Christ-Buddhamas

Ajahn Chah adalah seorang bhikkhu (biarawan Buddhis) yang sangat dihormati dari Thailand, Ajahn Chah lahir di tahun 1916 dan meninggal di tahun 1992. Diantara murid-muridnya, banyak orang-orang barat yang datang belajar dan berguru kepada Ajahn Chah. Dan tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menjadi biarawan Buddhis. Banyak diantara mereka sekarang tersebar di banyak negara dan menjadi guru spiritual terkenal, diantaranya adalah Ajahn Sumedho dan Ajahn Brahm.

Ajahn Brahm mengepalai beberapa biara di Australia Barat, termasuk biara tradisi hutan Bodhinyana  di Serpentine, tradisi yang sama yang dikembangkan gurunya Ajahn Chah di Thailand. Sosok Ajahn Brahm cukup terkenal di Indonesia lewat buku dan talkshow tahunannya di berbagai kota di Indonesia. Salah satu buku best seller Ajahn Brahm di Indonesia adalah “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko dari buku aslinya berjudul “Opening the Door of Your Heart”.

Saya berkesempatan dua kali mengunjungi biara tradisi hutan Ajahn Chah di luar kota Ubon Ratchathani, Thailand, sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos di kurun waktu tahun 2002-2003, yaitu biara Wat Pa Pong dan Wat Pa Nanachat.

Dalam suasana Natal ini, ada cerita menarik tentang sikap dan pandangan Ajahn Chah terhadap perayaan Natal yang diselenggarakan oleh murid-muridnya. Saya pernah mendengar cerita ini dari Ajahn Brahm. Namun, untuk akurasi cerita, saya mengutip tulisan dari Bhikkhu Jayasara dari Facebooknya. Tulisan aslinya (dalam bahasa Inggris) saya lampirkan di bawah tulisan ini. Selanjutnya, saya hanya menterjemahkannya saja.

Bhikkhu Jayasara mengagumi sikap bijak Ajahn Chah terhadap perayaan Natal, rasa kemanusiaan dan bagaimana sikap kita yang telah memilah-milah kita sendiri.

80291439_10220902258766753_3212596350126391296_n
Ajahn Chah

Pada saat itu menjelang hari Natal, para bhikkhu asing (orang barat) memutuskan untuk merayakan Natal bersama. Mereka mengundang beberapa umat awam dan juga Ajahn Chah guru mereka untuk ikut hadir. Orang-orang awam umumnya kecewa dan bersikap skeptis. Mengapa bhikkhu Buddhis ini mengajak umat Buddha merayakan Natal?

Ajahn Chah kemudian menerangkan:”Sejauh yang saya pahami, Ajaran Kristiani mengajarkan orang berbuat baik dan menghindari perbuatan jahat, sama halnya dengan Ajaran Buddha, jadi apa masalahnya? Namun, jika ada yang kecewa dengan gagasan merayakan Natal, ada penyelesaian yang mudah. Kita tidak akan menyebutnya Natal (Christmas). Ayo kita sebut “Christ-Buddhamas”.

Apapun yang mengilhami kita untuk melihat kebenaran dan melakukan apa yang bajik, itu adalah cara menjalani ajaran yang benar. Kamu boleh menamakannya apa saja yang kamu suka.”

Tanya: Kalau begitu apa bedanya Ajaran Buddha dari ajaran agama lain?

Ajahn Chah: Bagi setiap ajaran/agama yang luhur, termasuk Ajaran Buddha, adalah suatu kewajiban untuk  menuntun orang menuju kebahagiaan yang bersumber dari melihat segala sesuatu apa adanya dengan jelas dan terbuka. Apapun agama atau sistim kepercayaan atau praktek yang memenuhi semua ini, kamu bisa menamakannya Ajaran Buddha, kalau kamu mau.

Dalam agama Kristen, sebagai contoh, salah satu perayaan yang paling penting adalah hari Natal. Beberapa bhikkhu barat tahun lalu memutuskan untuk melakukan perayaan khusus Natal, dengan melakukan suatu upacara pemberian hadiah dan kegiatan menanam kebajikan (penerjemah: making merit – saya mengartikan ini kegiatan membantu orang lain yang membutuhkan). Beberapa murid saya yang lain mempertanyakan ini, mereka bilang.” kalau mereka ditahbiskan menjadi (biarawan) Buddhis, bagaimana mungkin mereka merayakan Natal? Bukankah itu adalah perayaan orang Kristen?”

Dalam ceramah dharma saya, saya menjelaskan bagaimana semua orang di dunia ini pada dasarnya sama. Sebut saja mereka orang Eropa, Amerika, atau Thai, itu hanya mengindikasikan dari mana mereka lahir atau warna rambut mereka, tetapi mereka semua pada dasarnya sama dalam hal batin dan jasmani, semua masuk dalam satu rumpun orang yang dilahirkan, menjadi tua, dan mati.

Saat anda mengerti ini, perbedaan menjadi tidak penting. Sama halnya, jika Natal adalah saat dimana orang membuat upaya khusus untuk melakukan apa yang baik, terpuji dan berusaha membantu orang lain, itu yang penting dan mengesankan, tidak masalah sistim apa yang anda gunakan untuk menerangkannya.

