Meditasi Bersama Ajahn Brahm (9) – Panorama Sekitar Jhana Grove

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (5)

Kesibukan kerja di tempat baru di Ghana Afrika menghentikan saya dari meneruskan tulisan tentang pernik pelatihan meditasi ini. Padahal, ceritanya masih baru hari pertama. Saya memang tidak menargetkan apapun untuk penyelesaian cerita-cerita ini, namun saya tetap berkeinginan untuk meneruskannya saat saya punya waktu luang. Ada begitu banyak hal yang menarik yang ingin saya ceritakan, sebagai catatan saya di kemudian hari saat ingatan ini mulai memudar, dan harapan agar bermanfaat bagi orang lain yang berminat membacanya.

Selama pelatihan, makanan yang disajikan adalah makanan vegetarian, tidak ada daging atau ikan, kecuali telur. Seperti yang diceritakan sebelumnya, meski sederhana, makanan yang disuguhkan rasanya enak-enak. Mungkin juga karena saya punya lebih banyak waktu untuk mengecap rasa makanan tanpa diburu-buru oleh gerak pikiran yang mencoba menggapai kemana-mana.

Kami tidak diajarkan untuk melakukan doa tertentu waktu makan, hanya dipesankan untuk memberi ruang dalam batin kita untuk bersyukur dan menyadari bahwa makanan yang sampai diatas meja kami adalah hasil jerih payah dari banyak orang, sebagian adalah dari mereka yang mendedikasikan waktunya dengan sukarela. Kami selayaknya makan secukupnya, tidak membuang makanan, dan berterima kasih kepada semua orang yang telah berperan menyediakan makanan ini.

Sekitar tahun 1991 di tahun akhir masa kuliah saya, saya pernah mengikuti pelatihan menjalani latihan awal membiara (Pabbajja Samanera) di Kotabumi, Lampung bersama teman-teman selama sekitar 3 minggu di saat liburan sekolah. Kami melatih hidup layaknya seorang biarawan dengan kepala digunduli termasuk alis mata dan menggunakan jubah kuning maron layaknya seorang bhikkhu, dan juga menggangkat tekat untuk menjalankan aturan kebiarawan yang perlu dijalani oleh seorang samanera (novice).  Ada doa makan yang diajarkan pada waktu itu, yang intinya adalah perenungan bahwa kami seyogyanya hanya makan secukupnya, bukan untuk kenikmatan atau untuk mempercantik diri, tetapi untuk ketahanan, kelangsungan tubuh ini dalam menunjang kehidupan membiara.

Ini masih hari pertama, kami masih punya kesempatan untuk jalan-jalan ke dalam hutan sekitar masih dalam kawasan biara. Artikel kali ini, lebih banyak memuat foto-foto hasil jebretan saya di kawasan meditation centre. Kami dipesankan untuk jalan-jalan di sekitar sambil melihat tempat-tempat yang nyaman dan hening yang nantinya bisa dijunjungi sebagai tempat untuk bermeditasi.

Oleh seorang samanera (novice – calon bhikkhu), saya diwanti-wanti untuk tidak banyak melakukan aktivitas memotret (kebetulan saya membawa kamera SLR – single lens reflex camera) karena akan mengganggu keheningan batin yang ingin dilatih. Samanera Ananda adalah orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan telah lama tinggal di Amerika, datang ke biara Bodhinyana untuk melatih diri. Diawali sebagai anagarika (pembantu/pelayan bhikkhu) selama kurang lebih satu tahun, Handri (nama pangilan awam) ditahbiskan menjadi seorang samanera di bulan April 2018. Setahun kemudian, ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu di bulan Juni 2019 oleh Ajahn Brahm. Saya berkesempatan mengikuti kedua acara penahbisan tersebut. Bhikkhu Ananda kemungkinan orang Indonesia pertama yang ditahbiskan di Biara Bodhinyana dan oleh Ajahn Brahm. Suatu saat saya ingin menulis perkenalan saya dengan seorang Handri sampai beliau ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu Ananda. Ananda ada nama salah seorang murid utama Sang Buddha.

Berikut adalah rangkaian foto-foto (lebih dari 30 foto) bersama teman-teman rombongan Indonesia di sekitar kawasan Jhana Grove Meditation Centre  dengan suasana damai dan hening…

a picture paints a thousand words…

IMG_8224
pintu gerbang masuk kompleks pelatihan…
IMG_8223
jalan beraspal dalam kompleks pelatihan…
_MG_8917
jalan masuk ke kawasan jhana grove meditation center dengan latar belakang cottage tempat dan tempat pelatihan
_MG_8923
plakat pusat pelatihan meditasi jhana grove….
_MG_8927
stupa khas borobudur ditempatkan di tengah bangunan induk pusat pelatihan meditasi jhana grove

IMG_8199IMG_8206

 

Accra, Ghana

11 December 2019

Mining – a Part of My Life

Time is passing. Most of us might not even realize it. I would like to enjoy the time as much as I can, from moment to moment. My work has brought me a lot of colorful moments, not necessarily easy ones but I appreciate most of them as they are parts of my life.

As the time might be a continuous flow, I try to recall/capture the moments and put them here for me to remember before all the memories are fading away, for my family to appreciate what I have been doing in my profession, for my friends who are/were walking along with me in this path of life and for others who might benefit from it.

All things are changing constantly, nature, our body, and our mind. Nothing is permanent. Capturing the moment of the changing can be quite interesting and enjoyable.

Baci Ceremony
Blessed by Soutchai’s Grandmother in a Lao/Thai traditional Baci ceremony, in my farewell on 27 August 2006, Villaboully Village, Savannakhet, Lao PDR.

Perth, Western Australia

Posted in Facebook Note on 22 December 2008.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/mining-a-part-of-my-life/40729959034/

King of the People Hearts

Consolidating my writing from other media. This one was written in October 2016 and published in Facebook Note.

I do not know much about him but I am touched by the great love and respect of his people toward him.  Thai people show their utmost respect to the royal family, especially to their King Bhumibol Adulyadej. 

Many years ago, I was used to traveling through Thailand during my flying-in flying-out working at a mine site in Laos, traveling from the metropolitan Bangkok to smaller city Ubon Ratchathani, and to a small town Mukdahan next to the Mekong River before crossing to Savannakhet, Laos. My Thai friends talked about how much their King had done for the people and the country. It’s very common seeing Thai people make an anjali gesture by joining both of their palms and bow toward their king’s or queen’s pictures wherever they found for showing their deep respect. 

King of the People Hearts
Paying Respect

With my family, we had a chance to visit Chiang Mai once.  We passed some of King’s supported agriculture projects on the way of visiting an indigenous tribe in the north of Thailand. I can still  remember when I was flying with Thai Airways on the day of the 60th Anniversary of King Bhumibol Adulyadej’s accession to the throne in 2006, the pilot proudly made a special announcement from the cockpit that the inflight food served that day was cooked with the ingredients specially brought from the King’s supported farms.

Here in Down Under, thousands of kilometers away, the Thai community gets together to commemorate the passing away of King Bhumibol Adulyadej, they share their love to the King of the People Hearts.

My deepest condolences to my Thai friends for your beloved King departure.

Perth, October 2016

 

Biarawan Muda yang Tekun Berlatih

Seorang biarawan muda begitu bersemangat untuk melatih diri. Suatu hari, dia datang menghadap kepala biara untuk meminta izin menjalani tapa pengasingan seorang diri di pulau kecil di tengah danau di seberang biara. Dia ingin agar bisa memusatkan usahanya mencapai pencerahan secepatnya sehingga dia bisa melakukan banyak hal lain nantinya. Atas restu kepala biara, diantarlah biarawan muda ini menyeberang ke pulau kecil tersebut dan tinggal di sana. Bekal makanan dan keperluan sederhana sehari-hari dihantarkan setiap minggunya.

