The Way to Love – Anthony de Mello

Meski sering mendengar namanya sejak lama, baru kali ini saya membaca buku terakhirnya, The Way to Love. Saya beli buku elektroniknya di akhir Desember 2021. Ini berkat anjuran teman dekat saya yang sama-sama meminati hal-hal yang berkaitan dengan pengenalan ke dalam diri. Teman saya ini, yang seorang Katolik, pengagum berat Anthony de Mello.

Anthony de Mello adalah seorang pastor Katolik dari Ordo Jesuit (Society of Jesus – Societas Iesu – SJ) yang cukup kontroversial dengan pandangan dan ajarannya di kalangan umat Katolik sendiri. Kelihatannya pendangan spiritual beliau sangat dipengaruhi spiritualitas ketimuran tempat beliau berasal, yaitu India – spiritualitas yang berakar pada kebenaran universal.

Saya belum baca habis bukunya. Lebih tepatnya, saya baru baca dua tulisannya, yaitu tulisan pertama: Laba Rugi; dan yang terakhir: Bersiaplah. Dan saya terjemahkan keduanya disini.

Kedua-dua tulisannya sangat mencerahkan, dan saya tidak bisa membayangkan kedalaman batin penulisnya, mungkin sudah tidak berdasar…

Karena saya membaca berulang-ulang kedua tulisan ini, makanya saya belum juga selesai membaca bukunya 🙂

Laba Rugi, tentang secuil pengalaman spiritual akan kebahagiaan yang sederhana dan hakiki yang bersumber dari pelepasan akan kemelekatan pada keinginan duniawi yang sering mengombang-ambingkan kita. Anthony dapat menyampaikannya dengan perbandingan yang begitu sederhana dan lugas.

Bersiaplah, tentang pengalaman kekudusan atau kesucian ‘puncak’ yang telah mengatasi dualisme dan telah berakhirnya keinginan…

Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

Anthony de Mello

Saya merasa paparan tentang keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir (Bersiaplah) Anthony de Mello sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Sri Pannavaro Mahathera menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan diakhir tulisan ini).

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Bhante Sri Pannavaro Mahathera

Beliau menambahkan:

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

— 0 —

LABA RUGI

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya? – Matius 16:26

Coba ingat jenis perasaan yang anda rasakan ketika seseorang memuji anda, ketika anda disetujui, diterima, dan dipuji. Dan bandingkan itu dengan jenis perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda melihat matahari terbenam atau matahari terbit atau fenomena alam pada umumnya, atau ketika anda membaca buku atau menonton film yang benar-benar anda nikmati. Dapatkan rasa dari perasaan ini dan bandingkan dengan yang pertama, yaitu perasaan yang muncul di dalam diri anda ketika anda dipuji. Pahamilah bahwa jenis perasaan pertama berasal dari pemuliaan diri, promosi diri. Ini adalah perasaan duniawi. Yang kedua datang dari kelimpahan diri, perasaan dalam jiwa.

Ini ada kontras lainnya: Ingat jenis perasaan yang anda miliki ketika anda berhasil, ketika anda selesai mengerjakan sesuatu, ketika anda mencapai puncak, ketika anda memenangkan permainan atau taruhan atau perdebatan. Dan bandingkan dengan jenis perasaan yang anda dapatkan ketika anda benar-benar menikmati pekerjaan yang anda lakukan, anda menikmati tindakan yang anda lakukan saat ini. Dan sekali lagi perhatikan perbedaan kualitatif antara perasaan duniawi dan perasaan jiwa.

Kontras lainnya: Ingat apa yang anda rasakan ketika anda memiliki kekuasaan, anda adalah bos, orang-orang memandang anda, menerima perintah dari anda; atau ketika anda terkenal. Dan bandingkan perasaan duniawi itu dengan perasaan keintiman, persahabatan—saat-saat anda benar-benar menikmati diri sendiri bersama teman atau dengan kelompok di mana ada keceriaan dan canda.

Setelah melakukan ini, cobalah untuk memahami sifat sebenarnya dari perasaan duniawi, yaitu, perasaan promosi diri, pemuliaan diri. Mereka tidak alami, mereka diciptakan oleh masyarakat dan budaya anda untuk membuat anda produktif dan membuat anda terkendali. Perasaan ini tidak menghasilkan kekayaan batin dan kebahagiaan yang dihasilkan ketika seseorang merenungkan alam atau menikmati kebersamaan dengan teman atau pekerjaannya. Mereka dimaksudkan untuk menghasilkan sensasi, kesenangan —dan kekosongan.

Kemudian amati diri anda dalam satu hari atau seminggu dan pikirkan berapa banyak tindakan anda yang dilakukan, berapa banyak aktivitas yang dilakukan yang tidak terkontaminasi oleh keinginan untuk sensasi ini, kesenangan yang hanya menghasilkan kekosongan, keinginan untuk perhatian, persetujuan , ketenaran, popularitas, kesuksesan atau kekuasaan. Dan lihatlah orang-orang di sekitar anda. Apakah ada satu pun dari mereka yang tidak kecanduan perasaan duniawi ini? Satu orang yang tidak dikendalikan dan lapar akan sensasi ini, menghabiskan setiap menit hidupnya secara sadar atau tidak sadar mencari sensasi ini? Ketika anda melihat ini, anda akan memahami bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan dunia dan, dalam prosesnya, kehilangan jiwa mereka. Karena mereka menjalani hidup yang kosong dan tanpa jiwa.

Dan ini ada perumpamaan hidup untuk anda renungkan: Sekelompok wisatawan duduk di dalam bis yang melewati negara yang sangat indah; danau dan gunung dan ladang hijau dan sungai. Tapi tabir jendela bis ditarik ke bawah. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang ada di balik jendela bis.

Dan sepanjang perjalanan mereka menghabiskan waktu untuk bertengkar tentang siapa yang akan mendapat kursi kehormatan di bis, siapa yang akan diberi tepuk tangan, siapa yang akan dipertimbangkan dengan baik. Dan mereka tetap seperti itu sampai akhir perjalanan.

— 0 —

BERSIAPLAH

Anthony de Mello, SJ, The Way to Love.

Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga – Matius 24:44

Cepat atau lambat muncul dalam hati setiap manusia kerinduan akan kekudusan, kerohanian, Tuhan, sebut saja sesukamu. Seseorang mendengar para rohaniawan berbicara tentang keilahian yang dapat kita raih, yang akan membuat hidup kita bermakna dan indah dan kaya, kalau saja kita dapat menemukannya. Orang-orang memiliki semacam gagasan yang kabur tentang apakah ini dan mereka membaca buku dan berkonsultasi dengan guru, dalam upaya untuk mencari tahu apa yang mereka harus lakukan untuk mendapatkan hal yang sulit dipahami ini yang disebut Kekudusan atau Spiritualitas. Mereka mengambil segala macam metode, tata-cara, latihan spiritual, rumusan; kemudian setelah bertahun-tahun berusaha tanpa hasil, mereka menjadi putus asa dan bingung dan bertanya-tanya apa yang salah. Kebanyakan mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Jika saja mereka berlatih tata-cara mereka lebih teratur, jika saja mereka lebih bersemangat atau lebih murah hati, mereka mungkin akan berhasil. Tapi keberhasilan apa? Mereka tidak memiliki gagasan yang jelas tentang apa sebenarnya kekudusan yang mereka cari ini, tetapi mereka tahu bahwa hidup mereka masih berantakan, mereka masih cemas dan merasa tidak aman dan takut, benci dan sulit mengampuni, menggenggam dan ambisius serta memperdaya orang lain. Jadi sekali lagi mereka memaksakan diri mereka dengan segenap kekuatan ke dalam usaha dan kerja yang mereka pikir dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka. 

Mereka tidak pernah berhenti sejenak untuk mempertimbangkan kenyataan sederhana ini: Usaha mereka tidak akan membawa apa-apa. Usaha mereka hanya akan memperburuk keadaan, karena keadaan menjadi lebih buruk ketika anda menggunakan api untuk memadamkan api. Usaha tidak mengarah pada pertumbuhan; usaha, apapun bentuknya, apakah itu kemauan keras atau kebiasaan atau tata-cara atau latihan spiritual, tidak membawa perubahan. Paling-paling itu menjurus pada pemaksaan dan penutup dari akar permasalahan.

Usaha dapat mengubah perilaku tetapi tidak mengubah orang tersebut. Coba pikirkan saja mentalitas seperti apa yang dikhianati ketika anda bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kekudusan?” Bukankah seperti bertanya, Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan untuk membeli sesuatu? Pengorbanan apa yang harus saya lakukan? Disiplin apa yang harus saya lakukan? Meditasi apa yang harus saya kerjakan untuk mendapatkannya? Pikirkan seorang pria yang ingin memenangkan cinta seorang wanita dan berusaha untuk meningkatkan penampilannya atau membangun tubuhnya atau mengubah perilakunya dan berlatih teknik untuk memikatnya. 

Anda benar-benar memenangkan cinta orang lain bukan dengan berlatih teknik tetapi dengan menjadi diri sendiri. Dan itu tidak pernah bisa dicapai melalui usaha dan tata-cara. Demikian pula dengan Spiritualitas dan Kekudusan. Bukan apa yang anda lakukan yang membawanya kepada anda. Ini bukan barang yang bisa dibeli atau hadiah yang bisa dimenangkan. Yang penting adalah siapa anda, menjadi apa anda.

