Penerbangan JG-000

Bukan Ajahn Brahm kalau tidak membawa sesuatu atau memfasilitasi ide-ide kreatif yang out-of-the-box. Atas ide Bhante Bodhidhaja, video tentang meditasi yang analogikan dengan pesan keselamatan dalam penerbangan yang selalu kita dengar dari kru kabin sebelum tinggal landas. Bhante ada sebutan untuk biarawan Buddhis. Video ini menjadi kocak dan menghibur, dan pada saat yang sama dengan akurat menerangkan prinsip-perinsip meditasi.

Code penerbangan ‘JG-000’ jelas mengacu pada Jhana Grove, kompleks pusat meditasi di Serpentine, Australia Barat yang di kelola oleh Ajahn Brahm. Saya beruntung sempat mengikuti retret meditasi 9 hari yang diajarkan oleh beliau pada pertengahan tahun 2018. Nomor penerbangan ‘000’ kemungkinan mengacu pada pelepasan, kesunyataan, atau sejenisnya.

Video dimulai dengan pesan dari kapten Awakening Air dari ruang kemudi.

‘Ini kapten anda Ajahn Brahm berbicara, Awakening Air mengucapkan selamat datang dalam penerbangan JG000 yang tidak kemana-mana. Kita akan mengarungi kebebasan, keheningan, dan kedamaian.’

Pesan-pesan berikutnya yang diselaraskan dengan panduan meditasi dibuat sangat kreatif dan menghibur, beberapa diantaranya:

‘Pada saat masuk kedalam pesawat, mohon jangan membawa koper masa lalu anda, tinggallah di masa lalu sebagaimana seharusnya’.

‘Juga jangan membawa tas penuh dengan ‘ketakutan dan harapan’ bersama anda kedalam kabin pesawat, karena akan mengacaukan pikiranmu dan memperlambat proses masuk kedalam pesawat’.

Pada saat tanda ‘kelembutan’ dinyalakan, kembalilah pada ‘saat kini – present moment’, cobalah santai, lingkupi anda dengan kelembutan dan kebaikan’.

Sangat menarik, kreatifitas mereka menampilan Inter-Tainment – program hiburan dalam pesawat, peragaan-peragaan ala kadarnya yang diperankan oleh pengunjung yang sering saya lihat saat berkunjung kesana, dan juga saat keadaan ’emergency’ pendaratan di air.

Dan pernyataan di akhir menunjukkan betapa moderatnya pesan keselamatan perjalanan ‘penerbangan’ ini:

On behalf of the whole crew we thank you for not choosing Awakening Air but rather slowly conditioned by Kamma, your teachers and spiritual friends to come along for the ride. We wish you a pleasant journey.

Atas nama seluruh kru, kami mengucapkan terimakasih karena tidak memilih terbang bersama ‘Awakening Air’ tetapi lebih memilih secara perlahan dikondisikan oleh karma, guru dan kawan spiritual anda dalam mengarungi perjalanan ini. Semoga perjalanan anda menyenangkan.

Awakening Air

Dibawah ini adalah tautan videonya. Selamat menikmati.

Perth, 9 May 2021

Suasana Perayaan Chin Min (Ceng Beng) di Kampung di Pulau Bangka

Saya diminta oleh Koh Udaya Halim untuk ikut mengisi webinar bertema perayaan tradisi Ceng Beng pada 4 April 2021, bersama beliau dań dua kontributor lain, Koh Rusdy Tjahyadi dan Koh Henky Honggo, lewat Zoom and Youtube. Adalah kehormatan bagi saya untuk terlibat dalam forum yang digagas oleh Koh Udaya, seorang pendidik (pendiri King’s Group Education – pendidikan berbasis kreatifitas), aktifis budaya, pendiri Museum Benteng Heritage, juga ketua Persaudaraan PERTIWI (Peranakan Tionghoa dan Warga Indonesia). Kami juga sama-sama tinggal di Perth saat ini. Bersama teman-teman dan Jaringan Diaspora Indonesia (IDN), kami pernah bersama menyelenggarakan perayaan Imlek Cap Go Meh pertama di Perth di tahun 2017, dengan menampilkan budaya peranakan Tionghoa Indonesia dalam acara makan malam dan bazar. (https://www.facebook.com/imlek15meh).

Perayaan Ceng Beng kali ini juga bertepatan dengan Perayaan Paskah. Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Paskah kepada semua keluarga, teman-teman, dan semua yang merayakannya, semoga Paskah membawa berkah kedamaian and kebahagiaan.

Koh Udaya memaparkan begitu banyak informasi tentang asal usul Ceng Beng dan nihai-nilai yang mendasarinya, juga ditambahkan dengan sejarah layang-layang yang musimnya bertepatan dengan masa perayaan Ceng Beng. Koh Rusdy berbagi cerita tentang tradisi keluarga dalam persembahyangan Ceng Beng yang melibatkan keluarga besar dengan tata cara yang unik beserta kekayaan kuliner yang disajikan. Sementara Koh Henky menceritakan pernik-pernik proses perayaan Ceng Beng oleh masyarakat Tionghoa Palembang.

Semula, saya agak bingung juga mau menyampaikan apa dalam acara ini karena saya tidak punya pengetahuan tentang budaya. Lagian saya tidak begitu bisa berbicara (public speaking). Akhirnya saya pikir untuk sekedar menceritakan suasana perayaan Chin Min (Bahasa Hakka Bangka untuk Ceng Beng) di kampung di Bangka, tempat saya menjalani masa kecil dan remaja saya. Saya menampilkan banyak foto agar tidak perlu terlalu banyak ngomong – a picture paints a thousand words, kata orang.

Ibu Ineke Manaseh, moderator acara, memperkenalkan saya dan juga latar belakang saya sebagai pekerja tambang. Saya punya kesempatan bekerja di berbagai tambang (batubara, emas, tembaga) di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa), Laos, Australia, dan Ghana (Africa). Pulau Bangka sendiri terkenal dengan tambang timahnya.

Berikut di bawah ini tautan rekaman acaranya di Youtube. Terima kasih saya untuk Koh Han Hendra yang menghosting webinar ini dan menyediakan rekaman kegiatan ini.

Flyer webinar – 04 April 2021

Rekaman lengkap di Youtube – Acara Webinar

— 0 —

Bakti kepada orang tua dan leluhur mengakar dalam di budaya Tionghoa. Ajaran Konfusius banyak mengajarkan keutamaan bakti kepada orang tua. Seseorang yang punya rasa bakti yang tinggi dilihat sebagai orang yang bertanggung jawab, matang, dan bisa dipercaya. Ada ungkapan:

Dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang pertama

百善孝為先 – bǎi shàn xiào wèi xiān

Of all virtues, filial piety is the first 

Chinese wisdom

Saya yakin itu juga mengakar pada semua ajaran kebenaran/agama. Dalam  Ajaran Buddha terkenal Sutra Bakti Seorang Anak (Filial Piety Sutra), membabarkan tentang besarnya jasa dan pengorbanan orang tua untuk anaknya dan sulitnya membalas jasa-jasa orang tua. Tapi sebenarnya kita tidak perlu agama untuk mengajarkan kita bakti kepada orang tua, kita hanya perlu menjadi manusia untuk memiliki rasa itu.

bakti dalam kesederhanaan…

— 0 —

Kampung Tionghoa di Pulau Bangka

Bagi yang belum tahu, Pulau Bangka terletak di setelah selatan Sumatera atau sebelah barat laut dari Belitung. Mungkin Belitung lebih dikenal daripada Bangka. Kampung saya sendiri, Kampung Lumut, terletak di Bangka Utara yang ibukotanya adalah Belinyu. Kalau ke Bangka, setelah turun dari pesawat di kota Pangkalpinang, perjalanan ke arah Belinyu, akan melewati Sungailiat, dan tiba di Riau/Silip, lalu belok ke kiri di simpang Lumut, dan sekitar 3 km lagi untuk sampai di kampung Lumut. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Pangkalpinang.

Kampung Lumut terletak tidak jauh dari Gunung Maras (699 meter dari permukaan laut), bukit tertinggi di Bangka, dan ada satu jembatan panjang menyebrangi Sungai Perimping yang menjadi tempat ‘rekreasi’ masa kecil pada saat festival Pek Cun di sekitar bulan Juni.

