Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (5)

Sabtu, 14 July 2018 (2)

Berita gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan sekitarnya

Saya sedang berada di Ghana, Afrika dalam satu kunjungan kerja ketika mendengar berita gempa tektonik yang melanda Donggala, Palu dan sekitarnya pada tanggal 30 September. Korban jiwa yang mencapai ribuan dan kerusakan rumah dan sarana yang parah sangat memilukan.

Semoga korban yang meninggal memperoleh yang terbaik dan dalam keadaan damai, korban yang selamat segera mendapat bantuan dan segera berkurang penderitaannya. 

Kehidupan di dunia tunduk pada kondisi-kondisi yang ada, salah satunya keadaan alam. Letak geografis Indonesia yang merupakan pertemuan banyak lempeng tektonik yang masih terus saling mendesak menjadi penyebab tingginya tingkat gempa. Sabuk gempa terbentuk hasil penyusupan lempeng tektonik yang membentang dari pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi, Halmahera dan bagian Indonesia Timur lainnya – yang dikenal dengan Pacific Ring of Fire.

Manusia dengan semua kemampuan ilmu pengetahuan terus mengupayakan kehidupan yang lebih sehat, nyaman dan selamat, juga termasuk kemampuan mencegah jatuhnya korban dan penanggulangan saat suatu bencana terjadi. Negara lewat lembaga terkait dan badan penanggulangan bencana harus bekerja keras untuk meminimalkan korban pada suatu bencana.

Bencana alam seperti ini akan selalu menjadi ujian bagi kemanusiaan. Bergeraknya para relawan kemanusiaan yang demikian bermurah hati dan besarnya bantuan dari masyarakat sangat mengharukan dan menginspirasi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik akan selalu ada selama manusia masih punya belas kasih dan kerelaan berkorban bagi sesama.

Semoga semua mahluk terbebas dari penderitaan. Semoga semua mahluk dapat meraih kebahagiaan… 

Kekhawatiran akan masa depan

Saya coba meneruskan tulisan lanjutan latihan meditasi dalam perjalanan pulang dari Afrika dalam ruas penerbangan Dubai ke Perth. Ini masih  dalam Sesi 01 Dhamma Talk Ajahn Brahm pada tautan di bawah tulisan ini. Tulisan di bawah ini adalah perkataan Ajahn Brahm hasil saduran (huruf miring) dari Sesi 01 Dhama Talk.

_MG_8840

Masa lalu – kita tidak tahu pasti apa yang terjadi dan mengapa. Masa depan – kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Dalam meditasi, kita tidak membiarkan pikiran kita ditarik dari dua sisi ini: diganggu oleh pekerjaan yang tak-selesai di masa lalu, kemarahan dan kekecewaan akan ketidak-adilan – menarik dari satu sisi; dan semua keserakahan, napsu dan keinginan akan masa depan – menarik dari sisi lain. Ini menyebabkan banyak ketegangan.

Yang harus dilakukan adalah melepaskan masa lalu. Siapa yang tahu mengapa sesuatu terjadi seperti itu. Begitu juga dengan masa yang akan datang, siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi. Untuk itu, kita tidak perlu menghawatirkan apapun. Banyak hal yang tidak kita perkirakan akan terjadi, tetapi itu yang terjadi. Sebagian adalah hal yang tidak menyenangkan, tapi sebagian besar adalah hal-hal yang menyenangkan.

Berapa banyak diantara kita yang pernah terpikir dulunya, suatu saat akan duduk di ruangan ini di tengah musim dingin untuk berlatih meditasi, tanpa televisi, dengan penerimaan internet yang buruk, tidak bisa makan di sore dan malam hari, dan mendengarkan ocehan seorang kwailo (bahasa Kanton untuk bule).

Kehidupan ini penuh dengan hal tak terduga. Ini juga yang membuat hidup ini menarik. Mengapa harus dikhawatirkan. Dari semua yang kita khawatirkan, berapa banyak yang memang patut untuk dikhawatirkan? Apakah dengan menghawatirkannya akan menyelesaikan masalah?IMG_8198Ajahn mengutip satu perkataan bijak ‘filosof’ Snoopy, tentu seekor anjing dalam dunia kartun, yang menurut Ajahn adalah filosof sejati karena mudah dimengerti, menyatakan:

“worrying about the future does not stop bad things happening, but worrying about the future stops you enjoying the present.”

“menghawatirkan masa depan tidak akan membuat hal-hal buruk tidak terjadi, tapi menghawatirkan masa depan menghentikan anda untuk menikmati saat kini”

(Snoopy)

Nikmati sebisanya saat kini, sekarang juga. Kalau kita menghawatirkan hal buruk akan terjadi, biasanya cenderung akan terjadi. Jadi biarkan terjadi kalau memang itu yang terjadi dan hadapi. Dengan ini, hal buruk akan cenderung lebih jarang terjadi.

Ada satu cerita tentang ketakutan akan masa depan. Sebelum menjalani kehidupan biara dulu – Ajahn sudah 44 tahun menjadi bhikkhu, sulit sekali mencari buku atau tontonan yang bernuasa buddhis. Yang ada waktu itu adalah serial televisi “Kungfu” yang terkenal waktu itu. Teman-temannya sering bertanya, kenapa serial bernuansa buddhis ini banyak adegan kekerasannya. Ini mungkin untuk dramatisi agar banyak ditonton. Ada satu cerita yang menarik dalam filem tersebut tentang kekawatiran masa depan.

Belalang adalah nama anak kecil murid dari seorang biarawan buta yang sudah tua dalam cerita filem itu. Suatu hari biarawan tua membawa Belalang ke masuk ke dalam ruang rahasia yang remang. Belalang melihat ada satu kolam berisi air dan ada sekeping papan yang melintang ditengah kolam menghubungkan tepi kolam sisi berikutnya. Belalang berjalan lebih dekat mendekati tepi kolam. Dia melihat ada banyak tengkorang manusia berserakan di dasar kolam. Dia ketakutan dan bertanya kolam apa yang mereka lihat ini.

Biarawan tua menjelaskan bahwa kolam itu adalah kolam yang berisi air keras sementara tengkorak-tengkorak itu adalah tengkorak murid kecil seperti Belalang yang gagal ujian melintasi papan di atas kolam. Mereka jatuh ke dalam kolam dan air keras (HCl) menghancurkan daging mereka sehingga tinggal tengkorang. Belalang juga harus menempuh ujian ini dan diberi waktu satu minggu untuk berlatih. 

Mulailah si Belalang kecil berlatih di lapangan dengan membentangkan sekeping papan di antara bata yang disusun. Dia tidak ingin gagal, untuk itu dia berlatih keseimbangan berjalan di atas keping papan tersebut siang dan malam. Dari latihan yang berulang-lang ini, dia bisa memastikan bahwa dia akan berhasil di hari ujian nanti.