Jadi, saya katakan kepada orang-orang kampung (penerjemah: kedua biara terletak diantara kampung-kampung). “Hari ini kita akan sebut perayaan ini sebagai Christ-Buddhamas. Selama orang-orang menjalankan ajaran dengan baik, mereka menjalankan Ajaran Kristian-Buddhis, dan semua akan menjadi baik”

Saya mengajarkan dengan cara ini untuk membuat orang melepaskan kemelekatan mereka pada berbagai konsep dan melihat apa yang terjadi secara gamblang dan alami. Apapun yang mengilhami kita untuk melihat kebenaran dan melakukan apa yang bajik, itu adalah cara menjalankan ajaran yang benar. Kamu boleh menamakannya apa saja yang kamu suka.”

Marakhest, Morocco, Africa

27 December 2019

===================

Sumber:

https://www.facebook.com/bhikkhujayasara

Bhikkhu Jayasara

AJAHN CHAH ON CHRISTMAS

Buddhist monk Ajahn Chah has always been a wonderful source of Dhamma to me. His way of putting complicated subjects into easy words you just can’t argue with still inspires me. Every year I enjoy his words regarding Christmas, humanity, and how we divide ourselves:

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
179. It was Christmas and the foreign monks had decided to celebrate it. They invited some laypeople as well as Ajahn Chah to join them. The laypeople were generally upset and skeptical. Why, they asked were Buddhists celebrating Christmas? Ajahn Chah then gave a talk on religion in which he said, “As far as I understand, Christianity teaches people to do good and avoid evil, just as Buddhism does, so what is the problem? However, if people are upset by the idea of celebrating Christmas, that can be easily remedied. We wont call it Christmas. Let’s call it ” Christ-Buddhamas”. Anything that inspires us to see what is true and do what is good is proper practice, You may call it anything you like.“
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Q: Then is Buddhism much different from other religions?

A: It is the business of genuine religions, including Buddhism, to bring people to the happiness that comes from clearly and honestly seeing how things are. Whenever any religion or system or practice accomplishes this, you can call that Buddhism, if you like.

In the Christian religion, for example, one of the most important holidays is Christmas. A group of the Western monks decided last year to make a special day of Christmas, with a ceremony of gift-giving and merit-making. Various other disciples of mine questioned this, saying, “If they’re ordained as Buddhists, how can they celebrate Christmas? Isn’t this a Christian holiday?”

In my Dharma talk, I explained how all people in the world are fundamentally the same. Calling them Europeans, Americans, or Thais just indicates where they were born or the color of their hair, but they all have basically the same kind of minds and bodies; all belong to the same family of people being born, growing old, and dying. When you understand this, differences become unimportant. Similarly, if Christmas is an occasion where people make a particular effort to do what is good and kind and helpful to others in some way, that’s important and wonderful, no matter what system you use to describe it.

So I told the villagers, ‘Today we’ll call this Chrisbuddhamas. As long as people are practicing properly, they’re practicing Christ-Buddhism, and things are fine.”

I teach this way to enable people to let go of their attachments to various concepts and to see what is happening in a straightforward and natural way. Anything that inspires us to see what is true and do what is good is proper practice. You may call it anything you like.

Damai di Bumi Damai di Hati

Saya ikut acara misa Natal di Christ The King Catholic Church di Accra mendampingi istriku. Acara berlangsung dari jam 7:30 sampai jam 10:00 malam. Cukup panjang, relatif lebih lama dari misa Natal di Indonesia, dan juga lebih riang dengan empat grup paduan suara yang menyelingi ritual Natal silih berganti.

IMG_0039

Saya memang tidak menjalankan ibadah Natal, tapi saya bisa duduk di dalam gereja dan menikmati jalannya ibadah Natal. Saya ikut berdiri saat diminta berdiri, begitu juga waktu disuruh duduk. Apa yang bisa saya lakukan dalam 2.5 jam? Do nothing. Saya biasanya diam mengheningkan diri, kadang memejam mata, mendengar dan menikmati alunan paduan suara yang indah. Bagi saya, tempat ibadah adalah tempat suci, dimana sepatutnya orang tidak banyak melakukan kegiatan lain selain ibadah atau menghening.

Hari ini hari yang sibuk bagi saya, meski harusnya sudah libur kerja tetapi ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan. Butuh waktu agar kesibukan dalam pikiran memudar dan beralih berada dimana kita berada. Suasana riang di dalam gereja membantu dan juga wajah-wajah ceria dan khusuk dari jemaat gereja yang hadir malam ini.  Bahkan ada beberapa yang terlelap. Bagi saya ini adalah pertanda baik, artinya tempat ibadah seharusnya menjadi tempat dimana orang merasa aman dan damai berada di dalamnya.

IMG_0023

Pastor yang memimpin ibadah bersuara lembut, menyampaikan pesan Natal yang menurut saya sangat membumi, tentang kegembiraan akan kelahiran Juru Selamat Yesus Kristus, tentang ajakan untuk merayakan Natal dalam keluarga, the family that pray together, stays together. Juga tentang ajakan untuk membangkitkan spiritualitas Natal dengan lebih dalam dengan menyadari kehadiran Tuhan bersama kita.  Beliau mengingatkan memudarnya makna Natal yang diartikan sebagai pesta dan belanja. Natal seharusnya mempererat kebersamaan dalam keluarga serta mempererat tali persaudaraan dengan handai taulan. Pesan ditutup dengan harapan Natal membawa kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan bagi umat manusia…

IMG_9998

 

Terasa sekali kemeriahan acara paduan suara gereja ala film Sister Act-nya Whoopi Goldberg. Beberapa lagu-lagu setempat dengan alat musik perkusi yang khas juga ikut menyelingi ibadah Natal. Bahkan, beberapa lagu bernuansa Natal dengan irama jazz ikut dinyanyikan solo oleh seorang bapak paruh baya yang mengundang banyak tepuk tangan dari jemaat.