Ada beberapa kelentang di sana. Salah satunya adalah Fuk Tek Tze dengan altar Toa Pek Kong (Thai Pak Kung & Thai Pak Pho), Kwan Kung, dan Kwan Im. Catatan terawal yang ada adalah pada tulisan di papan salah satu tiang yang menandakan tahun 1890. Diperkirakan pendirian kelentengnyanya jauh sebelum tahun tersebut.

Foto di kanan bawah adalah jalan utama Lumut. Waktu saya kecil, saya bersekolah di SD Siliwangi Lumut, rasanya maktu itu masih pakai Bahasa Khek (Hakka) di sekolah.

Masyarakat Bangka dikenal dengan suasana penuh toleransi dan rukun hidup bermasyarakat.

Tradisi dan Kearifan Lokal

Terakhir saya dan istri mudik ke Bangka di akhir tahun 2018, ditemani oleh Koh Udaya dan Cik Harum, sebelum saya berangkat tugas kerja ke Ghana, Afrika. Perjalanan yang sangat menarik sepanjang jalan, saya belajar banyak tentang kebudayaan peranakan Tionghoa, bahkan tentang kearifan lokal tempat saya dibesarkan. Foto-foto dalam slide ini adalah foto Koh Udaya.  

Kami meluangkan waktu ke Belinyu, kota terdekat dari kampung saya, sekitar 25km. Kami juga berkunjung ke Mentok dan Jebus (Parit 3) ditemani oleh Suwito Wu dan Sugia Kam, dan ke The House of Lay di Pangkalpinang bersama Koh Hongky Lie dan Koh Mingky Lie.

Di Belinyu, kami mengunjungi pemakaman umum Tionghoa (Kung Bu Jan) di Belinyu, tempat kakek dan nenek dari pihak ibu dimakamkan. Karena kami kesana bukan pada masa Cheng Beng, kelihatannya agak semak, tapi sebenarnya sangat terawat dan sangat ramai pada saat Cheng Beng, tentu pada masa sebelum pandemi Covid.

Ada satu peninggalan Benteng Kuto Panji (Benteng Bong Kap / Bong Kap Sang) yang kami kunjungi. Dikisahkan Bong Kap datang pada masa Dinasti Ching pada awal abad 18, sebelumnya mampir ke Kesultanan Palembang dan menjadi pejabat penting dipercayaan mengatur perdagangan di Bangka.

Baru kali ini saya mengunjungi Benteng Bong Kap ini meskipun saya dulu bersekolah menengah di Belinyu. Benteng menghadap ke satu kolam (yang dulu katanya sungai menuju ke laut) dan di samping kelenteng yang berdiri megah. Kami sampai di senja hari menjelang malam, dan menghabiskan beberapa waktu meresapi keheningan suasana benteng yang tinggal puing-piung. Ada satu makam yang sudah direnovasi di ujung bangunan, terlulis tahun ‘sekitar 1700’.

Di Lumut, mampir ke rumah orang tua saya yang sudah tidak dihuni lagi. Setelah sembahyang di altar keluarga kami mengunjungi satu rumah bangunan tua yang bergarak 4 rumah. Koh Udaya sangat tertarik dengan altar Kwan Kung (Guan Yu) dan arsitektur rumahnya. Kwan Kung adalah salah satu dewa/boddhisatva yang dipuja luas oleh masyarakat Tionghoa penganut Konfusius, Taois, dan Buddhis Mahayana, yang diyakini memanifestasikan nihai-nilai keadilan, keberanian, dan kesetiaan.

Altar Kwan Kung dengan kertas altar original yang masih cukup utuh meski sudah menghitam oleh asap dupa. Katanya kertas altar ini didatangkan dari Singapura pada masa itu. Saya ingat masa kecil saya bangunan rumahnya sangat besar, dan salah satu yang terbaik kampung. Kini sudah rapuh, bagian dapur sudah dirobohkan, yang dalam gambaran waktu kecil saya, sangat luas dengan pekarangan di tengah. Saya masih kenal baik dengan pewaris rumah itu, Bong Chiung, yang berumur beberapa tahun lebih muda dari saya.

Satu hal yang saya tidak habis pikir, rumah yang dipilih oleh Koh Udaya untuk dikunjungi selalu ada altar Kwan Kung, termasuk satu rumah kecil sederhana yang tiba-tiba ditunjuk oleh Koh Udaya untuk dimampiri di daerah Sin Chong (5 km dari Belinyu jalan ke Pangkalpinang). Katanya rumah tua yang memiliki altar Kwan Kung biasanya adalah rumah/bangunan komunal, tempat dimana orang-orang berkumpul pada masa itu. Sayang kami tidak berkesempatan bertemu dengan pemiliknya.

Peninggalan Kejayaan Masa Lalu – Kampung Gedong

Satu bagian dari kampung ada namanya Kampung Gedong (Liuk Fun Thew). Sisa sisa kejayaan masih bisa dilihat dari beberapa rumah yang boleh dibilang mewah pada jamannya. Seorang peneliti dari Kementrian Kebudayaan dan Parawisata, Dewi Setiati, dalam tulisannya menyebutkan1 Liuk Fun Thew (Perkumpulan 6 Pemimpin) merupakan salah satu distrik penambangan dari 36 distrik penambangan di zaman kolonial Belanda.

Perlahan, rumah dengan arsitektur khas ini akan hancur dimakan usia kalau tidak ada upaya melestarikannya. Waktu saya kecil, masyarakat Kampung Gedong banyak bermatapencaharian sebagai nelayan. Letaknyapun di dekat sungai air payau. Sekarang melaut bukan lagi pencaharian utama karena generasi nelayan sudah tua, sementara yang muda-muda banyak merantau keluar pulau. Kampung Gedong dikenal sebagai kampung wisata budaya. Beberapa stasiun TV swasta nasional pernah melakukan liputan di Kampung Gedong ini tentang kehidupan keseharian masyarakat di sana.

Tiga bagian bangunan yang ditampilkan dalam slide ini adalah satu bangunan/rumah besar yang terhubung satu sama lain. Sepertinya ini adalah gedung komunal yang menurut saya merupakan bangunan termegah di kampung pada jamannya. Ada satu foto ukuran besar digantungkan di depan rumah menunjukkan status sosial sebagai pejabat atau penguasa pada jamannya.

Salah satu makanan khas Bangka terkenal dengan kerupuk/kemplang (kum pang – Bahasa Khek lokal) yang menggunakan bahan tapioka dan ikan atau udang. Kita mengungungi salah satu industri kemplang milik Cu Khiong yang saya kenal, dan melihat proses pembuatannya. Kami juga disuguhi minum dan berbagai jenis kerupuk termasuk mencicipi bahan kemplang udang yang baru selesai dikukus (kum pang thung) másih hangat, kenyal dan enak.

Ada banyak varian dari kerupuk ini, ada yang dipanggang atau digoreng. Bentuknya pun berbagai jenis seperti kerupuk, kemplang, getas. Kwalitas kerupuk Bangka premium karena komposisi bahan, kwalitas ikan/udang yang segar, dan juga proses pembuatan dan pengolahannya. Menurut saya, kwalitas kerupuk/kemplang yang terbaik adalah kerupuk Bangka khususnya yang dari Lumut. Kalau tidak percaya silakan dicoba. Tentu saja, saya bias dengan penilaian saya.

Tradisi Mempererat Persaudaraan dan Kekeluargaan

Ini adalah kumpulan foto-foto beberapa tahun lalu menggambarkan suasana bersama saudara dan keluarga dari pihak ayah saya. Ini adalah kompleks pemakaman kedua orang tua saya, kakek dan nenek, termasuk makam adik saya yang meninggal lebih dari 25 tahun lalu. Juga bersama mama saya waktu beliau masih hidup. Di rumah saya juga ada altar untuk orang tua, kakek/nenek, buyut. Sembahyang Ceng Beng biasanya dimulai subuh sebelum matahari terbit.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi Ceng Beng ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Bersama saudara yang menjalani kehidupan masing-masing bisa berkumpul kembali di satu tempat dan bagi kita untuk bercerita mengenang masa bersama dulu saat orang tua kita masih bersama kita, mengenang jasa-jasa dan kasih sayang orang tua kita.

Pemakaman di Kampung tidak ada batas seperti komplek seperate di kota. Jarak antar komplek kuburan lebih adalah bekas kebun keluarga, tapi semua cukup berdekatan (kadang berjarak 50 meter). Wangi dupa yang sangat kentara dan suasana hening di pagi hari selalu mengesankan saya.

Hal yang menyenangkan lagi, setelah persembahyangan, kami boleh langsung ngemil di tempat, tanpa harus menunggu sampai di rumah: bisa buah, kue, daging, biasanya yang dipilih adalah jeroannya. Sampai dirumah, acara masak keluarga dan kami semua makan siang bersama. Di masa kecil dulu, makan daging ayam atau buah mahal hanya menjadi menu pada hari-hari tertentu seperti Cheng Beng ini. Untuk alasan itu, Ceng Beng menjadi hari istimewa bagi sebagian besar kami yang besar di kampung, dan sekarang menjadi sesuatu indah untuk dikenang.

Mewariskan Tradisi kepada Generasi Berikutnya

Ini foto-foto kiriman Suwito Wu dari Ceng Beng tahun ini di Muntok. Tata cara persembahyangan Ceng Beng yang umum di Bangka menggunakan peralatan sembahyang yang berupa lilin, dupa, kertas sembahyang (nyiun ci – kertas perak, dan kim ci – kertas emas) .

Kelihatannya yang khas untuk persembahyangan di Bangka adalah thong chien (kertas cho ci yang dipotong berjuntai) yang digantungkan di sisi kiri dan kanan kuburan, dan kai hiet ci (kertas cho ci yang ditetesi darah ayam) yang ditetakkan di atas nisan.

Tradisi Mempererat Hubungan Sosial Sekampung

Berikut adalah foto beberapa tahun lalu suasana Ceng Beng di pemakaman keluarga sekampung. Pemakaman keluarga yang sangat sederhana. Meskipun berdekatan atau seperti kompleks, tapi sebenarnya tidak ada tempat yang dikelolah khusus seperti layaknya pemakaman di kota. Boleh di bilang ini seperti di kebon masing-masing, sepertinya hanya kesepakatan bersama.

Kesederhanaan perayaan disini bisa terlihat, tapi kebersamaan dan suasana kekeluargaan sangat terasa. Tempat semua berkumpul di pemakaman orang tua dan leluhur masing-masing untuk untuk melakukan penghormatan.

Disini kita bisa dengan mudah bertemu dengan teman-teman lama yang sudah merantau kemana-mana, dan sama-sama pulang dan berkumpul kembali di kampung. Sebagai perantau lebih dari 35 tahun seperti saya, kadang hal yang ‘memalukan’ sering terjadi, karena tidak lagi ingat nama-nama semua orang di kampung. Karena kampung kecil, sebagian besar masih ingat nama saya. Kalau jalan-jalan di kampung saya ajak teman karib saya atau adik saya. Saya masih punya beberapa teman karib masa kecil di sana, yang masih berhubungan hingga sekarang.

Bakti Kepada Orangtua dan Leluhur itu Sederhana

nilai kebajikan bakti kepada orang tua dan leluhur – sesuatu yang sederhana namun luhur

Kalau kita lihat lebih dalam, tradisi bakti kepada orang tua/leluhur mengakar di dalam budaya Tionghoa sangat utama, seperti dikemukaan di bagian awal tadi. Bagi saya pribadi, saya hanya ingin memaknainya dengan lebih sederhana, bahwa perayaan Ceng Beng (Chin Min) adalah salah satu ungkapan bakti kepada orang tua dan leluhur dalam masyarakat Tionghoa yang diyakini merupakan suatu kebajikan, yang dalam perjalanan sejarah panjang mereka kemudian menjadi suatu tradisi yang membawa nilai kearifan.

Nilai yang saya rasa paling indah dari perayaan tradisi ini adalah memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, memberi kesempatan berkumpul kembali di satu tempat dan berbagi bercerita, dan kalau mau lebih spiritual – tradisi ini mengajarkan bahwa kita dekat dengan kematian itu sendiri, tidak ada yang kekal, dan suatu saatpun kitapun akan berakhir disini.

Saya berharap 2 foto diatas bisa sedikit melukiskan nilai-nilai kebajikan perayaan Ceng Beng ini, akan ungkapan bakti kepada orang tua/leluhur dalam kesederhanaan di kampung. Juga, ada yang datang ke makam orang tua atau leluhur hanya untuk menancapkan hio, menyalakan lilin, dan membakar kertas sembahyang, dan tentu dengan iringan doa – karena hanya itu yang mampu dilakukan (foto di sebelah kanan).

Tradisi ini sebisanya kita kenal, nikmati, dan rawat untuk anak cucu kita. Karena tradisi ini sudah berlangsung lama menembusi waktu dan tempat, tidak bisa dihindari timbul berbagai ragam dalam tata cara hasıl akulturasi dengan budaya setempat, yang justru memperkaya tradisi tersebut. Ragam perayaan ini dapat disaksikan dari cerita Koh Udaya, Koh Hengky, and Koh Rusdy dalam forum webinar ini.

Menurut saya boleh saja kita menyesuai dengan tradisi dengan perubahan yang terus berlangsung, misalnya tidak ingin memberi persembahan bernyawa dengan pertimbangan keyakinan, atau apapun. Saya sendiri hanya mempersembahkan satu piring buah-buahan untuk setiap makam. Tahun ini, saya hanya menitipkannya kepada adik saya yang tinggal di Belinyu.

Namun kita tidak perlu merasa malu dengan tradisi seperti ini karena dianggap kuno atau bertentangan dengan keyakinan baru kita. Kita bisa saja punya pengetahuan atau keyakinan baru yang kita anggap lebih masuk akal dengan segala dalilnya, tapi kalau kita mengagungkan ‘pengetahuan’ semata, kita bisa kehilangan kearifan yang menjadi dasar prilaku berbudaya dari suatu peradaban.

Tata cara suatu tradisi akhirnya akan berubah dan berangsur memudar dalam perjalanan waktunya. Untuk itu, kita perlu merawatnya sebisa mungkin dań sekaligus menikmatinya. Namun nilai-nilai kebajikan bakti kepada orang tua seharusnya bertahan dan akan selalu ada di dalam hati setiap manusia.

Suasana Kampung yang Ngangenin

Sebagai penutup dari cerita saya, saya ingin berbagi cara saya menikmati suasanya kampung kala saya mudik. Saya merasa sangat beruntung, punya kampung halaman, dan punya kesempatan untuk kembali dari waktu ke waktu.

Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati, utamanya hal-hal yang sederhana. Yang pertama, tentu bisa bertemu dengan orang tua saat mereka masih ada. Kini, kedua orang tua sudah meninggal. Dan rumah di kampung pun sudah tidak ditinggali. Namun, saya masih ingin meluangkan waktu untuk mudik saat kondisi memungkinkan.

Ada banyak hal yang ngangenin, ngobrol dengan teman waktu kecil, menelusuri jalan setapak di belakang rumah, melihat kolong tempat mandi dulu, merasakan udara segar lepas dari hiruk pikuk kesibukan masyarakat kota, ngobrol dengan orang-orang tua di kampung dan mendengar cerita keseharian mereka.

Perth, 05 April 2021

Kenangan Imlek Seorang Perantau

Tahun terus berganti, rasanya waktu berjalan begitu cepat. Sudah 35 tahun aku di rantau, meninggalkan kampung halaman untuk mengasah diri dan mengapai setumpuk impian. Setelah jauh berjalan, ada kerinduan pada kampung halaman terlebih menjelang tahun baru Imlek seperti sekarang ini.

Di tahun lalu saya dan istri merayakannya di Accra, ibu kota Ghana, di Afrika Barat.

Imlek 2020 di Accra, Ghana, Afrika Barat

Di tahun ini, dengan masa Covid seperti sekarang ini, telpon atau video call dengan keluarga dan handai taulan menjadi pilihan untuk ‘bertatap muka’ dan bercerita.

Imlek tahun 2021

Kiung Hi Xin Nyien – sin thi kian khong, sim li khai lok

Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga membawa berkah kesehatan jasmani dan hati yang bahagia…

Ada dua bagian cerita disini, bagian pertama tulisan tahun 2016/2017 tentang kampung halaman di waktu Imlek. Saya tambahkan dengan tulisan tentang keterlibatan di kepanitiaan perayaan Imlek di Perth, Australia Barat, di tahun 2017, di bagian kedua.

bagian pertama

Kampung Lumut adalah kampung kecilku, salah satu perkampungan penambang timah pada masa kolonial Belanda dimana banyak pekerjanya datang dari Tiongkok sejak timah ditemukan di Pulau Bangka di awal abad 18(1).