Hari ujian tiba, disaksikan oleh biarawan tua. Meskipun telah berlatih dengan baik, Belalang sangat grogi, takut kalau terjatuh ke dalam kolam yang berisi air keras itu. Selangkah demi selangkah dia menapaki keping papan di atas kolam tersebut.

Bagi si Belalang kecil ini, berjalan diatas papan di atas kolam asam seolah berlangsung jauh lebih lama dibandingkan dengan saat latihan di luar dengan panjang papan yang sama. Dia mulai gemetaran lututnya karena tegang dan takut.

Pada saat-saat tegang ini, televisi menyuguhkan selingan iklan… tradisi ini masih berlangsung hingga pertelevision sekarang…

Si Belalang kecil terus berusaha menapaki keping papan tesebut dan mulai kehilangan keseimbangan, dan akhirnya jatuh ke dalam kolam. Gurunya yang buta malah tertawa terbahak-bahak melihat muridnya yang jatuh ke dalam kolam. Setelah Belalang kecil bisa menenangkan diri, sang guru memberitahu muridnya bahwa itu hanya kolam air.

Satu ajaran yang mencerahkan dari guru tua ini dengan menyatakan: Belalang kecil, apa yang menyebabkan kamu terjatuh? Rasa takutlah yang mendorongmu jatuh, hanya rasa takut yang membuatmu jatuh.

Kita mungkin sedang melakukan pemeriksaan kesehatan scanning syaraf, berkunjung ke psikolog atau sedang menempuh studi program doktorat, tapi apa yang membuat kita terpuruk dan gagal hanya karena rasa takut, tidak ada yang lain.

Diatas keping papan yang sama di luar, kita bisa meniti papan tersebut dengan baik bahkan dengan mata tertutup. Tapi sekali kita diberitahu bahwa dibawahnya terdapat asam keras yang akan menghancurkan tubuh saat terjatuh, muncul ketakutan dan itulah itulah yang akan menjatuhkan kita.

Jadi, masa lalu maupun masa depan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi kalau kita memiliki rasa takut, ketakutan inilah yang akan menyebabkan kita jatuh dan gagal.

IMG_8206

Ajahn Brahm bercanda bahwa belum ada kecelakaan apapun di pusat pelatihan ini sejak pelatihan dilakukan 9 tahun yang lalu. Kami aman sepenuhnya berlatih di Jhana Grove. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami akan sangat aman tinggal di pusat pelatihan ini, makanan disediakan, tempat yang nyaman untuk beristirahat, diperhatikan dan diurusi, tidak akan dihukum, suasana sangat lembut, damai dan menyenangkan, tidak ada yang harus ditakuti. Ini artinya, kami bisa santai, santai di dalam saat kini.

Pada saat meditasi, saat kini (present moment) adalah satu-satunya waktu yang kita punya, waktu yang paling penting, hanya ini waktu kita. Itulah adalah jawaban dari pertanyaan pertama dari cerita tentang Tiga Pertanyaan Kaisar

(Nicolas Tolstoy)

Pertanyaan kedua adalah siapa yang paling penting dalam hidup kita. Kita mungkin akan menjawab diri sendiri, orang tua, anak. Jawabannya  ternyata bukan itu… (bersambung).

Satu cerita guru tua sebagai penutup sebelum melanjutkan pertanyaan kedua dari Tiga Pertanyaan Kaisar.

Seorang murid bertanya kepada gurunya kata bijak apa yang hendak dia sampaikan.

Guru: “Jangan pernah berdebat dengan orang bodoh.”

Murid: “Wah, itu tidak berbelas kasih.”

Guru: “Ya, saya setuju dengan kamu.”

Anda setuju?

Ajahn menceritakan kisah-kisah ini dengan banyak selingan canda dan kelucuan yang tidak bisa tertuang dalam tulisan ini. Untuk itu, kalau tertarik, ada baiknya mendengarkan langsung dari rekaman berbahasa Inggris di tautan di bawah ini (Track 01 – menit ke 17 dan seterusnya).

Rekaman Morning Dhamma Talk Ajahn Brahm – 14 July 2018 (Track 01) – mulai 17:00-39:00: http://www.podbean.com/media/share/pb-d2dze-961685

Tawa lepas yang khas terdengar hampir di semua rekaman sepanjang pelatihan ini. Itu adalah tawa bahagia dari ketua rombongan kami, Andi Wijaya. Sampai-sampai Ajahn Brahm berencana ngundang Andi untuk hadir di setiap dhamma talknya agar ada yang tertawa dengan lelucon yang dibuat Ajhan [21:00]. Jadi kalau tidak terdengar tawa khas tersebut, berarti Andi tidak hadir alias bolos, boleh jadi karena khusuk dalam meditasinya.

Dalam perjalanan Dubai – Perth, 01 Oktober 2018.

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (4)

Sabtu, 14 July 2018 (1)

Saya sedikit telat menuju aula meditasi di pagi pertama ini. Kegiatan pagi dianjurkan mulai jam 4:30 pagi. Aula meditasi yang besar ini sudah dipenuhi oleh peserta lain, namun suasananya tetap hening dan remang. Semua orang berusaha berjalan pelan dan tidak mengeluarkan suara saat masuk ke dalam ruangan. Semua orang mengambil tempat yang disukai, ada yang duduk di kursi atau di lantai, dengan alas bantal dan selimut yang tersedia.

_MG_8974

Ada serangkaian susunan kegiatan sehari-hari yang dianjurkan bagi peserta (di bawah, diakhir tulisan ini), namun setiap orang diberi kebebasan untuk memilih mengikutinya atau tidak. Ajahn Brahm pernah bercanda, dia sering melihat peserta yang tidak hadir di sesi meditasi, tapi tidak pernah melihat ada yang ketinggalan sarapan atau makan siang.

Peserta kadang tengah berada dalam meditasi yang dalam dan tidak ingin terganggu kegiatan lain, mereka bisa meneruskan meditasinya tanpa harus terikat oleh jadwal kegiatan yang tersusun tadi.

Kegiatan ritual sangat minim, pembacaan sutta (ujaran Sang Buddha) hanya 10 menit saja, dilakukan pada pagi hari dan malam hari. Sutta yang dipilih untuk dilafalkan adalah Karaniya Metta Sutta – renungan kata-kata Sang Buddha tentang kasih sayang tak-berbatas. Sutta dalam bahasa Pali inipun telah diterjemahkan dan dilafalkan dalam bahasa Inggris. Kebetulan, perenungan sutta ini yang paling saya minati sejak lama karena dalam dan membantu melembutkan hati. Dua bait diantaranya lebih kurang demikian:

Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja,
Jangan karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain celaka

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya
Untuk melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkan pikiran kasih sayang tanpa batas

Sesi dhamma talk pagi oleh Ajahn Brahm dilakukan pada jam 8 pagi. Karena saya harus menerjemahkan untuk beberapa teman, saya coba mencatat apa yang disampaikan oleh Ajahn serinci yang saya bisa. Saya sempat mencatat hampir 90 halaman buku tulis A4 dari sekitar hampir 20 sesi selama 9 hari pelatihan meditasi ini. Sejak masa sekolah dulu, baru kali ini saya bisa menulis sampai tetes tinta terakhir dan harus ganti pena baru. Selain untuk menjelaskan kembali kepada beberapa teman yang membutuhkan penerjemahan, catatan ini sangat membantu saya menulis kembali pernik-pernik pelatihan ini.

