Pada sesi panduan meditasi malam harinya, Ajahn memberi sedikit panduan dasar meditasi dalam obrolan pagi ini. Kata Ajahn, pertama-tama yang perlu disadari ada tubuh sebelum menyadari gerak pikiran. Pada saat mengambil posisi duduk untuk bermeditasi, luangkan waktu 5 sampai 10 menit untuk mengamati tubuh. Setelah mengambil posisi duduk, pertama-tama perhatian di arahkan pada kaki, apakah cukup nyaman, tidak terlalu tertekuk, coba digeser untuk mendapatkan posisi yang paling nyaman.
Selanjutnya perhatian diarahkan pada pantat, apakah sudah pada posisi yang nyaman di atas bantal, coba sedikit dirubah/digeser posisinya apa lebih nyaman atau sebaliknya. Setelah cukup, perhatian dialihkan pada pungggung, apa tidak terlalu tegang atau terlalu membungkuk, caranya pertama punggung dilurus tegak kemudian dikendorkan sehingga cukup rileks dan nyaman. Kemudian perhatian diarahkan ke bahu, posisi tangan dan kepala. Semua itu dilakukan dengan penuh perhatian.
Setelah badan kita nyaman maka perhatian kita bisa diarahkan untuk menyadari gerak pikiran. Menyadari lebih mengacu pada mengamati tanpa melibatkan diri pada gerak pikiran. Apapun pikiran yang muncul, hanya perlu disadari tanpa harus diikuti. Tentu ini tidak semudah yang kita bayangkan. Pikiran kita sudah sedemikian terbiasa untuk selalu bergerak menanggapi semua sensasi yang diterima oleh indera dan olahan pikiran itu sendiri yang diasupi oleh semua aktifitas fisik dan konsep pemikiran kita.
Karena hanya disadari tapi tidak diikuti, pikiran yang bergejolak seperti kehilangan tenaga, menjadi lebih halus. Setelah aktifitas pikiran cukup tenang, kesadaran menjadi semakin kuat. Sering orang awam beranggapan bahwa orang yang meditasi itu mengosongkan pikiran. Mungkin karena kita sering sulit membedakan antara pikiran dan kesadaran. Pikiran adalah proses berpikir dan merencanakan – ‘doing‘, sementara kesadaran adalah menyadari proses berpikir tadi – ‘knowing‘.
Saat pikiran mulai mengendap, kesadaran akan mulai menguat, perhatian lebih mudah diarahkan dan indera kita menjadi lebih peka. Dalam keheningan kita bisa mendengarkan gerak langkah kaki orang berjalan bahkan gesekan antara kain saat berjalan keluar masuk ruangan.
Saat pikiran sudah mulai mengendap, dengan mudah atau dengan sendirinya kesadaran akan tertuju mengamati keluar masuknya napas, karena hanya aktifitas napas yang kasat pada kesadaran kita saat itu.
Katanya, menyadari atau mengamati keluar masuk napas kita satu satu dikeheningan, sangat indah dan membahagiakan. Katanya lagi, ini baru ‘kulit ari’ kebahagiaan dari pikiran yang mulai hening.
Kalau ada kebahagiaan yang sedemikian sederhana, kenapa kita dengan mudah lewatkannya dan terus mengejar dan melekat pada ‘kebahagiaan-kebahagian’ yang bermata pisau ganda di luar sana?
Accra, Afrika
satu bait renungan dalam tiga bahasa (pali, thai dan inggris): ‘apapun perbuatan yang aku perbuat, baik atau buruk, akulah pewaris dari perbuatan itu…’
Seorang biarawan muda begitu bersemangat untuk melatih diri. Suatu hari, dia datang menghadap kepala biara untuk meminta izin menjalani tapa pengasingan seorang diri di pulau kecil di tengah danau di seberang biara. Dia ingin agar bisa memusatkan usahanya mencapai pencerahan secepatnya sehingga dia bisa melakukan banyak hal lain nantinya. Atas restu kepala biara, diantarlah biarawan muda ini menyeberang ke pulau kecil tersebut dan tinggal di sana. Bekal makanan dan keperluan sederhana sehari-hari dihantarkan setiap minggunya.
