Beberapa Sahabat Masa Kecilku

Persahabatan yang terjalin di masa kecil tidak pernah hilang. Kami menjalani masa kecil dan awal remaja di kampung Lumut yang sangat sederhana, meninggalkan banyak kenangan bersama. Saat beranjak remaja, kami berpisah satu-satu meninggalkan kampung halaman merantau keluar pulau Bangka untuk menempuh jalan hidup masing-masing.  Masa itu sekitar tahun 80-an. Aku yang yang paling terakhir meninggalkan kampung setelah menyelesaikan sekolah lanjutan hingga SMA di Belinyu. Aku meninggalkan kampung di akhir tahun 1985 untuk meneruskan pendidikan di Palembang.

WhatsApp Image 2020-04-24 at 12.01.05 PM
circa 1981 – Chongku, AJau, Akiu, Achion, Akwet, Akong, dan aku

Kami masih saling berkiriman surat pada masa-masa itu. Setelah masing-masing dengan kesibukan dan kehidupan sendiri-sendiri, kami sudah jarang sekali berhubungan kecuali saat bertemu kembali saat pulang kampung bersama. Namum persahabatan kami tidak pernah terputus. Begitu bertemu kembali (atau berhubungan lewat telpon), keceriaan, perhatian, dan kehangatan persahabatan selalu ada disana.  Kita tidak pernah mempermasalahkan kenapa si Anu tidak pernah menghubungi sekian lama.

Bagiku persahabatan sejati memang seharusnya tidak mengikat tapi membebaskan; hanya ada ketulusan, perhatian dan saling memahami.

Tentu aku punya banyak kawan baik sekampung lainnya yang telah memberi warna dalam kehidupanku, hanya saja kali ini aku ingin bercerita sebatas tentang kawan yang satu ‘gang’, Ajau, Akwet, Achion, Akiu, dan Akong. Kami bersahabat di waktu kecil, dengan karakter unik masing-masing, melakukan banyak hal bersama, dan langgeng sampai saat ini meski jarang sekali bertemu.

Di tahun 2015 kami sempat berkumpul meski tidak lengkap, saat pulang bersama di Tahun Baru Imlek. Sekarang, peluang itu sudah tidak memungkinkan, paling tidak untuk beberapa waktu sampai pandemik COVID-19 berlalu. Ini malah memberi kesempatan bagi kami untuk ngobrol lewat video call lewat applikasi seperti Whatsapp.

_MG_2834
Imlek di 2015 – aku, Akong, Ajau, Achion, Akwet, minus Akiu.

Kami coba untuk kali pertama beberapa minggu yang lalu, dan hari ini untuk kedua kalinya.  Banyak sekali yang kami obrolkan, kali ini panjang obrolan kami hingga 3 jam, aku di siang hari dan mereka di malam hari karena perbedaan waktu 7 jam. Kami coba merajut ingatan kolektif kami tentang masa-masa kecil,  kejadian unik dan lucu, tempat dan waktu yang kami lewati bersama, dan mendengarkan beberapa lagu lama yang membantu kami mengenang masa-masa lalu. Terasa sekali banyak potongan ingatan yang tercecer setelah kurun waktu lebih dari 30 hingga 40 tahun berlalu.

Tentu kami ngobrol dalam bahasa Khek (Hakka) Bangka, bahasa ibu kami di kampung, yang sering kali diujarkan dengan nada keras, kadang seperti orang bertengkar kalau tidak biasa mendengarnya, tapi seru. Meski jarang sekali dipakai, aku tidak pernah lupa bahasa ibuku. Aku masih cukup lancar dan bahkan mungkin lebih terjaga keasliannya karena tidak banyak terbaur dengan bahasa lain. Ada beberapa perbendaharaan kata yang aku gunakan tidak lagi begitu lazim dipakai, tapi sudah disisipi dengan kosa kata Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu. Yang aku kurang mahir adalah perbendaharaan umpatan-umpatan yang kadang sering dipakai kalau ngobrol di antara kawan-kawan. Agak risih juga mendengarnya, kadang menggelikan dan menghibur …

Cerita mengalir mulai dari mandi di kolong bekas tambang, tempat-tempat berkumpul kami, sokongan beli gula, kopi dan makanan saat kumpul, bikin pondok di atas pohon, memancing, berburu, nonton di misbar, juga termasuk kenakalan-kenakalan kami yang kadang di luar batas, seperti mencuri di kebun orang, dan merokok. Tentu, juga bercerita tentang perjalanan hidup yang sarat dengan perjuangan, jatuh bangun, dan upaya menerima dan mulai melepas. Mengingat usia, tak jarang diselipi obrolan tentang bagaimana tip masing-masing menjaga kesehatan, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran waktu kami kecil dulu.

