Mind – Insubstantial and Omnipresent

Entah mengapa, saya menyukai babaran pendek ini, tetapi saya tidak tahu mengapa. Terdengar sangat mendalam. Mungkin hanya sekedar kata-kata filosofis yang enak didengar, atau mungkin berkeselarasan dengan sesuatu yang lebih dalam samar-samar terasa oleh saya. Sesuatu untuk saya renungkan…

Kutipan dibawah ini adalah dari Dilgo Khyentse Rinpoche (1910 – 28 September 1991) – seorang master Buddhisme Tibet, seorang cendekiawan, penyair, guru, dan diyakini sebagai salah satu guru yang telah tercerahkan. Beliau mengajar banyak guru terkemuka, termasuk Dalai Lama ke-14.

Segala yang kita persepsikan, semua fenomena di keseluruhan samsara dan nirvana, muncul semata-mata sebagai permainan dari kreativitas alami pikiran. ‘Kejernihan’ pikiran – penampakan fenomena yang jelas dari persepsi kita – adalah pancaran dari sifat hampa dari pikiran. Kehampaan adalah hakekat dari kejernihan, dan kejernihan adalah perwujudan dari kehampaan. Mereka tak terpisahkan.”

Pikiran, seperti pantulan bulan di permukaan danau yang tenang, tampak cemerlang, tetapi anda tidak dapat menggenggamnya. Ia hadir dengan jelas, namun pada saat yang sama sepenuhnya tak-berwujud. Dalam kesejatiannya, yang merupakan kesatuan tak terpisahkan dari kehampaan dan kejernihan, tidak ada yang dapat mengaburkannya dan ia tidak dapat merintangi apa pun, tidak seperti objek fisik, seperti batu, yang memiliki keberadaan fisik yang menempati ruang dan memisah dari objek lain. Pada intinya, pikiran tak-berwujud dan ada dimana-mana.”

Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche – The Hundred Verses of Advice – Collected Works Vol II halaman 459, Shambhala

— 0 —

For some reason, I like this short teaching, but I do not know why. It sounds so profound. Perhaps it is simply philosophical words that are pleasant to hear, or maybe it resonates with something more profound that I faintly feel within myself. It’s something for me to contemplate…

The quote below is from Dilgo Khyentse Rinpoche (1910 – 28 September 1991), a master of Tibetan Buddhism, scholar, poet, and teacher who is believed to be one of the enlightened masters. He taught many prominent teachers, including the 14th Dalai Lama.

“Everything we perceive, all phenomena throughout samsara and nirvana, arises simply as the play of the mind’s natural creativity. This ‘clarity’ of the mind – the distinct appearance of phenomena to our perception – is the radiance of the mind’s empty nature. Emptiness is the very essence of clarity, and clarity is the expression of emptiness. They are indivisible.”

“The mind, like a reflection of the moon in the still surface of a lake, is brilliantly apparent, but you cannot take hold of it. It is vividly present and at the same time utterly intangible. By its very nature, which is the indivisible union of emptiness and clarity, nothing can obscure it and it can obstruct nothing, unlike a solid object, such as a rock, with a physical presence occupying space and excluding other objects. In essence, the mind is insubstantial and omnipresent.”

Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche – The Hundred Verses of Advice – Collected Works Vol II p 459, Shambhala

Penyadaran pada Obyek

Saat berlatih meditasi, kita mengambil obyek, seperti pernapasan masuk dan keluar, sebagai landasan kita. Ini menjadi fokus perhatian dan perenungan kita.

Kita memperhatikan pernapasan. Memperhatikan pernapasan berarti mengikuti pernapasan dengan kesadaran, mencatat alunannya, masuk dan keluarnya. Kita meletakkan kesadaran pada pernapasan, mengikuti napas masuk dan keluar secara alami dan melepaskan semua yang lainnya.

Sebagai hasil dari menetap pada satu objek kesadaran, pikiran kita menjadi jernih. Jika kita membiarkan pikiran memikirkan ini, itu dan lainnya, ada banyak obyek kesadaran; pikiran tidak bersatu, tidak beristirahat.

Kumpulan Ajaran Ajahn Chah, 
Aruna Publications, 2011.

Letting Go 101

Tulisan ini disari dari obrolan di WA Group. Sebenarnya tulisan ini harusnya sudah rampung lebih awal. Kejadiannya sendiri sekitar bulan October tahun 2020, tapi tertunda karena kesibukan kerja, juga karena banyaknya bahan, dan mendalamnya bahasan. Istilah 101 seharusnya hanyalah ‘pengantar’ dari ‘letting go‘ atau ‘melepas’, namun tak terhindari menjadi topik yang ‘serius’. Letting Go menjadi ‘mantra’ yang mengandung makna dalam. Upaya ‘melepas‘ adalah suatu perjalanan batin – sesuatu yang mengalir. Dengan demikian pengertian ‘melepas‘ pun mungkin tergantung pada keberadaan seseorang di ruas perjalanan tersebut. Letting Go pula lah yang dipilih sebagai nama domain blog pribadi ini saat dimulai di pertengahan tahun 2018.

Ide membuat WA Group ini bergulir sejak kunjungan teman-teman Indonesia ke acara Kathina. Kathina adalah perayaan berakhirnya masa retret 3 bulanan (vassa) para bhikkhu sejak jaman Sang Buddha. Masa ini bertepatan pada musim hujan (di India) dimana banyak binatang kecil berkeliaran di hutan. Untuk menghindari terinjak-injaknya binatang ini, para bhikkhu mengurangi kegiatan keluar dan menggunakan kesempatan secara khusus melatih diri. Kami berkesempatan mengunjungi kuti bhikkhu Ananda (kuti adalah sebutan untuk pondok para bhikku) di Bodhinyana Monastery, dan diskusi/konsultasi kecil tentang meditasi dengan bhikkhu Ananda. https://letting-go.blog/2021/01/02/hut-warming-di-biara-hutan-bodhinyana/

Yang ikut dalam group WA ini pun terdiri dari berbagai latar Belakang, termasuk lintas agama, dan kita sebagian besar tidak saling kenal. Setelah beberapa waktu, group WA ini dinonaktifkan setelah diyakini materi yang diberikan untuk dasar-dasar meditasi dirasa cukup. Sebagian materi cukup sederhana sebagiannya lagi sangat dalam yang akan membantu pemahaman tentang meditasi dan menginspirasi seseorang terus berlatih.

Beberapa hari terakhir ini, bhante Ananda mengindikasikan akan mengaktifkannya kembali.

Tidak semua bahan bisa saya rangkum karena cukup banyak, dan terakhir data di Whatsapp Group terhapus saat mengganti gadget. Saya memutuskan untuk menayangkannya apa yang sudah terangkum aja.

— 0 —

“Intinya if there is joy then meditation happens by itself” —– intinya jika ada kegembiraan hati maka meditasi akan terjadi dengan sendirinya.

“The joy is what allow the mind to the truth it has been avoiding for aeons. kalau rumit, just put it aside! Hihi” —– kegembiraan hati adalah apa yang membuat pikiran (melihat) kebenaran yang selalu dihindari selama ini. Kalau ini rumit jangan dihiraukan! Haha…

Demikian beberapa potong obrolan berbahasa campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Whatapps group. Kami beruntung Bhikkhu Ananda bersedia meluangkan waktu memberi pengarahan untuk latihan meditasi lewat chatting di WA group, yang dia namakan ‘Letting Go 101’, semacam dasar-dasar latihan melepas (letting go). Pelepasan ini diyakini kunci utama meditasi.

Bhikkhu Ananda adalah seorang biarawan buddhis muda berusia sekitar 37 tahun yang melatih diri di Bodhinyana Monastery, Serpentine. Meski cukup lancar berbahasa Indonesia, bhante Ananda lebih nyaman menyampaikan obrolan dalam bahasa Inggris karena memang sudah tinggal di California, Amerika Serikat sejak usia awal remaja. Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan) di bulan April 2018 dan kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu oleh Ajahn Brahm di bulan Juni 2019. Saya berkesempatan menghadiri kedua penahbisan tersebut.

“Oh no there are 44 people now in the group! Well i better stop being males now😝 Its awfully nice being at bodhinyana monastery, mirip alam dewa de…” —– Wah sudah 44 orang yang bergabung di group! Sebaiknya saya tidak bermalas-malas sekarang. Terlalu menyenangkan tinggal di biara Bodhinyana sih, mirip alam dewa..”, candanya (untuk yang terakhir… boleh jadi bukan candaan)

Okay welcome to letting go 101 semuanya. I know most of you guys are very busy so will keep my sharings very short with plenty of bad jokes and videos of ajahn brahm’s ceramah in between. So just chillax and let me do the work of brainwashing okay?“—– Baiklah selamat datang semua di Letting Go 101. Saya tahu kalian semua sangat sibuk, jadi (saya) akan membagikan banyak lelucon konyol dan video ceramah dari Ajahn Brahm. Jadi santai saja dan biarkan saya mencuci otak kalian ya?”

“I will cover three themes in a month so about one lesson per week so plenty of time for questions and answers. By the end hopefully each one of you will know how to let go, what to let go of and most importantly, the answer to WHY you should let go”. —– Saya akan memaparkan tiga tema dalam satu bulan, jadi sekitar satu bahasan per minggu. Jadi banyak waktu untuk tanya jawab. Saya berharap setiap dari kalian akan tahu bagaimana melepas, apa yang dilepas dan yang paling utama MENGAPA harus melepas.

Okay let’s start a bad joke by my teacher ajahn brahm. Ready folks? I am!! —– Baiklah mari kita mulai dengan lelucon konyol dari guru saya Ajahn Brahm.

— 0 —

A Buddhist phones the monastery and asks the monk, “Can you come to do a blessing for my new house?” —– seorang Buddhis menelpon biara dan tertanya kepada biarawan, “Bisakah anda datang untuk memberkati rumah baru saya?”

The monk replies “Sorry, I’m busy.” —– biarawan itu menjawab “Maaf, saya sibuk”

“What are you doing? Can I help?”—– “Apa yang anda kerjakan? Bisa saya bantu?”

“I’m doing nothing.” replied the monk. “Doing nothing is a monk’s core business and you can’t help me with that.” —– “Saya mengerjakan tak satu apapun, jawab biarawan itu. “Mengerjakan tak satu apapun adalah kerjaan utama seorang biarawan dan anda tidak bisa membantu saya untuk itu.”

So the next day the Buddhist phones again, “Can you please come to my house for a blessing?” —– Keesokan harinya umat Buddha tersebut menelpon lagi, “Bisakah anda datang ke rumah saya untuk pemberkatan?”

“Sorry,” said the monk, “I’m busy.” —– “Maaf,” kata biarawan tersebut. “Saya sibuk”

“What are you doing?” —– “Apa yang anda kerjakan?”

“I’m doing nothing,” replied the monk. —– “Saya mengerjakan tak satu apapun'”, jawab bhikku itu.

“But that was what you were doing yesterday!” said the Buddhist. –—- Tapi bukankan kemarin anda juga mengerjakan itu!”

“Correct”, replied the monk, “I’m not finished yet!” – “Benar”, jawab biarawan itu, “Saya belum selesai mengerjakannya!”

Catatan: “doing nothing” secara harfiah berarti tidak mengerjakan apa-apa, namun diterjemahkan sebagai ‘mengerjakan tak satu apapun’ dalam cerita di atas karena lebih cocok untuk konteks cerita.