Kekudusan bukanlah pencapaian, itu adalah Rahmah. Rahmat yang disebut Kesadaran, rahmat yang disebut Melihat, Mengamati, Memahami. Hanya ketika anda menyalakan lampu kesadaran dan mengamati diri sendiri dan segala sesuatu di sekitar anda sepanjang hari, hanya ketika anda melihat diri anda terpantul dalam cermin kesadaran seperti anda melihat wajah anda tercermin dalam kaca, secara akurat, jelas, persis seperti apa adanya tanpa pengaburan atau penambahan sedikit pun, dan ketika anda mengamati pantulan ini tanpa penilaian atau penghukuman, anda akan mengalami segala macam perubahan luar biasa yang terjadi di dalam diri anda. Hanya ketika anda tidak mengendalikan perubahan tersebut, atau merencanakannya sebelumnya, atau memutuskan bagaimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan. Hanya kesadaran yang tidak menghakimi inilah yang menyembuhkan dan mengubah serta membuat seseorang tumbuh. Namun dengan caranya sendiri dan pada waktunya sendiri.

Apa yang secara khusus harus Anda sadari? Reaksi anda dan hubungan anda. Setiap kali anda berada di hadapan seseorang, siapapun itu, atau dengan Alam atau dengan situasi tertentu, anda memiliki berbagai macam reaksi, positif dan negatif. Pelajari reaksi-reaksi itu, amati apa sebenarnya reaksi itu dan dari mana asalnya, tanpa menggurui atau rasa bersalah atau bahkan keinginan apa pun, apalagi usaha untuk mengubahnya. Hanya itu yang dibutuhkan seseorang agar kekudusan muncul. 

Tapi bukankah kesadaran itu sendiri adalah sebuah usaha? Tidak, jika anda pernah mencicipinya sekali saja. Karena dengan begitu anda akan memahami bahwa kesadaran adalah suatu kegembiraan, kegembiraan seorang anak kecil yang bergerak dengan takjub untuk menemukan dunia. Bahkan ketika kesadaran mengungkap hal-hal yang tidak menyenangkan dalam diri anda, itu tetap selalu membawa pembebasan dan kegembiraan. Kemudian Anda akan tahu bahwa hidup yang tanpa berkesadaran tidak layak untuk dijalani, terlalu penuh dengan kegelapan dan rasa sakit. 

Jika pada awalnya ada kelesuan dalam melatih kesadaran, jangan memaksakan diri. Itu akan menjadi usaha lagi. Sadarilah kelesuan anda dengan tanpa penghakiman atau penghukuman. Anda kemudian akan memahami bahwa kesadaran melibatkan usaha sebanyak yang dilakukan seorang pergi menemui kekasihnya, atau seseorang yang lapar memakan makanannya, atau seorang pendaki gunung mencapai puncak gunung yang didambakannya; begitu banyak tenaga yang dikeluarkan, bahkan begitu banyak kesulitan, tapi itu bukan usaha, itu adalah kegiatan yang menyenangkan! Dengan kata lain, kesadaran adalah kegiatan tanpa usaha.

Akankah kesadaran membawakan anda kekudusan yang anda dambakan? Bisa iya dan bisa tidak. Kenyatannya adalah anda tidak akan pernah tahu. Untuk kekudusan sejati, yang tidak dicapai melalui cara dan usaha dan pemaksaan; kekudusan sejati sepenuhnya tak-berkesadaran-diri. Anda tidak akan menyadari tentang keberadaannya di dalam diri anda. Selain itu anda tidak akan peduli, bahkan ambisi untuk menjadi kudus pun akan turun seiring anda menjalani hidup dari waktu ke waktu, hidup menjadi penuh dan bahagia dan tampak jelas melalui kesadaran. Cukup bagi anda untuk terjaga dan sadar. Karena dalam keadaan ini matamu akan melihat Juru Selamat. Tidak ada yang lain, benar-benar tidak ada yang lain sama sekali. Bukan rasa aman, bukan cinta, bukan rasa memiliki, bukan keindahan, bukan kekuatan, bukan kekudusan—tidak ada lagi yang penting.

— 0 —

Keutamaan pengembangan kesadaran di tulisan terakhir diatas sangat mendekati pemahaman di ajaran yang saya kenal. Seorang biarawan Buddhis sepuh, Bhante Pannavaro menjelaskan keutamaan kesadaran dan latihannya dalam bahasa yang sangat mudah dimengerti dan mencerahkan, dalam wawancaranya dengan Sujiwo Tejo (tautan di bawah ini).

Sarinya (45:30):

Apa saja yang muncul pada pikiran, kita sadari. Tujuannya supaya suatu saat yang ada hanya kesadaran murni, yang tidak dikotori oleh perasaan suka, duka, pikiran baik atau buruk, hanya just being aware, hanya just sadar. Saat kesadaran murni terjadi kita bebas dari penderitaan.

Dan itu bisa dicapai oleh siapa saja, tidak harus jadi bhikkhu, tidak harus menjadi umat Buddha, tidak ada mantra yang diperlukan, tidak ada ritual yang diperlukan, tidak ada dupa yang perlu dibakar, tidak ada sesajen yang dipersiapkan. Kuncinya adalah hadirkan kesadaran anda untuk menyadari aktifitas fisik dan aktifitas mental.