Jhana Grove dilengkapi dengan perangkat multi media yang cukup canggih. Semua dhamma talk Ajahn Brahm direkam dan disiarkan secara cuma-cuma lewat internet, begitu juga dengan pelatihan kali ini. Saya melampirkan tautan rekamannya di setiap akhir tulisan ini kalau ada yang berminat untuk mendengarkannya (dalam bahasa Inggris).

Ajahn Brahm selalu penuh perhatian dan menyelipkan candaan di setiap dhamma talknya, yang selalu mengundang tawa dan senyum.  Ajahn suka menggunakan perumpamaan dan cerita-cerita agar pokok bahasannya mudah dipahami. Oh ya, Ajahn adalah sebutan untuk Guru dalam bahasa Thai: อาจารย์, Achan yang artinya Guru.

Pada sesi pertama dhamma talk (ceramah) pagi ini, Ajahn Brahm mengingatkan kembali agar mengambil posisi duduk yang senyaman mungkin dalam latihan meditasi ini, tidak harus duduk di lantai tapi bisa di kursi, bisa bersandar di tembok, menggunakan bantalan yang cukup dan selimut agar hangat. Badan perlu dibuat nyaman dan santai sebelum memcoba membuat pikiran nyaman dan santai.

Ajahn mengumpamakan senar gitar atau kulit gendang kalau diatur terlalu kencang tidak akan menghasilkan suara yang enak didengar saat dipetik atau ditabuh, malah menyebabkan suara yang bisa memekakkan telinga. Begitu juga badan perlu dibuat sesantai mungkin agar tidak tegang. Saat badan menjadi nyaman dan pikiranpun akan menjadi tenang. Keduanya bekerja dengan prinsip yang sama. Berhentilah mencoba mengendalikan badan dan pikiran kita. Seringkali kita punya begitu banyak ide tentang bagaimana suatu meditasi harus dilakukan tapi tidak ada yang berhasil.

Satu cerita tentang bagaimana meditasi seharusnya dilakukan adalah cerita tentang Tiga Pertanyaan Raja yang dibacanya sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Kisah yang tidak pernah dilupakan oleh Ajahn Brahm ini adalah tentang tiga pertanyaan yang paling penting di dalam hidup ditulis oleh Leo Tolstoy (penulis Rusia). Pada masa itu ide Eckhart Tolle (seorang spiritualis Jerman) dengan ‘The Power of Now“, Buddhisme dan istilah penyadaran (mindfulness) masih belum banyak dikenal.

Kisah ini membantu untuk mengembangkan meditasi yang lebih mendalam dan lebih mudah. Pertanyaan pertama adalah kapan waktu yang paling penting, kedua adalah siapa orang yang paling penting dan ketiga adalah apa yang hal yang paling penting dilakukan.

Untuk pertanyaan pertama tentu mudah ditebak bahwa ‘saat kini’ adalah waktu yang paling penting. ‘Saat kini’ adalah satu-satunya waktu yang kita punya. Selain itu adalah fantasi, mimpi, ingatan dan harapan yang tidak berpijak pada kenyataan. Berapa sering kita memperdebatkan siapa yang melakukan ini atau siapa yang bilang itu. Kita begitu banyak berdebat satu sama lain tentang masa lalu dan masing-masing kita sama sama merasa benar dan tidak ada cara untuk memastikannya kebenaran itu. Seberapa baik ingatan kita tentang dimana posisi sandal yang kita letakkan di luar tadi, atau seberapa sering kita lupa dimana kita memarkirkan mobil di tempat parkir di mall.

Saya kebetulan pernah nonton salah satu serial ‘Magic for Humans’ Justin Willman (seorang pesulap actor, pelawak Amerika) yang ‘membuktikan’ bahwa ingatan manusia begitu tidak bisa diandalkan. Dalam ‘reality show’ ini, Justin berperan sebagai pencuri tas yang dititipkan oleh pemeran lain kepada beberapa orang yang duduk di satu tempat minum umum. Justin datang dan melakukan percakapan singkat dengan ‘calon korban’ menanyakan siapa yang duduk disitu. Kemudian dengan cepat merampas tas yang dititipkan tersebut. Ini membuat panik orang-orang tadi. Hanya sesaat kemudian (dalam hitungan detik – karena dia tukang sulap), dia kembali menemui orang-orang yang panik ini, tapi kali ini sebagai polisi dengan seragam lengkapnya, menanyakan apa yang terjadi dan ciri-ciri pencuri. Bisa dipastikan tidak ada yang mengenali bahwa polisi yang menanyain mereka adalah pencuri itu, dan penjelasan saksi tentang ciri-ciri pencuripun beragam.

Ajahn menyelipkan satu cerita lama tentang seorang yang datang membantu pembangunan biara Bodhinyana. Pada waktu itu belum ada pusat meditasi Jhana Grove. Orang tersebut datang dan tinggal untuk beberapa bulan hanya untuk membantu pembangunan biara. Dia tidak menikah dan tidak punya keluarga. Satu-satunya yang dia miliki adalah motor gede Harley Davidson yang menemani dia menikmati perjalanan. Dia begitu suka dengan motornya, bukan untuk suatu status sosial tetapi karena motornya memberi dia begitu banyak kebebasan kemanapun dia mau pergi, berkeliling Australia, pergi berkumpul dengan komunitas spiritual, atau kemanapun dia suka.

Dia seorang yang sangat suka membantu, dia sering memasak untuk semua orang. Ajahn Brahm malah tidak tahu apakah dia seorang Buddhis atau bukan. Tapi dia seorang yang sangat spiritual.

Suatu kali dia pergi berbelanja ke satu mall besar di Sydney. Setelah memarkirkan motornya, dia pergi berbelanja. Sekembalinya ke tempat parkir, dia tidak menemukan motor gedenya ditempat semula, motornya telah dicuri orang. Satu-satunya harta miliknya yang begitu berharga, yang selama ini telah menemani dia dan memberikan banyak kebebasan, telah dicuri orang. Dia menurunkan tas belanjaannya, dia mulai menyadari ini akan merubah hidupnya, dia telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga, dan telah hilang diambil orang.

