Peh Cun di Kampung Kecil

Beberapa waktu lalu, saya pulang kampung untuk beberapa hari dengan niat mengumpulkan sebisanya cerita-cerita kampung kecil saya – Kampung Lumut, Belinyu, Pulau Bangka. Cerita-cerita ini mungkin sudah asing bagi sebagian masyarakat kampung sendiri terutama mereka yang muda-muda. Selain sebagai catatan pribadi dan cara saya mengenang kampung tempat saya menjalani masa kanak-kanak dan remaja, catatan-catatan ini juga sebagai pertinggal bagi masyarakat kampung. Syukur-syukur ini menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dan menginspirasi.

Dengan bantuan sahabat-sahabat kecil saya dan teman kru videographer dari Mentok, kami melakukan serangkaian kunjungan ke tempat yang dulu menjadi ikon kampung, berkumpul dan ngobrol dengan anak muda di Kelenteng, menginjungi SD saya, berbincang dengan guru-guru dan murid-murid, dan ngobrol santai dengan tetua kampung yang sekarang sudah berumur di atas 80 tahun bahkan 98 tahun – mendengarkan cerita beliau-beliau tentang kehidupan kampung dari masa ke masa dan harapan-harapan mereka.

Hampir semua obrolan kami dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu, Bahasa Khek Bangka – sehingga semua cerita bisa mengalir dengan santai. Akibatnya, saya perlu menerjemahkan percakapan ini ke Bahasa Indonesia untuk subtitle. Semoga saya bisa merampungkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hari ini adalah hari perayaan Peh Cun – di kampung saya kami menyebutnya Ng Nyiet Chiet, bulan 5 tanggal 5 penanggalan Imlek dengan tradisi kuliner bakcang (penganan ketan yang diisi dengan daging atau udang, dan dibungkus dengan daun pandan). Di banyak negara, perayaan ini dikenal dengan boat festival.

Perayaan ini secara tradisi merayakan nilai-nilai kejujuran dan kesetiaan kepada negara – yang dalam kontek sejarah mengenang jasa dan pengorbanan seorang Qu Yuan yang mengorbankan diri demi nilai-nilai tersebut.

Di masa kami kecil, Peh Cun dirayakan dengan piknik ke Jembatan Peringping (Chong Khiau – jembatan panjang) tak jauh dari kampung. Waktu itu masih jembatan lama yang sempit. Kami menikmati pemandangan jembatan, sungai dan gunung sambil bersantap bakcang. Sebagian orang memancing dari atas jembatan.

Bersama dua sahabat kecil saya, Tham Kian Kwet dan Jong Kiu Su, kami bercerita mengenang masa-masa 40 – 45 tahun lalu tentang bagaimana suasana dan kegembiraan kami piknik di atas jembatan lama ini.


Perth, 31 May 2025

Leave a Reply

Discover more from letting go

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading