because it gave him the opportunity to really look inside. He saw more clearly in his inner silence the meaning of life, not something obtained from reading a book, the process of intelligence, thinking, said by smart people or told by wise people. The answer is always in inner silence. The journey brought a lot of happiness which made him decide to continue to pursue this quest. He visited the Bodhinyana forest monastery in Western Australia, taking more time to practice, finally being ordained a novice in 2017 and becoming a monk in 2018. If I’m not mistaken, If I remember correctly, I attended his ordination on April 12, 2018 at night at Bodhinyana Monastery at the invitation of my Indonesian friend, Handri, who later became the Bhikkhu Ananda.

Bhikkhuni Canda, a Buddhist nun who now lives in England, also recently shared her journey in “My Life As A Buddhist Nun.” (https://www.facebook.com/100026024162850/videos/553422712201863/)

It all started from a spiritual quest at a young age. Bhikkhuni Canda was born in Chesterfield, north of London, England, into a well-established and happy family. Despite living in a safe country with good social security she still had many questions that she kept from childhood. When completing high school and before making the decision to go to college, she pondered whether this was the best path for her life. Whilst she saw people who continue their education and then pursue a career, living reasonably happily, for her, this always left a lot of questions. When she would hear the daily news about the war, power and greed that never seem to change, she could not understand why humans have to hurt and inflict so much suffering on each other. What exactly is the purpose of life, and how could she react with compassion and search for an end to this suffering? Thoughts like this appeared to her at about 15 years of age.

Fortunately she had a very close best friend, who she planned a trip to India with when she was 19. She herself did not know why she had to go to India. When they got there, she immediately felt that there was a deep interconnectedness there. It is true that in India she saw much suffering, but the nuances of surrender to accept things as they are were more real, the uncertainties and impermanence of life seemed more real. Suffering and death were evident daily and on the streets – something that you never saw and was taboo to talk about in England. The hope for understanding all this became still greater. Not long afterwards, she heard about meditation. She felt this was an opportunity for her to look inside. She thought she had to sit with her own mind and watch what would happen in there when she is alone, to learn about herself.

From the very beginning, young Canda realised that happiness does not depend on external conditions alone. Despite pleasant outside conditions, a good family, succeeding in school and having good friends, there was still suffering. Young Canda wondered what really going on in her mind. Feeling quite depressed in her teens was partly due to the suffering of not knowing why she’s really here.

The first meditation practice that she joined at the age of 20 was vipassana meditation. The focus was on being aware of her body sensations and observing the way her mind works was her first sort of insight. She had always thought she was reacting to things outside, but actually she realised she was reacting to the sensation inside. When an ouside object was in contact with her senses, a sensation along with awareness of the sensation would arise, within her body and mind. She realised she had never really been reacting to the external object at all, but to that sensation inside. 

And she realized that this was the key for us to weaken the craving or reactivity. We get a pleasant sensation when we meet someone that we like, we want more of it because they make us feel good. We want that sensation again and again. The same thing when we get in contact with something unpleasant or unwanted, we get an pleasant feeling, unplesant emotional and a mental reaction.  The reaction is to get rid of it. We want to push it away. This is also kind of craving. So we’re constantly reacting – pushing away or being enticed by the objects in the world.

Through meditation, we understand suffering is arising within us. We learn how to develop equanimity, inner peace, and space around it, understanding that things change. They’re not fixed –  they’re actually arising and passing constantly. 

Venerable Canda

So, this was the first thing for her to understand the Buddhist focus on suffering and the fact that suffering arises from a cause which is craving. Knowing that was so powerful because she realised that we can start to look inwardly, and we can start to address the cause instead of trying to amend all the external manifestations of suffering. We can actually go right inside to look at the cause – where that suffering is coming from, and gradually uproot that cause.

She felt she was fortunate to start this kind of practice without really knowing anything about Buddhism as a religion, because it had an immediate affect. The first thing she felt was an enormous sense of hope, as she knew this was really the true purpose of her life. She knew that she just wanted to take this as deep as she could for the rest of her life, and she didn’t know where that faith came from. It was partly experiential because it just made so much sense – and she already felt more balanced, lighter and had a sense of relief. Also, it may have had something to do with perhaps being on this journey in her previous lives. She spent the next seven years of her life living in Asia to develop the practice. 

Bhikkhuni Canda continued to talk about the teachings she got from her teachers and her ordination as a nun in Burma, and later a bhikkhuni. She was fortunate learning from the prominent meditation teacher Goenka (an Indian businessman living in Burma), and then from Ajahn Brahm in Australia. 

She also feels grateful to be given the opportunity by Ajahn Brahm to found Anukampa Bhikkhuni Project in England (https://anukampaproject.org). She is now living in England and working closely with Ajahn to establish Britains’ first training monastery for fully ordained (bhikkhuni) nuns.

I am fortunate to have met Bhikkhuni Canda a couple of times, at Ajahn Brahm’s 67th birthday celebrations in 2018 in Perth, and at Ajahn Brahm’s visit to England in 2019 in London. And occasionaly, I listen to her dhamma talks. 

Sincere thanks to Ven. Canda for her endorsement and review on the “My Life As A Buddhist Nun” section.

June 2020

During the quarantine period of 14 days – returning from Ghana, Africa – in a hotel in Perth, Australia.