Karena dia seorang yang spiritual, dia mulai merenungkan kehilangan ini seperti meninggalnya orang yang dia cintai. Dia bilang, dia sudah mengalami begitu banyak kebahagiaan bersama motor ini dengan ingatan-ingatan yang indah, namun dia juga menyadari tidak ada suatu apapun yang akan bertahan selamanya. Kebebasan dia untuk bermotor berkeliling Australia telah berakhir. Dia mulai melepas.

Dia berharap, siapapun yang mengambil motor ini, semoga orang itu akan juga menikmatinya dan mengalami masa-masa indah seperti yang dia nikmati bersama motornya. Dia telah melepas.

Sesaat kemudian, dia baru menyadari bahwa dia ada di lantai yang salah, bukan di lantai dimana dia memparkirkan motornya… dia akhirnya menemukan motornya masih di tempatnya.

Dia menulis surat kepada Ajahn Brahm menceritakan kejadian ini. Dia menceritakan betapa dia terkesan disertai dengan rasa bahagia yang membebaskan saat dia bisa melepas sesuatu yang begitu dia cintai dengan cara demikian. Dia merasa semua itu adalah buah latihan dan pemahaman dia tentang ajaran kebenaran akan hakekat segala sesuatu.

IMG_8218

Pada saat kita melepas tidak menggenggam, hidup akan menjadi lebih mudah, membahagiakan dan membebaskan; begitu juga berlaku untuk tubuh dan pikiran kita.

Selalu, Ajahn begitu piawai menceritakan kisah-kisah ini dengan selingan canda dan kelucuan yang tidak bisa tertuang dalam tulisan ini. Untuk itu, kalau tertarik, ada baiknya mendengarkan langsung dari rekaman berbahasa Inggris di tautan di bawah tulisan ini.

Kisah Tiga Pertanyaan Raja ini masih akan bersambung…

Di kamar kecil di barak tempat kerja di Boddington, 17 September 2018

Rekaman Morning Dhamma Talk Ajahn Brahm – 14 July 2018 (Track 01): http://www.podbean.com/media/share/pb-d2dze-961685

Jadwal Kegiatan yang dianjurkan:

  • 4:00 – 4:30: bangun dan bersiap
  • 4:30 – 5:00: meditasi jalan
  • 5:00 – 6:00: meditasi duduk
  • 6:00 – 6:10: pembacaan Paritta
  • 6:10 – 6:45: meditasi jalan
  • 6:45 – 8:00: sarapan
  • 8:00 – 9:00: pengajaran Dhamma dari Ajahn Brahm
  • 9:00 – 10:00: meditasi jalan
  • 10:00 – 11:00: meditasi duduk
  • 11:00 – 13:00: makan siang dan istirahat
  • 13:00 – 14:00: meditasi jalan
  • 14:00 – 15:00: meditasi duduk
  • 15:00 – 16:00: pengajaran Sutta dari Ajahn Brahm
  • 16:00 – 17:00: meditasi jalan/duduk atau waktu pribadi
  • 17:00 –           : minum teh sore
  • 18:30 – 19:00: meditasi jalan
  • 19:00 – 19:50: meditasi duduk
  • 29:50 – 20:00: Pembacaan Paritta
  • 20:00 – 21:00: tanya jawab dengan Ajahn Brahm
  • 21:00 –           : istirahat atau melanjutkan meditasi

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (3)

Jumat, 13 July 2018 – Hari Pertama di Siang dan Malam Hari

Setelah Ajahn Brahm selesai memberikan pengenalan awal selama lebih kurang 1.5 jam, sekitar 9:30 pagi kami bersiap untuk pergi ke Biara Bodhinyana untuk makan siang di sana. Biara Bodhinyana yang berjarak sekitar 1 km dari Pusat Meditasi Jhana Grove adalah biara Buddhis tradisi hutan yang tempat para bhikkhu tinggal, termasuk Ajahn Brahm. Kami berjalan kaki menikmati suasanya pagi yang cukup cerah dan dingin. Cuaca berubah cepat dengan angin yang cukup kencang disertai gerimis.

Saya mulai berkenalan dengan teman-teman seperjalanan dan sedikit bercerita tentang latar belakang masing-masing. Andi Wijaya, ketua rombongan kami. Andi menggantikan memimpin rombongan karena beberapa peserta tidak mendapatkan izin visa Australia termasuk ketua rombongan awalnya.  Demikian, saya juga diminta untuk menjadi penerjemah (interpreter) untuk ceramah Ajahn Brahm kepada teman-teman peserta yang membutuhkannya. Penerjemahan ini hanya rangkuman dari ceramah Ajahn yang dilakukan sehabis sesi atau dirapel beberapa sesi. Sebagian besar teman peserta punya kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, hanya beberapa yang mungkin akan terbantu dengan penerjemahan ini.

Kami menelusuri jalan kecil dari Jhana Grove menuju Bodhinyana sambil menikmati segarnya udara pagi, sinar matahari disela pepohonan dan pemandangan hutan di sekitar yang ditumbuhi berbagai varian pohon Eucalyptus (kayu putih) yang tinggi-tinggi, pohon akasia dan tumbuhan setempat khas Australia lainnya.

_MG_8758
Jalan santai dari Jhana Grove Meditation Centre ke Bodhinyana Monastery

Kami berjalan sekitar 15 menit sebelum menyeberang jalan masuk ke gerbang Bodhinyana. Komplek Bodhinyana seluas 98 ha tempat tinggal sekitar 20 bhikkhu. Terdapat satu bangunan utama tempat berkumpul untuk kegiatan ritual dan tepat meditasi yang disebut Dhammasala. Terbuka untuk setiap orang untuk menikmati suasana damai dan hening.

Keadaan Bodhinyana lebih mirip hutan dengan beberapa bangunan diantara pohon dan semak, Bodhinyana memang dimaksudkan sebagai biara hutan yang menyediakan suasana tenang dan sunyi yang ideal bagi para bhikkhu, anagarika dan tamu lainnya untuk berlatih diri.

Juga terdapat tempat pengunjung memberikan dana makanan, disebut Danasala, ada ruang dapur dan ruang makan yang cukup besar. Juga tersedia akomodaasi terbatas bagi mereka yang ingin berlatih lebih serius dan tamu lainnya. Orang-orang awam yang ingin berlatih lebih serius dan tinggal untuk waktu yang cukup lama dikenal sebagai sebutan anagarika. Mereka berpakaian putih, mereka melatih diri sambil membantu pekerjaan di lingkungan biara termasuk merawat kompleks biara yang luasnya hampir 100 Ha itu.

_MG_5897
Salah satu Anagarika yang sedang bekerja memindahkan sampah (Agustus 2017)

Selebihnya ada bangunan pondok-pondok kecil tempat tinggal para bhikkhu (kuti)  yang terpencar jauh-jauh satu sama lain menempati komplek yang cukup luas ini. Keadaan ini menyediakan kondisi yang ideal bagi para bhikkhu untuk melatih diri.