— 0 —

Saya berkesempatan ngobrol khusus dengan bhante Ananda suatu hari di Bodhinyana Monastery di Serpentine. Bhante Ananda menyampaikan bahwa kunci dari kedalaman meditasi adalah joy (kegembiraan), contentment (rasa kecukupan) dan letting go / renounce (pelepasan). Kegembiraan bisa dari perbuatan sederhana yang kita lakukan hari itu yang kita yakini baik, misalnya berdana/memberi kepada sesama atau orang-orang yang kita hormati atas dasar kewelas-asihan. Suasana ‘gembira’ saat telah melakukan perbuatan baik dapat membantu meditasi yang lebih dalam.

Juga, kegembiraan pada saat kita merasa bahagia telah berprilaku baik atau berbudi (melaksanakan Sila). Bagi yang belum tahu, dalam tradisi Buddhis ada 5 (Panca Sila) prilaku berbudi paling dasar yang umum diikrarkan seseorang, yaitu melatih diri untuk tidak melakukan pembunuhan mahluk hidup, tidak mengambil barang yang tidak diberikan (tidak mencuri), tidak berkata dusta atau menghasut, tidak melakukan perbuatan asusila (sexual misconduct), tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang memabukkan (mengurangi kesadaran). Sebagian ada yang mengambil sila tambahan (8 sila atau 10 sila) pada hari-hari tertentu.

Ajahn Brahm sering sekali menekankan bahwa prilaku berbudi ini menjadi salah satu landasan utama bagi kedalaman meditasi. Bahkan kalau saya pahami dengan benar, tidak ada kemajuan yang berarti dalam meditasi tanpa didasari oleh prilaku berbudi ini. Meditasi adalah melihat ke dalam. Kita tidak akan bisa membohongi diri sendiri

Bagi saya sendiri, mendengar dhamma talk dari Ajahn Brahm dan dari guru-guru lain sangat membantu menumbuhkan rasa gembira yang menginspirasi dan biasanya memudahkan pengheningan batin.

Inipun sudah cukup baiklah, saya ingin berada disini saat ini, sekarang juga.

It’s good enough, I want to be here in this moment, right now.

Ajahn Brahm

Tentu saja, masih banyak sekali paparan yang belum saya pahami, apalagi diselami atau dijalani. Meski banyak paparan tampak begitu sederhana, tapi semua itu sungguh tidak mudah dijalani. Semua pemahaman selalu bermuara ataupun menuju ke dalam diri sendiri. Untuk itu, saya ingin merangkum materi dari ‘Letting Go 101’ ini untuk bahan referensi yang bisa saya aksess sewaktu-waktu, dan mudah-mudahan juga berguna bagi orang lain yang berminat.

— 0 —

Isi dari forum diskusi sebagian berisi arahan bhikkhu Ananda, juga tautan-tautan bacaan, audio, dan video dengan topik yang relevan tengan meditasi, termasuk kartun-kartun “Happy Everyday” kumpulan wejangan Ajahn Brahm, terbitan Ehipassiko. Saya sudah mendapat izin dari sahabat saya Handaka Vijjananda, pendiri Ehipassiko Foundation untuk membagikannya secara cuma-cuma di sini.

Kekhawatiran akan masa depan. https://letting-go.blog/2018/10/08/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-5/

Panorama Sekitar Jhana Grove. https://letting-go.blog/2019/12/11/pernik-pernik-pelatihan-meditasi-9-hari-oleh-ajahn-brahm-juli-2018-9/

Buddhist Society of Western Australia – Bahasa Indonesia

Dhamma Talks (Bahasa Indonesian Subtitles) Ajahn Brahm (1 – 10 videos)

Podcasts

https://deeperdhamma.podbean.com/e/2019-october-9-day-retreat-for-bodhinyana-singapore-group-0122-ajahn-brahmavamso/

https://suttacentral.net/an10.2/id/anggara

Youtube:

Serial Kartun “Happy Everyday” Terbitan Ehipassiko. Bisa diklik untuk diperbesar. Selamat menikmati.

Perth, Australia Barat – May 2021

Mengapa Mereka Memilih Menapaki Jalan Hening Ini

Why They Choose to Walk This Silent Path – English version is at the very bottom section.

Sebagian kita berpikir bahwa mereka yang memilih jalan hening dalam kehidupan monastik atau membiara adalah orang-orang yang putus asa, patah hati, atau bahkan melarikan diri dari kenyataan.

Setahun yang lalu saya pernah ditanyai oleh kerabat dari salah satu bhikhuni (biarawati buddhis) muda orang Indonesia yang melatih diri di Dhamasara Nun Monastery (yang diasuh oleh Ajahn Brahm) di Perth, Western Australia. Kerabat ini tinggal di Perth dan masih mempunyai hubungan keluarga dengan orang tua biarawati tersebut. Saya rasanya tahu dengan bhikhuni muda yang mereka maksudkan, karena saya pernah satu kali mengunjungi biara tersebut yang memang terletak jauh diluar kota dan dikelilingi hutan.

Kerabat dari bhikhuni ini mengutarakan keprihatinan mereka akan keputusan wanita muda itu untuk menjadi bhikhuni, meninggalkan kehidupan yang begitu nyaman, profesi dokter (kalau tidak salah), dan dari keluarga yang tergolong berada di Jakarta. Apalah yang kurang dari kehidupan yang berkecukupan yang dia jalani sebelumnya, katanya. Juga tentang keprihatinan bahwa biarawati ini terisolasi tinggal di biara yang jauh dan tidak bebas bisa dikunjungi sewaktu-waktu. Ada kesan bahwa biarawati tersebut sedang mengalami kehidupan yang penuh penderitaan.

Saya hanya bilang bahwa sangat mungkin bhikhuni tersebut tengah memulai kehidupan yang penuh kedamaian sesuai apa yang dia inginkan.

Mereka juga menyampaikan bahwa orang tua mereka, yang kebetulan mengelola satu vihara di Jakarta, akan ngelangsa karena ‘kehilangan’ anak gadis mereka. Saya hanya bilang, kalau orang tua mereka adalah orang yang juga dekat dengan ajaran yang sama, kemungkinan sekali mereka bisa mengerti dan melepas, dan tidak menderita seperti apa yang dibayangkan.

Terakhir saya dengar bahwa bhikhuni tersebut sudah kembali ke Indonesia.

Kenapa harus menempuh kehidupan membiara? Menurut saya itu adalah satu pilihan pribadi, tentu dengan semua konsekwensinya; sama halnya saat kita memilih kehidupan ‘normal’ yang kita jalani sekarang. Terus apa peran mereka untuk masyarakat dengan jalan hidup seperti itu? Pendapat saya, setiap orang bertanggung-jawab pada kebahagian masing-masing, dan mereka mencari dan menjalaninya tanpa mengganggu atau merugikan orang lain. Lebih dari itu, mereka menyediakan diri untuk berbagi kebahagian yang mereka rasakan dan menuntun dan menginspirasi orang-orang agar mendapatkan kebahagiaan untuk mereka masing-masing. Tidak sedikit yang mengabdikan diri pada kemanusiaan dan berbagi kasih yang tak berbatas.

menapaki sang Jalan – walking on the Path

— 0 —

Tidaklah aneh pendapat sebagian orang awam terhadap pilihan menjalani kehidupan membiara ini, khususnya dari kalangan yang berbeda keyakinan. Apalagi itu dilakukan oleh seseorang yang relatif muda adalah sesuatu yang lebih tidak lazim lagi. Dulu sekali, saat pertama kali melihat seorang biarawan buddhis, saya juga bertanya dalam diri, mengapa mereka mengambil jalan sunyi seperti ini, apa yang mereka cari.

Sebagian kita mungkin menganggap mereka melarikan diri dari ‘kenyataan’ hidup. ‘Kenyataan’ hidup bagi umumnya kita adalah dari kecil bersekolah, terus mencari nafkah, berjuang dalam kehidupan, hidup sukses, berkeluarga, beranak-pinak, menjadi tua, dan mati, dan tentu dengan harapan masuk dalam kehidupan surga abadi setelah kematian (sesuai dengan keyakinan masing-masing). Pilihan menapaki kehidupan sunyi lewat jalan spiritual bukanlah kehidupan lumrah.

Benarkah mereka itu melarikan diri dari kenyataan? Kenyataan yang mana? Atau bukan justru kita yang melarikan diri dari kenyataan? Saat kita bosan, kita mencari kesibukan untuk menghilangkan kebosanan kita; saat sedih kita melarikan diri dengan mengalihkan perhatian dari kesedihan itu lewat hiburan, makanan, bahkan tidak jarang lewat minuman keras atau obat-obatan. Saat berhadapan dengan penderitaan yang dalam, kita bingung dan ngelangsa. Kita tidak suka dan marah dengan situasi ketidaknyamanan – yang sebenarnya adalah bagian kenyataan dari kehidupan ini. Saat menyenangi sesuatu, kita ingin terus memiliki kesenangan tersebut, dan mengejar kesenangan yang lebih tinggi – dari kesenangan indriawi dasar hingga kebahagiaan yang lebih tinggi. Tidak banyak kesempatan bagi kita untuk benar-benar memahami rasa bosan kita, rasa sakit kita, penderitaan kita, bahkan rasa bahagia kita. Kita terus menghindar dari ketidaknyamanan dan melekat pada kenyamanan.

seorang bhikkhu tradisi hutan di zaman moderen, dengan bawaan semua yang dia ‘miliki’

Sementara, mereka berhenti, melihat ke dalam diri mereka di keheningan, berhadapan langsung dengan semua perasaan mereka, rasa bahagia mereka, penderitaan mereka termasuk rasa takut mereka. Pada tingkat awal, mereka melatih diri untuk menyadari sensasi tubuh dan gerak pikiran, belajar melihat bagaimana saat berbagai fenomena indria bersentuhan dengan pikiran yang kemudian menimbulkan berbagai perasaaan tergantung pengkondisian batin mereka. Mereka mengamatinya, berusaha tidak terikat, dan membiarkannya berlalu. Suara dari luar misalnya, itu hanyalah suara, bukanlah masalah. Saat bersentuhan dengan pikiran, mereka melihat perpaduan obyek dan pikiran menimbulkan rasa menyenangkan, netral, atau tidak menyenangkan. Mereka mengamati perasaan ini timbul dan tenggelam, berusaha untuk tidak melekat atau menggenggamnya, dan membiarkannya berlalu. Begitu juga dengan fenomena indera lainnya dari pengelihatan, sentuhan, pengecapan, penciuman dan ingatan dari pikiran itu sendiri.

Mereka menyelami duka sebagai duka, netral sebagai netral, bahagia sebagai bahagia; tidak lebih dan tidak kurang; dan semua itu datang dan pergi, timbul dan tenggelam; sebagai suatu rangkaian kenyataan hidup yang hakiki. Tidak ada duka yang tak berujung, pun tidak ada kebahagiaan yang terus menerus. Penderitaan timbul saat kita mulai menginginkan lebih dari itu. Kita ingin hal yang menyenangkan terus bertahan atau menginginkan hal yang tidak menyenangkan terus terhindar dari kita. Pengingkaran akan hal yang tidak menyenangkan dan keterikatan pada hal yang menyenangkan diyakini sebagai penyebab bagi kerumitan kehidupan manusia.

