Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (4)

Sabtu, 14 July 2018 (1)

Saya sedikit telat menuju aula meditasi di pagi pertama ini. Kegiatan pagi dianjurkan mulai jam 4:30 pagi. Aula meditasi yang besar ini sudah dipenuhi oleh peserta lain, namun suasananya tetap hening dan remang. Semua orang berusaha berjalan pelan dan tidak mengeluarkan suara saat masuk ke dalam ruangan. Semua orang mengambil tempat yang disukai, ada yang duduk di kursi atau di lantai, dengan alas bantal dan selimut yang tersedia.

_MG_8974

Ada serangkaian susunan kegiatan sehari-hari yang dianjurkan bagi peserta (di bawah, diakhir tulisan ini), namun setiap orang diberi kebebasan untuk memilih mengikutinya atau tidak. Ajahn Brahm pernah bercanda, dia sering melihat peserta yang tidak hadir di sesi meditasi, tapi tidak pernah melihat ada yang ketinggalan sarapan atau makan siang.

Peserta kadang tengah berada dalam meditasi yang dalam dan tidak ingin terganggu kegiatan lain, mereka bisa meneruskan meditasinya tanpa harus terikat oleh jadwal kegiatan yang tersusun tadi.

Kegiatan ritual sangat minim, pembacaan sutta (ujaran Sang Buddha) hanya 10 menit saja, dilakukan pada pagi hari dan malam hari. Sutta yang dipilih untuk dilafalkan adalah Karaniya Metta Sutta – renungan kata-kata Sang Buddha tentang kasih sayang tak-berbatas. Sutta dalam bahasa Pali inipun telah diterjemahkan dan dilafalkan dalam bahasa Inggris. Kebetulan, perenungan sutta ini yang paling saya minati sejak lama karena dalam dan membantu melembutkan hati. Dua bait diantaranya lebih kurang demikian:

Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja,
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya
Untuk melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkan pikiran kasih sayang tanpa batas

Sesi dhamma talk pagi oleh Ajahn Brahm dilakukan pada jam 8 pagi. Karena saya harus menerjemahkan untuk beberapa teman, saya coba mencatat apa yang disampaikan oleh Ajahn serinci yang saya bisa. Saya sempat mencatat hampir 90 halaman buku tulis A4 dari sekitar hampir 20 sesi selama 9 hari pelatihan meditasi ini. Sejak masa sekolah dulu, baru kali ini saya bisa menulis sampai tetes tinta terakhir dan harus ganti pena baru. Selain untuk menjelaskan kembali kepada beberapa teman yang membutuhkan penerjemahan, catatan ini sangat membantu saya menulis kembali pernik-pernik pelatihan ini.

Jhana Grove dilengkapi dengan perangkat multi media yang cukup canggih. Semua dhamma talk Ajahn Brahm direkam dan disiarkan secara cuma-cuma lewat internet, begitu juga dengan pelatihan kali ini. Saya melampirkan tautan rekamannya di setiap akhir tulisan ini kalau ada yang berminat untuk mendengarkannya (dalam bahasa Inggris).

Ajahn Brahm selalu penuh perhatian dan menyelipkan candaan di setiap dhamma talknya, yang selalu mengundang tawa dan senyum.  Ajahn suka menggunakan perumpamaan dan cerita-cerita agar pokok bahasannya mudah dipahami. Oh ya, Ajahn adalah sebutan untuk Guru dalam bahasa Thai: อาจารย์, Achan yang artinya Guru.

Pada sesi pertama dhamma talk (ceramah) pagi ini, Ajahn Brahm mengingatkan kembali agar mengambil posisi duduk yang senyaman mungkin dalam latihan meditasi ini, tidak harus duduk di lantai tapi bisa di kursi, bisa bersandar di tembok, menggunakan bantalan yang cukup dan selimut agar hangat. Badan perlu dibuat nyaman dan santai sebelum memcoba membuat pikiran nyaman dan santai.

Ajahn mengumpamakan senar gitar atau kulit gendang kalau diatur terlalu kencang tidak akan menghasilkan suara yang enak didengar saat dipetik atau ditabuh, malah menyebabkan suara yang bisa memekakkan telinga. Begitu juga badan perlu dibuat sesantai mungkin agar tidak tegang. Saat badan menjadi nyaman dan pikiranpun akan menjadi tenang. Keduanya bekerja dengan prinsip yang sama. Berhentilah mencoba mengendalikan badan dan pikiran kita. Seringkali kita punya begitu banyak ide tentang bagaimana suatu meditasi harus dilakukan tapi tidak ada yang berhasil.

Satu cerita tentang bagaimana meditasi seharusnya dilakukan adalah cerita tentang Tiga Pertanyaan Raja yang dibacanya sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Kisah yang tidak pernah dilupakan oleh Ajahn Brahm ini adalah tentang tiga pertanyaan yang paling penting di dalam hidup ditulis oleh Leo Tolstoy (penulis Rusia). Pada masa itu ide Eckhart Tolle (seorang spiritualis Jerman) dengan ‘The Power of Now“, Buddhisme dan istilah penyadaran (mindfulness) masih belum banyak dikenal.

Kisah ini membantu untuk mengembangkan meditasi yang lebih mendalam dan lebih mudah. Pertanyaan pertama adalah kapan waktu yang paling penting, kedua adalah siapa orang yang paling penting dan ketiga adalah apa yang hal yang paling penting dilakukan.

Untuk pertanyaan pertama tentu mudah ditebak bahwa ‘saat kini’ adalah waktu yang paling penting. ‘Saat kini’ adalah satu-satunya waktu yang kita punya. Selain itu adalah fantasi, mimpi, ingatan dan harapan yang tidak berpijak pada kenyataan. Berapa sering kita memperdebatkan siapa yang melakukan ini atau siapa yang bilang itu. Kita begitu banyak berdebat satu sama lain tentang masa lalu dan masing-masing kita sama sama merasa benar dan tidak ada cara untuk memastikannya kebenaran itu. Seberapa baik ingatan kita tentang dimana posisi sandal yang kita letakkan di luar tadi, atau seberapa sering kita lupa dimana kita memarkirkan mobil di tempat parkir di mall.

Saya kebetulan pernah nonton salah satu serial ‘Magic for Humans’ Justin Willman (seorang pesulap actor, pelawak Amerika) yang ‘membuktikan’ bahwa ingatan manusia begitu tidak bisa diandalkan. Dalam ‘reality show’ ini, Justin berperan sebagai pencuri tas yang dititipkan oleh pemeran lain kepada beberapa orang yang duduk di satu tempat minum umum. Justin datang dan melakukan percakapan singkat dengan ‘calon korban’ menanyakan siapa yang duduk disitu. Kemudian dengan cepat merampas tas yang dititipkan tersebut. Ini membuat panik orang-orang tadi. Hanya sesaat kemudian (dalam hitungan detik – karena dia tukang sulap), dia kembali menemui orang-orang yang panik ini, tapi kali ini sebagai polisi dengan seragam lengkapnya, menanyakan apa yang terjadi dan ciri-ciri pencuri. Bisa dipastikan tidak ada yang mengenali bahwa polisi yang menanyain mereka adalah pencuri itu, dan penjelasan saksi tentang ciri-ciri pencuripun beragam.