Boddington, 07 March 2022

Stay Strong – Tetap Kuat

Saya tahu salah satu kegiatan peduli penderita kanker oleh Yayasan Ehipassiko dengan program Stay Strong, tetapi saya tidak tahu kalau pencetus dan penggeraknya, Yin Natadhita adalah seorang yang sembuh dari kanker (cancer survivor). Yin adalah istri dari teman yang saya kenal baik Handaka Vijjananda, pendiri Yayasan Ehipassiko (https://ehipassiko.or.id). Saya baru tahu dari membaca e-book yang diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko, Stay Strong – Aku Hidup dengan Kanker.

Yin dengan bukunya

Membaca buku Yin, saya menyadari begitu teguh dan melepasnya seorang Yin dan Handaka saat Yin menjalani masa-masa sulit tersebut hidup dengan kanker lidah. Saya tahu persis bagaimana sulitnya masa-masa seperti itu. Salah satu adik kandung saya sendiri adalah seorang mantan penderita kanker dan melewati masa sulit yang panjang berobat yang sangat menguras fisik, mental dan finansial. Sangat bersyukur semuanya dapat dilewati dengan baik.

Judul ‘Saya Hidup dengan Kanker’ pun menyiratkan keteguhan penyandangnya bahwa dia tidak mengingkari kenyataan tapi ‘hidup dengan’ kenyataan itu.

Buku dengan design grafis yang ringan dan segar yang ditulis dengan bahasa yang jernih dan santai, lengkap dengan informasi gejala, proses diagnosa, fase-fase perkembangan kanker yang dialami dan proses pengobatannya. Kekuatan utama tulisan dalam buku ini adalah pola pandang dan sikap mental seorang Yin melihat kenyataan yang dihadapi, dan semangat dalam menjalani pengobatan – yang sangat menginspirasi. Pola pandang dan sikap mental ini rasanya akan banyak membantu untuk lebih realistis dan dapat mengambil tindakan yang lebih logis. Saya cukup yakin ini sangat tidak mudah, dan butuh banyak perenungan, ketegaran dan pelepasan selama menjalani masa-masa sulit itu.

Biasanya cerita tentang kanker memberi kesan mengerikan dan meyedihkan. Namun Yin bisa begitu ringan dan mengalir menceritakan pengalamannya, cerita termasuk makan durian musang king sehari setelah dioperasi bersama sahabatnya. Ilustrasi apik dan lucu juga berperan menghilangkan kesan seram.

Banyak ungkapan atau kutipan dalam buku ini yang melukiskan betapa kematangan batin seseorang membantu melewati masa-masa sulit ini.

Why me? (kenapa harus saya?) Why not? (kenapa tidak?)

This too will pass… (Inipun akan berlalu…)

Sering dikatakan bahwa pengalaman akan penderitaan yang dalam adalah bagian dari perjalanan spiritual yang dapat mentransformasi batin seseorang ‘tercerahkan’ lewat perenungan di keheningan batin yang dalam atau lewat jalan kebenaran religius yang diyakini, dan biasanya orang tersebut menjadi lebih melepas, lapang, bahagia, dan bijak. Rasanya, Yin dan Handaka telah menyelami itu semua.

Kanker telah membuatku menjadi lebih berani, lebih tabah, lebih bijak. Lebih berani menikmati hidup dan lebih berani memberi. Aku tidak biarkan ketakutan menguasaiku. Kalau tidak kambuh, aku syukuri. Kalau kambuh, aku hadapi dengan tabah. Aku menjadi lebih tidak memusingkan kerisauan remeh. Kanker membuatku lebih bisa melihat, mana yang betul-betul penting dan mana yang sebaiknya diabaikan.

Yin Natadhita

Buku ini akan dapat membantu yang sedang hidup dengan kanker, yang telah sembuh, dan keluarganya akan apa yang sebaiknya dilakukan pada masa sulit tersebut, serta menginspirasi untuk tetap semangat, menerima, tabah sekaligus kuat menjalani apa yang dialami – terlepas dari apapun hasil akhirnya. Dan menginspirasi mereka yang beruntung tidak harus hidup dengan kanker untuk bersyukur dalam menjalani hidup mereka, dan kalau ada kebercukupan bisa ikut membantu sesama yang kurang beruntung.

Buku yang ditulis dibagikan secara cuma-cuma agar dapat bermanfaat bagi orang banyak. Untuk bisa menyelami, ada baiknya baca langsung bukunya.