Dengan latihan dan kemudian pengetahuan dari melihat/mengalami langsung, maka timbul pemahaman dan kebijaksaan. Pemahaman dari pengalaman ini memberi peluang untuk bebas dari budak gejolak perasaan, melihat kenyataan apa adanya dari ilusi pikiran dan perasaan, membiarkan semua berlalu, dan mengalami kedamaian, ketenangan dan sukacita yang lebih dalam dan halus melalui pelepasan. Tentu saja, ini hanya awal dari jalan hening yang mereka tapaki.

Penderitaan yang dialami seseorang bisa memberi peluang untuk lebih bisa memandang hidup ini lebih dekat dengan kenyataan yang sebenarnya, dan kadang dapat mentransformasi batin seseorang ‘tercerahkan’. Eckhart Tolle seorang spiritualis asal Jerman, yang terkenal dengan “The Power of Now” mengalami ‘pencerahan batin’ setelah mengalami penderitaan dan pergolakan batin hebat di masa mudanya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Eckhart_Tolle)

— 0 —

Di Boddhinyana Monastery di Serpentine, Perth, banyak biarawan muda. Salah satunya adalah orang Indonesia, Bhikkhu Ananda yang saya kenal baik. Beliau dari Jakarta dan lama menetap di California, Amerika Serikat sebelum datang ke Australia untuk mendalami kehidupan spiritual dan terakhir mengambil keputusan untuk menjadi seorang biarawan.

Sekilas yang saya tahu, Bhikkhu Ananda sudah tertarik dengan meditasi sejak dini, mengikuti berulang kali pelatihan meditasi yang diajarkan oleh G.N. Goenka (https://en.wikipedia.org/wiki/S._N._Goenka) di California. Terakhir merasa lebih berkembang dengan pola meditasi yang diajarkan oleh Ajahn Brahm lewat pola yang lebih melepas dan santai.

Datang ke Bodhinyana di tahun 2017 untuk mengikuti pelatihan meditasi dan meneruskan menjadi anagarika (pelayan bhikkhu) selama 1 tahun sebelum ditahbiskan sebagai samanera (bhikkhu dalam masa latihan). Saya menghadiri penahbisannya untuk menjalani kehidupan awal kebiarawan (samanera) di April 2018, dan penahbisan sebagai bhikkhu di Juni 2019.

Saya ingin punya kesempatan mengenal dan belajar lebih banyak dari beliau, dan berkesempatan untuk menceritakannya kembali dalam tulisan suatu saat.

Permohonan penahbisan menjadi samanera (biarawan pemula) seorang Handri menjadi Samanera Ananda, 26 April 2018.
Upacara penahbisan bhikku Ananda di Bodhinyana 12 Juni 2019

— 0 —

Bhikkhu Sumangalo, seorang bhikkhu muda yang lain dari Bodhinyana, menceritakan latar belakang mengapa dia memilih kehidupan sebagai seorang biarawan buddhis dalam satu sesi dhamma talk dalam program rutin Buddhist Society Western Australia (BSWA) yang disiarkan langsung lewat Youtube, pada tanggal 7 Juni 2020. Sebelum menjadi bhikkhu, beliau adalah anagarika (orang yang mendedikasikan diri melayani bhikkhu) di biara Bodhinyana di Serpentine, Western Australia. Saya sering melihat dia di dapur umum biara dan bersih-bersih, saat saya berkunjung ke sana. (https://youtu.be/pw2N0_p5jBk)

Kehidupan awam Bhikku Sumangalo, berimigrasi mengikuti orang tuanya dari Vietnam Selatan di tahun 1987, melewati masa kecil dan remaja juga di California, di kawasan teknologi Silicon Valley yang terkenal itu. Lulus dari perguruan tinggi jurusan teknologi informasi dan keuangan, dia menjalani kehidupan layaknya semua pemuda di usia dan masanya.

Sejak awal dia sudah ada banyak pertanyaan dibenaknya bahwa kehidupan ini lebih dari sekedar apa yang tampak dan dijalani oleh hampir semua orang, tamat sekolah, mencari pekerjaan, meniti karir, hidup berkeluarga, sukses. Dia juga menjalani kesenangan-kesenangan layaknya kehidupan pemuda di kota yang menyediakan banyak hiburan. Dia mulai melihat semua itu adalah kesenangan materialistis yang tidak langgeng.

Hati kecilnya menyatakan hidup lebih dari itu. Dia mulai mencari dan mendengarkan kata hatinya yang lebih dalam. Dalam pencariannya, dia menyukai meditasi karena memberi peluang untuk benar-benar melihat ke dalam batinnya. Dia melihat lebih jelas dalam keheningan batinnya akan arti kehidupan ini, bukan sesuatu yang didapatkan dari membaca buku, proses kepintaran berpikir, kata orang pintar atau orang bijak. Jawabannya selalu ada didalam keheningan batin.

Perjalananan membawa banyak kedamaian dan sukacita yang membuat dia memutuskan untuk terus menapaki pencarian ini. Dia mengunjungi biara hutan Bodhinyana di Australia Barat beberapa kali untuk berlatih. Akhirnya, dia memilih untuk mencoba kehidupan monastik agar lebih fokus. Dia ditahbiskan menjadi samanera di tahun 2017 dan menjadi bhikkhu di tahun 2018. Kalau tidak salah saya hadir diupacara penahbisan tanggal 12 April 2018 malam hari di Bodhinyana Monastery atas undangan teman Indonesia, Handri, yang kemudian menjadi Bhikkhu Ananda yang saya ceritakan diatas.

— 0 —

Bhikkuni Canda, seorang biarawati buddhis yang sekarang tinggal di Inggris, juga berbagi perjalanannya dalam “My Life As A Buddhist Nun”.(https://www.facebook.com/100026024162850/videos/553422712201863/)

Semua dimulai dari pencarian spiritual di usia muda. Bhikkuni Canda, lahir di Chesterfield, di utara London, Inggris. Lahir dari keluarga yang mapan dan bahagia. Meskipun lahir dan tinggal di negara dengan jaminan sosial yang baik, tetapi masih menyimpan banyak pertanyaan sejak masa kecilnya. Ketika menyelesaikan sekolah menengah sebelum membuat keputusan untuk pergi ke perguruan tinggi, dia telah memikirkan banyak pertanyaan, apakah ini jalan terbaik untuk hidupnya. Sementara dia melihat orang-orang yang melanjutkan pendidikan dan kemudian mengejar karir, hidup dengan cukup bahagia. Namun, ketika dia mendengar berita sehari-hari tentang perang, kekuasaan, dan keserakahan yang tampak tidak pernah berakhir. Dia tidak bisa mengerti mengapa manusia bisa saling menyakiti dan memciptakan begitu banyak penderitaan bagi sesama. Apa sebenarnya tujuan hidup, dan bagaimana dia harus bereaksi dengan belas kasih terhadap penderitaan ini, dan pencarian untuk mengakhiri penderitaan ini? Pikiran seperti ini muncul didalam dirinya pada usianya sekitar 15 tahun.

Untungnya dia punya satu teman sangat dekat, yang bersama merencanakan perjalanan ke India. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia harus pergi ke India. Ketika mereka sampai di sana, dia langsung merasa bahwa ada keterkaitan batin yang mendalam di sana. Memang benar bahwa di India dia melihat lebih banyak penderitaan, tetapi nuansa sekeliling untuk menerima semuanya sebagaimana adanya lebih nyata, ketidakpastian dan ketidakkekalan kehidupan tampak lebih nyata. Penderitaan dan kematian tampak jelas di keseharian dan di jalan-jalan – sesuatu yang kamu tidak pernah lihat dan tabu untuk dibicarakan di Inggris. Harapan untuk memahami semua ini akan lebih besar . Tidak lama kemudian, mereka mendengar tentang meditasi. Dia merasa, ini adalah kesempatan baginya untuk mencari ke dalam. Dia merasa dia harus duduk dengan pikirannya sendiri dan menyaksikan apa yang terjadi di sana ketika dia sendirian dan belajar tentang dirinya sendiri.

Sejak sangat awal, Canda muda menyadari bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada kondisi di luar semata. Meskipun kondisi di luar menyenangkan, keluarga yang baik, berhasil di sekolah, dan memiliki teman baik, masih akan ada penderitaan. Canda Muda heran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam pikirannya. Perasaannya sangat tertekan di waktu remajanya, sebagian karena kekalutan karena tidak tahu mengapa dia ada di dunia ini.

Bhikhuni Canda bersama Ajahn Brahm di tahun 2014 di Jhana Grove (dimuat atas izin Bhikkhuni Canda)

Latihan meditasi pertama yang ia ikuti pada usia 20 tahun adalah meditasi vipassana. Fokusnya pada menyadaran sensasi tubuh dan mengamati bagaimana pikiran merupakan pemahaman mendalam (insight) dia yang pertama. Dia semula berpikir dia bereaksi terhadap hal-hal di luarnya, akhirnya dia menyadari bahwa bereaksi terhadap sensasi di dalam dirinya sendiri. Sensasi luar bersentuhan dengan indranya, suatu sensasi bersamaan dengan kesadaran akan sensasi tersebut akan timbul, di dalam tubuh dan pikirannya, dan itu menciptakan sensasi di dalam. Dia menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar bereaksi dengan obyek di luar sama sekali, tetapi terhadap sensasi di dalam.

Dan dia menyadari bahwa ini adalah kunci bagi kita untuk melembutkan keinginan berlebihan atau reaktivitas. Kita mendapatkan sensasi yang menyenangkan ketika kita bertemu seseorang yang kita sukai, kita menginginkan lebih banyak karena itu membuat kita merasa senang. Kita menginginkan sensasi itu lagi dan lagi. Hal yang sama ketika kita berhubungan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan. Kita mendapat perasaan tidak menyenangkan, reaksi emosional atau mental yang tidak menyenangkan. Reaksinya kita adalah menyingkirkannya. Kita ingin membuangnya. Ini juga semacam keinginan berlebihan. Jadi kita terus-menerus bereaksi – menghindari atau terlarut oleh obyek di dunia ini.

Melalui meditasi, kita memahaminya bahwa penderitaan timbul di dalam diri kita. Kita belajar untuk mengembangkan keseimbangan batin, kedamaian batin, dan ruang bagi diri kita sendiri, dan memahami bahwa semua hal berubah. Mereka tidak tetap – mereka sebenarnya muncul dan berlalu terus-menerus.

Bhikkhuni Canda

Jadi, ini adalah hal pertama bagi dia memahami penekanan Buddhis tentang penderitaan, dan kenyataan bahwa penderitaan muncul disebabkan dari keinginan berlebihan. Mengetahui hal ini sangatlah berarti karena dia menyadari bahwa kita bisa mulai mencari ke dalam, dan kita dapat mulai mengatasi penyebabnya alih-alih mencoba mengubah semua hal di luar yang merupakan manifestasi dari penderitaan. Kita benar-benar bisa masuk ke dalam untuk melihat penyebab dari mana asalnya – dimana penderitaan itu berasal, dan secara perlahan mencabut akar penyebabnya.