Dari semua kawan-kawan, hanya aku yang belum banyak tergantung dengan kacamata. Semuanya sudah tidak bisa membaca dari layar HP tanpa kacamata. Itupun dengan sedikit bersusah payah menjauh dekatkan obyek agar mendapat fokus pengelihatan yang tepat. Tapi, aku yang paling gemuk, kata mereka aku kegemukan. Dulu aku paling ceking. Harus dikurusin, biar lebih sehat. Semua ini menjadi bahan tertawaan kami. Bagaimanapun juga, harus diakui menertawakan diri sendiri adalah salah satu cara hidup lebih sehat. Jauh lebih baik daripada menertawakan orang lain.

Kami sempat coba mengingat siapa orang-orang di kampung dulu yang seumuran kami sekarang waktu kami remaja. Beberapa orang yang kami sebut memang rasanya sudah tua dalam ingatan remaja kami. Jadi seumuran kami sekarang ini, harusnya sudah cukup berumur. Ini menjadi cara melihat realita sebagai bentuk dari mawas diri kami. Mudah-mudah kami semua bisa menua dengan bahagia tanpa harus mengingkari kenyataan. 

Kami sebenarnya masing-masing punya karakter yang sangat berbeda dan unik. Pun sebenarnya kami tidak semuanya sekelas waktu sekolah. Jenjang pendidikan formal kamipun berbeda-beda, dari pendidikan formal SD, SMP, dan hanya aku yang menempuh pendidikan formal lanjutan. Ada diantara kami yang hanya sempat mengenal literasi dasar baca tulis karena harus putus sekolah dari SD karena ekonomi keluarga pada masa itu.

Yang aku ingat, kami tidak pernah memaksakan agar kami sama atau menyukai hal yang sama. Barangkali ini yang membuat persahabatan ini mengalir dan langgeng. Aku tidak pernah menyukai memancing atau berburu binatang, tapi aku bisa mendengar cerita keasyikan mereka belapun (berburu babi hutan). Bagi beberapa kawan, menulis dan membaca (termasuk membaca tulisan ini) mungkin merupakan hukuman.

WhatsApp 2020-04-19 at 7.37.53 PM
bercerita lewat WA 19 April 2020 – Achion, Ajau, Akiu, dan aku.

Ajau (Bong Cin Jau) punya karakter penuh perhatian, cermat dalam mengambil keputusan, pekerja keras, sangat setia kawan, dan paling punya jiwa seni diantara kami, dia bisa main gitar. Rumah Ajau di Jaseha (ada 5 atau 6 bagian kampung punya nama masing-masing) menjadi salah satu pos kumpul kami. Aku masih sering bertemu Ajau setelah merantau karena sama-sama di Palembang, sebelum aku merantau lebih jauh setelah selesai sekolah. Ajau ikut bekerja ditempat pamannya di industri rumah tangga pembuatan kerupuk dan roti kacang (theusa piang) lebih dari sepuluh tahun sebelum kemudian membuat usaha sendiri sampai sekarang. Setiap kali aku pulang ke Palembang, aku menyempatkan untuk bertemu dengan Ajau dan keluarganya. Kami bisa bercerita berjam-jam. Saat memperdengarkan lagu-lagu kecil kami, Ajau bisa mengingat dan menceritakan kembali dengan terperinci masa dan tempat kenangan lagu itu membawa kami. Ajau antusias saat aku ajak dia menghubungi kawan-kawan kami yang lain.

Akwet (Tham Kian Kwet) paling jangkung diantara kami, sering di panggil Kolo Kwet (si jangkung) di kampung. Di kampung orang sering dikasih nama lain berhubungan dengan fisik, karakter atau bisa apa aja.  Akwet memilih kembali ke kampung setelah merantau sekian lama di Lampung dan Jakarta, berkeluarga dan membantu usaha orang-tuanya, dan merawat mereka di hari tua mereka. Akwet yang aku kenal adalah seorang penyabar, menjadi pengingat dan penyeimbang saat kelakuan kami yang kadang nakal di luar batas. Setiap mudik, aku selalu mencari Akwet untuk bercerita disela kesibukan dia dengan keluarga dan usahanya. Akwet sempat menemani aku jalan-jalan ke kampung Pangkal Niur di tahun 2015 mencari teman-teman kecilku waktu tinggal disana.

Achion (Tham Khin Chion) masih sepupuan dengan Akwet, berkarakter keras  dan tegas. Nama kecilnya (nickname) Phulu Chion (tempat air bentuk labu yang sering terlihat di filim silat klasik).  Entah bagaimana dia bisa dapat nama ini. Achion boleh dibilang adalah kepala ‘gang’ kami. Kini dia bekerja dan bersama keluarga tinggal di Bekasi. Sama dengan Ajau, Achion sempat merantau di Palembang di tahun 80-an bekerja di tempat paman Ajau di industri rumah tangga pembuatan kerupuk. Achion datang ke resepsi pernikahanku di Palembang di tahun 1995 saat dia sudah di Jakarta. Aku sempat mencari dia di rumahnya di Bekasi sekitar tahun 2010-an. Terakhir ketemu di 2015 di Bangka.