Setelah tiga tahun berlatih dengan tekun, biarawan muda ini menyakini telah mencapai pencerahan batin yang sempurna. Dia meminta dikirimkan kertas lukis beserta kuas dan tinta. Dia ingin menulis satu bait puisi dalam bentuk kaligrafi indah untuk dikirimkan kepada kepala biara demi menunjukkan tingkat pemahaman dan pencerahan yang telah dicapainya.
biarawan muda penuh tekat
tiga tahunmenyendiri tekun berlatih
tak kan lagi tergoyahkan
oleh empat badai duniawi
Gulungan kaligrafi yang indah inipun dititipkan untuk disampaikan kepada kepala biara. Pada hantaran bekal makanan berikut, dia menerima balasan dari kepala biara. Alangkah terkejutnya dia mendapati kaligrafinya yang indah dicoreti dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Setiap baris dari puisi yang dia tulis ditimpali dengan tulisan kata ‘Kentut!’ bertinta merah dan besar-besar.
Dia marah sekali dan tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang kepala biara bisa begitu tidak bijaksana dan tidak bisa melihat pencapaian tinggi dari seorang murid berbakat seperti dirinya. Tidak tahan dengan hinaan ini, dia memutuskan untuk menyeberang balik ke biara dengan perahu pengantar barang yang sama, hari itu juga.
Dengan penuh emosi dia mempertanyakan maksud dari coretan itu langsung kepada kepala biara. Kepala biara tua ini menatap biarawan muda ini sambil berkata: “Biarawan muda, kamu bilang tidak lagi tergoyahkan oleh empat badai duniawi, namun… satu hembusan angin ketut telah meniup mu menyeberangi danau sampai disini…”
Sang murid seketika menyadari keangkuhan dan tingkat kemajuan batinnya. Dia kembali ke pulau di tengah danau untuk terus berlatih. Bertahun-tahun kemudian, dia akhirnya mencapai pencerahan tertinggi.
(Disadur bebas dari cerita yang didengar dari Ajahn Brahm beberapa waktu lalu)
Selamat Merayakan Hari Tri Suci Waisak. Semoga Semua Mahluk Berbahagia…
Waisak 11 Mei 2017, Dhammaloka Monastry, Nollamara, Western Australia
Perth, 11 Mei 2017
Coba mengumpulkan tulisan yang pernah saya tulis di media lain. Ditulis pada saat Waisak di bulan Mei 2017, dipublikasikan di Note Facebook.
Sudah lama aku meniatkan untuk bisa mengunjungi kampung tempat aku melewati sebagian masa kecilku dan untuk mencari teman-teman yang mungkin masih tinggal disana. Baru pada saat pulang mudik Imlek hampir lima tahun yang lalu di awal 2015 aku sempat kesana. Dan baru sekarang aku mencatatnya dalam tulisan ini.
Kampung halamanku sendiri adalah Kampung Lumut, di Kecamatan (sekarang sudah berstatus Kabupaten) Belinyu, Bangka. Kampung Lumut pada masa kecilku boleh dibilang penduduknya lebih dari 90% adalah masyarakat Tionghoa. Sekolah dasar (SD) tempat aku sekolah semua muridnya Tionghoa and bahasa kesehariannya adalah bahasa Hakka/Khek khas Bangka.
Aku bersekolah di Kampung Pangkal Niur dari kelas 2 sampai kelas 5 (1978). Orang tua dan adik-adiku masih tinggal di Kampung Lumut, hanya saya dan pengurus usaha Ayahku yang masih keluarga dekat yang tinggal di Pangkal Niur (yang dikenal sebagai Kampung Baru atau Sin Khamkhong dalam bahasa khek). Saat liburan sekolah aku baru pulang ke kampungku. Ayahku pulang pergi Lumut ke Pangkal Niur mingguan. Ada satu masa singkat Ibu dan satu adikku juga pindah tinggal di Pangkal Niur.