Setelah tiga tahun berlatih dengan tekun, biarawan muda ini menyakini telah mencapai pencerahan batin yang sempurna. Dia meminta dikirimkan kertas lukis beserta kuas dan tinta. Dia ingin menulis satu bait puisi dalam bentuk kaligrafi indah untuk dikirimkan kepada kepala biara demi menunjukkan tingkat pemahaman dan pencerahan yang telah dicapainya.

biarawan muda penuh tekat

tiga tahun menyendiri tekun berlatih 

tak kan lagi tergoyahkan 

oleh empat badai duniawi 

Gulungan kaligrafi yang indah inipun dititipkan untuk disampaikan kepada kepala biara. Pada hantaran bekal makanan berikut, dia menerima balasan dari kepala biara. Alangkah terkejutnya dia mendapati kaligrafinya yang indah dicoreti dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Setiap baris dari puisi yang dia tulis ditimpali dengan tulisan kata ‘Kentut!’ bertinta merah dan besar-besar.

Dia marah sekali dan tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kepala biara bisa begitu tidak bijaksana dan tidak bisa melihat pencapaian tinggi dari seorang murid berbakat seperti dirinya. Tidak tahan dengan hinaan ini, dia memutuskan untuk menyeberang balik ke biara dengan perahu pengantar barang yang sama, hari itu juga.

Dengan penuh emosi dia mempertanyakan maksud dari coretan itu langsung kepada kepala biara. Kepala biara tua ini menatap biarawan muda ini sambil berkata: “Biarawan muda, kamu bilang tidak lagi tergoyahkan oleh empat badai duniawi, namun… satu hembusan angin ketut telah meniup mu menyeberangi danau sampai disini…”

Sang murid seketika menyadari keangkuhan dan tingkat kemajuan batinnya. Dia kembali ke pulau di tengah danau untuk terus berlatih. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya mencapai pencerahan tertinggi.

(Disadur bebas dari cerita yang didengar dari Ajahn Brahm beberapa waktu lalu)

Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak. Semoga Semua Mahluk Berbahagia…

18359069_10154885937243197_8968065103245418517_o
Waisak 11 Mei 2017, Dhammaloka Monastry, Nollamara, Western Australia
Perth, 11 Mei 2017
Coba mengumpulkan tulisan yang pernah saya tulis di media lain. Ditulis pada saat Waisak di bulan Mei 2017, dipublikasikan di Note Facebook.

Sekilas Masa Kecilku di Kampung Pangkal Niur

Sudah lama aku meniatkan untuk bisa mengunjungi kampung tempat aku melewati sebagian masa kecilku dan untuk mencari teman-teman yang mungkin masih tinggal disana. Baru pada saat pulang mudik Imlek hampir lima tahun yang lalu di awal 2015 aku sempat kesana. Dan baru sekarang aku mencatatnya dalam tulisan ini.

Kampung halamanku sendiri adalah Kampung Lumut, di Kecamatan (sekarang sudah berstatus Kabupaten) Belinyu, Bangka. Kampung Lumut pada masa kecilku boleh dibilang penduduknya lebih dari 90% adalah masyarakat Tionghoa. Sekolah dasar (SD) tempat aku sekolah semua muridnya Tionghoa and bahasa kesehariannya adalah bahasa Hakka/Khek khas Bangka.

Aku bersekolah di Kampung Pangkal Niur dari kelas 2 sampai kelas 5 (1978). Orang tua dan adik-adiku masih tinggal di Kampung Lumut, hanya saya dan pengurus usaha Ayahku yang masih keluarga dekat yang tinggal di Pangkal Niur (yang dikenal sebagai Kampung Baru atau Sin Khamkhong dalam bahasa khek). Saat liburan sekolah aku baru pulang ke kampungku. Ayahku pulang pergi Lumut ke Pangkal Niur mingguan. Ada satu masa singkat Ibu dan satu adikku juga pindah tinggal di Pangkal Niur.

Masa itu telah berlalu lebih dari 40 tahun…

Tidak membuat rencana tertentu atau berharap apa-apa, ditemani kawan karibku Akwet kami berangkat ke Pangkal Niur hari Rabu pagi,  18 Pebruari 2015. Kami masing masing membawa satu sepeda motor. Aku mengikuti dia dari belakang. Jalanan telah beraspal bagus. Kebetulan juga dia ada keperluan ke satu kampung dekat Pangkal Niur untuk mengambil kepiting lokal (ketam hitam) dari nelayan di sana. Kepiting Akwet sangat terkenal bahkan bagi wisatawan yang datang dari luar Bangka.

Screen Shot 2019-11-24 at 8.30.26 am
Mengikuti Akwet dari belakang

Akwet membawa keranjang rotan dibelakang untuk tempat muatan barang. Keranjang rotan yang langsung mengingatkan aku pada ayahku pada masa kecilku. Seketika, kenangan masa-masa masa kecil yang lebih dari 40 tahun lalu muncul kembali dalam ingatan, seperti menonton filem bisu hitam putih.

Bersama ayahku kami sering melalui jalan ini dengan motor Honda CB 80cc-nya. Meski jaraknya hanya mungkin sekitar 25km, tapi rasanya jauh sekali saat itu karena jalan yang rusak dan hanya berkendaraan sepeda motor.

Kadang aku didudukkan diatas tangki bahan bakar di depan dan tangan saya memegang erat stang motor saat dibonceng ayahku. Aku berperawakan kecil dan sangat kurus waktu masih kecil, kelihatannya tidak begitu menghalangi ayahku mengendarai motornya meskipun aku duduk di depannya. Sering kali pahaku perih karena terkena rembesan bensin yang keluar dari tanki yang masih penuh dan terguncang karena jalan yang rusak parah. Aku suka duduk di depan seperti ini karena bisa leluasa menikmati penandangan dan sejuk diterpa angin dari depan saat motor melaju, sehingga tidak mabuk kendaraan.

Kadang aku didudukkan di dalam keranjang seperti yang dibawa oleh Akwet hari ini, dimana aku duduk di atas pelana keranjang dengan kaki menjuntai di kiri dan kanan keranjang, Posisi ini kurang menyenangkan karena duduk tidak leluasa, lutut sering terbentur dengan dinding keranjang yang terbuat dari rotan.

Sejalan dengan bertambahnya umur, duduk di depan sudah tidak menungkinkan. Aku duduk dibelakang (tanpa keranjang) dan bisa memeluk pinggang ayahku erat-erat. Aku sering mendengar senandung ayahku saat aku bersandar dan menempelkan telingaku ke punggungnya disela-sela desiran angin dan deru motor. Posisi duduk yang paling aku sukai.

Jembatan Perimping Lumut
Jembatan Perimping dengan latar belakang Gunung Maras

Jalan ke Kampung baru melewati jembatan Perimping. Dulu, jembatannya sempit, dan sepertinya panjang sekali. Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka, nampak berdiri kokoh di belakangnya. Jembatan aslinya ada di sebelah kanan tapi sudah tidak bisa dipakai lagi.

Perjalanan kami melewati kampung kampung kecil diantaranya Parit Tujuh, Sinar Gunung, Bernai, Buhir, Rambang.

Akwet mampir di Kampung Rambang untuk membeli kepiting hitam air payau, dan sempat ngobrol-ngobrol.

IMG_3170

IMG_3164

 

Kurang dari 10 menit dari Rambang, kami sampai di Kampung Baru (Pangkal Niur). Tentu keadaan sudah banyak berubah, sudah sangat banyak rumah-rumah permanen. Setahu saya masyarakat sebagian besar adalah petani lada.

IMG_3187.jpeg
Kampung Pangkal Niur

Masyarakat Pangkal Niur hampir seluruhnya adalah Melayu dan muslim. Pada masa itu, hanya dua keluarga, yaitu keluarga kami dan satu lagi keluarga  pamannya ayah (saya panggil sukkung) yang Tionghoa yang membuka usaha toko kelontongan dan membeli hasil bumi (lada dan karet).

Selain itu, usaha sukkung yang lain adalah membuat sikat dari sabut kelapa dan ijuk. Setiap hari sukkung dan istrinya (aku panggil sukpho) setiap hari duduk di depan toko membuat sabut ijuk dengan alat pemintal sederhana yang digerakkan dengan tangan. Belum ada listrik pada waktu itu, penerangan menggunakan lampu tangki minyak petromax (strongkeng – mungkin maksudnya dari merek Strong King). Aku dekat dengan anak-anak Sukkung aku panggil suksuk (paman) dan kuku (bibi). Aku ingat pernah tinggal beberapa lama di tempat sukkung. Aku adalah keponakan satu-satunya yang tinggal dekat mereka.