Akiu atau Fo Kiu, (Jong Kiu Su) seorang yang flamboyan, boleh dibilang Don Juan-nya kampung Lumut, melengkapi ‘kedigdayaan’ gang kami di kampung. Akiu sekelas waktu di kelas 6 SD. Akiu yang paling duluan merantau diantara kami, saya lupa tahun berapa, tapi mungkin sekitar tahun1981. Seingat aku, dia bekerja perusahaan pembuatan tas di waktu awal merantau di Jakarta. Di awal-awal merantau, Akiu masih sering mudik waktu hari raya seperti Imlek. Kami semua berkumpul dan jalan-jalan ala pemuda kampung waktu itu. Akiu pernah mengalami satu kecelakaan motor di tikungan tajam Batu Tunu, Belinyu, sekitar tahun 1983-an, Sekarang tinggal di Depok bersama keluarga. Sudah 15 tahun lebih kami tidak pernah bertemu.

Akong (Cong Sun Kong) seorang yang periang, punya banyak ide dan pintar melucu, suka meniru tingkah laku orang lain untuk candaan. Nicknamenya Bu Kong (si hitam), nggak hitam-hitam amat sih. Akong juga memilih pulang kampung setelah sekian lama merantau di Jakarta, berkeluarga dan merawat orangtua hingga akhir hayat mereka. Setiap mudik aku selalu mencari dia dan Akwet untuk bercerita.

Bagaimana kesan mereka tentang aku? Entahlah. Itu tidaklah penting. Oh ya, dulu saya pernah dipangil dengan Botak Hung (si Botak). Aku sendiri nggak tahu atau ingat kenapa dipanggil si botak, tidak pernah ingat kalau pernah botak pada waktu kecil. Rambut akupun lebat sampai sekarang, hanya mulai memutih. Sejauh ini, hanya pernah botak sekali di kemudian hari saat menjalani pelatihan pabbajja samanera (novice monk) di tahun 1991 di Kotabumi.

WhatsApp Image 2020-05-17 at 2.45.49 PM (1)
Formasi lengkap di Whatsapp Chat 17 Mei: Akong, Achion, Akwet, Ajau, Akiu, dan aku.

Masing-masing kami menjalani kehidupan dengan semua liku-liku kehidupannya. Seperti hakekat semua hal, tidak ada yang tetap, semuanya berubah.  Persahabatan inipun tidak selamanya mulus, ada kerenggangan di satu masa karena masalah pribadi. Namun terakhir mencair dan kembali membaik. Ada kebesaran hati disana, untuk menerima dan melepas. Aku sendiri kagum dengan kebesaran hati yang ditunjukkan, sungguh tidak ringan. Rasanya kami sudah cukup berumur untuk memahami banyak pelajaran dari kehidupan, dan terus belajar darinya.

Kami tidak pernah saling membandingkan ‘pencapaian atau keberhasilan’ masing-masing. Semua punya perjalanan unik masing-masing yang tidak bisa saling diperbandingkan. Kami masih tetap bersahabat setelah sekian puluh tahun, dengan cara unik kami. Bagiku persahabatan sejati memang seharusnya tidak mengikat tapi membebaskan; hanya ada ketulusan, perhatian dan saling memahami.

Setiap kali bercerita, selalu ada kerinduan akan kampung halaman dan keinginan untuk suatu saat berkumpul di kampung.

Accra, Ghana, Afrika Barat – Bekasi – Depok – Lumut

17 May 2020

Seven Years in Tibet

Filem layar lebar dengan judul ‘Seven Years in Tibet’ (1997)  yang dibintangi Brad Pritt and David Thewlis ini diangkat dari bagian kisah hidup Heinrich Harrer, seorang Austria. Heirich lahir pada 6 Juli 1912 and meninggal di tahun 7 Januari 2006 pada usia 93 tahun, adalah seorang pendaki gunung, olahragawan, penjelajah alam, dan pengarang.

Di tahun 1948, Heirich bekerja sebagai pegawai pemerintah Tibet, menerjemahkan berita asing dan juga fotografer pengadilan. Heinrich diminta oleh Dalai Lama untuk membangunkan satu bioskop. Projector filemnya dijalankan oleh mesin sebuah mobil jip. Heirich menjadi pengajar bagi Dalai Lama dalam Bahasa Inggris, ilmu geografi dan ilmu pengetahuan alam. Persahabatannya dengan Dalai Lama berlanjut seumur hidup mereka.

Ada satu dialog dalam filemnya yang menarik tentang perbedaan budaya, antara Pema Lakhi – seorang gadis penjahit dan Heinrich muda. Heinrich mencoba memikat gadis muda Tibet ini dengan membanggakan kemampuan memanjat gunung menaklukkan Eiger North Face di Switzerland dan juara olimpiade yang diraihya.

Pema Lakhi menimpali:

Then this is another great difference between our civilization and yours. You admire the man that pushes his way to the top in any walk of life. While we admire the man who abandons his ego. 

Inilah perbedaan besar lain antara peradaban kami dengan peradaban kalian. Kalian kagum dengan orang yang berjuang keras hingga ke puncak dalam perjalanan hidup mereka. Sementara, kami mengagumi orang yang berjuang melepaskan keakuannya.