Ajahn menyelipkan satu cerita lama tentang seorang yang datang membantu pembangunan biara Bodhinyana. Pada waktu itu belum ada pusat meditasi Jhana Grove. Orang tersebut datang dan tinggal untuk beberapa bulan hanya untuk membantu pembangunan biara. Dia tidak menikah dan tidak punya keluarga. Satu-satunya yang dia miliki adalah motor gede Harley Davidson yang menemani dia menikmati perjalanan. Dia begitu suka dengan motornya, bukan untuk suatu status sosial tetapi karena motornya memberi dia begitu banyak kebebasan kemanapun dia mau pergi, berkeliling Australia, pergi berkumpul dengan komunitas spiritual, atau kemanapun dia suka.

Dia seorang yang sangat suka membantu, dia sering memasak untuk semua orang. Ajahn Brahm malah tidak tahu apakah dia seorang Buddhis atau bukan. Tapi dia seorang yang sangat spiritual.

Suatu kali dia pergi berbelanja ke satu mall besar di Sydney. Setelah memarkirkan motornya, dia pergi berbelanja. Sekembalinya ke tempat parkir, dia tidak menemukan motor gedenya ditempat semula, motornya telah dicuri orang. Satu-satunya harta miliknya yang begitu berharga, yang selama ini telah menemani dia dan memberikan banyak kebebasan, telah dicuri orang. Dia menurunkan tas belanjaannya, dia mulai menyadari ini akan merubah hidupnya, dia telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga, dan telah hilang diambil orang.

Karena dia seorang yang spiritual, dia mulai merenungkan kehilangan ini seperti meninggalnya orang yang dia cintai. Dia bilang, dia sudah mengalami begitu banyak kebahagiaan bersama motor ini dengan ingatan-ingatan yang indah, namun dia juga menyadari tidak ada suatu apapun yang akan bertahan selamanya. Kebebasan dia untuk bermotor berkeliling Australia telah berakhir. Dia mulai melepas.

Dia berharap, siapapun yang mengambil motor ini, semoga orang itu akan juga menikmatinya dan mengalami masa-masa indah seperti yang dia nikmati bersama motornya. Dia telah melepas.

Sesaat kemudian, dia baru menyadari bahwa dia ada di lantai yang salah, bukan di lantai dimana dia memparkirkan motornya… dia akhirnya menemukan motornya masih di tempatnya.

Dia menulis surat kepada Ajahn Brahm menceritakan kejadian ini. Dia menceritakan betapa dia terkesan disertai dengan rasa bahagia yang membebaskan saat dia bisa melepas sesuatu yang begitu dia cintai dengan cara demikian. Dia merasa semua itu adalah buah latihan dan pemahaman dia tentang ajaran kebenaran akan hakekat segala sesuatu.

IMG_8218

Pada saat kita melepas tidak menggenggam, hidup akan menjadi lebih mudah, membahagiakan dan membebaskan; begitu juga berlaku untuk tubuh dan pikiran kita.

Selalu, Ajahn begitu piawai menceritakan kisah-kisah ini dengan selingan canda dan kelucuan yang tidak bisa tertuang dalam tulisan ini. Untuk itu, kalau tertarik, ada baiknya mendengarkan langsung dari rekaman berbahasa Inggris di tautan di bawah tulisan ini.

Kisah Tiga Pertanyaan Raja ini masih akan bersambung…

Di kamar kecil di barak tempat kerja di Boddington, 17 September 2018

Rekaman Morning Dhamma Talk Ajahn Brahm – 14 July 2018 (Track 01): http://www.podbean.com/media/share/pb-d2dze-961685

Jadwal Kegiatan yang dianjurkan:

  • 4:00 – 4:30: bangun dan bersiap
  • 4:30 – 5:00: meditasi jalan
  • 5:00 – 6:00: meditasi duduk
  • 6:00 – 6:10: pembacaan Paritta
  • 6:10 – 6:45: meditasi jalan
  • 6:45 – 8:00: sarapan
  • 8:00 – 9:00: pengajaran Dhamma dari Ajahn Brahm
  • 9:00 – 10:00: meditasi jalan
  • 10:00 – 11:00: meditasi duduk
  • 11:00 – 13:00: makan siang dan istirahat
  • 13:00 – 14:00: meditasi jalan
  • 14:00 – 15:00: meditasi duduk
  • 15:00 – 16:00: pengajaran Sutta dari Ajahn Brahm
  • 16:00 – 17:00: meditasi jalan/duduk atau waktu pribadi
  • 17:00 –           : minum teh sore
  • 18:30 – 19:00: meditasi jalan
  • 19:00 – 19:50: meditasi duduk
  • 29:50 – 20:00: Pembacaan Paritta
  • 20:00 – 21:00: tanya jawab dengan Ajahn Brahm
  • 21:00 –           : istirahat atau melanjutkan meditasi

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (3)

Jumat, 13 July 2018 – Hari Pertama di Siang dan Malam Hari

Setelah Ajahn Brahm selesai memberikan pengenalan awal selama lebih kurang 1.5 jam, sekitar 9:30 pagi kami bersiap untuk pergi ke Biara Bodhinyana untuk makan siang di sana. Biara Bodhinyana yang berjarak sekitar 1 km dari Pusat Meditasi Jhana Grove adalah biara Buddhis tradisi hutan yang tempat para bhikkhu tinggal, termasuk Ajahn Brahm. Kami berjalan kaki menikmati suasanya pagi yang cukup cerah dan dingin. Cuaca berubah cepat dengan angin yang cukup kencang disertai gerimis.

Saya mulai berkenalan dengan teman-teman seperjalanan dan sedikit bercerita tentang latar belakang masing-masing. Andi Wijaya, ketua rombongan kami. Andi menggantikan memimpin rombongan karena beberapa peserta tidak mendapatkan izin visa Australia termasuk ketua rombongan awalnya.  Demikian, saya juga diminta untuk menjadi penerjemah (interpreter) untuk ceramah Ajahn Brahm kepada teman-teman peserta yang membutuhkannya. Penerjemahan ini hanya rangkuman dari ceramah Ajahn yang dilakukan sehabis sesi atau dirapel beberapa sesi. Sebagian besar teman peserta punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, hanya beberapa yang mungkin akan terbantu dengan penerjemahan ini.

Kami menelusuri jalan kecil dari Jhana Grove menuju Bodhinyana sambil menikmati segarnya udara pagi, sinar matahari disela pepohonan dan pemandangan hutan di sekitar yang ditumbuhi berbagai varian pohon Eucalyptus (kayu putih) yang tinggi-tinggi, pohon akasia dan tumbuhan setempat khas Australia lainnya.