IMG_3181.jpeg
(Bekas) Toko Sukkung – tidak banyak berubah setelah lebih dari 40 tahun

Kami mampir di lapangan sepak bola, tempat kami akan kampung bermain dulu. Dulu rasanya luas sekali dan tidak banyak perumahan. Sekarang, lapangannya sudah dikelilingi oleh pemukiman.

_MG_2751

 

Tak jauh dari lapangan bola, ada kerumunan ‘pasar’ lokal. Pola masyarakat keseharian melalukan jual beli tidak banyak berubah. Pedagang sayuran dan ikan dengan motornya menjajakan dagangan mereka dimana saja pembeli berminat. Bedanya, dulu pedagang menggunakan sepeda, sekarang motor. Ayahnya Akwet adalah salah satu pedagang ikan keliling pada masa itu.

_MG_2747.jpeg

 

Kebetulan sekali kami bertemu dengan teman kelasku disini, Gipo. Memang rencanaku akan mencari dia kerumahnya. Dan lebih kebetulan lagi, kami ketemu dengan salah satu guru kami yang baru pulang dari kebun, Pak Haji Ashari. Beliau terlihat ceria dan sehat. Senang sekali bisa bertemu mereka di sini. Sayang, tidak terlalu banyak waktu untuk bercerita lebih banyak. Sehat dan bahagia selalu Pak Haji…

_MG_2748
Guru kami Pak Haji Ashari (kedua dari kanan) dan kawan sekelas Gipo (kedua dari kanan)

Akwet dan aku diajak kerumah oleh Gipo untuk bertemu keluarganya dan makan di rumah. Kami mulai bercerita panjang mengenang masa-masa sekolah dulu.

Gipo bercerita tentang perjalanan hidupnya dan keluarganya setelah kami tamat SD. Gipo punya 6 anak (kalau tidak salah ingat). Yang bungsu gadis kecil yang manis, dan yang sulung telah menyelesaikan studinya di kedokteran. Dia bersemangat bercerita dan bangga dengan anak-anaknya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya akan anak gadisnya yang telah menjadi seorang dokter, yang bersama kami ngobrol. Aku ikut bahagia mendengarnya. Dia juga bercerita tentang kurang sehatnya istrinya karena diabetes yang akut yang sekarang banyak mendapat perhatian dari anaknya yang seorang dokter,

IMG_3250

_MG_2753

 

Aku menanyakan satu persatu keadaan teman dan guru, teman-teman yang masih aku ingat namanya, Wanto kawan sebangku, Soleha, Junaidi, Supri atau aku sebut lokasi rumahnya kalau lupa namanya. Kakak perempuan Gipo juga sekelas dengan kami. Dia sekarang tinggal di tempat lain bersama keluarganya.

IMG_3320

 

Aku ajak Gipo ke sekolah SD kami dan minta ditunjukkan rumah/tempat tinggal aku dulu yang berdekatan  dengan sekolah kami.

IMG_3379

Kelasku dulu di barisan bangunan ini tapi masih bangunan lama dengan ruang kelas yang terbuka (setengah dinding) dari papan. Di kelas, hanya aku sendiri yang Tionghoa.

IMG_3376
Deretan ruang kelas kira-kira tempat aku dulu dari kelas 2 hingga kelas 5 SD

Gipo menunjukkan tempat tinggal kami dulu, kira-kira rumah yang ada parabola ini. Ingatanku melayang ke masa lalu, mengingat-ingat rumah kayu kami yang sekaligus warung dengan lantai tanah liat yang dipadatkan. Ada pagar kayu di depan rumah yang setiap 17 Augstus dicat kapur putih dan mengibarkan bendera merah putih. Bangunan rumah warung agak menjorok mungkin 5-10m dari pagar.

Warung dengan papan setengah dinding menjual barang kebutuhan sehari-hari, beras, minyak, gula, garam, terasi, bawang, juga membeli hasil lada dari petani. Ada satu anak tangga untuk turun ke ruang tengah sekaligus ruang makan dengan meja kecil di sudut kiri ruangan.

Sementara hanya ada satu ruang tidur di sebelah kanan dengan ranjang dipan yang tinggi dan lebar tempat menaruh kasur. Aku harus memanjat kalau mau tidur. Lebih ke belakang, ada dapur kecil yang dengan dua tungku kayu bakar dan tempat cuci berlantai papan hitam yang terkadang sangat licin terkena air.

IMG_3374
Ini kira-kira tempat kediaman aku sewaktu tinggal pada masa itu (Akwet dan Gipo)

Setelah cukup lama melihat dan bercerita, aku pamit dengan Gipo untuk pulang. Dalam perjalaan pulang, kami mampir di satu warung kecil di Kampung Rambang untuk isi bensin kalau tidak salah. Satu ibu berjilbab yang dari tadi duduk disitu menyapa:

“Pok ni Jin Hung yo, anak Khie Sung?”(Kamu Jin Hung ya, anaknya Khie Sung?)

“Aok” (ya); jawabku

“Kak kawan sekelas pok lah (Aku ini kawan sekelasmu)”, sambungnya.

Jin Hung adalah nama panggilanku oleh teman-teman sekolah waktu itu. Ayahku dikenal disana karena usaha dagang di kampung waktu itu, juga karena ayahku mendalami pengobatan akupuntur (tusuk jarum) dan moksibasi (pembakaran ramuan daun moxa pada titik-titik jalan darah – meridian) setelah tidak usaha dagang lagi, dan banyak melakukan pengobatan di kampung-kampung,

Kami bercerita tentang sekolah saat itu dan juga tentang kawan-kawan lain. Kawan sekolah yang tinggal di Kampung Rambang berjalan kaki ke Kampung Baru tempat sekolah kami setiap hari. Mungkin mereka butuh paling tidak 1 jam untuk berjalan kaki, dan seingatku ada satu bukit yang tinggi di tengah perjalanan (paling tidak untuk ukuran anak-anak).

IMG_3386.jpeg
Bertemu lagi dengan satu kawan sekelas, tak terduga.

Beberapa hari kemudian waktu lagi makan di warung mie di kampungku, seseorang mencari aku dan memperkenalkan diri. Dia adalah kawan sekelas SD juga yang tinggal dikampung sebelah. Dia tahu aku lagi mencari teman-teman SD dulu dari kawan sekampungku yang menjadi bos dia tempat dia bekerja. Tak ingin kehilangan kesempatan, aku ajak dia berfoto dan bercerita. Sayang, dia harus berangkat kerja segera.

 

IMG_4115

Ada begitu banyak kebetulan dan kejutan yang menyenangkan beberapa hari ini, tanpa direncanakan.

Aku tidak bertemu dengan Wanto – kawan sebangkuku, tapi istri dan anak-anaknya sempat datang ke rumah pada waktu hari Imlek mengabarkan bahwa Wanto sedang bekerja di TI (tambang timah inkonvensional) di kampung yang tidak terlalu jauh dari Lumut, Kampung Tanjung Batu, tidak bisa datang. Aku hanya bisa titip salam untuk dia dan mudah-mudahan bisa bertemu di lain waktu.

Di masa SMP, aku kadang masih ke Pangkal Niur ikut memembantu ayahku menawarkan jahitan baju dan celana. Ayahku punya usaha penjahit pakaian pria pada saat itu. Aku nyambi jadi penjahit di selah waktu sekolah.

Setelah tamat SMA aku meneruskan sekolah di Palembang dan mulai merantau seselesai sekolah. Jalan hidup membawa aku menjadi seorang pekerja tambang dan berkesempatan bekerja dan berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, Laos, Australia, Amerika, dan sekarang di Ghana Afrika.

Seiring waktu terus berjalan, ada keinginan menelusuri akar kita kembali, melihat kembali perjalanan kita lewat ruang dan waktu dan membiarkannya menjadi bagian masa lalu. Ada keinginan untuk lebih banyak bertemu dengan sanak keluarga, teman, kerabat yang berlintasan dengan kita selama kurun waktu perjalanan hidup kita. Tidak untuk menilai atau membandingkan, tapi hanya sekedar melihat kembali agar bisa mensyukuri apa yang telah kita raih, tidak kecewa dengan apa kita tidak raih, dan ikut berbahagia dengan apa yang diraih oleh orang lain.