Pema Lakhi akhirnya menikah dengan Peter Aufschnaiter, kawan sependakian dan sepelarian Heinrich.

Accra, Ghana, 16 Pebruari 2020

Mesjid Raya Hassan II مسجد الحسن الثاني Casablanca, Morocco

Saat liburan akhir tahun ke Morocco bersama keluarga, kami mengunjungi mesjid terbesar di Afrika yang juga merupakan mesjid ke-3 terbesar di dunia, Mesjid Raya Hassan II di Kota Casablanca. Mesjid ini bisa menampung 105,000 orang (25,000 didalam mesjid and 80,000 orang di lapangan mesjid), memiliki menara setinggi 210 meter dengan 60 lantai yang merupakan menara mesjid tertinggi ke-2 di dunia. Di atas menara terdapat satu titik laser yang cahayanya diarahkan ke kota Mekkah.

IMG_0061

Mesjid Raya Hassan II terletak di pinggir pantai di atas daratan yang menjorok ke Samudra Atlantik dan menempati kawasan seluas 9 hektar. Mesjid dibangun separuh di daratan and separuh lagi di atas laut Samudara Atlantik yang membutuhkan rancangan dan konstruksi khusus. Pembangunannya dilakukan pada masa Raja Hassan II, memakan waktu 7 tahun dari 1986 hingga 1993 menelan biaya pembangunan sekitar 585 juta Euro (sekitar Rp.9,4 Triliun) yang sebagian besar dananya dari donasi 12 juta orang. Mesjid dirancang oleh  seorang arsitek Prancis, Michel Pinseau yang tinggal di Morocco.

Lapangan yang luas berlantaikan batuan marmer dan granit memberi kesan lapang dan terbuka. Dikelilingi oleh bangunan fungsional dan arsitektur lainnya, bangunan mesjid yang megah berukuran 200 meter kali 100 meter, dengan keindahan seni arsitektur, mosaik dan pernik-pernik bangunan yang mereflesikan kekayaan seni budaya Islam di Morocco.

IMG_8321

Mesjid Raya Hassan II menjadi tempat menarik bagi turis, dan juga bagi masyarakat setempat. Banyak terlihat keluarga keluarga yang duduk santai di lapangan di depan mesjud yang berunduk (berteras), duduk di lantai batu marmer dan granit, memandang pilar-pilar artistik dan bangunan mesjid yang megah berdinding mosaik indah, terlebih diterpa matahari senja yang kuning keemasan. Udara musim dingin mengharuskan semua orang memakai baju penghangat. 

Meski banyak orang berkunjung, suasana tetap cukup hening, karena orang lebih banyak diam menikmati suasana. Dan lagi pula, di halaman yang luas terbuka suara tidak mengema memberi kesan hening. Kebanyakan orang duduk di lantai, terlihat anak-anak berlarian kesana kemari.

IMG_6068

Saya suka suasana hening seperti ini, senang melihat orang menikmati senja dengan berbagai cara tanpa mengganggu orang lain. Suasana hening membawa rasa damai. Matahari mulai tenggelam diufuk barat. Cahaya yang senja menerpa permukaan bangunan mesjid memberi pantulan yang semula kuning keemasan menjadi merah muda…

IMG_0115
diterpa mentari senja, Mesjid Raya Hassan II memantulkan warna merah muda

Ketika kami hendak berjalan pulang, sekelompok anak remaja melintasi lapangan mesjid yang lapang, salah satu dari mereka menyapa ramah ‘ni hao‘, yang artinya apa kabar. Dikiranya kami adalah turis dari China. Di beberapa kesempatan sewaktu naik taksi, kami bilang kami dari Indonesia, mereka langsung bilang ‘Jakarta’, mereka tahu karena negara yang mayoritas muslim. Di kesempatan lain, seorang satpam penjaga mesjid menghampiri dan dengan ramah mengingatkan khawatir kami jatuh ketika duduk di teras yang dibelakangnya kosong dan di ketinggian.

Senja mulai tenggelam, malam menjelang, udara semakin dingin, kami berjalan pulang ke tempat penginapan yang berjarak sekitar 3.5 km, sambil menelusuri jalan-jalan kota Casablanca yang ramai dan sedikit tua. Meski suasanaya tidak begitu rapih, disini kami merasa aman berjalan kaki menelusuri pasar, ruko,  dan kadang melewati ruas jalan yang relatif sepi untuk pertama kalinya.

IMG_0106

Dari banyak kekhasan masyarakat di sini, salah satunya adalah banyaknya orang duduk santai di toko kopi sambil ngobrol dengan teman mereka atau sendirian dengan secangkir kecil kopi hitam kental (espresso). Saya beberapa kali mencoba kopinya, dan saya suka sekali.

