Mind – Insubstantial and Omnipresent

Entah mengapa, saya menyukai babaran pendek ini, tetapi saya tidak tahu mengapa. Terdengar sangat mendalam. Mungkin hanya sekedar kata-kata filosofis yang enak didengar, atau mungkin berkeselarasan dengan sesuatu yang lebih dalam samar-samar terasa oleh saya. Sesuatu untuk saya renungkan…

Kutipan dibawah ini adalah dari Dilgo Khyentse Rinpoche (1910 – 28 September 1991) – seorang master Buddhisme Tibet, seorang cendekiawan, penyair, guru, dan diyakini sebagai salah satu guru yang telah tercerahkan. Beliau mengajar banyak guru terkemuka, termasuk Dalai Lama ke-14.

Segala yang kita persepsikan, semua fenomena di keseluruhan samsara dan nirvana, muncul semata-mata sebagai permainan dari kreativitas alami pikiran. ‘Kejernihan’ pikiran – penampakan fenomena yang jelas dari persepsi kita – adalah pancaran dari sifat hampa dari pikiran. Kehampaan adalah hakekat dari kejernihan, dan kejernihan adalah perwujudan dari kehampaan. Mereka tak terpisahkan.”

Pikiran, seperti pantulan bulan di permukaan danau yang tenang, tampak cemerlang, tetapi anda tidak dapat menggenggamnya. Ia hadir dengan jelas, namun pada saat yang sama sepenuhnya tak-berwujud. Dalam kesejatiannya, yang merupakan kesatuan tak terpisahkan dari kehampaan dan kejernihan, tidak ada yang dapat mengaburkannya dan ia tidak dapat merintangi apa pun, tidak seperti objek fisik, seperti batu, yang memiliki keberadaan fisik yang menempati ruang dan memisah dari objek lain. Pada intinya, pikiran tak-berwujud dan ada dimana-mana.”

Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche – The Hundred Verses of Advice – Collected Works Vol II halaman 459, Shambhala

— 0 —

For some reason, I like this short teaching, but I do not know why. It sounds so profound. Perhaps it is simply philosophical words that are pleasant to hear, or maybe it resonates with something more profound that I faintly feel within myself. It’s something for me to contemplate…

The quote below is from Dilgo Khyentse Rinpoche (1910 – 28 September 1991), a master of Tibetan Buddhism, scholar, poet, and teacher who is believed to be one of the enlightened masters. He taught many prominent teachers, including the 14th Dalai Lama.

“Everything we perceive, all phenomena throughout samsara and nirvana, arises simply as the play of the mind’s natural creativity. This ‘clarity’ of the mind – the distinct appearance of phenomena to our perception – is the radiance of the mind’s empty nature. Emptiness is the very essence of clarity, and clarity is the expression of emptiness. They are indivisible.”

“The mind, like a reflection of the moon in the still surface of a lake, is brilliantly apparent, but you cannot take hold of it. It is vividly present and at the same time utterly intangible. By its very nature, which is the indivisible union of emptiness and clarity, nothing can obscure it and it can obstruct nothing, unlike a solid object, such as a rock, with a physical presence occupying space and excluding other objects. In essence, the mind is insubstantial and omnipresent.”

Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche – The Hundred Verses of Advice – Collected Works Vol II p 459, Shambhala

Kearifan dari Masa Silam

Terakhir ini ada fenomena unik tentang biarawan Buddhist (bhikkhu) yang melakukan jalan kaki dari Thailand hingga Indonesia menempuh lebih dari 2.000 km ke Candi Borobudur untuk mengenapkan perayaan Waisak.

Laku spiritual Thudong ini sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu, diyakini sejak Abad 3 SM pada masa Kerajaan Raja Asoka di India – yang dikenal sangat toleran dan anti-kekerasan. Bhikkhu-bhikkhu Thudong ini bertekat melakukan latihan keras (Bahasa Pali: Dhutanga) lewat mengembara, bertapa, menyendiri, dan meditatisi untuk mencari pemahaman lebih dalam tentang ajaran Buddha. 

Ada 13 aturan laku pertapaan yang harus mereka patuhi – dengan bekal hanya jubah, kaos dan sandal. Mereka melakukan pertapaan dan pengembaraan di hutan-hutan untuk membersihkan kekotoran batin mereka (diantaranya keterikatan duniawi, kemarahan, kebodohan/ignorance) dan mengatasi rasa takut akan binatang buas, sakit, cidera fisik, dan mahluk tak-tampak di hutan.

Mereka hanya makan 1 kali sehari sebelum jam 12, dari pemberian orang sepanjang perjalanan. Yang juga unik, mereka tidur tidak merebah tapi duduk, sadar setiap saat hingga terlelap. Mereka juga bermalam di kuburan untuk membantu perenungan ketidak-kekalan. Konon ada yang bisa hidup berdampingan dengan binatang buas seperti harimau atau ular cobra selama perjalanan mereka. Itu diyakini sebagai kekuatan tekat dan kemampuan mereka memancarkan cinta kasih tak-berbatas kepada semua mahluk, sehingga binatang buas ini merasa nyaman dan tidak melihat mereka sebagai mangsa.

Dari perspektif ini, jalan kaki ribuan kilometer tentu sangat melelahkan apalagi ada diantara mereka yang cukup berumur, tapi mungkin tingkat kesulitannya tidak setinggi kalau di hutan belantara.  Mungkin juga karena keseimbangan batin lewat latihan meditasi menyisakan banyak energi.

Luar biasa sekali sambutan dan penerimaan dari masyarakat umum yang mayoritas saudara-saudara Muslim dan dari ormas-ormas Islam. Meski mereka tidak menharapkan sanjungan, sambutan hangat dan tulus, juga dukungan dari masyarakan tetap menyemangati dan mengharukan mereka.