Seusai misa pastor dan rombongan meninggalkan ruangan. Di jalan keluar, pastor menghampiri seorang ibu tua. Ibu ini kelihatannya sangat gembira. Mereka sempat berbincang sebentar. Saya yang kebetulan juga keluar dari pintu yang sama sempat bersalaman dengan ibu tua ini. Merry Christmas… bisiknya hampir tak terdengar. Merry Christmas… balas saya sambil menggenggam tangan tuanya dan tersenyum…

IMG_0034

Malam mulai berlalu, pikiran kesibukan pekerjaan memudar, berganti dengan sedikit banyak keceriaan dan kedamaian. Dan inipun akan berlalu. Pikiran memang selalu seperti itu.

Selamat merayakan Natal bagi keluarga, teman dan kerabat, serta handai taulan yang merayakannya. Damai di bumi, damai di hati….

Sayup-sayup masih terngiang…

Silent night, holy night
All is calm, all is bright
Round yon Virgin, Mother, Mother and Child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly

…..

IMG_0038

Bandara Internasional Kotoka, Accra, Ghana

24 Desember 2019

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (11) – Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Entah dari mana gagasan ini, kami sepakat untuk meminta Ajahn Brahm memberikan nama kepada kami. Ini adalah kesempatan yang baik. Beberapa dari kami juga ingin meminta nama untuk anak-anaknya, bahkan nama untuk bayi yang masih dalam kandungan. Ajahn berjanji akan memberi nama Buddhis setelah kami kumpulkan nama-nama kami di secarik kertas.

Beberapa hari kemudian ketika kami tanyakan, Ajahn Brahm merasa sudah membuatkan nama-nama itu dan memberikan kepada salah satu dari kami. Tapi akhirnya Ajahn berjanji meluangkan waktu untuk kami khusus untuk memberi nama.

Tanggal 18 Juli 2018, pada sore harinya, kami berkumpul dan bergiliran dalam kelompok kecil untuk bertemu dengan Ajahn Brahm di aula kecil di dekat jalan masuk. Secara bergiliran kami diberi nama. Saya sempat mendampingi salah satu teman meditasi untuk menyampaikan keinginan meminta nama untuk kedua anaknya.

_MG_8931 (1)
bersama Ajahn Brahm yang memberi nama satu-satu kepada kami…
_MG_8933
satu-satu kami dikasih tahu arti dari nama kami…

Ajahn memandang satu satu kami dan menghening sejenak sambil memejamkan mata sebelum menuliskan nama pemberian. Ajahn selalu bilang, kalau dia mengerjakan sesuatu dia selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati. Setelah memberikan nama, Ajahn juga menjelaskan arti dari nama-nama tersebut.

Dulu sekali, di tahun 1986, di awal saya mengenal ajaran Buddha, saya diberi nama Karuna Silaberprilaku welas-asih oleh seorang bhikkhuni (biarawan wanita) paruh baya di vihara Dharmakirti Palembang. Welas-asih adalah salah satu sifat dari empat sifat yang membawa keluhuran (brahmavihara – kediaman luhur) yaitu kasih sayang (metta), welas-asih (karuna), ikut berbahagia dengan kebahagiaan orang lain (mudita), dan ketakgoyahan atau keseimbangan batin (upekkha).

Kalau tidak salah, saya mendapat giliran terakhir dikasih nama oleh Ajahn Brahm. Saya berlutut dan menelungkupkan kedua tangan di depan dada (sikap anjali) ketika Ajahn menghening sejenak dan menuliskan nama pemberiannya di atas kertas yang saya tuliskan nama saya. Nampaknya sebuah nama adalah sebuah harapan dan doa…

Dhammapãlo – Guardian of the Dhamma – Penjaga Dharma 

IMG_8232
Penjaga Dharma

Accra, Afrika

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (10) – Sekilas Panduan Meditasi

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (6)

Panduan Meditasi

Pada sesi panduan meditasi malam harinya, Ajahn memberi sedikit panduan dasar meditasi dalam obrolan pagi ini. Kata Ajahn, pertama-tama yang perlu disadari ada tubuh sebelum menyadari gerak pikiran. Pada saat mengambil posisi duduk untuk bermeditasi, luangkan waktu 5 sampai 10 menit untuk mengamati tubuh. Setelah mengambil posisi duduk, pertama-tama perhatian di arahkan pada kaki, apakah cukup nyaman, tidak terlalu tertekuk, coba digeser untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman.

Selanjutnya perhatian diarahkan pada pantat, apakah sudah pada posisi yang nyaman di atas bantal, coba sedikit dirubah/digeser posisinya apa lebih nyaman atau sebaliknya. Setelah cukup, perhatian dialihkan pada pungggung, apa tidak terlalu tegang atau terlalu membungkuk,  caranya pertama punggung dilurus tegak kemudian dikendorkan sehingga cukup rileks dan nyaman. Kemudian perhatian diarahkan ke bahu, posisi tangan dan kepala. Semua itu dilakukan dengan penuh perhatian.

Setelah badan kita nyaman maka perhatian kita bisa diarahkan untuk menyadari gerak pikiran. Menyadari lebih mengacu pada mengamati tanpa melibatkan diri pada gerak pikiran. Apapun pikiran yang muncul, hanya perlu disadari tanpa harus diikuti. Tentu ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pikiran kita sudah sedemikian terbiasa untuk selalu bergerak menanggapi semua sensasi yang diterima oleh indera dan olahan pikiran itu sendiri yang diasupi oleh semua aktifitas fisik dan konsep pemikiran kita.