Kami sempat mampir menikmati jajanan pasar di pinggir jalan, sambil mengobrol dengan satu ibu yang membantu menjelaskan jenis dan harga jajanan. Kami juga membeli makan malam di salah satu warung makanan lokal. Dengan uang sekitar Rp150 ribu, kami membawa pulang dua kantong plastik besar roti, nasi kuning, kebab, ayam panggang berbumbu lokal. Makan malam yang lebih dari cukup untuk kami bertiga.

25 Desember 2019, Casablanca, Morocco

Berikut adalah gambar-gambar lain yang diambil menggunakan kamera handphone biasa akan suasana pada saat itu.

 

Dedaunan

Saat ini kita berada di dalam hutan yang tenang. Di sini, tidak ada angin,  dedaun an diam tak bergerak. Ketika angin bertiup, daun bergerak dan melambai.

Pikiran adalah sama dengan daun tersebut. Ketika bersentuhan dengan kesan batin, iapun juga akan bergoyang sesuai dengan hakekat dari kesan batin tersebut. Dan semakin kita kurang mengerti Dharma, semakin pikiran akan terus-menerus mengejar kesan batin. Ketika merasakan kebahagiam, pikiran larut dalam kebahagiaan. Ketika merasakan duka, pikiran larut dalam penderitaan. Pikiran akan berada dalam gerak yang berketerusan.

Ajahn Chah – Wat Nong Pah Pong

Sebatang Pohon di Hutan

Kumpulan kiasan-kiasan Ajahn Chah

81628726_1699504213564676_6624924948852899840_o.jpg

 

Sumber:

 

Barcelona, Spanyol – 07 Januari 2020

Christ-Buddhamas

Ajahn Chah adalah seorang bhikkhu (biarawan Buddhis) yang sangat dihormati dari Thailand, Ajahn Chah lahir di tahun 1916 dan meninggal di tahun 1992. Diantara murid-muridnya, banyak orang-orang barat yang datang belajar dan berguru kepada Ajahn Chah. Dan tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menjadi biarawan Buddhis. Banyak diantara mereka sekarang tersebar di banyak negara dan menjadi guru spiritual terkenal, diantaranya adalah Ajahn Sumedho dan Ajahn Brahm.

Ajahn Brahm mengepalai beberapa biara di Australia Barat, termasuk biara tradisi hutan Bodhinyana  di Serpentine, tradisi yang sama yang dikembangkan gurunya Ajahn Chah di Thailand. Sosok Ajahn Brahm cukup terkenal di Indonesia lewat buku dan talkshow tahunannya di berbagai kota di Indonesia. Salah satu buku best seller Ajahn Brahm di Indonesia adalah “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko dari buku aslinya berjudul “Opening the Door of Your Heart”.

Saya berkesempatan dua kali mengunjungi biara tradisi hutan Ajahn Chah di luar kota Ubon Ratchathani, Thailand, sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos di kurun waktu tahun 2002-2003, yaitu biara Wat Pa Pong dan Wat Pa Nanachat.

Dalam suasana Natal ini, ada cerita menarik tentang sikap dan pandangan Ajahn Chah terhadap perayaan Natal yang diselenggarakan oleh murid-muridnya. Saya pernah mendengar cerita ini dari Ajahn Brahm. Namun, untuk akurasi cerita, saya mengutip tulisan dari Bhikkhu Jayasara dari Facebooknya. Tulisan aslinya (dalam bahasa Inggris) saya lampirkan di bawah tulisan ini. Selanjutnya, saya hanya menterjemahkannya saja.

Bhikkhu Jayasara mengagumi sikap bijak Ajahn Chah terhadap perayaan Natal, rasa kemanusiaan dan bagaimana sikap kita yang telah memilah-milah kita sendiri.

80291439_10220902258766753_3212596350126391296_n
Ajahn Chah

Pada saat itu menjelang hari Natal, para bhikkhu asing (orang barat) memutuskan untuk merayakan Natal bersama. Mereka mengundang beberapa umat awam dan juga Ajahn Chah guru mereka untuk ikut hadir. Orang-orang awam umumnya kecewa dan bersikap skeptis. Mengapa bhikkhu Buddhis ini mengajak umat Buddha merayakan Natal?

Ajahn Chah kemudian menerangkan:”Sejauh yang saya pahami, Ajaran Kristiani mengajarkan orang berbuat baik dan menghindari perbuatan jahat, sama halnya dengan Ajaran Buddha, jadi apa masalahnya? Namun, jika ada yang kecewa dengan gagasan merayakan Natal, ada penyelesaian yang mudah. Kita tidak akan menyebutnya Natal (Christmas). Ayo kita sebut “Christ-Buddhamas”.

Apapun yang mengilhami kita untuk melihat kebenaran dan melakukan apa yang bajik, itu adalah cara menjalani ajaran yang benar. Kamu boleh menamakannya apa saja yang kamu suka.”

Tanya: Kalau begitu apa bedanya Ajaran Buddha dari ajaran agama lain?