Masa itu telah berlalu lebih dari 40 tahun…
Tidak membuat rencana tertentu atau berharap apa-apa, ditemani kawan karibku Akwet kami berangkat ke Pangkal Niur hari Rabu pagi, 18 Pebruari 2015. Kami masing masing membawa satu sepeda motor. Aku mengikuti dia dari belakang. Jalanan telah beraspal bagus. Kebetulan juga dia ada keperluan ke satu kampung dekat Pangkal Niur untuk mengambil kepiting lokal (ketam hitam) dari nelayan di sana. Kepiting Akwet sangat terkenal bahkan bagi wisatawan yang datang dari luar Bangka.
Mengikuti Akwet dari belakang
Akwet membawa keranjang rotan dibelakang untuk tempat muatan barang. Keranjang rotan yang langsung mengingatkan aku pada ayahku pada masa kecilku. Seketika, kenangan masa-masa masa kecil yang lebih dari 40 tahun lalu muncul kembali dalam ingatan, seperti menonton filem bisu hitam putih.
Bersama ayahku kami sering melalui jalan ini dengan motor Honda CB 80cc-nya. Meski jaraknya hanya mungkin sekitar 25km, tapi rasanya jauh sekali saat itu karena jalan yang rusak dan hanya berkendaraan sepeda motor.
Kadang aku didudukkan diatas tangki bahan bakar di depan dan tangan saya memegang erat stang motor saat dibonceng ayahku. Aku berperawakan kecil dan sangat kurus waktu masih kecil, kelihatannya tidak begitu menghalangi ayahku mengendarai motornya meskipun aku duduk di depannya. Sering kali pahaku perih karena terkena rembesan bensin yang keluar dari tanki yang masih penuh dan terguncang karena jalan yang rusak parah. Aku suka duduk di depan seperti ini karena bisa leluasa menikmati penandangan dan sejuk diterpa angin dari depan saat motor melaju, sehingga tidak mabuk kendaraan.
Kadang aku didudukkan di dalam keranjang seperti yang dibawa oleh Akwet hari ini, dimana aku duduk di atas pelana keranjang dengan kaki menjuntai di kiri dan kanan keranjang, Posisi ini kurang menyenangkan karena duduk tidak leluasa, lutut sering terbentur dengan dinding keranjang yang terbuat dari rotan.
Sejalan dengan bertambahnya umur, duduk di depan sudah tidak menungkinkan. Aku duduk dibelakang (tanpa keranjang) dan bisa memeluk pinggang ayahku erat-erat. Aku sering mendengar senandung ayahku saat aku bersandar dan menempelkan telingaku ke punggungnya disela-sela desiran angin dan deru motor. Posisi duduk yang paling aku sukai.
Jembatan Perimping dengan latar belakang Gunung Maras
Jalan ke Kampung baru melewati jembatan Perimping. Dulu, jembatannya sempit, dan sepertinya panjang sekali. Gunung Maras, gunung tertinggi di Pulau Bangka, nampak berdiri kokoh di belakangnya. Jembatan aslinya ada di sebelah kanan tapi sudah tidak bisa dipakai lagi.
Perjalanan kami melewati kampung kampung kecil diantaranya Parit Tujuh, Sinar Gunung, Bernai, Buhir, Rambang.
Akwet mampir di Kampung Rambang untuk membeli kepiting hitam air payau, dan sempat ngobrol-ngobrol.
Kurang dari 10 menit dari Rambang, kami sampai di Kampung Baru (Pangkal Niur). Tentu keadaan sudah banyak berubah, sudah sangat banyak rumah-rumah permanen. Setahu saya masyarakat sebagian besar adalah petani lada.