_MG_8758
Jalan santai dari Jhana Grove Meditation Centre ke Bodhinyana Monastery

Kami berjalan sekitar 15 menit sebelum menyeberang jalan masuk ke gerbang Bodhinyana. Komplek Bodhinyana seluas 98 ha tempat tinggal sekitar 20 bhikkhu. Terdapat satu bangunan utama tempat berkumpul untuk kegiatan ritual dan tepat meditasi yang disebut Dhammasala. Terbuka untuk setiap orang untuk menikmati suasana damai dan hening.

Keadaan Bodhinyana lebih mirip hutan dengan beberapa bangunan diantara pohon dan semak, Bodhinyana memang dimaksudkan sebagai biara hutan yang menyediakan suasana tenang dan sunyi yang ideal bagi para bhikkhu, anagarika dan tamu lainnya untuk berlatih diri.

Juga terdapat tempat pengunjung memberikan dana makanan, disebut Danasala, ada ruang dapur dan ruang makan yang cukup besar. Juga tersedia akomodaasi terbatas bagi mereka yang ingin berlatih lebih serius dan tamu lainnya. Orang-orang awam yang ingin berlatih lebih serius dan tinggal untuk waktu yang cukup lama dikenal sebagai sebutan anagarika. Mereka berpakaian putih, mereka melatih diri sambil membantu pekerjaan di lingkungan biara termasuk merawat kompleks biara yang luasnya hampir 100 Ha itu.

_MG_5897
Salah satu Anagarika yang sedang bekerja memindahkan sampah (Agustus 2017)

Selebihnya ada bangunan pondok-pondok kecil tempat tinggal para bhikkhu (kuti)  yang terpencar jauh-jauh satu sama lain menempati komplek yang cukup luas ini. Keadaan ini menyediakan kondisi yang ideal bagi para bhikkhu untuk melatih diri.

_MG_5934
Bhikkhu muda berjalan membawa semua ‘milik’nya menuju pondok tempat tinggalnya (Agustus 2017)

Satwa liar hidup bebas di dalam kompleks.  Ada banyak kanguru, kelinci dan burung-burung. Kanguru liar setelah sekian lama hidup di dalam dan tidak diganggu, menjadi terbiasa dengan kegiatan manusia. Burung-burungpun terasa lebih jinak di sini. Mereka tahu persis jam makan para bhukku dan selalu berkumpul di sekitar ruang makan.

IMG_7355 (1)
Kanguru bisa hidup bebas di sekitar biara

Ada kegiatan unik yang berlangsung setiap hari dimana orang-orang awam datang dan mendanakan makanan dan kebutuhan hidup lainnya kepada para bhikkhu.  Setiap hari, sekitar jam 10:30 pagi, pengunjung memasukkan sesendok nasi ke dalam mangkok makan para bhikkhu yang berjalan berkeliling. Kemudian semua berkumpul di ruangan lantai atas dari dapur umum ini untuk para bhikkhu memberikan pemberkatan atas dana yang telah diberikan. Pengunjung bisa menikmati bersama makanan yang ada. Setelah selesai makan, para bhkkhu ini menyediakan waktu kalau diantara pengunjung ingin berbicara dengan mereka.

_MG_8727
Kompleks dapur umum tempat pengunjung melakukan Pindapatta

Tradisi ini dikenal dengan sebutan Pindapatta, tradisi kuno lebih 2500 lalu di masa Buddha Sidharta Gautama di India, dimana para bhikkhu menerima dana makanan dari masyarakat yang ingin mendukung kehidupan suci yang mereka jalani.

Kali ini, kami ikut kegiatan Pindapatta ini, dan tentu ikut makan siang bersama. Pengunjungnya dari berbagai etnis, ada orang Thailand, Laos, India, Srilanka, China, termasuk orang barat, dan juga beberapa orang Indonesia. Banyak sekali makanan yang tersedia dan sangat beragam, dan tentunya enak-enak karena biasanya makanan yang terbaik yang dibawa oleh pengunjung untuk didanakan kepada para bhikkhu.

_MG_8710
Kegiatan Pindapatta – Ajahn Brahm dengan ceria menyapa “Selamat Pagi”

Terlihat cukup banyak para anagarika yang berpakaian putih-putih, mereka sangat ramah dan sigap membantu di ruang makan, menata makanan yang dibawa pengunjung, mencuci piring dan membersihkan ruangan setelah makan, termasuk memilah sampah-sampah sesuai kategorinya untuk daur ulang atau untuk dibuatkan kompos.

_MG_8731 (1)

Pengunjung bisa mengunjungi pondok-pondok tempat tinggal dan berlatih para bhikkhu. Di hari-hari besar tertentu pondok-pondok (kuti) ini dibuka untuk umum. Ini kesempatan yang baik untuk melihat gaya hidup dan tempat tinggal sederhana para bhikkhu yang berlatih disini.

Kali ini kami berkesempatan mengunjungi ‘Gua Ajahn Brahm’, tempat tinggal Ajahn Brahm. Gua ini adalah gua buatan yang dibangun oleh Ajahn Cattamalo dan rekan-rekannya. Ukurannya kecil, mungkin sekitar 2.5×2.5m, sederhana karena tidak ada banyak barang, hanya satu matras tipis untuk tidur, bantal kecil, jam kecil, derigen air dan satu kotak tisu. Di dinding ada satu patung Buddha kecil dengan penerangan yang remang-remang. Gua ini sangat kedap suara dengan dua lapis pintu masuk ditambah dengan lapisan busa kedap suara. Tentu suasana sekitar sangat hening saat di dalam gua ini.

WhatsApp Image 2018-08-25 at 11.02.26 PM
Gua Ajahn Brahm yang sederhana (foto: Andi Wijaya)

Kami mampir di ruang utama di Boddhinyana berlantai karpet lembut yang tebal memberi rasa nyaman dan suasana sangat hening. Beberapa teman duduk dan bermeditasi. Saya memberikan sedikit tur ke sekeliling biara, tapi tidak sampai melewati daerah yang ditandai sebagai ‘meditation area’ agar tidak mengganggu bhikkhu-bhikkhu.

IMG_3253 (1)
Ruang Dhammasala Bodhinyana Monastery

Kemudian kita berjalan kaki pulang ke Jhana Grove. Saya menurunkan satu tas kecil berisi pakaian yang saya siapkan secukupnya untuk keperluan 9 hari dan menata di dalam rak pakaian di kamar. Satu cottage berisi 6 kamar yang terpisah. Kamar ukuran sedang dengan kamar mandi di dalam yang dilengkapi dengan keran air panas dan lampu penghangat di dalam kamar mandi. Di ruang tidur, tersedia satu ranjang kecil dengan bantal dan beberapa lembar selimut, juga satu penghangat ruangan portable yang memang sangat dibutuhkan selama musim dingin ini.  Kamar yang sederhana tapi sangat bersih, rapi dan nyaman.

Saya usahakan membawa keperluan yang seringkas dan sesederhana mungkin, hanya butuh beberapa stel celana dan baju sweater lengan panjang dengan dua set kaos dalam berbahan hangat. Juga pelembab kulit karena udara yang kering dan dingin.

_MG_8736 (1)

Untuk makan malamnya, saya kembali ke kota untuk mengambil makanan yang sudah dipesan. Kemudian kami makan bersama di ruang makan. Untuk hari-hari berikut selama pelatihan ini, peserta tidak lagi disediakan makan malam. Kami dianjurkan menjalani delapan latihan prilaku yang dikenal dengan Attha-Sila yang salah satunya untuk tidak makan di waktu yang tidak tepat yaitu tidak makan makanan padat setelah tengah hari hingga besok paginya. Beberapa peserta tetap makan malam karena kondisi kesehatan, dengan menyimpan makanan siang untuk malam harinya.

Seorang Buddhis awam biasanya berikrar untuk melatih diri menjalankan lima prilaku kemoralan yang dikenal dengan Panca Sila yaitu melatih diri untuk tidak membunuh mahluk hidup, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan kegiatan seksual yang tidak dibenarkan (sexual misconduct), tidak berkata yang tidak benar atau berbohong, tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang memabukkan yang akan menyebabkan menurunnya kesadaran.

IMG_8181 (1)

Setelah makan malam, masih berkumpul dan ngobrol dengan teman-teman dengan yang baru dikenal pagi tadi. Setelah ini tidak banyak kesempatan untuk ngobrol karena memang tidak dianjurkan. Andi, ketua rombongan kami memberikan sedikit arahan tentang susunan acara atau kegiatan untuk keesokan harinya. Sebenarnya, pelatihan resminya memang baru akan dimulai besok pagi setelah rombongan peserta dari Hongkong sampai nanti malam. Besok pukul 8:00 pagi, Ajahn Brahm akan memberikan ceramah pertamanya.

Ketika malam terus merayap lebih dalam, suasana semakin sunyi, cuaca semakin dingin, gelap dan hening. Teman-teman mulai mengurangi kegiatan, satu-satu menghilang ke dalam kamar atau ke aula meditasi. Saya berusaha memperlambat gerak dan langkah sekedar untuk lebih berkesempatan menyadari apa yang sedang dilakukan.  Saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan dari pelatihan 9 hari ke depan. Dan memang diminta untuk tidak mengharapkan apapun. Ada perasaaan tidak biasa untuk tidak ‘merencanakan’ apa yang akan dilakukan selanjutnya, hanya untuk berada di saat ini dan membiarkan semua menjadi apa adanya. Saya mulai ‘berusaha’ tidak mengubris angan saya untuk memperoleh sesuatu dari kegiatan ini…

Perth, 25 Agustus 2018

Video singkat lokasi dan suasana biara Bhodhinyana.

 

Video singkat suasana biara Bhodhinyana dan keseharian para bhikkhu termasuk kegiatan Ajahn Brahm dan guanya.

 

 

 

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (2)

Jumat, 13 July 2018 – Hari Pertama di Pagi Hari

Saya berangkat dari rumah pagi dengan kendaraan pribadi menempuh perjalanan sekitar 40 menit menuju selatan kota Perth, meninggalkan daerah pemukiman yang  semakin jarang dan melewati daerah peternakan. Pusat Meditasi Jhana Grove berjarak sekitar 60 km (waktu tempuh sekitar 50 menit) dari Bandara Internasional Perth, berbatasan dengan Taman National Serpentine. Karena itu, Jhana Grove dikelilingi oleh hutan yang masih cukup lebat dan menjadi tempat yang ideal untuk menghening.

Map to Jhana Grove
Lokasi Pusat Meditasi Jhana Grove

Saya tiba di Jhana Grove sekitar jam 8:05 pagi, lima menit terlambat dari jadwal. Ajahn Brahm telah duduk dan berbincang dengan rombongan Yayasan Ehipassiko Indonesia di aula tempat makan. Rombongan Ehipassiko semuanya berjumlah 12 orang, termasuk ada dua orang India yang berasal dari Melbourne.  Mereka tiba di Jhana Grove malam sebelumnya. Tiga orang lagi kemudian bergabung kemudian. Rombongan dari Bodhinyana International Fondation dari Hong Kong belum sampai, mereka akan tiba nanti malam.

Kami semua duduk di ruang makan. Ajahn Brahm meluangkan waktu sekitar 1.5 jam memberikan pemahaman dasar meditasi, pengenalan tempat dan sarana ada. Beliau menganjurkan peserta untuk memulai hari dengan santai saja, tidak melakukan banyak hal, hanya sebisanya perhatian diarahkan untuk lebih menyadari gerak tubuh dan pikiran saat melakukan apapun. Kesibukan dan berbicara dikurangi, namun tidak perlu sampai menjadi tegang. Satu dua hari pertama dengan kegiatan yang berkurang dengan badan dan pikiran yang diberi kesempatan untuk santai, kemungkinan akan mudah ngantuk. Kalau ngantuk tidur saja, tidak semua kegiatan yang dijadwalkan harus diikuti, begitu pesannya.

_MG_8840 (1)

Setelah badan kita nyaman maka perhatian kita bisa diarahkan untuk menyadari gerak pikiran. Menyadari lebih mengacu pada mengamati tanpa melibatkan diri pada gerak pikiran. Apapun pikiran yang muncul, hanya perlu disadari tanpa harus diikuti. Tentu ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pikiran kita sudah sedemikian terbiasa untuk selalu bergerak menanggapi semua sensasi yang diterima oleh indera dan olahan pikiran itu sendiri yang diasupi oleh semua aktifitas fisik dan konsep pemikiran kita.

Bagi saya sepertinya hukum kelembaman (enersia) seperti Hukum Newton I juga berlaku untuk pikiran. Sesuatu yang bergerak akan cenderung terus bergerak dan yang diam akan cenderung diam. Ajahn dalam buku panduannya menyebutkan tahap awal ini sebagai latihan “penyadaran pada saat kini – present moment awareness”. Tidak ada objek tertentu yang harus diamati. Ajahn tidak menganjurkan untuk langsung menggunakan objek meditasi tertentu, keluar masuk napas misalnya.

Jhana Grove sendiri bisa dibilang salah satu pusat meditasi yang terbaik di dunia, dapat menampung 60 peserta dengan 10 cottage yang sangat bersih dan terawat, di tengah hutan yang jauh dari keramaian. Terdapat ruang meditasi utama yang besar dan tiga ruangan untuk meditasi berjalan yang dilengkapi dengan karpet alur-alur untuk tempat berjalan. Masing-masing cottage berisi 6 kamar dengan kamar mandi di dalam – en suite. Fasilitas dapur komersial dan ruang makan yang bisa menampung banyak orang, dilengkapi oleh pengolahan air bersih siap minum dan pengolahan air kotoran (sewage), tempat cuci pakaian dan toilet yang lengkap untuk pria dan wanita.

Jhana Grove
Jhana Grove dengan 10 cottage dengan masing-masing 6 kamar yang bersih dan nyaman

Ajahn Brahm sendiri yang memperjuangkan mengadaan fasilitas ini saat fase perancangannya untuk menyediakan tempat yang mendukung untuk pelatihan meditasi meskipun harus mengeluarkan uang pembangunan yang lebih banyak. Jhana Grove bisa dikategorikan sebagai pusat meditasi bintang lima. Semua fasilitas ini dibangun dengan dana sumbangan, untuk itu semua tidak dipungut banyaran, hanya diminta sumbangan suka rela demi kelangsungan operational dan perawatan. Untuk rombongan peserta internasional, ada tambahan biaya untuk penyediaan tukang masak dan pembersihan kamar untuk kenyamanan agar mereka bisa berlatih lebih baik.

