The Way to Love – Anthony de Mello

Meski sering mendengar namanya sejak lama, baru kali ini saya membaca buku terakhirnya, The Way to Love. Saya beli buku elektroniknya di akhir Desember 2021. Ini berkat anjuran teman dekat saya yang sama-sama meminati hal-hal yang berkaitan dengan pengenalan ke dalam diri. Teman saya ini, yang seorang Katolik, pengagum berat Anthony de Mello.

Anthony de Mello adalah seorang pastor Katolik dari Ordo Jesuit (Society of Jesus – Societas Iesu – SJ) yang cukup kontroversial dengan pandangan dan ajarannya di kalangan umat Katolik sendiri. Kelihatannya pendangan spiritual beliau sangat dipengaruhi spiritualitas ketimuran tempat beliau berasal, yaitu India – spiritualitas yang berakar pada kebenaran universal.

Saya belum baca habis bukunya. Lebih tepatnya, saya baru baca dua tulisannya, yaitu tulisan pertama: Laba Rugi; dan yang terakhir: Bersiaplah. Dan saya terjemahkan keduanya disini.

Kedua-dua tulisannya sangat mencerahkan, dan saya tidak bisa membayangkan kedalaman batin penulisnya, mungkin sudah tidak berdasar…

Karena saya membaca berulang-ulang kedua tulisan ini, makanya saya belum juga selesai membaca bukunya 🙂

Laba Rugi, tentang secuil pengalaman spiritual akan kebahagiaan yang sederhana dan hakiki yang bersumber dari pelepasan akan kemelekatan pada keinginan duniawi yang sering mengombang-ambingkan kita. Anthony dapat menyampaikannya dengan perbandingan yang begitu sederhana dan lugas.

Bersiaplah, tentang pengalaman kekudusan atau kesucian ‘puncak’ yang telah mengatasi dualisme dan telah berakhirnya keinginan…

Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

Anthony de Mello

Saya merasa paparan tentang keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir (Bersiaplah) Anthony de Mello sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Sri Pannavaro Mahathera menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan diakhir tulisan ini).

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Bhante Sri Pannavaro Mahathera

Beliau menambahkan:

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

— 0 —

LABA RUGI

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? – Matius 16:26

Coba ingat jenis perasaan yang anda rasakan ketika seseorang memuji anda, ketika anda disetujui, diterima, dan dipuji. Dan bandingkan itu dengan jenis perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda melihat matahari terbenam atau matahari terbit atau fenomena alam pada umumnya, atau ketika anda membaca buku atau menonton film yang benar-benar anda nikmati. Dapatkan rasa dari perasaan ini dan bandingkan dengan yang pertama, yaitu perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda dipuji. Pahamilah bahwa jenis perasaan pertama berasal dari pemuliaan diri, promosi diri. Ini adalah perasaan duniawi. Yang kedua datang dari kelimpahan diri, perasaan dalam jiwa.

Ini ada kontras lainnya: Ingat jenis perasaan yang anda miliki ketika anda berhasil, ketika anda selesai mengerjakan sesuatu, ketika anda mencapai puncak, ketika anda memenangkan permainan atau taruhan atau perdebatan. Dan bandingkan dengan jenis perasaan yang anda dapatkan ketika anda benar-benar menikmati pekerjaan yang anda lakukan, anda menikmati tindakan yang anda lakukan saat ini. Dan sekali lagi perhatikan perbedaan kualitatif antara perasaan duniawi dan perasaan jiwa.

Kontras lainnya: Ingat apa yang anda rasakan ketika anda memiliki kekuasaan, anda adalah bos, orang-orang memandang anda, menerima perintah dari anda; atau ketika anda terkenal. Dan bandingkan perasaan duniawi itu dengan perasaan keintiman, persahabatan—saat-saat anda benar-benar menikmati diri sendiri bersama teman atau dengan kelompok di mana ada keceriaan dan canda.

Setelah melakukan ini, cobalah untuk memahami sifat sebenarnya dari perasaan duniawi, yaitu, perasaan promosi diri, pemuliaan diri. Mereka tidak alami, mereka diciptakan oleh masyarakat dan budaya anda untuk membuat anda produktif dan membuat anda terkendali. Perasaan ini tidak menghasilkan kekayaan batin dan kebahagiaan yang dihasilkan ketika seseorang merenungkan alam atau menikmati kebersamaan dengan teman atau pekerjaannya. Mereka dimaksudkan untuk menghasilkan sensasi, kesenangan —dan kekosongan.