Dari pemberitaan di media mainstream dan media sosial, seakan ini suatu fenomena yang dirindukan, tentang nilai tepo seliro dan ikut berbahagia dengan dengan kebahagiaan orang lain – yang seakan sudah memudar sekarang ini. Banyak yang terharu dan melihat sikap spontanitas masyarakat yang begitu ramah dan membantu adalah pancaran nilai kearifan lokal dan budi luhur yang terus terjaga.

Mungkin penampilan para bhikkhu yang unik dan bersahaja dalam laku spiritual menghubungkan mereka dengan gambaran nilai-nilai spiritual dari masa silam yang masih mengakar dalam sanubari mereka – peradaban besar masa silam yang meninggalkan situs-situs dan karya adiluhung seperti Prambanan, Borobudur, Mendut, dll., dan juga tutur Kisah Mahabharata yang semuanya bersinkretis menjadi khas nilai kearifan Nusantara.

Di masa silan, ada Mpu Tantular, seorang penyair buddhis yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit di Abad 14, menuliskan satu untaian kata indah penuh kasih dan tolerasi dalam syair/kekawin Sutasoma, Bhinneka Tunggal Ika – Satu Dalam Keberagaman – semboyan yang diusulkan oleh Mohammad Yamin untuk menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Melihat semua ini, harapan untuk Indonesia yang lebih toleran terhadap keberagaman dan kehidupan yang lebih damai semakin besar. Semoga🙏

Selamat Trisuci Waisak 2567.

Semoga berkah kedamaian dan kebahagian melimpah kepada semua 🙏🙏🙏

Perth, 02 June 2023

Beberapa tautan berita perjalanan mereka.

The Way to Love – Anthony de Mello

Meski sering mendengar namanya sejak lama, baru kali ini saya membaca buku terakhirnya, The Way to Love. Saya beli buku elektroniknya di akhir Desember 2021. Ini berkat anjuran teman dekat saya yang sama-sama meminati hal-hal yang berkaitan dengan pengenalan ke dalam diri. Teman saya ini, yang seorang Katolik, pengagum berat Anthony de Mello.

Anthony de Mello adalah seorang pastor Katolik dari Ordo Jesuit (Society of Jesus – Societas Iesu – SJ) yang cukup kontroversial dengan pandangan dan ajarannya di kalangan umat Katolik sendiri. Kelihatannya pendangan spiritual beliau sangat dipengaruhi spiritualitas ketimuran tempat beliau berasal, yaitu India – spiritualitas yang berakar pada kebenaran universal.

Saya belum baca habis bukunya. Lebih tepatnya, saya baru baca dua tulisannya, yaitu tulisan pertama: Laba Rugi; dan yang terakhir: Bersiaplah. Dan saya terjemahkan keduanya disini.

Kedua-dua tulisannya sangat mencerahkan, dan saya tidak bisa membayangkan kedalaman batin penulisnya, mungkin sudah tidak berdasar…

Karena saya membaca berulang-ulang kedua tulisan ini, makanya saya belum juga selesai membaca bukunya 🙂

Laba Rugi, tentang secuil pengalaman spiritual akan kebahagiaan yang sederhana dan hakiki yang bersumber dari pelepasan akan kemelekatan pada keinginan duniawi yang sering mengombang-ambingkan kita. Anthony dapat menyampaikannya dengan perbandingan yang begitu sederhana dan lugas.

Bersiaplah, tentang pengalaman kekudusan atau kesucian ‘puncak’ yang telah mengatasi dualisme dan telah berakhirnya keinginan…

Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

Anthony de Mello

Saya merasa paparan tentang keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir (Bersiaplah) Anthony de Mello sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Sri Pannavaro Mahathera menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan diakhir tulisan ini).

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Bhante Sri Pannavaro Mahathera

Beliau menambahkan:

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

— 0 —

LABA RUGI

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya? – Matius 16:26

Coba ingat jenis perasaan yang anda rasakan ketika seseorang memuji anda, ketika anda disetujui, diterima, dan dipuji. Dan bandingkan itu dengan jenis perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda melihat matahari terbenam atau matahari terbit atau fenomena alam pada umumnya, atau ketika anda membaca buku atau menonton film yang benar-benar anda nikmati. Dapatkan rasa dari perasaan ini dan bandingkan dengan yang pertama, yaitu perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda dipuji. Pahamilah bahwa jenis perasaan pertama berasal dari pemuliaan diri, promosi diri. Ini adalah perasaan duniawi. Yang kedua datang dari kelimpahan diri, perasaan dalam jiwa.

Ini ada kontras lainnya: Ingat jenis perasaan yang anda miliki ketika anda berhasil, ketika anda selesai mengerjakan sesuatu, ketika anda mencapai puncak, ketika anda memenangkan permainan atau taruhan atau perdebatan. Dan bandingkan dengan jenis perasaan yang anda dapatkan ketika anda benar-benar menikmati pekerjaan yang anda lakukan, anda menikmati tindakan yang anda lakukan saat ini. Dan sekali lagi perhatikan perbedaan kualitatif antara perasaan duniawi dan perasaan jiwa.

Kontras lainnya: Ingat apa yang anda rasakan ketika anda memiliki kekuasaan, anda adalah bos, orang-orang memandang anda, menerima perintah dari anda; atau ketika anda terkenal. Dan bandingkan perasaan duniawi itu dengan perasaan keintiman, persahabatan—saat-saat anda benar-benar menikmati diri sendiri bersama teman atau dengan kelompok di mana ada keceriaan dan canda.

Setelah melakukan ini, cobalah untuk memahami sifat sebenarnya dari perasaan duniawi, yaitu, perasaan promosi diri, pemuliaan diri. Mereka tidak alami, mereka diciptakan oleh masyarakat dan budaya anda untuk membuat anda produktif dan membuat anda terkendali. Perasaan ini tidak menghasilkan kekayaan batin dan kebahagiaan yang dihasilkan ketika seseorang merenungkan alam atau menikmati kebersamaan dengan teman atau pekerjaannya. Mereka dimaksudkan untuk menghasilkan sensasi, kesenangan —dan kekosongan.