_MG_5934
Bhikkhu muda berjalan membawa semua ‘milik’nya menuju pondok tempat tinggalnya (Agustus 2017)

Satwa liar hidup bebas di dalam kompleks.  Ada banyak kanguru, kelinci dan burung-burung. Kanguru liar setelah sekian lama hidup di dalam dan tidak diganggu, menjadi terbiasa dengan kegiatan manusia. Burung-burungpun terasa lebih jinak di sini. Mereka tahu persis jam makan para bhukku dan selalu berkumpul di sekitar ruang makan.

IMG_7355 (1)
Kanguru bisa hidup bebas di sekitar biara

Ada kegiatan unik yang berlangsung setiap hari dimana orang-orang awam datang dan mendanakan makanan dan kebutuhan hidup lainnya kepada para bhikkhu.  Setiap hari, sekitar jam 10:30 pagi, pengunjung memasukkan sesendok nasi ke dalam mangkok makan para bhikkhu yang berjalan berkeliling. Kemudian semua berkumpul di ruangan lantai atas dari dapur umum ini untuk para bhikkhu memberikan pemberkatan atas dana yang telah diberikan. Pengunjung bisa menikmati bersama makanan yang ada. Setelah selesai makan, para bhkkhu ini menyediakan waktu kalau diantara pengunjung ingin berbicara dengan mereka.

_MG_8727
Kompleks dapur umum tempat pengunjung melakukan Pindapatta

Tradisi ini dikenal dengan sebutan Pindapatta, tradisi kuno lebih 2500 lalu di masa Buddha Sidharta Gautama di India, dimana para bhikkhu menerima dana makanan dari masyarakat yang ingin mendukung kehidupan suci yang mereka jalani.

Kali ini, kami ikut kegiatan Pindapatta ini, dan tentu ikut makan siang bersama. Pengunjungnya dari berbagai etnis, ada orang Thailand, Laos, India, Srilanka, China, termasuk orang barat, dan juga beberapa orang Indonesia. Banyak sekali makanan yang tersedia dan sangat beragam, dan tentunya enak-enak karena biasanya makanan yang terbaik yang dibawa oleh pengunjung untuk didanakan kepada para bhikkhu.

_MG_8710
Kegiatan Pindapatta – Ajahn Brahm dengan ceria menyapa “Selamat Pagi”

Terlihat cukup banyak para anagarika yang berpakaian putih-putih, mereka sangat ramah dan sigap membantu di ruang makan, menata makanan yang dibawa pengunjung, mencuci piring dan membersihkan ruangan setelah makan, termasuk memilah sampah-sampah sesuai kategorinya untuk daur ulang atau untuk dibuatkan kompos.

_MG_8731 (1)

Pengunjung bisa mengunjungi pondok-pondok tempat tinggal dan berlatih para bhikkhu. Di hari-hari besar tertentu pondok-pondok (kuti) ini dibuka untuk umum. Ini kesempatan yang baik untuk melihat gaya hidup dan tempat tinggal sederhana para bhikkhu yang berlatih disini.

Kali ini kami berkesempatan mengunjungi ‘Gua Ajahn Brahm’, tempat tinggal Ajahn Brahm. Gua ini adalah gua buatan yang dibangun oleh Ajahn Cattamalo dan rekan-rekannya. Ukurannya kecil, mungkin sekitar 2.5×2.5m, sederhana karena tidak ada banyak barang, hanya satu matras tipis untuk tidur, bantal kecil, jam kecil, derigen air dan satu kotak tisu. Di dinding ada satu patung Buddha kecil dengan penerangan yang remang-remang. Gua ini sangat kedap suara dengan dua lapis pintu masuk ditambah dengan lapisan busa kedap suara. Tentu suasana sekitar sangat hening saat di dalam gua ini.

WhatsApp Image 2018-08-25 at 11.02.26 PM
Gua Ajahn Brahm yang sederhana (foto: Andi Wijaya)

Kami mampir di ruang utama di Boddhinyana berlantai karpet lembut yang tebal memberi rasa nyaman dan suasana sangat hening. Beberapa teman duduk dan bermeditasi. Saya memberikan sedikit tur ke sekeliling biara, tapi tidak sampai melewati daerah yang ditandai sebagai ‘meditation area’ agar tidak mengganggu bhikkhu-bhikkhu.

IMG_3253 (1)
Ruang Dhammasala Bodhinyana Monastery

Kemudian kita berjalan kaki pulang ke Jhana Grove. Saya menurunkan satu tas kecil berisi pakaian yang saya siapkan secukupnya untuk keperluan 9 hari dan menata di dalam rak pakaian di kamar. Satu cottage berisi 6 kamar yang terpisah. Kamar ukuran sedang dengan kamar mandi di dalam yang dilengkapi dengan keran air panas dan lampu penghangat di dalam kamar mandi. Di ruang tidur, tersedia satu ranjang kecil dengan bantal dan beberapa lembar selimut, juga satu penghangat ruangan portable yang memang sangat dibutuhkan selama musim dingin ini.  Kamar yang sederhana tapi sangat bersih, rapi dan nyaman.

Saya usahakan membawa keperluan yang seringkas dan sesederhana mungkin, hanya butuh beberapa stel celana dan baju sweater lengan panjang dengan dua set kaos dalam berbahan hangat. Juga pelembab kulit karena udara yang kering dan dingin.

_MG_8736 (1)

Untuk makan malamnya, saya kembali ke kota untuk mengambil makanan yang sudah dipesan. Kemudian kami makan bersama di ruang makan. Untuk hari-hari berikut selama pelatihan ini, peserta tidak lagi disediakan makan malam. Kami dianjurkan menjalani delapan latihan prilaku yang dikenal dengan Attha-Sila yang salah satunya untuk tidak makan di waktu yang tidak tepat yaitu tidak makan makanan padat setelah tengah hari hingga besok paginya. Beberapa peserta tetap makan malam karena kondisi kesehatan, dengan menyimpan makanan siang untuk malam harinya.

Seorang Buddhis awam biasanya berikrar untuk melatih diri menjalankan lima prilaku kemoralan yang dikenal dengan Panca Sila yaitu melatih diri untuk tidak membunuh mahluk hidup, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan kegiatan seksual yang tidak dibenarkan (sexual misconduct), tidak berkata yang tidak benar atau berbohong, tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang memabukkan yang akan menyebabkan menurunnya kesadaran.

IMG_8181 (1)

Setelah makan malam, masih berkumpul dan ngobrol dengan teman-teman dengan yang baru dikenal pagi tadi. Setelah ini tidak banyak kesempatan untuk ngobrol karena memang tidak dianjurkan. Andi, ketua rombongan kami memberikan sedikit arahan tentang susunan acara atau kegiatan untuk keesokan harinya. Sebenarnya, pelatihan resminya memang baru akan dimulai besok pagi setelah rombongan peserta dari Hongkong sampai nanti malam. Besok pukul 8:00 pagi, Ajahn Brahm akan memberikan ceramah pertamanya.