Dia merasa beruntung memulai latihan semacam ini tanpa benar-benar mengetahui apa pun tentang ajaran Buddha sebagai suatu agama, karena ajaran ini memiliki hasil langsung. Hal pertama yang dia rasakan adalah timbulnya harapan yang luar biasa, mengetahui bahwa ini adalah benar-benar tujuan hidupnya. Dia tahu bahwa dia ingin mendalami ajaran ini sedalam yang dia bisa selama sisa hidupnya. Dia tidak tahu dari mana keyakinan itu berasal. Sebagian karena mencoba menjalaninya karena ajarannya begitu masuk akal – dan dia sudah merasa lebih seimbang dan lebih ringan dan lega. Atau mungkin ada hubungannya dengan kehidupannya pada kehidupan sebelumnya. Dia kemudian menghabiskan 7 tahun berikutnya tinggal di Asia untuk mengembang latihannya.

Bhikkhuni Canda terus berbicara tentang ajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya dan penahbisannya sebagai seorang bhikkhuni. Dia beruntung belajar dari guru meditasi terkemuka Goenka (seorang pengusaha India yang tinggal di Burma), dan kemudian dengan Ajahn Brahm di Australia.

Dia sangat bersyukur diberi kesempatan oleh Ajahm Brahm untuk mendirikan Anukampa Bhikkuni Project di Inggris. Dia sekarang bermukim di Inggris dan bekerja bersama Ajahn Brahm mendirikan biara pertama untuk pelatihan para bhikkhuni di Inggris. (https://anukampaproject.org)

Saya beruntung sempat bertemu Bhikkhuni Canda beberapa kali di acara ulang tahun Ajahn Brahm ke-67 pada tahun 2018 di Perth, dan di acara kunjungan Ajahn Brahm ke Inggris pada tahun 2019 di London. Dan sekali waktu mendengarkan babaran dhammanya.

Terimakasih banyak kepada Bhikkhuni Canda yang telah mengizinkan saya menceritakan kembali sebagian “My Life As A Buddhist Nun”, dan meluangkan waktu membantu mengedit tulisan bagian ini.

Juni 2020

Dalam masa karantina wajib 14 hari – sekembali dari Ghana, Afrika – di satu hotel di Perth, Australia.

=========================================================

English version:

Why They Choose to Walk This Silent Path

Some of us think that those who choose the monastic life are people who are discouraged, broken-hearted, or even run away from reality.

A year ago I was questioned by a relative of one of the young Indonesian nun who practiced at Dhamasara Nun Monastery (who was cared for by Ajahn Brahm) in Perth, Western Australia. This relative lives in Perth and still has family ties with the nun’s parents. I feel like I know the young nun they meant, because I once visited the monastery which is located far outside the city and surrounded by forest.

The relatives of the nun expressed their concern about the young woman’s decision to become a nun, leaving behind a comfortable life, the profession of doctor (if I’m not mistaken), and from a a wealthy family background living in Jakarta. What was lacking from the decent life she had lived, he said. Also about the concern that this nun was isolated living in a distant monastery and was not free to be visited at any time. There is an impression that the nun is experiencing a life full of suffering.

I just said that it was very possible that the nun was starting a peaceful life as she wanted.

They also said that their parents, who happened to run a monastery in Jakarta, would suffer because they ‘lost’ their daughter. I was just saying, if their parents are people who are also close to the same teachings, chances are they can understand and let go, and not suffer as what is imagined.

Recently I heard that the nun had returned to Indonesia.

But why choosing the monastic life? In my opinion, it is a personal choice, of course with all the consequences; it’s the same as when we choose the ‘normal’ life that we lead now. Then what is their role for society with such a way of life? My opinion, everyone is responsible for their happiness, and they seek and live it without disturbing or harming others. More than that, they provide themselves to share the happiness they feel, guide, and inspire people to get happiness for themselves. Many of them devote themselves to humanity and share unconditional love.

– 0 –

It is not strange for the opinion of some lay people on the choice to live this kind of religious life, especially from people of different faiths. If it is done by someone who is relatively young is something even more unusual. A long time ago, when I first saw a Buddhist monk, I also asked myself, why they took this quiet path, what they were looking for.

Some of us might consider them running away from the ‘reality’ of life. The ‘reality’ of life for most of us is that we go to schools, continue to make a living, struggle in life, live successfully, have a family, reproduce, grow old, and die, and certainly with the hope of entering eternal heavenly life after death (in accordance with one beliefs). The choice of treading a silent life through the spiritual path is not a normal life.

Is it true that they escaped from reality? Which reality? Or aren’t we the ones who are running away from reality? When we are bored, we look for busyness to get rid of our boredom; when we are sad we escape by diverting our attention from sadness through entertainment, food, even alcohol or drugs. When faced with deep suffering, we are confused and miserable. We do not like and are angry with discomfort situations – which are actually part of the reality of this life. When we enjoy something, we want to continue to have that pleasure and pursue higher pleasures – from basic sensual pleasures to higher happiness. There aren’t many opportunities for us to truly understand our boredom, our pain, our suffering, even our happiness. We continue to avoid inconvenience and attach to comfort.

Contrarily, they stop to look inside themselves in silence, face to face with all their feelings, their happiness, their suffering including their fear. At the initial level, they train themselves to be aware of bodily sensations and mind movements, learn to see how the various senses phenomena come into contact with the mind which then give rise to various feelings according to their inner conditioning. They watched them, tried not to be attached, and let them go. Sound from outside, for example, is just sound, not a problem. When in contact with the mind, they see the combination of objects and thoughts creates a sense of pleasant, neutral, or unpleasant. They observe this feeling arising and ceasing, trying not to cling or grasping it, and letting it pass. Likewise with the other sense phenomena of sight, touch, taste, smell, and memory of the mind itself.

They see and experience the suffering as suffering, neutral as neutral, happy as happy; neither more nor less; and they come and go, arise and cease; as an essential fact of life. There is no continuous suffering, not even continuous happiness. Suffering arises when we begin to want more than that. We want pleasant things to continue or avoid unpleasant things. Denial of the unpleasant and attachment to the pleasant is believed to be the cause of all the complexities of human life.

With practice and knowledge from seeing / experiencing firsthand, then the understanding and wisdom arise. Understanding of this experience provides an opportunity to be free from the slaves of emotional turmoil, to see the reality for what it is from the illusion of thoughts and feelings, to let things go, and to experience deeper and more subtle peace and calm through relinquishment. Of course, this was only the beginning of the silent path they walk on.

Suffering experienced by someone can provide an opportunity to be more able to see life closely with real reality, and sometimes can transform a person to be ‘enlightened’. Eckhart Tolle, a spiritualist from Germany, who is famous for “The Power of Now” experienced inner enlightenment after experiencing great inner suffering and upheaval in his youth. (https://en.wikipedia.org/wiki/Eckhart_Tolle)

– 0 –

At Boddhinyana Monastery in Serpentine, Perth, many young monks. One of them is an Indonesian, Bhikkhu Ananda, whom I know well. He was from Jakarta and had long lived in California, United States before coming to Australia to explore the spiritual life and finally made the decision to become a monk.

As far as I know, Bhikkhu Ananda was interested in meditation from his early age, repeatedly attended the meditation training taught by G.N. Goenka (https://en.wikipedia.org/wiki/S._N._Goenka) in California. Later, he felt more suitable with the meditation approach taught by Ajahn Brahm through a more letting go and relaxed approach.

He came to Bodhinyana in 2017 for meditation training and continue to be anagarika (bhikkhu servant) for 1 year before being ordained as a novice monk. I attended his dedication to lead an early monastic life (novice) in April 2018, and ordination as a monk in June 2019.

I want to have the opportunity to know and learn more from him, and have the opportunity to recount in writing one day.

The monk Sumangalo, another young monk from Bodhinyana, told the background why he chose life as a Buddhist monk during a dhamma talk session in the routine program of the Buddhist Society of Western Australia (BSWA) which was broadcast live on Youtube, on 7 June 2020. Before being a monk, he is an anagarika (one who dedicates himself serving monks) at the Bodhinyana monastery in Serpentine, Western Australia. I often saw him in the monastery’s public kitchen and cleaning, when I visited there. (https://youtu.be/pw2N0_p5jBk)

The lay life of Bhikku Sumangalo, immigrated to follow their parents from South Vietnam in 1987, through childhood and adolescence also in California, in the famous Silicon Valley technology area. Graduating from a college majoring in information technology and finance, he lives the life of all young people in his age and time.

Since the beginning he has had many questions in his mind that life is more than just what is seen and lived by almost everyone, graduating from school, looking for work, pursuing a career, family life, success. He also experiences the pleasures of a young life in a city that provides a lot of entertainment. He began to see that all that was materialistic pleasure was not lasting. He felt that life is more than that. He began to search and listen to his deeper conscience. In his search, he liked meditation because it gave him the opportunity to really look inside. He saw more clearly in his inner silence the meaning of life, not something obtained from reading a book, the process of intelligence, thinking, said by smart people or told by wise people. The answer is always in inner silence. The journey brought a lot of happiness which made him decide to continue to pursue this quest. He visited the Bodhinyana forest monastery in Western Australia, taking more time to practice, finally being ordained a novice in 2017 and becoming a monk in 2018. If I’m not mistaken, If I remember correctly, I attended his ordination on April 12, 2018 at night at Bodhinyana Monastery at the invitation of my Indonesian friend, Handri, who later became the Bhikkhu Ananda.

Bhikkhuni Canda, a Buddhist nun who now lives in England, also recently shared her journey in “My Life As A Buddhist Nun.” (https://www.facebook.com/100026024162850/videos/553422712201863/)

It all started from a spiritual quest at a young age. Bhikkhuni Canda was born in Chesterfield, north of London, England, into a well-established and happy family. Despite living in a safe country with good social security she still had many questions that she kept from childhood. When completing high school and before making the decision to go to college, she pondered whether this was the best path for her life. Whilst she saw people who continue their education and then pursue a career, living reasonably happily, for her, this always left a lot of questions. When she would hear the daily news about the war, power and greed that never seem to change, she could not understand why humans have to hurt and inflict so much suffering on each other. What exactly is the purpose of life, and how could she react with compassion and search for an end to this suffering? Thoughts like this appeared to her at about 15 years of age.

Fortunately she had a very close best friend, who she planned a trip to India with when she was 19. She herself did not know why she had to go to India. When they got there, she immediately felt that there was a deep interconnectedness there. It is true that in India she saw much suffering, but the nuances of surrender to accept things as they are were more real, the uncertainties and impermanence of life seemed more real. Suffering and death were evident daily and on the streets – something that you never saw and was taboo to talk about in England. The hope for understanding all this became still greater. Not long afterwards, she heard about meditation. She felt this was an opportunity for her to look inside. She thought she had to sit with her own mind and watch what would happen in there when she is alone, to learn about herself.

From the very beginning, young Canda realised that happiness does not depend on external conditions alone. Despite pleasant outside conditions, a good family, succeeding in school and having good friends, there was still suffering. Young Canda wondered what really going on in her mind. Feeling quite depressed in her teens was partly due to the suffering of not knowing why she’s really here.

The first meditation practice that she joined at the age of 20 was vipassana meditation. The focus was on being aware of her body sensations and observing the way her mind works was her first sort of insight. She had always thought she was reacting to things outside, but actually she realised she was reacting to the sensation inside. When an ouside object was in contact with her senses, a sensation along with awareness of the sensation would arise, within her body and mind. She realised she had never really been reacting to the external object at all, but to that sensation inside. 

And she realized that this was the key for us to weaken the craving or reactivity. We get a pleasant sensation when we meet someone that we like, we want more of it because they make us feel good. We want that sensation again and again. The same thing when we get in contact with something unpleasant or unwanted, we get an pleasant feeling, unplesant emotional and a mental reaction.  The reaction is to get rid of it. We want to push it away. This is also kind of craving. So we’re constantly reacting – pushing away or being enticed by the objects in the world.