Kita semua punya perjalanan unik masing-masing yang tidak bisa saling diperbandingkan…

Accra, Ghana (November 2019)

Catatan: Satu tahun kemudian (awal 2016), aku bertemu kembali dengan Gipo di Kampung Lumut, dia mengabarkan bahwa istrinya yang tercinta telah meninggal dunia karena diabetes. Turut berbelasungkawa yang dalam kawan. Semoga almarhumah mendapatkan yang terbaik, dan keluarga tabah.

Kastil Elmina – Saksi Sejarah Kelam Perbudakan

Di sela kerja yang sangat sibuk, ada sedikit kesempatan di akhir minggu bersama istri mengunjungi kota kecil Elmina, di sebelah barat daya kota Accra, Ghana – untuk sekedar berlibur. Perjalanan darat 3.5 jam dari kota Accra.

Screen Shot 2019-09-14 at 7.41.31 pm

Pertama, kami mengunjungi Kastil (istana) Elmina hari ini (14 September 2019).  Kastil ini didirikan oleh Portugis pada tahun 1482 sebagai pos perdagangan pertama didirikan di Teluk Guinea yang kemudian menjadi salah satu persinggahan utama jalur perdagangan perbudakan Atlantik (Atlantic Slave Trading). Belanda merebut kastil ini dari Portugis di tahun 1637. Perdagangan perbudakan terus berlangsung oleh Belanda hingga tahun 1814. Di tahun 1872, kastil di ambil alih oleh Inggris. Gold Coast, yang sekarang menjadi Ghana memperoleh kemerdekaan dari Inggris di tahun 1957. Kastil Elmina ditetapkan sebagai situs sejarah dunia oleh UNESCO. – disadur dari Wikipedia.

Kami berkenalan dengan pemandu kami, Kojo. Dia pasti lahir hari Senin. Kamipun memperkenalkan diri dengan nama lokal kami sesuai dengan hari lahir. Di Ghana, nama orang sering disesuaikan dengan nama hari kelahiran. Saya bisa dipanggil Kwame karena lahir pada hari Sabtu.

IMG_6233
Kwame dan Kojo

Ditemani Kojo, kami mulai berjalan memasuki satu lapangan luas di dalam kastil yang di kelilingi oleh bagunan dua lantai. Lantai bawah adalah tempat dimana para budak pria dan wanita disekap. Budak-budak ini tidak hanya dari Ghana, tetapi dari berbagai tempat di Afrika. Elmina adalah kastil persinggahan menunggu pengapalan ke Amerika yang dilakukan 3 bulan sekali saat kapal pengangkut kembali dari pelayaran. Jadi rata-rata para budak tinggal 3 bulan di kastil ini.

Sedangkan lantai 2  adalah tempat tinggal penguasa kastil yang setingkat gubernur dari bangsa Eropah, pengurus kastil, pedagang budak, misionari (ada tempat ibadah di dalam kastil), dan tentara (kastil ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dijaga oleh tentara),

IMG_6300
Kediaman Penguasa di Lantai 2 dan 3

Kami mengunjungi bangsal perempuan dulu. Ada sekitar 400 perempuan disekap di sini di 3 ruangan kosong yang pengap dengan lantai batu yang dingin. Ada perasaan keheningan yang aneh saat menelusuri ruangan kosong pengap ini, bahkan sebelum mendengar cerita dari Kojo.

Cerita Kojo mulai mengalir. Ruangan terbesar yang kami masuki memuat 150 orang yang sudah pasti harus tidur berdempetan di lantai. Tidak ada jamban, mereka harus menggunakan wadah kaleng untuk buang air di ruangan itu juga.

 

IMG_6239
Lorong masuk ruang sekap perempuan

 

Dia juga menunjukkan tempat tangga naik ke lantai 2, dimana para perempuan yang dipilih harus merayap naik dari lorong sempit dan memanjat tangga sempit (mungkin untuk alasan keamanan) sampai kediaman diatas untuk memuaskan nafsu para penguasa dan diturunkan lagi setelah selesai. Kojo menggunakan kata ‘rape’, diperkosa.

Juga mengenai bagaimana budak perempuan ini dihukum di lapangan terbuka dengan diikatkan dengan besi pemberat ditengah lapangan harus berjemur matahari dan kehujanan tanpa makan.

IMG_6232
Salah satu ruang sekap perempuan dengan lantai batu tanpa alas apapun

Ada satu ruang sekap yang dijadikan tempat ‘retret’ bagi pengunjung yang ingin merasakan derita leluhur mereka pada masa itu, dimana mereka menghabiskan satu malam tidur dalam ruang sekap ini dalam kondisi yang mirip pada masa perbudakan. Mereka memakai sarung dari karung (tepung?) dan rantai besi yang mengikat tangan dan kaki mereka.

Saya tanya kenapa ada seperti karangan bunga. Kojo menjelaskan, itu adalah karangan bunga yang ditaruh oleh pengunjung untuk memberi penghormatan pada leluhur mereka.

IMG_0137
Ruang sekap perempuan – ruang retret bagi mereka yang ingin mengenang derita leluhur mereka

Pada waktu pengapalan tiba, mereka digiring menuju lorong kecil yang pengap menuju kapal yang akan membawa mereka sebagai barang dagangan ke negara tujuan, yang sebagian besar dari mereka tidak pernah pulang kembali ke tanah kelahiran mereka sampai akhir hayat mereka.

IMG_6243

Ada satu ruangan kecil sebelum mereka harus berjalan menuju ke kapal. Ada banyak karangan bunga yang diletakkan di sini, yang dilakukan oleh para keturunan mereka yang datang kembali dari jauh seperti Amerika, untuk mengenang derita leluhur mereka ratusan tahun silam. Sebagian mereka melakukan ritual kecil bahkan menurut keyakinan lokal mereka sebelum agama misionaris mereka kenal.

IMG_0144

Ini pintu sempit terakhir sebelum mereka masuk ke kapal. Mereka namakan ini “Never Return Gate”, gerbang tak-akan-pernah kembali…

 

IMG_0146 (1)
Gerbang Tak-akan-pernah Kembali (Never Return Gate)

 

Banyak lagi kisah pilu yang kami dengar, tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan perlakuan tak berprikemanusiaan lainnya.

Sementara, di lantai 2, kehidupan mewah para penguasa. Ruangan besar, pemandangan ke laut dengan hembusan udara sejuk semilir.

Mengunjungi musium seperti ini bukanlah ‘liburan’ seperti yang dibayangkan dan bukanlah pengalaman yang nyaman. Nanum, ada dorongan untuk melihat langsung saksi sejarah bagaimana di satu masa dalam perjalanan manusia, ada sekelompok manusia memperlakukan kelompok manusia yang lain dengan sedemikian tidak beradabnya.  Dan sedihnya, sejarah terus berulang hingga kini, dan kita tidak pernah belajar.

Saya tanyakan kepada Kojo bagaimana perasaan dia. Dia cenderung mengganggap semuanya sudah berlalu. Bagi saya, dengan derita yang leluhur mereka alami, mereka sangat berbesar hati menerima semua ini. Saya juga menambahkan bahwa hikmah dari semua ini adalah sekarang orang Afrika sudah menyebar keseluruh dunia. Tapi saya tidak yakin kalau ini sepadan dengan derita yang mereka alami.

Namun saya dapat merasakan ada sikap skeptis saat dia menghubungkan misi misonaris pada masa perbudakan dengan derita yang mereka alami akibat perbudakan.

Dilantai 2, satu ayat tentang indahnya kediaman surgawi terpajang diatas pintu ruang ibadah. Ato Ashun, penulis buku Elmina, Kastil dan Perdagangan Perbudakan menulis dalam bukunya (hal. 56): “Ironisnya, tepat dibawah ruang ibadah adalah ruang sekap budak perempuan”.

Saya yang tidak punya hubungan emosi dengan mereka hanya bisa membayangkan kulit luar dari penderitaan mereka. Sulit dibayangkan derita dan ketidak-berdayaan yang mereka alami pada saat itu.

Batin manusia punya kemampuan untuk bertransformasi dan merasionalkan derita dan melepas (letting go) pada saat menghadapi derita yang dalam, baik lewat pembenaran religius maupun pencerahan batin. Mereka biasanya menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa itu, penderitaan itu akan menjadi tak terperi…

IMG_9641

Saya melihat masyarakat Ghana sangat religius, sekitar 70% kristen dan 30% muslim, tempat ibadah dimana-mana, sangat banyak para pengkotbah populer. Saya dibagikan buku kegiatan ibadah mereka oleh teman kantor. Namun saya juga dengan mudah menemukan beberapa teman Afrika yang ‘free thinker’.