Ada satu danau besar bekas tambang timah yang kami sebut thay khut long (kolong/telaga besar) yang menjadi sumber air tempat kami mandi dan mengambil air bersih di musim kemarau. Kolong besar dan berair biru jernih ini sekarang sudah tertimbun oleh tanah buangan dari kegiatan penambangan timah yang dilakukan belakangan ini.

Tak jauh dari kampung terdapat satu jembatan panjang melintasi Sungai Layang, namanya jembatan Perimping, yang kami sebut chong khiau yang artinya jembatan panjang. Jembatan aslinya sudah rusak, jembatan penggantinya dibangunkan di sampingnnya. Memandang ke arah selatan, terhampar pemandangan Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka dengan dua puncaknya.

Meskipun kampung kecil, ada berbagai nama untuk bagian kampung yang berbeda, ada yang namanya ja se ha, pu theu chai, sin kai, chit ho (Parit Tujuh), nam hin, dan luk fun theu. Yang terakhir disebutkan ini lebih dikenal dengan Kampung Gedong yang selama ini terkenal dengan objek wisata untuk menikmati arsitek bangunan tua dan kehidupan masyarakat yang masih tradisional dan bersahaja. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar pelaut, petani khususnya sahang (lada). Secara umum tingkat ekonomi masyarakat sangat marginal. Lumut juga dikenal dengan industri rumahan kemplang dan kerupuk Bangka yang terkenal itu.

Dari kampungku menuju ke kota kecamatan terdekat waktu itu, Belinyu, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk jarak yang hanya 25km karena sebagian jalan tanah yang berlubang. Itu adalah perjalanan rutinku selama 6 tahun dengan bus sekolah, tepatnya truk yang atapnya ditutupi terpal dan dilengkapi bangku papan panjang untuk duduk. Sering kali banjir datang merendam rumah dan memutuskan jalan di musim hujan di akhir tahun sebelum Imlek.

Tahun baru Imlek ramai dirayakan di kampungku pada masa kecilku. Suasana perayaan meriah dan penuh keceriaan, mulai dari ikut sibuk membersihkan rumah sebelum Imlek, persembahyangan untuk menghormati leluhur dan makan malam keluarga. Anak kecil diwajibkan orangtua untuk mengunjungi hampir semua keluarga dan kerabat. Yang paling menyenangkan adalah saat mendapat fungpau (angpao).

Aku selalu menikmati suasana kampung setiap kali pulang kesana, berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dengan kawan- kawan masa kecil dan sekedar berjalan sepanjang jalan setapak di belakang rumah- rumah tempat bermain dulu.
(1) Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary Somers Heidhues, Singapore, 2011.

bagian kedua

Ikatan budaya dan kenangan masa kecil inilah yang mendorong saya untuk bersedia menjadi ketua panitia perayaan Imlek pertama di Western Australia pada tahun 2017.

Keinginan untuk mengadakan suatu acara kultural Tionghoa Indonesia diawali oleh dorongan beberapa teman di Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Network) untuk mengadakan semacam acara komunitas untuk merayakan tahun baru Imlek. Dengan dukungan yang luar biasa dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan masyarakat Indonesia, kami membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama untuk mewujudkan impian kami. Tahun Baru Imlek tahun ini dirayakan pada 28 Januari 2017. Kami telah mengatur Capgomeh Dinner di 11 Februari dan Festival Imlek pada 12 Februari 2017.

Flyer acara Imlek Cap Go Meh di Perth, 2017

Kami coba menampilkan budaya yang telah memperkaya bangsa dalam perjalanan waktunya, merayakan dan menikmati kekayaan budaya Indonesia. Kami menghadirkan perayaan Imlek Capgomeh nuansa keIndonesiaan dan juga penggalangan dana amal. Seluruh hasil pengumpulan dana yang berjumlah lebih dari A$6000 disumbangkan kepada dua institusi amal untuk penyaluran bantuan di Indonesia.

Kami sebisanya melibatkan komunitas masyarakat Indonesia untuk menyumbang pertunjukan budaya dalam acara ini seperti Komunitas Cinta Berkain (KCB), Sanggar Tari Jatayu, Perguruan Pencak Silat Perisai Diri, Seni Tari Bali, Aceh, Toraja, Sunda, Jawa, praktisi Tai Chi, dan banyak lagi, termasuk mendapat dukungan utama dari Musem Benteng Heritage (Tangerang) dan Persaudaraan Pertiwi (Peranakan Tionghoa Warga Indonesia) yang pelopori oleh Bapak Udaya Halim yang mendatangkan sekitar 25 siswa dari Prince’s Creative School di Indonesia untuk mempersembahkan pertunjukkan budaya Nusantara.

Dengan dukungan dari Konsul Jendral Republik Indonesia di Perth, Bapak Ade Padmo Sarwono, turut hadir tamu kehormatan Mr. John Edwin McGrath MLA – Parliamentary Secretary to the Premier; the Honourable Catherine (Kate) Esther Doust MLC – Deputy Leader of the Opposition in the Legislative Council; Mayor Sue Doherty – Major City of Perth; Mrs. Rebecca Ball – Executive Director Office of Multicultural Interests; Mrs. Sun Anlin – Deputy Consul General Consulate-General of the People’s Republic of China di Perth; Mr. Professor David T. Hill AM – Chairman of ACICIS and Ms. Krishna Sen; Mr. Nicholas Way – Chairman of Bali Peace Park Association Inc.; Mr. Phil Turtle & Ms. Anastasia Dharma – Vice Chairman of Australia Indonesia Business Council National. Kegiatan ini juga didukung oleh Bapak Mohamad Anshori, Chairman of Indonesian Diaspora Network Western Australia (IDN-WA), Bapak Rudolf Wirawan, Chairman of IDN-NSW, dan Bapak Anthony Liem – peneliti ‘Black Armada’.

Beberapa panitia dan tamu (Anthony Liem dan Rudolf Wirawan), bersama Bapak Ade dan Ibu Dhani Padmo Sarwono – Konsulat Jendral Republik Indonesia

Di festival juga dipertontonkan filem pendek dokumenter “Indonesia Calling” karya Joris Evens di tahun 1946 yang menjadi jembatan hubungan persahabatan Indonesia dan Australia. Filem ini mengambarkan masa sehabis Perang Dunia II dimana kaum buruh dermaga menolak untuk bekerja di kapal kapal Belanda yang dikenal dengan Black Armada yang mengangkut senjata dan amunisi dengan tujuan Indonesia untuk memerangi gerakan kemerdekaan di Indonesia. Peristiwa heroik ini didukung oleh pekerja pelabuhan yang multi-etnis termasuk orang Australia, China, dan India, telah menggagalkan pengirimkan senjata ke Pulau Jawa pada masa perang kemerdekaan itu. Sejarah ini tidak banyak diungkap di Indonesia.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bahwa semua anggota panitia bekerja secara sukarela. Sebagian besar dari kami baru saling mengenal dalam kegiatan ini. Kami semua datang dari latar belakang berbeda dari segi etnis, agama, dan pencaharian, tapi bisa bekerja bersama untuk sesuatu yang baru pertama kali dilakukan dalam keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumberdaya. Melihat kembali ratusan foto yang mendokumentasi kedua kegiatan ini, menghadirkan rasa senang bahwa ini bisa terselenggara dengan baik dan dinikmati oleh yang hadir, terlepas dari kekurangan yang ada.

Ikatan persahabatan kami terus berlanjut setelah kegiatan lama berlalu. Kita masih sering berbicara tentang ‘the good old days‘.

— 0 —

Berikut adalah dokumentasi kegiatan. Booklet kegiatan kegiatan, kepanitiaan, dan beberapa artikel tentang budaya Imlek di Indonesia.

Album foto acara Makan Malam, Imlek Cap Go Meh Selebration – 11 Pebruari 2017

Album foto acara Festival, Imlek Cap Go Meh Selebration – 12 Pebruari 2017

Seluruh kegiatan selama penyelenggaraan acara dikomunikasikan lewat Facebook Page:

https://www.facebook.com/imlek15meh

Susunan kepanitiaan perayaan, serta dibantu banyak teman dan pihak lainnya hingga memungkinkan kegiatan ini terselenggara.

Perth, 12 February 2021

Sekilas Siklus Tambang Emas

Sudah lebih dari 28 tahun saya jadi pekerja tambang, sebagian besar bekerja di penambangan emas dan tembaga, hanya 4 tahun saya bekerja di tambang batubara, pada saat awal setelah selesai sekolah.