Through meditation, we understand suffering is arising within us. We learn how to develop equanimity, inner peace, and space around it, understanding that things change. They’re not fixed –  they’re actually arising and passing constantly. 

Venerable Canda

So, this was the first thing for her to understand the Buddhist focus on suffering and the fact that suffering arises from a cause which is craving. Knowing that was so powerful because she realised that we can start to look inwardly, and we can start to address the cause instead of trying to amend all the external manifestations of suffering. We can actually go right inside to look at the cause – where that suffering is coming from, and gradually uproot that cause.

She felt she was fortunate to start this kind of practice without really knowing anything about Buddhism as a religion, because it had an immediate affect. The first thing she felt was an enormous sense of hope, as she knew this was really the true purpose of her life. She knew that she just wanted to take this as deep as she could for the rest of her life, and she didn’t know where that faith came from. It was partly experiential because it just made so much sense – and she already felt more balanced, lighter and had a sense of relief. Also, it may have had something to do with perhaps being on this journey in her previous lives. She spent the next seven years of her life living in Asia to develop the practice. 

Bhikkhuni Canda continued to talk about the teachings she got from her teachers and her ordination as a nun in Burma, and later a bhikkhuni. She was fortunate learning from the prominent meditation teacher Goenka (an Indian businessman living in Burma), and then from Ajahn Brahm in Australia. 

She also feels grateful to be given the opportunity by Ajahn Brahm to found Anukampa Bhikkhuni Project in England (https://anukampaproject.org). She is now living in England and working closely with Ajahn to establish Britains’ first training monastery for fully ordained (bhikkhuni) nuns.

I am fortunate to have met Bhikkhuni Canda a couple of times, at Ajahn Brahm’s 67th birthday celebrations in 2018 in Perth, and at Ajahn Brahm’s visit to England in 2019 in London. And occasionaly, I listen to her dhamma talks. 

Sincere thanks to Ven. Canda for her endorsement and review on the “My Life As A Buddhist Nun” section.

June 2020

During the quarantine period of 14 days – returning from Ghana, Africa – in a hotel in Perth, Australia.

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (12) – Mengganggu Kebisingan

Karena sudah cukup lama tidak menulis lanjutan pernik-pernik meditasi, saya tidak begitu ingat lagi urutan kejadian saat pelatihan. Tapi saya pikir mungkin ada baiknya meneruskan cerita ini dari potongan kejadian yang pernah memberi kesan yang dalam selama pelatihan dan tidak terlalu terikat pada urutan, lagian biar ceritanya tidak terlalu panjang.

Selama pelatihan meditasi, kami rombongan peserta meditasi orang Indonesia cukup heboh. Karena tugas menerjemahkan ceramah Ajahn Brahm, disamping menyampaikan kembali paparan Ajahn Brahm dalam ceramahnya, saya juga harus menceritakan kembali lelucon-lelucon Ajahn Brahm. Sulit dihindari untuk tidak tertawa. Masalahnya kadang tertawa kami cukup keras. Kami sebenarnya sudah berusaha mencari tempat yang agak jauh dari keramaian, namun galak tawa kami ditengah suasana tempat pelatihan yang memang hening, cukup sering menarik perhatian peserta meditasi yang lain yang coba berlatih serius.

Dalam satu kesempatan ngobrol dengan Ajahn Brahm, saat dia menanyakan bagaimana dengan kegiatan penerjemahan bersama kawan-kawan. Saya ceritakan bahwa kami tidak bisa menghindari untuk tidak tertawa lagi saat menceritakan kembali cerita-cerita lucu beliau, dan ini sampai mengganggu teman-teman dari rombongan lain yang kelihatannya lebih khusuk berlatih. 

Ajahn Brahm jawab,“It’s very good.”

Ajahn punya kebiasaan menjawab semua pertanyaan dengan, “Bagus” atau “Bagus sekali’ untuk semua hal, tidak ada hal yang jelek.

Saat saya menambahkan bahwa kami merasa tidak nyaman karena mengganggu kawan-kawan yang lain. Beliau menjawab dengan ringan, “Biarkan saja, hati yang ceria juga sangat membantu meditasi.”

Kemudian Ajahn Brahm mengutip ujaran gurunya Ajahn Chah, “It’s not the noise that disturbs you, it’s you who disturb the noise.” – “Bukanlah kebisingan yang menggangu kamu tetapi kamulah yang mengganggu kebisingan itu.”

Ajahn Chah adalah seorang biarawan Thailand yang sangat dihormati yang bermukim di luar kota Ubon Ratchathani, bagian timur-laut Bangkok – tempat Ajahn Brahm berlatih selama 9 tahun diawal kehidupan kebiarawan beliau pada usia 23 tahun di tahun 1970-an. Saya beruntung berkesempatan dua kali mengunjungi kompleks biara hutan Ajahn Chah, Wat Pa Pong dan Wat Pa Nanachat sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos sekitar tahun 2002-2003.

Saat itu ada pesta perayaan di kampung di dekat biara yang menumbulkan banyak kebisingan. Sebagian murid Ajahn Chah mengeluh bahwa kebisingan ini telah menghilangkan suasana damai di biara. Ajahn Chah lalu menyampaikan bahwa:

“Bukanlah kebisingan yang menggangu kamu tetapi kamulah yang mengganggu kebisingan itu.”

Ajahn Chah

Kalau kita mau sedikit menghening dan mengamati, pikiran kitalah yang mengapai-gapai pada suara yang kita dengar dan mulai diolah dalam pikiran kita, menimbulkan kesan mental berupa rasa kesal saat kita anggap suara itu mengganggu, atau sebaliknya senang saat kita menganggap suara tersebut menyenangkan. Saat suatu obyek indra menyentuh pikiran akan timbul perasaan-perasaan senang, tidak senang, atau netral, tergantung pada pengkondisian batin kita.

Katanya batin yang terlatih eling, tidak akan merasa terganggu dengan rangsangan indera seperti itu. Mereka dapat melihat dengan jelas bagaimana suatu obyek indera bersentuhan dengan pikiran yang akan menimbulkan berbagai perasaaan. Mereka tidak menghindari perasaan tersebut, pun tidak memanjakannya. Mereka dapat melihat timbul dan tenggelamnya perasaan tersebut. Mereka hanya mengamati dan membiarkan perasaan tersebut berlalu, tanpa keterikatan…

Sederhana, namun sungguh tidak mudah untuk diselami…

Ditulis di keheningan malam dalam penerbangan evakuasi dengan A320 di ketinggian 38000 kaki, Accra – Las Palmas – London
29 Mei 2020

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (11) – Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Entah dari mana gagasan ini, kami sepakat untuk meminta Ajahn Brahm memberikan nama kepada kami. Ini adalah kesempatan yang baik. Beberapa dari kami juga ingin meminta nama untuk anak-anaknya, bahkan nama untuk bayi yang masih dalam kandungan. Ajahn berjanji akan memberi nama Buddhis setelah kami kumpulkan nama-nama kami di secarik kertas.

Beberapa hari kemudian ketika kami tanyakan, Ajahn Brahm merasa sudah membuatkan nama-nama itu dan memberikan kepada salah satu dari kami. Tapi akhirnya Ajahn berjanji meluangkan waktu untuk kami khusus untuk memberi nama.

Tanggal 18 Juli 2018, pada sore harinya, kami berkumpul dan bergiliran dalam kelompok kecil untuk bertemu dengan Ajahn Brahm di aula kecil di dekat jalan masuk. Secara bergiliran kami diberi nama. Saya sempat mendampingi salah satu teman meditasi untuk menyampaikan keinginan meminta nama untuk kedua anaknya.

_MG_8931 (1)
bersama Ajahn Brahm yang memberi nama satu-satu kepada kami…

_MG_8933
satu-satu kami dikasih tahu arti dari nama kami…

Ajahn memandang satu satu kami dan menghening sejenak sambil memejamkan mata sebelum menuliskan nama pemberian. Ajahn selalu bilang, kalau dia mengerjakan sesuatu dia selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati. Setelah memberikan nama, Ajahn juga menjelaskan arti dari nama-nama tersebut.

Dulu sekali, di tahun 1986, di awal saya mengenal ajaran Buddha, saya diberi nama Karuna Silaberprilaku welas-asih oleh seorang bhikkhuni (biarawan wanita) paruh baya di vihara Dharmakirti Palembang. Welas-asih adalah salah satu sifat dari empat sifat yang membawa keluhuran (brahmavihara – kediaman luhur) yaitu kasih sayang (metta), welas-asih (karuna), ikut berbahagia dengan kebahagiaan orang lain (mudita), dan ketakgoyahan atau keseimbangan batin (upekkha).

Kalau tidak salah, saya mendapat giliran terakhir dikasih nama oleh Ajahn Brahm. Saya berlutut dan menelungkupkan kedua tangan di depan dada (sikap anjali) ketika Ajahn menghening sejenak dan menuliskan nama pemberiannya di atas kertas yang saya tuliskan nama saya. Nampaknya sebuah nama adalah sebuah harapan dan doa…

Dhammapãlo – Guardian of the Dhamma – Penjaga Dharma 

IMG_8232
Penjaga Dharma

Accra, Afrika

Meditasi Bersama Ajahn Brahm (9) – Panorama Sekitar Jhana Grove

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (5)

Kesibukan kerja di tempat baru di Ghana Afrika menghentikan saya dari meneruskan tulisan tentang pernik pelatihan meditasi ini. Padahal, ceritanya masih baru hari pertama. Saya memang tidak menargetkan apapun untuk penyelesaian cerita-cerita ini, namun saya tetap berkeinginan untuk meneruskannya saat saya punya waktu luang. Ada begitu banyak hal yang menarik yang ingin saya ceritakan, sebagai catatan saya di kemudian hari saat ingatan ini mulai memudar, dan harapan agar bermanfaat bagi orang lain yang berminat membacanya.

Selama pelatihan, makanan yang disajikan adalah makanan vegetarian, tidak ada daging atau ikan, kecuali telur. Seperti yang diceritakan sebelumnya, meski sederhana, makanan yang disuguhkan rasanya enak-enak. Mungkin juga karena saya punya lebih banyak waktu untuk mengecap rasa makanan tanpa diburu-buru oleh gerak pikiran yang mencoba menggapai kemana-mana.

Kami tidak diajarkan untuk melakukan doa tertentu waktu makan, hanya dipesankan untuk memberi ruang dalam batin kita untuk bersyukur dan menyadari bahwa makanan yang sampai diatas meja kami adalah hasil jerih payah dari banyak orang, sebagian adalah dari mereka yang mendedikasikan waktunya dengan sukarela. Kami selayaknya makan secukupnya, tidak membuang makanan, dan berterima kasih kepada semua orang yang telah berperan menyediakan makanan ini.

Sekitar tahun 1991 di tahun akhir masa kuliah saya, saya pernah mengikuti pelatihan menjalani latihan awal membiara (Pabbajja Samanera) di Kotabumi, Lampung bersama teman-teman selama sekitar 3 minggu di saat liburan sekolah. Kami melatih hidup layaknya seorang biarawan dengan kepala digunduli termasuk alis mata dan menggunakan jubah kuning maron layaknya seorang bhikkhu, dan juga menggangkat tekat untuk menjalankan aturan kebiarawan yang perlu dijalani oleh seorang samanera (novice).  Ada doa makan yang diajarkan pada waktu itu, yang intinya adalah perenungan bahwa kami seyogyanya hanya makan secukupnya, bukan untuk kenikmatan atau untuk mempercantik diri, tetapi untuk ketahanan, kelangsungan tubuh ini dalam menunjang kehidupan membiara.