Ketika malam terus merayap lebih dalam, suasana semakin sunyi, cuaca semakin dingin, gelap dan hening. Teman-teman mulai mengurangi kegiatan, satu-satu menghilang ke dalam kamar atau ke aula meditasi. Saya berusaha memperlambat gerak dan langkah sekedar untuk lebih berkesempatan menyadari apa yang sedang dilakukan.  Saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan dari pelatihan 9 hari ke depan. Dan memang diminta untuk tidak mengharapkan apapun. Ada perasaaan tidak biasa untuk tidak ‘merencanakan’ apa yang akan dilakukan selanjutnya, hanya untuk berada di saat ini dan membiarkan semua menjadi apa adanya. Saya mulai ‘berusaha’ tidak mengubris angan saya untuk memperoleh sesuatu dari kegiatan ini…

Perth, 25 Agustus 2018

Video singkat lokasi dan suasana biara Bhodhinyana.

 

Video singkat suasana biara Bhodhinyana dan keseharian para bhikkhu termasuk kegiatan Ajahn Brahm dan guanya.

 

 

 

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (2)

Jumat, 13 July 2018 – Hari Pertama di Pagi Hari

Saya berangkat dari rumah pagi dengan kendaraan pribadi menempuh perjalanan sekitar 40 menit menuju selatan kota Perth, meninggalkan daerah pemukiman yang  semakin jarang dan melewati daerah peternakan. Pusat Meditasi Jhana Grove berjarak sekitar 60 km (waktu tempuh sekitar 50 menit) dari Bandara Internasional Perth, berbatasan dengan Taman National Serpentine. Karena itu, Jhana Grove dikelilingi oleh hutan yang masih cukup lebat dan menjadi tempat yang ideal untuk menghening.

Map to Jhana Grove
Lokasi Pusat Meditasi Jhana Grove

Saya tiba di Jhana Grove sekitar jam 8:05 pagi, lima menit terlambat dari jadwal. Ajahn Brahm telah duduk dan berbincang dengan rombongan Yayasan Ehipassiko Indonesia di aula tempat makan. Rombongan Ehipassiko semuanya berjumlah 12 orang, termasuk ada dua orang India yang berasal dari Melbourne.  Mereka tiba di Jhana Grove malam sebelumnya. Tiga orang lagi kemudian bergabung kemudian. Rombongan dari Bodhinyana International Fondation dari Hong Kong belum sampai, mereka akan tiba nanti malam.

Kami semua duduk di ruang makan. Ajahn Brahm meluangkan waktu sekitar 1.5 jam memberikan pemahaman dasar meditasi, pengenalan tempat dan sarana ada. Beliau menganjurkan peserta untuk memulai hari dengan santai saja, tidak melakukan banyak hal, hanya sebisanya perhatian diarahkan untuk lebih menyadari gerak tubuh dan pikiran saat melakukan apapun. Kesibukan dan berbicara dikurangi, namun tidak perlu sampai menjadi tegang. Satu dua hari pertama dengan kegiatan yang berkurang dengan badan dan pikiran yang diberi kesempatan untuk santai, kemungkinan akan mudah ngantuk. Kalau ngantuk tidur saja, tidak semua kegiatan yang dijadwalkan harus diikuti, begitu pesannya.

_MG_8840 (1)

Setelah badan kita nyaman maka perhatian kita bisa diarahkan untuk menyadari gerak pikiran. Menyadari lebih mengacu pada mengamati tanpa melibatkan diri pada gerak pikiran. Apapun pikiran yang muncul, hanya perlu disadari tanpa harus diikuti. Tentu ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pikiran kita sudah sedemikian terbiasa untuk selalu bergerak menanggapi semua sensasi yang diterima oleh indera dan olahan pikiran itu sendiri yang diasupi oleh semua aktifitas fisik dan konsep pemikiran kita.

Bagi saya sepertinya hukum kelembaman (enersia) seperti Hukum Newton I juga berlaku untuk pikiran. Sesuatu yang bergerak akan cenderung terus bergerak dan yang diam akan cenderung diam. Ajahn dalam buku panduannya menyebutkan tahap awal ini sebagai latihan “penyadaran pada saat kini – present moment awareness”. Tidak ada objek tertentu yang harus diamati. Ajahn tidak menganjurkan untuk langsung menggunakan objek meditasi tertentu, keluar masuk napas misalnya.

Jhana Grove sendiri bisa dibilang salah satu pusat meditasi yang terbaik di dunia, dapat menampung 60 peserta dengan 10 cottage yang sangat bersih dan terawat, di tengah hutan yang jauh dari keramaian. Terdapat ruang meditasi utama yang besar dan tiga ruangan untuk meditasi berjalan yang dilengkapi dengan karpet alur-alur untuk tempat berjalan. Masing-masing cottage berisi 6 kamar dengan kamar mandi di dalam – en suite. Fasilitas dapur komersial dan ruang makan yang bisa menampung banyak orang, dilengkapi oleh pengolahan air bersih siap minum dan pengolahan air kotoran (sewage), tempat cuci pakaian dan toilet yang lengkap untuk pria dan wanita.

Jhana Grove
Jhana Grove dengan 10 cottage dengan masing-masing 6 kamar yang bersih dan nyaman

Ajahn Brahm sendiri yang memperjuangkan mengadaan fasilitas ini saat fase perancangannya untuk menyediakan tempat yang mendukung untuk pelatihan meditasi meskipun harus mengeluarkan uang pembangunan yang lebih banyak. Jhana Grove bisa dikategorikan sebagai pusat meditasi bintang lima. Semua fasilitas ini dibangun dengan dana sumbangan, untuk itu semua tidak dipungut banyaran, hanya diminta sumbangan suka rela demi kelangsungan operational dan perawatan. Untuk rombongan peserta internasional, ada tambahan biaya untuk penyediaan tukang masak dan pembersihan kamar untuk kenyamanan agar mereka bisa berlatih lebih baik.

Beberapa relawan (tepatnya relawanita) yang biasanya mantan peserta datang mendedikasikan waktu dan tenaga mereka membantu di dapur menyiapkan dan menyajikan makanan. Kali ini ada tiga orang Indonesia yang menjadi relawan, dua diantaranya datang dari Indonesia untuk membantu. Kami sangat beruntung dilayani oleh relawan-relawan ini. Mungkin saya akan ceritakan sedikit tentang mereka di kesempatan lain.

Kami semua beranjak dari kursi dan mengikuti Ajahn yang mulai menjelaskan fasilitas Pusat Meditasi Jhana Grove. Ajahn mulai dengan fasilitas dapur dan ruang makan, termasuk air minum yang telah diolah dan siap minum dari keran yang juga tersedia di setiap cottage.

Kami menuju aula meditasi yang luas dan nyaman. Setiap peserta bisa mengambil posisi dan sebisanya duduk ditempat yang sama selama pelatihan. Hanya satu Buddha rupang (patung Buddha) di dalam ruangan ini, ukurannya pun relatif kecil, sisanya ruang kosong dengan tempat duduk para bhikkhu di depan. Yang tidak umum disini adalah terdapat banyak boneka beruang.

IMG_8169

Salah satu yang khas dari Ajahn Brahm adalah menggunakan boneka-boneka beruang untuk membantu selama meditasi. kami bisa mengambil satu untuk menemani selama masa pelatihan. Boneka beruang ini berbulu lembut, biasanya dipangku dan dipegang tangan. Kelembutan boneka beruang ini dapat dirasakan dan kelihatannya ini dapat ikut melembutkan rasa selama bermeditasi. Lagian kami kayaknya masih kelas ‘play group’, masih banyak bermainnya…

IMG_8172

Ajahn mengingatkan bahwa meditasi tidak harus duduk di lantai, tapi bisa dimana saja termasuk duduk di kursi. Untuk itu disediakan kursi-kursi yang designnya dipilih khusus oleh Ajahn sendiri untuk kenyamanan dengan sandaran empuk dan juga tempat letak tangan yang sekaligus untuk mencegah orang jatuh saat miring ke kiri atau ke kanan. Ajahn bilang dia menyadari betul bahwa tubuh ini harus dibuat nyaman untuk membantu membantu melatih pengheningan pikiran. Terdapat rak-rak tempat tersedia bantal duduk, bantal kaki, selimut dan kursi kecil yang bisa dipakai untuk kenyamanan duduk bermeditasi. Saat ini adalah musim dingin di Perth, jadi selimut sangat membantu sebagai tambahan penghangat saat duduk di lantai atau dikursi

Kami teruskan berjalan ke ruangan khusus untuk meditasi jalan, ruang kosong dengan jalur karpet tempat untuk berjalan. Selain duduk, meditasi bisa dilakukan sambil berjalan, dimana perhatian diarahkan pada gerakan kaki yang melangkah hingga sentuhan telapak kaki pada karpet atau lantai. Selama berjalan mata ditujukan sekitar dua meter didepan. Ajahn memperagakan dan memandu peserta. Selama ini belum ada yang sampai menabrak tembok, tambahnya.

Di dinding digantung satu jam dengan tulisan tangan Ajahn Brahm “Sekarang adalah waktunya, dimana masa depan anda sedang diciptakan – Now is the time, your future is being made”. Terakhir Ajahn mengeluarkan ‘jurus’ andalannya ‘meditasi kanguru’ bukan berjalan tetapi melompat. Jarang ada kesempatan melihat seorang bhikkhu senior seperti Ajahn Brahm meloncat-loncat memperagakan gerakan kanguru. Sulit untuk tidak tertawa. Ajahn selalu punya cara untuk berbagi keceriaan…

IMG_8177
Kangaroo Meditation – Ajahn Brahm

Ajahn juga meminta untuk tidak mengharapkan kemajuan tertentu dari semua usaha ini. Salah satu faktor penting dari pelatihan meditasi adalah rasa kecukupan (contentment), cukup dan bahagia dengan apa yang ada, tidak menginginkan apa-apa. Kita sudah sedemikian terbiasa dengan berbuat sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Yang perlu dilakukan adalah berada disini dan sekarang (just being here and now). Latihan meditasi bukanlah untuk mencapai atau meraih apapun tapi untuk melepas, letting go…

Bagi kami yang telah membuat semua daya upaya baik waktu maupun biaya untuk bisa mengikuti pelatihan ini, tentu akan menggantungkan banyak harapan untuk mendapatkan ‘kemajuan’ tertentu, paling tidak memperoleh ‘sesuatu’ mungkin untuk menjadi lebih bahagia atau lebih melepas. Kok malah diminta menghindari berkeinginan mendapatkan sesuatu.

IMG_8199

Ya deh… kalaupun saya tidak mendapatkan ‘apa-apa’ paling tidak bisa santai karena tidak mengerjakan apa-apa, bisa punya waktu menikmati pohon-pohon, bunga, mendengar kicauan burung, waktu istirahat yang lebih banyak, kesempatan mengamati gejolak pikiran, syukur-syukur bisa menikmati tarikan dan hembusan napas satu satu; sudah cukup memberikan pengalaman yang saya inginkan. Eh.., ujung-ujungnya berharap dan berkeinginan juga…

Informasi lebih lanjut tentang Pusat Meditasi Jhana Grove dapat dilihat di tautan dibawah ini:

https://bswa.org/location/jhana-grove-retreat-centre/

Video suasana Jhana Grove:

Perth, 16 Agustus 2018

Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (1)

Sudah dua minggu lebih sejak saya selesai mengikuti pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm pertengahan bulan Juli lalu di pusat meditasi Jhana Grove, Serpentine, Australia Barat. Ada keinginan mulai menulis pernik-pernik pelatihan meditasi untuk dijadikan sekedar catatan pribadi. Pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm sangat diminati. Biasanya pendaftaran online dibuka tengah malam dan … Continue reading Pernik-Pernik Pelatihan Meditasi 9 Hari oleh Ajahn Brahm – Juli 2018 (1)

Sudah dua minggu lebih sejak saya selesai mengikuti pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm pertengahan bulan Juli lalu di pusat meditasi Jhana Grove, Serpentine, Australia Barat. Ada keinginan mulai menulis pernik-pernik pelatihan meditasi untuk dijadikan sekedar catatan pribadi.

Pelatihan meditasi 9 hari oleh Ajahn Brahm sangat diminati. Biasanya pendaftaran online dibuka tengah malam dan terisi penuh dalam hitungan menit. Juga dibuka peluang khusus untuk peserta international. Pelatihan pertengahan Juli ini khusus untuk peserta dari Indonesia dan Hongkong. Peserta tidak hanya dari kalangan Buddhis tapi juga lintas agama. Saya beruntung bisa ikut mendaftar melalui Yayasan Ehipassiko, atas kemurahan hati teman baik saya Handaka Vijjananda. 

Jhana Grove 1
Peserta dari Yayasan Ehipassiko. Terima kasih untuk teman-teman seperjalanan. (foto: Andi Wijaya)

Sosok Ajahn Brahm cukup terkenal di Indonesia lewat buku dan talkshow tahunannya di berbagai kota di Indonesia. Salah satu buku best seller Ajahn Brahm di Indonesia adalah “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko dari buku aslinya berjudul “Opening the Door of Your Heart”.

