Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (8)

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (6)

Baru ada kesempatan lagi meneruskan tulisan pelatihan ini setelah kembali dari liburan di Indonesia, dengan memanfaatkan waktu luang dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra dalam perjalanan tugas kerja ke Ghana.

Salah satu bagian favorit dari pelatihan ini saat sarapan dan makan siang. Ajahn Brahm sempat mencandai bahwa dia melihat banyak yang bolos dalam sesi meditasi atau dhamma talk, tapi tidak ada yang bolos waktu makan.

Selama pelatihan kita disuguhkan makanan vegetarian dan disiapkan oleh dua tukang masak dibantu oleh 4 sukarelawati. Tiga diantaranya adalah orang Indonesia and satu berasal dari Belanda. Sementara tukang masaknya (cook) adalah Paula, sepertinya keturunan India yang dibantu oleh suaminya, Jack, seorang bule.

Lily dan Rita yang berasal dari Medan, Veronica yang sudah tinggal Perth, dan Louise yang berasal dari Belanda. Mereka adalah mantan peserta pelatihan meditasi Ajahn Brahm dan datang kembali sebagai sukarelawati kitchen helper membantu tukang masak menyiapkan bahan masakan, menyajikan makanan dan tentu membersihkan dapur dan ruang makan. Mereka sangat cekatan, ramah dan melayani.

Lily tinggal di Medan dan Rita tinggal Jakarta, kedua berteman baik dan sering melakukan perjalanan bersama. Untuk kesekian kalinya mereka melakukan perjalanan bersama ke Perth khusus untuk menjadi sukarelawati. Satu berkah memiliki teman baik yang bisa sepemikiran dan seperjalanan melakukan hal-hal yang baik.

Mereka bekerja saat kami menjalani pelatihan. Kadang mereka bergabung dalam latihan dan mendengarkan dhamma talk dari Ajahn Brahm ketika kerjaan mereka sudah selesai. Kami sangat beruntung dilayani oleh mereka.

IMG_8182
Relawan yang sedang beristirahat. Rita(sweeter jingga), Lily (membelakangi), Louise dan Veronica (topi jingga)

Waktu sarapan dari jam 6:45 sampai jam 8:00 pagi setelah sesi meditasi pagi. Pagi di musim dingin, kami disuguhi dengan bubur panas dengan berbagai topping berbagai jenis kacang-kacangan, berbagai asinan termasuk daun olive, telur, dan tak ketinggalan aneka buah yang sudah dipotong-potong.

Entah kenapa makanan yang kelihatannya sederhana tapi rasanya lezat dan tidak membosankan. Saya memang suka makan bubur, jadi kebetulan sekali. Tapi baru kali ini saya tahu ada asinan daun olive (yang buahnya dibuat minyak olive), dan ternyata enak sekali.Begitu juga dengan makan siang dimulai pada jam 11. Makanan cukup beragam dengan nasi, telur, sup hangat, juga roti-roti, sayur-sayuran dan buah-buahan potong. Makanan yang disediakan lebin dari cukup dan rasanya lezat-lezat.

Malam hari, tidak ada lagi makan malam, hanya disediakan potongan coklat hitam (dark chocolate) dan keju, mengikuti tradisi kehidupan biara menjalankan Prilaku 8 Sila yang salah satunya tidak memakan makanan padat setelah tengah hari. Kami masih bisa membuat minuman yang semua bahannya tersedia di dépure, dan makan coklat dan keju yang disediakan kalau mau.

IMG_8223

Di masa pelatihan seperti ini, kami diharapkan tidak bicara kalau tidak perlu. Waktu makan, semuanya teratur mengantri dan hening. Ada yang masih ngobrol tapi seperlunya saja. Mengambil makanan yang diinginkan dan duduk ditempat yang diinginkan, di dalam ruangan atau di luar ruangan. Masing-masing mencoba mencurahkan perhatian sepenuhnya pada kegiatan makan, menyadari sebisanya gerak pikiran mulai keinginan menyendok makanan, gerakan fisik menyendok makanan, mengunyah, mengecap rasa, dan seterusnya. Berusaha untuk tidak buru-buru dengan semua kegiatan ini, hanya satu kegiatan satu waktu.