Bukunya dapat diunduh dan dibagikan secara cuma-cuma di tautan berikut ini:

https://drive.google.com/file/d/1DAcfpSzVGOhdT9l7HztQBKykXuiVow2h/view

Tidak hanya membagi pengalaman dan inspirasi, Yin bersama tim relawan dan dermawan menggerakkan satu program Cancer Care lewat Ehipassiko Foundation untuk memberikan bantuan rutin berupa dana, suplemen, pendampingan, dan panduan meditasi kepada penderita kanker yang tak mampu, serta beasiswa bagi anaknya. Sejak 2013, para relawan Cancer Care telah melayani banyak penderita kanker dari anak sampai manula di berbagai desa dan kota di Indonesia. (https://ehipassiko.or.id/cancer-care/)

Saya turut berbahagia dengan kesembuhan dan kedewasaan batin yang diraih oleh Yin dan juga Handaka, serta kagum dan hormat dengan usaha mereka untuk memberi dan pengabdian untuk membantu sesama. Sungguh bermanfaat dan menginspirasi…

— o —

Catatan Tambahan 13 Juli 2020:

Pada tanggal 13 Juli 2020, saya menghubungi Handaka setelah saya mengetahui bahwa Yin harus kembali meneruskan perawatan karena ditemukan ada penyebaran dan telah menjalankan operasi ke tiga. Seperti biasa kami chat dengan hangat di WA. Yin pun terlihat semangat menjalani perawataan dan tetap ceria berbagi cerita lewat Facebooknya. Semangat, ketabahan, dan ketenangan yang mencerminkan kwalitas dan kedewasaan batin yang dalam…

Sejak itu Yin dan Handaka sering mengisi diskusi online berbagi pengalaman dan menginspirasi di dalam komunitas Ehipassiko Foundation maupun lintas komunitas dengan teman-teman Zen misalnya, dan berdiskusi dhamma yang dalam termasuk studi Tripitaka dimana Handaka sedang mengerjakan penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Saya sempat mengikuti beberapa diantaranya.

Berikut adalah salah satu yang saya ikuti, dipandu tengan Saudara Agus Santoso – ketua Chan Indonesia, Fu Yin berbagi cerita dan pengalamannya. Keteguhan dan kematangan batin seorang Fu Yin sangat menginspirasi…

— 0 —

Tanggal 28 December 2020, saya mendapat kabar dari adik saya bahwa Yin telah pergi meninggal dunia ini pada hari itu. Saya menghubungi Handaka lewat pesan tertulis tanpa ingin mengganggu kekhusukan dia untuk dirinya dan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang tentu akan cukup melelahkan.

Pada tanggal 04 Januari 2021, dari Ehipassiko saya menerima buku Stay Strong – Grand Finale, dengan tambahan catatan penutup dari Handaka. Buku ini dipersembahkan sebagai Legacy of Love (Warisan Kasih) dari Fu Yin Natadhita.

Semoga kekuatan persahabatan dalam kebajikan dan kasih ini turut mengantar sis Fu Yin Natadhita menapaki jalan menuju kebahagiaan tertinggi…

“Apa pun yang datang dalam hidup, aku sambut”

Yin Natadhita 1984 – 2020

— 0 —

Catatan tambahan 21 Maret 2021

Handaka yang mengasuh program Studi Sutta (Kitab Ajaran Buddha) berbagi pengetahuan dan pembelajarannya tentang detik-detik menjelang ajal dan bagaimana baiknya mengantar yang berangkat. Handaka berbagi dan bercerita dengan keceriaan, ketenangan, keteguhan dan keseimbangan batin yang sangat mengagumkan – mengingat ini adalah kisah pribadi; ditambah kedalaman pengetahuannya dalam memaparkan sutta-sutta yang berkaitan topik ini – sungguh luar biasa dan sangat mencerahkan. Berikut ini adalah tautannya di Youtube.

Kurang dari 3 bulan kemudian, 21 Maret 2021, Yayasan Ehipassiko memfasilitasi dua dharma talk sekaligus sebagai pelimpahan jasa bagi Fu Yin, sesuatu yang begitu indah dilakukan oleh orang-orang yang mencintainya.

Di bawah ini adalah tautannya di Youtube, dua dhamma talk yang sangat mencerahkan dari Ajahn Brahm dan salah satu murid utamanya, Ajahn Brahmali yang diikuti oleh lebih dari 2000 orang secara online lewat Zoom dan Youtube – tentang bagaimana melihat kehidupan ini sebagaimana adanya dan bagaimana sikap batin yang benar menyikapi fenomena kehidupan ini. Acara dibuka dengan apik oleh Handaka, dimoderatori dengan sangat baik oleh Kartika, dan diterjemahkan oleh Tasfan dengan ketepatan yang luar biasa.