Beberapa relawan (tepatnya relawanita) yang biasanya mantan peserta datang mendedikasikan waktu dan tenaga mereka membantu di dapur menyiapkan dan menyajikan makanan. Kali ini ada tiga orang Indonesia yang menjadi relawan, dua diantaranya datang dari Indonesia untuk membantu. Kami sangat beruntung dilayani oleh relawan-relawan ini. Mungkin saya akan ceritakan sedikit tentang mereka di kesempatan lain.

Kami semua beranjak dari kursi dan mengikuti Ajahn yang mulai menjelaskan fasilitas Pusat Meditasi Jhana Grove. Ajahn mulai dengan fasilitas dapur dan ruang makan, termasuk air minum yang telah diolah dan siap minum dari keran yang juga tersedia di setiap cottage.

Kami menuju aula meditasi yang luas dan nyaman. Setiap peserta bisa mengambil posisi dan sebisanya duduk ditempat yang sama selama pelatihan. Hanya satu Buddha rupang (patung Buddha) di dalam ruangan ini, ukurannya pun relatif kecil, sisanya ruang kosong dengan tempat duduk para bhikkhu di depan. Yang tidak umum disini adalah terdapat banyak boneka beruang.

IMG_8169

Salah satu yang khas dari Ajahn Brahm adalah menggunakan boneka-boneka beruang untuk membantu selama meditasi. kami bisa mengambil satu untuk menemani selama masa pelatihan. Boneka beruang ini berbulu lembut, biasanya dipangku dan dipegang tangan. Kelembutan boneka beruang ini dapat dirasakan dan kelihatannya ini dapat ikut melembutkan rasa selama bermeditasi. Lagian kami kayaknya masih kelas ‘play group’, masih banyak bermainnya…

IMG_8172

Ajahn mengingatkan bahwa meditasi tidak harus duduk di lantai, tapi bisa dimana saja termasuk duduk di kursi. Untuk itu disediakan kursi-kursi yang designnya dipilih khusus oleh Ajahn sendiri untuk kenyamanan dengan sandaran empuk dan juga tempat letak tangan yang sekaligus untuk mencegah orang jatuh saat miring ke kiri atau ke kanan. Ajahn bilang dia menyadari betul bahwa tubuh ini harus dibuat nyaman untuk membantu membantu melatih pengheningan pikiran. Terdapat rak-rak tempat tersedia bantal duduk, bantal kaki, selimut dan kursi kecil yang bisa dipakai untuk kenyamanan duduk bermeditasi. Saat ini adalah musim dingin di Perth, jadi selimut sangat membantu sebagai tambahan penghangat saat duduk di lantai atau dikursi

Kami teruskan berjalan ke ruangan khusus untuk meditasi jalan, ruang kosong dengan jalur karpet tempat untuk berjalan. Selain duduk, meditasi bisa dilakukan sambil berjalan, dimana perhatian diarahkan pada gerakan kaki yang melangkah hingga sentuhan telapak kaki pada karpet atau lantai. Selama berjalan mata ditujukan sekitar dua meter didepan. Ajahn memperagakan dan memandu peserta. Selama ini belum ada yang sampai menabrak tembok, tambahnya.

Di dinding digantung satu jam dengan tulisan tangan Ajahn Brahm “Sekarang adalah waktunya, dimana masa depan anda sedang diciptakan – Now is the time, your future is being made”. Terakhir Ajahn mengeluarkan ‘jurus’ andalannya ‘meditasi kanguru’ bukan berjalan tetapi melompat. Jarang ada kesempatan melihat seorang bhikkhu senior seperti Ajahn Brahm meloncat-loncat memperagakan gerakan kanguru. Sulit untuk tidak tertawa. Ajahn selalu punya cara untuk berbagi keceriaan…

IMG_8177
Kangaroo Meditation – Ajahn Brahm

Ajahn juga meminta untuk tidak mengharapkan kemajuan tertentu dari semua usaha ini. Salah satu faktor penting dari pelatihan meditasi adalah rasa kecukupan (contentment), cukup dan bahagia dengan apa yang ada, tidak menginginkan apa-apa. Kita sudah sedemikian terbiasa dengan berbuat sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Yang perlu dilakukan adalah berada disini dan sekarang (just being here and now). Latihan meditasi bukanlah untuk mencapai atau meraih apapun tapi untuk melepas, letting go…

Bagi kami yang telah membuat semua daya upaya baik waktu maupun biaya untuk bisa mengikuti pelatihan ini, tentu akan menggantungkan banyak harapan untuk mendapatkan ‘kemajuan’ tertentu, paling tidak memperoleh ‘sesuatu’ mungkin untuk menjadi lebih bahagia atau lebih melepas. Kok malah diminta menghindari berkeinginan mendapatkan sesuatu.

IMG_8199

Ya deh… kalaupun saya tidak mendapatkan ‘apa-apa’ paling tidak bisa santai karena tidak mengerjakan apa-apa, bisa punya waktu menikmati pohon-pohon, bunga, mendengar kicauan burung, waktu istirahat yang lebih banyak, kesempatan mengamati gejolak pikiran, syukur-syukur bisa menikmati tarikan dan hembusan napas satu satu; sudah cukup memberikan pengalaman yang saya inginkan. Eh.., ujung-ujungnya berharap dan berkeinginan juga…

Informasi lebih lanjut tentang Pusat Meditasi Jhana Grove dapat dilihat di tautan dibawah ini:

https://bswa.org/location/jhana-grove-retreat-centre/

Video suasana Jhana Grove:

Perth, 16 Agustus 2018

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (1)

Sudah dua minggu lebih sejak saya selesai mengikuti pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm pertengahan bulan Juli lalu di pusat meditasi Jhana Grove, Serpentine, Australia Barat. Ada keinginan mulai menulis pernik-pernik pelatihan meditasi untuk dijadikan sekedar catatan pribadi. Pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm sangat diminati. Biasanya pendaftaran online dibuka tengah malam dan … Continue reading Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (1)

Sudah dua minggu lebih sejak saya selesai mengikuti pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm pertengahan bulan Juli lalu di pusat meditasi Jhana Grove, Serpentine, Australia Barat. Ada keinginan mulai menulis pernik-pernik pelatihan meditasi untuk dijadikan sekedar catatan pribadi.

Pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm sangat diminati. Biasanya pendaftaran online dibuka tengah malam dan terisi penuh dalam hitungan menit. Juga dibuka peluang khusus untuk peserta international. Pelatihan pertengahan Juli ini khusus untuk peserta dari Indonesia dan Hongkong. Peserta tidak hanya dari kalangan Buddhis tapi juga lintas agama. Saya beruntung bisa ikut mendaftar melalui Yayasan Ehipassiko, atas kemurahan hati teman baik saya Handaka Vijjananda. 

Jhana Grove 1
Peserta dari Yayasan Ehipassiko. Terima kasih untuk teman-teman seperjalanan. (foto: Andi Wijaya)

Sosok Ajahn Brahm cukup terkenal di Indonesia lewat buku dan talkshow tahunannya di berbagai kota di Indonesia. Salah satu buku best seller Ajahn Brahm di Indonesia adalah “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko dari buku aslinya berjudul “Opening the Door of Your Heart”.

Ajahn Brahm 1
Menandatangani buku-buku di Ulang Tahun ke 67

Ajahn Brahmavamso (yang dipanggil Ajahn Brahm) adalah seorang bhikkhu (biarawan) Buddhis asal Inggris berumur 67 tahun yang telah menjalani kehidupan kebiarawanan hampir 44 tahun dalam tradisi Theravada. Lahir pada tanggal 7 Agustus 1951 dengan nama Peter Betts dari keluarga kelas pekerja di London. Peter muda sudah tertarik pada meditasi sejak usia dini. Tumbuh menjadi seorang pemuda cerdas, Peter belajar bidang fisika teoritis di Universitas Cambridge dan kemudian menjadi pengajar. Mengenal Buddhisme diusia 16 tahun lewat buku yang dibelinya dari hadiah prestasi akademiknya. Dia pergi ke Thailand untuk belajar lebih dalam tentang Buddhisme dan memutuskan menjadi bhikkhu pada usia 23 tahun. Riwayat perjalanan hidup Ajahn Brahm dapat dibaca pada tautan dibawah artikel ini.

Ajahn Brahm adalah murid dari seorang bhikkhu yang sangat dihormati di Thailand, Ajahn Chah yang bermukim di luar kota Ubon Ratchathani, bagian timur-laut Bangkok. Saya berkesempatan dua kali mengunjungi kompleks biara hutan Ajahn Chah, Wat Pa Pong dan Wat Pa Nanachat sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos sekitar tahun 2002-2003.

Ceramah Ajahn Brahm menyegarkan dan mencerahkan dengan gaya penyampaian yang lepas dengan perumpamaan dan lelucon-leluconnya. Ajahn Brahm piawai memilih gaya penyampaian dan kedalaman isi menyesuaikan dengan tingkat pemahaman pendengarnya. Di usia yang tidak muda lagi, Ajahn Brahm memiliki ingatan yang sangat kuat dan pikiran yang jernih dalam menyampaikan dan merunut serangkaian bahasan yang beranak-pinak dan kembali ke pokok pembahasan dan ditutup dengan rangkuman yang mudah dipahami. 

Ajahn Brahm 2
Ajahn Brahm dengan pose khasnya – Kanguru, satwa khas Australia

Saya tidak melihat raut muka lelah Ajahn Brahm yang berbicara sebanyak 3 sesi perhari masing-masing 1-1.5 jam per-sesi selama 9 harı, ditambah dengan sesi konsultasi personal peserta hampir setiap hari; bahkan pada hari-hari Ajahn Brahm terserang flu sekalipun. Selalu tetap terlihat senyuman khas menghias wajahnya dengan semangat dan keceriaan yang hampir konstan di setiap saat. 

Ajahn Brahm sering kali menyampaikan bahwa pikiran yang tidak bergejolak dan batin yang mawas (sadar, eling) memberikan kejernihan batin dan menyisakan energi kebahagiaan yang luar biasa dan bisa sangat membantu dalam menyelesaikan banyak masalah. Masalah yang kita hadapi tidak bisa diselesaikan dengan dipikirkan terus menerus, Ini justru yang menjadi penyebab depresi. Saat masalah terlalu dekat, kita tidak bisa melihat dengan jernih. Energi terkuras karena pikiran yang terus bergejolak menyesali masa lalu dan menghawatirkan masa depan. Masalah perlu diletakkan pada perpektif yang benar dan dilihat dengan kejernihan pikiran. Penyelesaian akan terlihat dengan sendirinya. Mawas diri adalah hidup pada saat kini. Masa depan kita diciptakan oleh apa yang kita pikirkan dan lakukan saat kini…

Ajahn Brahm 3
Ajahn Brahm – menikmati keheningan pagi di Jhana Grove

Apa yang mendorong saya ikut pelatihan ini? Mungkin sedikit klise, tapi saya ingin mendapatkan kesempatan yang lebih khusus untuk ‘menapaki Sang Jalan dan mencicipi Kebenaran – walk the Path and taste the Truth’, bukan sekedar pemahaman intelektual dari apa yang dibaca, tertulis dalam kitab atau kata orang bijak. Ada anekdot Zen (Chan) – pointing at the moon – untuk melukiskan perbedaan antara alat yang digunakan untuk melihat kebenaran dan Kebenaran itu sendiri. Cerita tentang Sesepuh (Patriat) Zen yang ke-6, Hui Neng yang buta aksara, saat ditanya bagaimana mungkin seorang yang buta aksara bisa memahami ajaran Kebenaran. Hui Neng menunjukkan jarinya ke bulan yang dilihatnya. Kita mungkin butuh ujung jari untuk melihat bulan, tapi ujung jari bukanlah bulan.

Ajahn Brahm
Bear Meditation dengan Ajahn Brahm (foto: Shally Mavieto)

Entah kapan saya baru bisa selesai menulis pernik-pernik ini, tapi mungkin itu tidak penting dan tidak perlu ada target apapun. Biarkan mengalir saja… Saya mencoba untuk mulai menulis di waktu luang perjalanan tugas singkat dari Perth (Australia) ke Denver (USA) di awal Agustus 2018, memanfaatkan ruas penerbangan panjang perjalanan melintasi Samudera Pasifik yang memakan waktu sekitar 14-17 jam satu lintasan. Saya agak sulit tidur di dalam pesawat meski sebenarnya sangat nyaman dan bisa berbaring cukup leluasa. Saya mencoba tidur sebisanya dan lebih memilih santai saja, nonton satu dua filem dan mencoba menikmati keheningan malam dengan gemuruh lembut mesin jet A380 – tentu pada saat tidak ada turbulensi di udara. Sesekali pramugari datang menawarkan minuman dan penganan dengan sangat sopan. 

Sekali lagi, tulisan ini dan berikutnya sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengupas ajaran ataupun menakar kemajuan dan pencapaian apapun apalagi menggurui, tetapi hanya cerita pernik-pernik pelatihan, sekedar catatan pribadi untuk saya baca kembali di kemudian hari di kala ingatan ini mulai memudar. Syukur-syukur tulisan-tulisan ini memberi inspirasi bagi orang lain yang berminat pada jalan hening ini untuk mencari bagi mereka sendiri.

Katanya, latihan meditasi sejatinya bukanlah untuk mencapai atau meraih apapun tapi untuk melepas, letting go, renounciation. Katanya begitu…

Jhana Grove
Jalan setapak di Jhana Grove

Riwayat perjalanan hidup Ajahn Brahm dapat dibaca tautan dibawah ini:

https://bswa.org/bswp/wp-content/uploads/2017/10/A-Tribute-to-Ajahn-Brahm-Emptiness_and_Stillness.pdf.