Di keseharian, kita terbiasa tidak banyak menyadari kegiatan gerak pikiran dan fisik saat mengerjakan sesuatu, termasuk hal sederhana seperti kegiatan makan ini. Pikiran kita bisa kemana-mana saat kita menyuap makanan ke dalam mulut kita, saat mengunyah dan mengecap rasa makanan yang mulai terasa di dalam mulut. Pikiran kita terus menerus berencana dan mengejar kegiatan berikutnya baik memerintahkan atau bahkan tidak menyadari tangan sudah sibuk mencari-cari sendokan berikut untuk disuapkan, atau meraih telepon genggam untuk mengetahui ada kegiatan apa di setiap group chatting, atau pikiran memikirkan masa lalu atau merisaukan masa depan. Kita tidak punya waktu untuk mengecap rasa makanan sepenuhnya. Kalaupun ada rasa makanan yang sedang dimakan, itu cenderung berupa sensasi saat sesaat karena perhatian yang timbul dan tenggelam dengan mudah lepas dari perhatian pada kegiatan makan dan mulai mengembara ke hal-hal lain yang mungkin lebih menarik. Pikiran cenderung tidak bisa diam untuk menikmati saat kini.

Dalam latihan ini, pikiran diberi kesempatan untuk memberi perhatian penuh melakukan satu kegiatan dalam satu waktu sehingga dapat mencerap sensasi yang terjadi pada saat itu, dalam hal ini – kegiatan menyendok, mengunyah, mengecap makanan dan seterusnya. Mungkin itu yang menjelaskan kenapa makanan yang sederhana menjadi begitu lezat saat perhatian penuh tercurah pada kegiatan ini. Makanan terasa lebih gurih, rasa asin, manis dan rasa lainnya dikecap secara penuh.

Ada satu cerita Ajahn Brahm ketika suatu hari dia berjalan kaki menaiki jalan berbukit menuju biara Boddhinyana di Serpentine, Australia Barat. Biasanya Ajahn diantar dengan mobil. Sebagai seorang biarawan senior, Ajahn jarang dibiarkan berjalan sendiri, selalu saja ada yang ingin mengantarnya. Sepanjang berjalan kaki menaiki jalan yang cukup terjal ini, Ajahn berkesempatan memperhatikan tumbuhan dan bunga-bunga yang mekar diterpa oleh sinar matahari pagi dan memantulkan cahaya warna warni yang indah sekali. Beberapa kali Ajahn berhenti berjalan untuk bisa mengagumi keindahan bukit kecil yang sudah sedemikian sering dilewati dan diamati lewat jendela dari mobil yang berjalan cepat. Jejak-jejak keindahan yang sampai ke dalam bola mata belum sempat diolah secara baik oleh syaraf-syaraf pengelihatan untuk dicerap di dalam otak ketika jejak-jejak baru terus datang berjejal menimpalinya. Kita kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan yang ada di depan mata.

_MG_8973

Dalam pemahaman saya yang masih awam ini, saya punya kesan bahwa perhatian penuh (mindfulness) sederhana seperti inilah yang coba dilatih dan diasah agar bisa menjadi keseharian yang akan membantu memahami bagaimana panca indera dan pikiran kita mencerap suatu fenomena dari luar dan menginterpretasinya dalam bentuk-bentuk perasaan dan pikiran, perasaan senang dan susah, suka dan tidak suka, bosan dan bergairah, rasa marah, rasa bahagia, dan lain-lainnya. 

Sejalan dengan perhatian yang mulai terasah and prilaku yang bermoral, pikiran lebih mudah menjadi hening (still), timbul dan tenggelamnya perasaan dan pikiran dapat diamati dengan perhatian penuh hingga memperoleh pengertian yang benar tentang suatu fenomena. Dengan demikian, kita mempunyai peluang untuk ‘bebas’ dari kemelekatan pada kondisi perasaan dan pikiran kita yang sering kali labil. Mungkin…

17 Desember 2018 dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s