Kebebasan beragama dijamin dengan baik. Salah satu teman kantor orang Afrika malah penganut Nichiren Shoshu yang katanya Buddhisme Jepang. Saya pernah berkunjung ke tempat ibadahnya. Saya cukup heran karena pengikutnya cukup banyak dan sudah berdiri 40 tahun yang lalu. Pendetanya dari Jepang. Baru-baru ini teman saya tadi memberitahu sekarang ada pendetanya yang dari Indonesia ditugaskan di Ghana ini.

Saat berjalam keluar gerbang, ada satu plakat di dinding berisi doa dan renungan:

Terpatri dalam ingatan selamanya

akan nestapa leluhur kami

semoga mereka yang meninggal, beristirahat dalam damai

semoga mereka yang kembali, menemukan akar mereka

semoga manusia tidak pernah lagi melakukan ketidak-adilan yang sedemikian terhadap kemanusiaan

kami, adalah janji yang akan tetap hidup untuk memperjuangkan ini

Elmina Castle, Ghana

IMG_6261

 

 

IMG_6249
menatap ‘never return gate – gerbang tak-pernah kembali’

 

IMG_6241
Ruang sekap lelaki

 

IMG_6245

 

IMG_6262
Dinding ruang kumuh dengan banyak kelelawar diatasnya

 

 

IMG_0183
Kastil Elmina di waktu senja

 

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (8)

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (6)

Baru ada kesempatan lagi meneruskan tulisan pelatihan ini setelah kembali dari liburan di Indonesia, dengan memanfaatkan waktu luang dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra dalam perjalanan tugas kerja ke Ghana.

Salah satu bagian favorit dari pelatihan ini saat sarapan dan makan siang. Ajahn Brahm sempat mencandai bahwa dia melihat banyak yang bolos dalam sesi meditasi atau dhamma talk, tapi tidak ada yang bolos waktu makan.

Selama pelatihan kita disuguhkan makanan vegetarian dan disiapkan oleh dua tukang masak dibantu oleh 4 sukarelawati. Tiga diantaranya adalah orang Indonesia and satu berasal dari Belanda. Sementara tukang masaknya (cook) adalah Paula, sepertinya keturunan India yang dibantu oleh suaminya, Jack, seorang bule.

Lily dan Rita yang berasal dari Medan, Veronica yang sudah tinggal Perth, dan Louise yang berasal dari Belanda. Mereka adalah mantan peserta pelatihan meditasi Ajahn Brahm dan datang kembali sebagai sukarelawati kitchen helper membantu tukang masak menyiapkan bahan masakan, menyajikan makanan dan tentu membersihkan dapur dan ruang makan. Mereka sangat cekatan, ramah dan melayani.

Lily tinggal di Medan dan Rita tinggal Jakarta, kedua berteman baik dan sering melakukan perjalanan bersama. Untuk kesekian kalinya mereka melakukan perjalanan bersama ke Perth khusus untuk menjadi sukarelawati. Satu berkah memiliki teman baik yang bisa sepemikiran dan seperjalanan melakukan hal-hal yang baik.

Mereka bekerja saat kami menjalani pelatihan. Kadang mereka bergabung dalam latihan dan mendengarkan dhamma talk dari Ajahn Brahm ketika kerjaan mereka sudah selesai. Kami sangat beruntung dilayani oleh mereka.

IMG_8182
Relawan yang sedang beristirahat. Rita(sweeter jingga), Lily (membelakangi), Louise dan Veronica (topi jingga)

Waktu sarapan dari jam 6:45 sampai jam 8:00 pagi setelah sesi meditasi pagi. Pagi di musim dingin, kami disuguhi dengan bubur panas dengan berbagai topping berbagai jenis kacang-kacangan, berbagai asinan termasuk daun olive, telur, dan tak ketinggalan aneka buah yang sudah dipotong-potong.

Entah kenapa makanan yang kelihatannya sederhana tapi rasanya lezat dan tidak membosankan. Saya memang suka makan bubur, jadi kebetulan sekali. Tapi baru kali ini saya tahu ada asinan daun olive (yang buahnya dibuat minyak olive), dan ternyata enak sekali.Begitu juga dengan makan siang dimulai pada jam 11. Makanan cukup beragam dengan nasi, telur, sup hangat, juga roti-roti, sayur-sayuran dan buah-buahan potong. Makanan yang disediakan lebin dari cukup dan rasanya lezat-lezat.

Malam hari, tidak ada lagi makan malam, hanya disediakan potongan coklat hitam (dark chocolate) dan keju, mengikuti tradisi kehidupan biara menjalankan Prilaku 8 Sila yang salah satunya tidak memakan makanan padat setelah tengah hari. Kami masih bisa membuat minuman yang semua bahannya tersedia di dépure, dan makan coklat dan keju yang disediakan kalau mau.

IMG_8223

Di masa pelatihan seperti ini, kami diharapkan tidak bicara kalau tidak perlu. Waktu makan, semuanya teratur mengantri dan hening. Ada yang masih ngobrol tapi seperlunya saja. Mengambil makanan yang diinginkan dan duduk ditempat yang diinginkan, di dalam ruangan atau di luar ruangan. Masing-masing mencoba mencurahkan perhatian sepenuhnya pada kegiatan makan, menyadari sebisanya gerak pikiran mulai keinginan menyendok makanan, gerakan fisik menyendok makanan, mengunyah, mengecap rasa, dan seterusnya. Berusaha untuk tidak buru-buru dengan semua kegiatan ini, hanya satu kegiatan satu waktu.

Di keseharian, kita terbiasa tidak banyak menyadari kegiatan gerak pikiran dan fisik saat mengerjakan sesuatu, termasuk hal sederhana seperti kegiatan makan ini. Pikiran kita bisa kemana-mana saat kita menyuap makanan ke dalam mulut kita, saat mengunyah dan mengecap rasa makanan yang mulai terasa di dalam mulut. Pikiran kita terus menerus berencana dan mengejar kegiatan berikutnya baik memerintahkan atau bahkan tidak menyadari tangan sudah sibuk mencari-cari sendokan berikut untuk disuapkan, atau meraih telepon genggam untuk mengetahui ada kegiatan apa di setiap group chatting, atau pikiran memikirkan masa lalu atau merisaukan masa depan. Kita tidak punya waktu untuk mengecap rasa makanan sepenuhnya. Kalaupun ada rasa makanan yang sedang dimakan, itu cenderung berupa sensasi saat sesaat karena perhatian yang timbul dan tenggelam dengan mudah lepas dari perhatian pada kegiatan makan dan mulai mengembara ke hal-hal lain yang mungkin lebih menarik. Pikiran cenderung tidak bisa diam untuk menikmati saat kini.

Dalam latihan ini, pikiran diberi kesempatan untuk memberi perhatian penuh melakukan satu kegiatan dalam satu waktu sehingga dapat mencerap sensasi yang terjadi pada saat itu, dalam hal ini – kegiatan menyendok, mengunyah, mengecap makanan dan seterusnya. Mungkin itu yang menjelaskan kenapa makanan yang sederhana menjadi begitu lezat saat perhatian penuh tercurah pada kegiatan ini. Makanan terasa lebih gurih, rasa asin, manis dan rasa lainnya dikecap secara penuh.

Ada satu cerita Ajahn Brahm ketika suatu hari dia berjalan kaki menaiki jalan berbukit menuju biara Boddhinyana di Serpentine, Australia Barat. Biasanya Ajahn diantar dengan mobil. Sebagai seorang biarawan senior, Ajahn jarang dibiarkan berjalan sendiri, selalu saja ada yang ingin mengantarnya. Sepanjang berjalan kaki menaiki jalan yang cukup terjal ini, Ajahn berkesempatan memperhatikan tumbuhan dan bunga-bunga yang mekar diterpa oleh sinar matahari pagi dan memantulkan cahaya warna warni yang indah sekali. Beberapa kali Ajahn berhenti berjalan untuk bisa mengagumi keindahan bukit kecil yang sudah sedemikian sering dilewati dan diamati lewat jendela dari mobil yang berjalan cepat. Jejak-jejak keindahan yang sampai ke dalam bola mata belum sempat diolah secara baik oleh syaraf-syaraf pengelihatan untuk dicerap di dalam otak ketika jejak-jejak baru terus datang berjejal menimpalinya. Kita kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan yang ada di depan mata.