Indonesia kaya akan sumber daya alam diantaranya cadangan sumber daya tambang termasuk emas dan tembaga. Pertambangan berperan penting bagi perekonomian negara lewat ekpor, pajak, royalti, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan daerah terpencil/terisolasi.

Pertambangan menjadi sektor yang sering dipergunjingkan. Bagi banyak orang pada umumnya, ada anggapan bahwa pengusaha tambang selalu kaya raya, apalagi tambang emas. Pengusaha pertambangan emas, terutama perusahaan dengan kepemilikan asing, digambarkan sebagai monster yang menjarah kekayaan bangsa, tidak mempedulikan keadaan sosial masyarakat sekitar, dan menyengsarakan rakyat. Ini mungkin karena kurangnya informasi atau karena pertambangan sering dibawa ke ranah politik.

Dunia tambang memang akan penuh dinamika bahkan romantika. Filem-filem koboi Amerika banyak mengisahkan masa-masa berburu emas yang dikenal dengan California Gold Rush (1848–1855). Di Australia juga pernah dikenal masa berburu emas ini diawali pada tahun 1851.

Di Indonesia, dikenal skandal cadangan emas Busang (Kalimantan) di tahun 1990-an yang melibatkan perusahaan Bre-X, adalah sekandal tambang terbesar sepanjang sejarah. Bre-X yang menawarkan sahamnya di bursa saham Toronto di Kanada mengaku menemukan cadangan emas yang sangat fantastik (71 juta ounces atau 2.200 ton emas) dari Busang. Ini mendokrak harga sahamnya naik luar biasa. Tapi akhirnya terkonfirmasi cadangan tersebut tidak pernah ada sehingga menyebabkan harga sahamnya jatuh bebas dan pemegang saham yang sebagian merupakan warga biasa kehilangan harta mereka. Skandal ini diangkat oleh Hollywood dalam filim berjudul “Gold” di tahun 2016 yang dibintangi pemeran kawakan Matthew McConaughey.

Tentu, banyak pertambangan yang dikerjakan oleh perusahaan terhormat yang didalamnya berisi orang-orang yang punya integritas dan kepedulian tinggi pada lingkungan dan kemanusiaan. Pertambangan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang yang umumnya tidak tersentuh oleh pembangunan sektor lain karena keterpencilan.

Disamping itu, pertambangan diatur oleh banyak regulasi termasuk regulasi internasional tentang perlindungan lingkungan hingga ketentuan ketat tentang pelaporan jumlah cadangan dan kelayakan nilai cadangan untuk melindungi para pemegang saham di pasar modal.

Usaha pertambangan sendiri meliputi serangkaian panjang pencarian (eksplorasi), studi kelayakan, konstruksi tambang, masa produksi, hingga penutupan tambang yang melibatkan usaha padat karya dan padat modal dengan resiko tinggi. Perbandingan penemuan awal hingga mendapatkan cadangan yang dapat diusahakan secara ekonomis sangat rendah.

Baru-baru ini (22 Agustus 2020) saya mendapat kesempatan memaparkan dan berdiskusi tentang siklus suatu tambang emas dengan adik-adik mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya. Saya memilih topik yang kelihatan sederhana ini agar ada pemahaman dasar yang baik bagi seorang calon sarjana pertambangan tentang rangkaian panjang dunia yang akan digelutinya, mungkin sepanjang hidupnya.

Rasanya bahan ini juga akan mudah dipahami oleh semua orang bagi yang tertarik. Untuk itu saya unggah di tautan dibawah ini.

di atas tambang Khanong, Sepon, Laos – sekitar tahun 2006.

18 Oktober 2020 – Perth, Australia

Dedaunan

Saat ini kita berada di dalam hutan yang tenang. Di sini, tidak ada angin,  dedaun an diam tak bergerak. Ketika angin bertiup, daun bergerak dan melambai.

Pikiran adalah sama dengan daun tersebut. Ketika bersentuhan dengan kesan batin, iapun juga akan bergoyang sesuai dengan hakekat dari kesan batin tersebut. Dan semakin kita kurang mengerti Dharma, semakin pikiran akan terus-menerus mengejar kesan batin. Ketika merasakan kebahagiam, pikiran larut dalam kebahagiaan. Ketika merasakan duka, pikiran larut dalam penderitaan. Pikiran akan berada dalam gerak yang berketerusan.

Ajahn Chah – Wat Nong Pah Pong

Sebatang Pohon di Hutan

Kumpulan kiasan-kiasan Ajahn Chah

81628726_1699504213564676_6624924948852899840_o.jpg

 

Sumber:

 

Barcelona, Spanyol – 07 Januari 2020

King of the People Hearts

Consolidating my writing from other media. This one was written in October 2016 and published in Facebook Note.

I do not know much about him but I am touched by the great love and respect of his people toward him.  Thai people show their utmost respect to the royal family, especially to their King Bhumibol Adulyadej. 

Many years ago, I was used to traveling through Thailand during my flying-in flying-out working at a mine site in Laos, traveling from the metropolitan Bangkok to smaller city Ubon Ratchathani, and to a small town Mukdahan next to the Mekong River before crossing to Savannakhet, Laos. My Thai friends talked about how much their King had done for the people and the country. It’s very common seeing Thai people make an anjali gesture by joining both of their palms and bow toward their king’s or queen’s pictures wherever they found for showing their deep respect. 

King of the People Hearts
Paying Respect

With my family, we had a chance to visit Chiang Mai once.  We passed some of King’s supported agriculture projects on the way of visiting an indigenous tribe in the north of Thailand. I can still  remember when I was flying with Thai Airways on the day of the 60th Anniversary of King Bhumibol Adulyadej’s accession to the throne in 2006, the pilot proudly made a special announcement from the cockpit that the inflight food served that day was cooked with the ingredients specially brought from the King’s supported farms.

Here in Down Under, thousands of kilometers away, the Thai community gets together to commemorate the passing away of King Bhumibol Adulyadej, they share their love to the King of the People Hearts.

My deepest condolences to my Thai friends for your beloved King departure.

Perth, October 2016

 

Biarawan Muda yang Tekun Berlatih

Seorang biarawan muda begitu bersemangat untuk melatih diri. Suatu hari, dia datang menghadap kepala biara untuk meminta izin menjalani tapa pengasingan seorang diri di pulau kecil di tengah danau di seberang biara. Dia ingin agar bisa memusatkan usahanya mencapai pencerahan secepatnya sehingga dia bisa melakukan banyak hal lain nantinya. Atas restu kepala biara, diantarlah biarawan muda ini menyeberang ke pulau kecil tersebut dan tinggal di sana. Bekal makanan dan keperluan sederhana sehari-hari dihantarkan setiap minggunya.

Setelah tiga tahun berlatih dengan tekun, biarawan muda ini menyakini telah mencapai pencerahan batin yang sempurna. Dia meminta dikirimkan kertas lukis beserta kuas dan tinta. Dia ingin menulis satu bait puisi dalam bentuk kaligrafi indah untuk dikirimkan kepada kepala biara demi menunjukkan tingkat pemahaman dan pencerahan yang telah dicapainya.

biarawan muda penuh tekat

tiga tahun menyendiri tekun berlatih 

tak kan lagi tergoyahkan 

oleh empat badai duniawi 

Gulungan kaligrafi yang indah inipun dititipkan untuk disampaikan kepada kepala biara. Pada hantaran bekal makanan berikut, dia menerima balasan dari kepala biara. Alangkah terkejutnya dia mendapati kaligrafinya yang indah dicoreti dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Setiap baris dari puisi yang dia tulis ditimpali dengan tulisan kata ‘Kentut!’ bertinta merah dan besar-besar.

Dia marah sekali dan tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kepala biara bisa begitu tidak bijaksana dan tidak bisa melihat pencapaian tinggi dari seorang murid berbakat seperti dirinya. Tidak tahan dengan hinaan ini, dia memutuskan untuk menyeberang balik ke biara dengan perahu pengantar barang yang sama, hari itu juga.

Dengan penuh emosi dia mempertanyakan maksud dari coretan itu langsung kepada kepala biara. Kepala biara tua ini menatap biarawan muda ini sambil berkata: “Biarawan muda, kamu bilang tidak lagi tergoyahkan oleh empat badai duniawi, namun… satu hembusan angin ketut telah meniup mu menyeberangi danau sampai disini…”

Sang murid seketika menyadari keangkuhan dan tingkat kemajuan batinnya. Dia kembali ke pulau di tengah danau untuk terus berlatih. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya mencapai pencerahan tertinggi.