Karena hanya disadari tapi tidak diikuti, pikiran yang bergejolak seperti kehilangan tenaga, menjadi lebih halus. Setelah aktifitas pikiran cukup tenang, kesadaran menjadi semakin kuat. Sering orang awam beranggapan bahwa orang yang meditasi itu mengosongkan pikiran. Mungkin karena kita sering sulit membedakan antara pikiran dan kesadaran. Pikiran adalah proses berpikir dan merencanakan – ‘doing‘, sementara kesadaran adalah menyadari proses berpikir tadi – ‘knowing‘.

Saat pikiran mulai mengendap, kesadaran akan mulai menguat, perhatian lebih mudah diarahkan dan indera kita menjadi lebih peka. Dalam keheningan kita bisa mendengarkan gerak langkah kaki orang berjalan bahkan gesekan antara kain saat berjalan keluar masuk ruangan.

Saat pikiran sudah mulai mengendap, dengan mudah atau dengan sendirinya kesadaran akan tertuju mengamati keluar masuknya napas, karena hanya aktifitas napas yang kasat pada kesadaran kita saat itu.

Katanya, menyadari atau mengamati keluar masuk napas kita satu satu dikeheningan, sangat indah dan membahagiakan. Katanya lagi, ini baru ‘kulit ari’ kebahagiaan dari pikiran yang mulai hening.

Kalau ada kebahagiaan yang sedemikian sederhana, kenapa kita dengan mudah lewatkannya dan terus mengejar dan melekat pada ‘kebahagiaan-kebahagian’ yang bermata pisau ganda di luar sana?

Accra, Afrika

_MG_8806
satu bait renungan dalam tiga bahasa (pali, thai dan inggris): ‘apapun perbuatan yang aku perbuat, baik atau buruk, akulah pewaris dari perbuatan itu…’

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (9) – Panorama Sekitar Jhana Grove

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (5)

Kesibukan kerja di tempat baru di Ghana Afrika menghentikan saya dari meneruskan tulisan tentang pernik pelatihan meditasi ini. Padahal, ceritanya masih baru hari pertama. Saya memang tidak menargetkan apapun untuk penyelesaian cerita-cerita ini, namun saya tetap berkeinginan untuk meneruskannya saat saya punya waktu luang. Ada begitu banyak hal yang menarik yang ingin saya ceritakan, sebagai catatan saya di kemudian hari saat ingatan ini mulai memudar, dan harapan agar bermanfaat bagi orang lain yang berminat membacanya.

Selama pelatihan, makanan yang disajikan adalah makanan vegetarian, tidak ada daging atau ikan, kecuali telur. Seperti yang diceritakan sebelumnya, meski sederhana, makanan yang disuguhkan rasanya enak-enak. Mungkin juga karena saya punya lebih banyak waktu untuk mengecap rasa makanan tanpa diburu-buru oleh gerak pikiran yang mencoba menggapai kemana-mana.

Kami tidak diajarkan untuk melakukan doa tertentu waktu makan, hanya dipesankan untuk memberi ruang dalam batin kita untuk bersyukur dan menyadari bahwa makanan yang sampai diatas meja kami adalah hasil jerih payah dari banyak orang, sebagian adalah dari mereka yang mendedikasikan waktunya dengan sukarela. Kami selayaknya makan secukupnya, tidak membuang makanan, dan berterima kasih kepada semua orang yang telah berperan menyediakan makanan ini.

Sekitar tahun 1991 di tahun akhir masa kuliah saya, saya pernah mengikuti pelatihan menjalani latihan awal membiara (Pabbajja Samanera) di Kotabumi, Lampung bersama teman-teman selama sekitar 3 minggu di saat liburan sekolah. Kami melatih hidup layaknya seorang biarawan dengan kepala digunduli termasuk alis mata dan menggunakan jubah kuning maron layaknya seorang bhikkhu, dan juga menggangkat tekat untuk menjalankan aturan kebiarawan yang perlu dijalani oleh seorang samanera (novice).  Ada doa makan yang diajarkan pada waktu itu, yang intinya adalah perenungan bahwa kami seyogyanya hanya makan secukupnya, bukan untuk kenikmatan atau untuk mempercantik diri, tetapi untuk ketahanan, kelangsungan tubuh ini dalam menunjang kehidupan membiara.

Ini masih hari pertama, kami masih punya kesempatan untuk jalan-jalan ke dalam hutan sekitar masih dalam kawasan biara. Artikel kali ini, lebih banyak memuat foto-foto hasil jebretan saya di kawasan meditation centre. Kami dipesankan untuk jalan-jalan di sekitar sambil melihat tempat-tempat yang nyaman dan hening yang nantinya bisa dijunjungi sebagai tempat untuk bermeditasi.