Kampung Pangkal Niur
Masyarakat Pangkal Niur hampir seluruhnya adalah Melayu dan muslim. Pada masa itu, hanya dua keluarga, yaitu keluarga kami dan satu lagi keluarga pamannya ayah (saya panggil sukkung) yang Tionghoa yang membuka usaha toko kelontongan dan membeli hasil bumi (lada dan karet).
Selain itu, usaha sukkung yang lain adalah membuat sikat dari sabut kelapa dan ijuk. Setiap hari sukkung dan istrinya (aku panggil sukpho) setiap hari duduk di depan toko membuat sabut ijuk dengan alat pemintal sederhana yang digerakkan dengan tangan. Belum ada listrik pada waktu itu, penerangan menggunakan lampu tangki minyak petromax (strongkeng – mungkin maksudnya dari merek Strong King). Aku dekat dengan anak-anak Sukkung aku panggil suksuk (paman) dan kuku (bibi). Aku ingat pernah tinggal beberapa lama di tempat sukkung. Aku adalah keponakan satu-satunya yang tinggal dekat mereka.
(Bekas) Toko Sukkung – tidak banyak berubah setelah lebih dari 40 tahun
Kami mampir di lapangan sepak bola, tempat kami akan kampung bermain dulu. Dulu rasanya luas sekali dan tidak banyak perumahan. Sekarang, lapangannya sudah dikelilingi oleh pemukiman.
Tak jauh dari lapangan bola, ada kerumunan ‘pasar’ lokal. Pola masyarakat keseharian melalukan jual beli tidak banyak berubah. Pedagang sayuran dan ikan dengan motornya menjajakan dagangan mereka dimana saja pembeli berminat. Bedanya, dulu pedagang menggunakan sepeda, sekarang motor. Ayahnya Akwet adalah salah satu pedagang ikan keliling pada masa itu.
Kebetulan sekali kami bertemu dengan teman kelasku disini, Gipo. Memang rencanaku akan mencari dia kerumahnya. Dan lebih kebetulan lagi, kami ketemu dengan salah satu guru kami yang baru pulang dari kebun, Pak Haji Ashari. Beliau terlihat ceria dan sehat. Senang sekali bisa bertemu mereka di sini. Sayang, tidak terlalu banyak waktu untuk bercerita lebih banyak. Sehat dan bahagia selalu Pak Haji…
Guru kami Pak Haji Ashari (kedua dari kanan) dan kawan sekelas Gipo (kedua dari kanan)
Akwet dan aku diajak kerumah oleh Gipo untuk bertemu keluarganya dan makan di rumah. Kami mulai bercerita panjang mengenang masa-masa sekolah dulu.
Gipo bercerita tentang perjalanan hidupnya dan keluarganya setelah kami tamat SD. Gipo punya 6 anak (kalau tidak salah ingat). Yang bungsu gadis kecil yang manis, dan yang sulung telah menyelesaikan studinya di kedokteran. Dia bersemangat bercerita dan bangga dengan anak-anaknya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya akan anak gadisnya yang telah menjadi seorang dokter, yang bersama kami ngobrol. Aku ikut bahagia mendengarnya. Dia juga bercerita tentang kurang sehatnya istrinya karena diabetes yang akut yang sekarang banyak mendapat perhatian dari anaknya yang seorang dokter,
Aku menanyakan satu persatu keadaan teman dan guru, teman-teman yang masih aku ingat namanya, Wanto kawan sebangku, Soleha, Junaidi, Supri atau aku sebut lokasi rumahnya kalau lupa namanya. Kakak perempuan Gipo juga sekelas dengan kami. Dia sekarang tinggal di tempat lain bersama keluarganya.
Aku ajak Gipo ke sekolah SD kami dan minta ditunjukkan rumah/tempat tinggal aku dulu yang berdekatan dengan sekolah kami.
Kelasku dulu di barisan bangunan ini tapi masih bangunan lama dengan ruang kelas yang terbuka (setengah dinding) dari papan. Di kelas, hanya aku sendiri yang Tionghoa.