Kemudian amati diri anda dalam satu hari atau seminggu dan pikirkan berapa banyak tindakan anda yang dilakukan, berapa banyak aktivitas yang dilakukan yang tidak terkontaminasi oleh keinginan untuk sensasi ini, kesenangan yang hanya menghasilkan kekosongan, keinginan untuk perhatian, persetujuan , ketenaran, popularitas, kesuksesan atau kekuasaan. Dan lihatlah orang-orang di sekitar anda. Apakah ada satu pun dari mereka yang tidak kecanduan perasaan duniawi ini? Satu orang yang tidak dikendalikan dan lapar akan sensasi ini, menghabiskan setiap menit hidupnya secara sadar atau tidak sadar mencari sensasi ini? Ketika anda melihat ini, anda akan memahami bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan dunia dan, dalam prosesnya, kehilangan jiwa mereka. Karena mereka menjalani hidup yang kosong dan tanpa jiwa.

Dan ini ada perumpamaan hidup untuk anda renungkan: Sekelompok wisatawan duduk di dalam bis yang melewati negara yang sangat indah; danau dan gunung dan ladang hijau dan sungai. Tapi tabir jendela bis ditarik ke bawah. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang ada di balik jendela bis.

Dan sepanjang perjalanan mereka menghabiskan waktu untuk bertengkar tentang siapa yang akan mendapat kursi kehormatan di bis, siapa yang akan diberi tepuk tangan, siapa yang akan dipertimbangkan dengan baik. Dan mereka tetap seperti itu sampai akhir perjalanan.

— 0 —

BERSIAPLAH

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga – Matius 24:44

Cepat atau lambat muncul dalam hati setiap manusia kerinduan akan kekudusan, kerohanian, Tuhan, sebut saja sesukamu. Seseorang mendengar para rohaniawan berbicara tentang keilahian yang dapat kita raih, yang akan membuat hidup kita bermakna dan indah dan kaya, kalau saja kita dapat menemukannya. Orang-orang memiliki semacam gagasan yang kabur tentang apakah ini dan mereka membaca buku dan berkonsultasi dengan guru, dalam upaya untuk mencari tahu apa yang mereka harus lakukan untuk mendapatkan hal yang sulit dipahami ini yang disebut Kekudusan atau Spiritualitas. Mereka mengambil segala macam metode, tata-cara, latihan spiritual, rumusan; kemudian setelah bertahun-tahun berusaha tanpa hasil, mereka menjadi putus asa dan bingung dan bertanya-tanya apa yang salah. Kebanyakan mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Jika saja mereka berlatih tata-cara mereka lebih teratur, jika saja mereka lebih bersemangat atau lebih murah hati, mereka mungkin akan berhasil. Tapi keberhasilan apa? Mereka tidak memiliki gagasan yang jelas tentang apa sebenarnya kekudusan yang mereka cari ini, tetapi mereka tahu bahwa hidup mereka masih berantakan, mereka masih cemas dan merasa tidak aman dan takut, benci dan sulit mengampuni, menggenggam dan ambisius serta memperdaya orang lain. Jadi sekali lagi mereka memaksakan diri mereka dengan segenap kekuatan ke dalam usaha dan kerja yang mereka pikir dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka. 

Mereka tidak pernah berhenti sejenak untuk mempertimbangkan kenyataan sederhana ini: Usaha mereka tidak akan membawa apa-apa. Usaha mereka hanya akan memperburuk keadaan, karena keadaan menjadi lebih buruk ketika anda menggunakan api untuk memadamkan api. Usaha tidak mengarah pada pertumbuhan; usaha, apapun bentuknya, apakah itu kemauan keras atau kebiasaan atau tata-cara atau latihan spiritual, tidak membawa perubahan. Paling-paling itu menjurus pada pemaksaan dan penutup dari akar permasalahan.

Usaha dapat mengubah perilaku tetapi tidak mengubah orang tersebut. Coba pikirkan saja mentalitas seperti apa yang dikhianati ketika anda bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kekudusan?” Bukankah seperti bertanya, Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli sesuatu? Pengorbanan apa yang harus saya lakukan? Disiplin apa yang harus saya lakukan? Meditasi apa yang harus saya kerjakan untuk mendapatkannya? Pikirkan seorang pria yang ingin memenangkan cinta seorang wanita dan berusaha untuk meningkatkan penampilannya atau membangun tubuhnya atau mengubah perilakunya dan berlatih teknik untuk memikatnya. 

Anda benar-benar memenangkan cinta orang lain bukan dengan berlatih teknik tetapi dengan menjadi diri sendiri. Dan itu tidak pernah bisa dicapai melalui usaha dan tata-cara. Demikian pula dengan Spiritualitas dan Kekudusan. Bukan apa yang anda lakukan yang membawanya kepada anda. Ini bukan barang yang bisa dibeli atau hadiah yang bisa dimenangkan. Yang penting adalah siapa anda, menjadi apa anda.

Kekudusan bukanlah pencapaian, itu adalah Rahmah. Rahmat yang disebut Kesadaran, rahmat yang disebut Melihat, Mengamati, Memahami. Hanya ketika anda menyalakan lampu kesadaran dan mengamati diri sendiri dan segala sesuatu di sekitar anda sepanjang hari, hanya ketika anda melihat diri anda terpantul dalam cermin kesadaran seperti anda melihat wajah anda tercermin dalam kaca, secara akurat, jelas, persis seperti apa adanya tanpa pengaburan atau penambahan sedikit pun, dan ketika anda mengamati pantulan ini tanpa penilaian atau penghukuman, anda akan mengalami segala macam perubahan luar biasa yang terjadi di dalam diri anda. Hanya ketika anda tidak mengendalikan perubahan tersebut, atau merencanakannya sebelumnya, atau memutuskan bagaimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan. Hanya kesadaran yang tidak menghakimi inilah yang menyembuhkan dan mengubah serta membuat seseorang tumbuh. Namun dengan caranya sendiri dan pada waktunya sendiri.