Kemudian amati diri anda dalam satu hari atau seminggu dan pikirkan berapa banyak tindakan anda yang dilakukan, berapa banyak aktivitas yang dilakukan yang tidak terkontaminasi oleh keinginan untuk sensasi ini, kesenangan yang hanya menghasilkan kekosongan, keinginan untuk perhatian, persetujuan , ketenaran, popularitas, kesuksesan atau kekuasaan. Dan lihatlah orang-orang di sekitar anda. Apakah ada satu pun dari mereka yang tidak kecanduan perasaan duniawi ini? Satu orang yang tidak dikendalikan dan lapar akan sensasi ini, menghabiskan setiap menit hidupnya secara sadar atau tidak sadar mencari sensasi ini? Ketika anda melihat ini, anda akan memahami bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan dunia dan, dalam prosesnya, kehilangan jiwa mereka. Karena mereka menjalani hidup yang kosong dan tanpa jiwa.

Dan ini ada perumpamaan hidup untuk anda renungkan: Sekelompok wisatawan duduk di dalam bis yang melewati negara yang sangat indah; danau dan gunung dan ladang hijau dan sungai. Tapi tabir jendela bis ditarik ke bawah. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang ada di balik jendela bis.

Dan sepanjang perjalanan mereka menghabiskan waktu untuk bertengkar tentang siapa yang akan mendapat kursi kehormatan di bis, siapa yang akan diberi tepuk tangan, siapa yang akan dipertimbangkan dengan baik. Dan mereka tetap seperti itu sampai akhir perjalanan.

— 0 —

BERSIAPLAH

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga – Matius 24:44

Cepat atau lambat muncul dalam hati setiap manusia kerinduan akan kekudusan, kerohanian, Tuhan, sebut saja sesukamu. Seseorang mendengar para rohaniawan berbicara tentang keilahian yang dapat kita raih, yang akan membuat hidup kita bermakna dan indah dan kaya, kalau saja kita dapat menemukannya. Orang-orang memiliki semacam gagasan yang kabur tentang apakah ini dan mereka membaca buku dan berkonsultasi dengan guru, dalam upaya untuk mencari tahu apa yang mereka harus lakukan untuk mendapatkan hal yang sulit dipahami ini yang disebut Kekudusan atau Spiritualitas. Mereka mengambil segala macam metode, tata-cara, latihan spiritual, rumusan; kemudian setelah bertahun-tahun berusaha tanpa hasil, mereka menjadi putus asa dan bingung dan bertanya-tanya apa yang salah. Kebanyakan mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Jika saja mereka berlatih tata-cara mereka lebih teratur, jika saja mereka lebih bersemangat atau lebih murah hati, mereka mungkin akan berhasil. Tapi keberhasilan apa? Mereka tidak memiliki gagasan yang jelas tentang apa sebenarnya kekudusan yang mereka cari ini, tetapi mereka tahu bahwa hidup mereka masih berantakan, mereka masih cemas dan merasa tidak aman dan takut, benci dan sulit mengampuni, menggenggam dan ambisius serta memperdaya orang lain. Jadi sekali lagi mereka memaksakan diri mereka dengan segenap kekuatan ke dalam usaha dan kerja yang mereka pikir dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka. 

Mereka tidak pernah berhenti sejenak untuk mempertimbangkan kenyataan sederhana ini: Usaha mereka tidak akan membawa apa-apa. Usaha mereka hanya akan memperburuk keadaan, karena keadaan menjadi lebih buruk ketika anda menggunakan api untuk memadamkan api. Usaha tidak mengarah pada pertumbuhan; usaha, apapun bentuknya, apakah itu kemauan keras atau kebiasaan atau tata-cara atau latihan spiritual, tidak membawa perubahan. Paling-paling itu menjurus pada pemaksaan dan penutup dari akar permasalahan.

Usaha dapat mengubah perilaku tetapi tidak mengubah orang tersebut. Coba pikirkan saja mentalitas seperti apa yang dikhianati ketika anda bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kekudusan?” Bukankah seperti bertanya, Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli sesuatu? Pengorbanan apa yang harus saya lakukan? Disiplin apa yang harus saya lakukan? Meditasi apa yang harus saya kerjakan untuk mendapatkannya? Pikirkan seorang pria yang ingin memenangkan cinta seorang wanita dan berusaha untuk meningkatkan penampilannya atau membangun tubuhnya atau mengubah perilakunya dan berlatih teknik untuk memikatnya. 