Deretan ruang kelas kira-kira tempat aku dulu dari kelas 2 hingga kelas 5 SD
Gipo menunjukkan tempat tinggal kami dulu, kira-kira rumah yang ada parabola ini. Ingatanku melayang ke masa lalu, mengingat-ingat rumah kayu kami yang sekaligus warung dengan lantai tanah liat yang dipadatkan. Ada pagar kayu di depan rumah yang setiap 17 Augstus dicat kapur putih dan mengibarkan bendera merah putih. Bangunan rumah warung agak menjorok mungkin 5-10m dari pagar.
Warung dengan papan setengah dinding menjual barang kebutuhan sehari-hari, beras, minyak, gula, garam, terasi, bawang, juga membeli hasil lada dari petani. Ada satu anak tangga untuk turun ke ruang tengah sekaligus ruang makan dengan meja kecil di sudut kiri ruangan.
Sementara hanya ada satu ruang tidur di sebelah kanan dengan ranjang dipan yang tinggi dan lebar tempat menaruh kasur. Aku harus memanjat kalau mau tidur. Lebih ke belakang, ada dapur kecil yang dengan dua tungku kayu bakar dan tempat cuci berlantai papan hitam yang terkadang sangat licin terkena air.
Ini kira-kira tempat kediaman aku sewaktu tinggal pada masa itu (Akwet dan Gipo)
Setelah cukup lama melihat dan bercerita, aku pamit dengan Gipo untuk pulang. Dalam perjalaan pulang, kami mampir di satu warung kecil di Kampung Rambang untuk isi bensin kalau tidak salah. Satu ibu berjilbab yang dari tadi duduk disitu menyapa:
“Pok ni Jin Hung yo, anak Khie Sung?”(Kamu Jin Hung ya, anaknya Khie Sung?)
“Aok” (ya); jawabku
“Kak kawan sekelas pok lah (Aku ini kawan sekelasmu)”, sambungnya.
Jin Hung adalah nama panggilanku oleh teman-teman sekolah waktu itu. Ayahku dikenal disana karena usaha dagang di kampung waktu itu, juga karena ayahku mendalami pengobatan akupuntur (tusuk jarum) dan moksibasi (pembakaran ramuan daun moxa pada titik-titik jalan darah – meridian) setelah tidak usaha dagang lagi, dan banyak melakukan pengobatan di kampung-kampung,
Kami bercerita tentang sekolah saat itu dan juga tentang kawan-kawan lain. Kawan sekolah yang tinggal di Kampung Rambang berjalan kaki ke Kampung Baru tempat sekolah kami setiap hari. Mungkin mereka butuh paling tidak 1 jam untuk berjalan kaki, dan seingatku ada satu bukit yang tinggi di tengah perjalanan (paling tidak untuk ukuran anak-anak).
Bertemu lagi dengan satu kawan sekelas, tak terduga.
Beberapa hari kemudian waktu lagi makan di warung mie di kampungku, seseorang mencari aku dan memperkenalkan diri. Dia adalah kawan sekelas SD juga yang tinggal dikampung sebelah. Dia tahu aku lagi mencari teman-teman SD dulu dari kawan sekampungku yang menjadi bos dia tempat dia bekerja. Tak ingin kehilangan kesempatan, aku ajak dia berfoto dan bercerita. Sayang, dia harus berangkat kerja segera.
Ada begitu banyak kebetulan dan kejutan yang menyenangkan beberapa hari ini, tanpa direncanakan.
Aku tidak bertemu dengan Wanto – kawan sebangkuku, tapi istri dan anak-anaknya sempat datang ke rumah pada waktu hari Imlek mengabarkan bahwa Wanto sedang bekerja di TI (tambang timah inkonvensional) di kampung yang tidak terlalu jauh dari Lumut, Kampung Tanjung Batu, tidak bisa datang. Aku hanya bisa titip salam untuk dia dan mudah-mudahan bisa bertemu di lain waktu.