Ajahn Chah: Bagi setiap ajaran/agama yang luhur, termasuk Ajaran Buddha, adalah suatu kewajiban untuk  menuntun orang menuju kebahagiaan yang bersumber dari melihat segala sesuatu apa adanya dengan jelas dan terbuka. Apapun agama atau sistim kepercayaan atau praktek yang memenuhi semua ini, kamu bisa menamakannya Ajaran Buddha, kalau kamu mau.

Dalam agama Kristen, sebagai contoh, salah satu perayaan yang paling penting adalah hari Natal. Beberapa bhikkhu barat tahun lalu memutuskan untuk melakukan perayaan khusus Natal, dengan melakukan suatu upacara pemberian hadiah dan kegiatan menanam kebajikan (penerjemah: making merit – saya mengartikan ini kegiatan membantu orang lain yang membutuhkan). Beberapa murid saya yang lain mempertanyakan ini, mereka bilang.” kalau mereka ditahbiskan menjadi (biarawan) Buddhis, bagaimana mungkin mereka merayakan Natal? Bukankah itu adalah perayaan orang Kristen?”

Dalam ceramah dharma saya, saya menjelaskan bagaimana semua orang di dunia ini pada dasarnya sama. Sebut saja mereka orang Eropa, Amerika, atau Thai, itu hanya mengindikasikan dari mana mereka lahir atau warna rambut mereka, tetapi mereka semua pada dasarnya sama dalam hal batin dan jasmani, semua masuk dalam satu rumpun orang yang dilahirkan, menjadi tua, dan mati.

Saat anda mengerti ini, perbedaan menjadi tidak penting. Sama halnya, jika Natal adalah saat dimana orang membuat upaya khusus untuk melakukan apa yang baik, terpuji dan berusaha membantu orang lain, itu yang penting dan mengesankan, tidak masalah sistim apa yang anda gunakan untuk menerangkannya.

Jadi, saya katakan kepada orang-orang kampung (penerjemah: kedua biara terletak diantara kampung-kampung). “Hari ini kita akan sebut perayaan ini sebagai Christ-Buddhamas. Selama orang-orang menjalankan ajaran dengan baik, mereka menjalankan Ajaran Kristian-Buddhis, dan semua akan menjadi baik”

Saya mengajarkan dengan cara ini untuk membuat orang melepaskan kemelekatan mereka pada berbagai konsep dan melihat apa yang terjadi secara gamblang dan alami. Apapun yang mengilhami kita untuk melihat kebenaran dan melakukan apa yang bajik, itu adalah cara menjalankan ajaran yang benar. Kamu boleh menamakannya apa saja yang kamu suka.”

Marakhest, Morocco, Africa

27 December 2019

===================

Sumber:

https://www.facebook.com/bhikkhujayasara

Bhikkhu Jayasara

AJAHN CHAH ON CHRISTMAS

Buddhist monk Ajahn Chah has always been a wonderful source of Dhamma to me. His way of putting complicated subjects into easy words you just can’t argue with still inspires me. Every year I enjoy his words regarding Christmas, humanity, and how we divide ourselves:

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
179. It was Christmas and the foreign monks had decided to celebrate it. They invited some laypeople as well as Ajahn Chah to join them. The laypeople were generally upset and skeptical. Why, they asked were Buddhists celebrating Christmas? Ajahn Chah then gave a talk on religion in which he said, “As far as I understand, Christianity teaches people to do good and avoid evil, just as Buddhism does, so what is the problem? However, if people are upset by the idea of celebrating Christmas, that can be easily remedied. We wont call it Christmas. Let’s call it ” Christ-Buddhamas”. Anything that inspires us to see what is true and do what is good is proper practice, You may call it anything you like.“
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Q: Then is Buddhism much different from other religions?

A: It is the business of genuine religions, including Buddhism, to bring people to the happiness that comes from clearly and honestly seeing how things are. Whenever any religion or system or practice accomplishes this, you can call that Buddhism, if you like.

In the Christian religion, for example, one of the most important holidays is Christmas. A group of the Western monks decided last year to make a special day of Christmas, with a ceremony of gift-giving and merit-making. Various other disciples of mine questioned this, saying, “If they’re ordained as Buddhists, how can they celebrate Christmas? Isn’t this a Christian holiday?”

In my Dharma talk, I explained how all people in the world are fundamentally the same. Calling them Europeans, Americans, or Thais just indicates where they were born or the color of their hair, but they all have basically the same kind of minds and bodies; all belong to the same family of people being born, growing old, and dying. When you understand this, differences become unimportant. Similarly, if Christmas is an occasion where people make a particular effort to do what is good and kind and helpful to others in some way, that’s important and wonderful, no matter what system you use to describe it.

So I told the villagers, ‘Today we’ll call this Chrisbuddhamas. As long as people are practicing properly, they’re practicing Christ-Buddhism, and things are fine.”

I teach this way to enable people to let go of their attachments to various concepts and to see what is happening in a straightforward and natural way. Anything that inspires us to see what is true and do what is good is proper practice. You may call it anything you like.