Ajahn Brahm 1
Menandatangani buku-buku di Ulang Tahun ke 67

Ajahn Brahmavamso (yang dipanggil Ajahn Brahm) adalah seorang bhikkhu (biarawan) Buddhis asal Inggris berumur 67 tahun yang telah menjalani kehidupan kebiarawanan hampir 44 tahun dalam tradisi Theravada. Lahir pada tanggal 7 Agustus 1951 dengan nama Peter Betts dari keluarga kelas pekerja di London. Peter muda sudah tertarik pada meditasi sejak usia dini. Tumbuh menjadi seorang pemuda cerdas, Peter belajar bidang fisika teoritis di Universitas Cambridge dan kemudian menjadi pengajar. Mengenal Buddhisme diusia 16 tahun lewat buku yang dibelinya dari hadiah prestasi akademiknya. Dia pergi ke Thailand untuk belajar lebih dalam tentang Buddhisme dan memutuskan menjadi bhikkhu pada usia 23 tahun. Riwayat perjalanan hidup Ajahn Brahm dapat dibaca pada tautan dibawah artikel ini.

Ajahn Brahm adalah murid dari seorang bhikkhu yang sangat dihormati di Thailand, Ajahn Chah yang bermukim di luar kota Ubon Ratchathani, bagian timur-laut Bangkok. Saya berkesempatan dua kali mengunjungi kompleks biara hutan Ajahn Chah, Wat Pa Pong dan Wat Pa Nanachat sewaktu saya bekerja di tambang Sepon di Laos sekitar tahun 2002-2003.

Ceramah Ajahn Brahm menyegarkan dan mencerahkan dengan gaya penyampaian yang lepas dengan perumpamaan dan lelucon-leluconnya. Ajahn Brahm piawai memilih gaya penyampaian dan kedalaman isi menyesuaikan dengan tingkat pemahaman pendengarnya. Di usia yang tidak muda lagi, Ajahn Brahm memiliki ingatan yang sangat kuat dan pikiran yang jernih dalam menyampaikan dan merunut serangkaian bahasan yang beranak-pinak dan kembali ke pokok pembahasan dan ditutup dengan rangkuman yang mudah dipahami. 

Ajahn Brahm 2
Ajahn Brahm dengan pose khasnya – Kanguru, satwa khas Australia

Saya tidak melihat raut muka lelah Ajahn Brahm yang berbicara sebanyak 3 sesi perhari masing-masing 1-1.5 jam per-sesi selama 9 harı, ditambah dengan sesi konsultasi personal peserta hampir setiap hari; bahkan pada hari-hari Ajahn Brahm terserang flu sekalipun. Selalu tetap terlihat senyuman khas menghias wajahnya dengan semangat dan keceriaan yang hampir konstan di setiap saat. 

Ajahn Brahm sering kali menyampaikan bahwa pikiran yang tidak bergejolak dan batin yang mawas (sadar, eling) memberikan kejernihan batin dan menyisakan energi kebahagiaan yang luar biasa dan bisa sangat membantu dalam menyelesaikan banyak masalah. Masalah yang kita hadapi tidak bisa diselesaikan dengan dipikirkan terus menerus, Ini justru yang menjadi penyebab depresi. Saat masalah terlalu dekat, kita tidak bisa melihat dengan jernih. Energi terkuras karena pikiran yang terus bergejolak menyesali masa lalu dan menghawatirkan masa depan. Masalah perlu diletakkan pada perpektif yang benar dan dilihat dengan kejernihan pikiran. Penyelesaian akan terlihat dengan sendirinya. Mawas diri adalah hidup pada saat kini. Masa depan kita diciptakan oleh apa yang kita pikirkan dan lakukan saat kini…

Ajahn Brahm 3
Ajahn Brahm – menikmati keheningan pagi di Jhana Grove

Apa yang mendorong saya ikut pelatihan ini? Mungkin sedikit klise, tapi saya ingin mendapatkan kesempatan yang lebih khusus untuk ‘menapaki Sang Jalan dan mencicipi Kebenaran – walk the Path and taste the Truth’, bukan sekedar pemahaman intelektual dari apa yang dibaca, tertulis dalam kitab atau kata orang bijak. Ada anekdot Zen (Chan) – pointing at the moon – untuk melukiskan perbedaan antara alat yang digunakan untuk melihat kebenaran dan Kebenaran itu sendiri. Cerita tentang Sesepuh (Patriat) Zen yang ke-6, Hui Neng yang buta aksara, saat ditanya bagaimana mungkin seorang yang buta aksara bisa memahami ajaran Kebenaran. Hui Neng menunjukkan jarinya ke bulan yang dilihatnya. Kita mungkin butuh ujung jari untuk melihat bulan, tapi ujung jari bukanlah bulan.

Ajahn Brahm
Bear Meditation dengan Ajahn Brahm (foto: Shally Mavieto)

Entah kapan saya baru bisa selesai menulis pernik-pernik ini, tapi mungkin itu tidak penting dan tidak perlu ada target apapun. Biarkan mengalir saja… Saya mencoba untuk mulai menulis di waktu luang perjalanan tugas singkat dari Perth (Australia) ke Denver (USA) di awal Agustus 2018, memanfaatkan ruas penerbangan panjang perjalanan melintasi Samudera Pasifik yang memakan waktu sekitar 14-17 jam satu lintasan. Saya agak sulit tidur di dalam pesawat meski sebenarnya sangat nyaman dan bisa berbaring cukup leluasa. Saya mencoba tidur sebisanya dan lebih memilih santai saja, nonton satu dua filem dan mencoba menikmati keheningan malam dengan gemuruh lembut mesin jet A380 – tentu pada saat tidak ada turbulensi di udara. Sesekali pramugari datang menawarkan minuman dan penganan dengan sangat sopan. 

Sekali lagi, tulisan ini dan berikutnya sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengupas ajaran ataupun menakar kemajuan dan pencapaian apapun apalagi menggurui, tetapi hanya cerita pernik-pernik pelatihan, sekedar catatan pribadi untuk saya baca kembali di kemudian hari di kala ingatan ini mulai memudar. Syukur-syukur tulisan-tulisan ini memberi inspirasi bagi orang lain yang berminat pada jalan hening ini untuk mencari bagi mereka sendiri.

Katanya, latihan meditasi sejatinya bukanlah untuk mencapai atau meraih apapun tapi untuk melepas, letting go, renounciation. Katanya begitu…

Jhana Grove
Jalan setapak di Jhana Grove

Riwayat perjalanan hidup Ajahn Brahm dapat dibaca tautan dibawah ini:

https://bswa.org/bswp/wp-content/uploads/2017/10/A-Tribute-to-Ajahn-Brahm-Emptiness_and_Stillness.pdf.

 

10 Agustus 2018, di atas Samudera Pasifik di ketinggian 36000 kaki (11000 meter)

Present Moment Awareness

I had a chance to ask Ajahn Brahm directly about the Present Moment Awareness he referred in his meditation book. I almost knew the anwer as it’s in his book and his talks I repeatedly listened to. And intellectually, I understand his explanation, his analogy to the donkey. I guess, I just have not let things go enough… still lacking of simply being there and expect nothing…

at 1:31