_MG_8973

Dalam pemahaman saya yang masih awam ini, saya punya kesan bahwa perhatian penuh (mindfulness) sederhana seperti inilah yang coba dilatih dan diasah agar bisa menjadi keseharian yang akan membantu memahami bagaimana panca indera dan pikiran kita mencerap suatu fenomena dari luar dan menginterpretasinya dalam bentuk-bentuk perasaan dan pikiran, perasaan senang dan susah, suka dan tidak suka, bosan dan bergairah, rasa marah, rasa bahagia, dan lain-lainnya. 

Sejalan dengan perhatian yang mulai terasah and prilaku yang bermoral, pikiran lebih mudah menjadi hening (still), timbul dan tenggelamnya perasaan dan pikiran dapat diamati dengan perhatian penuh hingga memperoleh pengertian yang benar tentang suatu fenomena. Dengan demikian, kita mempunyai peluang untuk ‘bebas’ dari kemelekatan pada kondisi perasaan dan pikiran kita yang sering kali labil. Mungkin…

17 Desember 2018 dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra.

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (7)

Turut Berbelasungkawa yang Dalam

Pesawat Lion Air – JT610 pada hari Senin, 29 Oktober jatuh di perairan Kerawang dalam pernerbangannya dari Jakarta ke Pangkalpinang, merengut 181 nyawa.

Sesaat setelah mendengar berita kecelakaan ini, saya coba mencari tahu kalau ada orang-orang yang saya tahu ikut dalam penerbangan itu. Bangka adalah tempat kelahiran dan tempat saya melewati masa remaja saya. Keluarga, kerabat dan teman-teman banyak yang tinggal di Bangka dan Jakarta. Saya mendapati kabar ada famili dan teman baik yang anggota keluarga dekat mereka ikut menjadi penumpang JT610 pada pagi itu.

Sulit untuk dibayangkan duka yang alami oleh keluarga yang ditinggalkan. Orang-orang yang mereka cintai terengut dari mereka dengan sangat tiba-tiba dan semua harapan yang mereka gantungkan bersama pupus. Saya membaca dari surat kabar, Finanda Naysyifa “Nanda” seorang anak berusia 13 tahun meyakini ayah yang dicintainya, Paul Ayorbaba akan pulang ke rumah bersama keluarga lagi; “Saya yakin Ayah bisa berenang keluar dan selamat. Saya masih pegang janji Ayah untuk pergi hanya dua hari saja“.

Turut berbelasungkawa yang dalam. Semoga mereka yang meninggal dalam kedamaian dan kebahagiaan; dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah… 

Catatan 3 Nopember 2018

_________________________________________

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (5)

Sesi kedua – The Words of The Buddha

Sesi kedua dengan Ajahn Brahm setiap harinya adalah pembahasan kitab ajaran Buddha (Sutta Class) pada setiap pukul 3:00 sore selama 1 jam. Ternyata pelatihan meditasi kali ini ada Sutta Classnya. Saya sempat mendengarkan rekaman sesi-sesi dari dua pelatihan terdahulu sebelum memutuskan untuk ikut pelatihan ini. Dari dua kali pelatihan itu, hanya ada dua sesi per harinya, yaitu pagi berupa sesi Dhamma Talk dan sesi Tanya Jawab di malamnya. Sangat beruntung mendapatkan Ajahn Brahm membawa tambahan satu sesi Sutta Class setiap petang.

Ajahn Brahm menyampaikan bahwa Sutta (dalam kitab aslinya yang berbahasa Pali) menggunakan bahasa kuno dengan menggunakan kata-kata yang tidak mudah dimengerti di era modern ini. Sekarang ini dengan pemahaman yang lebih baik arti kata-kata tersebut, dilakukan ringkasan dengan tetap mempertahankan pemahaman isi dari kitab dan juga menghilangkan banyak pengulangan sehingga lebih hidup dan mudah dipahami.

Sebagai suatu risalah, karya ini didasarkan pada kerja dari Bhikkhu Nyanatiloka (seorang bhikkhu berkebangsaan Jerman, lahir tahun 1878) lebih dari satu abad yang lalu, yang ingin merangkum ajaran inti Sang Buddha dalam kerangka Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truth) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Eightfold Path). Dalam kerangka ini, dikumpulkanlah Sutta dan ajaran dari berbagai sumber, yang bisa dikatakan telah memperkuat  ajaran dasar dalam Sutta.

Jadi yang akan dibabarkan oleh Ajahn Brahm adalah ajaran paling dasar dari ajaran Buddha, tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan dari Sutta Digha Nikaya 16.

IMG_8188 (1)

Ajahn Brahm:

Empat Kebenaran Mulia mencakup kebenaran tentang adanya duka, kebenaran tentang sebab-musabab duka, kebenaran tentang lenyapnya duka, dan kebenaran tentang jalan menuju pelenyapan duka melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan melingkupi tiga bagian yaitu kebijaksanaan (melalui pengertian benar dan pikiran benar), prilaku (ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar) dan pengheningan (daya-upaya benar, perhatian benar, pengheningan benar).

Kebenaran pertama adalah tentang asal-muasal duka perlu dipahami dan telah dipahami sepenuhnya. Keinginan (wanting) adalah penyebabkan dari duka dan lingkaran kelahiran-ulang. Ada yang mengunakan kata keserakahan (craving), namun kata ini tidak terlalu tepat, keinginan (wanting) adalah kata yang lebih tepat.

Setelah asal-muasal duka dipahami, pelenyapan duka dilakukan dengan pelepasan (letting go) keinginan, yang merupakan kebenaran kedua tentang sebab-musabab duka. Ketiga adalah kebenaran tentang lenyapnya duka dengan berakhirnya keinginan. Dan keempat adalah cara yang harus ditempuh untuk melenyapkan duka dengan mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Meski kelihatannya sederhana, Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan sejatinya sangat dalam dan mendasar; sulit dilihat dan sulit dipahami; tidak bisa dipahami hanya dengan sekedar penalaran, dan sangat halus untuk diselami oleh para bijaksana.

Dikatakan bahwa kemelekatan yang besar pada diri akan sulit melihat kebenaran ini, kebenaran tentang runtunan hampa sebab-akibat dari kejadian dan kelenyapan yang saling-bergantung (dependent ceasasion and origination).

Seperti yang pernah saya sampaikan di awal penulisan ini, saya tidak ingin membahas isi ajaran formal dan ritual, atau membahas kemajuan dari pelatihan. Tetapi akan lebih banyak bercerita hal-hal umum. Namun dibeberapa bagian dari Sutta Class ini, mungkin tidak bisa dihindari untuk menyentuh sedikit tentang garis besar ajaran untuk memberi konteks yang tepat untuk cerita-cerita yang ditulis. Saya coba sebisanya menuliskan pernik-pernik pelatihan ini. Ajahn banyak bercerita lewat perumpamaan-perumpamaan, termasuk cerita anekdotal dan leluconnya. Itu yang hendak saya tulis di sini.

_MG_8993

Kemelekatan dan Keakuan

Ajahn Brahm:

Dalam hal kemelekatan pada sesuatu, sebenarnya dari manakah kemelekatan ini berasal? Kemelekatan itu seperti benang yang mengikat yang memiliki dua ujung; satu ujung adalah objek dan satu lagi adalah kita. Kita cenderung melihat hanya pada objeknya ketimbang kita yang melekat pada objek tersebut; “aku melekat pada SECANGKIR TEH”, “aku melekat pada OBAT-OBATKU”, “aku melekat pada JUBAHKU”. 

Saat kita kehilangan sepasang sepatu, apa yang sebenarnya menyebabkan kita begitu marah? Bukankah itu hanya sepasang sepatu, apa masalahnya? Masalahnya adalah itu sepatu AKU!

Ajahn bercerita tentang kunjungannya ke panti werda menjenguk ibunya yang mengalami demensia, 2 – 3 tahun sebelum ibunya meninggal dunia. Ajahn kesana bersama saudara laki-lakinya. Saudaranya melihat kalau pakaian yang dipakai ibunya bukanlah miliknya tapi pakaian orang lain. Saudara Ajahn tersebut selalu memastikan ibu mereka berkecukupan kebutuhannya termasuk pakaian.