Anda benar-benar memenangkan cinta orang lain bukan dengan berlatih teknik tetapi dengan menjadi diri sendiri. Dan itu tidak pernah bisa dicapai melalui usaha dan tata-cara. Demikian pula dengan Spiritualitas dan Kekudusan. Bukan apa yang anda lakukan yang membawanya kepada anda. Ini bukan barang yang bisa dibeli atau hadiah yang bisa dimenangkan. Yang penting adalah siapa anda, menjadi apa anda.

Kekudusan bukanlah pencapaian, itu adalah Rahmah. Rahmat yang disebut Kesadaran, rahmat yang disebut Melihat, Mengamati, Memahami. Hanya ketika anda menyalakan lampu kesadaran dan mengamati diri sendiri dan segala sesuatu di sekitar anda sepanjang hari, hanya ketika anda melihat diri anda terpantul dalam cermin kesadaran seperti anda melihat wajah anda tercermin dalam kaca, secara akurat, jelas, persis seperti apa adanya tanpa pengaburan atau penambahan sedikit pun, dan ketika anda mengamati pantulan ini tanpa penilaian atau penghukuman, anda akan mengalami segala macam perubahan luar biasa yang terjadi di dalam diri anda. Hanya ketika anda tidak mengendalikan perubahan tersebut, atau merencanakannya sebelumnya, atau memutuskan bagaimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan. Hanya kesadaran yang tidak menghakimi inilah yang menyembuhkan dan mengubah serta membuat seseorang tumbuh. Namun dengan caranya sendiri dan pada waktunya sendiri.

Apa yang secara khusus harus Anda sadari? Reaksi anda dan hubungan anda. Setiap kali anda berada di hadapan seseorang, siapapun itu, atau dengan Alam atau dengan situasi tertentu, anda memiliki berbagai macam reaksi, positif dan negatif. Pelajari reaksi-reaksi itu, amati apa sebenarnya reaksi itu dan dari mana asalnya, tanpa menggurui atau rasa bersalah atau bahkan keinginan apa pun, apalagi usaha untuk mengubahnya. Hanya itu yang dibutuhkan seseorang agar kekudusan muncul. 

Tapi bukankah kesadaran itu sendiri adalah sebuah usaha? Tidak, jika anda pernah mencicipinya sekali saja. Karena dengan begitu anda akan memahami bahwa kesadaran adalah suatu kegembiraan, kegembiraan seorang anak kecil yang bergerak dengan takjub untuk menemukan dunia. Bahkan ketika kesadaran mengungkap hal-hal yang tidak menyenangkan dalam diri anda, itu tetap selalu membawa pembebasan dan kegembiraan. Kemudian Anda akan tahu bahwa hidup yang tanpa berkesadaran tidak layak untuk dijalani, terlalu penuh dengan kegelapan dan rasa sakit. 

Jika pada awalnya ada kelesuan dalam melatih kesadaran, jangan memaksakan diri. Itu akan menjadi usaha lagi. Sadarilah kelesuan anda dengan tanpa penghakiman atau penghukuman. Anda kemudian akan memahami bahwa kesadaran melibatkan usaha sebanyak yang dilakukan seorang pergi menemui kekasihnya, atau seseorang yang lapar memakan makanannya, atau seorang pendaki gunung mencapai puncak gunung yang didambakannya; begitu banyak tenaga yang dikeluarkan, bahkan begitu banyak kesulitan, tapi itu bukan usaha, itu adalah kegiatan yang menyenangkan! Dengan kata lain, kesadaran adalah kegiatan tanpa usaha.

Akankah kesadaran membawakan anda kekudusan yang anda dambakan? Bisa iya dan bisa tidak. Kenyatannya adalah anda tidak akan pernah tahu. Untuk kekudusan sejati, yang tidak dicapai melalui cara dan usaha dan pemaksaan; kekudusan sejati sepenuhnya tak-berkesadaran-diri. Anda tidak akan menyadari tentang keberadaannya di dalam diri anda. Selain itu anda tidak akan peduli, bahkan ambisi untuk menjadi kudus pun akan turun seiring anda menjalani hidup dari waktu ke waktu, hidup menjadi penuh dan bahagia dan tampak jelas melalui kesadaran. Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

— 0 —

Keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir diatas sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Pannavaro menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan di bawah ini).

Sarinya (45:30):

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

Boddington, 07 March 2022