 

10 Agustus 2018, di atas Samudera Pasifik di ketinggian 36000 kaki (11000 meter)

I was Chauffeured by Jesus in America

My short visit to Denver, Colorado, for a business trip, came to an end. I was quite tired due to jetlag and less sleep for the last four days. It’s time to go home. I booked a taxi at the hotel for a 35 minutes trip to Denver International Airport (DIA).

The driver was a middle-aged Mexican American, quite friendly and talkative. Even though I was tired, but I tried to engage in the conversation. He explained to me the suburban residential areas we passed along the highway going to the airport. We talked about the nice and not so nice housing complex, rich and poor neighborhoods, the economic growth in Denver last five years, employee shortage and raising of housing price.

IMG_8494

He told me about his work, earning, and family. He lost his business during the 2008 global economic downturn. He said he had lost everything, including his three houses and lived in a rental apartment. His taxi driving job provides him a good income this time. He works 60 hours a week with his taxi, which is long working hours for me. But he said he’s fine as he was not behind the wheel all the time, a lot of time was waiting for passengers. On quiet days, he could earn $100 a day, and $400 a day in busy days, which usually on Thursday and Friday with many business commute travelers.

He has three kids. The eldest is a civil engineer working with a Korean company. The 21-year-old middle is a manager of a service company. His youngest is 16 years old working as an intern during the high school break earning some money. He seemed to be very proud of his kids. He said they looked after him during his tough time.

He has just bought a house and planned to move out from his apartment to his new home next week. He’s delighted and so happy. I am delighted for him and his family. My tiredness was disappeared for a while.

Approaching the DIA airport complex, I asked his name and introduced mine.
He replied: “Jesus.”
“Wow, It’s a big name,” I said.
“Yeah, so you’re safe,” he added candidly. I am not sure if he meant to say that I was saved.
He asked me: “Do you have the same Jesus?”
“No, I am a Buddhist. But I believe in good people and humanity”, I replied.
“All religions are good,” he said.
“Yeah, I think so, Jesus and Buddha might be friends somewhere,” I said.

IMG_8499

Our conversation was cut as he paid full attention to park his taxi at a busy passenger dropping bay. I tried to pay the fee with my credit card, but the payment was not gone through. Then, I paid it cash. He gave me a card receipt and wrote down his name – Jesus, and his contact number. He asked me to call him if the failed credit card payment come through for any reason.

I asked his favor to take a wefie and thanked him for his hospitality, friendliness, and the chat. Now, I have a 24 hour flight time to catch before arriving home in Perth.

IMG_8500

Denver, 9 August 2018

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi? – Why Religious Tolerance?

nalandians-commemorate-ven-k-sri-dhammananda.jpg

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?

Telah 25 tahun berlalu sejak saya menterjemahkan buku kecil “Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?” ditulis oleh Bhante Dr. Sri K Dhammananda. Waktu itu sekitar bulan Juni tahun 1993, di tahun kedua saya bekerja sebagai pekerja tambang di masa awal tambang Kaltim Prima Coal (KPC) di Sangatta, Kalimantan Timur.

Saya menerjemahkan buku ini untuk pelimpahan jasa kepada adik saya yang meninggal dunia pada tahun 1993 dan ayah saya yang meninggal di tahun 1994. Ini merupakan salah satu cara seorang Buddhis ‘berdoa’, dengan melakukan perbuatan yang dianggap baik dan menyalurkan jasa perbuatannya untuk orang yang dicintai dan untuk semua mahluk.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda adalah seorang bhikkhu yang sangat dihormati sekaligus seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari Sri Lanka yang kemudian menetap di Malaysia hingga akhir hayatnya. Saya sangat beruntung mendapat restu dari beliau untuk bisa menerjemahkan dan menerbitkan tulisannya ini di Indonesia secara cuma-cuma. Terjemahan ini kemudian diterbitkan oleh satu yayasan Buddhis di Yogyakarta pada tahun 1994 (?).

Waktu itu, saya mencoba menerjemahkan buku kecil ini dengan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat terbatas. Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman saya yang Buddhis, Kristiani dan Muslim yang banyak membantu memeriksa dan mengedit terjemahan buku ini. Mereka adalah Marie Tungka, Johnny Yala, Jhonny Kaslan Lingga dan Irwan Priatna, yang nama-namanya saya cantumkan didalam  pengantar penerjemah. Inilah barangkali cerminan semangat toleransi kami pada masa itu.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda menulis buku kecil ini hampir 45 tahun lalu, memaparkan pandangan Buddhis tentang toleransi beragama dengan sangat lugas dan dalam, namun mudah dipahami. Permasalahan yang dibahas terasa semakin relevan dengan dunia saat ini, khususnya bagi masyarakat dengan keragaman ras dan agama di banyak negara.

Membaca kembali buku kecil ini, setelah sekian tahun berlalu tetap memberi rasa kagum dan hormat yang dalam akan kearifan dan kewelas-asihan penulisnya; dan akan keluhuran Ajaran Buddha yang telah menginspirasi dan mencerahkan banyak insan dalam perjalanan waktunya yang lebih dari 2500 tahun.

Seorang Buddhis harus toleran terhadap ajaran agama lain, dan pada saat yang sama bisa bebas mengungkapkan pandangannya tentang ajaran tersebut tanpa menyimpan kebencian atau prasangka buruk. Toleransi yang benar tidak hanya semata toleran terhadap ajaran lain tapi juga dapat menahan diri ketika yang lain mencoba menyakiti dengan mengecam keyakinan kita. Sang Buddha menasehati pengikutnya: “Jika kamu marah ketika orang lain mengecam keyakinanmu, kamu bukanlah pengikutKu.”

Di dalam naskah Buddhis ada banyak kasih tak-berbatas, kebaikan dan toleransi dibabarkan. Sang Buddha menyarankan pengikutnya untuk menerima dan menghormati kebenaran dimana saja mereka temui, artinya mereka tidak perlu menolak ajaran kebaikan dari agama lain. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk memonopoli kebenaran religius.

Pada saat yang sama, Sang Buddha tidak meminta pengikutnya meyakini sesuatu tanpa pemahaman yang benar. Sang Buddha menganjurkan, “ Jangan percaya suatu tradisi hanya karena telah diwariskan oleh banyak generasi dan di banyak tempat; jangan percaya sesuatu karena banyak didengungkan dan dibicarakan oleh banyak orang; jangan percaya kerena pernyatan tertulis dari orang-orang bijak diperlihatkan; jangan percaya pada apa yang telah kamu bayangkan dan berpikir sebagai sesuatu yang luar biasa maka ini pasti diciptakan oleh sesuatu kekuatan supernatural. Setelah mengamati dan meneliti dengan seksama, jika sesuatu itu masuk akal dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua orang, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengannya.”