Ehipassiko juga menerbitkan serial kartun ‘Uncle Singlet – Kopitiam Zen’ yang menampilkan tokoh Uncle Singlet yang merupakan personifikasi dari Handaka dalam menyampaikan wejangan-wejangan bijak – salah satu yang dicita-citakan oleh Yin…

— 0 —

Sahabat dalam Kebajikan ~ Kalyāṇamitta

Saya mengenal Handaka sekitar tahun 2006. Dia mungkin 4 atau 5 tahun lebih muda dari saya. Waktu itu dia bekerja sebagai country manager untuk Myanmar dari satu perusahaan farmasi Indonesia. Saya masih bekerja di satu tambang emas di Sepon, pedalaman Laos. Saya sudah lupa bagaimana kami berkenalan. Kalau tidak salah dari korespondensi ketertarikan menerjemahkan beberapa buku buddhis ke dalam bahasa Indonesia. Kami janjian bertemu di Bangkok saat saya rotasi kerja dalam roster flying-in/flying-out dari Indonesia dan bermalam di Bangkok sebelum menuju ke Laos lewat Ubon Ratchathani dan Mukdahan, menyeberang ke Savannakhet di Laos dan menuju ke lokasi tambang di Sepon. Sementara Handaka dalam perjalanan pulang dari Myanmar ke Indonesia dan mampir di Bangkok. Kami bertemu di hotel tempat saya menginap. Pertama kali kami bertemu dan mengobrol sampai menjelang subuh. Setelah itu kami berpisah.

Saya hanya sempat membantu menerjemahkan satu buku, kalau tidak salah buku Vipassana Meditation karangan seorang mpu meditasi dari Myanmar – Mahasi Sayadaw, yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko.

Sekitar tahun-tahun segitu Yayasan Ehipassiko mulai dirintis oleh Handaka, yang sekarang menjadi penerbit buku-buku buddhis terbesar di Indonesia beserta banyak program sosial lain yang digerakkan oleh banyak relawan dan dermawan, diantaranya untuk abdi desa, beasiswa, kasihan binatang, dan peduli penderita kanker, bakti sosial lintas agama, juga termasuk menyelenggarakan kunjungan tahunan Ajahn Brahm ke Indonesia.

Pertama kali saya menghubungi Handaka kembali di tahun 2016 setelah kurang lebih 10 tahun tidak saling berhubungan. Saat itu satu tahun peringatan wafatnya ibu saya. Sewaktu di Perth, saya memohon kepada Ajahn Brahm untuk bersedia melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang ibu saya. Beliau malah menawarkan untuk melakukannya di Pangkalpinang saat kunjungan beliau ke sana bertepatan dengan hari peringatan 1 tahun dan menganjurkan saya menghubungi Handaka. Ketika saya hubungi hanya lewat text, tanpa keraguan Handaka langsung mengiyakan permintaan bantuan saya dan terus berkoordinasi dengan tim panitianya di Pangkalpinang dalam waktu yang sangat dekat untuk meluangkan waktu Ajahn Brahm di tengah talkshow untuk melakukan kegiatan doa ini.

Saya sangat beruntung mendapat kesempatan yang langka ini.

https://www.facebook.com/notes/lim-eka-setiawan/a-year-of-passing/10154091132429035/

Itu pertama kali saya bertemu dengan Yin, di Pangkalpinang di tahun 2016. Yin kebetulan punya orang tua berasal dari Bangka, tepatnya dari Jebus (Nampong). Pertemuan berikutnya dengan Handaka dan Yin di retret meditasi dan acara ulang tahun Ajahn Brahm dimana Handaka membawa rombongan dari Indonesia pada tahun 2017 dan juga tahun 2018 di Perth, Australia Barat. Saya tidak ikut lagi kegiatan tahun berikutnya karena tugas kerja di Ghana, Afrika.

Kami memang jarang bertemu, tapi hangat dan mengobrol akrab kalau sudah bertemu. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa tidak saling menghubungi diwaktu biasa. Saya percaya persahabatan yang tulus memang seharusnya membebaskan dan tidak mengikat.

Saat pertama bertemu Yin, dan 10 tahun bertemu kembali dengan Handaka di Pangkalpinang 12 April 2016. (Handaka dan Yin, Christine dan saya)

Perth, 11 July 2020.

#cancercare #gunduliscool #staystrong

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi? – Why Religious Tolerance?

nalandians-commemorate-ven-k-sri-dhammananda.jpg

Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?

Telah 25 tahun berlalu sejak saya menterjemahkan buku kecil “Mengapa Umat Beragama Bertoleransi?” ditulis oleh Bhante Dr. Sri K Dhammananda. Waktu itu sekitar bulan Juni tahun 1993, di tahun kedua saya bekerja sebagai pekerja tambang di masa awal tambang Kaltim Prima Coal (KPC) di Sangatta, Kalimantan Timur.

Saya menerjemahkan buku ini untuk pelimpahan jasa kepada adik saya yang meninggal dunia pada tahun 1993 dan ayah saya yang meninggal di tahun 1994. Ini merupakan salah satu cara seorang Buddhis ‘berdoa’, dengan melakukan perbuatan yang dianggap baik dan menyalurkan jasa perbuatannya untuk orang yang dicintai dan untuk semua mahluk.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda adalah seorang bhikkhu yang sangat dihormati sekaligus seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari Sri Lanka yang kemudian menetap di Malaysia hingga akhir hayatnya. Saya sangat beruntung mendapat restu dari beliau untuk bisa menerjemahkan dan menerbitkan tulisannya ini di Indonesia secara cuma-cuma. Terjemahan ini kemudian diterbitkan oleh satu yayasan Buddhis di Yogyakarta pada tahun 1994 (?).