Damai di Bumi Damai di Hati

Saya ikut acara misa Natal di Christ The King Catholic Church di Accra mendampingi istriku. Acara berlangsung dari jam 7:30 sampai jam 10:00 malam. Cukup panjang, relatif lebih lama dari misa Natal di Indonesia, dan juga lebih riang dengan empat grup paduan suara yang menyelingi ritual Natal silih berganti.

IMG_0039

Saya memang tidak menjalankan ibadah Natal, tapi saya bisa duduk di dalam gereja dan menikmati jalannya ibadah Natal. Saya ikut berdiri saat diminta berdiri, begitu juga waktu disuruh duduk. Apa yang bisa saya lakukan dalam 2.5 jam? Do nothing. Saya biasanya diam mengheningkan diri, kadang memejam mata, mendengar dan menikmati alunan paduan suara yang indah. Bagi saya, tempat ibadah adalah tempat suci, dimana sepatutnya orang tidak banyak melakukan kegiatan lain selain ibadah atau menghening.

Hari ini hari yang sibuk bagi saya, meski harusnya sudah libur kerja tetapi ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan. Butuh waktu agar kesibukan dalam pikiran memudar dan beralih berada dimana kita berada. Suasana riang di dalam gereja membantu dan juga wajah-wajah ceria dan khusuk dari jemaat gereja yang hadir malam ini.  Bahkan ada beberapa yang terlelap. Bagi saya ini adalah pertanda baik, artinya tempat ibadah seharusnya menjadi tempat dimana orang merasa aman dan damai berada di dalamnya.

IMG_0023

Pastor yang memimpin ibadah bersuara lembut, menyampaikan pesan Natal yang menurut saya sangat membumi, tentang kegembiraan akan kelahiran Juru Selamat Yesus Kristus, tentang ajakan untuk merayakan Natal dalam keluarga, the family that pray together, stays together. Juga tentang ajakan untuk membangkitkan spiritualitas Natal dengan lebih dalam dengan menyadari kehadiran Tuhan bersama kita.  Beliau mengingatkan memudarnya makna Natal yang diartikan sebagai pesta dan belanja. Natal seharusnya mempererat kebersamaan dalam keluarga serta mempererat tali persaudaraan dengan handai taulan. Pesan ditutup dengan harapan Natal membawa kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan bagi umat manusia…

IMG_9998

 

Terasa sekali kemeriahan acara paduan suara gereja ala film Sister Act-nya Whoopi Goldberg. Beberapa lagu-lagu setempat dengan alat musik perkusi yang khas juga ikut menyelingi ibadah Natal. Bahkan, beberapa lagu bernuansa Natal dengan irama jazz ikut dinyanyikan solo oleh seorang bapak paruh baya yang mengundang banyak tepuk tangan dari jemaat.

Seusai misa pastor dan rombongan meninggalkan ruangan. Di jalan keluar, pastor menghampiri seorang ibu tua. Ibu ini kelihatannya sangat gembira. Mereka sempat berbincang sebentar. Saya yang kebetulan juga keluar dari pintu yang sama sempat bersalaman dengan ibu tua ini. Merry Christmas… bisiknya hampir tak terdengar. Merry Christmas… balas saya sambil menggenggam tangan tuanya dan tersenyum…

IMG_0034

Malam mulai berlalu, pikiran kesibukan pekerjaan memudar, berganti dengan sedikit banyak keceriaan dan kedamaian. Dan inipun akan berlalu. Pikiran memang selalu seperti itu.

Selamat merayakan Natal bagi keluarga, teman dan kerabat, serta handai taulan yang merayakannya. Damai di bumi, damai di hati….

Sayup-sayup masih terngiang…

Silent night, holy night
All is calm, all is bright
Round yon Virgin, Mother, Mother and Child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly

…..

IMG_0038

Bandara Internasional Kotoka, Accra, Ghana

24 Desember 2019

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (11) – Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Entah dari mana gagasan ini, kami sepakat untuk meminta Ajahn Brahm memberikan nama kepada kami. Ini adalah kesempatan yang baik. Beberapa dari kami juga ingin meminta nama untuk anak-anaknya, bahkan nama untuk bayi yang masih dalam kandungan. Ajahn berjanji akan memberi nama Buddhis setelah kami kumpulkan nama-nama kami di secarik kertas.

Beberapa hari kemudian ketika kami tanyakan, Ajahn Brahm merasa sudah membuatkan nama-nama itu dan memberikan kepada salah satu dari kami. Tapi akhirnya Ajahn berjanji meluangkan waktu untuk kami khusus untuk memberi nama.

Tanggal 18 Juli 2018, pada sore harinya, kami berkumpul dan bergiliran dalam kelompok kecil untuk bertemu dengan Ajahn Brahm di aula kecil di dekat jalan masuk. Secara bergiliran kami diberi nama. Saya sempat mendampingi salah satu teman meditasi untuk menyampaikan keinginan meminta nama untuk kedua anaknya.