Oleh seorang samanera (novice – calon bhikkhu), saya diwanti-wanti untuk tidak banyak melakukan aktivitas memotret (kebetulan saya membawa kamera SLR – single lens reflex camera) karena akan mengganggu keheningan batin yang ingin dilatih. Samanera Ananda adalah orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan telah lama tinggal di Amerika, datang ke biara Bodhinyana untuk melatih diri. Diawali sebagai anagarika (pembantu/pelayan bhikkhu) selama kurang lebih satu tahun, Handri (nama pangilan awam) ditahbiskan menjadi seorang samanera di bulan April 2018. Setahun kemudian, ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu di bulan Juni 2019 oleh Ajahn Brahm. Saya berkesempatan mengikuti kedua acara penahbisan tersebut. Bhikkhu Ananda kemungkinan orang Indonesia pertama yang ditahbiskan di Biara Bodhinyana dan oleh Ajahn Brahm. Suatu saat saya ingin menulis perkenalan saya dengan seorang Handri sampai beliau ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu Ananda. Ananda ada nama salah seorang murid utama Sang Buddha.

Berikut adalah rangkaian foto-foto (lebih dari 30 foto) bersama teman-teman rombongan Indonesia di sekitar kawasan Jhana Grove Meditation Centre  dengan suasana damai dan hening…

a picture paints a thousand words…

IMG_8224
pintu gerbang masuk kompleks pelatihan…
IMG_8223
jalan beraspal dalam kompleks pelatihan…
_MG_8917
jalan masuk ke kawasan jhana grove meditation center dengan latar belakang cottage tempat dan tempat pelatihan
_MG_8923
plakat pusat pelatihan meditasi jhana grove….
_MG_8927
stupa khas borobudur ditempatkan di tengah bangunan induk pusat pelatihan meditasi jhana grove

IMG_8199IMG_8206

 

Accra, Ghana

11 December 2019

Mining – a Part of My Life

Time is passing. Most of us might not even realize it. I would like to enjoy the time as much as I can, from moment to moment. My work has brought me a lot of colorful moments, not necessarily easy ones but I appreciate most of them as they are parts of my life.

As the time might be a continuous flow, I try to recall/capture the moments and put them here for me to remember before all the memories are fading away, for my family to appreciate what I have been doing in my profession, for my friends who are/were walking along with me in this path of life and for others who might benefit from it.

All things are changing constantly, nature, our body, and our mind. Nothing is permanent. Capturing the moment of the changing can be quite interesting and enjoyable.

Baci Ceremony
Blessed by Soutchai’s Grandmother in a Lao/Thai traditional Baci ceremony, in my farewell on 27 August 2006, Villaboully Village, Savannakhet, Lao PDR.

Perth, Western Australia

Posted in Facebook Note on 22 December 2008.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/mining-a-part-of-my-life/40729959034/

King of the People Hearts

Consolidating my writing from other media. This one was written in October 2016 and published in Facebook Note.

I do not know much about him but I am touched by the great love and respect of his people toward him.  Thai people show their utmost respect to the royal family, especially to their King Bhumibol Adulyadej. 

Many years ago, I was used to traveling through Thailand during my flying-in flying-out working at a mine site in Laos, traveling from the metropolitan Bangkok to smaller city Ubon Ratchathani, and to a small town Mukdahan next to the Mekong River before crossing to Savannakhet, Laos. My Thai friends talked about how much their King had done for the people and the country. It’s very common seeing Thai people make an anjali gesture by joining both of their palms and bow toward their king’s or queen’s pictures wherever they found for showing their deep respect. 

King of the People Hearts
Paying Respect

With my family, we had a chance to visit Chiang Mai once.  We passed some of King’s supported agriculture projects on the way of visiting an indigenous tribe in the north of Thailand. I can still  remember when I was flying with Thai Airways on the day of the 60th Anniversary of King Bhumibol Adulyadej’s accession to the throne in 2006, the pilot proudly made a special announcement from the cockpit that the inflight food served that day was cooked with the ingredients specially brought from the King’s supported farms.

Here in Down Under, thousands of kilometers away, the Thai community gets together to commemorate the passing away of King Bhumibol Adulyadej, they share their love to the King of the People Hearts.

My deepest condolences to my Thai friends for your beloved King departure.

Perth, October 2016

 

Biarawan Muda yang Tekun Berlatih

Seorang biarawan muda begitu bersemangat untuk melatih diri. Suatu hari, dia datang menghadap kepala biara untuk meminta izin menjalani tapa pengasingan seorang diri di pulau kecil di tengah danau di seberang biara. Dia ingin agar bisa memusatkan usahanya mencapai pencerahan secepatnya sehingga dia bisa melakukan banyak hal lain nantinya. Atas restu kepala biara, diantarlah biarawan muda ini menyeberang ke pulau kecil tersebut dan tinggal di sana. Bekal makanan dan keperluan sederhana sehari-hari dihantarkan setiap minggunya.

Setelah tiga tahun berlatih dengan tekun, biarawan muda ini menyakini telah mencapai pencerahan batin yang sempurna. Dia meminta dikirimkan kertas lukis beserta kuas dan tinta. Dia ingin menulis satu bait puisi dalam bentuk kaligrafi indah untuk dikirimkan kepada kepala biara demi menunjukkan tingkat pemahaman dan pencerahan yang telah dicapainya.

biarawan muda penuh tekat

tiga tahun menyendiri tekun berlatih 

tak kan lagi tergoyahkan 

oleh empat badai duniawi 

Gulungan kaligrafi yang indah inipun dititipkan untuk disampaikan kepada kepala biara. Pada hantaran bekal makanan berikut, dia menerima balasan dari kepala biara. Alangkah terkejutnya dia mendapati kaligrafinya yang indah dicoreti dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Setiap baris dari puisi yang dia tulis ditimpali dengan tulisan kata ‘Kentut!’ bertinta merah dan besar-besar.