Apa yang secara khusus harus Anda sadari? Reaksi anda dan hubungan anda. Setiap kali anda berada di hadapan seseorang, siapapun itu, atau dengan Alam atau dengan situasi tertentu, anda memiliki berbagai macam reaksi, positif dan negatif. Pelajari reaksi-reaksi itu, amati apa sebenarnya reaksi itu dan dari mana asalnya, tanpa menggurui atau rasa bersalah atau bahkan keinginan apa pun, apalagi usaha untuk mengubahnya. Hanya itu yang dibutuhkan seseorang agar kekudusan muncul. 

Tapi bukankah kesadaran itu sendiri adalah sebuah usaha? Tidak, jika anda pernah mencicipinya sekali saja. Karena dengan begitu anda akan memahami bahwa kesadaran adalah suatu kegembiraan, kegembiraan seorang anak kecil yang bergerak dengan takjub untuk menemukan dunia. Bahkan ketika kesadaran mengungkap hal-hal yang tidak menyenangkan dalam diri anda, itu tetap selalu membawa pembebasan dan kegembiraan. Kemudian Anda akan tahu bahwa hidup yang tanpa berkesadaran tidak layak untuk dijalani, terlalu penuh dengan kegelapan dan rasa sakit. 

Jika pada awalnya ada kelesuan dalam melatih kesadaran, jangan memaksakan diri. Itu akan menjadi usaha lagi. Sadarilah kelesuan anda dengan tanpa penghakiman atau penghukuman. Anda kemudian akan memahami bahwa kesadaran melibatkan usaha sebanyak yang dilakukan seorang pergi menemui kekasihnya, atau seseorang yang lapar memakan makanannya, atau seorang pendaki gunung mencapai puncak gunung yang didambakannya; begitu banyak tenaga yang dikeluarkan, bahkan begitu banyak kesulitan, tapi itu bukan usaha, itu adalah kegiatan yang menyenangkan! Dengan kata lain, kesadaran adalah kegiatan tanpa usaha.

Akankah kesadaran membawakan anda kekudusan yang anda dambakan? Bisa iya dan bisa tidak. Kenyatannya adalah anda tidak akan pernah tahu. Untuk kekudusan sejati, yang tidak dicapai melalui cara dan usaha dan pemaksaan; kekudusan sejati sepenuhnya tak-berkesadaran-diri. Anda tidak akan menyadari tentang keberadaannya di dalam diri anda. Selain itu anda tidak akan peduli, bahkan ambisi untuk menjadi kudus pun akan turun seiring anda menjalani hidup dari waktu ke waktu, hidup menjadi penuh dan bahagia dan tampak jelas melalui kesadaran. Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

— 0 —

Keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir diatas sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Pannavaro menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan di bawah ini).

Sarinya (45:30):

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

Boddington, 07 March 2022

Penerbangan JG-000

Bukan Ajahn Brahm kalau tidak membawa sesuatu atau memfasilitasi ide-ide kreatif yang out-of-the-box. Atas ide Bhante Bodhidhaja, video tentang meditasi yang analogikan dengan pesan keselamatan dalam penerbangan yang selalu kita dengar dari kru kabin sebelum tinggal landas. Bhante ada sebutan untuk biarawan Buddhis. Video ini menjadi kocak dan menghibur, dan pada saat yang sama dengan akurat menerangkan prinsip-perinsip meditasi.

Code penerbangan ‘JG-000’ jelas mengacu pada Jhana Grove, kompleks pusat meditasi di Serpentine, Australia Barat yang di kelola oleh Ajahn Brahm. Saya beruntung sempat mengikuti retret meditasi 9 hari yang diajarkan oleh beliau pada pertengahan tahun 2018. Nomor penerbangan ‘000’ kemungkinan mengacu pada pelepasan, kesunyataan, atau sejenisnya.

Video dimulai dengan pesan dari kapten Awakening Air dari ruang kemudi.

‘Ini kapten anda Ajahn Brahm berbicara, Awakening Air mengucapkan selamat datang dalam penerbangan JG000 yang tidak kemana-mana. Kita akan mengarungi kebebasan, keheningan, dan kedamaian.’

Pesan-pesan berikutnya yang diselaraskan dengan panduan meditasi dibuat sangat kreatif dan menghibur, beberapa diantaranya:

‘Pada saat masuk kedalam pesawat, mohon jangan membawa koper masa lalu anda, tinggallah di masa lalu sebagaimana seharusnya’.

‘Juga jangan membawa tas penuh dengan ‘ketakutan dan harapan’ bersama anda kedalam kabin pesawat, karena akan mengacaukan pikiranmu dan memperlambat proses masuk kedalam pesawat’.

Pada saat tanda ‘kelembutan’ dinyalakan, kembalilah pada ‘saat kini – present moment’, cobalah santai, lingkupi anda dengan kelembutan dan kebaikan’.

Sangat menarik, kreatifitas mereka menampilan Inter-Tainment – program hiburan dalam pesawat, peragaan-peragaan ala kadarnya yang diperankan oleh pengunjung yang sering saya lihat saat berkunjung kesana, dan juga saat keadaan ’emergency’ pendaratan di air.

Dan pernyataan di akhir menunjukkan betapa moderatnya pesan keselamatan perjalanan ‘penerbangan’ ini:

On behalf of the whole crew we thank you for not choosing Awakening Air but rather slowly conditioned by Kamma, your teachers and spiritual friends to come along for the ride. We wish you a pleasant journey.