Waktu itu, saya mencoba menerjemahkan buku kecil ini dengan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat terbatas. Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman saya yang Buddhis, Kristiani dan Muslim yang banyak membantu memeriksa dan mengedit terjemahan buku ini. Mereka adalah Marie Tungka, Johnny Yala, Jhonny Kaslan Lingga dan Irwan Priatna, yang nama-namanya saya cantumkan didalam  pengantar penerjemah. Inilah barangkali cerminan semangat toleransi kami pada masa itu.

Bhante Dr. Sri K Dhammananda menulis buku kecil ini hampir 45 tahun lalu, memaparkan pandangan Buddhis tentang toleransi beragama dengan sangat lugas dan dalam, namun mudah dipahami. Permasalahan yang dibahas terasa semakin relevan dengan dunia saat ini, khususnya bagi masyarakat dengan keragaman ras dan agama di banyak negara.

Membaca kembali buku kecil ini, setelah sekian tahun berlalu tetap memberi rasa kagum dan hormat yang dalam akan kearifan dan kewelas-asihan penulisnya; dan akan keluhuran Ajaran Buddha yang telah menginspirasi dan mencerahkan banyak insan dalam perjalanan waktunya yang lebih dari 2500 tahun.

Seorang Buddhis harus toleran terhadap ajaran agama lain, dan pada saat yang sama bisa bebas mengungkapkan pandangannya tentang ajaran tersebut tanpa menyimpan kebencian atau prasangka buruk. Toleransi yang benar tidak hanya semata toleran terhadap ajaran lain tapi juga dapat menahan diri ketika yang lain mencoba menyakiti dengan mengecam keyakinan kita. Sang Buddha menasehati pengikutnya: “Jika kamu marah ketika orang lain mengecam keyakinanmu, kamu bukanlah pengikutKu.”

Di dalam naskah Buddhis ada banyak kasih tak-berbatas, kebaikan dan toleransi dibabarkan. Sang Buddha menyarankan pengikutnya untuk menerima dan menghormati kebenaran dimana saja mereka temui, artinya mereka tidak perlu menolak ajaran kebaikan dari agama lain. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk memonopoli kebenaran religius.

Pada saat yang sama, Sang Buddha tidak meminta pengikutnya meyakini sesuatu tanpa pemahaman yang benar. Sang Buddha menganjurkan, “ Jangan percaya suatu tradisi hanya karena telah diwariskan oleh banyak generasi dan di banyak tempat; jangan percaya sesuatu karena banyak didengungkan dan dibicarakan oleh banyak orang; jangan percaya kerena pernyatan tertulis dari orang-orang bijak diperlihatkan; jangan percaya pada apa yang telah kamu bayangkan dan berpikir sebagai sesuatu yang luar biasa maka ini pasti diciptakan oleh sesuatu kekuatan supernatural. Setelah mengamati dan meneliti dengan seksama, jika sesuatu itu masuk akal dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua orang, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengannya.”

“Orang yang berperang dan menumpahkan darah atas nama agama, mereka tidak mengabdi pada agamanya. Mereka berjuang untuk keuntungan atau kekuasaan pribadi mereka sendiri. Mereka yang benar-benar mengamalkan suatu agama tidak memiliki alasan untuk berperang. Agama sejati tidak pernah mendorong segala bentuk kekerasan.”

“Apakah itu debu biasa atau debu emas, keduanya menyebabkan masalah pada mata. Dengan cara yang sama, apakah orang mengumandangkan perang atas nama agama atau karena alasan lain, keduanya membawa kesengsaraan bagi umat manusia.”

“Jika umat Buddha mempraktikkan “cinta kasih” yang sejati seperti yang diajarkan oleh Buddha, jika umat Islam mengikuti “persaudaraan” yang nyata seperti yang diajarkan dalam agama mereka, jika orang Kristen mempraktikkan ajaran “cintai sesamamu” dan jika umat Hindu mempraktekkan “kesatuan” umat manusia, di sana tidak ada alasan untuk mengalami segala macam bentrokan, bencana, gangguan, dan perang di dunia ini.”

“Menurut agama kita masing-masing, kita memiliki keyakinan yang berbeda tentang kehidupan kita dan akhirat. Tetapi kita tidak menyadari bahwa kita semua sama dalam setiap aspek kehidupan kita. Kita sama dalam kelahiran kita, dalam penyakit kita, dalam kekhawatiran dan kesengsaraan kita, dalam bencana dan kesalahpahaman kita, dalam kecemburuan, kebencian dan keserakahan kita; kita sama dalam usia tua kita, dalam ketidakpuasan hidup kita dan akhirnya, kita sama dalam kematian.”