(Disadur bebas dari cerita yang didengar dari Ajahn Brahm beberapa waktu lalu)

Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak. Semoga Semua Mahluk Berbahagia…

18359069_10154885937243197_8968065103245418517_o
Waisak 11 Mei 2017, Dhammaloka Monastry, Nollamara, Western Australia

Perth, 11 Mei 2017
Coba mengumpulkan tulisan yang pernah saya tulis di media lain. Ditulis pada saat Waisak di bulan Mei 2017, dipublikasikan di Note Facebook.

Sekilas Masa Kecilku di Kampung Pangkal Niur

Sudah lama aku meniatkan untuk bisa mengunjungi kampung tempat aku melewati sebagian masa kecilku dan untuk mencari teman-teman yang mungkin masih tinggal disana. Baru pada saat pulang mudik Imlek hampir lima tahun yang lalu di awal 2015 aku sempat kesana. Dan baru sekarang aku mencatatnya dalam tulisan ini.

Kampung halamanku sendiri adalah Kampung Lumut, di Kecamatan (sekarang sudah berstatus Kabupaten) Belinyu, Bangka. Kampung Lumut pada masa kecilku boleh dibilang penduduknya lebih dari 90% adalah masyarakat Tionghoa. Sekolah dasar (SD) tempat aku sekolah semua muridnya Tionghoa and bahasa kesehariannya adalah bahasa Hakka/Khek khas Bangka.

Aku bersekolah di Kampung Pangkal Niur dari kelas 2 sampai kelas 5 (1978). Orang tua dan adik-adiku masih tinggal di Kampung Lumut, hanya saya dan pengurus usaha Ayahku yang masih keluarga dekat yang tinggal di Pangkal Niur (yang dikenal sebagai Kampung Baru atau Sin Khamkhong dalam bahasa khek). Saat liburan sekolah aku baru pulang ke kampungku. Ayahku pulang pergi Lumut ke Pangkal Niur mingguan. Ada satu masa singkat Ibu dan satu adikku juga pindah tinggal di Pangkal Niur.

Masa itu telah berlalu lebih dari 40 tahun…

Tidak membuat rencana tertentu atau berharap apa-apa, ditemani kawan karibku Akwet kami berangkat ke Pangkal Niur hari Rabu pagi,  18 Pebruari 2015. Kami masing masing membawa satu sepeda motor. Aku mengikuti dia dari belakang. Jalanan telah beraspal bagus. Kebetulan juga dia ada keperluan ke satu kampung dekat Pangkal Niur untuk mengambil kepiting lokal (ketam hitam) dari nelayan di sana. Kepiting Akwet sangat terkenal bahkan bagi wisatawan yang datang dari luar Bangka.

Screen Shot 2019-11-24 at 8.30.26 am
Mengikuti Akwet dari belakang

Akwet membawa keranjang rotan dibelakang untuk tempat muatan barang. Keranjang rotan yang langsung mengingatkan aku pada ayahku pada masa kecilku. Seketika, kenangan masa-masa masa kecil yang lebih dari 40 tahun lalu muncul kembali dalam ingatan, seperti menonton filem bisu hitam putih.

Bersama ayahku kami sering melalui jalan ini dengan motor Honda CB 80cc-nya. Meski jaraknya hanya mungkin sekitar 25km, tapi rasanya jauh sekali saat itu karena jalan yang rusak dan hanya berkendaraan sepeda motor.

Kadang aku didudukkan diatas tangki bahan bakar di depan dan tangan saya memegang erat stang motor saat dibonceng ayahku. Aku berperawakan kecil dan sangat kurus waktu masih kecil, kelihatannya tidak begitu menghalangi ayahku mengendarai motornya meskipun aku duduk di depannya. Sering kali pahaku perih karena terkena rembesan bensin yang keluar dari tanki yang masih penuh dan terguncang karena jalan yang rusak parah. Aku suka duduk di depan seperti ini karena bisa leluasa menikmati penandangan dan sejuk diterpa angin dari depan saat motor melaju, sehingga tidak mabuk kendaraan.

Kadang aku didudukkan di dalam keranjang seperti yang dibawa oleh Akwet hari ini, dimana aku duduk di atas pelana keranjang dengan kaki menjuntai di kiri dan kanan keranjang, Posisi ini kurang menyenangkan karena duduk tidak leluasa, lutut sering terbentur dengan dinding keranjang yang terbuat dari rotan.

Sejalan dengan bertambahnya umur, duduk di depan sudah tidak menungkinkan. Aku duduk dibelakang (tanpa keranjang) dan bisa memeluk pinggang ayahku erat-erat. Aku sering mendengar senandung ayahku saat aku bersandar dan menempelkan telingaku ke punggungnya disela-sela desiran angin dan deru motor. Posisi duduk yang paling aku sukai.

Jembatan Perimping Lumut
Jembatan Perimping dengan latar belakang Gunung Maras

Jalan ke Kampung baru melewati jembatan Perimping. Dulu, jembatannya sempit, dan sepertinya panjang sekali. Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka, nampak berdiri kokoh di belakangnya. Jembatan aslinya ada di sebelah kanan tapi sudah tidak bisa dipakai lagi.

Perjalanan kami melewati kampung kampung kecil diantaranya Parit Tujuh, Sinar Gunung, Bernai, Buhir, Rambang.

Akwet mampir di Kampung Rambang untuk membeli kepiting hitam air payau, dan sempat ngobrol-ngobrol.

IMG_3170

IMG_3164

 

Kurang dari 10 menit dari Rambang, kami sampai di Kampung Baru (Pangkal Niur). Tentu keadaan sudah banyak berubah, sudah sangat banyak rumah-rumah permanen. Setahu saya masyarakat sebagian besar adalah petani lada.

IMG_3187.jpeg
Kampung Pangkal Niur

Masyarakat Pangkal Niur hampir seluruhnya adalah Melayu dan muslim. Pada masa itu, hanya dua keluarga, yaitu keluarga kami dan satu lagi keluarga  pamannya ayah (saya panggil sukkung) yang Tionghoa yang membuka usaha toko kelontongan dan membeli hasil bumi (lada dan karet).

Selain itu, usaha sukkung yang lain adalah membuat sikat dari sabut kelapa dan ijuk. Setiap hari sukkung dan istrinya (aku panggil sukpho) setiap hari duduk di depan toko membuat sabut ijuk dengan alat pemintal sederhana yang digerakkan dengan tangan. Belum ada listrik pada waktu itu, penerangan menggunakan lampu tangki minyak petromax (strongkeng – mungkin maksudnya dari merek Strong King). Aku dekat dengan anak-anak Sukkung aku panggil suksuk (paman) dan kuku (bibi). Aku ingat pernah tinggal beberapa lama di tempat sukkung. Aku adalah keponakan satu-satunya yang tinggal dekat mereka.

IMG_3181.jpeg
(Bekas) Toko Sukkung – tidak banyak berubah setelah lebih dari 40 tahun

Kami mampir di lapangan sepak bola, tempat kami akan kampung bermain dulu. Dulu rasanya luas sekali dan tidak banyak perumahan. Sekarang, lapangannya sudah dikelilingi oleh pemukiman.

_MG_2751

 

Tak jauh dari lapangan bola, ada kerumunan ‘pasar’ lokal. Pola masyarakat keseharian melalukan jual beli tidak banyak berubah. Pedagang sayuran dan ikan dengan motornya menjajakan dagangan mereka dimana saja pembeli berminat. Bedanya, dulu pedagang menggunakan sepeda, sekarang motor. Ayahnya Akwet adalah salah satu pedagang ikan keliling pada masa itu.

_MG_2747.jpeg

 

Kebetulan sekali kami bertemu dengan teman kelasku disini, Gipo. Memang rencanaku akan mencari dia kerumahnya. Dan lebih kebetulan lagi, kami ketemu dengan salah satu guru kami yang baru pulang dari kebun, Pak Haji Ashari. Beliau terlihat ceria dan sehat. Senang sekali bisa bertemu mereka di sini. Sayang, tidak terlalu banyak waktu untuk bercerita lebih banyak. Sehat dan bahagia selalu Pak Haji…

_MG_2748
Guru kami Pak Haji Ashari (kedua dari kanan) dan kawan sekelas Gipo (kedua dari kanan)

Akwet dan aku diajak kerumah oleh Gipo untuk bertemu keluarganya dan makan di rumah. Kami mulai bercerita panjang mengenang masa-masa sekolah dulu.