Atas nama seluruh kru, kami mengucapkan terimakasih karena tidak memilih terbang bersama ‘Awakening Air’ tetapi lebih memilih secara perlahan dikondisikan oleh karma, guru dan kawan spiritual anda dalam mengarungi perjalanan ini. Semoga perjalanan anda menyenangkan.

Awakening Air

Dibawah ini adalah tautan videonya. Selamat menikmati.

Perth, 9 May 2021

Mengatasi Lima Rintangan

Master Shi Heng Yi menjelaskan dengan lugas lima rintangan untuk meraih suatu pencapaian dalam kehidupan. Rintangan-rintangan ini dikenal dalam latihan meditasi atau latihan spiritual secara umum, yang kelihatannya cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lima rintangan tersebut adalah kesenangan indrawi (kama-chanda), niat buruk (byapada), kemalasan (thina-middha), kegelisahan dan penyesalan (uddhacca-kukucca) dan keragu-raguan (vicikiccha). Yang disebutkan dalam kurung adalah bahasa Pali.

Master atau Suhu adalah sebutan untuk biarawan buddhis dari tradisi Mahayana di China. Master Shi Heng Yi dari biara Shaolin yang masih muda ini berbicara di forum TED, satu forum yang memfasilitasi penyampaian ‘ide-ide yang bermanfaat dan layak disebarkan’ dari komunitas setempat di seluruh dunia.

Master Shi Heng Yi yang lahir di Jerman menamatkan perguruan tinggi dengan dua gelar kesarjanaan, dan menjalani kehidupan layaknya pemuda lain. Dari apa yang dia pelajari, dia memahami banyak hal, bagaimana planet bekerja, apa unsur-unsur suatu atom, dan bagaimana sistim politik berfungsi, tapi dia merasa ada satu mata pelajaran yang kurang, yaitu belajar tentang dirinya sendiri.

Dia sudah dikenalkan dengan kehidupan monastik (biara) sejak usia yang sangat diri, 4 tahun. Di kemudian hari dia mendapati bahwa bagian utama dari latihan dalam kehidupan monastik adalah untuk belajar dan menemukan diri sendiri. Dia akhirnya memilih menjalani kehidupan monastik di biara Shaolin dan berlatih ilmu beladiri kungfu. Biara Shaolin dikenal dengan pelatihan spiritual yang ketat dan pengajaran ketangkasan ilmu beladiri yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Dibawah ini adalah tautan dari sesi paparannya untuk komunitas TED.

Rasanya cukup logis bahwa lima rintangan juga cukup relevan dengan kehidupan awam, merintangi pencapaian di banyak aspek kehidupan. Master Shi Heng Yi menggambarkannya dengan apik lewat perumpamaan keinginan seseorang untuk mendaki gunung dan bagaimana semua pengetahuan yang didapat dari orang lain hanyalah sebagai petunjuk jalan tapi tidak bisa membawa kita sampai ke puncak. Dan penunjuk tersebut tidak akan bisa memberikan penjelasan bagaimana rasanya berada sendiri dipuncak. Juga penjelasan tentang bagaimana lima rintangan tersebut bermanifetasi dalam konteks perumpamaan mendaki gunung tersebut. Semua rintangan ini berakar dari keadaan pikiran (state of mind).

Kesenangan indriawi muncul saat perhatian tertumpu pada kesan yang menyenangkan yang masuk lewat 5 pintu indera sehingga menimbulkan keterikatan. Sementara niat buruk muncul saat pikiran tertumpu pada perasaan negatif yang menumbulkan penolakan. Kemalasan diartikan sebagai tubuh yang enggan bergerak dan pikiran yang tumpul yang ditandai dengan kelesuan jasmani, hilangnya motivasi hingga depresi. Kegelisahan artinya pikiran tidak bisa diajak untuk berada di saat kini, selalu berkeliaran menyesali masa lalu dan menghawatirkan masa depan, dibaratkan dengan monyet yang tidak bisa diam yang melompat dari satu dahan ke dahan yang lain terus menerus sehingga tidak ada kesempatan untuk melihat segala sesuatu dengan jelas sebagaimana apa adanya. Keragu-raguan diartikan sebagai ketidak-yakinan pada jalan yang ditempuh yang diindikasikan dengan ketidak-mampuan mengambil keputusan jalan yang harus ditempuh. Semua rintangan ini berpotensi menghentikan usaha untuk mencapai tujuan.

Yang mungkin lebih menarik adalah paparan tentang cara mengatasinya rintangan-rintangan tersebut, yang tidak begitu lazim dipahami karena berlatarbelakang latihan spiritual. Cara mengatasi rintangan-rintangan tersebut disebutkan ada 4 yaitu: kenali (recognize), terima (accept), cari tahu (investigate), dan tidak mengasosiasikan diri (non-identify). Karena semua rintangan ini berakar dari kedaaan pikiran, maka cara mengatasinya pun berhubungan dengan pematangan batin.

Pertama, kenali atau sadari keadaan batin kita saat menghadapi rintangan tersebut. Kedua, belajar menerima dan mengenali keadaan atau seseorang sebagaimana dia apa adanya. Kemudian cari tahu dan pahami bagaimana keadaan pikiran dan perasaan, dan bertanya pada diri sendiri mengapa keadaan pikiran dan perasaan ini muncul dan apa akibatnya kalau tetap berada dalam keadaan pikiran atau perasaan tersebut. Yang terakhir adalah tidak mengasosiasikan diri sebagai sesuatu yang bukan bagian dari diri. Aku bukanlah tubuh ini, aku bukanlah pikiran ini, dan aku bukanlah perasaan ini. Hanya dengan cara ini kita bisa melihat ‘aku’ yang sebenarnya. Yang terakhir ini adalah salah satu aspek dari latihan meditasi untuk melihat ‘aku’ yang sebenarnya, yang katanya ‘kosong’ itu…

Sebagai penutup, Master Shi Heng Yi menyampaikan:

Seluruh kehidupan kita terlalu unik untuk hanya meniru masa lalu orang lain agar memberi arti dalam hidupmu, untuk membawa nilai dalam hidupmu. Kamu perlu belajar dan memahami dirimu sendiri dan tidak membiarkan rintangan-rintangan ini menghentikanmu. Jika ada diantara kalian yang memilih menapaki jalan untuk melihat kecerahan (di puncak), saya akan dengan sangat senang hati menemui anda di puncak itu.