Ini masih hari pertama, kami masih punya kesempatan untuk jalan-jalan ke dalam hutan sekitar masih dalam kawasan biara. Artikel kali ini, lebih banyak memuat foto-foto hasil jebretan saya di kawasan meditation centre. Kami dipesankan untuk jalan-jalan di sekitar sambil melihat tempat-tempat yang nyaman dan hening yang nantinya bisa dijunjungi sebagai tempat untuk bermeditasi.

Oleh seorang samanera (novice – calon bhikkhu), saya diwanti-wanti untuk tidak banyak melakukan aktivitas memotret (kebetulan saya membawa kamera SLR – single lens reflex camera) karena akan mengganggu keheningan batin yang ingin dilatih. Samanera Ananda adalah orang Indonesia yang berasal dari Jakarta dan telah lama tinggal di Amerika, datang ke biara Bodhinyana untuk melatih diri. Diawali sebagai anagarika (pembantu/pelayan bhikkhu) selama kurang lebih satu tahun, Handri (nama pangilan awam) ditahbiskan menjadi seorang samanera di bulan April 2018. Setahun kemudian, ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu di bulan Juni 2019 oleh Ajahn Brahm. Saya berkesempatan mengikuti kedua acara penahbisan tersebut. Bhikkhu Ananda kemungkinan orang Indonesia pertama yang ditahbiskan di Biara Bodhinyana dan oleh Ajahn Brahm. Suatu saat saya ingin menulis perkenalan saya dengan seorang Handri sampai beliau ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu Ananda. Ananda ada nama salah seorang murid utama Sang Buddha.

Berikut adalah rangkaian foto-foto (lebih dari 30 foto) bersama teman-teman rombongan Indonesia di sekitar kawasan Jhana Grove Meditation Centre  dengan suasana damai dan hening…

a picture paints a thousand words…

IMG_8224
pintu gerbang masuk kompleks pelatihan…

IMG_8223
jalan beraspal dalam kompleks pelatihan…

_MG_8917
jalan masuk ke kawasan jhana grove meditation center dengan latar belakang cottage tempat dan tempat pelatihan

_MG_8923
plakat pusat pelatihan meditasi jhana grove….

_MG_8927
stupa khas borobudur ditempatkan di tengah bangunan induk pusat pelatihan meditasi jhana grove

IMG_8199IMG_8206

 

Accra, Ghana

11 December 2019

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (8)

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (6)

Baru ada kesempatan lagi meneruskan tulisan pelatihan ini setelah kembali dari liburan di Indonesia, dengan memanfaatkan waktu luang dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra dalam perjalanan tugas kerja ke Ghana.

Salah satu bagian favorit dari pelatihan ini saat sarapan dan makan siang. Ajahn Brahm sempat mencandai bahwa dia melihat banyak yang bolos dalam sesi meditasi atau dhamma talk, tapi tidak ada yang bolos waktu makan.

Selama pelatihan kita disuguhkan makanan vegetarian dan disiapkan oleh dua tukang masak dibantu oleh 4 sukarelawati. Tiga diantaranya adalah orang Indonesia and satu berasal dari Belanda. Sementara tukang masaknya (cook) adalah Paula, sepertinya keturunan India yang dibantu oleh suaminya, Jack, seorang bule.

Lily dan Rita yang berasal dari Medan, Veronica yang sudah tinggal Perth, dan Louise yang berasal dari Belanda. Mereka adalah mantan peserta pelatihan meditasi Ajahn Brahm dan datang kembali sebagai sukarelawati kitchen helper membantu tukang masak menyiapkan bahan masakan, menyajikan makanan dan tentu membersihkan dapur dan ruang makan. Mereka sangat cekatan, ramah dan melayani.

Lily tinggal di Medan dan Rita tinggal Jakarta, kedua berteman baik dan sering melakukan perjalanan bersama. Untuk kesekian kalinya mereka melakukan perjalanan bersama ke Perth khusus untuk menjadi sukarelawati. Satu berkah memiliki teman baik yang bisa sepemikiran dan seperjalanan melakukan hal-hal yang baik.

Mereka bekerja saat kami menjalani pelatihan. Kadang mereka bergabung dalam latihan dan mendengarkan dhamma talk dari Ajahn Brahm ketika kerjaan mereka sudah selesai. Kami sangat beruntung dilayani oleh mereka.

IMG_8182
Relawan yang sedang beristirahat. Rita(sweeter jingga), Lily (membelakangi), Louise dan Veronica (topi jingga)

Waktu sarapan dari jam 6:45 sampai jam 8:00 pagi setelah sesi meditasi pagi. Pagi di musim dingin, kami disuguhi dengan bubur panas dengan berbagai topping berbagai jenis kacang-kacangan, berbagai asinan termasuk daun olive, telur, dan tak ketinggalan aneka buah yang sudah dipotong-potong.

Entah kenapa makanan yang kelihatannya sederhana tapi rasanya lezat dan tidak membosankan. Saya memang suka makan bubur, jadi kebetulan sekali. Tapi baru kali ini saya tahu ada asinan daun olive (yang buahnya dibuat minyak olive), dan ternyata enak sekali.Begitu juga dengan makan siang dimulai pada jam 11. Makanan cukup beragam dengan nasi, telur, sup hangat, juga roti-roti, sayur-sayuran dan buah-buahan potong. Makanan yang disediakan lebin dari cukup dan rasanya lezat-lezat.

Malam hari, tidak ada lagi makan malam, hanya disediakan potongan coklat hitam (dark chocolate) dan keju, mengikuti tradisi kehidupan biara menjalankan Prilaku 8 Sila yang salah satunya tidak memakan makanan padat setelah tengah hari. Kami masih bisa membuat minuman yang semua bahannya tersedia di dépure, dan makan coklat dan keju yang disediakan kalau mau.

IMG_8223

Di masa pelatihan seperti ini, kami diharapkan tidak bicara kalau tidak perlu. Waktu makan, semuanya teratur mengantri dan hening. Ada yang masih ngobrol tapi seperlunya saja. Mengambil makanan yang diinginkan dan duduk ditempat yang diinginkan, di dalam ruangan atau di luar ruangan. Masing-masing mencoba mencurahkan perhatian sepenuhnya pada kegiatan makan, menyadari sebisanya gerak pikiran mulai keinginan menyendok makanan, gerakan fisik menyendok makanan, mengunyah, mengecap rasa, dan seterusnya. Berusaha untuk tidak buru-buru dengan semua kegiatan ini, hanya satu kegiatan satu waktu.

Di keseharian, kita terbiasa tidak banyak menyadari kegiatan gerak pikiran dan fisik saat mengerjakan sesuatu, termasuk hal sederhana seperti kegiatan makan ini. Pikiran kita bisa kemana-mana saat kita menyuap makanan ke dalam mulut kita, saat mengunyah dan mengecap rasa makanan yang mulai terasa di dalam mulut. Pikiran kita terus menerus berencana dan mengejar kegiatan berikutnya baik memerintahkan atau bahkan tidak menyadari tangan sudah sibuk mencari-cari sendokan berikut untuk disuapkan, atau meraih telepon genggam untuk mengetahui ada kegiatan apa di setiap group chatting, atau pikiran memikirkan masa lalu atau merisaukan masa depan. Kita tidak punya waktu untuk mengecap rasa makanan sepenuhnya. Kalaupun ada rasa makanan yang sedang dimakan, itu cenderung berupa sensasi saat sesaat karena perhatian yang timbul dan tenggelam dengan mudah lepas dari perhatian pada kegiatan makan dan mulai mengembara ke hal-hal lain yang mungkin lebih menarik. Pikiran cenderung tidak bisa diam untuk menikmati saat kini.

Dalam latihan ini, pikiran diberi kesempatan untuk memberi perhatian penuh melakukan satu kegiatan dalam satu waktu sehingga dapat mencerap sensasi yang terjadi pada saat itu, dalam hal ini – kegiatan menyendok, mengunyah, mengecap makanan dan seterusnya. Mungkin itu yang menjelaskan kenapa makanan yang sederhana menjadi begitu lezat saat perhatian penuh tercurah pada kegiatan ini. Makanan terasa lebih gurih, rasa asin, manis dan rasa lainnya dikecap secara penuh.

Ada satu cerita Ajahn Brahm ketika suatu hari dia berjalan kaki menaiki jalan berbukit menuju biara Boddhinyana di Serpentine, Australia Barat. Biasanya Ajahn diantar dengan mobil. Sebagai seorang biarawan senior, Ajahn jarang dibiarkan berjalan sendiri, selalu saja ada yang ingin mengantarnya. Sepanjang berjalan kaki menaiki jalan yang cukup terjal ini, Ajahn berkesempatan memperhatikan tumbuhan dan bunga-bunga yang mekar diterpa oleh sinar matahari pagi dan memantulkan cahaya warna warni yang indah sekali. Beberapa kali Ajahn berhenti berjalan untuk bisa mengagumi keindahan bukit kecil yang sudah sedemikian sering dilewati dan diamati lewat jendela dari mobil yang berjalan cepat. Jejak-jejak keindahan yang sampai ke dalam bola mata belum sempat diolah secara baik oleh syaraf-syaraf pengelihatan untuk dicerap di dalam otak ketika jejak-jejak baru terus datang berjejal menimpalinya. Kita kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan yang ada di depan mata.

_MG_8973

Dalam pemahaman saya yang masih awam ini, saya punya kesan bahwa perhatian penuh (mindfulness) sederhana seperti inilah yang coba dilatih dan diasah agar bisa menjadi keseharian yang akan membantu memahami bagaimana panca indera dan pikiran kita mencerap suatu fenomena dari luar dan menginterpretasinya dalam bentuk-bentuk perasaan dan pikiran, perasaan senang dan susah, suka dan tidak suka, bosan dan bergairah, rasa marah, rasa bahagia, dan lain-lainnya. 

Sejalan dengan perhatian yang mulai terasah and prilaku yang bermoral, pikiran lebih mudah menjadi hening (still), timbul dan tenggelamnya perasaan dan pikiran dapat diamati dengan perhatian penuh hingga memperoleh pengertian yang benar tentang suatu fenomena. Dengan demikian, kita mempunyai peluang untuk ‘bebas’ dari kemelekatan pada kondisi perasaan dan pikiran kita yang sering kali labil. Mungkin…

17 Desember 2018 dalam perjalanan Perth – Dubai – Accra.

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (7)

Turut Berbelasungkawa yang Dalam

Pesawat Lion Air – JT610 pada hari Senin, 29 Oktober jatuh di perairan Kerawang dalam pernerbangannya dari Jakarta ke Pangkalpinang, merengut 181 nyawa.

Sesaat setelah mendengar berita kecelakaan ini, saya coba mencari tahu kalau ada orang-orang yang saya tahu ikut dalam penerbangan itu. Bangka adalah tempat kelahiran dan tempat saya melewati masa remaja saya. Keluarga, kerabat dan teman-teman banyak yang tinggal di Bangka dan Jakarta. Saya mendapati kabar ada famili dan teman baik yang anggota keluarga dekat mereka ikut menjadi penumpang JT610 pada pagi itu.