“Orang yang berperang dan menumpahkan darah atas nama agama, mereka tidak mengabdi pada agamanya. Mereka berjuang untuk keuntungan atau kekuasaan pribadi mereka sendiri. Mereka yang benar-benar mengamalkan suatu agama tidak memiliki alasan untuk berperang. Agama sejati tidak pernah mendorong segala bentuk kekerasan.”

“Apakah itu debu biasa atau debu emas, keduanya menyebabkan masalah pada mata. Dengan cara yang sama, apakah orang mengumandangkan perang atas nama agama atau karena alasan lain, keduanya membawa kesengsaraan bagi umat manusia.”

“Jika umat Buddha mempraktikkan “cinta kasih” yang sejati seperti yang diajarkan oleh Buddha, jika umat Islam mengikuti “persaudaraan” yang nyata seperti yang diajarkan dalam agama mereka, jika orang Kristen mempraktikkan ajaran “cintai sesamamu” dan jika umat Hindu mempraktekkan “kesatuan” umat manusia, di sana tidak ada alasan untuk mengalami segala macam bentrokan, bencana, gangguan, dan perang di dunia ini.”

“Menurut agama kita masing-masing, kita memiliki keyakinan yang berbeda tentang kehidupan kita dan akhirat. Tetapi kita tidak menyadari bahwa kita semua sama dalam setiap aspek kehidupan kita. Kita sama dalam kelahiran kita, dalam penyakit kita, dalam kekhawatiran dan kesengsaraan kita, dalam bencana dan kesalahpahaman kita, dalam kecemburuan, kebencian dan keserakahan kita; kita sama dalam usia tua kita, dalam ketidakpuasan hidup kita dan akhirnya, kita sama dalam kematian.”

“Semoga kegelapan  dari ketidak-tahuan yang  menguasai  pikiran manusia  terusir dan semoga menusia dapat menemukan kebenaran sejati melalui ajaran yang rasional  agar memperoleh keharmonisan beragama, kedamaian, kebahagiaan untuk seluruh umat  manusia. Semoga mereka memupuk toleransi beragama  yang sejati untuk membasmi  rasa takut, rasa curiga dan  rasa tidak aman dalam  pikiran manusia, dengan secara tulus menganut agama mereka masing-masing.”    

Bhikkhu Dr. K. Sri Dhammananda 

Bagi yang tertarik untuk membaca buku kecil ini secara lengkap, silakan unduh di tautan dibawah ini, yang saya scan dari draft pertama yang saya punya (1993). Ada kemungkinan final draft yang diterbitkan (1994) telah mengalami editing lanjutan untuk penyempurnaan.   Tulisan asli berbahasa Inggris juga dapat diunduh dibagian bawah.

Semoga buku kecil ini bermanfaat bagi banyak orang. Semoga semua berbahagia…

Versi terjemahan Bahasa Indonesia: Mengapa Umat Beragama Bertoleransi

Perth, 23 Juni 2018

Why Religious Tolerance?

It has been 25 years ago since I translated the booklet “Why Religious Tolerance” of Venerable Dr. Sri K Dhammananda. It was this time in 1993 during my second year as a fresh graduate mining engineer working at the early time of Sangatta Kaltim Prima Coal (KPC) Mine in East Kalimantan.

I did the translation for a merit dedication to my late young brother, passed away in 1993 and my father in 1994. It’s the Buddhist way to ‘pray’ by doing an action considered a  wholesome deed and dedicate the merit to the loved one.

Ven. Dr. Sri K Dhammananda was a highly regarded and respected Buddhist monk and scholar. He was from Sri Lanka but later lived in Malaysia. I was very fortunate receiving his permission to translate his book into Indonesia and to publish it for free distribution.

On those days, I had a very limited English. I received great help from some of my Buddhist, Christian, and Muslim friends in editing and proofreading the translation. I acknowledged them in the translation booklet. This was probably a reflection of our true religious tolerance at that time.

The booklet was written more than 45 years ago. Yet, the religious tolerance issue is even becoming more and more relevant to this day society especially to the multi-racial and multi-religious community in many countries.

Rereading it after these many years, I admire the wisdom and compassion of the author and feel enormous gratitude toward the Buddha Teaching which is inspiring and enlightening millions of hearts through the time more than 2500 years.

Buddhists do tolerate other religious practices, and yet at the same time, they can express their views freely regarding those practices and beliefs without harbouring hatred or prejudices. According to the Buddha, real religious tolerance is not a mere tolerance of other religious beliefs but the tolerance that we have to bear when others try to irritate us by condemning our religion. The Buddha advised his followers: “If you become angry when others condemn your religion you are no followers of Mine.”

In the Buddhist scriptures so much boundless love and kindness is mentioned and so much tolerance is preached. The Buddha has advised his followers to accept and to respect the truth wherever they find it. This means that we need not ignore the reasonable teachings of other religions. This clearly shows that the Buddha never had any jealous attitude toward other religions, nor did he try to monopolise religious truth.

At the same time, the Buddha did not encourage his followers to have mere faith in anything without proper understanding. The Buddha advised, “Do not believe in traditions merely because they have been handed down for many generations and in many places; do not believe in anything because it is rumoured and spoken of by many; do not believe because the written statement of some old sage is produced; do not believe in what you have fancied, thinking that because it is extraordinary it must have been implanted by a supernatural being. After observation and analysis, when it agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”

“People who fight and shed blood in the name of religion, do not serve their religion. They fight for their own personal gain or power. Those who truly practise a religion have no grounds to fight. A real religion never encourages any form of violence.”

Either ordinary dust or gold dust, or both can cause trouble in the eyes. In the same way whether people declare war in the name of religion or for any other reason both bring about miseries amongst the people. 

“If Buddhists practise real “loving-kindness” as taught by the Buddha, if Muslims follow real “brotherhood” as taught in their religion, if Christians practise the teaching of “love thy neighbour” and if Hindus practise “oneness” of mankind, there would be no reason to have all sorts of clashes, calamities, disburbances, and wars in this world.”

“According to our respective religions, we have different beliefs regarding our life and the here-after. But we have not realized that we are all common in every aspect of our life. We are common in our birth, in our sickness, in our worries and miseries, in our calamities and misunderstandings, in our jealousy, hatred and greed; we are common in our old age, in our unsatisfactoriness of life and finally, we are common in death.”

“May the darkness of ignorance which prevails in the man’s mind be dispelled from his mind and may he find real truth through a rational religion to gain religious harmony, peace, happiness for the well being of mankind. May they cultivate real religious tolerance to eradicate fear, suspicion and insecurity from the man’s mind, by sincerely following their respective religions.”

Ven. Dr. K. Sri Dhammananda 

If you are interested reading the booklet, here is the original English version:

https://www.dhammatalks.net/Books6/Bhante_Dhammananda_Why_Religious_Tolerance.pdf

May you be happy…
Perth, 23 June 2018

Present Moment Awareness

I had a chance to ask Ajahn Brahm directly about the Present Moment Awareness he referred in his meditation book. I almost knew the anwer as it’s in his book and his talks I repeatedly listened to. And intellectually, I understand his explanation, his analogy to the donkey. I guess, I just have not let things go enough… still lacking of simply being there and expect nothing…

at 1:31