Knives Out

Penulis dan pengarah filem kawakan Rian Johnson mempersembahkan karyanya mengenang pengarang cerita misteri sepanjang jaman Agatha Christie dalam filemnya Knives Out yang dibuat tahun lalu, 2019. Rian adalah pengarah filim terkenal, salah satunya adalah Star Wars: The Last Jedi. Filem inipun dibintangi oleh banyak aktor kawakan, diantaranya Daniel Craig (pemeran James Bond), Chris Evans (pemeran human torch di Fantastic Four), Ana de ArmasJamie Lee CurtisMichael ShannonDon JohnsonToni ColletteLakeith StanfieldKatherine LangfordJaeden Martell, and Christopher Plummer. Knives Out menceritakan satu misteri pembunuhan masa kini dimana setiap orang punya motif untuk menjadi tersangka.

Saya mengenal cerita-cerita Agatha Christie hanya baru-baru ini ketika mulai menyenangi menonton serial Poirot (dengan pemeran legendaris David Suchet sebagai Hercule Poirot) dan Miss Marple yang legendaris ini, mungkin sekitar kurang dari 10 tahun terakhir ini sejak bermukim di Australia karena ada serialnya di televisi lokal. Jadi agak telat sebenarnya mengenal karya-karya klasik yang sudah melegenda. Seingat saya, itu sejak saya mulai menyenangi serial Midsomer Murder (diperankan oleh John Nettles atau Neil Dudgeon sebagai detektif Barnaby) dan Father Brown (yang diperankan oleh Mark Williams)

Saya lebih suka cerita misteri pembunuhan klasik seperti ini daripada NCIS misalnya, yang cepat alur ceritanya. Sementara cerita misteri klasik relatif lamban, namun sering sulit menebak pembunuhnya dan yang menarik biasanya setiap orang punya motif untuk menjadi tersangka. Lagian latar belakang kehidupan kota kecil atau perdesaan di Inggris yang unik sangat menarik.

Di setiap seri selalu saja ada minimal satu orang terbunuh secara misterius. Dengan puluhan seri, tentu ada ratusan orang yang terbunuh di satu kota kecil yang sama. Tentu kota kecil seperti Midsomer akan menjadi kota dengan tingkat kriminal tertinggi di dunia. Anehnya, pembaca dan pemirsa tidak pernah mempertanyakan atau mempermasalahkan itu.

—– 0 —–

Kembali ke Knife Out – kisah dengan latar belakang bunuh dirinya Harlan Thrombey (Christoper Plummer), seorang hartawan tua dengan anggota keluarga yang tercerai berai oleh pertikaian antar saudara, peselingkuhan, dan terakhir perebutan harta warisan. Dalam surat wasiat yang dibacakan di depan semua anggota keluarga, sang hartawan mewariskan seluruh hartanya kepada Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat pribadinya sangat dia percaya dan baik hati, seorang imigran dari Brazilia yang punya masalah tersendiri karena orangtuanya adalah imigran gelap.

Kekuatan cerita filim ini disamping memang didukung oleh aktor peran kawakan, terletak pada kesederhaan alur cerita yang dibungkus dengan kejutan misteri yang tidak mudah diduga. Sang perawat menyangka dirinya lah yang menjadi pembunuh majikannya karena salah menyuntikan morfin dosis tinggi. Juga tentang kebaikan dan kejahatan yang tidak selalu hitam putih. Detektif swasta Benoit Blanc (Daniel Craig) yang disewa secara misterius oleh salah satu anggota keluarga akhirnya mengungkapkan semua kejahatan di balik bunuh dirinya sang hartawan.

Seperti khasnya cerita-cerita model Agatha Christie, ada dialog sang detektif mengungkapkan runutan kejadian yang mengarah pada kesimpulan yang berakhir pada tertangkapnya pembunuhnya yang tidak disangka sangka.

Tentu saya tidak perlu menceritakan isi cerita filimnya karena akan membuat yang belum menonton menjadi tidak menarik lagi. Saya hanya ingin mengungkapan beberapa dialog dan beberapa nilai yang dibawa oleh filem ini yang menurut saya mengandung makna, dan juga menjadikan filem atau cerita klasik seperti ini berarti.

Saat detektif Blanc menghibur Mrs. Thrombey, ibu sang hartawan yang sudah sangat tua dan pikun, sekaligus untuk mendapatkan beberapa keterangan dalan penyelidikan pembunuhan anaknya. Si nenek Thrombey hanya terpaku diam ngelangsa tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya Blanc yang berbicara sendiri, tentang penderitaan dan usia tua,

Blanc: “But I’d imagine that age deepens all feelings including the grief.” (Namun saya membayangkan bahwa usia memperdalam semua perasaan termasuk kepedihan).

“One thing I assume of age is weariness.” (Satu hal yang saya lihat dari usia tua adalah keletihan)

dan tentang menemukan kebenaran.

“But the complexity and the gray lie not on the truth, but what you do with the truth once you have it.” (Namun kerumitan dan ketidakjelasan bukan terletak pada kebenaran itu sendiri, tetapi apa yang kamu lakukan dengan kebenaran itu setelah kamu mendapatkannya) 

Blanc menghibur Mrs. Thrombey

—– 0 —–

Detektif Blanc mencoba merangkai serpihan kebenaran yang dia temukan. Caranya mengumpulkan informasi dan mewawancarai saksi yang kadang konyol sempat menimbulkan keraguan tekan kerjanya kalau itu akan bisa menyelesaikan masalah. 