Sulit untuk dibayangkan duka yang alami oleh keluarga yang ditinggalkan. Orang-orang yang mereka cintai terengut dari mereka dengan sangat tiba-tiba dan semua harapan yang mereka gantungkan bersama pupus. Saya membaca dari surat kabar, Finanda Naysyifa “Nanda” seorang anak berusia 13 tahun meyakini ayah yang dicintainya, Paul Ayorbaba akan pulang ke rumah bersama keluarga lagi; “Saya yakin Ayah bisa berenang keluar dan selamat. Saya masih pegang janji Ayah untuk pergi hanya dua hari saja“.

Turut berbelasungkawa yang dalam. Semoga mereka yang meninggal dalam kedamaian dan kebahagiaan; dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah… 

Catatan 3 Nopember 2018

_________________________________________

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (5)

Sesi kedua – The Words of The Buddha

Sesi kedua dengan Ajahn Brahm setiap harinya adalah pembahasan kitab ajaran Buddha (Sutta Class) pada setiap pukul 3:00 sore selama 1 jam. Ternyata pelatihan meditasi kali ini ada Sutta Classnya. Saya sempat mendengarkan rekaman sesi-sesi dari dua pelatihan terdahulu sebelum memutuskan untuk ikut pelatihan ini. Dari dua kali pelatihan itu, hanya ada dua sesi per harinya, yaitu pagi berupa sesi Dhamma Talk dan sesi Tanya Jawab di malamnya. Sangat beruntung mendapatkan Ajahn Brahm membawa tambahan satu sesi Sutta Class setiap petang.

Ajahn Brahm menyampaikan bahwa Sutta (dalam kitab aslinya yang berbahasa Pali) menggunakan bahasa kuno dengan menggunakan kata-kata yang tidak mudah dimengerti di era modern ini. Sekarang ini dengan pemahaman yang lebih baik arti kata-kata tersebut, dilakukan ringkasan dengan tetap mempertahankan pemahaman isi dari kitab dan juga menghilangkan banyak pengulangan sehingga lebih hidup dan mudah dipahami.

Sebagai suatu risalah, karya ini didasarkan pada kerja dari Bhikkhu Nyanatiloka (seorang bhikkhu berkebangsaan Jerman, lahir tahun 1878) lebih dari satu abad yang lalu, yang ingin merangkum ajaran inti Sang Buddha dalam kerangka Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truth) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Eightfold Path). Dalam kerangka ini, dikumpulkanlah Sutta dan ajaran dari berbagai sumber, yang bisa dikatakan telah memperkuat  ajaran dasar dalam Sutta.

Jadi yang akan dibabarkan oleh Ajahn Brahm adalah ajaran paling dasar dari ajaran Buddha, tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan dari Sutta Digha Nikaya 16.

IMG_8188 (1)

Ajahn Brahm:

Empat Kebenaran Mulia mencakup kebenaran tentang adanya duka, kebenaran tentang sebab-musabab duka, kebenaran tentang lenyapnya duka, dan kebenaran tentang jalan menuju pelenyapan duka melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan melingkupi tiga bagian yaitu kebijaksanaan (melalui pengertian benar dan pikiran benar), prilaku (ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar) dan pengheningan (daya-upaya benar, perhatian benar, pengheningan benar).

Kebenaran pertama adalah tentang asal-muasal duka perlu dipahami dan telah dipahami sepenuhnya. Keinginan (wanting) adalah penyebabkan dari duka dan lingkaran kelahiran-ulang. Ada yang mengunakan kata keserakahan (craving), namun kata ini tidak terlalu tepat, keinginan (wanting) adalah kata yang lebih tepat.

Setelah asal-muasal duka dipahami, pelenyapan duka dilakukan dengan pelepasan (letting go) keinginan, yang merupakan kebenaran kedua tentang sebab-musabab duka. Ketiga adalah kebenaran tentang lenyapnya duka dengan berakhirnya keinginan. Dan keempat adalah cara yang harus ditempuh untuk melenyapkan duka dengan mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Meski kelihatannya sederhana, Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan sejatinya sangat dalam dan mendasar; sulit dilihat dan sulit dipahami; tidak bisa dipahami hanya dengan sekedar penalaran, dan sangat halus untuk diselami oleh para bijaksana.

Dikatakan bahwa kemelekatan yang besar pada diri akan sulit melihat kebenaran ini, kebenaran tentang runtunan hampa sebab-akibat dari kejadian dan kelenyapan yang saling-bergantung (dependent ceasasion and origination).

Seperti yang pernah saya sampaikan di awal penulisan ini, saya tidak ingin membahas isi ajaran formal dan ritual, atau membahas kemajuan dari pelatihan. Tetapi akan lebih banyak bercerita hal-hal umum. Namun dibeberapa bagian dari Sutta Class ini, mungkin tidak bisa dihindari untuk menyentuh sedikit tentang garis besar ajaran untuk memberi konteks yang tepat untuk cerita-cerita yang ditulis. Saya coba sebisanya menuliskan pernik-pernik pelatihan ini. Ajahn banyak bercerita lewat perumpamaan-perumpamaan, termasuk cerita anekdotal dan leluconnya. Itu yang hendak saya tulis di sini.

_MG_8993

Kemelekatan dan Keakuan

Ajahn Brahm:

Dalam hal kemelekatan pada sesuatu, sebenarnya dari manakah kemelekatan ini berasal? Kemelekatan itu seperti benang yang mengikat yang memiliki dua ujung; satu ujung adalah objek dan satu lagi adalah kita. Kita cenderung melihat hanya pada objeknya ketimbang kita yang melekat pada objek tersebut; “aku melekat pada SECANGKIR TEH”, “aku melekat pada OBAT-OBATKU”, “aku melekat pada JUBAHKU”. 

Saat kita kehilangan sepasang sepatu, apa yang sebenarnya menyebabkan kita begitu marah? Bukankah itu hanya sepasang sepatu, apa masalahnya? Masalahnya adalah itu sepatu AKU!

Ajahn bercerita tentang kunjungannya ke panti werda menjenguk ibunya yang mengalami demensia, 2 – 3 tahun sebelum ibunya meninggal dunia. Ajahn kesana bersama saudara laki-lakinya. Saudaranya melihat kalau pakaian yang dipakai ibunya bukanlah miliknya tapi pakaian orang lain. Saudara Ajahn tersebut selalu memastikan ibu mereka berkecukupan kebutuhannya termasuk pakaian.

Di panti werda khusus penderita demensia ini, tidak ada yang ingat punya siapa saja pakaian atau sepatu yang ada. Mereka bisa datang ke kamar orang lain dan melihat didalam lemari ada pakaian, mereka mengambil dan memakainya. Mereka saling memakai pakaian orang lain, dan semua orang bahagia di sana. Kalau di panti ini ada 50 sampai 60 orang, ini berarti mereka punya banyak pakaian untuk dipilih dan dipakai. Bukankah ini hal yang bagus saat kita berbagi tanpa ada kepemilikan?

Pengertian Duka

Ajahn Brahm:

Duka adalah merasakan apa yang tidak menyenangkan atau luput dari apa yang menyenangkan. Duka bisa berupa usia tua, kelahiran ulang, kematian, penderitaan, ngelangsa, rasa sakit, ketidak bahagiaan, ketegangan batin. Adalah duka tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau mendapatkan apa yang tidak diinginkan. 

Apa penyelesaian dari duka? Bukankah penyelesaiannya sangat jelas? Tidak menginginkan apapun. Andai saja kita memiliki rasa kecukupan yang lebih besar dan rasa ingin yang lebih sedikit, seharusnya tidak sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena keinginannya tidak banyak. Apapun yang ada telah mencukupi.

24 Oktober 2018 – Barak T014 – Boddington, Western Australia

Catatan: bagi yang tertarik dengan Sutta Class dari Ajahn Brahm ini dapat mengikutinya melalui tautan dibawah ini termasuk salinan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dibahas dalam 7 sesi selama pelatihan ini.

 

Sutta Digha Nikaya 16:

The Word of the Buddha

Track 02: Word of the Buddha Session 1:

https://www.podbean.com/media/share/pb-ev6za-961686

 

 

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (6)

Sabtu, 14 July 2018 – Hari Pertama (3)

Siapa yang paling penting dalam hidup kita?

Pertanyaan kedua dari cerita tentang Tiga Pertanyaan Kaisar (Nicolas Tolstoy) adalah siapa orang yang paling penting dalam hidup kita. Kita mungkin akan menduga jawabannya diri sendiri, orang tua, anak atau yang lain. Menurut Nicolas Tolsloy, orang yang paling penting dalam hidup kita adalah orang yang berada di depan kita sekarang.

Bagi Ajahn Brahm, orang yang paling penting sekarang ini adalah kami yang berada di depan dia. “Nggak juga sih”, goda Ajahn.

Tulisan dibawah ini sebagian besar adalah saduran langsung dari dhamma talk Ajahn Brahm (huruf miring).

Ini akan membawa kita ke saat kini. Segala keberadaan saat ini menjadi hal yang terpenting. Jadi bagaimana seharusnya kita melakukan meditasi? Pada apa harusnya kita tujukan perhatian kita? Jawabannya adalah pada apapun yang ada di hadapan kita saat ini, itulah yang paling penting, maka sadarilah. Menyadari saat kini adalah pengalaman yang paling penting, yaitu pada apa yang terjadi saat ini. Apa yang harus kita lakukan dengan semua yang ada di hadapan kita?

“saya lelah,”

“saya bosan”,

“saya sakit,”

“saya kesal,”

“saya kalut,”

Semua ini penting dan harus sadari.

Apa yang harus dilakukan dengan ini? Jawabannya adalah menaruh kesadaran penuh terhadap semua pikiran ini dan merawatnya (care) dengan kasih sayang dan kewelas-asihan terhadap pikiran apapun yang sedang muncul.

IMG_8261

Apa yang paling penting dilakukan di dunia? To Care (not to Cure)

Berkaitan dengan ini, Ajahn bercerita tentang seorang murid awamnya, seorang dokter Srilanka yang dulu waktu masih menjadi dokter muda sering datang ke biara dan meminta nasehat kalau punya masalah. Sekarang dia telah menjadi seorang dokter yang sukses. Baru-baru ini dia pergi ke Rusia untuk menonton sepakbola Piala Dunia.

Suatu hari, dia datang  ke biara kota di Nollamara (biara Dhammaloka) dan menyampaikan bahwa dia akan berhenti menjadi dokter setelah pasien pertama dibawah perawatan dia meninggal dunia.

Pasien wanita yang baru berumur 23 tahun meninggal dunia tak terduga. Dan dia harus menyampaikan berita ini kepada suami wanita tersebut yang dampingi oleh anak mereka yang masih kecil, yang sekarang telah kehilangan ibunya. Dia merasakan kesedihaan yang dalam dari suami wanita tersebut yang begitu kehilangan di saat usia pernikahan mereka yang baru beberapa tahun, dimana hubungan mereka yang masih sangat hangat.

Waktu itu dia masih menjadi dokter praktek di tahun-tahun pertama sebagai dokter. Meski bukan kesalahan dia dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan pasien tersebut, tetapi dia merasa sangat bersalah dan itu terlalu berat bagi dia untuk memikulnya. Dia tidak bisa memikul beban seperti ini lagi kalau ada kejadian berikutnya,.