_MG_8931 (1)
bersama Ajahn Brahm yang memberi nama satu-satu kepada kami…
_MG_8933
satu-satu kami dikasih tahu arti dari nama kami…

Ajahn memandang satu satu kami dan menghening sejenak sambil memejamkan mata sebelum menuliskan nama pemberian. Ajahn selalu bilang, kalau dia mengerjakan sesuatu dia selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati. Setelah memberikan nama, Ajahn juga menjelaskan arti dari nama-nama tersebut.

Dulu sekali, di tahun 1986, di awal saya mengenal ajaran Buddha, saya diberi nama Karuna Silaberprilaku welas-asih oleh seorang bhikkhuni (biarawan wanita) paruh baya di vihara Dharmakirti Palembang. Welas-asih adalah salah satu sifat dari empat sifat yang membawa keluhuran (brahmavihara – kediaman luhur) yaitu kasih sayang (metta), welas-asih (karuna), ikut berbahagia dengan kebahagiaan orang lain (mudita), dan ketakgoyahan atau keseimbangan batin (upekkha).

Kalau tidak salah, saya mendapat giliran terakhir dikasih nama oleh Ajahn Brahm. Saya berlutut dan menelungkupkan kedua tangan di depan dada (sikap anjali) ketika Ajahn menghening sejenak dan menuliskan nama pemberiannya di atas kertas yang saya tuliskan nama saya. Nampaknya sebuah nama adalah sebuah harapan dan doa…

Dhammapãlo – Guardian of the Dhamma – Penjaga Dharma 

IMG_8232
Penjaga Dharma

Accra, Afrika

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (10) – Sekilas Panduan Meditasi

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (6)

Panduan Meditasi

Pada sesi panduan meditasi malam harinya, Ajahn memberi sedikit panduan dasar meditasi dalam obrolan pagi ini. Kata Ajahn, pertama-tama yang perlu disadari ada tubuh sebelum menyadari gerak pikiran. Pada saat mengambil posisi duduk untuk bermeditasi, luangkan waktu 5 sampai 10 menit untuk mengamati tubuh. Setelah mengambil posisi duduk, pertama-tama perhatian di arahkan pada kaki, apakah cukup nyaman, tidak terlalu tertekuk, coba digeser untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman.

Selanjutnya perhatian diarahkan pada pantat, apakah sudah pada posisi yang nyaman di atas bantal, coba sedikit dirubah/digeser posisinya apa lebih nyaman atau sebaliknya. Setelah cukup, perhatian dialihkan pada pungggung, apa tidak terlalu tegang atau terlalu membungkuk,  caranya pertama punggung dilurus tegak kemudian dikendorkan sehingga cukup rileks dan nyaman. Kemudian perhatian diarahkan ke bahu, posisi tangan dan kepala. Semua itu dilakukan dengan penuh perhatian.

Setelah badan kita nyaman maka perhatian kita bisa diarahkan untuk menyadari gerak pikiran. Menyadari lebih mengacu pada mengamati tanpa melibatkan diri pada gerak pikiran. Apapun pikiran yang muncul, hanya perlu disadari tanpa harus diikuti. Tentu ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pikiran kita sudah sedemikian terbiasa untuk selalu bergerak menanggapi semua sensasi yang diterima oleh indera dan olahan pikiran itu sendiri yang diasupi oleh semua aktifitas fisik dan konsep pemikiran kita.

Karena hanya disadari tapi tidak diikuti, pikiran yang bergejolak seperti kehilangan tenaga, menjadi lebih halus. Setelah aktifitas pikiran cukup tenang, kesadaran menjadi semakin kuat. Sering orang awam beranggapan bahwa orang yang meditasi itu mengosongkan pikiran. Mungkin karena kita sering sulit membedakan antara pikiran dan kesadaran. Pikiran adalah proses berpikir dan merencanakan – ‘doing‘, sementara kesadaran adalah menyadari proses berpikir tadi – ‘knowing‘.

Saat pikiran mulai mengendap, kesadaran akan mulai menguat, perhatian lebih mudah diarahkan dan indera kita menjadi lebih peka. Dalam keheningan kita bisa mendengarkan gerak langkah kaki orang berjalan bahkan gesekan antara kain saat berjalan keluar masuk ruangan.

Saat pikiran sudah mulai mengendap, dengan mudah atau dengan sendirinya kesadaran akan tertuju mengamati keluar masuknya napas, karena hanya aktifitas napas yang kasat pada kesadaran kita saat itu.

Katanya, menyadari atau mengamati keluar masuk napas kita satu satu dikeheningan, sangat indah dan membahagiakan. Katanya lagi, ini baru ‘kulit ari’ kebahagiaan dari pikiran yang mulai hening.

Kalau ada kebahagiaan yang sedemikian sederhana, kenapa kita dengan mudah lewatkannya dan terus mengejar dan melekat pada ‘kebahagiaan-kebahagian’ yang bermata pisau ganda di luar sana?

Accra, Afrika

_MG_8806
satu bait renungan dalam tiga bahasa (pali, thai dan inggris): ‘apapun perbuatan yang aku perbuat, baik atau buruk, akulah pewaris dari perbuatan itu…’