Di panti werda khusus penderita demensia ini, tidak ada yang ingat punya siapa saja pakaian atau sepatu yang ada. Mereka bisa datang ke kamar orang lain dan melihat didalam lemari ada pakaian, mereka mengambil dan memakainya. Mereka saling memakai pakaian orang lain, dan semua orang bahagia di sana. Kalau di panti ini ada 50 sampai 60 orang, ini berarti mereka punya banyak pakaian untuk dipilih dan dipakai. Bukankah ini hal yang bagus saat kita berbagi tanpa ada kepemilikan?

Pengertian Duka

Ajahn Brahm:

Duka adalah merasakan apa yang tidak menyenangkan atau luput dari apa yang menyenangkan. Duka bisa berupa usia tua, kelahiran ulang, kematian, penderitaan, ngelangsa, rasa sakit, ketidak bahagiaan, ketegangan batin. Adalah duka tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau mendapatkan apa yang tidak diinginkan. 

Apa penyelesaian dari duka? Bukankah penyelesaiannya sangat jelas? Tidak menginginkan apapun. Andai saja kita memiliki rasa kecukupan yang lebih besar dan rasa ingin yang lebih sedikit, seharusnya tidak sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena keinginannya tidak banyak. Apapun yang ada telah mencukupi.

24 Oktober 2018 – Barak T014 – Boddington, Western Australia

Catatan: bagi yang tertarik dengan Sutta Class dari Ajahn Brahm ini dapat mengikutinya melalui tautan dibawah ini termasuk salinan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dibahas dalam 7 sesi selama pelatihan ini.

 

Sutta Digha Nikaya 16:

The Word of the Buddha

Track 02: Word of the Buddha Session 1:

https://www.podbean.com/media/share/pb-ev6za-961686

 

 

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (6)

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (3)

Siapa yang paling penting dalam hidup kita?

Pertanyaan kedua dari cerita tentang Tiga Pertanyaan Kaisar (Nicolas Tolstoy) adalah siapa orang yang paling penting dalam hidup kita. Kita mungkin akan menduga jawabannya diri sendiri, orang tua, anak atau yang lain. Menurut Nicolas Tolsloy, orang yang paling penting dalam hidup kita adalah orang yang berada di depan kita sekarang.

Bagi Ajahn Brahm, orang yang paling penting sekarang ini adalah kami yang berada di depan dia. “Nggak juga sih”, goda Ajahn.

Tulisan dibawah ini sebagian besar adalah saduran langsung dari dhamma talk Ajahn Brahm (huruf miring).

Ini akan membawa kita ke saat kini. Segala keberadaan saat ini menjadi hal yang terpenting. Jadi bagaimana seharusnya kita melakukan meditasi? Pada apa harusnya kita tujukan perhatian kita? Jawabannya adalah pada apapun yang ada di hadapan kita saat ini, itulah yang paling penting, maka sadarilah. Menyadari saat kini adalah pengalaman yang paling penting, yaitu pada apa yang terjadi saat ini. Apa yang harus kita lakukan dengan semua yang ada di hadapan kita?

“saya lelah,”

“saya bosan”,

“saya sakit,”

“saya kesal,”

“saya kalut,”

Semua ini penting dan harus sadari.

Apa yang harus dilakukan dengan ini? Jawabannya adalah menaruh kesadaran penuh terhadap semua pikiran ini dan merawatnya (care) dengan kasih sayang dan kewelas-asihan terhadap pikiran apapun yang sedang muncul.

IMG_8261

Apa yang paling penting dilakukan di dunia? To Care (not to Cure)

Berkaitan dengan ini, Ajahn bercerita tentang seorang murid awamnya, seorang dokter Srilanka yang dulu waktu masih menjadi dokter muda sering datang ke biara dan meminta nasehat kalau punya masalah. Sekarang dia telah menjadi seorang dokter yang sukses. Baru-baru ini dia pergi ke Rusia untuk menonton sepakbola Piala Dunia.

Suatu hari, dia datang  ke biara kota di Nollamara (biara Dhammaloka) dan menyampaikan bahwa dia akan berhenti menjadi dokter setelah pasien pertama dibawah perawatan dia meninggal dunia.

Pasien wanita yang baru berumur 23 tahun meninggal dunia tak terduga. Dan dia harus menyampaikan berita ini kepada suami wanita tersebut yang dampingi oleh anak mereka yang masih kecil, yang sekarang telah kehilangan ibunya. Dia merasakan kesedihaan yang dalam dari suami wanita tersebut yang begitu kehilangan di saat usia pernikahan mereka yang baru beberapa tahun, dimana hubungan mereka yang masih sangat hangat.

Waktu itu dia masih menjadi dokter praktek di tahun-tahun pertama sebagai dokter. Meski bukan kesalahan dia dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan pasien tersebut, tetapi dia merasa sangat bersalah dan itu terlalu berat bagi dia untuk memikulnya. Dia tidak bisa memikul beban seperti ini lagi kalau ada kejadian berikutnya,.

Ajahn Brahm memberitahu bahwa dia telah salah mengartikan tugas seorang dokter. Tugas utama dokter adalah memberikan perhatian dan perawatan (caring) bukan penyembuhan (curing), kalaupun ada penyembuhan itu untuk sementara. Cepat atau lambat seseorang itu akan meninggal dunia juga.

Kita selalu bisa memberikan perhatian dan kepedulian kita tapi tidak selalu bisa menyembuhkan.

(Ajahn Brahm)

Sambil bercanda Ajahn Brahm menyampaikan definisi kehidupan menurut Buddhisme – yang tidak didapat dari kitab suci, bahwa kehidupan adalah penyakit hubungan seksual yang mematikan (sexually transmited terminal disease). Meski kedengarannya negatif tapi mungkin ada benarnya.

Ajahn merasa ada kesalahan konsep dalam sistim penanganan kesehatan kita, dimana semua sumber daya dikerahkan untuk menyembuhkan seseorang tidak peduli seberapa menyakitkan proses pengobatan itu, selama orang itu mampu membiayai pengobatannya.

Ajahn menerangkan kepada dokter muda tersebut, bahwa tugas dia bukan untuk menyembuhkannya tetapi memberi perhatian dan merawat pasiennya. Kalau tujuannya adalah menyembuhkan, dia akan gagal berulang kali dalam pekerjaannya. Tapi dia tidak akan pernah gagal kalau tujuannya adalah memberi perhatian dan perawatan.

Sama halnya Ajahn Brahm sebagai seorang guru spiritual, kalau dia harus menyembuhkan kebiasaan buruk para bhikkhu, anagarika atau kami-kami di biara ini, katanya dia akan menyerah. Tapi dia akan selalu peduli dan memberi perhatian kepada semua. Peduli dan memberi perhatian lebih penting dari memperbaiki atau menyembuhkan.

Dokter muda tadi akhirnya mengerti. Kalau dia menempatkan perhatian dan usaha merawat lebih penting dari menyembuhkan penyakit, dia akan selalu berhasil. Dengan usaha perawatan dan perhatiannya kepada pasien, sebagai hasil sampingannya kemungkinan besar dia akan menyembuhkan lebih banyak orang.

Itulah jawaban dari pertanyaan ketiga dari Tiga Pertanyaan Kaisar tentang apa yang paling penting dilakukan di dunia ini, yaitu untuk peduli dan perhatian.

IMG_8303

Di dalam kehidupan keseharian kita, begitu banyak orang punya masalah dalam perkawinan, dengan anak-anaknya, dengan tubuhnya. Orang cenderung berusaha untuk merubah dan menyembuhkan semua ini, Merubah suami misalnya. Percayalah, para isteri tidak akan bisa merubah sifat buruk suaminya. Tapi para isteri akan selalu bisa untuk peduli dan memberi kasih sayang. Dengan kepedulian dan kasih sayang ini, sang suami akan memperbaiki dirinya sendiri. Begitu juga, anda tidak bisa merubah isteri anda, tapi anda dapat peduli dan perhatian kepadanya. Pada saat itulah hubungan suami istri akan mulai membuahkan membahagiakan.