Di masa SMP, aku kadang masih ke Pangkal Niur ikut memembantu ayahku menawarkan jahitan baju dan celana. Ayahku punya usaha penjahit pakaian pria pada saat itu. Aku nyambi jadi penjahit di selah waktu sekolah.
Setelah tamat SMA aku meneruskan sekolah di Palembang dan mulai merantau seselesai sekolah. Jalan hidup membawa aku menjadi seorang pekerja tambang dan berkesempatan bekerja dan berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, Laos, Australia, Amerika, dan sekarang di Ghana Afrika.
Seiring waktu terus berjalan, ada keinginan menelusuri akar kita kembali, melihat kembali perjalanan kita lewat ruang dan waktu dan membiarkannya menjadi bagian masa lalu. Ada keinginan untuk lebih banyak bertemu dengan sanak keluarga, teman, kerabat yang berlintasan dengan kita selama kurun waktu perjalanan hidup kita. Tidak untuk menilai atau membandingkan, tapi hanya sekedar melihat kembali agar bisa mensyukuri apa yang telah kita raih, tidak kecewa dengan apa kita tidak raih, dan ikut berbahagia dengan apa yang diraih oleh orang lain.
Kita semua punya perjalanan unik masing-masing yang tidak bisa saling diperbandingkan…
Accra, Ghana (November 2019)
Catatan: Satu tahun kemudian (awal 2016), aku bertemu kembali dengan Gipo di Kampung Lumut, dia mengabarkan bahwa istrinya yang tercinta telah meninggal dunia karena diabetes. Turut berbelasungkawa yang dalam kawan. Semoga almarhumah mendapatkan yang terbaik, dan keluarga tabah.
My short visit to Denver, Colorado, for a business trip, came to an end. I was quite tired due to jetlag and less sleep for the last four days. It’s time to go home. I booked a taxi at the hotel for a 35 minutes trip to Denver International Airport (DIA).
The driver was a middle-aged Mexican American, quite friendly and talkative. Even though I was tired, but I tried to engage in the conversation. He explained to me the suburban residential areas we passed along the highway going to the airport. We talked about the nice and not so nice housing complex, rich and poor neighborhoods, the economic growth in Denver last five years, employee shortage and raising of housing price.
He told me about his work, earning, and family. He lost his business during the 2008 global economic downturn. He said he had lost everything, including his three houses and lived in a rental apartment. His taxi driving job provides him a good income this time. He works 60 hours a week with his taxi, which is long working hours for me. But he said he’s fine as he was not behind the wheel all the time, a lot of time was waiting for passengers. On quiet days, he could earn $100 a day, and $400 a day in busy days, which usually on Thursday and Friday with many business commute travelers.
He has three kids. The eldest is a civil engineer working with a Korean company. The 21-year-old middle is a manager of a service company. His youngest is 16 years old working as an intern during the high school break earning some money. He seemed to be very proud of his kids. He said they looked after him during his tough time.
He has just bought a house and planned to move out from his apartment to his new home next week. He’s delighted and so happy. I am delighted for him and his family. My tiredness was disappeared for a while.
Approaching the DIA airport complex, I asked his name and introduced mine.
He replied: “Jesus.”
“Wow, It’s a big name,” I said.
“Yeah, so you’re safe,” he added candidly. I am not sure if he meant to say that I was saved.
He asked me: “Do you have the same Jesus?”
“No, I am a Buddhist. But I believe in good people and humanity”, I replied.
“All religions are good,” he said.
“Yeah, I think so, Jesus and Buddha might be friends somewhere,” I said.
Our conversation was cut as he paid full attention to park his taxi at a busy passenger dropping bay. I tried to pay the fee with my credit card, but the payment was not gone through. Then, I paid it cash. He gave me a card receipt and wrote down his name – Jesus, and his contact number. He asked me to call him if the failed credit card payment come through for any reason.
I asked his favor to take a wefie and thanked him for his hospitality, friendliness, and the chat. Now, I have a 24 hour flight time to catch before arriving home in Perth.