Gipo bercerita tentang perjalanan hidupnya dan keluarganya setelah kami tamat SD. Gipo punya 6 anak (kalau tidak salah ingat). Yang bungsu gadis kecil yang manis, dan yang sulung telah menyelesaikan studinya di kedokteran. Dia bersemangat bercerita dan bangga dengan anak-anaknya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya akan anak gadisnya yang telah menjadi seorang dokter, yang bersama kami ngobrol. Aku ikut bahagia mendengarnya. Dia juga bercerita tentang kurang sehatnya istrinya karena diabetes yang akut yang sekarang banyak mendapat perhatian dari anaknya yang seorang dokter,

IMG_3250

_MG_2753

 

Aku menanyakan satu persatu keadaan teman dan guru, teman-teman yang masih aku ingat namanya, Wanto kawan sebangku, Soleha, Junaidi, Supri atau aku sebut lokasi rumahnya kalau lupa namanya. Kakak perempuan Gipo juga sekelas dengan kami. Dia sekarang tinggal di tempat lain bersama keluarganya.

IMG_3320

 

Aku ajak Gipo ke sekolah SD kami dan minta ditunjukkan rumah/tempat tinggal aku dulu yang berdekatan  dengan sekolah kami.

IMG_3379

Kelasku dulu di barisan bangunan ini tapi masih bangunan lama dengan ruang kelas yang terbuka (setengah dinding) dari papan. Di kelas, hanya aku sendiri yang Tionghoa.

IMG_3376
Deretan ruang kelas kira-kira tempat aku dulu dari kelas 2 hingga kelas 5 SD

Gipo menunjukkan tempat tinggal kami dulu, kira-kira rumah yang ada parabola ini. Ingatanku melayang ke masa lalu, mengingat-ingat rumah kayu kami yang sekaligus warung dengan lantai tanah liat yang dipadatkan. Ada pagar kayu di depan rumah yang setiap 17 Augstus dicat kapur putih dan mengibarkan bendera merah putih. Bangunan rumah warung agak menjorok mungkin 5-10m dari pagar.

Warung dengan papan setengah dinding menjual barang kebutuhan sehari-hari, beras, minyak, gula, garam, terasi, bawang, juga membeli hasil lada dari petani. Ada satu anak tangga untuk turun ke ruang tengah sekaligus ruang makan dengan meja kecil di sudut kiri ruangan.

Sementara hanya ada satu ruang tidur di sebelah kanan dengan ranjang dipan yang tinggi dan lebar tempat menaruh kasur. Aku harus memanjat kalau mau tidur. Lebih ke belakang, ada dapur kecil yang dengan dua tungku kayu bakar dan tempat cuci berlantai papan hitam yang terkadang sangat licin terkena air.

IMG_3374
Ini kira-kira tempat kediaman aku sewaktu tinggal pada masa itu (Akwet dan Gipo)

Setelah cukup lama melihat dan bercerita, aku pamit dengan Gipo untuk pulang. Dalam perjalaan pulang, kami mampir di satu warung kecil di Kampung Rambang untuk isi bensin kalau tidak salah. Satu ibu berjilbab yang dari tadi duduk disitu menyapa:

“Pok ni Jin Hung yo, anak Khie Sung?”(Kamu Jin Hung ya, anaknya Khie Sung?)

“Aok” (ya); jawabku

“Kak kawan sekelas pok lah (Aku ini kawan sekelasmu)”, sambungnya.

Jin Hung adalah nama panggilanku oleh teman-teman sekolah waktu itu. Ayahku dikenal disana karena usaha dagang di kampung waktu itu, juga karena ayahku mendalami pengobatan akupuntur (tusuk jarum) dan moksibasi (pembakaran ramuan daun moxa pada titik-titik jalan darah – meridian) setelah tidak usaha dagang lagi, dan banyak melakukan pengobatan di kampung-kampung,

Kami bercerita tentang sekolah saat itu dan juga tentang kawan-kawan lain. Kawan sekolah yang tinggal di Kampung Rambang berjalan kaki ke Kampung Baru tempat sekolah kami setiap hari. Mungkin mereka butuh paling tidak 1 jam untuk berjalan kaki, dan seingatku ada satu bukit yang tinggi di tengah perjalanan (paling tidak untuk ukuran anak-anak).

IMG_3386.jpeg
Bertemu lagi dengan satu kawan sekelas, tak terduga.

Beberapa hari kemudian waktu lagi makan di warung mie di kampungku, seseorang mencari aku dan memperkenalkan diri. Dia adalah kawan sekelas SD juga yang tinggal dikampung sebelah. Dia tahu aku lagi mencari teman-teman SD dulu dari kawan sekampungku yang menjadi bos dia tempat dia bekerja. Tak ingin kehilangan kesempatan, aku ajak dia berfoto dan bercerita. Sayang, dia harus berangkat kerja segera.

 

IMG_4115

Ada begitu banyak kebetulan dan kejutan yang menyenangkan beberapa hari ini, tanpa direncanakan.

Aku tidak bertemu dengan Wanto – kawan sebangkuku, tapi istri dan anak-anaknya sempat datang ke rumah pada waktu hari Imlek mengabarkan bahwa Wanto sedang bekerja di TI (tambang timah inkonvensional) di kampung yang tidak terlalu jauh dari Lumut, Kampung Tanjung Batu, tidak bisa datang. Aku hanya bisa titip salam untuk dia dan mudah-mudahan bisa bertemu di lain waktu.

Di masa SMP, aku kadang masih ke Pangkal Niur ikut memembantu ayahku menawarkan jahitan baju dan celana. Ayahku punya usaha penjahit pakaian pria pada saat itu. Aku nyambi jadi penjahit di selah waktu sekolah.

Setelah tamat SMA aku meneruskan sekolah di Palembang dan mulai merantau seselesai sekolah. Jalan hidup membawa aku menjadi seorang pekerja tambang dan berkesempatan bekerja dan berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, Laos, Australia, Amerika, dan sekarang di Ghana Afrika.

Seiring waktu terus berjalan, ada keinginan menelusuri akar kita kembali, melihat kembali perjalanan kita lewat ruang dan waktu dan membiarkannya menjadi bagian masa lalu. Ada keinginan untuk lebih banyak bertemu dengan sanak keluarga, teman, kerabat yang berlintasan dengan kita selama kurun waktu perjalanan hidup kita. Tidak untuk menilai atau membandingkan, tapi hanya sekedar melihat kembali agar bisa mensyukuri apa yang telah kita raih, tidak kecewa dengan apa kita tidak raih, dan ikut berbahagia dengan apa yang diraih oleh orang lain.

Kita semua punya perjalanan unik masing-masing yang tidak bisa saling diperbandingkan…

Accra, Ghana (November 2019)

Catatan: Satu tahun kemudian (awal 2016), aku bertemu kembali dengan Gipo di Kampung Lumut, dia mengabarkan bahwa istrinya yang tercinta telah meninggal dunia karena diabetes. Turut berbelasungkawa yang dalam kawan. Semoga almarhumah mendapatkan yang terbaik, dan keluarga tabah.

Kastil Elmina – Saksi Sejarah Kelam Perbudakan

Di sela kerja yang sangat sibuk, ada sedikit kesempatan di akhir minggu bersama istri mengunjungi kota kecil Elmina, di sebelah barat daya kota Accra, Ghana – untuk sekedar berlibur. Perjalanan darat 3.5 jam dari kota Accra.

Screen Shot 2019-09-14 at 7.41.31 pm

Pertama, kami mengunjungi Kastil (istana) Elmina hari ini (14 September 2019).  Kastil ini didirikan oleh Portugis pada tahun 1482 sebagai pos perdagangan pertama didirikan di Teluk Guinea yang kemudian menjadi salah satu persinggahan utama jalur perdagangan perbudakan Atlantik (Atlantic Slave Trading). Belanda merebut kastil ini dari Portugis di tahun 1637. Perdagangan perbudakan terus berlangsung oleh Belanda hingga tahun 1814. Di tahun 1872, kastil di ambil alih oleh Inggris. Gold Coast, yang sekarang menjadi Ghana memperoleh kemerdekaan dari Inggris di tahun 1957. Kastil Elmina ditetapkan sebagai situs sejarah dunia oleh UNESCO. – disadur dari Wikipedia.