Master Shi Heng Yi
ada dua kesalahan dalam menapaki jalan pencapaian: tidak memulainya dan tidak menyelesaikannya

Di bawah ini satu tautan filem dokumenter tentang biara Shaolin Eropah, di Jerman, tempat dimana Master Shi Heng Yi bermukim, berlatih, dan mengajar murid-muridnya. Suasana sekitar yang damai, tenang, dan asri di sekeliling biara sangat menyejukkan hati…

Perth, 25 July 2020.

Stay Strong – Tetap Kuat

Saya tahu salah satu kegiatan peduli penderita kanker oleh Yayasan Ehipassiko dengan program Stay Strong, tetapi saya tidak tahu kalau pencetus dan penggeraknya, Yin Natadhita adalah seorang yang sembuh dari kanker (cancer survivor). Yin adalah istri dari teman yang saya kenal baik Handaka Vijjananda, pendiri Yayasan Ehipassiko (https://ehipassiko.or.id). Saya baru tahu dari membaca e-book yang diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko, Stay Strong – Aku Hidup dengan Kanker.

Yin dengan bukunya

Membaca buku Yin, saya menyadari begitu teguh dan melepasnya seorang Yin dan Handaka saat Yin menjalani masa-masa sulit tersebut hidup dengan kanker lidah. Saya tahu persis bagaimana sulitnya masa-masa seperti itu. Salah satu adik kandung saya sendiri adalah seorang mantan penderita kanker dan melewati masa sulit yang panjang berobat yang sangat menguras fisik, mental dan finansial. Sangat bersyukur semuanya dapat dilewati dengan baik.

Judul ‘Saya Hidup dengan Kanker’ pun menyiratkan keteguhan penyandangnya bahwa dia tidak mengingkari kenyataan tapi ‘hidup dengan’ kenyataan itu.

Buku dengan design grafis yang ringan dan segar yang ditulis dengan bahasa yang jernih dan santai, lengkap dengan informasi gejala, proses diagnosa, fase-fase perkembangan kanker yang dialami dan proses pengobatannya. Kekuatan utama tulisan dalam buku ini adalah pola pandang dan sikap mental seorang Yin melihat kenyataan yang dihadapi, dan semangat dalam menjalani pengobatan – yang sangat menginspirasi. Pola pandang dan sikap mental ini rasanya akan banyak membantu untuk lebih realistis dan dapat mengambil tindakan yang lebih logis. Saya cukup yakin ini sangat tidak mudah, dan butuh banyak perenungan, ketegaran dan pelepasan selama menjalani masa-masa sulit itu.

Biasanya cerita tentang kanker memberi kesan mengerikan dan meyedihkan. Namun Yin bisa begitu ringan dan mengalir menceritakan pengalamannya, cerita termasuk makan durian musang king sehari setelah dioperasi bersama sahabatnya. Ilustrasi apik dan lucu juga berperan menghilangkan kesan seram.

Banyak ungkapan atau kutipan dalam buku ini yang melukiskan betapa kematangan batin seseorang membantu melewati masa-masa sulit ini.

Why me? (kenapa harus saya?) Why not? (kenapa tidak?)

This too will pass… (Inipun akan berlalu…)

Sering dikatakan bahwa pengalaman akan penderitaan yang dalam adalah bagian dari perjalanan spiritual yang dapat mentransformasi batin seseorang ‘tercerahkan’ lewat perenungan di keheningan batin yang dalam atau lewat jalan kebenaran religius yang diyakini, dan biasanya orang tersebut menjadi lebih melepas, lapang, bahagia, dan bijak. Rasanya, Yin dan Handaka telah menyelami itu semua.

Kanker telah membuatku menjadi lebih berani, lebih tabah, lebih bijak. Lebih berani menikmati hidup dan lebih berani memberi. Aku tidak biarkan ketakutan menguasaiku. Kalau tidak kambuh, aku syukuri. Kalau kambuh, aku hadapi dengan tabah. Aku menjadi lebih tidak memusingkan kerisauan remeh. Kanker membuatku lebih bisa melihat, mana yang betul-betul penting dan mana yang sebaiknya diabaikan.

Yin Natadhita

Buku ini akan dapat membantu yang sedang hidup dengan kanker, yang telah sembuh, dan keluarganya akan apa yang sebaiknya dilakukan pada masa sulit tersebut, serta menginspirasi untuk tetap semangat, menerima, tabah sekaligus kuat menjalani apa yang dialami – terlepas dari apapun hasil akhirnya. Dan menginspirasi mereka yang beruntung tidak harus hidup dengan kanker untuk bersyukur dalam menjalani hidup mereka, dan kalau ada kebercukupan bisa ikut membantu sesama yang kurang beruntung.

Buku yang ditulis dibagikan secara cuma-cuma agar dapat bermanfaat bagi orang banyak. Untuk bisa menyelami, ada baiknya baca langsung bukunya.