Dia marah sekali dan tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kepala biara bisa begitu tidak bijaksana dan tidak bisa melihat pencapaian tinggi dari seorang murid berbakat seperti dirinya. Tidak tahan dengan hinaan ini, dia memutuskan untuk menyeberang balik ke biara dengan perahu pengantar barang yang sama, hari itu juga.

Dengan penuh emosi dia mempertanyakan maksud dari coretan itu langsung kepada kepala biara. Kepala biara tua ini menatap biarawan muda ini sambil berkata: “Biarawan muda, kamu bilang tidak lagi tergoyahkan oleh empat badai duniawi, namun… satu hembusan angin ketut telah meniup mu menyeberangi danau sampai disini…”

Sang murid seketika menyadari keangkuhan dan tingkat kemajuan batinnya. Dia kembali ke pulau di tengah danau untuk terus berlatih. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya mencapai pencerahan tertinggi.

(Disadur bebas dari cerita yang didengar dari Ajahn Brahm beberapa waktu lalu)

Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak. Semoga Semua Mahluk Berbahagia…

18359069_10154885937243197_8968065103245418517_o
Waisak 11 Mei 2017, Dhammaloka Monastry, Nollamara, Western Australia
Perth, 11 Mei 2017
Coba mengumpulkan tulisan yang pernah saya tulis di media lain. Ditulis pada saat Waisak di bulan Mei 2017, dipublikasikan di Note Facebook.

Sekilas Masa Kecilku di Kampung Pangkal Niur

Sudah lama aku meniatkan untuk bisa mengunjungi kampung tempat aku melewati sebagian masa kecilku dan untuk mencari teman-teman yang mungkin masih tinggal disana. Baru pada saat pulang mudik Imlek hampir lima tahun yang lalu di awal 2015 aku sempat kesana. Dan baru sekarang aku mencatatnya dalam tulisan ini.

Kampung halamanku sendiri adalah Kampung Lumut, di Kecamatan (sekarang sudah berstatus Kabupaten) Belinyu, Bangka. Kampung Lumut pada masa kecilku boleh dibilang penduduknya lebih dari 90% adalah masyarakat Tionghoa. Sekolah dasar (SD) tempat aku sekolah semua muridnya Tionghoa and bahasa kesehariannya adalah bahasa Hakka/Khek khas Bangka.

Aku bersekolah di Kampung Pangkal Niur dari kelas 2 sampai kelas 5 (1978). Orang tua dan adik-adiku masih tinggal di Kampung Lumut, hanya saya dan pengurus usaha Ayahku yang masih keluarga dekat yang tinggal di Pangkal Niur (yang dikenal sebagai Kampung Baru atau Sin Khamkhong dalam bahasa khek). Saat liburan sekolah aku baru pulang ke kampungku. Ayahku pulang pergi Lumut ke Pangkal Niur mingguan. Ada satu masa singkat Ibu dan satu adikku juga pindah tinggal di Pangkal Niur.

Masa itu telah berlalu lebih dari 40 tahun…

Tidak membuat rencana tertentu atau berharap apa-apa, ditemani kawan karibku Akwet kami berangkat ke Pangkal Niur hari Rabu pagi,  18 Pebruari 2015. Kami masing masing membawa satu sepeda motor. Aku mengikuti dia dari belakang. Jalanan telah beraspal bagus. Kebetulan juga dia ada keperluan ke satu kampung dekat Pangkal Niur untuk mengambil kepiting lokal (ketam hitam) dari nelayan di sana. Kepiting Akwet sangat terkenal bahkan bagi wisatawan yang datang dari luar Bangka.

Screen Shot 2019-11-24 at 8.30.26 am
Mengikuti Akwet dari belakang

Akwet membawa keranjang rotan dibelakang untuk tempat muatan barang. Keranjang rotan yang langsung mengingatkan aku pada ayahku pada masa kecilku. Seketika, kenangan masa-masa masa kecil yang lebih dari 40 tahun lalu muncul kembali dalam ingatan, seperti menonton filem bisu hitam putih.

Bersama ayahku kami sering melalui jalan ini dengan motor Honda CB 80cc-nya. Meski jaraknya hanya mungkin sekitar 25km, tapi rasanya jauh sekali saat itu karena jalan yang rusak dan hanya berkendaraan sepeda motor.

Kadang aku didudukkan diatas tangki bahan bakar di depan dan tangan saya memegang erat stang motor saat dibonceng ayahku. Aku berperawakan kecil dan sangat kurus waktu masih kecil, kelihatannya tidak begitu menghalangi ayahku mengendarai motornya meskipun aku duduk di depannya. Sering kali pahaku perih karena terkena rembesan bensin yang keluar dari tanki yang masih penuh dan terguncang karena jalan yang rusak parah. Aku suka duduk di depan seperti ini karena bisa leluasa menikmati penandangan dan sejuk diterpa angin dari depan saat motor melaju, sehingga tidak mabuk kendaraan.

Kadang aku didudukkan di dalam keranjang seperti yang dibawa oleh Akwet hari ini, dimana aku duduk di atas pelana keranjang dengan kaki menjuntai di kiri dan kanan keranjang, Posisi ini kurang menyenangkan karena duduk tidak leluasa, lutut sering terbentur dengan dinding keranjang yang terbuat dari rotan.

Sejalan dengan bertambahnya umur, duduk di depan sudah tidak menungkinkan. Aku duduk dibelakang (tanpa keranjang) dan bisa memeluk pinggang ayahku erat-erat. Aku sering mendengar senandung ayahku saat aku bersandar dan menempelkan telingaku ke punggungnya disela-sela desiran angin dan deru motor. Posisi duduk yang paling aku sukai.