Ajahn Brahm memberitahu bahwa dia telah salah mengartikan tugas seorang dokter. Tugas utama dokter adalah memberikan perhatian dan perawatan (caring) bukan penyembuhan (curing), kalaupun ada penyembuhan itu untuk sementara. Cepat atau lambat seseorang itu akan meninggal dunia juga.

Kita selalu bisa memberikan perhatian dan kepedulian kita tapi tidak selalu bisa menyembuhkan.

(Ajahn Brahm)

Sambil bercanda Ajahn Brahm menyampaikan definisi kehidupan menurut Buddhisme – yang tidak didapat dari kitab suci, bahwa kehidupan adalah penyakit hubungan seksual yang mematikan (sexually transmited terminal disease). Meski kedengarannya negatif tapi mungkin ada benarnya.

Ajahn merasa ada kesalahan konsep dalam sistim penanganan kesehatan kita, dimana semua sumber daya dikerahkan untuk menyembuhkan seseorang tidak peduli seberapa menyakitkan proses pengobatan itu, selama orang itu mampu membiayai pengobatannya.

Ajahn menerangkan kepada dokter muda tersebut, bahwa tugas dia bukan untuk menyembuhkannya tetapi memberi perhatian dan merawat pasiennya. Kalau tujuannya adalah menyembuhkan, dia akan gagal berulang kali dalam pekerjaannya. Tapi dia tidak akan pernah gagal kalau tujuannya adalah memberi perhatian dan perawatan.

Sama halnya Ajahn Brahm sebagai seorang guru spiritual, kalau dia harus menyembuhkan kebiasaan buruk para bhikkhu, anagarika atau kami-kami di biara ini, katanya dia akan menyerah. Tapi dia akan selalu peduli dan memberi perhatian kepada semua. Peduli dan memberi perhatian lebih penting dari memperbaiki atau menyembuhkan.

Dokter muda tadi akhirnya mengerti. Kalau dia menempatkan perhatian dan usaha merawat lebih penting dari menyembuhkan penyakit, dia akan selalu berhasil. Dengan usaha perawatan dan perhatiannya kepada pasien, sebagai hasil sampingannya kemungkinan besar dia akan menyembuhkan lebih banyak orang.

Itulah jawaban dari pertanyaan ketiga dari Tiga Pertanyaan Kaisar tentang apa yang paling penting dilakukan di dunia ini, yaitu untuk peduli dan perhatian.

IMG_8303

Di dalam kehidupan keseharian kita, begitu banyak orang punya masalah dalam perkawinan, dengan anak-anaknya, dengan tubuhnya. Orang cenderung berusaha untuk merubah dan menyembuhkan semua ini, Merubah suami misalnya. Percayalah, para isteri tidak akan bisa merubah sifat buruk suaminya. Tapi para isteri akan selalu bisa untuk peduli dan memberi kasih sayang. Dengan kepedulian dan kasih sayang ini, sang suami akan memperbaiki dirinya sendiri. Begitu juga, anda tidak bisa merubah isteri anda, tapi anda dapat peduli dan perhatian kepadanya. Pada saat itulah hubungan suami istri akan mulai membuahkan membahagiakan.

Begitu juga dengan tubuh ini, cobalah rawat dan menaruh perhatian terhadap tubuh ini daripada mencoba menyembuhkannya. Jika anda harus duduk dikursi agar tubuh ini nyaman, lakukanlah. Keinginan untuk memaksa duduk di atas lantai yang keras atau duduk di atas pecahan kaca, hanyalah keegoisan saja. Kepedulian dan perhatian akan lebih membebaskan.

Rawatlah tubuh anda. Kalau anda perlu istirahat, istirahatlah. Terutama pada beberapa hari pertama pelatihan ini. Nantinya meditasi akan mulai berjalan baik. Itulah hal yang paling penting dilakukan.

Hubungan Tiga Pertanyaan Kaisar (Nicolas Tolstoy) dengan meditasi

Jadi inilah tiga pertanyaan kaisar itu. Waktu yang paling penting adalah sekarang. Orang yang paling penting adalah yang ada didepan kita. Dan Hal yang paling penting dilakukan adalah peduli dan perhatian.

Apa hubungannya dengan meditasi?

Apa yang sedang anda sadari saat ini? Sekarang! Itulah objek meditasi yang paling penting.

Apa yang harus saya lakukan? Sadari dan perhatian terhadap objek meditasi itu. Kalau anda coba menghindarinya atau berusaha membuatnya lebih baik, itu artinya kita berusaha menyembuhkannya daripada merawatnya. Maka sering kali kita berpikiran:

“saya akan menyembuhan pikiran saya dari kekotoran batin ini;”

“ayo berhentilah berpikir terlalu banyak;”

“ayo berhentilah kegelisahan ini, ketegangan ini;”

“saya hanya punya 8-9 hari dalam pelatihan ini, saya harus mencapai sesuatu dari latihan ini, saya banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjaan pulang dari sini nanti.”

Daripada mencoba menyembuhkan pikiran kita dari kondisi pikiran yang buruk, lebih baik menyadari dan memberi perhatian dengan penuh kasih sayang pada pikiran-pikiran ini, pada saat ini juga. Ini artinya anda bisa melakukan meditasi kapan saja, dimana saja, dalam posisi tubuh dan kondisi pikiran apapun.

Beberapa orang bertanya bagaimana dia bisa melakukan meditasi kalau dalam keadaan sakit di rumah sakit. Dia tidak dapat memperhatikan napasnya, apa yang harus dilakukan. Tentu saja kita bisa melakukan meditasi dalam keadaan seperti ini, kita tidak perlu duduk dengan kaki bersila dalam posisi teratai penuh misalnya. Kita bisa berbaring dan menyadari apa yang sedang kita pikirkan, seperti perasaan lapar, bosan, lelah, dingin pada saat ini.

Saat ini adalah saat yang paling penting; menyadari bahwa sedang berada di rumah sakit, sedang berbaring, dalam keadaan sakit. Apa yang kita pikirkan saat ini, kita peduli dan memberi perhatian lembut terhadap pikiran ini, tidak perlu takut dan tidak mencoba menghilangkan pikiran-pikiran ini.

Dengan cara ini, banyak hal yang menakjubkan akan terjadi pada tubuh kita. Cara ini akan mengantar kita pada inti dari meditasi, saat kita memberi perhatian penuh dengan kasih sayang untuk pikiran kita, tanpa mencoba menghindari atau menolaknya, tanpa menginginkan sesuatu yang lain; maka anda akan tepat berada pada saat kini, belajar dari saat kini.

Keadaan ini mungkin kurang menyenangkan tapi akan jauh lebih baik daripada kalau kita coba menolaknya atau kita menginginkan sesuatu yang lebih, atau menginginkan hal yang lain. Anda berada pada saat ini dan belajar memahami semua pikiran pada saat ini. Semua ini akan berlalu dengan cepat pada saat anda tidak melawannya tetapi dengan lembut merawatnya.

Secara ilmiah otak kita menghabiskan banyak energi, kalau tidak salah 24-25% dari seluruh energi yang dibutuhkan oleh semua organ – untuk berpikir. Mengingat ukuran otak yang kecil ini, otak merupakan organ yang menghabiskan paling banyak energi dibandingkan dengan organ lain.

Pikiran yang terlatih dengan hanya memperhatikan saat kini, akan bekerja sangat efisien dan menghemat banyak energi. Untuk itu pikiran menjadi segar. Dalam depresi, pikiran bergejolak dan memakan banyak energi otak yang menyebabkan kelelahan pikiran.

Ajahn Brahm bercanda kalau dia menjadi gemuk karena meditasi dan begitu banyak energi pikiran yang dihemat dan kelebihan energi turun ke perutnya. Andai saja Ajahn bisa belajar untuk berpikir lebih banyak atau khawatir lebih banyak, mungkin dia bisa menurunkan berat badannya.

_MG_9045

Inti dari Meditasi

Dalam meditasi, tidak ada perlawanan dalam pikiran tetapi kita merawat pikiran, tidak khawatir terhadap masa lalu dan masa depan, hanya merawat saat kini. Apa yang terjadi kemudian adalah anda menjadi bersemangat alih-alih kelelahan, depresi – kelelahan dari otak mulai menghilang.

Jadi saat kini adalah waktu yang paling penting. Beradalah di sini dan bersahabat dengan saat kini, dan otak anda akan menjadi bersemangat. Pada saat anda menjadi bersemangat, semua kegelisahan dan kelelahan hilang. Anda segar dan riang. Tidak hanya itu, anda mulai merasakan kebahagiaan. Semangat ini adalah kegembiraan, kegembiraan membuat anda bersemangat.

Beberapa orang mungkin tergantung pada secangkir kopi untuk memberi semangat di pagi hari. Tapi kalau anda bersemangat terutama karena tenaga alami (dengan meditasi), anda akan lebih bahagia. Karena anda bahagia, akan lebih mudah berada di saat kini, anda tidak perlu kemanapun, disini dan saat ini, indah dan menyenangkan.

Cara ini bukanlah meditasi kelas dua.  Ini bukan suatu cara meditasi pemula, yang kemudian akan masuk ke dalam meditasi yang ‘sebenarnya’ seperti memperhatikan napas, tapi inilah inti dari meditasi.

Sekarang adalah waktu yang paling penting. Orang yang paling penting adalah orang yang ada tepat di hadapan kita sekarang, dan yang paling penting dilakukan adalah beri perhatian sepenuhnya kepada orang di hadapan kita sekarang.

(Nicolas Tolstoy)

Apa yang terjadi kalau kita sedang berpikir sesuatu yang lain, berkhayal, berencana apa yang akan dilakukan kemudian; kalau semua ini ada dihadapanmu sekarang ini, itulah yang terpenting, maka sadari dan beri perhatian.

“baiklah pikiran, kalau kamu mau berpikir seperti itu, silakan saja.”

Apa yang terjadi, pikiran seperti itu adalah bentuk agitasi dari pikiran. Pada saat kita tidak masuk dalam agitasi itu, pikiran-pikiran itu akan segera berhenti. Ajahn Brahm nanti akan bercerita perumpamaan monster pemakan kemarahan, tentang monster yang dalam diri kita yang dibesarkan oleh penolakan-penolakan kita terhadap pikiran kita yang dianggap negatif. Pikiran-pikiran ini kalau diperlakukan dengan benar tidak akan bertahan lama, akan hilang dengan sendirinya. Pikiran kembali menjadi damai, hening dan bahagia.

Meditasi sejatinya sangat mudah ketika kita tidak mencoba untuk melakukannya, ketika kita tidak berkeinginan mencapai sesuatu, hanya berada di sini dan saat ini. Ini adalah pusat perhatian terpenting, yang hanya perlu disadari dan dipelakukan dengan lembut.

Ajahn Brahm

Ajahn Brahm juga menyediakan banyak boneka beruang (teddy bear) di ruang meditasi yang bisa dipakai untuk ditaruh dipangkuan untuk mengingatkan saat ini sebagai objek perhatian. Ini akan membantu meditasi menjadi jauh lebih mudah dan efektif. Ajahn juga menulis buku ‘Bear Meditation”.

Tulisan ini mengakhiri Morning Dhamma Talk Ajahn Brahm – 14 July 2018 (Track 01) – mulai 39:00-selesai: http://www.podbean.com/media/share/pb-d2dze-961685

Boddington – Western Australia, 10 Oktober 2018