Begitu juga dengan tubuh ini, cobalah rawat dan menaruh perhatian terhadap tubuh ini daripada mencoba menyembuhkannya. Jika anda harus duduk dikursi agar tubuh ini nyaman, lakukanlah. Keinginan untuk memaksa duduk di atas lantai yang keras atau duduk di atas pecahan kaca, hanyalah keegoisan saja. Kepedulian dan perhatian akan lebih membebaskan.

Rawatlah tubuh anda. Kalau anda perlu istirahat, istirahatlah. Terutama pada beberapa hari pertama pelatihan ini. Nantinya meditasi akan mulai berjalan baik. Itulah hal yang paling penting dilakukan.

Hubungan Tiga Pertanyaan Kaisar (Nicolas Tolstoy) dengan meditasi

Jadi inilah tiga pertanyaan kaisar itu. Waktu yang paling penting adalah sekarang. Orang yang paling penting adalah yang ada didepan kita. Dan Hal yang paling penting dilakukan adalah peduli dan perhatian.

Apa hubungannya dengan meditasi?

Apa yang sedang anda sadari saat ini? Sekarang! Itulah objek meditasi yang paling penting.

Apa yang harus saya lakukan? Sadari dan perhatian terhadap objek meditasi itu. Kalau anda coba menghindarinya atau berusaha membuatnya lebih baik, itu artinya kita berusaha menyembuhkannya daripada merawatnya. Maka sering kali kita berpikiran:

“saya akan menyembuhan pikiran saya dari kekotoran batin ini;”

“ayo berhentilah berpikir terlalu banyak;”

“ayo berhentilah kegelisahan ini, ketegangan ini;”

“saya hanya punya 8-9 hari dalam pelatihan ini, saya harus mencapai sesuatu dari latihan ini, saya banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjaan pulang dari sini nanti.”

Daripada mencoba menyembuhkan pikiran kita dari kondisi pikiran yang buruk, lebih baik menyadari dan memberi perhatian dengan penuh kasih sayang pada pikiran-pikiran ini, pada saat ini juga. Ini artinya anda bisa melakukan meditasi kapan saja, dimana saja, dalam posisi tubuh dan kondisi pikiran apapun.

Beberapa orang bertanya bagaimana dia bisa melakukan meditasi kalau dalam keadaan sakit di rumah sakit. Dia tidak dapat memperhatikan napasnya, apa yang harus dilakukan. Tentu saja kita bisa melakukan meditasi dalam keadaan seperti ini, kita tidak perlu duduk dengan kaki bersila dalam posisi teratai penuh misalnya. Kita bisa berbaring dan menyadari apa yang sedang kita pikirkan, seperti perasaan lapar, bosan, lelah, dingin pada saat ini.

Saat ini adalah saat yang paling penting; menyadari bahwa sedang berada di rumah sakit, sedang berbaring, dalam keadaan sakit. Apa yang kita pikirkan saat ini, kita peduli dan memberi perhatian lembut terhadap pikiran ini, tidak perlu takut dan tidak mencoba menghilangkan pikiran-pikiran ini.

Dengan cara ini, banyak hal yang menakjubkan akan terjadi pada tubuh kita. Cara ini akan mengantar kita pada inti dari meditasi, saat kita memberi perhatian penuh dengan kasih sayang untuk pikiran kita, tanpa mencoba menghindari atau menolaknya, tanpa menginginkan sesuatu yang lain; maka anda akan tepat berada pada saat kini, belajar dari saat kini.

Keadaan ini mungkin kurang menyenangkan tapi akan jauh lebih baik daripada kalau kita coba menolaknya atau kita menginginkan sesuatu yang lebih, atau menginginkan hal yang lain. Anda berada pada saat ini dan belajar memahami semua pikiran pada saat ini. Semua ini akan berlalu dengan cepat pada saat anda tidak melawannya tetapi dengan lembut merawatnya.

Secara ilmiah otak kita menghabiskan banyak energi, kalau tidak salah 24-25% dari seluruh energi yang dibutuhkan oleh semua organ – untuk berpikir. Mengingat ukuran otak yang kecil ini, otak merupakan organ yang menghabiskan paling banyak energi dibandingkan dengan organ lain.

Pikiran yang terlatih dengan hanya memperhatikan saat kini, akan bekerja sangat efisien dan menghemat banyak energi. Untuk itu pikiran menjadi segar. Dalam depresi, pikiran bergejolak dan memakan banyak energi otak yang menyebabkan kelelahan pikiran.

Ajahn Brahm bercanda kalau dia menjadi gemuk karena meditasi dan begitu banyak energi pikiran yang dihemat dan kelebihan energi turun ke perutnya. Andai saja Ajahn bisa belajar untuk berpikir lebih banyak atau khawatir lebih banyak, mungkin dia bisa menurunkan berat badannya.

_MG_9045

Inti dari Meditasi

Dalam meditasi, tidak ada perlawanan dalam pikiran tetapi kita merawat pikiran, tidak khawatir terhadap masa lalu dan masa depan, hanya merawat saat kini. Apa yang terjadi kemudian adalah anda menjadi bersemangat alih-alih kelelahan, depresi – kelelahan dari otak mulai menghilang.

Jadi saat kini adalah waktu yang paling penting. Beradalah di sini dan bersahabat dengan saat kini, dan otak anda akan menjadi bersemangat. Pada saat anda menjadi bersemangat, semua kegelisahan dan kelelahan hilang. Anda segar dan riang. Tidak hanya itu, anda mulai merasakan kebahagiaan. Semangat ini adalah kegembiraan, kegembiraan membuat anda bersemangat.

Beberapa orang mungkin tergantung pada secangkir kopi untuk memberi semangat di pagi hari. Tapi kalau anda bersemangat terutama karena tenaga alami (dengan meditasi), anda akan lebih bahagia. Karena anda bahagia, akan lebih mudah berada di saat kini, anda tidak perlu kemanapun, disini dan saat ini, indah dan menyenangkan.

Cara ini bukanlah meditasi kelas dua.  Ini bukan suatu cara meditasi pemula, yang kemudian akan masuk ke dalam meditasi yang ‘sebenarnya’ seperti memperhatikan napas, tapi inilah inti dari meditasi.

Sekarang adalah waktu yang paling penting. Orang yang paling penting adalah orang yang ada tepat di hadapan kita sekarang, dan yang paling penting dilakukan adalah beri perhatian sepenuhnya kepada orang di hadapan kita sekarang.

(Nicolas Tolstoy)

Apa yang terjadi kalau kita sedang berpikir sesuatu yang lain, berkhayal, berencana apa yang akan dilakukan kemudian; kalau semua ini ada dihadapanmu sekarang ini, itulah yang terpenting, maka sadari dan beri perhatian.

“baiklah pikiran, kalau kamu mau berpikir seperti itu, silakan saja.”

Apa yang terjadi, pikiran seperti itu adalah bentuk agitasi dari pikiran. Pada saat kita tidak masuk dalam agitasi itu, pikiran-pikiran itu akan segera berhenti. Ajahn Brahm nanti akan bercerita perumpamaan monster pemakan kemarahan, tentang monster yang dalam diri kita yang dibesarkan oleh penolakan-penolakan kita terhadap pikiran kita yang dianggap negatif. Pikiran-pikiran ini kalau diperlakukan dengan benar tidak akan bertahan lama, akan hilang dengan sendirinya. Pikiran kembali menjadi damai, hening dan bahagia.

Meditasi sejatinya sangat mudah ketika kita tidak mencoba untuk melakukannya, ketika kita tidak berkeinginan mencapai sesuatu, hanya berada di sini dan saat ini. Ini adalah pusat perhatian terpenting, yang hanya perlu disadari dan dipelakukan dengan lembut.

Ajahn Brahm

Ajahn Brahm juga menyediakan banyak boneka beruang (teddy bear) di ruang meditasi yang bisa dipakai untuk ditaruh dipangkuan untuk mengingatkan saat ini sebagai objek perhatian. Ini akan membantu meditasi menjadi jauh lebih mudah dan efektif. Ajahn juga menulis buku ‘Bear Meditation”.

Tulisan ini mengakhiri Morning Dhamma Talk Ajahn Brahm – 14 July 2018 (Track 01) – mulai 39:00-selesai: http://www.podbean.com/media/share/pb-d2dze-961685

Boddington – Western Australia, 10 Oktober 2018