Bukunya dapat diunduh dan dibagikan secara cuma-cuma di tautan berikut ini:

https://drive.google.com/file/d/1DAcfpSzVGOhdT9l7HztQBKykXuiVow2h/view

Tidak hanya membagi pengalaman dan inspirasi, Yin bersama tim relawan dan dermawan menggerakkan satu program Cancer Care lewat Ehipassiko Foundation untuk memberikan bantuan rutin berupa dana, suplemen, pendampingan, dan panduan meditasi kepada penderita kanker yang tak mampu, serta beasiswa bagi anaknya. Sejak 2013, para relawan Cancer Care telah melayani banyak penderita kanker dari anak sampai manula di berbagai desa dan kota di Indonesia. (https://ehipassiko.or.id/cancer-care/)

Saya turut berbahagia dengan kesembuhan dan kedewasaan batin yang diraih oleh Yin dan juga Handaka, serta kagum dan hormat dengan usaha mereka untuk memberi dan pengabdian untuk membantu sesama. Sungguh bermanfaat dan menginspirasi…

— o —

Catatan Tambahan 13 Juli 2020:

Pada tanggal 13 Juli 2020, saya menghubungi Handaka setelah saya mengetahui bahwa Yin harus kembali meneruskan perawatan karena ditemukan ada penyebaran dan telah menjalankan operasi ke tiga. Seperti biasa kami chat dengan hangat di WA. Yin pun terlihat semangat menjalani perawataan dan tetap ceria berbagi cerita lewat Facebooknya. Semangat, ketabahan, dan ketenangan yang mencerminkan kwalitas dan kedewasaan batin yang dalam…

Sejak itu Yin dan Handaka sering mengisi diskusi online berbagi pengalaman dan menginspirasi di dalam komunitas Ehipassiko Foundation maupun lintas komunitas dengan teman-teman Zen misalnya, dan berdiskusi dhamma yang dalam termasuk studi Tripitaka dimana Handaka sedang mengerjakan penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Saya sempat mengikuti beberapa diantaranya.

Berikut adalah salah satu yang saya ikuti, dipandu tengan Saudara Agus Santoso – ketua Chan Indonesia, Fu Yin berbagi cerita dan pengalamannya. Keteguhan dan kematangan batin seorang Fu Yin sangat menginspirasi…

— 0 —

Tanggal 28 December 2020, saya mendapat kabar dari adik saya bahwa Yin telah pergi meninggal dunia ini pada hari itu. Saya menghubungi Handaka lewat pesan tertulis tanpa ingin mengganggu kekhusukan dia untuk dirinya dan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang tentu akan cukup melelahkan.

Pada tanggal 04 Januari 2021, dari Ehipassiko saya menerima buku Stay Strong – Grand Finale, dengan tambahan catatan penutup dari Handaka. Buku ini dipersembahkan sebagai Legacy of Love (Warisan Kasih) dari Fu Yin Natadhita.

Semoga kekuatan persahabatan dalam kebajikan dan kasih ini turut mengantar sis Fu Yin Natadhita menapaki jalan menuju kebahagiaan tertinggi…

“Apa pun yang datang dalam hidup, aku sambut”

Yin Natadhita 1984 – 2020

— 0 —

Catatan tambahan 21 Maret 2021

Handaka yang mengasuh program Studi Sutta (Kitab Ajaran Buddha) berbagi pengetahuan dan pembelajarannya tentang detik-detik menjelang ajal dan bagaimana baiknya mengantar yang berangkat. Handaka berbagi dan bercerita dengan keceriaan, ketenangan, keteguhan dan keseimbangan batin yang sangat mengagumkan – mengingat ini adalah kisah pribadi; ditambah kedalaman pengetahuannya dalam memaparkan sutta-sutta yang berkaitan topik ini – sungguh luar biasa dan sangat mencerahkan. Berikut ini adalah tautannya di Youtube.

Kurang dari 3 bulan kemudian, 21 Maret 2021, Yayasan Ehipassiko memfasilitasi dua dharma talk sekaligus sebagai pelimpahan jasa bagi Fu Yin, sesuatu yang begitu indah dilakukan oleh orang-orang yang mencintainya.

Di bawah ini adalah tautannya di Youtube, dua dhamma talk yang sangat mencerahkan dari Ajahn Brahm dan salah satu murid utamanya, Ajahn Brahmali yang diikuti oleh lebih dari 2000 orang secara online lewat Zoom dan Youtube – tentang bagaimana melihat kehidupan ini sebagaimana adanya dan bagaimana sikap batin yang benar menyikapi fenomena kehidupan ini. Acara dibuka dengan apik oleh Handaka, dimoderatori dengan sangat baik oleh Kartika, dan diterjemahkan oleh Tasfan dengan ketepatan yang luar biasa.

Ehipassiko juga menerbitkan serial kartun ‘Uncle Singlet – Kopitiam Zen’ yang menampilkan tokoh Uncle Singlet yang merupakan personifikasi dari Handaka dalam menyampaikan wejangan-wejangan bijak – salah satu yang dicita-citakan oleh Yin…

— 0 —

Sahabat dalam Kebajikan ~ Kalyāṇamitta

Saya mengenal Handaka sekitar tahun 2006. Dia mungkin 4 atau 5 tahun lebih muda dari saya. Waktu itu dia bekerja sebagai country manager untuk Myanmar dari satu perusahaan farmasi Indonesia. Saya masih bekerja di satu tambang emas di Sepon, pedalaman Laos. Saya sudah lupa bagaimana kami berkenalan. Kalau tidak salah dari korespondensi ketertarikan menerjemahkan beberapa buku buddhis ke dalam bahasa Indonesia. Kami janjian bertemu di Bangkok saat saya rotasi kerja dalam roster flying-in/flying-out dari Indonesia dan bermalam di Bangkok sebelum menuju ke Laos lewat Ubon Ratchathani dan Mukdahan, menyeberang ke Savannakhet di Laos dan menuju ke lokasi tambang di Sepon. Sementara Handaka dalam perjalanan pulang dari Myanmar ke Indonesia dan mampir di Bangkok. Kami bertemu di hotel tempat saya menginap. Pertama kali kami bertemu dan mengobrol sampai menjelang subuh. Setelah itu kami berpisah.