Blanc menggunakan teori donat yang memiliki bolongan di tengah. Semua informasi yang dia kumpulkan dan rangkai masih selalu menyisakan bolong kecil di tengah, membuat dia menyimpulkan bahwa ada satu otak pelaku utama yang mengatur kejahatan ini dengan sangat cerdas, termasuk dengan menyewa dia masuk dalam permainan ini.

Marta, perawat digambarkan sebagai gadis jujur dan polos. Dia memiliki satu ‘kelainan’ yang dialaminya sejak kecil, bahwa dia akan mual dan muntah kalau berbohong atau tidak menyatakan kebenaran saat memberi keterangan atau menjawab pertanyaan. 

Di bagian akhir dari filem ini, setelah pembunuhnya tertangkap, ada dialog antara Marta dengan Blanc.

Marta: “When did you know I had something to do with Harlan’s dead?” (sejak kapan kamu tahu saya terlibat dalam kematian Harlan?) 

Blanc: “Oh, from the first moment, you set foot in front of me.” (Sejak sangat awal ketika kamu duduk menjulur kakimu keluar),

sambil memandang sepatu yang masih dipakai Marta dimana terdapat satu titik bercak darah.

Blanc menambahkan:”I want you to remember something. That’s very important. You won, not by playing Harlan’s way, but yours. You’re a good person.” (Saya ingin kamu ingat satu hal. Ini sangat penting. Kamu menang, bukan dengan mengikuti permainan dengan cara Harlan, tapi caramu sendiri. Kamu orang baik).

Karena kepolosan Marta, dia coba dimanfaatkan oleh anak-anak Harlan agar bisa mengambil alih harta yang diwariskan oleh ayah mereka. Tapi justru kepolosan dan kejujuran Martalah yang menyelamatkan dia dari banyak perangkap yang dipasang oleh anggota keluarga Harlan yang kehilangan semua kekayaan yang diwariskan oleh ayah mereka. Tidak semuanya jahat, beberapa dimanfaatkan oleh anggota keluarga yang lain. Kebaikan dan kejahatan menang tidak hitam putih.

Perawat Marta Cabrera dan detektif Benoit Blanc

Terakhir saat Blanc berajak meninggal kan Marta. Sebelum berpisah, Marta seolah ingin minta dukungan akan tindakan dia selanjutnya dengan begitu banyak harta yang diwariskan kepadanya,

Marta: “This family, I should help them, right?” (Keluarga ini, aku seharusnya membantu mereka, iya kan?)

Sambil berjalan Blanc membalikkan badan dan menatap Marta,

Blanc: “Well, I have my opinion, but I have a feeling you’ll follow your heart,” (Yaah, aku punya pendapat tersendiri, tapi rasanya kamu akan mengikuti suara hatimu),

sambil berjalan meninggalkan Marta yang masih termenung.

—– 0 —–

Ditonton dalam penerbangan London – Doha dalam A350-1000 ketinggian 38000 kaki.

01 June 2020

Seven Years in Tibet

Filem layar lebar dengan judul ‘Seven Years in Tibet’ (1997)  yang dibintangi Brad Pritt and David Thewlis ini diangkat dari bagian kisah hidup Heinrich Harrer, seorang Austria. Heirich lahir pada 6 Juli 1912 and meninggal di tahun 7 Januari 2006 pada usia 93 tahun, adalah seorang pendaki gunung, olahragawan, penjelajah alam, dan pengarang.

Di tahun 1948, Heirich bekerja sebagai pegawai pemerintah Tibet, menerjemahkan berita asing dan juga fotografer pengadilan. Heinrich diminta oleh Dalai Lama untuk membangunkan satu bioskop. Projector filemnya dijalankan oleh mesin sebuah mobil jip. Heirich menjadi pengajar bagi Dalai Lama dalam Bahasa Inggris, ilmu geografi dan ilmu pengetahuan alam. Persahabatannya dengan Dalai Lama berlanjut seumur hidup mereka.

Ada satu dialog dalam filemnya yang menarik tentang perbedaan budaya, antara Pema Lakhi – seorang gadis penjahit dan Heinrich muda. Heinrich mencoba memikat gadis muda Tibet ini dengan membanggakan kemampuan memanjat gunung menaklukkan Eiger North Face di Switzerland dan juara olimpiade yang diraihya.

Pema Lakhi menimpali:

Then this is another great difference between our civilization and yours. You admire the man that pushes his way to the top in any walk of life. While we admire the man who abandons his ego. 

Inilah perbedaan besar lain antara peradaban kami dengan peradaban kalian. Kalian kagum dengan orang yang berjuang keras hingga ke puncak dalam perjalanan hidup mereka. Sementara, kami mengagumi orang yang berjuang melepaskan keakuannya.

Pema Lakhi akhirnya menikah dengan Peter Aufschnaiter, kawan sependakian dan sepelarian Heinrich.

Accra, Ghana, 16 Pebruari 2020