Jembatan Perimping Lumut
Jembatan Perimping dengan latar belakang Gunung Maras

Jalan ke Kampung baru melewati jembatan Perimping. Dulu, jembatannya sempit, dan sepertinya panjang sekali. Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka, nampak berdiri kokoh di belakangnya. Jembatan aslinya ada di sebelah kanan tapi sudah tidak bisa dipakai lagi.

Perjalanan kami melewati kampung kampung kecil diantaranya Parit Tujuh, Sinar Gunung, Bernai, Buhir, Rambang.

Akwet mampir di Kampung Rambang untuk membeli kepiting hitam air payau, dan sempat ngobrol-ngobrol.

IMG_3170

IMG_3164

 

Kurang dari 10 menit dari Rambang, kami sampai di Kampung Baru (Pangkal Niur). Tentu keadaan sudah banyak berubah, sudah sangat banyak rumah-rumah permanen. Setahu saya masyarakat sebagian besar adalah petani lada.

IMG_3187.jpeg
Kampung Pangkal Niur

Masyarakat Pangkal Niur hampir seluruhnya adalah Melayu dan muslim. Pada masa itu, hanya dua keluarga, yaitu keluarga kami dan satu lagi keluarga  pamannya ayah (saya panggil sukkung) yang Tionghoa yang membuka usaha toko kelontongan dan membeli hasil bumi (lada dan karet).

Selain itu, usaha sukkung yang lain adalah membuat sikat dari sabut kelapa dan ijuk. Setiap hari sukkung dan istrinya (aku panggil sukpho) setiap hari duduk di depan toko membuat sabut ijuk dengan alat pemintal sederhana yang digerakkan dengan tangan. Belum ada listrik pada waktu itu, penerangan menggunakan lampu tangki minyak petromax (strongkeng – mungkin maksudnya dari merek Strong King). Aku dekat dengan anak-anak Sukkung aku panggil suksuk (paman) dan kuku (bibi). Aku ingat pernah tinggal beberapa lama di tempat sukkung. Aku adalah keponakan satu-satunya yang tinggal dekat mereka.

IMG_3181.jpeg
(Bekas) Toko Sukkung – tidak banyak berubah setelah lebih dari 40 tahun

Kami mampir di lapangan sepak bola, tempat kami akan kampung bermain dulu. Dulu rasanya luas sekali dan tidak banyak perumahan. Sekarang, lapangannya sudah dikelilingi oleh pemukiman.

_MG_2751

 

Tak jauh dari lapangan bola, ada kerumunan ‘pasar’ lokal. Pola masyarakat keseharian melalukan jual beli tidak banyak berubah. Pedagang sayuran dan ikan dengan motornya menjajakan dagangan mereka dimana saja pembeli berminat. Bedanya, dulu pedagang menggunakan sepeda, sekarang motor. Ayahnya Akwet adalah salah satu pedagang ikan keliling pada masa itu.

_MG_2747.jpeg

 

Kebetulan sekali kami bertemu dengan teman kelasku disini, Gipo. Memang rencanaku akan mencari dia kerumahnya. Dan lebih kebetulan lagi, kami ketemu dengan salah satu guru kami yang baru pulang dari kebun, Pak Haji Ashari. Beliau terlihat ceria dan sehat. Senang sekali bisa bertemu mereka di sini. Sayang, tidak terlalu banyak waktu untuk bercerita lebih banyak. Sehat dan bahagia selalu Pak Haji…

_MG_2748
Guru kami Pak Haji Ashari (kedua dari kanan) dan kawan sekelas Gipo (kedua dari kanan)

Akwet dan aku diajak kerumah oleh Gipo untuk bertemu keluarganya dan makan di rumah. Kami mulai bercerita panjang mengenang masa-masa sekolah dulu.

Gipo bercerita tentang perjalanan hidupnya dan keluarganya setelah kami tamat SD. Gipo punya 6 anak (kalau tidak salah ingat). Yang bungsu gadis kecil yang manis, dan yang sulung telah menyelesaikan studinya di kedokteran. Dia bersemangat bercerita dan bangga dengan anak-anaknya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya akan anak gadisnya yang telah menjadi seorang dokter, yang bersama kami ngobrol. Aku ikut bahagia mendengarnya. Dia juga bercerita tentang kurang sehatnya istrinya karena diabetes yang akut yang sekarang banyak mendapat perhatian dari anaknya yang seorang dokter,

IMG_3250

_MG_2753

 

Aku menanyakan satu persatu keadaan teman dan guru, teman-teman yang masih aku ingat namanya, Wanto kawan sebangku, Soleha, Junaidi, Supri atau aku sebut lokasi rumahnya kalau lupa namanya. Kakak perempuan Gipo juga sekelas dengan kami. Dia sekarang tinggal di tempat lain bersama keluarganya.

IMG_3320

 

Aku ajak Gipo ke sekolah SD kami dan minta ditunjukkan rumah/tempat tinggal aku dulu yang berdekatan  dengan sekolah kami.

IMG_3379

Kelasku dulu di barisan bangunan ini tapi masih bangunan lama dengan ruang kelas yang terbuka (setengah dinding) dari papan. Di kelas, hanya aku sendiri yang Tionghoa.