Saya hanya sempat membantu menerjemahkan satu buku, kalau tidak salah buku Vipassana Meditation karangan seorang mpu meditasi dari Myanmar – Mahasi Sayadaw, yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko.

Sekitar tahun-tahun segitu Yayasan Ehipassiko mulai dirintis oleh Handaka, yang sekarang menjadi penerbit buku-buku buddhis terbesar di Indonesia beserta banyak program sosial lain yang digerakkan oleh banyak relawan dan dermawan, diantaranya untuk abdi desa, beasiswa, kasihan binatang, dan peduli penderita kanker, bakti sosial lintas agama, juga termasuk menyelenggarakan kunjungan tahunan Ajahn Brahm ke Indonesia.

Pertama kali saya menghubungi Handaka kembali di tahun 2016 setelah kurang lebih 10 tahun tidak saling berhubungan. Saat itu satu tahun peringatan wafatnya ibu saya. Sewaktu di Perth, saya memohon kepada Ajahn Brahm untuk bersedia melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang ibu saya. Beliau malah menawarkan untuk melakukannya di Pangkalpinang saat kunjungan beliau ke sana bertepatan dengan hari peringatan 1 tahun dan menganjurkan saya menghubungi Handaka. Ketika saya hubungi hanya lewat text, tanpa keraguan Handaka langsung mengiyakan permintaan bantuan saya dan terus berkoordinasi dengan tim panitianya di Pangkalpinang dalam waktu yang sangat dekat untuk meluangkan waktu Ajahn Brahm di tengah talkshow untuk melakukan kegiatan doa ini.

Saya sangat beruntung mendapat kesempatan yang langka ini.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/a-year-of-passing/10154091132429035/

Itu pertama kali saya bertemu dengan Yin, di Pangkalpinang di tahun 2016. Yin kebetulan punya orang tua berasal dari Bangka, tepatnya dari Jebus (Nampong). Pertemuan berikutnya dengan Handaka dan Yin di retret meditasi dan acara ulang tahun Ajahn Brahm dimana Handaka membawa rombongan dari Indonesia pada tahun 2017 dan juga tahun 2018 di Perth, Australia Barat. Saya tidak ikut lagi kegiatan tahun berikutnya karena tugas kerja di Ghana, Afrika.

Kami memang jarang bertemu, tapi hangat dan mengobrol akrab kalau sudah bertemu. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa tidak saling menghubungi diwaktu biasa. Saya percaya persahabatan yang tulus memang seharusnya membebaskan dan tidak mengikat.

Saat pertama bertemu Yin, dan 10 tahun bertemu kembali dengan Handaka di Pangkalpinang 12 April 2016. (Handaka dan Yin, Christine dan saya)

Perth, 11 July 2020.

#cancercare #gunduliscool #staystrong

Biarawan Muda yang Tekun Berlatih

Seorang biarawan muda begitu bersemangat untuk melatih diri. Suatu hari, dia datang menghadap kepala biara untuk meminta izin menjalani tapa pengasingan seorang diri di pulau kecil di tengah danau di seberang biara. Dia ingin agar bisa memusatkan usahanya mencapai pencerahan secepatnya sehingga dia bisa melakukan banyak hal lain nantinya. Atas restu kepala biara, diantarlah biarawan muda ini menyeberang ke pulau kecil tersebut dan tinggal di sana. Bekal makanan dan keperluan sederhana sehari-hari dihantarkan setiap minggunya.

Setelah tiga tahun berlatih dengan tekun, biarawan muda ini menyakini telah mencapai pencerahan batin yang sempurna. Dia meminta dikirimkan kertas lukis beserta kuas dan tinta. Dia ingin menulis satu bait puisi dalam bentuk kaligrafi indah untuk dikirimkan kepada kepala biara demi menunjukkan tingkat pemahaman dan pencerahan yang telah dicapainya.

biarawan muda penuh tekat

tiga tahun menyendiri tekun berlatih 

tak kan lagi tergoyahkan 

oleh empat badai duniawi 

Gulungan kaligrafi yang indah inipun dititipkan untuk disampaikan kepada kepala biara. Pada hantaran bekal makanan berikut, dia menerima balasan dari kepala biara. Alangkah terkejutnya dia mendapati kaligrafinya yang indah dicoreti dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Setiap baris dari puisi yang dia tulis ditimpali dengan tulisan kata ‘Kentut!’ bertinta merah dan besar-besar.

Dia marah sekali dan tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kepala biara bisa begitu tidak bijaksana dan tidak bisa melihat pencapaian tinggi dari seorang murid berbakat seperti dirinya. Tidak tahan dengan hinaan ini, dia memutuskan untuk menyeberang balik ke biara dengan perahu pengantar barang yang sama, hari itu juga.

Dengan penuh emosi dia mempertanyakan maksud dari coretan itu langsung kepada kepala biara. Kepala biara tua ini menatap biarawan muda ini sambil berkata: “Biarawan muda, kamu bilang tidak lagi tergoyahkan oleh empat badai duniawi, namun… satu hembusan angin ketut telah meniup mu menyeberangi danau sampai disini…”

Sang murid seketika menyadari keangkuhan dan tingkat kemajuan batinnya. Dia kembali ke pulau di tengah danau untuk terus berlatih. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya mencapai pencerahan tertinggi.

(Disadur bebas dari cerita yang didengar dari Ajahn Brahm beberapa waktu lalu)

Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak. Semoga Semua Mahluk Berbahagia…

18359069_10154885937243197_8968065103245418517_o
Waisak 11 Mei 2017, Dhammaloka Monastry, Nollamara, Western Australia

Perth, 11 Mei 2017
Coba mengumpulkan tulisan yang pernah saya tulis di media lain. Ditulis pada saat Waisak di bulan Mei 2017, dipublikasikan di Note Facebook.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/pencerahan/10155249960014035/