Kami berkenalan dengan pemandu kami, Kojo. Dia pasti lahir hari Senin. Kamipun memperkenalkan diri dengan nama lokal kami sesuai dengan hari lahir. Di Ghana, nama orang sering disesuaikan dengan nama hari kelahiran. Saya bisa dipanggil Kwame karena lahir pada hari Sabtu.

IMG_6233
Kwame dan Kojo

Ditemani Kojo, kami mulai berjalan memasuki satu lapangan luas di dalam kastil yang di kelilingi oleh bagunan dua lantai. Lantai bawah adalah tempat dimana para budak pria dan wanita disekap. Budak-budak ini tidak hanya dari Ghana, tetapi dari berbagai tempat di Afrika. Elmina adalah kastil persinggahan menunggu pengapalan ke Amerika yang dilakukan 3 bulan sekali saat kapal pengangkut kembali dari pelayaran. Jadi rata-rata para budak tinggal 3 bulan di kastil ini.

Sedangkan lantai 2  adalah tempat tinggal penguasa kastil yang setingkat gubernur dari bangsa Eropah, pengurus kastil, pedagang budak, misionari (ada tempat ibadah di dalam kastil), dan tentara (kastil ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dijaga oleh tentara),

IMG_6300
Kediaman Penguasa di Lantai 2 dan 3

Kami mengunjungi bangsal perempuan dulu. Ada sekitar 400 perempuan disekap di sini di 3 ruangan kosong yang pengap dengan lantai batu yang dingin. Ada perasaan keheningan yang aneh saat menelusuri ruangan kosong pengap ini, bahkan sebelum mendengar cerita dari Kojo.

Cerita Kojo mulai mengalir. Ruangan terbesar yang kami masuki memuat 150 orang yang sudah pasti harus tidur berdempetan di lantai. Tidak ada jamban, mereka harus menggunakan wadah kaleng untuk buang air di ruangan itu juga.

 

IMG_6239
Lorong masuk ruang sekap perempuan

 

Dia juga menunjukkan tempat tangga naik ke lantai 2, dimana para perempuan yang dipilih harus merayap naik dari lorong sempit dan memanjat tangga sempit (mungkin untuk alasan keamanan) sampai kediaman diatas untuk memuaskan nafsu para penguasa dan diturunkan lagi setelah selesai. Kojo menggunakan kata ‘rape’, diperkosa.

Juga mengenai bagaimana budak perempuan ini dihukum di lapangan terbuka dengan diikatkan dengan besi pemberat ditengah lapangan harus berjemur matahari dan kehujanan tanpa makan.

IMG_6232
Salah satu ruang sekap perempuan dengan lantai batu tanpa alas apapun

Ada satu ruang sekap yang dijadikan tempat ‘retret’ bagi pengunjung yang ingin merasakan derita leluhur mereka pada masa itu, dimana mereka menghabiskan satu malam tidur dalam ruang sekap ini dalam kondisi yang mirip pada masa perbudakan. Mereka memakai sarung dari karung (tepung?) dan rantai besi yang mengikat tangan dan kaki mereka.

Saya tanya kenapa ada seperti karangan bunga. Kojo menjelaskan, itu adalah karangan bunga yang ditaruh oleh pengunjung untuk memberi penghormatan pada leluhur mereka.

IMG_0137
Ruang sekap perempuan – ruang retret bagi mereka yang ingin mengenang derita leluhur mereka

Pada waktu pengapalan tiba, mereka digiring menuju lorong kecil yang pengap menuju kapal yang akan membawa mereka sebagai barang dagangan ke negara tujuan, yang sebagian besar dari mereka tidak pernah pulang kembali ke tanah kelahiran mereka sampai akhir hayat mereka.

IMG_6243

Ada satu ruangan kecil sebelum mereka harus berjalan menuju ke kapal. Ada banyak karangan bunga yang diletakkan di sini, yang dilakukan oleh para keturunan mereka yang datang kembali dari jauh seperti Amerika, untuk mengenang derita leluhur mereka ratusan tahun silam. Sebagian mereka melakukan ritual kecil bahkan menurut keyakinan lokal mereka sebelum agama misionaris mereka kenal.

IMG_0144

Ini pintu sempit terakhir sebelum mereka masuk ke kapal. Mereka namakan ini “Never Return Gate”, gerbang tak-akan-pernah kembali…

 

IMG_0146 (1)
Gerbang Tak-akan-pernah Kembali (Never Return Gate)

 

Banyak lagi kisah pilu yang kami dengar, tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan perlakuan tak berprikemanusiaan lainnya.

Sementara, di lantai 2, kehidupan mewah para penguasa. Ruangan besar, pemandangan ke laut dengan hembusan udara sejuk semilir.

Mengunjungi musium seperti ini bukanlah ‘liburan’ seperti yang dibayangkan dan bukanlah pengalaman yang nyaman. Nanum, ada dorongan untuk melihat langsung saksi sejarah bagaimana di satu masa dalam perjalanan manusia, ada sekelompok manusia memperlakukan kelompok manusia yang lain dengan sedemikian tidak beradabnya.  Dan sedihnya, sejarah terus berulang hingga kini, dan kita tidak pernah belajar.

Saya tanyakan kepada Kojo bagaimana perasaan dia. Dia cenderung mengganggap semuanya sudah berlalu. Bagi saya, dengan derita yang leluhur mereka alami, mereka sangat berbesar hati menerima semua ini. Saya juga menambahkan bahwa hikmah dari semua ini adalah sekarang orang Afrika sudah menyebar keseluruh dunia. Tapi saya tidak yakin kalau ini sepadan dengan derita yang mereka alami.

Namun saya dapat merasakan ada sikap skeptis saat dia menghubungkan misi misonaris pada masa perbudakan dengan derita yang mereka alami akibat perbudakan.

Dilantai 2, satu ayat tentang indahnya kediaman surgawi terpajang diatas pintu ruang ibadah. Ato Ashun, penulis buku Elmina, Kastil dan Perdagangan Perbudakan menulis dalam bukunya (hal. 56): “Ironisnya, tepat dibawah ruang ibadah adalah ruang sekap budak perempuan”.

Saya yang tidak punya hubungan emosi dengan mereka hanya bisa membayangkan kulit luar dari penderitaan mereka. Sulit dibayangkan derita dan ketidak-berdayaan yang mereka alami pada saat itu.

Batin manusia punya kemampuan untuk bertransformasi dan merasionalkan derita dan melepas (letting go) pada saat menghadapi derita yang dalam, baik lewat pembenaran religius maupun pencerahan batin. Mereka biasanya menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa itu, penderitaan itu akan menjadi tak terperi…

IMG_9641

Saya melihat masyarakat Ghana sangat religius, sekitar 70% kristen dan 30% muslim, tempat ibadah dimana-mana, sangat banyak para pengkotbah populer. Saya dibagikan buku kegiatan ibadah mereka oleh teman kantor. Namun saya juga dengan mudah menemukan beberapa teman Afrika yang ‘free thinker’.

Kebebasan beragama dijamin dengan baik. Salah satu teman kantor orang Afrika malah penganut Nichiren Shoshu yang katanya Buddhisme Jepang. Saya pernah berkunjung ke tempat ibadahnya. Saya cukup heran karena pengikutnya cukup banyak dan sudah berdiri 40 tahun yang lalu. Pendetanya dari Jepang. Baru-baru ini teman saya tadi memberitahu sekarang ada pendetanya yang dari Indonesia ditugaskan di Ghana ini.

Saat berjalam keluar gerbang, ada satu plakat di dinding berisi doa dan renungan:

Terpatri dalam ingatan selamanya

akan nestapa leluhur kami

semoga mereka yang meninggal, beristirahat dalam damai

semoga mereka yang kembali, menemukan akar mereka

semoga manusia tidak pernah lagi melakukan ketidak-adilan yang sedemikian terhadap kemanusiaan

kami, adalah janji yang akan tetap hidup untuk memperjuangkan ini

Elmina Castle, Ghana

IMG_6261

 

 

IMG_6249
menatap ‘never return gate – gerbang tak-pernah kembali’

 

IMG_6241
Ruang sekap lelaki

 

IMG_6245

 

IMG_6262
Dinding ruang kumuh dengan banyak kelelawar diatasnya

 

 

IMG_0183
Kastil Elmina di waktu senja