IMG_3376
Deretan ruang kelas kira-kira tempat aku dulu dari kelas 2 hingga kelas 5 SD

Gipo menunjukkan tempat tinggal kami dulu, kira-kira rumah yang ada parabola ini. Ingatanku melayang ke masa lalu, mengingat-ingat rumah kayu kami yang sekaligus warung dengan lantai tanah liat yang dipadatkan. Ada pagar kayu di depan rumah yang setiap 17 Augstus dicat kapur putih dan mengibarkan bendera merah putih. Bangunan rumah warung agak menjorok mungkin 5-10m dari pagar.

Warung dengan papan setengah dinding menjual barang kebutuhan sehari-hari, beras, minyak, gula, garam, terasi, bawang, juga membeli hasil lada dari petani. Ada satu anak tangga untuk turun ke ruang tengah sekaligus ruang makan dengan meja kecil di sudut kiri ruangan.

Sementara hanya ada satu ruang tidur di sebelah kanan dengan ranjang dipan yang tinggi dan lebar tempat menaruh kasur. Aku harus memanjat kalau mau tidur. Lebih ke belakang, ada dapur kecil yang dengan dua tungku kayu bakar dan tempat cuci berlantai papan hitam yang terkadang sangat licin terkena air.

IMG_3374
Ini kira-kira tempat kediaman aku sewaktu tinggal pada masa itu (Akwet dan Gipo)

Setelah cukup lama melihat dan bercerita, aku pamit dengan Gipo untuk pulang. Dalam perjalaan pulang, kami mampir di satu warung kecil di Kampung Rambang untuk isi bensin kalau tidak salah. Satu ibu berjilbab yang dari tadi duduk disitu menyapa:

“Pok ni Jin Hung yo, anak Khie Sung?”(Kamu Jin Hung ya, anaknya Khie Sung?)

“Aok” (ya); jawabku

“Kak kawan sekelas pok lah (Aku ini kawan sekelasmu)”, sambungnya.

Jin Hung adalah nama panggilanku oleh teman-teman sekolah waktu itu. Ayahku dikenal disana karena usaha dagang di kampung waktu itu, juga karena ayahku mendalami pengobatan akupuntur (tusuk jarum) dan moksibasi (pembakaran ramuan daun moxa pada titik-titik jalan darah – meridian) setelah tidak usaha dagang lagi, dan banyak melakukan pengobatan di kampung-kampung,

Kami bercerita tentang sekolah saat itu dan juga tentang kawan-kawan lain. Kawan sekolah yang tinggal di Kampung Rambang berjalan kaki ke Kampung Baru tempat sekolah kami setiap hari. Mungkin mereka butuh paling tidak 1 jam untuk berjalan kaki, dan seingatku ada satu bukit yang tinggi di tengah perjalanan (paling tidak untuk ukuran anak-anak).

IMG_3386.jpeg
Bertemu lagi dengan satu kawan sekelas, tak terduga.

Beberapa hari kemudian waktu lagi makan di warung mie di kampungku, seseorang mencari aku dan memperkenalkan diri. Dia adalah kawan sekelas SD juga yang tinggal dikampung sebelah. Dia tahu aku lagi mencari teman-teman SD dulu dari kawan sekampungku yang menjadi bos dia tempat dia bekerja. Tak ingin kehilangan kesempatan, aku ajak dia berfoto dan bercerita. Sayang, dia harus berangkat kerja segera.

 

IMG_4115

Ada begitu banyak kebetulan dan kejutan yang menyenangkan beberapa hari ini, tanpa direncanakan.

Aku tidak bertemu dengan Wanto – kawan sebangkuku, tapi istri dan anak-anaknya sempat datang ke rumah pada waktu hari Imlek mengabarkan bahwa Wanto sedang bekerja di TI (tambang timah inkonvensional) di kampung yang tidak terlalu jauh dari Lumut, Kampung Tanjung Batu, tidak bisa datang. Aku hanya bisa titip salam untuk dia dan mudah-mudahan bisa bertemu di lain waktu.

Di masa SMP, aku kadang masih ke Pangkal Niur ikut memembantu ayahku menawarkan jahitan baju dan celana. Ayahku punya usaha penjahit pakaian pria pada saat itu. Aku nyambi jadi penjahit di selah waktu sekolah.

Setelah tamat SMA aku meneruskan sekolah di Palembang dan mulai merantau seselesai sekolah. Jalan hidup membawa aku menjadi seorang pekerja tambang dan berkesempatan bekerja dan berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, Laos, Australia, Amerika, dan sekarang di Ghana Afrika.

Seiring waktu terus berjalan, ada keinginan menelusuri akar kita kembali, melihat kembali perjalanan kita lewat ruang dan waktu dan membiarkannya menjadi bagian masa lalu. Ada keinginan untuk lebih banyak bertemu dengan sanak keluarga, teman, kerabat yang berlintasan dengan kita selama kurun waktu perjalanan hidup kita. Tidak untuk menilai atau membandingkan, tapi hanya sekedar melihat kembali agar bisa mensyukuri apa yang telah kita raih, tidak kecewa dengan apa kita tidak raih, dan ikut berbahagia dengan apa yang diraih oleh orang lain.

Kita semua punya perjalanan unik masing-masing yang tidak bisa saling diperbandingkan…

Accra, Ghana (November 2019)

Catatan: Satu tahun kemudian (awal 2016), aku bertemu kembali dengan Gipo di Kampung Lumut, dia mengabarkan bahwa istrinya yang tercinta telah meninggal dunia karena diabetes. Turut berbelasungkawa yang dalam kawan. Semoga almarhumah mendapatkan yang terbaik, dan keluarga tabah.