“Semoga kegelapan  dari ketidak-tahuan yang  menguasai  pikiran manusia  terusir dan semoga menusia dapat menemukan kebenaran sejati melalui ajaran yang rasional  agar memperoleh keharmonisan beragama, kedamaian, kebahagiaan untuk seluruh umat  manusia. Semoga mereka memupuk toleransi beragama  yang sejati untuk membasmi  rasa takut, rasa curiga dan  rasa tidak aman dalam  pikiran manusia, dengan secara tulus menganut agama mereka masing-masing.”    

Bhikkhu Dr. K. Sri Dhammananda 

Bagi yang tertarik untuk membaca buku kecil ini secara lengkap, silakan unduh di tautan dibawah ini, yang saya scan dari draft pertama yang saya punya (1993). Ada kemungkinan final draft yang diterbitkan (1994) telah mengalami editing lanjutan untuk penyempurnaan.   Tulisan asli berbahasa Inggris juga dapat diunduh dibagian bawah.

Semoga buku kecil ini bermanfaat bagi banyak orang. Semoga semua berbahagia…

Versi terjemahan Bahasa Indonesia: Mengapa Umat Beragama Bertoleransi

Perth, 23 Juni 2018

Why Religious Tolerance?

It has been 25 years ago since I translated the booklet “Why Religious Tolerance” of Venerable Dr. Sri K Dhammananda. It was this time in 1993 during my second year as a fresh graduate mining engineer working at the early time of Sangatta Kaltim Prima Coal (KPC) Mine in East Kalimantan.

I did the translation for a merit dedication to my late young brother, passed away in 1993 and my father in 1994. It’s the Buddhist way to ‘pray’ by doing an action considered a  wholesome deed and dedicate the merit to the loved one.

Ven. Dr. Sri K Dhammananda was a highly regarded and respected Buddhist monk and scholar. He was from Sri Lanka but later lived in Malaysia. I was very fortunate receiving his permission to translate his book into Indonesia and to publish it for free distribution.

On those days, I had a very limited English. I received great help from some of my Buddhist, Christian, and Muslim friends in editing and proofreading the translation. I acknowledged them in the translation booklet. This was probably a reflection of our true religious tolerance at that time.

The booklet was written more than 45 years ago. Yet, the religious tolerance issue is even becoming more and more relevant to this day society especially to the multi-racial and multi-religious community in many countries.

Rereading it after these many years, I admire the wisdom and compassion of the author and feel enormous gratitude toward the Buddha Teaching which is inspiring and enlightening millions of hearts through the time more than 2500 years.

Buddhists do tolerate other religious practices, and yet at the same time, they can express their views freely regarding those practices and beliefs without harbouring hatred or prejudices. According to the Buddha, real religious tolerance is not a mere tolerance of other religious beliefs but the tolerance that we have to bear when others try to irritate us by condemning our religion. The Buddha advised his followers: “If you become angry when others condemn your religion you are no followers of Mine.”

In the Buddhist scriptures so much boundless love and kindness is mentioned and so much tolerance is preached. The Buddha has advised his followers to accept and to respect the truth wherever they find it. This means that we need not ignore the reasonable teachings of other religions. This clearly shows that the Buddha never had any jealous attitude toward other religions, nor did he try to monopolise religious truth.

At the same time, the Buddha did not encourage his followers to have mere faith in anything without proper understanding. The Buddha advised, “Do not believe in traditions merely because they have been handed down for many generations and in many places; do not believe in anything because it is rumoured and spoken of by many; do not believe because the written statement of some old sage is produced; do not believe in what you have fancied, thinking that because it is extraordinary it must have been implanted by a supernatural being. After observation and analysis, when it agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”

“People who fight and shed blood in the name of religion, do not serve their religion. They fight for their own personal gain or power. Those who truly practise a religion have no grounds to fight. A real religion never encourages any form of violence.”

Either ordinary dust or gold dust, or both can cause trouble in the eyes. In the same way whether people declare war in the name of religion or for any other reason both bring about miseries amongst the people. 

“If Buddhists practise real “loving-kindness” as taught by the Buddha, if Muslims follow real “brotherhood” as taught in their religion, if Christians practise the teaching of “love thy neighbour” and if Hindus practise “oneness” of mankind, there would be no reason to have all sorts of clashes, calamities, disburbances, and wars in this world.”

“According to our respective religions, we have different beliefs regarding our life and the here-after. But we have not realized that we are all common in every aspect of our life. We are common in our birth, in our sickness, in our worries and miseries, in our calamities and misunderstandings, in our jealousy, hatred and greed; we are common in our old age, in our unsatisfactoriness of life and finally, we are common in death.”

“May the darkness of ignorance which prevails in the man’s mind be dispelled from his mind and may he find real truth through a rational religion to gain religious harmony, peace, happiness for the well being of mankind. May they cultivate real religious tolerance to eradicate fear, suspicion and insecurity from the man’s mind, by sincerely following their respective religions.”

Ven. Dr. K. Sri Dhammananda 

If you are interested reading the booklet, here is the original English version:

https://www.dhammatalks.net/Books6/Bhante_Dhammananda_Why_Religious_Tolerance.pdf

May you be happy…
Perth, 23 June 2018